Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Berkomitmen Tanpa ‘Terikat’ pada Hasil

Dalam dunia profesional kita familiar dengan kalimat, “Proses yang baik tidak akan mengkhianati hasil‘, suatu ungkapan yang dalam filsafat Stoikisme sebenarnya tidak realistis, karena kalimat tersebut menyiratkan bahwa hasil (outcome) adalah sesuatu yang berada dalam kendali kita. Dalam kenyataannya, ada banyak sekali faktor di luar kendali kita yang mempengaruhi sebuah hasil.

Maka saran terbaik dalam kaitan dengan mencapai tujuan adalah: berkomitmen tanpa ‘terikat’ pada hasil. Seringkali kita begitu terikat (attached) pada hasil; sehingga ketika tidak tercapai, kita menjadi kesal, tidak puas, kecewa. Andai kita bisa melatih diri untuk berkomitmen pada tindakan-tindakan dan pilihan-pilihan yang berada di bawah kendali kita, dan tidak terikat pada hasil yang dicapai, kita akan lebih positif menyikapi keadaan saat hasil yang diharapkan (ternyata) tidak tercapai.

Sebuah ilustrasi. Kita mengharapkan hasil berat badan kita turun 5 kilogram dalam sebulan. Yang berada di bawah kendali kita adalah mengkombinasikan antara olahraga secara teratur dengan mengatur pola makan sehingga kita bisa ‘membakar’ cadangan lemak tubuh, juga mengatur pola istirahat dengan baik. Entah kita mendapatkan penurunan berat badan 5 kilogram atau tidak dalam sebulan, itu urusan nanti. Yang terpenting adalah berfokus pada upaya yang dalam kendali kita. Berkomitmen pada upaya tanpa terikat dengan hasil (committed and unattached). Kalau ternyata penurunan berat badan kita masih belum mencapai 5 kilogram dalam sebulan, maka kita tidak akan menjadi sangat kecewa dan bisa segera memikirkan strategi lain untuk bisa mencapainya.

Kalau kita terlalu terikat dengan penurunan berat badan 5 kilogram, kita akan stress ketika angka itu tidak tercapai, dan upaya kita akan mudah surut. We better focus on things under our control.

Menahan Diri dari Pembelian Impulsif

Saya sendiri merasakan bahwa kehadiran aplikasi toko online di perangkat genggam kita merupakan bentuk godaan tersendiriβ€”yang kalau kontrol diri kita tidak kuatβ€”akan membawa kita pada kebiasaan berbelanja secara impulsif. Bagaimana tidak, semuanya bisa dilakukan hanya dari perangkat genggam, mulai dari pemilihan barang sampai pada pembayarannya. All you need is to sit nicely, have a good internet connection, and bam! Purchase done. πŸ™‚

Ilustrasi Belanja Impulsif | Sumber

Maka berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk bisa menangkal kecenderungan berbelanja barang secara impulsif:

(1) Menyadari bahwa rasa senang dari kegiatan berbelanja durasinya sangat pendek.

Kita umumnya merasa senang ketika bisa melakukan pembelian suatu barang yang baru, dan rasa senang yang diperoleh dari pembelian barang ini sebenarnya berdurasi sangat singkat. Untuk sesaat kita senang, tetapi tak lama kemudian kita akan terbiasa dengan barang yang baru tersebut. Inilah yang perlu selalu diingat setiap kali kita tergoda untuk melakukan pembelian barang: kita akan merasa senang untuk sesaat saja, dan lalu terbiasa.

(2) Pertimbangkan keuntungan memiliki lebih sedikit barang.

Selain memberikan rasa lega, memiliki lebih sedikit barang akan menghemat banyak waktu yang diperlukan untuk mengurusnya. Waktu yang tersedia ini selanjutnya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Melatih diri untuk memiliki sedikit barang juga akan melatih mental cukup, dimana kita benar-benar menyadari bahwa hidup kita masih bisa berlangsung dengan baik walau dengan sedikit barang. Happiness is not in the ownership of things.

(3) Uang cash yang tersedia di saku akan sangat membantu di masa sulit.

Ketika kita tidak mudah tergoda untuk menghabiskan uang dengan berbelanja secara impulsif, kita akan memiliki persediaan uang yang akan sangat membantu ketika berada di masa yang sulit, misalnya saat terjadi resesi. Ketika keadaan ekonomi sedang sulit, misalnya, memiliki cadangan uang di luar penghasilan reguler akan sangat banyak membantu, dan membuat kita lebih tenang melewatinya.

(4) Buat anggaran.

Anggaran merupakan alat pengelolaan keuangan yang sangat berguna, dan melatih diri untuk membuat anggaran secara teratur akan melatih diri kita untuk lebih cermat (thoughtful) dalam mengeluarkan uang. Anggaran ini perlu dibuat agar segala transaksi terjadi berdasarkan prioritas yang sudah ditetapkan dan agar kecenderungan untuk impulsif bisa diminimalkan. Intinya, kalau tidak ada anggaran, sebaiknya tidak dikeluarkan uang untuk itu.

(5) Mengabaikan iklan.

Iklan produk yang terselip di berbagai aplikasi di perangkat genggam memang dirancang sedemikian rupa untuk membuat kita impulsif. Iklan adalah sesuatu yang bisa memberikan informasi yang berguna, tetapi juga bisa menarik kita untuk berbelanja tanpa berpikir panjang. Inilah sebabnya ada baiknya kita melatih diri untuk bisa mengabaikan iklan. Dengan tidak memberikan perhatian pada iklan, kita bisa mengurangi peluang untuk tergoda melakukan pembelian impulsif.

(6) Jangan terjebak dalam mindset ‘mumpung ada’

Barang-barang tertentu pada waktu tertentu memang terkadang laris manis dan sulit didapat di pasar. Tetapi ada juga barang yang memang secara sengaja diproduksi sedikit di satu waktu tertentu agar terkesan langka dan sulit didapat, sehingga ketika ada konsumen yang menemukan barang itu, mereka akan tergoda untuk segera membeli, mumpung ada. Inilah satu kondisi dimana kita harus tetap selektif untuk melihat apakah suatu produk benar-benar sesuatu yang kita butuhkan. Kalau ternyata tidak benar-benar dibutuhkan, kita perlu menahan diri agar tidak tergoda dalam mindset ‘mumpung ada’ ini.

(7) Ketimbang membeli barang, pertimbangkan untuk membantu orang.

Dengan menahan diri dari pembelian impulsif, uang yang bisa kita kendalikan itu sebenarnya bisa dialokasikan kepada sesuatu yang lebih penting: membantu orang. Tentu ada saja orang di sekitar kita yang lebih membutuhkan sejumlah uang yang kita miliki, walaupun sedikit. Uang yang sedikit itu mungkin saja sangat berarti bagi mereka. Ini akan memberikan rasa senang yang jauh lebih berkesan dibandingkan dengan rasa senang dari pembelian impulsif.


Demikian tujuh cara untuk menangkal kecenderungan berbelanja barang secara impulsif. Tidak ada yang salah dengan berbelanja, yang penting adalah apa yang kita belanjakan itu benar-benar sesuatu yang bermanfaat. 😊


Tulisan ini disarikan dari artikel di laman blog Joshua Becker.

Kebahagiaan di Dalam Diri

Kebahagiaan seringkali kita anggap akan dicapai dari hal-hal di luar diri kita, seperti pasangan yang serasi, berat badan ideal, pekerjaan impian, kota tempat tinggal yang diidamkan, dan lain sebagainya. Kita berpikir bahwa kalau kita bisa mendapatkan hal-hal ini, maka kita akan bahagia. Model IF… THEN… (Jika saya membeli mobil baru, maka saya akan bahagia. Apabila saya mendapatkan pekerjaan dengan gaji 50 juta sebulan, saya akan bahagia, dan seterusnya …)

Psikolog Kennon Sheldon dan Sonja Lyubomirsky lalu menemukan prinsip “adaptasi hedonis”, dimana ketika kita misalnya menang undian dan mendapat hadiah, kita akan merasa senang untuk beberapa saat, akan tetapi kemudian kita akan terbiasa dengan keadaan tersebut, dan level kebahagiaan kita kembali ke dasar (baseline).

Maka jelas bahwa kebahagiaan tidak diperoleh dari hal-hal di luar diri kita.

Lalu bagaimana agar kita bisa lebih bahagia, saat ini?

  • Berdamai dengan segala kekurangan diri dan izinkan diri kita untuk menjadi tak sempurna.
  • Kalau kita tak sempurna, kita juga harus memaklumi bahwa orang lain juga tak sempurna. Harus ada ruang untuk ketidaksempurnaan (room for imperfection) bagi diri kita sendiri dan juga orang lain.
  • Lepaskan ekspektasi yang berlebihan tentang bagaimana perjalanan hidup kita seharusnya. Bagaimana hidup kita berjalan adalah suatu hal yang di luar kendali kita sepenuhnya, dan ada banyak sekali faktor yang mempengaruhinya.
  • Hentikan kebiasaan berandai-andai tentang masa lalu dan masa depan. Apresiasi dan syukurilah hal-hal baik dalam hidup kita saat ini.
  • Tetap coba hal-hal baru agar hidup kita tetap terasa menarik. Proses belajar hal baru bisa menimbulkan kebahagiaan yang lebih bertahan lama.

Saya percaya bahwa kebahagiaan adalah efek samping dari pilihan-pilihan kita setiap hari dan pada prinsipnya kebahagiaan adalah hadiah (gift); sehingga mengejar kebahagiaan sebagai sebuah tujuan akhir hanya akan menjauhkan kita dari kebahagiaan itu sendiri. Agreed? πŸ˜‰

Mengelola Energi

Level energi kita sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kecukupan jam tidur, makanan yang dikonsumsi, dan seberapa fit tubuh kita (berkaitan dengan seaktif apa tubuh kita bergerak dan/atau berolahraga). Tetapi di luar faktor-faktor ini, level energi kita ternyata dipengaruhi juga oleh orang-orang yang berinteraksi dengan kita, tempat, suara-suara, dan pengalaman.

Karena demikian, mengenali aktivitas yang memberikan energi dan yang menguras energi menjadi sangat penting; maka berikut daftar kegiatan yang bisa memberikan (menambah) energi dan yang menguras (mengurangi) level energi kita.

Aktivitas penambah energi misalnya:

  • Olahraga;
  • Bergaul dengan orang-orang yang positif;
  • Berada di alam terbuka dan terhubung dengan alam;
  • Melakukan kegiatan yang kreatif;
  • Yoga;
  • Meditasi;
  • Bermain dengan anak;
  • Membaca santai;
  • Memasak;
  • Melakukan permainan.

dan berikut kegiatan-kegiatan yang bisa menguras energi:

  • Terlalu lama berseluncur di dunia maya;
  • Membandigkan diri dengan orang lain;
  • Mengkonsumsi terlalu banyak berita;
  • Menonton TV terlalu lama;
  • Bergaul dengan orang-orang negatif;
  • Cemas berlebihan;
  • Terlalu banyak minum alkohol;
  • Selalu mengeluh dan protes;
  • Menggosip;
  • Mengkonsumsi makanan tidak sehat;
  • Terlalu doyan berbelanja;

Dari daftar di atas kita bisa memahami bahwa mengelola level energi adalah perkara membuat pilihan-pilihan tindakan yang memberikan benefit paling positif dari penggunaan waktu kita. Mengelola energi adalah bijaksana dalam menggunakan waktu.

Olahraga: Just Do It!

Kita tidak diciptakan untuk berdiam saja seharian di dalam ruangan, duduk di depan layar TV atau komputer. Kita harus bergerak, kita wajib berolahraga. Beberapa dampak positifnya adalah kualitas tidur yang lebih baik dan imunitas tubuh yang meningkat. Di samping itu, orang yang tidak berolahraga lebih rentan mengalami depresi. Orang yang berolahraga secara teratur juga cenderung lebih percaya diri dan merasa nyaman dengan tubuhnya.

Manfaat Olahraga | Sumber

Profesor psikiatri Harvard, John Ratey, menyatakan bahwa,

Olahraga bisa diibaratkan seperti perawatan paling manjur seorang psikiater. Olahraga bisa mengatasi kecemasan, gangguan kepanikan, dan stres secara umum yang berhubungan erat dengan depresi. Aktivitas olahraga akan melepaskan neurotransmitter, norepinefrin, serotonin, dan dopamin, yang memiliki efek sangat mirip dengan obat-obat psikiatri terpenting; olahraga itu seperti mengkombinasikan sedikit Prozac dan Ritalin dan mengaplikasikannya di tempat yang tepat.

John Ratey M. D

Selain itu, ada juga penelitian yang dilakukan oleh Michael Babyak dan koleganya di Universitas Duke yang menemukan bahwa olahraga 3 kali seminggu, masing-masing 30 menit, bisa membantu pasien yang didiagnosa depresi berat (gangguan depresi mayor) dan bisa menjadi alternatif dari terapi dengan obat-obatan. Yang lebih menarik, penderita depresi berat yang mengkonsumsi obat anti depresan akan cenderung untuk mengalami depresi lagi ketika sesi terapi sudah selesai dibandingkan dengan pasien yang tidak hanya mengkonsumsi obat, tapi juga berolahraga; artinya olahraga menjadi satu faktor penting yang bisa membedakan keadaan dua orang yang sama-sama mengalami depresi berat.

Maka kesimpulan pentingnya bagi kita semua adalah: Kita butuh berolahraga. Kalau ini tidak terpenuhi, ada harga yang harus dibayar.

Seperti slogan Nike, tak usah berpikir panjang tentang olahraga. Pilih aktivitas olahraga yang paling cocok denganmu, dan just do it!

No Such Thing as Pain-Free

Bacaan singkat pagi ini dari buku A Calendar of Wisdom-nya Leo Tolstoy semakin meyakinkan saya bahwa memang penderitaan dan sukacita, sebagaimana emosi manusia, berada dalam spektrum yang sama; sehingga tidak mungkin menjalani kehidupan tanpa mengalami penderitaan. Penderitaan dan sukacita go hand in hand, mereka ada secara bersama dan saling melengkapi, ibarat siang dan malam. Tak ada sukacita tanpa penderitaan sebagaimana tak ada siang tanpa ada malam.

Berikut beberapa quotes yang menarik dari bacaan hari ini:

Pain is the necessary condition of our body, and suffering is the necessary condition of our spiritual life, from birth to death.

Marcus Aurelius

Dengan kata lain, rasa sakit adalah kondisi yang dibutuhkan tubuh fisik kita, dan penderitaan adalah kondisi yang dibutuhkan dalam kehidupan rohani kita. Tanpa rasa sakit dan penderitaan, kehidupan fisik dan spiritual kita tidak akan pernah menemukan kepenuhan.

Kutipan lain tak kalah menarik,

You should welcome everything which happens to you from birth to death, because the existence and the purpose of the world is in these cases.

Marcus Aurelius

Ini sebenarnya melengkapi quote yang sebelumnya, dimana kita harus belajar menerima keadaanβ€”amor fatiβ€”karena hanya dengan demikianlah kita bisa merasakan kepenuhan hidup.

Only in the storm can you see the art of the real sailor; only on the battlefield can you see the bravery of a soldier. The courage of a simple person can be seen in how he copes with the difficult and dangerous situations in life.

Daniel Achinsky

Pengalaman yang buruk sekali pun tetap diperkenankan terjadi dalam hidup kita untuk tujuan yang baik, setidaknya itulah satu hal penting yang perlu dipahami.

Lagipula, Tuhan bisa menggunakan segalanyaβ€”baik atau burukβ€”untuk kebaikan kita, bukan? πŸ˜‰

Simplify, Simplify, Simplify.

Judul di atas bisa dijadikan mantra kalau kita merasa bahwa kepala kita sedang penuh dengan berbagai hal. Faktanya adalah: berbagai hal dalam kepala tersebut adalah pikiran-pikiran kita sendiri, dan kita kalut dengan pikiran-pikiran kita sendiri. Kita tenggelam dalam benak kita sendiri. Keadaan seperti ini ternyata dapat diatasi dengan mencoba kembali kepada esensi dari berbagai hal yang ‘meributi’ pikiran kita tersebut. Di sinilah penekanan dari mantra tadi: simplify, simplify, simplify. Kalau sudah dibedah dengan tenang, berbagai hal tadi pada akhirnya dapat dipahami dengan lebih baik dan, barangkali, tidak sebesar apa yang terpikirkan di awal, dan bahkan kita bisa ‘mencoret’ berbagai hal yang ternyata tidak esensial dari daftar panjang hal-hal yang ‘meributi’ pikiran.

Ada sebuah teknik menarik yang saya baca di blog Leo Babauta pagi ini. Berikut saya sarikan apa yang menjadi inti idenya:

  • Perasaan kalut ini terjadi karena kita berkomitmen pada terlalu banyak hal. Kita memilih seperti ini karena pada dasarnya kita ingin berusaha menjadi orang yang baik bagi orang lain, sehingga sulit untuk menolak (berkata Tidak pada hal dimaksud).
  • Dengan banyaknya hal yang perlu ditindaklanjuti, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah berfokus pada satu hal untuk satu waktu tertentu (one thing at a time), dan setelahnya barulah kita mengerjakan hal yang berikutnya. Membuat prioritas menjadi sangat penting di sini.
  • Kita harus melatih diri untuk mengatakan Tidak pada berbagai hal yang tidak esensial; dengan kata lain ‘mengamankan’ slot waktu kita yang berharga untuk hal-hal yang bernilai saja.

Pada dasarnya kita harus tetap membuat batasan yang sehat terhadap berbagai hal. Don’t say yes to all things, since not all of them are necessary.

Dan itulah inti dari melakukan penyederhanaan: berfokus pada nilai dan esensi.

Prinsip Budgeting Mendasar

Ada banyak panduan di internet tentang bagaimana seharusnya kita membuat anggaran (budget). Tujuannya agar keuangan kita tertata dengan baik; dimana kita mengalokasikan dana / biaya untuk berbagai keperluan kita untuk rentang waktu tertentu, misalnya harian, mingguan, bulanan, sampai tahunan. Budgeting ini adalah skill dasar dalam pengelolaan keuangan untuk menjaga agar cash flow kita sehat. Kondisi ‘sehat’ yang dimaksud di sini, menurut saya, adalah kita tidak sampai berhutang hanya untuk menutupi kebutuhan harian.

Formula pengelolaan keuangan yang banyak beredar di dunia maya, dalam pendapat saya, tidak selalu bisa menjadi acuan, karena memang situasi setiap orang berbeda. Ada orang yang memang memutuskan untuk membagikan pendapatannya kepada orang tua secara rutin setiap bulan seperti saya, karena memang mereka membutuhkan; dan ada yang tidak perlu melakukan itu karena barangkali orangtuanya masih produktif dan masih memiliki pendapatan sendiri. Ada orang yang harus membantu pendidikan adiknya, misalnya, karena alasan tertentu. Intinya situasi setiap orang berbeda satu dengan lainnya, sehingga pengelolaan keuangannya pun pasti akan berbeda. Tidak ada yang salah dengan itu, karena budgeting pada dasarnya adalah how to make it works; bagaimana agar uang yang tersedia termanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Dari pengalaman saya, ada beberapa prinsip dasar yang perlu dipahami terkait budgeting:

#1. Kenali Situasi Anda

Kita tidak perlu langsung ‘melompat’ kepada bagaimana cara membuat budget sebelum benar-benar mengenali apa situasi kita yang sebenarnya. Situasi yang saya maksud di sini adalah kita harus mengetahui, pertama, apa yang penting bagi kita. What matters to US in the first place. Hal-hal penting inilah yang nantinya akan menjadi prioritas dalam alokasi keuangan kita. Kedua, siapa saja yang menjadi tanggungan kita. Saya, misalnya, menanggung anak istri dan kedua orangtua saya; maka orang-orang inilah yang menjadi prioritas alokasi keuangan saya.

#2. Terima Situasi Anda

Setelah menyadari situasi di mana Anda berada, tahap berikutnya adalah penerimaan situasi. Acceptance. Kita perlu menyadari bahwa situasi setiap orang berbeda, dan tidak ada yang salah dengan situasi kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi situasi masing-masing, dan mencari cara terbaik untuk bersahabat dan bisa menghadapi situasi keuangan kita dengan tenang.

#3. Alokasikan dan Pegang Teguh

Langkah berikutnya sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan tahap 1 dan 2, karena tahap ini lebih kepada number crunching, menetapkan angka yang masuk akal (reasonable) untuk tiap alokasi. Kendati saya mengatakan ini tahap yang mudah, tetapi diperlukan waktu juga sampai akhirnya mendapat formulasi yang pas untuk ini: angka yang wajar dan pas dengan situasi kita, dan dalam prosesnya, ini membutuhkan komunikasi juga dengan keluarga.

Setelah menemukan formulasi yang pas untuk situasi kita, selanjutnya kita tinggal berpegang teguh pada formulasi ini agar keuangan kita setiap bulan tetap aman.


Demikian 3 tahap penting yang menurut pengalaman saya sangat berguna dalam merumuskan anggaran (budget) keuangan kita. Intinya adalah setiap orang mempunyai formulasi sendiri, dan yang penting adalah bagaimana kita mengatasi situasi tersebut agar keuangan kita tetap aman, dan kita tetap bisa hidup dalam kecukupan.

Semoga berguna! ☺️

Mendefinisikan Sukses

Sukses secara umum diukur dari apa yang terlihat dan bisa diukur saja: perolehan kekayaan, posisi dalam jenjang karir, penghargaan yang diraih, dan sebagainya. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan metriks ini, akan tetapi, ternyata tidak selalu tepat dalam menggambarkan sukses yang sesungguhnya.

Mari kita mengambil kasus orangtua yang ‘dianggap’ sukses. Parameter sukses yang dilihat biasanya adalah keberhasilan anaknya. Orangtua dianggap sukses kalau anak-anaknya juga sukses. Orangtua dianggap berhasil mendidik anak-anaknya apabila anak-anaknya menjadi orang-orang yang baik dan berhasil dalam hidup.

Lalu bagaimana kalau orangtua yang baik memiliki 1 anak yang ternyata arah hidupnya melenceng dari saudara-saudaranya? Misalnya ada 4 anak, dimana 3 di antaranya berhasil dan ada 1 yang tidak. Apakah lalu adil kalau orangtuanya dianggap gagal? Padahal orangtuanya menganut nilai-nilai yang baik dan telah berusaha mendidik semua anaknya dengan sebaik mungkin.

Dalam filsafat Stoikisme, outcome atau buah dari upaya yang kita lakukan sebenarnya berada di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan (dalam kendali kita) adalah berupaya sebaik mungkin dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang kita miliki. Akan tetapi ketika hasilnya ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, itu sudah di luar kendali kita. Kita harus selalu menyadari bahwa hasil (outcome) tidak selalu berbanding lurus dengan upaya. Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang seseorang dalam hal ini, dan tidak hanya soal pola asuh saja.

Jadi tentu saja tidak adil kalau kita serta merta langsung menyalahkan orangtua saat ada anak mereka yang sedikit melenceng dari nilai-nilai yang diajarkan pada mereka.

Ada banyak contoh lain dari hal semacam ini:

  • Pebisnis yang jujur bisa saja memiliki perusahaan dan penghasilan yang lebih kecil dari pengusaha yang rakus.
  • Orang bertalenta dan pekerja keras bisa saja memperoleh penghasilan yang lebih kecil dibandingkan orang yang hanya berfokus untuk mengejar profit.
  • Ibu yang mendedikasikan waktunya merawat dan membesarkan anak-anak akan mendapatkan lebih sedikit piagam dan penghargaan dibandingkan ibu yang memilih berkarir dan menjadi figur publik.
  • Politisi yang berintegritas bisa saja kalah dalam pemilihan dari politisi yang curang dan korup.
  • Dan banyak contoh lainnya yang bisa dilihat di sekitar kita.

Maka jelas sangat tidak adil apabila kita melihat sukses hanya dari apa yang terlihat di luar. Saya lebih setuju apabila kesuksesan dilihat dari kesesuaian antara nilai-nilai yang kita anut dengan laku hidup kita sehari-hari, hidup sepenuhnya dan intensional, berfokus untuk memberikan manfaat.

Dibanding orang yang harus menggadaikan harga dirinya hanya supaya terlihat berkilau di mata dunia, orang-orang yang setia mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang dianutnya jauh lebih berharga di mata saya-dan mereka telah mencapai sukses yang sesungguhnya!

Menurutmu bagaimana? πŸ˜‰


Note: Tulisan ini adalah penulisan ulang dengan bahasa saya sendiri postingan Joshua Becker di laman ini: https://www.becomingminimalist.com/define-success/

Terkadang Kita Harus Memilih

Saya baru saja membaca sebuah artikel yang menarik di laman blog Becoming Minimalist yang ditulis oleh Joshua Becker. Topiknya adalah tentang memilih.

Ada keinginan-keinginan dalam hidup yang bisa dikejar secara bersamaan, misalnya ingin sukses dalam pekerjaan dan memiliki waktu yang cukup bersama keluarga. Ini tentu bisa diupayakan walaupun, tentu saja, tidak mudah.

Akan tetapi, ada banyak keinginan atau harapan yang tidak boleh terwujud bersamaan, kita harus memilih salah satu saja. Misalnya keinginan untuk tetap bugar dan keinginan untuk tidak harus lelah berolahraga. Ini adalah dua keinginan yang tentu saja tak bisa beriringan. Kita harus memilih salah satu: ingin bugar atau tidak berolahraga. Kalau ingin bugar, tentu harus berolahraga.

Contoh lain misalnya keinginan untuk memiliki banyak waktu bersama keluarga dan di saat yang sama ingin mengikuti banyak kegiatan di luar rumah. Ini juga tentu mengharuskan kita untuk memilih salah satu saja: ingin fokus memiliki banyak waktu bersama keluarga atau aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar rumah. Kalau kita ternyata memilih untuk memiliki banyak waktu di rumah, tentu kita harus berkorban dalam hal mengikuti berbagai kegiatan di luar rumah. Kita harus membuat prioritas: hal mana yang ingin didahulukan, dan mana yang bisa dikorbankan.

Gambar diambil dari https://www.kevinmd.com/wp-content/uploads/shutterstock_253531033.jpg.

Atau keinginan untuk bisa menulis sebuah buku sampai selesai dan keinginan untuk menonton TV setiap malam. Ini juga tentu akan sulit dicapai keduanya secara bersamaan. Kalau kita ingin bisa menuntaskan buku, tentu waktu untuk menonton TV bisa dikorbankan agar keinginan menuntaskan buku tadi bisa tercapai.

Dan begitulah pada akhirnya kita memutuskan apa-apa saja yang ingin kita lakukan dalam hidup. Terkadang ada 2 keinginan yang bisa sama-sama diwujudkan secara beriringan, akan tetapi seringkali juga kita harus memilih.

Dan itulah yang menjadi ide utama dari tulisan di blog Becoming Minimalist yang saya baca sore ini. Silakan membaca versi aslinya di alamat ini bagi teman-teman yang tertarik.

Semoga (saja) tulisan singkat ini bermanfaat! πŸ™‚

Click to listen highlighted text!