Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Latihan Bahagia ala Romo Antonius Rajabana

Latihan Bahagia ala Romo Antonius Rajabana

Berikut beberapa point yang saya tangkap dari video di atas:

  • Kebahagiaan lahir dari proses batin, bukan sesuatu yang datang dari hal-hal eksternal. Semuanya berasal dari dalam diri.
  • Kebahagiaan cukup untuk dirinya sendiri, tidak membutuhkan prasyarat eksternal apa pun.
  • Kebahagiaan dapat dirasakan apabila kita benar-benar hidup sepenuhnya di masa sekarang, bukan di masa lalu.
  • Kebahagiaan dapat dirasakan apabila kita hidup terbebas dari pertimbangan (judgment).
  • Ketidakbahagiaan biasanya ada pada hal-hal di dalam pikiran saja, hal-hal yang sebenarnya tidak nyata.
  • Jangan terlalu banyak berpikir, karena kita akan sulit merasakan kebahagiaan.
  • Hidup berkesadaran dan bersyukur akan membuat kita mampu benar-benar merasakan kehidupan di saat ini. Fully alive.
  • Menyadari bahwa kita diberikan secara cuma-cuma 24 jam dalam sehari yang dapat diisi dengan berbagai macam hal seturut pilihan kita akan membuat kita lebih mampu mengapresiasi kehidupan. A day is a window of opportunities.
  • Mengisi 24 jam dalam sehari dengan tindakan-tindakan yang dilandasi cinta kasih kepada semua ciptaan akan membuat waktu kita menjadi begitu bernilai, dan hidup yang bernilai adalah hidup yang membahagiakan.

Silakan disimak videonya dan semoga memberikan manfaat bagi kalian … 😊

Tiga Cara Sederhana Merasakan Syukur

Hai, saya baru saja membaca artikel di sebuah blog tentang rasa syukur (gratitude) dan saya setuju sekali dengan isinya, dan berikut saya sarikan tiga tindakan sederhana yang dapat kita lakukan untuk bisa merasa bersyukur:

(1) Mengucapkan terimakasih.

Ketika bangun pagi, ada banyak hal yang bisa disyukuri, misalnya kesempatan untuk tidur lelap yang memulihkan energi kita, tempat tidur yang nyaman dan selimut hangat yang membuat kita dapat tidur dengan pulas, secangkir teh atau kopi yang dapat kita nikmati di pagi hari, dan kesempatan untuk menjalani kembali kehidupan di hari yang baru. Berterimakasih dengan mengucapkan doa singkat segera setelah bangun di pagi hari adalah contoh umum yang bisa dilakukan. Bersyukur di awal hari akan membantu kita memandang hari tersebut dengan kacamata yang lebih positif.

(2) Menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal).

Menuliskan hal-hal yang kita syukuri di jurnal melatih mental kita untuk cenderung positif memandang kehidupan; bahwa kendati ada satu atau dua hal yang tidak menyenangkan terjadi, kita tetap meyakini bahwa hidup itu sendiri adalah rahmat. Pun praktik ini akan menyadarkan kita bahwa hal-hal yang terlihat sederhanaβ€”seperti langit yang sedang biru atau aroma kopi yang semerbakβ€”sangat pantas untuk disyukuri! ☺️

(3) Mempraktikkan visualisasi negatif (premeditatio malorum).

Praktik visualisasi negatif yang saya tulis sebelumnya sebenarnya bukanlah semata-mata membayangkan kemalangan yang bisa terjadi dalam hidup. Visualisasi negatif pun bisa berarti mencoba secara mental ‘berdamai’ dengan kemungkinan lain dari kenyataan yang sedang terjadi saat ini.

Misalnya seorang ibu yang sedang merasa kerepotan memasak di dapur bisa melatih dirinya untuk bersyukur dengan membayangkan apabila, misalnya, tidak ada bahan makanan yang bisa diolah. Kerepotan yang sedang dialaminya barangkali akan sirna dan dia bisa bersyukur dengan keadaannya saat ini.

Seorang karyawan yang merasa stress dengan banyaknya tuntutan kerja di kantor bisa melakukan visualisasi negatif dengan membayangkan apabila misalnya dia tidak memiliki pekerjaan. Visualisasi semacam ini akan membuat kita bisa bersyukur dengan apa yang ada pada kita saat ini, walaupun barangkali tidak sempurna dan tidak sebagus apa yang dimiliki orang lain. Yang terpenting adalah kita bersyukur dengan apa yang ada.


Kita tidak akan pernah benar-benar merasakan kedamaian apabila kita selalu menginginkan apa yang belum ada pada kita tanpa pernah bersyukur atas apa yang sudah kita miliki, pada apa yang sudah diberikan kepada kita. Maka seperti saran dari para orang bijaksana: count your blessings. ☘️

One Day I’ll Leave …

Bahwa suatu hari kita akan meninggalkan tempat, suasana, orang-orang, dan bahkan kehidupan di dunia ini adalah fakta kehidupan. Sooner or later, it would come. Setiap orang tahu dan menyadari fakta kehidupan ini.

You are where you need to be. Setiap orang berada pada tempat yang tepat. Tempat yang dimaksud di sini bisa saja tempat fisik yang ada di dunia ini, atau suatu tempat di luar dari apa yang dapat kita pahami dengan indera kita. Ketika hari ini saya berada di Kalimantan Tengah, akan tiba masanya saya harus beranjak dan meninggalkan tempat ini. One day, for certain, it would happen.

Maka menjadi penting menghargai setiap momen di mana pun kita berada. Harta yang diberikan secara merata kepada setiap orang adalah waktu, seberapa panjang atau seberapa singkat pun itu. Ketika hari ini saya masih di sini, saya ingin agar hari ini menjadi hari yang baik di tempat ini, dan saya akan berusaha agar kehadiran saya di tempat ini, pada hari ini, menjadi kehadiran yang membawa kebaikan, dan kehadiran di mana saya pun bisa mengalami kebaikan Tuhan, melalui pengalaman sepanjang hari ini.

Mencintai Diri

Setiap pagi saya biasanya menatap diri di cermin sesaat sebelum berangkat bekerja. Saat melihat postur saya di cermin, yang paling sering terlintas di pikiran saya adalah ukuran perut saya, diikuti dengan kritik dalam pikiran, “Perut saya masih terlalu besar, seharusnya lebih langsing!”. Saya berpikir bahwa kalau perut saya lebih langsing, saya akan lebih keren, dan saya berpikir bahwa orang lain akan melihat saya keren.

Begitulah kita seringkali melihat diri kita. Kita adalah kritikus paling keras pada diri kita sendiri. Kita terlalu berfokus pada berbagai hal yang menurut kita adalah kekurangan. Kita berfokus pada hal-hal yang belum ada pada diri kita, entah itu sisi fisik maupun mental.


Tulisan singkat ini menjadi pengingat saya untuk diri sendiriβ€”dan semoga bisa menjadi pengingat untuk kalian juga yang membacaβ€”untuk lebih ramah kepada diri sendiri. Let us be kind to ourselves. Kalau fokusnya mencari kekurangan, tentu ada-ada saja hal yang kurang pada diri setiap orang, akan tetapi apakah mengkritisi diri terus menerus akan membantu? Mengapa kita tidak mencoba mengapresiasi diriβ€”dimulai dari mengapresiasi tubuh kita sendiri? Tubuh itulah yang bergerak membawa kita ke berbagai tempat. Tubuh yang sama juga merasa, mencium, dan mengalami berbagai pengalaman hidup. Mengapa kita tidak berterimakasih pada tubuh yang telah setia menemani kita, menjadi wadah bagi jiwa kita, seberapa pun tidak sempurnanya ia?

So, give a hug to yourself. It needs love. Our love. ❀️

Peluk Dirimu!

Be Light, Be Free

Saya rasa kita semua, sadar atau tidak, pernah membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Menurut saya hal ini karena membandingkan (comparing) itu sendiri merupakan salah satu kemampuan bawaan otak kita. It’s an innate capacity. Memang itu sudah menjadi salah satu kemampuan otak kita: membuat perbandingan. Untuk persoalan-persoalan analitis, kemampuan ini sangat diperlukan, dan seringkali membantu untuk mendapatkan insight, yang barangkali akan berguna dalam merumuskan solusi-solusi.

Masalah akan timbul saat kemampuan ini terbawa dalam ranah kehidupan pribadi, di saat kita (justru) membandingkan diri dengan orang lain. Kecenderungan membandingkan diri ini bisa menjadi kebiasaan yang tidak sehat, karena sama saja dengan merongrong diri kita sendiri dari dalam. Me against myself.

Keadaan tiap orang akan selalu berbeda. My circumstances would be different from others. Standar orang pun akan berbeda antara satu dengan yang lain. Kalau saya misalnya sudah happy dengan telur dadar sebagai pendamping nasi hangat, orang lain mungkin baru akan happy kalau bisa makan ikan salmon. Berbeda sekali, bukan?

Pun dalam aspek-aspek yang lain.

Maka pendapat saya dalam hal ini adalah: don’t tie yourself to the standard of others. Jangan pakai standar orang lain untuk bisa merasa nyaman dan happy dengan dirimu.

Ini mungkin terdengar seperti sebuah pesan yang konyol, tapi dengan penetrasi media sosial sekarang ini, kebiasaan untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain menjadi semakin dipermudah. Bagaimana tidak, semua visual di media sosial akan menyeret kita ke arah sana, tentu saja jika kita mengizinkan. Kehidupan orang lain yang terlihat cemerlang di media sosial akan menjadi pemicu kita untuk lalu melihat kehidupan kita sendiri, dan kalau tidak bijaksana menyikapinya, kita akan begitu mudahnya terseret ke dalam lembah komparasi, dimana kehidupan orang lain terlihat begitu indah dan sempurna, kecuali hidup kita. Lalu semakin bahaya tatkala selanjutnya kita merasa ada yang salah dengan hidup kita.

Then we would be very unhappy.

Maka gunakanlah standar kita sendiri. Ini akan lebih sehat dan kita akan lebih merasa nyaman dengan diri kita. Dan untuk sampai pada standar diri yang baik, first you have to be grateful. Be grateful for who you are and what you have NOW. Saya menulis NOW (artinya: saat ini) dengan huruf kapital karena saya ingin menekankan bahwa kita perlu sesadar-sadarnya melihat hidup kita di saat ini, bukan di masa lalu, apalagi di masa akan datang yang belum jelas.

Kalau kita bisa menyadari hidup kita saat ini, kita akan menyadari bahwa sebenarnya ada sisi-sisi dari kehidupan kita yang semakin baik.

Let me explain it to you.

Saya, misalnya, tak pernah membayangkan bahwa saya akan bisa menginjakkan kaki di pulau Kalimantan. Dulu saya berpikir bahwa kalau saya bisa hidup saja di Sumatera, saya sudah sangat bersyukur. Tetapi anugerah Tuhan ternyata membuat saya menjadi bisa sampai ke Kalimantan. Tak ada sedikit pun bayangan saya dulu akan bisa sampai di Kalimantan, dan bisa pula mencari rezeki di sini.

Dan yang lebih membuat saya terharu adalah bahwa ternyata rezeki yang saya dapatkan dari Kalimantan ini bisa saya bagikan kepada orangtua saya. Ini juga salah satu impian saya dulunya; akhirnya sekarang bisa terwujud. Dan di luar itu ternyata masih bisa membantu anggota keluarga, walaupun jumlahnya kecil. But I am happy with that; to be able to CONTRIBUTE, however small.

Sebagai karyawan di industri kelapa sawit saya tentu belum bisa digolongkan sebagai orang yang sudah sangat berkecukupan, but looking back, I think I have MORE now compared to, say, 5 years ago.

Inilah teman-teman yang saya maksud dengan mensyukuri apa yang kita punya SAAT INI. Dengan penghasilan saya yang sekarang ini, saya merasa saya bisa hidup dengan cukup baik: bisa makan 3 kali sehari, bisa tidur dengan nyaman di ruangan yang baik, bisa memenuhi kebutuhan keluarga saya (istri dan anak-anak), bisa membawa keluarga sesekali liburan, bisa memberi uang saku kepada orang tua, dan sesekali bisa membantu sedikit-sedikit keluarga yang membutuhkan bantuan keuangan, dan kalau ada undangan acara, masih bisa mengisi amplop buat disalamkan ke penyelenggara acara. Tak perlu pusing juga dengan paket data setiap bulan dan bensin sepeda motor. πŸ˜€

Dan itulah standar yang saya pakai. Orang lain yang keadaan hidupnya berbeda dengan saya pasti berbeda lagi standarnya, and it’s OK. Tak ada faedahnya mengejar hidup menggunakan standar orang lain.

Saya tidak mengatakan bahwa saya sudah sangat puas dengan hidup saya. Tentu saja saya masih memiliki aspirasi untuk hal-hal yang lain, akan tetapi untuk saat ini, saya merasa bahwa apa yang ada pada saya sangat pantas untuk disyukuri dan dengan bersyukur saya merasa lebih ringan menjalani hidup saya. Saya juga percaya bahwa Tuhan sudah mengatur hidup saya, dan apa yang terbaik untuk saya akan diberikanNya pada waktu yang tepat: tidak terlambat, dan tidak terlalu cepat.

Maka ajakan saya jelas: berbahagialah dengan standar hidupmu sendiri. Setiap orang diciptakan unik dan setiap orang diberikan kapasitas untuk menentukan sendiri standar untuk hidupnya, dan kebebasan menentukan standar ini SEHARUSNYA membuat kita semua bisa bahagia, karena semua orang TAK HARUS SAMA. Ada kemerdekaan di sana. Jadilah orang-orang yang merdeka, dan itu dimulai dari pikiran.

Hiduplah dengan ringan, stop comparing yourself with others all the time. It will kill you for sure.

Semoga membantu. ❀️ πŸ™‚

Be Free!

Beban, Jarak, dan Perspektif

Hai teman-teman semua … πŸ™‚

Pagi ini saya baru saja mendengarkan sebuah refleksi di channel YouTube Romo Antonius Rajabana, dan topik yang diangkat adalah perihal menangani beban / permasalahan hidup dengan baik. Channel ini menurut saya sangat baik, karena isinya membicarakan topik-topik yang sangat dekat dengan kehidupan nyata, jadi sangat relatable. Saya sangat merekomendasikan Anda untuk mencoba menyaksikan video-videonya, dan kalau berjodoh, siapa tahu bisa menjadi subscriber pula. πŸ˜‰

Dari penjelasan yang diberikan Romo Antonius melalui video berikut ini, saya menangkap bahwa ada 2 strategi dasar yang dapat kita lakukan saat mengalami beban atau persoalan hidup.

Yang pertama adalah mengambil jarak aman terhadap persoalan yang tengah dihadapi. Ternyata istilah ‘jarak aman‘ tidak hanya untuk konteks berkendara, tetapi juga terhadap persoalan hidup. Kita dapat mengambil jeda, meletakkan semua persoalan dan ‘mengisi ulang’ energi kita dengan beristirahat yang cukup, sembari tentunya memohon bimbingan dari Tuhan dalam doa-doa kita. Dengan mengambil jeda seperti ini, kita akan memperoleh jarak emosional yang lebih sehat terhadap permasalahan, dan karena kita sudah beroleh energi dengan istirahat tadi, tentu kita akan lebih prima dalam melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan. Otak juga akan lebih segar dan bisa lebih optimal memikirkan solusi.

Ilustrasi Perspektif

Strategi kedua adalah mengubah perspektif terhadap persoalan. Emosi dan perspektif adalah dua hal yang berkaitan erat. Perspektif yang keliru terhadap suatu hal seringkali berkorelasi dengan emosi negatif yang ditimbulkannya, artinya emosi negatif, seperti kegelisahan, seringkali lahir dari perspektif yang tidak utuh dan keliru terhadap suatu hal. Maka untuk memperbaiki emosi (mengganti yang negatif menjadi emosi yang lebih konstruktif) harus diawali dengan mengubah perspektif dulu. Kalau diibaratkan dengan mengambil foto, barangkali kita perlu mengambil sudut pengambilan gambar (angle) yang berbeda untuk mendapatkan foto yang lebih estetik, lebih bernilai seni, lebih indah dipandang mata.

Dengan mengubah perspektif (yang sepenuhnya ada dalam kendali kita sendiri) kita akan mendapatkan informasi baru yang akan memperkaya pemahaman kita terhadap suatu persoalan, dan tentu pemahaman yang lebih luas akan membantu kita menyikapi sesuatu dengan lebih bijaksana, ketimbang memandang sesuatu hanya dari satu sisi saja.

Demikian dua strategi dari Romo Antonius yang saya kira akan sangat membantu kita mengarungi hari demi hari kehidupan dengan lebih tenang, karena kita tahu bahwa Tuhan senantiasa membantu kita dan Dia selalu menyiapkan segala yang terbaik untuk hidup kita. Pastikan Anda menonton videonya sampai selesai dan semoga bermanfaat. πŸ™‚

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Rasa Syukur Saya

Akhirnya saya berhasil menyelesaikan jurnal rasa syukur edisi 2022. Kendati ada beberapa hari terlewati tanpa mengisi jurnal, saya senang bahwa akhirnya terselesaikan juga. Idealnya memang jurnal rasa syukur harus ditulis setiap hari, tetapi bagi penjurnal pemula seperti saya rasanya hal ini masih bisa dimaklumi. 🀭

Dan . . . voila! Inilah hasil menjurnal 30 hari versi saya. Silakan diunduh dan dibaca. Semoga bisa memberikan manfaat bagi kalian. 😊

Jurnal ini juga tersedia di laman Buku Gratis saya.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Hari Ketujuh

Hai, sobat… Bertemu kembali di jurnal rasa syukur hari ke 7. Kali ini pertanyaan ketiganya berkaitan dengan pandemi corona saat ini.

Silakan menyimak isian jurnal saya di bawah ini.

Foto Jurnal Rasa Syukur Hari Ketujuh

Berikut versi teksnya:

(1) Hari ini saya bersyukur atas ...


berkat Tuhan bagi saya dan keluarga. Pagi ini saya dapat bangun dari tidur dalam keadaan sehat, dapat menikmati sarapan sederhana dengan baik dan nikmat, dapat tiba di lokasi pekerjaan tepat waktu, dan bertemu dengan rekan-rekan kerja yang juga sehat.
(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini?


Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang membantu saya atau melakukan kebaikan untuk saya sepanjang hari ini.
(3) Apa hal baik yang justru bertumbuh di dalam dirimu di kala pandemi corona saat ini?


Saya semakin menyadari rapuhnya kehidupan manusia; bahwa hidup bisa berakhir kapan saja tanpa terduga, dan oleh karenanya saya semakin mampu mensyukuri berbagai hal baik yang terjadi dalam hidup saya setiap hari. Saya juga lebih menghargai kesehatan yang merupakan anugerah yang masih bisa saya nikmati saat ini, dan saya menjadi orang yang lebih rileks dalam bekerja, karena saya semakin menyadari bahwa pekerjaan bisa hilang atau berakhir kalau saya tidak sehat secara fisik, dan karenanya menjaga fisik tetap sehat selama bekerja menjadi penting, sama pentingnya dengan pekerjaan itu sendiri.

Demikian isian jurnal rasa syukur saya di hari ketujuh ini. Semoga kalian yang membaca ini juga beroleh manfaat dan melihat sendiri berbagai hal baik dalam hidup kalian sepanjang hari ini. πŸ˜‰

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Hari Keenam

Hai guys… kita bertemu lagi di postingan soal jurnal menjurnal, hahaha… πŸ˜ƒ Dan inilah isian jurnal saya di hari keenam, Jumat, 28 Januari 2022.

Foto Jurnal Rasa Syukur Hari Keenam

Versi teksnya sebagai berikut:

(1) Hari ini saya bersyukur atas ...


kesehatan saya dan anggota keluarga. Saya dapat menggerakkan tubuh saya dengan baik dan semua indera saya berfungsi dengan baik. Dapat menjalani 1 hari dengan sehat adalah anugerah besar.
(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini?


Saya ingin mencoba menulis di blog dan membuat rencana karya saya di platform digital yang semoga bisa berguna bagi orang lain.
(3) Apa kenangan terbaikmu dari ayah dan ibu?


Ayah dan ibu adalah pejuang keluarga. Mereka melakukan apa yang dapat mereka lakukan untuk memberi apa yang bisa mereka berikan kepada anak-anaknya. Tak hanya bagi anak-anaknya, mereka juga berusaha memberi yang baik kepada keluarga, baik keluarga bapak dan ibu, meskipun tidak selalu bisa diterima dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang hanya berusaha untuk berbuat baik setulusnya, the best they know.

Bersyukurlah selalu, sobat, untuk semua kebaikan dalam hidupmu, karena tak jauh darimu, barangkali ada orang yang tidak bisa menikmati apa yang bisa atau sedang engkau nikmati.

Engkau merasa sehat, di saat orang di sebelahmu mungkin tak begitu sehat. Engkau bisa tidur lelap, di saat orang lain mungkin harus terjaga karena bekerja sampai larut malam.

Each and every good thing you are having is special. Not everyone can have what you have. So be grateful. Always. ☺️ πŸ™

Jurnal Hari Kelima

Berikut adalah isian jurnal rasa syukur saya hari kelima.

Foto Jurnal Rasa Syukur Hari Kelima

Dan inilah versi teksnya.

(1) Hari ini saya bersyukur atas ...


hari yang baru yang masih diberikan kepada saya dan keluarga. Anak saya masih tertidur pulas saat saya berangkat kerja pagi ini, dan saya dapat menikmati sarapan dengan nikmat. This is a good day!
(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini?


Saya ingin lebih memberi perhatian (atentif) kepada orang lain saat berbicara kepada saya. Saya mengamati masih sering saya kurang memperhatikan ekspresi wajah orang lain saat berbicara kepada saya, dan itu yang ingin saya ubah.
(3) Apa yang engkau sukai dari pekerjaanmu?


1. Hasilnya berguna bagi banyak orang. Saya berperan dalam produksi biogas yang menjadi bahan bakar generator listrik. Daya listrik yang dihasilkan oleh generator itu pada akhirnya bisa untuk penerangan di rumah-rumah karyawan dan juga untuk konsumsi pabrik pengolahan minyak sawit. Saya merasa bangga bisa terlibat dalam pekerjaan ini.

2. Pendapatan yang mencukupi kebutuhan keluarga saya, termasuk kedua orangtua saya. Saya senang bisa membagikan sebagian dari pendapatan saya di tempat ini kepada kedua orangtua saya. Rasanya membahagiakan dan saya bangga bisa memberi kepada orangtua.

Selamat menjalani hari Kamis yang penuh dengan kejutan ini, guys. Be grateful. πŸ˜„

Click to listen highlighted text!