Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Melatih Perilaku

Perilaku bisa dilatih.

Agaknya itu yang menjadi ide utama dalam bacaan singkat pagi ini dari buku The Daily Stoic. Berikut kalimat kuncinya:

Proper training can change your default habits. Train yourself to give up anger, and you won’t be angry at every fresh slight. Train yourself to avoid gossip, and you won’t get pulled into it. Train yourself on any habit, and you’ll be able to unconsciously go to that habit in trying times.

The Daily Stoic, Bacaan 23 September

Ketika membaca kalimat di atas, saya akhirnya paham mengapa ada orang yang tetap bisa kalem di tengah berbagai masalah yang tengah melilitnya. Orang bisa seperti itu karena latihan. Saya akhirnya menyadari bahwa ketegaran pun bisa diperoleh dengan latihan. Orang itu pastinya sudah melatih dirinya menghadapi beragam kesulitan!

Jadi jika orang berusaha untuk selalu mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalamann hidupnya dan terbuka, benar-benar terbuka, untuk mengenali dan mengakui kelemahan karakter dirinya, rasanya orang pasti akan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih keren.

Keren itu ada di karakter yang baik, dan karakter baik itu diperoleh dari latihan.

What do you think?

Merawat Self Esteem dan Memetakan Rasa Senang

Rasa senang tentu tak bisa sepenuhnya direncanakan, akan tetapi aktivitas-aktivitas yang membuat kita merasa senang pada dasarnya bisa dipetakan. Dengan mengevaluasi bagaimana kita menggunakan waktu dalam sehari (atau seminggu), memetakan proporsi tiap kegiatan dan seberapa menyenangkan kegiatan itu terasa, kita akan terbantu dalam membuat perencanaan waktu.

Berikut sebuah contoh tabel aktivitas mingguan:

AktivitasSkor Makna
(1 – 5)
Skor Rasa Senang
(1 – 5)
Frekuensi / Minggu
Berkumpul bersama keluarga542 jam ++
Menghadiri rapat kerja4211 jam =
Menonton TV239 jam –
Tabel Aktivitas Mingguan

Skor yang digunakan pada tabel di atas berkisar dari 1 sampai 5, dimana 5 adalah skor tertinggi, dan 1 skor terendah. Simbol ++ menyatakan bahwa kita merasa sangat perlu menambah durasi kegiatan tersebut, simbol = menyatakan bahwa kegiatan tersebut sudah cukup, dan simbol – menyatakan bahwa kegiatan tersebut perlu dikurangi.

Dengan membuat tabel kegiatan mingguan seperti ini, selain memiliki gambaran penggunaan waktu kita dalam seminggu, kita akan memperoleh insight bagaimana sebaiknya kita menghabiskan waktu di minggu-minggu berikutnya agar kehidupan kita lebih menyenangkan, karena kehidupan akan menyenangkan apabila diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna dan memberikan rasa senang.

Idenya sederhana saja sebenarnya: jika ingin lebih senang menjalani kehidupan, optimalkanlah waktu yang ada untuk hal-hal yang memberikan rasa senang. Beberapa hal yang tidak menyenangkan memang terkadang tidak bisa dihindari, karena itu membuat perencanaan waktu seperti tabel di atas tetap harus realistis. Seiring waktu, kita akan menemukan pola yang tepat untuk kita dalam menjalani hidup yang bermakna sekaligus menyenangkan.

Perlu disadari juga bahwa membuat pemetaan seperti ini seringkali mengharuskan kita berubah. Tentu perubahan yang diinginkan adalah perubahan yang sungguh bermakna (meaningful).

Ada satu metode yang disarankan oleh seorang psikoterapis bernama Nathaniel Branden yang disebut dengan sentence completion, atau metode melengkapi kalimat. Dengan metode ini diyakini seseorang bisa mendapatkan gambaran tentang perubahan positif apa yang dapat dialaminya. Sebagaimana nama metodenya, kita memikirkan sebuah batang kalimat (sentence stem) yang berupa pengandaian (menggunakan jika), dan selanjutnya kita diminta melanjutkan kalimat tersebut dengan hasil yang bisa kita peroleh.

Contohnya begini:

Jika saya menambah 5% kesadaran saya dalam hidup, …

Kalimat di atas adalah batang kalimat (sentence stem) yang masih harus dilengkapi. Di sinilah kita memikirkan respons sebagai kelanjutan dari kalimat tersebut, dan respons inilah dampak nyata dari perubahan yang kita lakukan, sebagaimana tercermin dalam batang kalimat awal.

Beberapa contoh lanjutan kalimatnya misalnya:

  • Saya akan bersikap lebih hormat kepada rekan-rekan kerja saya;
  • Saya bisa menghabiskan lebih banyak waktu melakukan hobi saya;
  • Saya bisa menerima hal-hal yang tidak begitu disukai di pekerjaan dengan lebih lapang dada;
  • dan seterusnya …
Self Esteem

Melakukan ini secara berulang-ulang dan konsisten diyakini bisa membantu kita mendapatkan ide-ide baru untuk melakukan perubahan nyata dalam hidup, dan kita akan memperoleh gambaran yang lebih baik tentang diri kita sendiri. Dan begitulah caranya kita merawat self esteem.

Respond-ability

Ini suatu kata menarik dalam e-mail The Daily Stoic-nya Ryan Holiday yang saya baca pagi ini.

Jadi begini ceritanya.

Dalam hidup ada orang-orang yang cenderung ingin mengendalikan berbagai hal, istilah kerennya control freak. Orang seperti ini ada istilahnya, yaitu tiran (atau tyrant dalam bahasa Inggris). Orang seperti ini selalu ingin menentukan apa yang dilakukan atau dikatakan orang lain, ingin mengontrol semuanya.

Tetapi orang bijaksana akan memahami bahwa dia hanya memiliki kendali atas dirinya sendiri, dan bukan atas hal-hal di luar dirinya. Dengan kata lain, yang bisa sepenuhnya dikendalikan adalah responsnya terhadap apa yang terjadi. Jadi selain bertanggungjawab (atau punya responsibility) atas hidupnya, orang bijak juga memiliki respond-ability, yaitu kemampuan untuk bereaksi dengan baik terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya.

“Mencoba mengendalikan hidup hanya akan membawa kita pada kegagalan, bahkan sebelum kita memulainya”, kata Anne Willson Schaef, seorang penulis. Yang justru lebih baik adalah bertanggungjawab atas bagaimana kita menjalani hidup: taking charge instead of taking control.

Mungkin Anda juga pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, yang memiliki kelekatan akut dengan kontrol, yang memiliki keinginan untuk selalu memiliki kendali atas berbagai hal. Menurut Anda apakah orang-orang seperti itu menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidupnya?

Pentingnya Membaca Ulang

Membaca ulang artikel atau buku yang berisikan hal-hal yang baik bagi perkembangan pribadi saya ternyata penting. Saya menyadarinya kembali sore ini ketika membaca postingan tentang hidup sederhana dan 20 cara praktis memangkas pengeluaran di blog ibu Maria, Breakfast with Lukas. Blog ini sudah saya kenal selama beberapa waktu terakhir dan bahkan kedua postingan tadi sudah pernah saya baca sebelumnya, tetapi ketika sore ini saya membacanya ulang, rasanya seperti diingatkan kembali, dan tetap ada hal baru yang rasanya belum benar-benar saya pahami sebelumnya.

Inilah gunanya membaca ulang.

It’s like adding a new layer of understanding. Bertambah lapisan pemahaman saya terhadap apa yang ditulis.

Kalau seperti saya, Anda ingin mengembangkan diri dan mindset ke arah hidup yang lebih bersahaja dan bermakna, maka saran terbaik saya adalah Anda harus mencari sumber daya di Internet yang kiranya cocok dengan style Anda dan nikmatilah apa yang tersaji di sana-bahkan kalau harus sampai membaca (atau menontonnya) berulang-ulang.

Sometimes, repetition is key.

Pemahaman kita jelas akan lebih disempurnakan dan semakin kuat konsepnya akan tertanam di benak kita, dan saya percaya, ini akan bertumbuh secara perlahan namun pasti menjadi bagian dari mindset kita, dan bukankah perubahan di level mindset ini yang kita inginkan?

Menjadi Stoik Bersama Gita Wirjawan

Ada video menarik tentang filsafat Stoikisme yang dibuat oleh pak Gita Wirjawan. Video ini menarik karena tidak hanya mengenalkan dan menjelaskan apa itu Stoikisme, tetapi juga menyertakan 12 latihan praktis-yang rasanya bisa dilakukan semua orang-untuk menjadi stoik dalam laku hidup sehari-hari. Silakan disimak.

Latihan Menjadi Stoik Bersama Gita Wirjawan

In addition to that, silakan juga menyimak video tentang Stoikisme yang dibuat oleh Gloria Parinussa berikut ini, siapa tahu ada satu atau dua hal yang sekiranya berguna.

Stoikisme Bersama Gloria Parinussa

Perihal Kekayaan Instan

Banyak orang yang sebenarnya akan tertolong dari tipuan investasi bodong seperti yang marak saat ini apabila mereka sungguh menyadari karakter kekayaan yang sesungguhnya: tidak terlihat. True wealth is something you don’t see.

Ilustrasi Orang Kaya

Orang mudah terjebak pada visual kekayaan yang ditampilkan para penjebak berlabel crazy rich: rumah mewah, mobil, pakaian-pakaian bermerk terkenal, aksesoris mahal, dan kemudahan untuk mengakses berbagai kenikmatan duniawi menggunakan uang yang ada. Disematkanlah aplikasi berbisnis dalam jebakan tersebut yang dalam narasinya akan bisa menghantar orang pada “kesuksesan” sebagaimana yang dimiliki oleh model—yang ternyata hanyalah afiliator aplikasi judi—yang mengeruk keuntungan besar dari ketidakberuntungan orang lain.

Dalam buku The Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel kita disadarkan bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah tidak terlihat. Katakanlah Anda memiliki tabungan 100 juta di rekening bank. Maka kekayaan Anda (yang tidak terlihat itu) bernilai 100 juta rupiah. Apabila Anda membelanjakan 50 juta dari tabungan tersebut untuk membeli sebuah perangkat, misalnya, untuk sekedar “menunjukkan” kepada orang lain bahwa Anda mampu membeli perangkat mahal senilai 50 juta rupiah, maka sebenarnya nilai kekayaan Anda sudah berkurang 50 juta rupiah. Barang yang Anda beli tadi—yang tujuannya untuk membuat orang lain mengakui bahwa Anda kaya dan mampu membeli barang tersebut—tidak akan membuat orang terkesan untuk jangka waktu lama. Malah, Anda kehilangan fleksibilitas yang bisa didapatkan dari 50 juta rupiah jika seandainya kekayaan itu tetap tersimpan tanpa dibelanjakan.

Buku ini menyadarkan kita bahwa orang yang benar-benar kaya akan menggunakan uangnya untuk membeli fleksibilitas atau waktu, bukan barang-barang hanya untuk tujuan pamer (show off). Malah orang-orang yang benar-benar kaya cenderung akan modest saja dalam berpenampilan. Tampak biasa, ternyata bisnisnya banyak sekali, tersebar di berbagai tempat.

Tentu saja orang yang benar-benar kaya mampu membeli barang-barang mahal, akan tetapi mereka melakukannya karena memang benar-benar membutuhkan untuk menunjang bisnisnya dan untuk membantu mereka lebih fleksibel dengan waktu. They’re not buying the stuff per se, they do buy time.

Jadi, kalau ada orang yang terlihat kaya dan gemar memamerkan barang-barang miliknya di media dan gencar mempromosikan suatu platform bisnis, be really cautious about them, karena bisa saja mereka sedang menjalankan sebuah jebakan. They’re trying to lure you into doing something, memanfaatkan “kerapuhan” emosional kita, yaitu keinginan untuk cepat-cepat kaya.

Bersyukurlah dengan keadaan ekonomimu saat ini, entah bagaimana pun itu, dan tetaplah berusaha meningkatkan taraf hidupmu dengan upaya-upaya yang baik, dan ingat, tak ada pencapaian yang instant. Upaya memperbaiki taraf hidup membutuhkan upaya, kerja keras, dan waktu yang tidak sedikit.

Semoga tulisan ini berguna. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan

PRP dalam Terapi Kognitif

Guys, saya baru saja membaca sebuah bab menarik di buku berjudul Even Happier yang ditulis oleh Tal Ben-Shahar. Sebuah bab tentang terapi kognitif. Ini semacam metode untuk menangani emosi yang mengganggu, seperti kecemasan berlebih. Premis dasar dari terapi ini adalah prinsip dasar dalam Stoikisme: kita bereaksi terhadap interpretasi terhadap suatu peristiwa, dan bukan terhadap peristiwa itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan suatu peristiwa bisa menimbulkan beragam reaksi dari orang yang berbeda.

Peristiwa (event) menimbulkan interpretasi (thought), dan interpretasi ini selanjutnya membangkitkan emosi (emotion) tertentu. Seorang ayah yang tersenyum gembira melihat putrinya bisa diurai menjadi:

Peristiwa (event): Ayah melihat seseorang.

Interpretasi (thought): Ayah mengenali bahwa orang tersebut adalah putrinya.

Emosi (emotion): Sang ayah tersenyum gembira.

Saat emosi yang timbul dari interpretasi adalah emosi yang negatif dan mengganggu, terapi kognitif ini berfokus untuk mengembalikan sensasi kenyataan (realisme) dengan cara memperbaiki, atau bahkan menyingkirkan, pemikiran yang terdistorsi. Mengubah pemikiran ini akan mengubah perasaan orang yang merasakan emosi negatif.

Sebuah contoh. Orang yang sangat khawatir tidak lulus wawancara kerja bisa melakukan re-interpretasi terhadap peristiwa wawancara kerja, sebagai berikut:

Peristiwa: Saya melakukan wawancara kerja.

Interpretasi: Jika saya tidak diterima, itu bukan akhir segalanya. Saya mungkin akan menganggur lagi untuk beberapa waktu, tetapi ada banyak pekerjaan lain di luar sana yang cukup layak untuk saya, dan bisa memberikan saya kecukupan, dan saya percaya bisa mendapatkannya.

Emosi: Lebih tenang dan berani menghadapi kegagalan, tidak cemas berlebihan saat wawancara.


Kalau kalian ingat atau pernah membaca postingan sebelumnya, saya sebenarnya sudah pernah menceritakan metode yang sangat identik dengan terapi kognitif ini. Namanya metode STAR. Penamaan metode itu sebenarnya dibuat oleh Henry Manampiring, penulis buku Filosofi Teras yang pernah saya ceritakan di sini dan di sini.


Dalam terapi kognitif, prosesnya dapat dinyatakan dalam akronim PRP: Permission, Reconstruct, Perspective, yang uraiannya sebagai berikut:

Permission: Memberikan diri ruang untuk bersifat manusiawi; bahwa manusia bisa merasakan beragam emosi, termasuk emosi negatif.

Reconstruct: Merekonstruksi hal yang terjadi dengan menyadari bahwa ianya tak melulu buruk. Bisa jadi kita belajar sesuatu dari peristiwa tersebut, atau peristiwa tersebut justru menyadarkan kita agar lebih menghargai segala kemudahan hidup selama ini.

Perspective: Mengkaji peristiwa yang terjadi dalam gambaran besar kehidupan. Misalnya mengujinya dengan pertanyaan: Apakah peristiwa ini sebenarnya sangat signifikan dalam 5 atau 10 tahun ke depan, sehingga harus membuat saya larut dalam emosi negatif? Apakah kecemasan ini begitu penting dibandingkan persoalan yang dihadapi dunia global saat ini? … dan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang meletakkan peristiwa atau emosi yang timbul dalam bingkai besar kehidupan dan dunia. Seeing from above.


Dengan secara aktif melatih diri dengan terapi kognitif seperti ini, akan lebih mudah bagi kita mengelola emosi negatif yang timbul (terkadang sangat instan!) dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Terapi ini ibaratnya olahraga mental. Sebagaimana olahraga fisik, semakin sering kita berlatih, “otot mental” kita akan semakin terampil pula melakukannya.

Dan tentu saja, kita adalah orang yang paling diuntungkan dengan latihan kognitif ini.

Seseorang bernama David Burns pernah mengatakan,

Kita sering membodohi diri kita sendiri dan menciptakan penderitaan dengan mencekoki pikiran kita dengan berbagai hal yang sama sekali tidak benar.

Dan itu sangat benar menurutku, guys. Bagaimana menurutmu?

Salam,

Paulinus Pandiangan

On Learning

Ada satu aspek yang sebenarnya sangat penting dalam proses berkarir di suatu bidang. Kita barangkali sering terpapar dengan pemahaman bahwa kita harus mencari area pekerjaan atau institusi yang menawarkan penghasilan yang besar. Fat paycheck. Ini mendasari semua pilihan yang kita ambil: bekerja di mana dan mengerjakan apa.

Tetapi sebenarnya ada proses belajar yang seharusnya menjadi dasar yang lebih baik. Dengan menjadikan diri sebagai pembelajar, kita akan memilih kesempatan-kesempatan yang menawarkan peluang lebih besar untuk belajar. Kita akan mencari mentor. Kita akan mencari orang-orang yang bisa membantu kita bertumbuh. Bahkan menjadi pembantu seorang mentor secara sukarela tanpa dibayar merupakan peluang besar yang perlu diambil, karena dari proses berguru seperti ini biasanya banyak hal berguna—trade secrets—yang dapat dipelajari terkait industri yang tengah digeluti.

Dari proses inilah nantinya kreatifitas kita bisa bertumbuh dan barangkali kita bisa menciptakan peluang-peluang baru yang akhirnya mendatangkan uang.

Jadi menurut saya ada benarnya bahwa kita tidak perlu terlalu berfokus pada uang dulu. Yang justru lebih penting adalah menumbuhkan pengetahuan dan skill melalui proses belajar untuk selanjutnya menjadi panggung bagi ekspansi kreatifitas kita.

What do you guys think? 😉

Tidak Harus Tahu Semua

Hai guys, welcome back.

Saya sengaja membuat judul postingan yang sama dengan yang dibuat pak Budi Rahardjo, dosen di STEI ITB, karena postingan ini juga menekankan hal yang sama dengan ide beliau, yang ditulis di postingan blognya.

Silakan disimak juga postingan beliau agar teman-teman mendapatkan pemahaman yang lebih kaya tentang apa yang persisnya beliau maksud dan yang saya share melalui tulisan ini.

Ilustrasi Fokus

OK, mari kita ke topiknya.

Di lembar refleksi harian untuk 30 Januari di buku The Daily Stoic, pembahasan yang diangkat adalah bahwa (sebenarnya) kita tak perlu selalu tahu (bahkan selalu peduli) terhadap berbagai isu yang beredar bebas di era informasi saat ini.

Ini sebenarnya masih berkaitan dengan postingan saya sebelumnya. Di era informasi saat ini, dimana orang bisa mengakses informasi 24 jam sehari dan 7 hari seminggu (24/7), kemampuan yang sebenarnya diperlukan adalah memilah informasi (dari lautan informasi) yang benar-benar bernilai dan diperlukan. Ada terlalu banyak informasi, yang jika tidak dipilah dengan baik, hanya akan menjadi noise. Distraksi.

Lagi pula, tak semua informasi yang beredar sifatnya esensial. Daripada menggunakan waktu dan energi untuk isu-isu tak penting, alangkah lebih baiknya jika digunakan untuk hal-hal yang bernilai dan memberikan makna bagi kita pribadi. Ini juga adalah bagian dari menggunakan waktu dengan bijaksana.

So, be wise about your time, by giving attention to what really matters.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Simpel Saja!

Penyakit umum yang terjadi pada banyak orang saat ini adalah overthinking. Terlalu banyak berpikir—atau lebih tepatnya khawatir—terhadap berbagai hal. Mungkin karena informasi yang bisa kita akses sudah terlalu banyak, atau juga karena kurangnya fokus dalam hidup yang membuat orang begitu mudah terdistraksi.

Filsuf Stoikisme bernama Marcus Aurelius nampaknya juga menyadari ‘penyakit’ ini di eranya. Dalam jurnal Meditations dia berbicara tentang perlunya berfokus pada apa yang sedang kita kerjakan dan tidak terganggu dengan bermacam distraksi. “Just do your job“, itulah kalimat yang selalu diucapkan pelatih Bill Belichick kepada para pemainnya. Lakukan dan berfokus saja pada tugas yang di ada di depan mata saat ini.

Kalau kita sungguh menyadari ini, banyak kerumitan dalam berpikir, bertindak, dan bekerja yang sebenarnya bisa diurai. Kalau kita bisa melihat gambaran besar kehidupan dan hanya berfokus pada 1 atau 2 hal yang bernilai bagi kita, hidup akan menjadi lebih simpel, dan kita tidak akan mudah terombang-ambing oleh arus distraksi yang disajikan media-media informasi.

Pertanyaannya, maukah kita menjadi orang yang sungguh hidup simpel, mulai hari ini?

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!