Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Perihal Kekayaan Instan

Banyak orang yang sebenarnya akan tertolong dari tipuan investasi bodong seperti yang marak saat ini apabila mereka sungguh menyadari karakter kekayaan yang sesungguhnya: tidak terlihat. True wealth is something you don’t see.

Ilustrasi Orang Kaya

Orang mudah terjebak pada visual kekayaan yang ditampilkan para penjebak berlabel crazy rich: rumah mewah, mobil, pakaian-pakaian bermerk terkenal, aksesoris mahal, dan kemudahan untuk mengakses berbagai kenikmatan duniawi menggunakan uang yang ada. Disematkanlah aplikasi berbisnis dalam jebakan tersebut yang dalam narasinya akan bisa menghantar orang pada “kesuksesan” sebagaimana yang dimiliki oleh model—yang ternyata hanyalah afiliator aplikasi judi—yang mengeruk keuntungan besar dari ketidakberuntungan orang lain.

Dalam buku The Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel kita disadarkan bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah tidak terlihat. Katakanlah Anda memiliki tabungan 100 juta di rekening bank. Maka kekayaan Anda (yang tidak terlihat itu) bernilai 100 juta rupiah. Apabila Anda membelanjakan 50 juta dari tabungan tersebut untuk membeli sebuah perangkat, misalnya, untuk sekedar “menunjukkan” kepada orang lain bahwa Anda mampu membeli perangkat mahal senilai 50 juta rupiah, maka sebenarnya nilai kekayaan Anda sudah berkurang 50 juta rupiah. Barang yang Anda beli tadi—yang tujuannya untuk membuat orang lain mengakui bahwa Anda kaya dan mampu membeli barang tersebut—tidak akan membuat orang terkesan untuk jangka waktu lama. Malah, Anda kehilangan fleksibilitas yang bisa didapatkan dari 50 juta rupiah jika seandainya kekayaan itu tetap tersimpan tanpa dibelanjakan.

Buku ini menyadarkan kita bahwa orang yang benar-benar kaya akan menggunakan uangnya untuk membeli fleksibilitas atau waktu, bukan barang-barang hanya untuk tujuan pamer (show off). Malah orang-orang yang benar-benar kaya cenderung akan modest saja dalam berpenampilan. Tampak biasa, ternyata bisnisnya banyak sekali, tersebar di berbagai tempat.

Tentu saja orang yang benar-benar kaya mampu membeli barang-barang mahal, akan tetapi mereka melakukannya karena memang benar-benar membutuhkan untuk menunjang bisnisnya dan untuk membantu mereka lebih fleksibel dengan waktu. They’re not buying the stuff per se, they do buy time.

Jadi, kalau ada orang yang terlihat kaya dan gemar memamerkan barang-barang miliknya di media dan gencar mempromosikan suatu platform bisnis, be really cautious about them, karena bisa saja mereka sedang menjalankan sebuah jebakan. They’re trying to lure you into doing something, memanfaatkan “kerapuhan” emosional kita, yaitu keinginan untuk cepat-cepat kaya.

Bersyukurlah dengan keadaan ekonomimu saat ini, entah bagaimana pun itu, dan tetaplah berusaha meningkatkan taraf hidupmu dengan upaya-upaya yang baik, dan ingat, tak ada pencapaian yang instant. Upaya memperbaiki taraf hidup membutuhkan upaya, kerja keras, dan waktu yang tidak sedikit.

Semoga tulisan ini berguna. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan

PRP dalam Terapi Kognitif

Guys, saya baru saja membaca sebuah bab menarik di buku berjudul Even Happier yang ditulis oleh Tal Ben-Shahar. Sebuah bab tentang terapi kognitif. Ini semacam metode untuk menangani emosi yang mengganggu, seperti kecemasan berlebih. Premis dasar dari terapi ini adalah prinsip dasar dalam Stoikisme: kita bereaksi terhadap interpretasi terhadap suatu peristiwa, dan bukan terhadap peristiwa itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan suatu peristiwa bisa menimbulkan beragam reaksi dari orang yang berbeda.

Peristiwa (event) menimbulkan interpretasi (thought), dan interpretasi ini selanjutnya membangkitkan emosi (emotion) tertentu. Seorang ayah yang tersenyum gembira melihat putrinya bisa diurai menjadi:

Peristiwa (event): Ayah melihat seseorang.

Interpretasi (thought): Ayah mengenali bahwa orang tersebut adalah putrinya.

Emosi (emotion): Sang ayah tersenyum gembira.

Saat emosi yang timbul dari interpretasi adalah emosi yang negatif dan mengganggu, terapi kognitif ini berfokus untuk mengembalikan sensasi kenyataan (realisme) dengan cara memperbaiki, atau bahkan menyingkirkan, pemikiran yang terdistorsi. Mengubah pemikiran ini akan mengubah perasaan orang yang merasakan emosi negatif.

Sebuah contoh. Orang yang sangat khawatir tidak lulus wawancara kerja bisa melakukan re-interpretasi terhadap peristiwa wawancara kerja, sebagai berikut:

Peristiwa: Saya melakukan wawancara kerja.

Interpretasi: Jika saya tidak diterima, itu bukan akhir segalanya. Saya mungkin akan menganggur lagi untuk beberapa waktu, tetapi ada banyak pekerjaan lain di luar sana yang cukup layak untuk saya, dan bisa memberikan saya kecukupan, dan saya percaya bisa mendapatkannya.

Emosi: Lebih tenang dan berani menghadapi kegagalan, tidak cemas berlebihan saat wawancara.


Kalau kalian ingat atau pernah membaca postingan sebelumnya, saya sebenarnya sudah pernah menceritakan metode yang sangat identik dengan terapi kognitif ini. Namanya metode STAR. Penamaan metode itu sebenarnya dibuat oleh Henry Manampiring, penulis buku Filosofi Teras yang pernah saya ceritakan di sini dan di sini.


Dalam terapi kognitif, prosesnya dapat dinyatakan dalam akronim PRP: Permission, Reconstruct, Perspective, yang uraiannya sebagai berikut:

Permission: Memberikan diri ruang untuk bersifat manusiawi; bahwa manusia bisa merasakan beragam emosi, termasuk emosi negatif.

Reconstruct: Merekonstruksi hal yang terjadi dengan menyadari bahwa ianya tak melulu buruk. Bisa jadi kita belajar sesuatu dari peristiwa tersebut, atau peristiwa tersebut justru menyadarkan kita agar lebih menghargai segala kemudahan hidup selama ini.

Perspective: Mengkaji peristiwa yang terjadi dalam gambaran besar kehidupan. Misalnya mengujinya dengan pertanyaan: Apakah peristiwa ini sebenarnya sangat signifikan dalam 5 atau 10 tahun ke depan, sehingga harus membuat saya larut dalam emosi negatif? Apakah kecemasan ini begitu penting dibandingkan persoalan yang dihadapi dunia global saat ini? … dan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang meletakkan peristiwa atau emosi yang timbul dalam bingkai besar kehidupan dan dunia. Seeing from above.


Dengan secara aktif melatih diri dengan terapi kognitif seperti ini, akan lebih mudah bagi kita mengelola emosi negatif yang timbul (terkadang sangat instan!) dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Terapi ini ibaratnya olahraga mental. Sebagaimana olahraga fisik, semakin sering kita berlatih, “otot mental” kita akan semakin terampil pula melakukannya.

Dan tentu saja, kita adalah orang yang paling diuntungkan dengan latihan kognitif ini.

Seseorang bernama David Burns pernah mengatakan,

Kita sering membodohi diri kita sendiri dan menciptakan penderitaan dengan mencekoki pikiran kita dengan berbagai hal yang sama sekali tidak benar.

Dan itu sangat benar menurutku, guys. Bagaimana menurutmu?

Salam,

Paulinus Pandiangan

On Learning

Ada satu aspek yang sebenarnya sangat penting dalam proses berkarir di suatu bidang. Kita barangkali sering terpapar dengan pemahaman bahwa kita harus mencari area pekerjaan atau institusi yang menawarkan penghasilan yang besar. Fat paycheck. Ini mendasari semua pilihan yang kita ambil: bekerja di mana dan mengerjakan apa.

Tetapi sebenarnya ada proses belajar yang seharusnya menjadi dasar yang lebih baik. Dengan menjadikan diri sebagai pembelajar, kita akan memilih kesempatan-kesempatan yang menawarkan peluang lebih besar untuk belajar. Kita akan mencari mentor. Kita akan mencari orang-orang yang bisa membantu kita bertumbuh. Bahkan menjadi pembantu seorang mentor secara sukarela tanpa dibayar merupakan peluang besar yang perlu diambil, karena dari proses berguru seperti ini biasanya banyak hal berguna—trade secrets—yang dapat dipelajari terkait industri yang tengah digeluti.

Dari proses inilah nantinya kreatifitas kita bisa bertumbuh dan barangkali kita bisa menciptakan peluang-peluang baru yang akhirnya mendatangkan uang.

Jadi menurut saya ada benarnya bahwa kita tidak perlu terlalu berfokus pada uang dulu. Yang justru lebih penting adalah menumbuhkan pengetahuan dan skill melalui proses belajar untuk selanjutnya menjadi panggung bagi ekspansi kreatifitas kita.

What do you guys think? 😉

Tidak Harus Tahu Semua

Hai guys, welcome back.

Saya sengaja membuat judul postingan yang sama dengan yang dibuat pak Budi Rahardjo, dosen di STEI ITB, karena postingan ini juga menekankan hal yang sama dengan ide beliau, yang ditulis di postingan blognya.

Silakan disimak juga postingan beliau agar teman-teman mendapatkan pemahaman yang lebih kaya tentang apa yang persisnya beliau maksud dan yang saya share melalui tulisan ini.

Ilustrasi Fokus

OK, mari kita ke topiknya.

Di lembar refleksi harian untuk 30 Januari di buku The Daily Stoic, pembahasan yang diangkat adalah bahwa (sebenarnya) kita tak perlu selalu tahu (bahkan selalu peduli) terhadap berbagai isu yang beredar bebas di era informasi saat ini.

Ini sebenarnya masih berkaitan dengan postingan saya sebelumnya. Di era informasi saat ini, dimana orang bisa mengakses informasi 24 jam sehari dan 7 hari seminggu (24/7), kemampuan yang sebenarnya diperlukan adalah memilah informasi (dari lautan informasi) yang benar-benar bernilai dan diperlukan. Ada terlalu banyak informasi, yang jika tidak dipilah dengan baik, hanya akan menjadi noise. Distraksi.

Lagi pula, tak semua informasi yang beredar sifatnya esensial. Daripada menggunakan waktu dan energi untuk isu-isu tak penting, alangkah lebih baiknya jika digunakan untuk hal-hal yang bernilai dan memberikan makna bagi kita pribadi. Ini juga adalah bagian dari menggunakan waktu dengan bijaksana.

So, be wise about your time, by giving attention to what really matters.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Simpel Saja!

Penyakit umum yang terjadi pada banyak orang saat ini adalah overthinking. Terlalu banyak berpikir—atau lebih tepatnya khawatir—terhadap berbagai hal. Mungkin karena informasi yang bisa kita akses sudah terlalu banyak, atau juga karena kurangnya fokus dalam hidup yang membuat orang begitu mudah terdistraksi.

Filsuf Stoikisme bernama Marcus Aurelius nampaknya juga menyadari ‘penyakit’ ini di eranya. Dalam jurnal Meditations dia berbicara tentang perlunya berfokus pada apa yang sedang kita kerjakan dan tidak terganggu dengan bermacam distraksi. “Just do your job“, itulah kalimat yang selalu diucapkan pelatih Bill Belichick kepada para pemainnya. Lakukan dan berfokus saja pada tugas yang di ada di depan mata saat ini.

Kalau kita sungguh menyadari ini, banyak kerumitan dalam berpikir, bertindak, dan bekerja yang sebenarnya bisa diurai. Kalau kita bisa melihat gambaran besar kehidupan dan hanya berfokus pada 1 atau 2 hal yang bernilai bagi kita, hidup akan menjadi lebih simpel, dan kita tidak akan mudah terombang-ambing oleh arus distraksi yang disajikan media-media informasi.

Pertanyaannya, maukah kita menjadi orang yang sungguh hidup simpel, mulai hari ini?

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Hari Kelima

Berikut adalah isian jurnal rasa syukur saya hari kelima.

Foto Jurnal Rasa Syukur Hari Kelima

Dan inilah versi teksnya.

(1) Hari ini saya bersyukur atas ...


hari yang baru yang masih diberikan kepada saya dan keluarga. Anak saya masih tertidur pulas saat saya berangkat kerja pagi ini, dan saya dapat menikmati sarapan dengan nikmat. This is a good day!
(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini?


Saya ingin lebih memberi perhatian (atentif) kepada orang lain saat berbicara kepada saya. Saya mengamati masih sering saya kurang memperhatikan ekspresi wajah orang lain saat berbicara kepada saya, dan itu yang ingin saya ubah.
(3) Apa yang engkau sukai dari pekerjaanmu?


1. Hasilnya berguna bagi banyak orang. Saya berperan dalam produksi biogas yang menjadi bahan bakar generator listrik. Daya listrik yang dihasilkan oleh generator itu pada akhirnya bisa untuk penerangan di rumah-rumah karyawan dan juga untuk konsumsi pabrik pengolahan minyak sawit. Saya merasa bangga bisa terlibat dalam pekerjaan ini.

2. Pendapatan yang mencukupi kebutuhan keluarga saya, termasuk kedua orangtua saya. Saya senang bisa membagikan sebagian dari pendapatan saya di tempat ini kepada kedua orangtua saya. Rasanya membahagiakan dan saya bangga bisa memberi kepada orangtua.

Selamat menjalani hari Kamis yang penuh dengan kejutan ini, guys. Be grateful. 😄

Jurnal Hari Kedua

Hai, guys… 🤗 😃

Pagi ini begitu saya sampai di lokasi kerja saya memutuskan untuk menggunakan sedikit waktu (± 5 menit) untuk menjurnal rasa syukur. Saya sempat berpikir bahwa mungkin ada baiknya jurnal ini diisi pada malam hari, setelah saya beraktivitas seharian dan mengalami berbagai pengalaman sehari itu. Tapi saya berpikir lagi bahwa, toh, di awal hari pun sudah banyak berkat sebenarnya yang patut disyukuri; bahkan dalam kata pengantar jurnal itu saya mengatakan bahwa berkat bagi kita setiap hari laksana bintang-bintang di angkasa (dan itu juga sebenarnya yang melatarbelakangi gambar langit di malam hari yang dipenuhi bintang yang saya gunakan sebagai background sampulnya).

Maka akhirnya pagi ini saya mengisi lembaran jurnal hari ke dua, dan inilah foto lembaran guratan tangan saya:

Lembaran Jurnal Rasa Syukur Hari Kedua

Berikut versi teksnya:

(1) Hari ini saya bersyukur atas kesehatan saya dan keluarga. Udara sangat sejuk saat saya berangkat kerja pagi ini, dan saya bertemu dengan rekan-rekan kerja saya yang juga sehat.

(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini? Saya ingin membaca satu bab dari buku elektronik di smartphone dan mencoba merenungkan isinya, siapa tahu bisa menjadi bahan tulisan di blog.

(3) Lagu apa yang sedang kamu sukai saat ini dan mengapa? Instrumental sape’ dari Alif Fakod di YouTube. Rasanya tepat untuk mendampingi saya saat melakukan rutinitas gerak jalan di pagi hari selama 30 menit. Ada banyak musik instrumental lain yang juga tersedia secara gratis (non-copyright) dan cukup bagus sebagai pengiring gerak jalan yang saya lakukan.

Itulah isian jurnal saya di hari kedua ini, Jumat, 21 Januari 2022. Kalau Anda membaca ini semoga Anda juga tergerak untuk mensyukuri berbagai hal kecil dalam hidupmu hari ini. 😍


By the way, saya baru saja disuguhi secangkir kopi oleh ibu pegawai kebersihan di kantor tanpa saya minta. Tanpa diminta, berkat datang, sesederhana apa pun bentuknya. Ini juga patut disyukuri, guys. ☺️

Berterimakasihlah kepada semua orang yang melakukan hal yang baik kepadamu hari ini, sebagaimana quote di lembaran jurnal di atas. 💝

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Rasa Syukur Edisi 2022

Hai, teman-teman… 🤗

Di postingan tentang cara bersyukur, saya pernah menulis bahwa menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal) merupakan salah satu cara yang baik untuk mengungkapkan rasa syukur yang memberikan dampak mental yang baik bagi yang melakukannya.

Melalui postingan ini saya ingin mengajak teman-teman semua untuk mencoba langsung kegiatan menjurnal bersama. Tetapi sebelumnya, sebaiknya disimak dulu video Marissa Anita berikut tentang bersyukur.

On Marissa’s Mind: Bersyukur

Apa pesan yang kamu peroleh setelah menyimak video di atas? 😉

Kalau kalian merasa perlu mencoba menulis jurnal rasa syukur, silakan mengunduh formatnya yang telah saya sediakan di link berikut:

Silakan menggunakan jurnal ini dan jangan lupa share ke teman-teman yang lain apabila kalian merasa mendapatkan manfaat dari kegiatan menjurnal ini.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Tentang Visi dan Ketenangan

“Ketenangan dapat diraih apabila orang telah memiliki kemampuan untuk teguh dalam membuat keputusan—di saat orang lain terus-menerus jatuh bangun dan selalu mudah goyah dalam memutuskan berbagai hal. Apa penyebab kegoyahan ini? Karena tidak ada kejelasan visi dan mereka akhirnya hanya bergantung pada pendapat umum.”

SENECA dalam MORAL LETTERS

Dalam esainya tentang ketenangan (tranquility), Seneca menggunakan kata euthymia, yang didefinisikan dengan “percaya diri dan meyakini bahwa Anda berada di jalan yang benar, dan tidak ragu-ragu dengan banyaknya pilihan jalan lain dari mereka yang mengembara ke segala arah.” Keadaan pikiran inilah, katanya, yang menghasilkan ketenangan.

Kejelasan visi dibutuhkan untuk bisa memiliki kepercayaan diri seperti ini. Tidak berarti kita akan selalu 100 persen yakin akan segalanya. Sebaliknya, kita dapat yakin bahwa kita secara umum menuju ke arah yang benar—bahwa kita tidak perlu terus-menerus membandingkan diri kita dengan orang lain atau berubah pikiran setiap tiga detik berdasarkan informasi baru.

Sebaliknya, ketenangan dan kedamaian ditemukan dalam proses mengidentifikasi jalan kita dan dalam berpegang teguh padanya: tetap di jalur—tentu saja sambil tetap membuat penyesuaian di sana-sini—tetapi mengabaikan sirene yang mengganggu yang mengisyaratkan kita untuk berbelok, melenceng jauh dari jalur awal.

Jalan Menuju Ketenangan


Epictetus

“Selalu camkan pemikiran ini di saat fajar, sepanjang siang dan malam—hanya ada satu jalan menuju kebahagiaan, dan itu adalah dengan menyerahkan semua di luar lingkup pilihan Anda, tidak menganggap apa pun sebagai milik Anda, menyerahkan segalanya kepada Tuhan dan keberuntungan.”

Epictetus dalam DISCOURSES

Hai teman-teman… 🤗

Saya baru saja membaca bab pendek di buku The Daily Stoic oleh Ryan Holiday. Buku ini berisikan 366 segmen, satu untuk tiap hari. Segmen yang saya baca adalah bacaan untuk 12 Januari.

Mari kita simak terjemahannya berikut ini.

Pagi ini, ingatkan diri Anda tentang apa yang ada dalam kendali Anda dan apa yang tidak dalam kendali Anda. Ingatkan diri Anda untuk fokus pada yang pertama: apa yang ada dalam kendali.

Sebelum makan siang, ingatkan diri Anda bahwa satu-satunya hal yang benar-benar Anda miliki adalah kemampuan Anda untuk membuat pilihan (dan menggunakan alasan dan penilaian saat melakukannya). Ini adalah satu-satunya hal yang tidak pernah bisa diambil dari Anda sepenuhnya.

Di sore hari, ingatkan diri Anda bahwa selain dari pilihan yang Anda buat, nasib Anda tidak sepenuhnya terserah Anda. Dunia berputar dan kita berputar bersamanya—ke arah mana pun, baik atau buruk.

Di malam hari, ingatkan diri Anda lagi berapa banyak yang berada di luar kendali Anda dan di mana pilihan-pilihan Anda dalam sehari itu bermula dan berakhir.

Saat Anda berbaring di tempat tidur, ingatlah bahwa tidur adalah bentuk penyerahan diri dan kepercayaan kepada Yang Berkuasa atas hidup. Dan bersiaplah untuk memulai seluruh siklus kehidupan lagi besok.


Silakan dibaca perlahan dan semoga membantu menguatkan kesadaran dan ketenangan teman-teman semua. 💝😍

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!