Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Musuh Kebahagiaan

Filsuf Epictetus pernah menuliskan begini dalam Discourses,

Kebahagiaan tak bisa berdampingan dengan keinginan akan hal-hal yang belum kita miliki. Kebahagiaan sudah cukup untuk dirinya sendiri, ia tak lagi kelaparan atau kehausan akan hal-hal yang lain.

Dalam psikologi ada istilah conditional happiness, yaitu suatu keadaan dimana kita baru merasa bahagia apabila syarat-syarat tertentu terpenuhi. Kebahagiaan bersyarat. Ini sangat umum kita temui, dan kita mungkin sudah menganut mentalitas seperti ini sejak lama. Kalimat-kalimat seperti, “Saya akan sangat senang kalau sudah lulus kuliah.”, atau “Kalau bonus saya tahun ini besar, saya akan bahagia sekali.”, merupakan bentuk ekspresi dari kebahagiaan bersyarat ini.

Dan karena konsep kebahagiaan seperti ini tak pernah benar-benar membawa kebahagiaan yang bertahan lama, bisa dipastikan bahwa model ini tak bisa menjadi pegangan yang baik. Kebahagiaan bersyarat tak akan membuat kita benar-benar bahagia.

Keinginan akut untuk selalu lebih dari saat ini, menginginkan hal-hal yang jelas-jelas tidak ada di depan mata saat ini, hanya akan membuat kita ‘buta’ pada hal yang bisa kita nikmati saat ini juga. Konsep seperti ini, kalau diibaratkan, membuat kita selalu membayangkan pantai pasir putih yang airnya lebih biru ketika kita, sebenarnya, sedang duduk santai di tepi pantai.

Dan inilah musuh kebahagiaan yang sebenarnya.

Kita perlu secara sadar berfokus pada momen saat ini, karena hanya saat inilah yang kita miliki. Masa lalu sudah lewat, dan masa depan tak lama lagi akan menjadi saat ini. Menikmati segala yang baik di saat ini menjadi pilihan yang bijaksana.

Seperti kata Epictetus tadi, kebahagiaan itu sudah cukup untuk dirinya sendiri, tak lapar dan haus akan hal-hal lain yang masih dalam imajinasi. Be content with the present. 🤗

Salam,

Paulinus Pandiangan

Interpretasi Rasional dengan STAR

It is not things that trouble us, but our judgment about things.

EPICTETUS
Podcast Audio: Interpretasi Rasional dengan STAR

Sumber masalah umum yang menimbulkan emosi negatif dalam diri kita adalah interpretasi otomatis. Inilah keyakinan para praktisi Stoikisme. Emosi-emosi negatif—seperti marah, sakit hati, kecewa—justru timbul akibat sebuah interpretasi yang instan atas sebuah peristiwa atau pengalaman. Begitu otomatisnya interpretasi ini sehingga kita sering berpikir bahwa interpretasi itu sendiri adalah sebuah fakta.

Sebuah contoh: seseorang berkomentar negatif tentang kita. Yang umum terjadi adalah kita langsung berpikir bahwa orang tersebut tidak suka kepada kita, dan lalu, timbullah emosi negatif, bisa berupa benci kepada orang tersebut, atau marah, atau kecewa. Lalu tiba-tiba emosi itu rasanya begitu mendominasi, dan kita merasa bahwa kita baru saja mengalami hari yang buruk. Akhirnya kita kurang bisa ‘melihat’ kebaikan-kebaikan lain di hari itu.

Dan siapa yang rugi? KITA sendiri.

Contoh di atas adalah interpretasi otomatis yang saya maksud. Kita seringkali tidak ‘mengolah’ persepsi kita terlebih dahulu, sampai-sampai kita tidak menyadari lagi hal mana yang merupakan fakta dan mana yang merupakan interpretasi. Dan akhirnya, yang mengganggu kita bukanlah peristiwa yang terjadi, akan tetapi interpretasi kita atas peristiwa tersebut, persis seperti quote Epictetus di atas.

Sekarang mari kita bedah contoh tadi dengan menggunakan kerangka STAR untuk menghasilkan interpretasi rasional.

LANJUTKAN MEMBACA…

Premeditatio Malorum

My God, istilah apa ini? 😮

Tenang dulu, sobat. 😊 Arti dari jargon ini tidak akan semenyeramkan seperti yang engkau bayangkan, setidaknya setelah engkau selesai membaca tulisan singkat ini.

Sebelum kita teruskan, baiknya kita awali dari cara membaca istilah ini terlebih dulu: Premeditatio Malorum

Ready now?

LANJUTKAN MEMBACA …

Filosofi Teras : Sebuah Pengantar

Seorang pilot Amerika, James Stockdale, belajar di Stanford University sebelum perang Vietnam. Dosen filsafatnya di sana menganjurkan agar ia mempelajari Epictetus, salah satu filsuf Stoa yang suka menggambarkan filsuf mirip seorang tentara.

James Stockdale sangat terkesan pada pemikiran Epictetus. Hal-hal pokok yang ia ingat-ingat terus dari filsafat Stoa adalah:

  • Pembedaan antara apa yang up to us (tergantung pada kita) dan not up to us (tidak tergantung pada kita);
  • Soal baik atau buruk itu tergantung dari cara jiwa kita menafsirkannya; dan
  • Segala situasi hidup yang menimpa kita bersifat indifferent (netral saja).

Saat perang Vietnam pecah, ia ditugaskan bertempur di sana. Pesawatnya tertembak jatuh, dan ia menjadi tahanan di Hanoi, Vietnam selama tujuh tahun! Ia sering ditaruh di sel bawah tanah, disiksa, dipukuli, dan tiap hari mengalami penistaan lahir dan batin. James Stockdale mengatakan bahwa berkat Epictetus ia mampu bertahan waras, meski mengalami tekanan psikologis dan siksaan fisik selama tujuh tahun.


Kisah di atas merupakan salah satu kisah menarik yang tertulis dalam buku Filosofi Teras (reviewnya di sini) yang ditulis oleh Henry Manampiring tahun 2019 lalu—sebuah buku tentang Stoisisme, filosofi yang awalnya dikembangkan oleh filsuf Zeno di Yunani pada 2000-an tahun lalu dan menjadi sebuah laku hidup (way of life) yang (ternyata) masih sangat relevan sampai saat ini.

Cover Buku Filosofi Teras

Saya sangat merekomendasikan buku ini, yang bisa membahas Stoisisme dengan begitu renyah—dan lucu juga! 🙂

Hal yang sangat ditekankan dalam buku ini adalah prinsip dikotomi kendali—yang lalu oleh William Irvine dikembangkan menjadi trikotomi kendali—yang membantu kita memahami hal-hal yang ada dalam kendali kita dan hal-hal yang di luar kendali kita, dan dari itu selanjutnya membantu kita bersikap.

“Some things are up to us, some things are not up to us”

— Epictetus (Enchiridion)

Tertarik? 😉

Regards,

Gratitude Expressed

How can we be happy?

That is a profound question all of us ask deep down in our hearts. And good news is, gratitude has been found as a base for gratitude: to be happy, be grateful.

That seems to be the formula.

But how does it really work? The best way is to see it practiced. Gratitude expressed.

Following is a video from Soul Pancake on which some participants are asked to express their gratitude to the important person in their lives by making a phone call.

Experiment in Gratitude

The message is clear: gratitude definitely makes us happy.

Being honest and open to the blessings given to us every single day, being thankful to the kindness of others, and being humble to give back kind words and appreciation is the way to go.

Happiness… is in your gratitude.

Pace e Bene. 🙂

On Creating Happiness

Here is a TED talk by Katarina Blom about creating happiness instead of finding it.

See what the whole idea is and listen just how it sounds to you personally on the following video:

Katarina Blom on TEDx

Having seen the video, following are some important things I’ve got:

  • Positive thinking alone is not enough when it comes to well-being. It takes positive action instead, repetitive positive action, to be more precise. For example, texting kind words to people at work, done repeatedly, would benefit you in the long term. Just as Nike’s slogan, “Just Do It!.”

  • A study by Daniel Gilbert and Matthew Killingsworth found that, on average, our mind is wandering 47% of the time we are awake. It is really hard to focus on the task at hand, so relying upon the mind power alone to think positively is definitely so hard, if not impossible.

  • We are also biased almost all the time, and this is reflected in how we do make priorities. We tend to put first one complaint from a coworker instead of some compliments from the same person. One complaint leaves a stronger emotional mark than some compliments, and this emotional asymmetry is strongly related to the very design of how our brain evolved: to survive. Survival mode is the default mode of our brain at work.

Here is the TED talk video of the longest happiness study done by Harvard researchers; a research that finally reveals that quality relationship is the key to happiness.

Robert Waldinger on TED

Well, those are some big things that I would argue to be the essence of the talk given by Katarina Blom.

And today, just how happy you are? 😉

“Membongkar” Kebahagiaan ala Mark Manson

“The man who makes everything that leads to happiness depend upon himself, and not upon other men, has adopted the very best plan for living happily.”

Plato

Seberapa baik kita mengenali kebahagiaan? Ini salah satu pertanyaan penting di saat kita membicarakan hal sekompleks – dan di saat yang sama sesederhana – kebahagiaan (happiness).

Saya secara sangat beruntung menemukan sebuah buku karya Mark Manson, The Guide to Happiness, yang mencoba “membongkar” kebahagiaan di bab-bab awalnya, sesuatu yang ia sebut sebagai Deconstructing Happiness.

Berikut beberapa hal penting dalam sesi Deconstructing Happiness dalam buku The Guide to Happiness yang barangkali bisa membantu kita untuk benar-benar mengenali kebahagiaan:

  • Kebanyakan asumsi kita tentang kebahagiaan seringkali keliru. Para psikolog menemukan bahwa kita pada dasarnya tidak begitu memahami apa yang membuat kita bahagia atau tidak bahagia. Kita bahkan seringkali tidak menyadari bahwa kita ‘sedang’ berbahagia, dan baru menyadarinya setelah ‘saat-saat yang membahagiakan’ itu berlalu, digantikan oleh saat-saat yang ‘rasanya tidak lebih membahagiakan’ dari pengalaman sebelumnya.
  • Kebahagiaan bukanlah hal yang harus ‘dicapai’, tetapi merupakan ‘perasaan’ saat kita menjalani pengalaman hidup sehari-hari. Kebahagiaan tidak [akan] ditemukan dalam produk tertentu, meskipun iklan-iklan komersial berusaha meyakinkan konsumen seolah-olah produk tertentu bisa ‘menghadirkan’ kebahagiaan. Kita tentu familiar dengan format iklan seperti ‘buy this and be happy!’ 🙂
  • Kebahagiaan tidak sama dengan kenikmatan. Kenikmatan dapat diperoleh dari makanan, hubungan seks, film dan siaran televisi, pesta dengan teman-teman, perawatan tubuh, atau menjadi tokoh populer, tapi semua itu tidak lantas membawa kebahagiaan.
  • Menurunkan ekspektasi tidak lantas membuat kita lebih mudah merasa bahagia. Banyak pendapat keliru tentang hal ini, dimana orang berpikir dengan merendahkan ekspektasi, semakin mudah seseorang berbahagia dengan keadaan. Kita bisa menemukan orang yang memulai bisnis berisiko tinggi, kehabisan uang tabungan untuk mewujudkannya, tetapi masih bisa merasa berbahagia dengan pengalaman itu. Kebahagiaan tidak perlu divalidasi oleh faktor-faktor eksternal, seperti pendapat orang lain atau standar umum yang berkembang di masyarakat. Orang yang berbahagia adalah orang yang berbahagia, tanpa perlu harus dijelaskan dengan ‘model’ tertentu yang menyiratkan ‘ketergantungan’ pada faktor-faktor luar. Dengan demikian orang yang mengalami kegagalan sekali pun memiliki kesempatan yang sama dengan orang lain untuk berbahagia.
  • Berusaha untuk selalu positif tidak lantas menjadikan kita bahagia. Berusaha ‘meniadakan’ emosi negatif justru akan membuat seseorang merasakan emosi negatif yang lebih dalam, bahkan menyebabkan disfungsi emosi. Emosi negatif juga adalah sesuatu yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan psikologi manusia, meskipun kita memang tetap harus belajar mengungkapkan emosi-emosi negatif ini dengan cara-cara yang wajar, tidak kasar, tidak merendahkan orang lain, dan tidak agresif secara fisik.

Ternyata, kebahagiaan yang sejati dirasakan dalam proses berjuang menjadi pribadi yang ideal.

Apa maksudnya?

‘Ideal’ yang dimaksud di sini bukanlah ideal menurut standar-standar duniawi, melainkan ‘menjadi lebih baik dari waktu ke waktu’.

Mark Manson memberikan 3 contoh kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan sejati:

Berlari marathon sampai garis finish membuat kita lebih berbahagia dibandingkan memakan sepotong roti coklat. Membesarkan anak membuat kita lebih berbahagia dibandingkan menyelesaikan level tersulit dalam video game. Memulai usaha kecil-kecilan bersama teman-teman dan berjuang untuk mendapatkan penghasilan membuat kita lebih berbahagia dibandingkan saat kita membeli komputer baru.

Ketiga aktivitas tadi (seringkali) tidak terasa sangat menyenangkan saat kita menjalaninya, akan tetapi di saat yang sama bisa juga mendatangkan kebahagiaan yang sesungguhnya: Anda berbahagia telah memberikan kinerja fisik terbaik untuk dapat menyelesaikan marathon, Anda berbahagia mengetahui bahwa Anda menyerahkan hidup sepenuhnya untuk mengasuh seorang pribadi spesial yang hadir dalam hidup Anda, dan Anda berbahagia mencurahkan segala kemampuan Anda untuk mengatasi segala rintangan merintis usaha baru. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya: dirasakan saat kita berjuang mewujudkan nilai-nilai baik (good values) dalam diri kita.

Karena itu, menurut Mark Manson, nasihat terbaik untuk menjadi pribadi yang bahagia adalah: Imagine who you want to be and then step towards it. Bayangkanlah seperti apa diri Anda yang benar-benar Anda inginkan, lalu bertindaklah untuk mewujudkannya. Dalam proses itu, Anda akan berbahagia.

So, being happy is really on you, on me, on each and every one of us. Menjadi bahagia adalah tanggungjawab pribadi kita masing-masing. Jika ingin berbahagia, maka mari berjuang untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi, berkembang seiring nilai-nilai baik yang ada dalam diri kita.

Kenneth Paul Venturi pernah berkata, “I don’t believe you have to be better than everybody else, I believe you have to be better than you ever thought you could be.”

P.S. By the way, masih banyak hal yang bisa diulas tentang buku Mark Manson ini. Satu postingan blog sesingkat ini tentu tidak cukup untuk menampung semuanya. Sampai bertemu di postingan-postingan berikutnya!

😀

Happiness : An Inside Job

Happiness is an inside job.

Familiar dengan kalimat di atas? Kalimatnya cukup singkat, sederhana, dan tepat. Sangat tepat, bahkan, yang membuatnya tak terbantahkan. Jika dibedah kalimat ini hanya tersusun dari sebuah subjek – yaitu ‘Happiness‘, dan sebuah predikat – yaitu ‘is an inside job‘, namun menyiratkan makna yang dapat dipahami dengan mudah dan juga mendalam. Kesederhanaan kalimat ini menyiratkan bahwa kebahagiaan tidak memerlukan kerumitan. It lies in simplicity.

Lalu apa maknanya?

Menurutku kalimat itu bisa menjelaskan bahwa kebahagiaan merupakan pilihan yang dibuat tiap individu di dalam dirinya, bukan merupakan produk atau efek samping dari perkara-perkara yang datang dari luar. Kebahagiaan bukanlah tujuan akhir yang ‘diharapkan’ akan dicapai setelah beberapa persyaratan terpenuhi, seperti model if… then… yang umum dipakai pada pemodelan logika: jika kondisi A terpenuhi, maka hasilnya adalah B. Sama sekali tidak seperti itu, walaupun kita masih sangat mudah ‘terjebak’ pada model berpikir seperti ini.

Banyak dari antara kita yang berpikir bahwa dengan memiliki ini dan itu, melakukan ini dan itu, mencapai ini dan itu, kita akhirnya akan berbahagia. And guess what? Kita semua tahu bahwa pola berpikir seperti ini hanya akan membawa kita kepada siklus tidak sehat: jika menginginkan kebahagiaan lebih, kita harus memiliki lebih banyak ini dan itu, melakukan lebih banyak ini dan itu, mencapai lebih tinggi ini dan itu, dan terus berulang dan bahkan semakin menuntut lebih dari waktu ke waktu. Kita menjadi para ‘pemburu’ kebahagiaan, bukan ‘perasa’ kebahagiaan itu sendiri. Kita menjadikan kebahagiaan adalah sesuatu di seberang sana yang harus dikejar dan ditangkap agar kemudian dapat dirasakan. Kita menjadi pengejar yang tak pernah puas dan tak pernah merasa cukup. Kita menjadi pengejar yang tak pernah berhenti untuk sekedar menenangkan diri dan berefleksi.

Kita semua tahu itu, meskipun kita juga tahu bahwa kebahagiaan itu ‘sebenarnya’ tidak jauh. Kebahagiaan itu ada di sini, di bagian terdalam diri kita masing-masing.

It is always inside here, not there.

Kebahagiaan terdapat dalam rasa syukur kita. Telah banyak penelitian yang melihat korelasi yang kuat antara rasa syukur dan kebahagiaan ini. Kebahagiaan adalah persoalan mengelola pola berpikir sehingga mampu ‘melihat’ berbagai hal konstruktif dalam perjalanan hidup kita setiap hari yang sangat pantas untuk disyukuri. Kebahagiaan adalah persoalan merasa cukup dan berdamai dengan diri sendiri.

Lalu apa sebenarnya basis kebahagiaan ini?

Dalam sebuah konferensi TED di Singapura, Malene Rydahl, seorang Denmark, mengutarakan 3 nilai penting yang menjadikan orang berbahagia: Trust, Freedom To Be You, Finding Purpose.

Ini adalah 3 nilai yang tentu saja ada dalam diri setiap orang dan dapat diwujudkan dalam skala lebih besar: tiap individu yang mengembangkan nilai-nilai ini bersama individu-individu lainnya tentu akan menjadi komunitas, bahkan negara, yang menjalankan tiga basis ini. Anda barangkali mengetahui bahwa Denmark adalah salah satu negara dengan penduduk paling bahagia sedunia. Bagaimana hal ini mungkin? Jawaban sederhananya adalah bahwa orang-orang Denmark menganut dan menjalankan nilai-nilai ini dalam kehidupan mereka setiap hari. It all starts with one individual, then individuals, then something as big as a country.

Menanam Benih Kebahagiaan – Malene Rydahl

Melalui pemaparan Malene Rydahl ini kita bisa melihat bagaimana akhirnya Denmark menjadi negara dengan penduduk paling bahagia, karena penduduknya melaksanakan ‘inside job’nya masing-masing. Mereka memiliki kesadaran yang tinggi bahwa setiap orang yang menjalankan nilai-nilai tadi akan membentuk masyarakat yang juga merefleksikan nilai-nilai itu. Masyarakat yang dibentuk individu-individu bahagia adalah masyarakat yang bahagia juga.

Akan tetapi, tentu kita tidak lantas bisa menjadi bahagia dengan pergi ke Denmark. Bahkan jika kita tinggal di negara yang iklim politiknya memungkinkan ketiga nilai tadi (Trust, Freedom To Be You, Finding Purpose) untuk bertumbuh, sepertinya tidak menjadikan kita secara langsung menjadi penduduk yang paling bahagia sedunia. Semuanya tergantung pada pilihan-pilihan sikap kita setiap hari, kemauan kita untuk menjadi bagian dari solusi, dan bukan bagian dari permasalahan. It is all about the people. Always.

Dan karena ini semua adalah tentang manusia – yang pada dasarnya memiliki empati – barangkali kita bisa mencoba ‘menularkan’ percikan kebahagiaan hari ini, esok, dan hari-hari ke depannya, sebagaimana kita juga bisa ‘ketularan’ percikan kebahagiaan dari orang-orang di sekitar kita. Barangkali sebuah senyuman tulus bisa membuat mood seseorang membaik hari ini, sebagaimana mood kita juga bisa membaik karena mendapat senyuman tulus seorang teman atau rekan kerja hari ini. Sederhana, tak perlu membayar, dan mudah dilakukan, tapi signifikan. 🙂

Again, happiness lies in simplicity. It is an inside job everyone is dealing with, yet the result is free to share.

Such a beautiful thing, isn’t it? 😉

Pelajaran dari Menulis Jurnal Rasa Syukur

Apa yang saya pelajari dari menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal) sejauh ini?

Well, ada beberapa hal yang ternyata jauh lebih penting dari menulis jurnal itu sendiri:

#1. Perlu disadari bahwa bersyukur itu sendiri seharusnya merupakan aktivitas yang sungguh-sungguh dinikmati. Pola berpikir seperti ini pada akhirnya menjadikan menulis jurnal adalah sesuatu yang menyenangkan, dan jurnal bukanlah semacam “tugas tambahan” yang harus dituntaskan setiap hari. Not just another item on to-do list.

Pola berpikir seperti inilah yang perlu ditumbuhkan dalam diri kita saat memutuskan membuat sesuatu semacam jurnal rasa syukur. Menyadari hal ini membuat motivasi kita dalam menulis jurnal menjadi lebih tulus: bersyukur itu sendiri adalah sesuatu yang dilakukan karena kita memang seharusnya bersyukur. To be grateful is something all of us should do, even must do.

Sebagaimana telah saya tulis sebelumnya dalam Perihal Bersyukur, semua berkat yang tercurah bagi kita setiap hari datang secara cuma-cuma, tanpa ada partisipasi dari pihak kita sendiri, dan menuliskan dua atau tiga hal yang patut kita syukuri sepanjang hari adalah ungkapan kecil dari kita sebagai ciptaan: betapa kita dikasihi olehNya.

#2. Menulis jurnal rasa syukur melatih kita untuk mengakui dengan jujur. Mengakui bahwa angin sepoi-sepoi yang berhembus lembut di wajah kita saat ini terasa menyejukkan, mengakui bahwa bermain dan bercanda bersama anak pagi ini terasa sangat menyenangkan, mengakui bahwa hidup kita sendiri adalah anugerah dari Yang Kuasa. Saat itu semua diakui dengan jujur, saat itulah pintu rasa syukur terbuka bagi kita.

#3. Menulis jurnal rasa syukur secara rutin setiap hari tidak semudah yang dipikirkan. Easier said than done. Perlu diingat juga bahwa menulis setiap hari dengan motivasi yang salah tidak lebih baik dari menulis sesekali dengan kesadaran dan motivasi yang tulus. Saya percaya bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang tercurah dari hati, yang membuat kata-kata yang dirangkai menjadi susunan ajaib yang bisa “menyentuh” hati orang lain, sehingga menulis sesuatu yang bernilai baik-walau tidak setiap hari-jauh lebih penting dari sekadar memproduksi tulisan setiap hari. Good writing is something that speaks from the heart.

That’s it.

Regards,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!