Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Praktik Premeditatio Malorum Saya

Hai, teman-teman… Saya sebenarnya sudah pernah menulis tentang Premeditatio Malorum ini sebelumnya dan juga membahasnya di Buku Kecil Stoikisme yang telah saya publikasikan juga. Kali ini saya hanya ingin membagikan bagaimana saya menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari malam hari saat saya beranjak tidur.

Pertama, saya memvisualisasikan bahwa esok paginya saya bisa saja bangun dengan segar tanpa migrain, atau bisa jadi saya bangun pagi dalam keadaan migrain. Saya sering merasakan migrain ketika bangun pagi, sehingga akhirnya saya menjadikan ini sebagai bagian dari kemungkinan pengalaman yang bisa terjadi di pagi hari. Saya menjadi begitu bersyukur ketika pagi hari saya bisa bangun dengan segar tanpa migrain!

Kedua, ketika akan berangkat kerja, saya memvisualisasikan bahwa saya bisa saja terpeleset di perjalanan ketika menuju pabrik. Saya memang jarang sekali terjatuh dari sepeda motor, akan tetapi kemungkinan itu tetap ada, bukan? Ketika suatu saat misalnya hal itu terjadi, saya bisa segera menyadari bahwa itu merupakan pengalaman manusiawi yang bisa terjadi kepada semua pengendara sepeda motor, termasuk saya.

Ketiga, ketika akan berangkat bekerja saya juga memvisualisasikan bahwa orang-orang yang saya temui tidak akan bertindak sebagaimana yang saya harapkan. Ketika saya memberi senyuman, mereka tidak akan membalas dengan tersenyum kembali. Ketika saya berusaha untuk bersikap ramah kepada orang yang saya temui, orang-orang akan bersikap negatif dan toksik kepada saya. Ketika saya berniat untuk mengerjakan sesuatu, akan ada saja hal-hal yang mengganggu agenda saya. Dengan kata lain, saya mencoba untuk bersiap secara mental pada berbagai bentuk disrupsi atau gangguan, sehingga ketika hal-hal tersebut ternyata benar-benar terjadi, saya bisa tetap berdamai dengan keadaan. Dalam konteks ini saya berpendapat bahwa praktik amor fati (mencintai takdir) harus diawali dengan premeditatio malorum (visualisasi negatif).

Dan yang paling menarik adalah ketika ternyata kita mengalami berbagai hal positif sepanjang hari (ini juga bisa terjadi!): ketika orang-orang yang kita temui misalnya bersikap sangat ramah dan baik, ketika kita misalnya mendapatkan pengalaman yang berkesan ketika berkomunikasi dengan orang lain, ketika misalnya kita mendengar kabar gembira dari seorang teman, ketika misalnya kita memiliki banyak waktu untuk mengerjakan apa yang kita sukai tanpa banyak gangguan. Hari kita akan terasa begitu berkesan, dan kita akan sangat bersyukur karena kita juga menyadari bahwa hari kita bisa saja diisi dengan berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Inilah yang menurut saya menjadi nilai dan kekuatan dari praktik Premeditatio Malorum itu sendiri: kita menjadi terbuka pada kenyataan dengan segala kemungkinannya, dan kita bisa mengapresiasi dengan sungguh-sungguh ketika hal baik terjadi dalam hidup kita.

Sebagai penutup, mari kita simak sebuah quote dari Seneca berikut:

Perihal Kuasa

Bacaan singkat dari The Daily Stoic untuk 7 November berbicara perihal kekuasaan. Dua tokoh ditampilkan: Alexander Agung dan filsuf Diogenes dan bagaimana keduanya memandang kekuasaan (power).



Jangan berpegang pada reputasi, uang, atau posisimu, tetapi berpeganglah pada nalarmu untuk mengetahui apa yang di bawah kendali dan di luar kendalimu. Inilah yang akan membuatmu merdeka, yang akan membuatmu setara dengan orang-orang kaya dan berkuasa.

Epictetus dalam Discourses

Kekuatan atau kekuasaan dalam pandangan Stoikisme adalah kemampuan kita untuk menahan diri dari banyak keinginan, karena ini berarti kita mampu mengendalikan diri.

Alexander Agung memandang kekuasaan sebagai kemampuan untuk menaklukkan dunia; dan Diogenes justru memandang kekuasaan sebagai kemampuan untuk menahan diri dari ketamakan untuk menguasai dunia. Kemampuan untuk menahan diri dan membatasi keinginan inilah yang sebenarnya menjadi refleksi seberapa kuat dan berkuasanya seseorang; to conquer self.

Sebagaimana pernah diutarakan Publilius Syrus, “Ingin memiliki kerajaan? Kuasailah dirimu!”.

Memaafkan Diri

Saya menemukan paragraf kecil yang powerful di buku The Comfort Book karya Matt Haig sore ini, dan berikut ini teksnya:

Imagine forgiving yourself completely. The goals you didn’t reach. The mistakes you made. Instead of locking those flaws inside to define and repeat yourself, imagine letting your past float through your present and away like air through a window, freshening a room. Imagine that.

Room, dari The Comfort Book

Paragraf ini menarik karena menegaskan bahwa, sepanjang kita bisa berdamai dengan kesalahan di masa lalu dan memaafkan diri kita atas kesalahan-kesalahan kita tersebut, kita tetap mempunyai pilihan untuk memulai lagi hidup baru; membuka lembaran baru setiap saat, entah usia berapa pun kita dan di fase apa pun kehidupan kita saat ini.

Ilustrasi Memaafkan Diri | Sumber

All it takes is our forgiving of ourselves, accepting our faults as part of our journey but are separate from our true self. 🥰

Hidup dan Rasa Sakit

Sebenarnya, mengapa kita (harus) menderita? Jawaban singkatnya: karena memang kita butuh!

Saya selalu tertarik pada isu pain dan happiness, dan kalau Anda membaca postingan-postingan sebelumnya, ada beberapa tulisan yang topiknya ada di seputar tema ini.

Kemarin, saya membaca di buku elektronik berjudul 101 Essays That Will Change the Way You Think karya Brianna Wiest [ ini link Google Search-nya bagi Anda yang tertarik mencari tahu siapa dia ] sebuah artikel singkat berjudulkan The Idiot’s Guide to Emotional Pain: Why We Need Pain.

Ada sebuah analogi dalam tulisan ini. Kalau Anda meletakkan telapak tangan di atas tungku yang panas, rasa sakit akibat panasnya tungku yang Anda rasakan adalah sinyal yang ‘memerintahkan’ Anda untuk segera memindahkan tangan dari tungku tersebut. Kehidupan emosional kita juga bekerja dengan cara yang sama. Rasa sakit, sebenarnya, bukanlah kebalikan dari rasa senang, akan tetapi justru menjadi komponen yang diperlukan dalam menciptakan rasa senang itu sendiri; seperti malam ada untuk melengkapi siang.

Gambar diambil dari https://analyze.life/wp-content/uploads/sad-happy.jpg

Rasa sakitlah yang justru membuat kita memahami apa itu rasa senang.

Tak ada yang menjadi BAIK tanpa ada yang BURUK. Tak ada yang TINGGI tanpa ada yang RENDAH, dan tak ada HIDUP tanpa RASA SAKIT. Itulah realitas kehidupan, sehingga menghindari rasa sakit dalam kehidupan menjadi tidak relevan. Yang menjadi persoalan sebenarnya bukanlah ada atau tidaknya rasa sakit, tetapi bagaimana kita bisa memahami makna rasa sakit dalam rangkaian perjalanan kehidupan.

Melatih Perilaku

Perilaku bisa dilatih.

Agaknya itu yang menjadi ide utama dalam bacaan singkat pagi ini dari buku The Daily Stoic. Berikut kalimat kuncinya:

Proper training can change your default habits. Train yourself to give up anger, and you won’t be angry at every fresh slight. Train yourself to avoid gossip, and you won’t get pulled into it. Train yourself on any habit, and you’ll be able to unconsciously go to that habit in trying times.

The Daily Stoic, Bacaan 23 September

Ketika membaca kalimat di atas, saya akhirnya paham mengapa ada orang yang tetap bisa kalem di tengah berbagai masalah yang tengah melilitnya. Orang bisa seperti itu karena latihan. Saya akhirnya menyadari bahwa ketegaran pun bisa diperoleh dengan latihan. Orang itu pastinya sudah melatih dirinya menghadapi beragam kesulitan!

Jadi jika orang berusaha untuk selalu mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalamann hidupnya dan terbuka, benar-benar terbuka, untuk mengenali dan mengakui kelemahan karakter dirinya, rasanya orang pasti akan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih keren.

Keren itu ada di karakter yang baik, dan karakter baik itu diperoleh dari latihan.

What do you think?

Respond-ability

Ini suatu kata menarik dalam e-mail The Daily Stoic-nya Ryan Holiday yang saya baca pagi ini.

Jadi begini ceritanya.

Dalam hidup ada orang-orang yang cenderung ingin mengendalikan berbagai hal, istilah kerennya control freak. Orang seperti ini ada istilahnya, yaitu tiran (atau tyrant dalam bahasa Inggris). Orang seperti ini selalu ingin menentukan apa yang dilakukan atau dikatakan orang lain, ingin mengontrol semuanya.

Tetapi orang bijaksana akan memahami bahwa dia hanya memiliki kendali atas dirinya sendiri, dan bukan atas hal-hal di luar dirinya. Dengan kata lain, yang bisa sepenuhnya dikendalikan adalah responsnya terhadap apa yang terjadi. Jadi selain bertanggungjawab (atau punya responsibility) atas hidupnya, orang bijak juga memiliki respond-ability, yaitu kemampuan untuk bereaksi dengan baik terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya.

“Mencoba mengendalikan hidup hanya akan membawa kita pada kegagalan, bahkan sebelum kita memulainya”, kata Anne Willson Schaef, seorang penulis. Yang justru lebih baik adalah bertanggungjawab atas bagaimana kita menjalani hidup: taking charge instead of taking control.

Mungkin Anda juga pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, yang memiliki kelekatan akut dengan kontrol, yang memiliki keinginan untuk selalu memiliki kendali atas berbagai hal. Menurut Anda apakah orang-orang seperti itu menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidupnya?

Perihal Kekayaan Instan

Banyak orang yang sebenarnya akan tertolong dari tipuan investasi bodong seperti yang marak saat ini apabila mereka sungguh menyadari karakter kekayaan yang sesungguhnya: tidak terlihat. True wealth is something you don’t see.

Ilustrasi Orang Kaya

Orang mudah terjebak pada visual kekayaan yang ditampilkan para penjebak berlabel crazy rich: rumah mewah, mobil, pakaian-pakaian bermerk terkenal, aksesoris mahal, dan kemudahan untuk mengakses berbagai kenikmatan duniawi menggunakan uang yang ada. Disematkanlah aplikasi berbisnis dalam jebakan tersebut yang dalam narasinya akan bisa menghantar orang pada “kesuksesan” sebagaimana yang dimiliki oleh model—yang ternyata hanyalah afiliator aplikasi judi—yang mengeruk keuntungan besar dari ketidakberuntungan orang lain.

Dalam buku The Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel kita disadarkan bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah tidak terlihat. Katakanlah Anda memiliki tabungan 100 juta di rekening bank. Maka kekayaan Anda (yang tidak terlihat itu) bernilai 100 juta rupiah. Apabila Anda membelanjakan 50 juta dari tabungan tersebut untuk membeli sebuah perangkat, misalnya, untuk sekedar “menunjukkan” kepada orang lain bahwa Anda mampu membeli perangkat mahal senilai 50 juta rupiah, maka sebenarnya nilai kekayaan Anda sudah berkurang 50 juta rupiah. Barang yang Anda beli tadi—yang tujuannya untuk membuat orang lain mengakui bahwa Anda kaya dan mampu membeli barang tersebut—tidak akan membuat orang terkesan untuk jangka waktu lama. Malah, Anda kehilangan fleksibilitas yang bisa didapatkan dari 50 juta rupiah jika seandainya kekayaan itu tetap tersimpan tanpa dibelanjakan.

Buku ini menyadarkan kita bahwa orang yang benar-benar kaya akan menggunakan uangnya untuk membeli fleksibilitas atau waktu, bukan barang-barang hanya untuk tujuan pamer (show off). Malah orang-orang yang benar-benar kaya cenderung akan modest saja dalam berpenampilan. Tampak biasa, ternyata bisnisnya banyak sekali, tersebar di berbagai tempat.

Tentu saja orang yang benar-benar kaya mampu membeli barang-barang mahal, akan tetapi mereka melakukannya karena memang benar-benar membutuhkan untuk menunjang bisnisnya dan untuk membantu mereka lebih fleksibel dengan waktu. They’re not buying the stuff per se, they do buy time.

Jadi, kalau ada orang yang terlihat kaya dan gemar memamerkan barang-barang miliknya di media dan gencar mempromosikan suatu platform bisnis, be really cautious about them, karena bisa saja mereka sedang menjalankan sebuah jebakan. They’re trying to lure you into doing something, memanfaatkan “kerapuhan” emosional kita, yaitu keinginan untuk cepat-cepat kaya.

Bersyukurlah dengan keadaan ekonomimu saat ini, entah bagaimana pun itu, dan tetaplah berusaha meningkatkan taraf hidupmu dengan upaya-upaya yang baik, dan ingat, tak ada pencapaian yang instant. Upaya memperbaiki taraf hidup membutuhkan upaya, kerja keras, dan waktu yang tidak sedikit.

Semoga tulisan ini berguna. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Rasa Syukur Saya

Akhirnya saya berhasil menyelesaikan jurnal rasa syukur edisi 2022. Kendati ada beberapa hari terlewati tanpa mengisi jurnal, saya senang bahwa akhirnya terselesaikan juga. Idealnya memang jurnal rasa syukur harus ditulis setiap hari, tetapi bagi penjurnal pemula seperti saya rasanya hal ini masih bisa dimaklumi. 🤭

Dan . . . voila! Inilah hasil menjurnal 30 hari versi saya. Silakan diunduh dan dibaca. Semoga bisa memberikan manfaat bagi kalian. 😊

Jurnal ini juga tersedia di laman Buku Gratis saya.

Salam,

Paulinus Pandiangan

PRP dalam Terapi Kognitif

Guys, saya baru saja membaca sebuah bab menarik di buku berjudul Even Happier yang ditulis oleh Tal Ben-Shahar. Sebuah bab tentang terapi kognitif. Ini semacam metode untuk menangani emosi yang mengganggu, seperti kecemasan berlebih. Premis dasar dari terapi ini adalah prinsip dasar dalam Stoikisme: kita bereaksi terhadap interpretasi terhadap suatu peristiwa, dan bukan terhadap peristiwa itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan suatu peristiwa bisa menimbulkan beragam reaksi dari orang yang berbeda.

Peristiwa (event) menimbulkan interpretasi (thought), dan interpretasi ini selanjutnya membangkitkan emosi (emotion) tertentu. Seorang ayah yang tersenyum gembira melihat putrinya bisa diurai menjadi:

Peristiwa (event): Ayah melihat seseorang.

Interpretasi (thought): Ayah mengenali bahwa orang tersebut adalah putrinya.

Emosi (emotion): Sang ayah tersenyum gembira.

Saat emosi yang timbul dari interpretasi adalah emosi yang negatif dan mengganggu, terapi kognitif ini berfokus untuk mengembalikan sensasi kenyataan (realisme) dengan cara memperbaiki, atau bahkan menyingkirkan, pemikiran yang terdistorsi. Mengubah pemikiran ini akan mengubah perasaan orang yang merasakan emosi negatif.

Sebuah contoh. Orang yang sangat khawatir tidak lulus wawancara kerja bisa melakukan re-interpretasi terhadap peristiwa wawancara kerja, sebagai berikut:

Peristiwa: Saya melakukan wawancara kerja.

Interpretasi: Jika saya tidak diterima, itu bukan akhir segalanya. Saya mungkin akan menganggur lagi untuk beberapa waktu, tetapi ada banyak pekerjaan lain di luar sana yang cukup layak untuk saya, dan bisa memberikan saya kecukupan, dan saya percaya bisa mendapatkannya.

Emosi: Lebih tenang dan berani menghadapi kegagalan, tidak cemas berlebihan saat wawancara.


Kalau kalian ingat atau pernah membaca postingan sebelumnya, saya sebenarnya sudah pernah menceritakan metode yang sangat identik dengan terapi kognitif ini. Namanya metode STAR. Penamaan metode itu sebenarnya dibuat oleh Henry Manampiring, penulis buku Filosofi Teras yang pernah saya ceritakan di sini dan di sini.


Dalam terapi kognitif, prosesnya dapat dinyatakan dalam akronim PRP: Permission, Reconstruct, Perspective, yang uraiannya sebagai berikut:

Permission: Memberikan diri ruang untuk bersifat manusiawi; bahwa manusia bisa merasakan beragam emosi, termasuk emosi negatif.

Reconstruct: Merekonstruksi hal yang terjadi dengan menyadari bahwa ianya tak melulu buruk. Bisa jadi kita belajar sesuatu dari peristiwa tersebut, atau peristiwa tersebut justru menyadarkan kita agar lebih menghargai segala kemudahan hidup selama ini.

Perspective: Mengkaji peristiwa yang terjadi dalam gambaran besar kehidupan. Misalnya mengujinya dengan pertanyaan: Apakah peristiwa ini sebenarnya sangat signifikan dalam 5 atau 10 tahun ke depan, sehingga harus membuat saya larut dalam emosi negatif? Apakah kecemasan ini begitu penting dibandingkan persoalan yang dihadapi dunia global saat ini? … dan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang meletakkan peristiwa atau emosi yang timbul dalam bingkai besar kehidupan dan dunia. Seeing from above.


Dengan secara aktif melatih diri dengan terapi kognitif seperti ini, akan lebih mudah bagi kita mengelola emosi negatif yang timbul (terkadang sangat instan!) dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Terapi ini ibaratnya olahraga mental. Sebagaimana olahraga fisik, semakin sering kita berlatih, “otot mental” kita akan semakin terampil pula melakukannya.

Dan tentu saja, kita adalah orang yang paling diuntungkan dengan latihan kognitif ini.

Seseorang bernama David Burns pernah mengatakan,

Kita sering membodohi diri kita sendiri dan menciptakan penderitaan dengan mencekoki pikiran kita dengan berbagai hal yang sama sekali tidak benar.

Dan itu sangat benar menurutku, guys. Bagaimana menurutmu?

Salam,

Paulinus Pandiangan

Strategi Mengatasi Kecemasan

Sebagai filsafat praktis, Stoikisme menekankan betul penanganan keadaan mental (mental state). Kecemasan (anxiety) adalah salah satu bentuk penderitaan dalam pikiran yang bisa merusak kestabilan mental, bahkan melumpuhkan.

Karena itu kecemasan harus dihadapi dengan strategi yang baik, dan dalam video berikut Ryan Holiday membagikan 10 cara untuk menangani kecemasan. Silakan disimak video berikut.

Ryan Holiday — How the Stoics Dealt with Anxiety

Silakan menyimak videonya sampai akhir, dan coba direfleksikan apakah ke 10 cara yang disampaikan ada yang sangat relevan dengan pendekatan kamu sendiri. Enjoy!

Click to listen highlighted text!