Amor Fati = Acceptance

“Do not seek for things to happen the way you want them to; rather, wish that what happens happen the way it happens: then you will be happy.”

Epictetus

Menerima keadaan bukanlah perkara gampang. Ada saja hal-hal dalam perjalanan kehidupan yang terjadi tidak sesuai ekspektasi kita; akan selalu ada saja hal yang melenceng dari apa yang bahkan sudah disiapkan sebelumnya.

Di sinilah prinsip amor fati diperlukan.

Sebagaimana quote di atas, kita perlu belajar untuk menerima keadaan. Apa yang terjadi harus diterima sebagai apa yang memang harus terjadi. Kita, menurut Stoikisme, seringkali tidak merasa bahagia karena selalu mengharapkan apa yang terjadi harus selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Perilaku seperti ini ternyata ada yang membuat istilahnya juga: must-urbasi. Semua harus (must) sesuai dengan rencana dan harapan.

LANJUTKAN MEMBACA …

Sakit = Kutukan (?)

Saya baru berefleksi tentang pengalaman menderita sakit. Seorang anggota keluarga saya sedang sakit dan membutuhkan banyak bantuan untuk pemulihannya, termasuk, tentu saja, bantuan finansial.

Lalu dalam refleksi saya, pertanyaan ini pun muncul,

Apa makna di balik pengalaman sakit seperti ini?

LANJUTKAN MEMBACA …

Meditasi ala Stoik

Kalau gambaran meditasi yang jamak kita lihat adalah orang duduk bersila dengan mata tertutup, tangan terletak di lutut, diam berusaha mengosongkan pikiran, bukan begitu ternyata meditasi dalam stoikisme.

Justru kebalikannya. Meditasi dalam stoikisme adalah menyelam ke dalam pikiran dan mencoba memahami pikiran kita dengan lebih baik dalam diam.

LANJUTKAN MEMBACA …

Memulai dari Yang Kecil

Hai, sobat! Selamat hari Rabu! 😁

Postingan ini adalah penyampaian ulang dari refleksi yang ditulis oleh Pastor Michael Najim di Where Peter Is, sebuah situs berisikan sumber-sumber daya terkait gereja Katolik.

By the way, homili-homili pastor ini dapat diakses di laman ini.

Baiklah, kita langsung ke topiknya saja: memulai dari yang kecil.

LANJUTKAN MEMBACA …

Memento Mori

“You could leave life right now. Let that determine what you do and say and think.” 

Marcus Aurelius

Ada ritual menarik yang selalu dilakukan Marcus Aurelius.

Selain teratur menulis jurnal setiap pagi, dia juga selalu mengingatkan dirinya akan kematian setiap malam. Sembari menidurkan anak-anak, dia akan mengingatkan dirinya: jangan terburu-buru, ini barangkali kesempatan terakhirmu bisa menidurkan anak-anak ini. Tak ada jaminan kamu masih hidup esok pagi.

LANJUTKAN MEMBACA …