Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Pentingnya Membaca Ulang

Membaca ulang artikel atau buku yang berisikan hal-hal yang baik bagi perkembangan pribadi saya ternyata penting. Saya menyadarinya kembali sore ini ketika membaca postingan tentang hidup sederhana dan 20 cara praktis memangkas pengeluaran di blog ibu Maria, Breakfast with Lukas. Blog ini sudah saya kenal selama beberapa waktu terakhir dan bahkan kedua postingan tadi sudah pernah saya baca sebelumnya, tetapi ketika sore ini saya membacanya ulang, rasanya seperti diingatkan kembali, dan tetap ada hal baru yang rasanya belum benar-benar saya pahami sebelumnya.

Inilah gunanya membaca ulang.

It’s like adding a new layer of understanding. Bertambah lapisan pemahaman saya terhadap apa yang ditulis.

Kalau seperti saya, Anda ingin mengembangkan diri dan mindset ke arah hidup yang lebih bersahaja dan bermakna, maka saran terbaik saya adalah Anda harus mencari sumber daya di Internet yang kiranya cocok dengan style Anda dan nikmatilah apa yang tersaji di sana-bahkan kalau harus sampai membaca (atau menontonnya) berulang-ulang.

Sometimes, repetition is key.

Pemahaman kita jelas akan lebih disempurnakan dan semakin kuat konsepnya akan tertanam di benak kita, dan saya percaya, ini akan bertumbuh secara perlahan namun pasti menjadi bagian dari mindset kita, dan bukankah perubahan di level mindset ini yang kita inginkan?

Perihal Kekayaan Instan

Banyak orang yang sebenarnya akan tertolong dari tipuan investasi bodong seperti yang marak saat ini apabila mereka sungguh menyadari karakter kekayaan yang sesungguhnya: tidak terlihat. True wealth is something you don’t see.

Ilustrasi Orang Kaya

Orang mudah terjebak pada visual kekayaan yang ditampilkan para penjebak berlabel crazy rich: rumah mewah, mobil, pakaian-pakaian bermerk terkenal, aksesoris mahal, dan kemudahan untuk mengakses berbagai kenikmatan duniawi menggunakan uang yang ada. Disematkanlah aplikasi berbisnis dalam jebakan tersebut yang dalam narasinya akan bisa menghantar orang pada “kesuksesan” sebagaimana yang dimiliki oleh model—yang ternyata hanyalah afiliator aplikasi judi—yang mengeruk keuntungan besar dari ketidakberuntungan orang lain.

Dalam buku The Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel kita disadarkan bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah tidak terlihat. Katakanlah Anda memiliki tabungan 100 juta di rekening bank. Maka kekayaan Anda (yang tidak terlihat itu) bernilai 100 juta rupiah. Apabila Anda membelanjakan 50 juta dari tabungan tersebut untuk membeli sebuah perangkat, misalnya, untuk sekedar “menunjukkan” kepada orang lain bahwa Anda mampu membeli perangkat mahal senilai 50 juta rupiah, maka sebenarnya nilai kekayaan Anda sudah berkurang 50 juta rupiah. Barang yang Anda beli tadi—yang tujuannya untuk membuat orang lain mengakui bahwa Anda kaya dan mampu membeli barang tersebut—tidak akan membuat orang terkesan untuk jangka waktu lama. Malah, Anda kehilangan fleksibilitas yang bisa didapatkan dari 50 juta rupiah jika seandainya kekayaan itu tetap tersimpan tanpa dibelanjakan.

Buku ini menyadarkan kita bahwa orang yang benar-benar kaya akan menggunakan uangnya untuk membeli fleksibilitas atau waktu, bukan barang-barang hanya untuk tujuan pamer (show off). Malah orang-orang yang benar-benar kaya cenderung akan modest saja dalam berpenampilan. Tampak biasa, ternyata bisnisnya banyak sekali, tersebar di berbagai tempat.

Tentu saja orang yang benar-benar kaya mampu membeli barang-barang mahal, akan tetapi mereka melakukannya karena memang benar-benar membutuhkan untuk menunjang bisnisnya dan untuk membantu mereka lebih fleksibel dengan waktu. They’re not buying the stuff per se, they do buy time.

Jadi, kalau ada orang yang terlihat kaya dan gemar memamerkan barang-barang miliknya di media dan gencar mempromosikan suatu platform bisnis, be really cautious about them, karena bisa saja mereka sedang menjalankan sebuah jebakan. They’re trying to lure you into doing something, memanfaatkan “kerapuhan” emosional kita, yaitu keinginan untuk cepat-cepat kaya.

Bersyukurlah dengan keadaan ekonomimu saat ini, entah bagaimana pun itu, dan tetaplah berusaha meningkatkan taraf hidupmu dengan upaya-upaya yang baik, dan ingat, tak ada pencapaian yang instant. Upaya memperbaiki taraf hidup membutuhkan upaya, kerja keras, dan waktu yang tidak sedikit.

Semoga tulisan ini berguna. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Rasa Syukur Saya

Akhirnya saya berhasil menyelesaikan jurnal rasa syukur edisi 2022. Kendati ada beberapa hari terlewati tanpa mengisi jurnal, saya senang bahwa akhirnya terselesaikan juga. Idealnya memang jurnal rasa syukur harus ditulis setiap hari, tetapi bagi penjurnal pemula seperti saya rasanya hal ini masih bisa dimaklumi. 🤭

Dan . . . voila! Inilah hasil menjurnal 30 hari versi saya. Silakan diunduh dan dibaca. Semoga bisa memberikan manfaat bagi kalian. 😊

Jurnal ini juga tersedia di laman Buku Gratis saya.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Welcome, Ezio! 🤗

Akhirnya saya menjadi ayah bagi 3 orang putra. Pada hari Senin, 21 Februari 2022 lalu, anak ketiga saya lahir di sebuah rumah praktik bidan yang masih dekat dengan lokasi perkebunan tempat saya bekerja.

Dia lahir pukul 10:05 WIB pagi dengan berat badan 4.1 kilogram dan tinggi 54 cm. Kami memberinya nama EZIO ADRIEL PANDIANGAN.

Dan inilah foto pertamanya saat baru dilahirkan.

Welcome to the family, our beloved son. ❤️💖💖

Semoga anak kami ini bertumbuh sehat dan menjadi pribadi yang baik dan membawa sukacita bagi banyak orang. Much love for you, Ezio! 🤗💖

Jebakan Balas Dendam

Ada metode menarik untuk membunuh beruang di zaman kuno. Potongan kayu besar digantungkan dengan tali di atas secangkir madu. Setiap kali beruang berusaha mengambil madu tersebut, dia harus menggeser potongan kayu tersebut, membuat kayunya berayun dan memukul balik tubuh beruang. Jika dia menolak kayu lebih kuat, kayu pun akan berayun lebih kuat dan menghantam tubuh beruang dengan lebih kuat pula. Begitu seterusnya, hingga akhirnya beruang mati akibat terhantam balok kayu tersebut. Proses ini memang lambat, tapi efektif untuk membunuh beruang. Dan ini bisa terjadi karena beruang begitu menginginkan madunya, sampai tidak menyadari jebakan balok kayu berayun yang menyertainya.


Barangkali terdengar konyol, tapi manusia juga acap berperilaku serupa seperti beruang tadi. Seringkali saat menerima keburukan dari seseorang, kita ingin segera membalas; kita merasa perlu untuk segera “memberi pelajaran” kepada orang tersebut. Kita ingin impas, sama seperti beruang yang sangat menginginkan madu tadi.

Tetapi, belajar dari jebakan balok kayu yang siap menanti tindakan balas dendam beruang, kita pun akan mendapat balasan serupa yang justru bisa menghancurkan kita. Aksi menghasilkan reaksi, ini sudah menjadi hukum alam. Saat kita membalas dendam, segalanya tak akan berhenti di situ. Kita akan mengalami penderitaan psikologis yang sama seperti yang dialami orang yang bertindak buruk kepada sesamanya. Hurting others is essentially hurting ourselves.

Itulah kekuatan ajaran cinta kasih. Apabila kita membalas keburukan dengan kasih, kasih akan menghancurkan keburukan sebelum keburukan itu bertumbuh dan menjadi kuat.

Jadi, kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. That’s the best way, dan itu yang diajarkan Tuhan sendiri. Cheers! 🤗

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Hari ke Delapan

Halo, teman-teman sekalian. Selamat hari Senin dan selamat mengakhiri tanggal terakhir di bulan Januari ini. 🤗

Pagi ini saya menjurnal rasa syukur, dan inilah isian jurnal saya di hari ke delapan di hari Senin, 31 Januari 2022.

Jurnal Rasa Syukur Hari Ke Delapan

Dan berikut ini versi teksnya:

(1) Hari ini saya bersyukur atas ...


hari yang baik yang diberikan kepada saya dan keluarga. Saya dapat menikmati indahnya langit biru, cuaca yang cerah, hati yang damai, dan tubuh yang sehat.
(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini?


Saya ingin berinteraksi dengan teman dengan teman-teman di tempat kerja dan berusaha untuk mengatakan hal-hal yang baik kepada semua orang yang saya temui.
(3) Apa saja 3 hal yang sangat ingin engkau lakukan pada minggu / bulan / tahun ini?


1. Mengupdate blog saya dengan hal-hal yang kiranya bisa berguna bagi orang lain yang membacanya.

2. Makan di luar bersama istri dan anak sambil relaksasi.

3. Mencapai 150 heart points di aplikasi Google Fit dengan cara berjalan kaki 30 menit hingga 1 jam di pagi hari dalam minggu ini.

Demikian laporan jurnal saya untuk hari ini. 🤭

Semoga mendorong kalian untuk bersyukur juga hari ini. Be thankful! 🤗

Salam,

Paulinus Pandiangan

Tidak Harus Tahu Semua

Hai guys, welcome back.

Saya sengaja membuat judul postingan yang sama dengan yang dibuat pak Budi Rahardjo, dosen di STEI ITB, karena postingan ini juga menekankan hal yang sama dengan ide beliau, yang ditulis di postingan blognya.

Silakan disimak juga postingan beliau agar teman-teman mendapatkan pemahaman yang lebih kaya tentang apa yang persisnya beliau maksud dan yang saya share melalui tulisan ini.

Ilustrasi Fokus

OK, mari kita ke topiknya.

Di lembar refleksi harian untuk 30 Januari di buku The Daily Stoic, pembahasan yang diangkat adalah bahwa (sebenarnya) kita tak perlu selalu tahu (bahkan selalu peduli) terhadap berbagai isu yang beredar bebas di era informasi saat ini.

Ini sebenarnya masih berkaitan dengan postingan saya sebelumnya. Di era informasi saat ini, dimana orang bisa mengakses informasi 24 jam sehari dan 7 hari seminggu (24/7), kemampuan yang sebenarnya diperlukan adalah memilah informasi (dari lautan informasi) yang benar-benar bernilai dan diperlukan. Ada terlalu banyak informasi, yang jika tidak dipilah dengan baik, hanya akan menjadi noise. Distraksi.

Lagi pula, tak semua informasi yang beredar sifatnya esensial. Daripada menggunakan waktu dan energi untuk isu-isu tak penting, alangkah lebih baiknya jika digunakan untuk hal-hal yang bernilai dan memberikan makna bagi kita pribadi. Ini juga adalah bagian dari menggunakan waktu dengan bijaksana.

So, be wise about your time, by giving attention to what really matters.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Simpel Saja!

Penyakit umum yang terjadi pada banyak orang saat ini adalah overthinking. Terlalu banyak berpikir—atau lebih tepatnya khawatir—terhadap berbagai hal. Mungkin karena informasi yang bisa kita akses sudah terlalu banyak, atau juga karena kurangnya fokus dalam hidup yang membuat orang begitu mudah terdistraksi.

Filsuf Stoikisme bernama Marcus Aurelius nampaknya juga menyadari ‘penyakit’ ini di eranya. Dalam jurnal Meditations dia berbicara tentang perlunya berfokus pada apa yang sedang kita kerjakan dan tidak terganggu dengan bermacam distraksi. “Just do your job“, itulah kalimat yang selalu diucapkan pelatih Bill Belichick kepada para pemainnya. Lakukan dan berfokus saja pada tugas yang di ada di depan mata saat ini.

Kalau kita sungguh menyadari ini, banyak kerumitan dalam berpikir, bertindak, dan bekerja yang sebenarnya bisa diurai. Kalau kita bisa melihat gambaran besar kehidupan dan hanya berfokus pada 1 atau 2 hal yang bernilai bagi kita, hidup akan menjadi lebih simpel, dan kita tidak akan mudah terombang-ambing oleh arus distraksi yang disajikan media-media informasi.

Pertanyaannya, maukah kita menjadi orang yang sungguh hidup simpel, mulai hari ini?

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Hari Ketujuh

Hai, sobat… Bertemu kembali di jurnal rasa syukur hari ke 7. Kali ini pertanyaan ketiganya berkaitan dengan pandemi corona saat ini.

Silakan menyimak isian jurnal saya di bawah ini.

Foto Jurnal Rasa Syukur Hari Ketujuh

Berikut versi teksnya:

(1) Hari ini saya bersyukur atas ...


berkat Tuhan bagi saya dan keluarga. Pagi ini saya dapat bangun dari tidur dalam keadaan sehat, dapat menikmati sarapan sederhana dengan baik dan nikmat, dapat tiba di lokasi pekerjaan tepat waktu, dan bertemu dengan rekan-rekan kerja yang juga sehat.
(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini?


Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang membantu saya atau melakukan kebaikan untuk saya sepanjang hari ini.
(3) Apa hal baik yang justru bertumbuh di dalam dirimu di kala pandemi corona saat ini?


Saya semakin menyadari rapuhnya kehidupan manusia; bahwa hidup bisa berakhir kapan saja tanpa terduga, dan oleh karenanya saya semakin mampu mensyukuri berbagai hal baik yang terjadi dalam hidup saya setiap hari. Saya juga lebih menghargai kesehatan yang merupakan anugerah yang masih bisa saya nikmati saat ini, dan saya menjadi orang yang lebih rileks dalam bekerja, karena saya semakin menyadari bahwa pekerjaan bisa hilang atau berakhir kalau saya tidak sehat secara fisik, dan karenanya menjaga fisik tetap sehat selama bekerja menjadi penting, sama pentingnya dengan pekerjaan itu sendiri.

Demikian isian jurnal rasa syukur saya di hari ketujuh ini. Semoga kalian yang membaca ini juga beroleh manfaat dan melihat sendiri berbagai hal baik dalam hidup kalian sepanjang hari ini. 😉

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Hari Keenam

Hai guys… kita bertemu lagi di postingan soal jurnal menjurnal, hahaha… 😃 Dan inilah isian jurnal saya di hari keenam, Jumat, 28 Januari 2022.

Foto Jurnal Rasa Syukur Hari Keenam

Versi teksnya sebagai berikut:

(1) Hari ini saya bersyukur atas ...


kesehatan saya dan anggota keluarga. Saya dapat menggerakkan tubuh saya dengan baik dan semua indera saya berfungsi dengan baik. Dapat menjalani 1 hari dengan sehat adalah anugerah besar.
(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini?


Saya ingin mencoba menulis di blog dan membuat rencana karya saya di platform digital yang semoga bisa berguna bagi orang lain.
(3) Apa kenangan terbaikmu dari ayah dan ibu?


Ayah dan ibu adalah pejuang keluarga. Mereka melakukan apa yang dapat mereka lakukan untuk memberi apa yang bisa mereka berikan kepada anak-anaknya. Tak hanya bagi anak-anaknya, mereka juga berusaha memberi yang baik kepada keluarga, baik keluarga bapak dan ibu, meskipun tidak selalu bisa diterima dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang hanya berusaha untuk berbuat baik setulusnya, the best they know.

Bersyukurlah selalu, sobat, untuk semua kebaikan dalam hidupmu, karena tak jauh darimu, barangkali ada orang yang tidak bisa menikmati apa yang bisa atau sedang engkau nikmati.

Engkau merasa sehat, di saat orang di sebelahmu mungkin tak begitu sehat. Engkau bisa tidur lelap, di saat orang lain mungkin harus terjaga karena bekerja sampai larut malam.

Each and every good thing you are having is special. Not everyone can have what you have. So be grateful. Always. ☺️ 🙏

Click to listen highlighted text!