Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Taste It Before You Spit It

Salah satu cara yang bisa dipakai untuk melatih kita menggunakan kata-kata yang positif adalah dengan slogan di atas, taste it before you spit it; artinya sebelum mengatakan sesuatu, kita terlebih dahulu melakukan visualisasi apakah kata-kata yang akan digunakan sudah terdengar positif di telinga kita, dan kalau ternyata belum kita sebaiknya menggantinya dengan kata-kata lain atau tidak mengucapkan kata tersebut sama sekali. Ini sangat penting karena kata-kata yang sudah diucapkan tidak lagi menjadi milik kita; sama seperti setelah kita meludah, apa yang keluar sudah tidak bisa ditarik lagi. Berhati-hati dalam berbicara adalah kemampuan penting yang dimiliki orang-orang yang cenderung positif.

Kata-kata yang kita ucapkan sangat berpotensi melukai hati orang lain, apalagi ketika kita sedang emosional, misalnya saat berada di tengah sebuah konflik. Situasi seperti ini memang tidak mudah dihadapi, dan dibutuhkan kemampuan yang baik untuk mengelola emosi. Emosi yang tidak terkendali biasanya berlanjut dengan keluarnya kata-kata yang melukai relasi dan meninggalkan luka di hati orang lain.

And once they are said, they can not be unsaid. Kata-kata yang sudah terucap tak akan bisa ditarik lagi dan, meskipun bisa dimaafkan, tetapi tetap akan selalu diingat oleh orang lain sebagai sebuah memori yang buruk, dan kata-kata yang buruk akan menimbulkan jarak antara dua pihak; suasana relasinya pasti tidak akan sama lagi.

Bahkan ada yang mengatakan bahwa lidah kita ibarat pisau tajam yang bisa membunuh tanpa mengucurkan darah. Sebegitu besarnya kekuatan kata-kata yang terucap dari bibir kita: bisa menjadi pendorong yang meneguhkan semangat, akan tetapi juga bisa menjadi perongrong semangat tanpa wujud. Pesannya jelas: pikirkanlah dengan baik sebelum berkata-kata, karena kata-kata yang buruk hanya melahirkan penyesalan dan merusak kedamaian. ❤️

Relasi Toksik. Harus Bagaimana?

Ilustrasi Relasi Toksik

Di salah satu video saya di TikTok, ada seorang yang berkomentar dan bertanya bagaimana cara keluar dari sebuah relasi yang toksik. Sebagai disclaimer, saya bukanlah seorang expert dalam relasi manusia, akan tetapi inilah beberapa hal yang berhasil saya peroleh dari riset kecil di Google, dan semoga ini bisa menjadi masukan yang baik bagi orang-orang yang sedang berada dalam relasi yang toksik.

Apa ciri orang toksik?

Toxic people will leave you feeling bad: edgy, guilty, confused, frustrated, overextended.

Mengutip dari sini.

Orang yang toksik-atau dianggap toksik-adalah orang yang berkata dan berperilaku negatif, cenderung selalu ingin mengontrol orang lain, dan kasar. Orang seperti ini bisa membuat orang lain merasa bersalah, frustrasi, dan bingung.

Apakah orang toksik bisa berubah?


Bisa, APABILA mereka sungguh menyadarinya. Orang toksik harus bisa melihat diri mereka sendiri sebagai bagian dari masalah dalam sebuah hubungan, dan dari situ mereka bisa menemukan motivasi untuk mengubah dirinya.

Apakah orang toksik tahu bahwa mereka toksik?

Bisa, JIKA mereka memiliki kecerdasan emosional (emotional intelligence) yang memadai. Orang yang mengalami masalah dengan kecerdasan emosional akan sulit menyadari bahwa mereka menjadi sumber masalah dalam sebuah hubungan. Orang yang tidak sadar ini sangat sulit untuk berubah dan sebaiknya kita membatasi pergaulan dengan mereka.

Mengapa orang tetap bertahan dalam relasi yang toksik?

Kasus Johnny Depp vs Amber Heard yang tersebar luas di media beberapa waktu lalu merupakan contoh relasi yang toksik, dimana menurut kesaksian yang terbongkar di ruang sidang, Johnny Depp memilih untuk tetap bertahan dalam relasi itu selama beberapa tahun walaupun dia menyadari bahwa hubungannya dengan Amber Heard sangat toksik, bahkan sudah mengarah pada kekerasan fisik. Apa yang membuatnya memutuskan untuk bertahan? Ternyata dia percaya bahwa hubungan itu masih bisa diperbaiki.

Itulah salah satu alasan mengapa orang masih bertahan dalam relasi yang sudah jelas-jelas toksik. Mereka (masih) meyakini bahwa hubungan itu masih bisa membaik. They believe that somehow it would work.

Alasan kedua adalah bahwa orang takut kesepian. Orang yang berada dalam relasi tersebut sangat takut menjadi kesepian apabila relasi tersebut diakhiri. Selain itu, mereka juga takut tidak akan mendapatkan pasangan lagi apabila mereka mengakhiri hubungan tersebut, walaupun toksik. Mereka akhirnya memilih untuk menderita dalam hubungan ketimbang kehilangan pasangan.

Alasan ketiga adalah bahwa salah satu pihak merasa bahwa dirinya masih bisa memperbaiki perilaku pasangannya. Dia merasa bertanggungjawab atas perilaku pasangannya yang toksik. Ini sebenarnya masih berkaitan dengan alasan pertama tadi, dimana salah satu pihak merasa bahwa hubungan yang toksik tersebut masih bisa diperbaiki. Akan tetapi yang dilupakan orang adalah bahwa memperbaiki hubungan harus atas kesadaran dan kemauan dari kedua pihak, dan membaiknya hubungan ini tidak akan terjadi kalau hanya salah satu pihak saja yang merasa bertanggungjawab.

Bagaimana menghadapi orang toksik?

Langkah pertama tentu saja dengan membicarakan langsung dengan mereka, tetapi tentu harus dengan cermat juga, karena orang toksik bisa saja bereaksi negatif saat diajak bicara. Memaparkan bahwa kita tidak suka dengan perilaku mereka dan mengharapkan mereka berperilaku lebih baik bisa menunjukkan bahwa kita memberi perhatian kepada mereka, bahwa kita menyadari bahwa mereka bisa lebih baik. Akan tetapi harus tetap berhati-hati melakukan ini karena bisa saja ditanggapi berbeda.

Hubungan yang toksik sebenarnya bisa diubah ASALKAN kedua pihak sama-sama berkomitmen memperbaiki diri melalui lebih sering komunikasi secara terbuka, saling jujur, sama-sama melakukan refleksi diri, atau bahkan dengan melakukan terapi dan mencari bantuan tenaga profesional. Perbaikan hubungan dapat dicapai secara bersama dan kedua pihak memiliki niat yang sama untuk memperbaiki hubungan.

Menjaga jarak (berjauhan) untuk sesaat juga perlu dilakukan agar kedua pihak bisa melakukan refleksi diri secara terpisah, untuk kemudian bisa melihat kekurangan diri masing-masing dan melakukan perubahan di level personal; memperbaiki kecenderungan-kecenderungan yang selama ini mengganggu dalam relasi dengan orang lain.

Akan tetapi yang dilupakan orang adalah bahwa memperbaiki hubungan harus atas kesadaran dan kemauan dari kedua pihak, dan membaiknya hubungan ini tidak akan terjadi kalau hanya salah satu pihak saja yang merasa bertanggungjawab.

Menyadari bahwa relasi yang sehat harus dibangun oleh kedua pihak bersama-sama, dan kedua pihak sebenarnya sama-sama berpeluang untuk menjadi toksik, menjadi sesuatu yang sangat fundamental. Hubungan yang toksik seringkali bukan hanya salah salah satu pihak saja, akan tetapi kedua pihak berkontribusi di dalamnya; sehingga upaya perbaikan harus didasari oleh refleksi diri yang mendalam dari kedua pihak, dan keinginan yang kuat untuk memperbaiki relasi.

Ilustrasi Hubungan Yang Sehat

Bagaimana kalau segala upaya tidak berhasil juga?

Langkah terakhir adalah memutus hubungan secara permanen. Kedua pihak harus berusaha menyembuhkan diri masing-masing dengan cara masing-masing juga. Kedua pihak harus berusaha untuk tidak terus menerus tinggal di masa lalu, dan berusaha untuk melanjutkan kehidupan tanpa kehadiran pihak kedua. Barangkali dengan menyibukkan diri dengan kegiatan bermanfaat yang sama sekali baru, belum pernah dicoba, atau dengan berusaha mendapatkan dukungan dari keluarga atau sahabat terdekat atau dari komunitas. Toh, kalau memang sudah tidak bisa diubah lagi, tak ada manfaatnya menghabiskan waktu hidup bersama dengan orang yang pada akhirnya hanya akan membawa dampak merugikan dalam hidup kita. Dan perilaku orang terhadap kita adalah sesuatu yang di luar kendali kita, bukan? 😉

Semoga bermanfaat. 🙂

Salam,

Paulinus Pandiangan

Tentang Relasi

Wujud Tuhan tidak terlihat dengan mata kasat kita. Kendati demikian, saya percaya bahwa ada ‘wajah-wajah Tuhan’ yang bisa kita alami secara visual dengan mata lahiriah kita: sesama.

Sesama ini adalah orang-orang selain kita: orangtua, sanak keluarga, anak, teman-teman, tetangga, atau rekan kerja. Semua orang di sekitar.

Dengan demikian, kita sebenarnya tetap bisa ‘mengalami’ Tuhan dengan indera visual kita sendiri. Toh, sesama kita adalah ciptaan Tuhan juga, sehingga dalam diri mereka juga ada Tuhan.

Maka membina relasi dengan Tuhan adalah untuk juga membina relasi dengan sesama. Tidak ada relasi yang baik dengan Tuhan yang tidak dibangun dengan relasi yang baik pula dengan sesama. Tidak ada orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan yang berantakan relasinya dengan manusia-manusia lain. Kalau kita membaca profil para orang kudus, santo dan santa, kita akan selalu menemukan fakta yang sama: bahwa mereka berelasi sangat baik dengan sesamanya.

Jadi, saya berpendapat kalau relasimu dengan sesama saja masih berantakan, bisa dipastikan juga sebenarnya relasimu dengan Tuhan tak begitu baik. Relasi dengan Tuhan selalu tercermin dari relasi seseorang dengan manusia-manusia lainnya.

Dan membina relasi yang baik dengan manusia lainnya bukanlah perkara mudah. Saya sendiri bisa menjadi contoh. Saya adalah seorang introvert yang mengalami banyak kesulitan dalam membina relasi yang baik dengan orang lain, bahkan dengan keluarga sendiri pun masih banyak yang harus diperbaiki: perilaku yang buruk atau kata-kata yang tidak menyenangkan untuk didengar.

Saya yakin bahwa saya tidak sendiri dalam hal ini; bahwa kita semua ada dalam perjalanan kita masing-masing. Untuk saya yang sudah menginjak usia 38 ini, dan akan segera menjadi 39 tahun pada 8 Januari 2022 nanti, saya merasa bahwa relasi saya dengan Tuhan masih sangat perlu diperbaiki, dan harus sejalan dengan membaiknya cara saya berelasi, bertindak, berkata-kata kepada orangtua, istri, dan anak-anak. Itu dulu.

Tuhan yang tak terlihat justru terlihat melalui orang-orang ini, yang dianugerahkan Tuhan untuk hidup saya. Relasi seorang Paulinus Pandiangan dengan Tuhannya adalah persoalan relasinya dengan ayah dan ibunya, kedua saudarinya beserta keluarga mereka, istrinya, anak-anaknya, dan selanjutnya orang-orang lain di sekitar lingkungan dimana Paulinus Pandiangan berada. Inilah area yang menjadi fokus seorang Paulinus Pandiangan dalam membina hubungan yang baik dengan Tuhannya, dan ia tak akan pernah bisa mencapai Tuhan apabila ia tak berusaha menggapai keluarganya melalui sebuah hubungan yang baik, dan hubungan yang baik itu sifatnya mendukung, menghormati, tidak berkata kasar, menguatkan, memotivasi, menumbuhkan semangat dan kegembiraan, membantu, mendoakan.


Teman-teman, orang-orang di sekitarmu, khususnya keluargamu sendiri, adalah orang-orang terbaik yang dianugerahkan Tuhan khusus untukmu. Tentu mereka memiliki sifat-sifat buruk dan kelemahan, tetapi di saat yang sama, di dalam diri mereka juga ada roh Tuhan, roh yang sama yang juga ada padamu. Karena itu cintailah dan hormatilah mereka, karena mereka adalah orang-orang terbaik bagimu. Mereka adalah rahmat itu sendiri.

Di akhir tahun 2021 ini, terimalah permintaan maaf saya. Untuk semua kesalahan saya dalam relasi kita setahun ini, semoga Tuhan senantiasa menuntun kita, mengarahkan kita pada kebaikanNya, karena jalanNyalah yang terbaik.

Semoga relasimu dengan keluarga juga semakin baik di tahun mendatang, karena hanya dengan demikian pula, relasimu dengan Tuhan akan membaik.

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!