Salvifici Doloris : Sebuah Pengantar

Bagaimana Gereja Katolik memandang penderitaan manusia?

Penderitaan merupakan suatu fakta kehidupan manusia yang paling sulit dihadapi dan dipahami. Tak ada manusia yang tidak pernah menderita. Saat Anda membaca teks ini, misalnya, anak-anak di belahan dunia lain (barangkali) sedang terjangkit penyakit langka, ditelantarkan, para tawanan disiksa, wanita diperkosa, pasangan suami istri saling menyakiti, reputasi orang hancur karena pilihan politis, orang-orang baik mati muda dan orang-orang jahat justru berkuasa. “Mengapa semua ini harus terjadi?” menjadi pertanyaan di benak kita.

Berbagai bentuk penderitaan manusia ini bahkan telah lama dijadikan sebagai argumen yang membantah keberadaan Tuhan. Jika memang Tuhan ada, dan Dia Maha Kasih, lalu mengapa Dia “membiarkan” semua penderitaan terjadi, barangkali begitu logikanya. Lebih mudah bagi banyak orang untuk akhirnya menilai bahwa alam semesta tercipta secara kebetulan saja, sehingga penderitaan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari sebagai sebuah kemungkinan (probabilitas); di dalam dunia dimana tiap orang memiliki kebebasan, berbagai hal (bisa saja) menjadi kacau, dan terjadilah penderitaan manusia.

Dalam pandangan Gereja Katolik, penderitaan manusia (human suffering) adalah suatu misteri. Misteri yang dimaksud di sini bukan merujuk ke semacam teka-teki untuk dipecahkan, atau semacam persoalan yang membutuhkan jawaban pasti, misalnya hasil penjumlahan dua angka positif.

Selanjutnya…

Abandoned, A Short Movie

The following video speaks beautifully of a loving Dad.

Abandoned Short Movie

Seeing God through the perspective of a loving Dad, us being a blind child, is really empowering. The close relationship—Dad and his child—gives context to the whole story, a story of true love.

Why a blind child? Not so much to the extent of being physically blind, but to the extent that as a child, at times, we may not see the whole of our Dad’s huge love and care and affection. We may not understand him entirely. Sometimes we even think we are abandoned by him. The same with our relationship with God. Many see only the absence of God during difficult times, and a few see Him even more clearly during the same dark moments in their lives.

What about you? Of two options dealing with difficult situations—seeing God as a loving and caring God or seeing yourself as being abandoned by Him—which one would you rather choose to put your trust in?

Does the movie help you see which one is actually true? 🙂

Pace e Bene.

Pace e Bene

Hawking dan Arogansi Intelektual

Saya adalah orang yang sempat mengagumi Stephen Hawking, ahli fisika teoretis yang fenomenal itu. Saat itu saya merasa bahwa dia cukup inspiratif: mampu melampaui keterbatasan fisik akibat kelumpuhan saraf motorik yang dideritanya dengan karya-karya intelektualnya yang luar biasa, yang membantu kita untuk setidaknya lebih memahami alam semesta. Salah satu pemikirannya yang cukup populer misalnya teori big bang atau teori ledakan besar, yang mencoba menjelaskan bagaimana alam semesta bermula.

Stephen Hawking

Tetapi semua kekaguman itu menjadi hambar tatkala pada sekitar tahun 2014 dia menegaskan bahwa Tuhan tidak ada. Dia sama sekali tidak percaya akan keberadaan Tuhan.

Dengan segala berkat ketajaman pemikiran untuk menjangkau galaksi dari kursi rodanya, dia ternyata hanya sampai pada kesimpulan yang menurut saya menyedihkan itu. Pathetic. 🙁

Kesimpulan yang pada dasarnya diperoleh dari penalaran yang tidak sempurna. Mengapa tidak sempurna? Karena menurutnya ledakan besar (big bang) adalah sesuatu yang memulai alam semesta dari ketiadaan (nothingness), tetapi siapa atau kuasa apa yang bisa menciptakan ketiadaan itu, dia juga pada dasarnya tidak tahu.

Kecakapan intelektual justru membuatnya menjadi sangat terpaku pada metode-metode ilmiah dimana semuanya harus bisa dinyatakan secara pasti, terukur dengan angka-angka, harus dapat dibuktikan dengan argumen-argumen ilmiah. Dan jika tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, maka “sesuatu” itu pada dasarnya tidak ada.

Dan karena Tuhan (tentu saja) tidak dapat dimodelkan dalam argumen-argumen ilmiah, maka Tuhan, menurut Hawking, adalah “sesuatu” yang sebenarnya tidak ada.

Lalu apa pendapat saya?

Saya selalu meyakini bahwa Tuhan jauh melampaui segala pemikiran. Dan justru karena itulah Dia disebut Tuhan.

Jika pemikiran saya mampu mendikte Tuhan itu seperti apa, maka siapakah sebenarnya yang menjadi Tuhan di sini, saya atau Dia? 😉

Jika saya mampu memahami Tuhan sepenuh-penuhnya dengan akal pikiran saya yang terbatas ini, maka tentu saja posisi Tuhan tidak lebih tinggi dari saya.

Maka, ketika kita mencoba “mengecilkan” Tuhan dengan mencoba memahami Dia dengan pikiran kita yang terbatas, kita sebenarnya sedang “membuat diri kita menjadi Tuhan”, yang memahami pikiran Tuhan yang sesungguhnya.

Dan di situlah letak arogansi kita.

Kita adalah ciptaan, yang merasa memahami Sang Pencipta.

Stephen Hawking adalah satu dari sekian banyak orang yang tampaknya menganggap bahwa Tuhan dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang tidak dapat berjalan beriringan, sebagaimana kecenderungan umum para ateis.

Di sisi lain, ada banyak orang religius yang justru mendalami ilmu pengetahuan, dan dapat menjalani keduanya secara beriringan. Misalnya saja Gregor Mendel, biarawan yang juga penemu ilmu genetika, atau Albertus Magnus yang sangat ahli dalam ilmu mineral dan orang pertama yang menemukan unsur kimia Arsenik, dan deretan biarawan lainnya yang menggeluti ilmu pengetahuan — tanpa harus menyangkal keberadaan Tuhan.

Apa yang sangat beda dari kedua pihak ini — ilmuwan yang meyakini adanya Tuhan dan yang menyangkal?

Menurut saya jawabannya terletak pada kerendahan hati — yang tentu sangat bertolak belakang dengan arogansi.

Sebagaimana yang saya pahami dalam ajaran Katolik, Yesus Kristus selalu meminta kita untuk percaya. Percaya pada penyertaan dan karyaNya dalam setiap situasi hidup. Kita barangkali tidak selalu memahami segala sesuatu, tetapi Tuhan menjanjikan keselamatan, apabila kita percaya dan mengikuti Dia.

Dan untuk bisa sungguh-sungguh menerima Dia, dibutuhkan kualitas kerendahan hati: kesadaran yang tak kunjung henti akan hakekat kita sebagai ciptaan Yang Kuasa, menyadari bahwa kebesaran dan keagungan Tuhan melampaui pemikiran kita yang terbatas.

Bahkan ketika kita melakukan sesuatu yang baik, itu bukan karena daya kuasa kita sendiri. Itu adalah kuasa Tuhan yang bekerja melalui diri kita.

Bukan begitu, saudara-saudariku? 😉

Maka marilah tetap rendah hati dan mencintai Tuhan Yang Maha Agung, agar Ia sungguh berkarya dalam hidup kita, dan semoga kita sungguh menjadi refleksi dari kebaikan hatiNya.

Pace e Bene. 🙂  🕊


P. S. Pencetus hipotesis pertama big bang adalah Monsignor Georges Henri Joseph Édouard Lemaître, seorang biarawan Belgia yang juga seorang astronom dan profesor Fisika di Universitas Katolik Leuven.

Georges Henri Joseph Édouard Lemaître

A Bite of Stoicism

In the line above lies a simple truth all of us need to be aware of: we are all biased.

And that bias comes from our own thoughts.

It is our own minds that are responsible for creating “stories in our heads” — the thoughts that add spices to events that are basically neutral; the thoughts that give rise to certain emotions.

So emotion is the result of the narative we ourself “craft” in our own minds. It is our own responsibility.

Having said that, whenever you see something, it’s important to be aware that what you think you see in your mind is merely a perspective. Your own perspective, so to speak, and that perspective is not the truth itself.

That is something Stoicism teaches us.

It’s about mindful about what things really are and what things look like in our mind, and stick to the truth.