Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

The Art of ‘Just Enough’

In medio stat virtus,” as they say in Latin, translates to “Virtue lies in moderation.” This phrase emphasizes the importance of balance and moderation in all aspects of life.

But how do we achieve this balance in our daily lives?

It ultimately comes down to adopting a mindset of “just enough”not too much, not too little, but just the right amount that works for each individual. This mindset is crucial for living a peaceful and content life, as constantly striving for more can lead to an endless cycle of dissatisfaction and unhappiness.

This is where the saying “Less is more” comes into play. By having fewer possessions and focusing on utilizing them to their fullest potential, we create more space for the truly important things in life. Embracing a mindset of “just enough” means making intentional choices that grant us freedom and prevent us from becoming entangled in distractions.

Let’s picture some of the benefits. Imagine savoring a simple, healthy meal instead of indulging in fast food. Think about tackling one important task at a time with focus, rather than attempting multiple tasks with diluted effort. Or not having enough free time because you have subscribed yourself to numerous commitments.

Merely visualizing that can already give you a sense of what it means to embrace the art of ‘just enough’. When you choose intention over feeling overwhelmed, you transform stress into purposeful pursuit, prioritizing quality over quantity.

All you have to do is give yourself permission to stop, before the point of diminishing returns.

What can this mindset give us?

Less stress and anxiety: Less striving results in reduced pressure, leading to a calmer and more peaceful mind. Isn’t this what all of us want?

Increased productivity: Focusing your effort on achievable tasks often yields better results than dispersing your energy. This not only boosts your confidence but also prepares you to tackle more challenging tasks ahead.

More time and energy: You’ll definitely have more time for hobbies, relationships, and things that truly spark joy.

Greater appreciation: By slowing down and focusing on the present, you learn to savor the simple things and cultivate gratitude—mindfulness in action.

And less waste, certainly, since you’ll consume fewer things.

☘️ ☘️ ☘️

Some people might equate embracing the mindset of ‘just enough’ with laziness. It’s not. Instead, it is about making conscious choices towards efficiency and well-being. It’s prioritizing yourself in a good way while also taking care of the environment simultaneously.

Your journey of embracing the mindset of ‘just enough’ is always personal. What works for you might not work for others, and vice versa. You have to find your own ways and approach it in a manner that aligns with your preferences and circumstances, rather than merely following what the media dictates.

It is personal in a sense that you’re liberating yourself from the “more is more” message spread by society. Freedom is only possible by embracing ‘just enough’ in all aspects of life. Once you consistently adopt this mindset, you’ll be surprised at how much peace and joy it brings to your life. And isn’t that the kind of life you’re looking for?

I’m going to leave you with this beautiful quote,

"Contentment is natural wealth, luxury is artificial poverty." — Socrates

Memilih Pemimpin dengan Prinsip Stoikisme

"When casting your vote, remember that the true measure of a leader lies not in their rhetoric, but in their adherence to the principles of justice and virtue." — Epictetus

Menjelang pemilihan umum tanggal 14 Februari 2024 mendatang, saya tergelitik menulis sesuatu berdasarkan prinsip filsafat praktis Stoikisme yang saya pahami sejauh ini.

Filsafat Stoikisme adalah filsafat praktis yang mengajarkan laku hidup selaras dengan alam, dan salah satu bentuk nyatanya adalah menjadi warga negara yang baik. Seperti apakah kiranya warga negara yang baik itu? Dalam konteks pemilihan umum, menjadi warga negara yang baik tidak hanya berhenti pada persoalan menggunakan hak pilih (voting rights) yang dijamin dalam undang-undang, tetapi lebih dari itu, juga mempertimbangkan dengan matang dan berkomitmen memilih pemimpin yang menghidupi keutamaan-keutamaan (virtues) demi kemaslahatan orang banyak. Memilih pemimpin yang pantas dan baik adalah juga tanggungjawab moral warga negara.

Mari kita eksplorasi prinsip-prinsip Stoikisme yang kiranya bisa diaplikasikan dalam memilih pemimpin bangsa.

1. Kebajikan sebagai kriteria utama: Stoikisme mengajarkan kita untuk memprioritaskan kebajikan (virtues) di atas segalanya. Ketika mengevaluasi calon pemimpin potensial, pertimbangkanlah dengan baik karakternya, integritasnya, dan komitmennya pada prinsip-prinsip etika. Jangan hanya berhenti pada hal-hal yang tampak dari luar saja, tetapi lihatlah pula bagaimana kebijaksanaannya, bagaimana ia berlaku adil, keberaniannya, dan kemampuannya untuk mengendalikan diri. Keempat kebajikan ini (wisdom, courage, justice, temperance) adalah keutamaan-keutamaan yang sangat dijunjung tinggi dalam Stoikisme, dan rasa-rasanya kalau nilai-nilai ini bisa diejawantahkan dalam bentuk perilaku, maka orang yang menghidupinya tentu sangat pantas dijadikan sebagai pemimpin. Pilihlah pemimpin yang ‘menampakkan’ nilai-nilai ini secara konsisten, karena akan besar kemungkinan bahwa mereka akan memikirkan kepentingan orang banyak dan akan membuat keputusan-keputusan yang memihak rakyat.

2. Berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan: Di tengah retorika politik dan janji-janji kampanye, sangat mudah untuk ‘hanyut’ dalam faktor-faktor eksternal yang di luar kendali kita. Stoikisme sebagai filsafat praktis mengingatkan kita untuk tetap berfokus pada apa yang ada dalam kendali kita: pikiran, tindakan, dan pilihan-pilihan sikap yang kita ambil. Ketimbang ‘tenggelam’ dalam berbagai ketidakpastian dalam lanskap perpolitikan, kita bisa mengerahkan energi untuk meriset kandidat, memahami cara berpikir mereka, dan secara kritis menganalisis kebijakan-kebijakan yang akan mereka luncurkan jika nantinya terpilih.

3. Praktikkan mempertimbangkan dengan cermat: Stoikisme sangat menekankan kita untuk senantiasa melatih diri membuat pertimbangan-pertimbangan cermat dalam semua aspek kehidupan. Ketika mengevaluasi kandidat, hindari membuat keputusan yang hanya berdasarkan emosi, bias, atau tekanan dari luar. Ambil waktu untuk mengumpulkan informasi, melihat bukti-bukti yang ada, dan menetapkan konsekuensi yang mungkin terjadi dari apa yang kita pilih (seperti layaknya praktik premeditatio malorum). Ingatlah bahwa tujuannya bukan untuk mendukung calon yang sempurna, tetapi memilih individu yang kiranya sejalan dengan nilai-nilai ideal Stoikisme dan yang berpotensi paling besar untuk memimpin dengan bijaksana dan berintegritas.

4. Terima hasil akhirnya: Dalam Stoikisme, menerima hal-hal eksternal adalah prinsip kunci. Ini dikenal dengan amor fati. Apa pun kiranya hasil pemilihan umum nantinya, berjuanglah untuk tetap menjaga ketenangan dan sikap ksatria. Pahamilah bahwa Anda telah menjalankan bagianmu sebagai seorang warga negara yang bertanggungjawab, dan hasil akhirnya berada di luar kendali kita. Apabila calon yang kita pilih ternyata tidak menang, berfokuslah pada kontribusi positif yang bisa kita sumbangkan untuk masyarakat, dimulai dari lingkaran terkecil kita, sembari tetap memegang teguh prinsip-prinsip Stoikisme yang kita yakini. Para guru Stoik juga mengajarkan bahwa situasi yang tidak sesuai harapan sekalipun bisa menjadi arena untuk belajar nilai-nilai dan bertumbuh. Pun kalau kandidat yang kita dukung menang, kita tidak lantas berdiam diri setelah pemilihan usai. Kita harus terlibat dalam menjaga orang-orang yang terpilih tetap akuntabel, dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip keutamaan yang 4 tadi.

Intinya, menerapkan prinsip-prinsip Stoikisme dalam memilih pemimpin dalam pemilihan umum bisa membantu kita menjadi warga negara yang lebih bertanggungjawab. Menjalankan peranan sebagai warga negara secara bertanggungjawab juga akan membantu menciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik ke depannya. Setiap warga negara memiliki daya untuk menentukan masa depan bangsanya. Maka mari memilih dengan bijak, dan semoga sedikit uraian prinsip Stoik ini membantumu menjadi warga negara yang baik, yang terlibat aktif, yang bertanggungjawab secara moral. Pada akhirnya, semua untuk kebaikan bangsa. ☺️

Dua Ilmu Hidup dari Besse Cooper

Besse Cooper adalah salah satu orang berusia panjang yang mencatatkan usia 116 tahun (tepatnya 26 Agustus 2012) di Guinness Book of World Records.

Apa rahasianya?

Ketika ditanya hal ini, jawaban dari Besse Cooper hanya 2: tidak mencampuri urusan orang lain dan tidak mengkonsumsi makanan sampah (junk food).

Lalu apa yang bisa kita petik dari kedua ‘ilmu hidup’ Besse Cooper ini?

Fokus pada urusan sendiri

Tidak mencampuri urusan orang lain menghindarkan kita dari drama yang tidak perlu, kecenderungan untuk selalu membandingkan diri dengan orang lain, dan stress yang tentu tidak kita inginkan.

Fokus pada urusan diri sendiri berarti kita memahami betul tujuan hidup, menjauhkan diri dari drama (yang menguras energi tetapi tidak berfaedah juga), dan berfokus menjalani hidup demi kebaikan orang lain di sekitar. Ini ternyata memberikan ‘bonus’ usia hidup yang lebih panjang, sebagaimana telah dibuktikan Besse Cooper.

Jangan mengkonsumsi makanan sampah (junk food)

Makanan sampah yang dimaksud di sini bukan hanya apa yang terletak di piring kita setiap hari, tetapi juga tentang informasi yang kita konsumsi.

Maka apa-apa yang kita lakukan setiap hari, orang-orang yang menjadi teman kita bergaul setiap hari, semangat apa yang kita bawa dalam perjalanan hidup, informasi apa yang kita serap setiap hari, semuanya menjadi penting.

Cerita Besse Cooper ini saya baca dari blog ini.

Dari kedua kebiasaan besar Besse Cooper di atas, intinya adalah tentang menentukan bagaimana kita mengisi hidup; apakah kita mengelilingi diri kita dengan orang-orang yang positif, dan apakah kita berfokus pada kontribusi yang ingin kita sumbangkan kepada lingkungan sekitar, bagaimana kita mengoptimalkan energi kita pada hal-hal yang baik dan bernilai.

Besse Cooper telah membuktikan bahwa menginvestasikan hidup pada hal-hal baik akan memastikan kita ‘memanen’ hal-hal baik juga dari hidup, salah satunya berumur panjang.

What about you?

Berpikir Seperlunya

Saya baru saja membaca postingan terbaru di blog pasangan suami-istri Mike dan Mollie bernama This Evergreen Home, 7 Ways to Live More Intuitively. Saya sering juga mampir di blog ini karena menurut saya isinya bagus, dikemas dalam bahasa yang ringan, dan mereka berbicara berdasarkan apa yang telah mereka alami dan praktikkan sendiri. Banyak ide yang rasa-rasanya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Intisari dari tulisan ini adalah tentang menghargai intuisi, percaya kepada naluri, dan untuk tidak hiper-analitis dalam hidup. Perencanaan memang perlu, tetapi merencanakan terlalu detail dan menganalisis terlalu dalam terkadang justru memperkeruh keadaan, atau bahkan menghambat kita untuk bergerak, karena secara mental kita sudah ‘dihadang’ dengan berbagai angka dan pertimbangan.

Menyegerakan tindakan juga perlu, tanpa harus menghabiskan banyak waktu mematangkan perencanaan. Mengerjakan sembari belajar dalam prosesnya sering justru lebih baik. Sambil mengerjakan, sambil belajar menyempurnakan berbagai hal yang kurang. Tidak perlu menyerap terlalu banyak informasi, yang seringkali justru memperlambat kita untuk segera bertindak.

Mengambil keputusan cepat juga terkadang penting, tanpa berlama-lama mempertimbangkan beragam hal, tentu dengan tetap berpegang pada nilai-nilai yang kita anut dan tetap memiliki kejelasan tujuan. Saya kira hal ini sangat diperlukan dalam kehidupan nyata.

"Trust your gut. It’s usually about a thousand times smarter than your head." — Amy Poehler

Ketika Hidup Tak Sesuai Harapan

Saya baru saja membaca artikel di blog Joshua Becker, Becoming Minimalist, yang sering saya kunjungi. Biasanya ada hal-hal baik yang saya temukan dari tulisan-tulisannya, dan benar saja bahwa pagi ini saya menemukan kembali tulisan yang bagus berjudul When Life Feels Far from What You Imagined.

Saya tetap merekomendasikan kamu yang membaca blog ini untuk tetap membaca versi asli artikelnya. Di sini saya akan merangkum saja tips dari Joshua tentang apa-apa yang bisa dilakukan saat kita berada dalam situasi di mana hidup yang kita impikan tidak sesuai dengan hidup yang sedang dijalani. Kita harus menyadari bahwa pengalaman seperti ini lumrah; bahwa umum terjadi ada ‘gap’ antara aspirasi kita tentang hidup yang seharusnya dengan hidup nyata yang sedang dijalani.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan harapan saat kita berada dalam situasi seperti ini:

Terima keadaan saat ini: Sempurna atau tidak, itulah hidup kita. Penyesalan atau meratapi keadaan tidak akan mengubah apa pun.

Pahamilah bahwa tetap ada pilihan: Kita tentu tidak bisa mengontrol semua yang terjadi dalam hidup, tetapi kita tetap memiliki kendali atas bagaimana kita menyikapinya. Berfokuslah pada hal yang bisa diubah, yaitu sikap kita. Filsuf Epictetus pernah mengatakan satu hal terkait ini,

Temukan sukacita dalam hal-hal kecil: Nikmatilah momen-momen kecil seperti hangatnya sinar matahari, obrolan dengan teman, tawa anak kecil, atau bacaan yang bagus.

Kembangkan rasa syukur dan sikap positif: Selalu ada hal yang bisa disyukuri, bahkan dalam kondisi sulit. Menemukan alasan untuk bersyukur setiap hari atas hal-hal kecil namun berharga jauh lebih baik daripada meratapi keadaan.

Perkuat hubungan personal dengan orang lain: Hubungan yang baik sangat membantu memberikan dukungan ketika kita berada dalam situasi krisis. Keberadaan dukungan ini menjadi pengingat bahwa kita tidak bergelut sendirian. Bahkan untuk orang introvert seperti saya sendiri, dukungan dari keluarga dekat sangat membantu menguatkan dalam situasi-situasi sulit.

Hindari iri hati, dukunglah orang lain: Ketika kita mendukung keberhasilan orang lain, kita mengambil bagian dalam sebuah cerita kehidupan yang baik, dan ini bisa mendekatkan kita untuk mengalami emosi positif.

Sayangi diri sendiri: Menyadari bahwa merasa terpuruk adalah pengalaman manusiawi yang sangat lumrah akan membantu kita memperlakukan diri dengan penuh pengertian. Menanamkan dalam benak bahwa kesulitan bersifat sementara akan membantu kita untuk bertahan dalam pergumulan dengan tetap memiliki harapan bahwa persoalan yang tengah dihadapi (justru) bisa membuat kita semakin bijaksana. Seringkali permasalahan hidup mengajarkan kita hal-hal berharga.

Mencoba hal baru: Bergabung dengan klub hobi, komunitas pengembangan diri atau komunitas agama akan membantu kita me’redefinisi’ landasan hidup baru, menguatkan fondasi yang telah ada sebelumnya.

Mengembangkan diri: Belajar dan bertumbuh setiap hari, sekecil apa pun hal yang bisa dipelajari. Setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki dan mengembangkan kapasitas diri.

Hidup tentu tidak selalu mudah dan sesuai harapan. Hidup itu kompleks dan sering tak terduga. Terlalu banyak faktor yang tak bisa kita kendalikan. Tetapi tetap saja hidup adalah perjalanan yang bisa menjadi cerita yang menarik, apabila kita bertahan untuk menyelesaikannya sampai akhir, sambil tetap belajar dan bertumbuh setiap hari.

Cara Sederhana Membuat Hidup Lebih Baik

Di artikel terbaru blog Joshua Becker ada 100 cara sederhana untuk membuat hidup menjadi lebih baik dan menarik. Silakan baca daftar lengkapnya di alamat ini, dan berikut 10 dari 100 cara tersebut yang menurut saya sudah memberikan manfaat nyata secara pribadi.

  1. Berdoa;
  2. Tersenyum tulus setiap hari;
  3. Cari waktu untuk menyendiri;
  4. Minum banyak air putih;
  5. Baca 1 bab dari buku yang disukai;
  6. Tidur lebih awal;
  7. Rapikan tempat tidur segera setelah bangun pagi;
  8. Mandi;
  9. Minum secangkir teh atau kopi;
  10. Mendengarkan musik yang bisa membangkitkan semangat.

Sebagai penutup, quote berikut ini barangkali bisa menjadi bahan refleksi tentang menjalani hidup,

Don’t judge each day by the harvest you reap but by the seeds that you plant.

Robert Louis Stevenson

5 Habits I’d Like to Train Myself

Hai!

Setelah membaca artikel terbaru di blog This Evergreen Home yang berjudul 101 Daily Habits: The Complete Guide to Better Routines, saya memutuskan untuk memilih 5 dari daftar 101 kebiasaan untuk saya tanamkan dalam diri saya sendiri.

Berikut 5 kebiasaan pilihan saya:

  1. Merapikan tempat tidur segera setelah bangun pagi. Kasur yang rapi bisa menimbulkan rasa senang. Merebahkan tubuh sehabis bekerja di atas kasur yang rapi dan bersih rasanya nikmat sekali! Akan berbeda rasanya kalau sehabis bekerja kita menemukan kasur dalam keadaan berantakan. Selain lelah, mood kita juga akan kurang positif.
  2. Menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal). Rasa syukur dapat diekspresikan secara lisan pun tulisan. Menulis hal-hal yang membuat kita bersyukur akan melahirkan emosi positif dan melatih diri kita untuk mengapresiasi berbagai hal dalam perjalanan waktu kita. Ini apabila dilakukan secara rutin dan berkesadaran akan membentuk mindset bersyukur.
  3. Melakukan kebaikan-kebaikan kecil. Hal-hal baik yang berkesan di hati kita justru seringkali adalah hal-hal kecil yang dilakukan oleh orang lain kepada kita, misalnya dibukakan pintu, disapa dengan senyuman, atau ditawari makanan ringan. Maka hal sebaliknya juga berlaku: orang bisa terkesan dengan hal-hal kecil yang kita lakukan kepada mereka, kalau kita menyadari bahwa semua orang ingin diperlakukan dengan baik.
  4. Berada di alam terbuka. Saya memiliki kebiasaan untuk berjalan kaki di alam terbuka sambil memikirkan apa yang pernah saya baca atau memikirkan solusi atas suatu persoalan. Biasanya dari kegiatan berada di alam terbuka seperti ini saya bisa mendapatkan ide atau perspektif baru, bahkan pemahaman baru atas apa yang pernah saya alami. Alam terbuka juga memiliki kemampuan untuk ‘menyembuhkan’ kita dan mengajarkan kita filosofi kehidupan itu sendiri.
  5. Berterimakasih kepada orang-orang di sekitar kita. Saya menerima banyak bantuan dari teman-teman dan saudara / keluarga di sepanjang perjalanan hidup saya, dan berterimakasih secara langsung kepada mereka bukan saja suatu kebiasaan yang baik, tetapi merupakan gambaran langsung tentang bagaimana kita memandang orang lain dan esensi kehidupan bersama; bahwa kita bisa bertahan hidup karena sokongan orang lain juga.

Kalau 5 hal ini saja bisa tertanam dalam diri kita, saya percaya kita akan menjadi pribadi yang lebih menarik dan berdampak positif bagi orang lain. Dan mungkin kita bisa bergerak maju untuk melirik 96 kebiasaan lainnya di blog tadi… 😆

Salam,

Paulinus Pandiangan

Membuat Hidup Lebih Sederhana

Hai! 😄

Saya mencoba menyarikan 3 cara yang akan bisa membuat hidup kita lebih sederhana dari sebuah artikel blog, dan berikut ketiga hal dimaksud:

Pertama, lakukan dengan moderasi. Mengubah hidup menjadi lebih sederhana sebaiknya dimulai dengan perubahan-perubahan kecil (incremental changes). Ini akan lebih mudah dilakukan dan kita tidak akan stress akibat lompatan perubahan yang terlalu besar. Ini misalnya bisa dilakukan dengan melihat satu area di rumah yang perlu dirapikan, atau melihat satu item yang perlu didonasikan (karena tidak begitu diperlukan), atau bahkan menyortir pakaian di lemari dan memilih pakaian yang bisa disumbangkan atau bahkan dijual.

Kedua, dengan selektif menggunakan media sosial. Media sosial ini hanyalah aplikasi yang terpasang di perangkat genggam kita, tetapi memiliki kekuatan untuk bisa membuat hidup kita terlihat lebih kompleks dari yang seharusnya, tentu jika kita membiarkannya mempengaruhi kita begitu dalam. Karena itu menjaga jarak aman dari media sosial menjadi suatu keterampilan yang perlu terus dilatih. Menghapus aplikasi media sosial menjadi suatu bentuk tindakan ekstrim untuk menekan dampak negatifnya, akan tetapi terkadang kita membutuhkan media sosial untuk berkomunikasi jarak jauh atau untuk mendukung pekerjaan; dan karena itu opsi menghapus aplikasi terkadang tidak bisa dilakukan juga. Maka sebagaimana point pertama, perlu moderasi juga di sini: bagaimana kita tetap menggunakan media sosial tetapi tidak begitu melekat.

Ketiga, menghindari diskusi atau isu-isu yang tidak penting. Hidup bisa dibuat lebih damai dan sederhana apabila kita menghindari diskusi-diskusi panas yang sebenarnya kalau dikaji tidak terlalu penting juga. Maka kita perlu mengenali apa saja yang sebenarnya bermanfaat bagi kehidupan kita, baik personal maupun profesional, dan menjadikan hal tersebut sebagai acuan dalam memutuskan apakah kita perlu berpartisipasi dalam isu-isu yang sedang beredar. Jika memang tak penting, hindari saja. 😉

Perihal Menjaga Fokus

Hai, saya baru saja membaca sebuah artikel tentang menjaga fokus; tentang bagaimana supaya kita stay present, bisa benar-benar ‘hadir’ di saat ini. Pada artikel tersebut dijelaskan 12 cara menjaga fokus dan saya akan mencoba menyarikan beberapa hal yang menurut saya menjadi kunci dalam menjaga fokus dimaksud.

Yang pertama adalah jarak aman dari teknologi. Perangkat genggam dan teknologi yang terpasang di dalamnya bisa membuat kita menghabiskan waktu dengan hal-hal yang sebenarnya tidak esensial, dan lebih dari itu, justru membuat kita menjadi terdampak secara emosional. Banyak orang yang merasa bahwa hidupnya kurang menarik, misalnya, setelah melihat banyak tayangan dan /atau postingan orang lain di media sosial, di saat faktanya adalah bahwa kehidupan setiap orang unik dan menarik.

Kelekatan berlebihan dengan teknologi juga bisa mendorong orang untuk semakin multi-tasking, melakukan banyak kegiatan secara bersamaan. Ini akan mereduksi secara signifikan kenikmatan yang dapat dirasakan dari sebuah pengalaman atau aktivitas. Ketika kita misalnya makan sambil menonton sebuah tayangan di handphone, kemampuan kita untuk menikmati makanan secara drastis akan menurun. Kita tidak lagi memiliki perhatian penuh pada tekstur makanan, rasa makanan, atau aroma makanan yang ada di depan kita, karena atensi tersebut telah teralokasi pada kilauan / tayangan di perangkat genggam. Pada akhirnya, kenikmatan dari sebuah proses mengonsumsi makanan tidak dirasakan lagi. It’s a huge loss.

Yang kedua adalah melibatkan diri dalam hobi baru yang mengharuskan kita terlibat secara fisik, misalnya melukis atau merangkai kerajinan dari kayu. Kegiatan semacam ini akan mengharuskan kita untuk ‘terlepas’ dari perangkat genggam atau media sosial dan benar-benar ‘larut’ dalam aktivitas fisik. Jika kita benar-benar bisa memusatkan perhatian dalam mengerjakan hobi semacam ini, kita bahkan bisa masuk ke dalam keadaan flow!

Selain hobi, kegiatan lain yang bisa ‘mengalihkan’ kita dari menatap layar berlama-lama adalah misalnya mendaki gunung atau berjalan kaki jarak jauh (long walks) di alam terbuka. Ini akan sangat positif bagi kesehatan kita, baik fisik maupun mental. Sehabis melakukan aktivitas semacam ini kita juga biasanya akan lebih segar dan rileks.

Yang ketiga adalah berani mengambil jeda atau pause. Dalam buku yang baru selesai saya baca, Niksen, The Dutch Art of Doing Nothing karya Annette Lavrijsen, mengambil jeda dari kegiatan sehari-hari (niksen) terbukti menjadi sangat penting di dunia kita saat ini yang bergerak begitu cepat (dan berisik pula!). Keberanian untuk berhenti dan tidak melakukan apa-apa justru menjadi elemen penting dalam menjaga kesehatan mental kita. Ini mirip dengan sebuah seni dari Italia, L’arte di non fare niente, sebuah seni untuk tidak melakukan apa-apa. Kita tidak perlu harus selalu dipacu oleh productive overdrive, yaitu sebuah keinginan akut untuk selalu produktif. Ketika dunia semakin memicu orang untuk produktif dan mengoptimalkan waktu, seni niksen justru menjadi semakin penting, karena telah terbukti bahwa jeda yang sehat akan membuat orang lebih sehat, memiliki energi yang lebih terjaga, lebih happy, otaknya lebih sehat, lebih efisien, lebih mampu membuat perencanaan jangka panjang, dan kualitas tidurnya lebih baik.


Ketiga prinsip di atas tentu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, akan tetapi tentu tetap bisa diupayakan. Memilih untuk menggunakan waktu pada kegiatan-kegiatan fisik yang bermanfaat, misalnya, menjadi cara yang paling konkret untuk mengalihkan perhatian kita dari layar perangkat, dan setiap orang tentu memiliki aktivitas tertentu yang menyenangkan untuk dirinya secara pribadi, so it’s a matter of choice.

Semoga berguna dan salam,

Paulinus Pandiangan

Berani untuk Tidak Nyaman

Salah satu komponen untuk bertumbuh sebagai pribadi yang lebih baik adalah keberanian untuk ‘memeluk’ ketidaknyamanan. Embracing the uncomfortable. Inilah suatu faktor penting yang saya baca dalam sebuah artikel pagi ini. Berikut beberapa kalimat penting dalam artikel tersebut:

Comfort may sometimes lead to contentmentbut it doesn’t lead to growth. Doing hard things is never the easy path, but it does deliver the greater gains.

If it’s growth, adventure, or novelty we seek, pushing past the pleasures that comfort bring is essential.

Intinya adalah: kalau kita ingin menumbuhkan growth mindset, maka kita harus berpikiran terbuka (open-minded), dan untuk bisa berpikiran terbuka, kita harus bisa ‘berteman’ dengan ketidaknyamanan. Video TED berikut ini barangkali akan menjadi bahan pelengkap yang baik untuk topik ini.

Selamat mengeksplorasi hal-hal baru dalam hidup! 😎

Click to listen highlighted text!