Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Melepaskan Keterikatan dari Ego

Jujur saja ini topik yang berat dan saya tidak sedang mengklaim diri saya sebagai orang yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang ego dan bagaimana melepaskan kemelekatan dengan ego itu sendiri. Tulisan ini dimaksud hanya sebagai ‘rekaman’ dari apa yang setidaknya berhasil saya ‘tangkap’ dari beberapa sumber (buku, podcast, dan video) yang berbicara tentang ego.

Lalu apa yang kiranya bisa dilakukan untuk melepaskan kemelekatan dari ego kita sendiri?

Pertama: Mengamati pikiran. Menyadari apa yang tengah dipikirkan menjadi langkah awal, terlebih untuk pikiran-pikiran yang cenderung tidak positif. Kita sebenarnya memiliki kemampuan untuk menjadi pengamat (observer) pikiran-pikiran kita sendiri. Ini sesuatu yang bisa dilatih. Sebagai contoh, misalnya kita sedang mengkritik diri kita sendiri. Apabila pikiran ini berulang terus menerus, pada akhirnya kita akan menyadari, “Hmm, tampaknya pikiran ini selalu muncul lagi dan lagi hampir setiap hari tanpa benar-benar saya sadari sebelumnya.”

Lalu kedua: Membedakan antara ‘bisikan’ ego dan situasi yang sebenarnya. Misalnya kita sedang berada di barisan antrian. Akibat lama menunggu, kita menjadi tidak sabar dan menggerutu dalam hati. Lalu timbul sebuah pikiran, “Ini hanya membuang-buang waktu saja!”. Pikiran semacam itu sebenarnya adalah suara ego kita sendiri. Situasi yang sebenarnya terjadi adalah bahwa benar ada antrian, tetapi kita tetap bisa menikmati suasana antrian itu dengan berpikir, “Saya sedang antri. Tidak mengapa. Toh, situasi ini tidak dalam kendali saya. Mengapa saya tidak mencoba menarik nafas dalam-dalam dan mulai menikmati antrian ini?”

Ilustrasi ego yang ‘membebani’ kita sendiri.

Ketiga: Munculkan kesadaran ke permukaan. Ketika kita sudah bisa membedakan ‘bisikan’ ego dan situasi yang sebenarnya, di situlah bermulanya kesadaran (awakening). Setelah itu, bisa saja kita dipengaruhi ego lagi, tetapi secara perlahan kesadaran itu akan semakin menguat dan secara perlahan pula pikiran-pikiran yang mengganggu akan semakin meredup. Ego tidak pernah menginginkan perubahan, dan proses untuk sampai pada kesadaran ini biasanya terjadi perlahan.

Keempat: Lepaskan narasi-narasi dalam pikiran yang menghalangi kita untuk berbuat. Ketika misalnya seseorang kehilangan pekerjaan, dia tak lantas mengutuk dirinya. Dia bisa menggambarkan keadaannya dengan, “OK, saya sedang tidak memiliki pekerjaan saat ini. Yang harus saya lakukan adalah segera mencari pekerjaan.”

Kelima: Buang jauh semua pikiran yang semakin ‘melemahkan’ kita sendiri. Saat bangun di pagi hari dan tiba-tiba hujan lebat, kita bisa mengubah pikiran, “Ini awal hari yang buruk!” menjadi pikiran yang bersyukur. “Ternyata di luar tidak begitu buruk. Langit di saat hujan juga tetap bisa dinikmati.” Saat itu dilakukan secara sadar dalam pikiran, kita akan terbebas dari “belenggu” ego. Kita tidak lagi ‘melapisi’ realitas dengan pikiran kita yang tidak positif, justru kita bisa menikmati sebuah situasi yang kita kutuk sebelumnya.

Menjabarkan ini dalam tulisan tentu jauh lebih mudah dari melakukannya. Semoga kita menjadi manusia yang semakin berkesadaran dan tidak terkungkung dalam ‘bisikan’ ego yang malah menghalangi kita untuk lebih baik lagi.

Some Life Lessons

People change over time. They do. What is important to you today may not be that important five or ten years from now, which begs the question, “At the end of the day, what is the most important thing in life?”

The following few ideas might shed some light on the question:

One: good and genuine relationships. Many people become depressed due to feeling disconnected and not having a sense of deep relationship with something bigger than themselves.

Two: keep learning things. There is always something to learn. Try out new things and keep learning. Never let your age stop you from learning. You can always be a beginner at any age.

Three: Don’t chase happiness. Emotions come and go, and every single emotion is valid. Focus on doing the right thing.

Four: Don’t care too much about what people say. Remember that most of the time, we’re not that important in their eyes. After all, we’re going to become more invisible as we age.

Five: Be kind. Being kind has nothing to do with how others perceive you or behave towards you. You’re kind because you know it’s the right thing to do.

Six: Maintain your health, both mentally and physically. You are the one most responsible for this.

There is one more thing…

Do you remember the last time you were happiest? That’s actually when you’re least aware of yourself, right?

When you were really absorbed in doing something, you lost track of time. You really enjoyed doing it. Psychologist Mihaly Csikszentmihalyi called it the ‘flow state,’ and if we press it further, the ‘flow state’ requires you to be “non-self-centered.”

Saint Augustine, a Catholic theologian and philosopher, used to say “curvatus in se,” meaning when you are too self-centered, curved inward on yourself, that is when you are miserable. That’s why the most unhappy people are the ones who embrace a lifestyle that is all about them. It’s all me, me, and me.

"We are put on earth a little space to grow, to learn, and then to give back to the world." — Mary Engelbreit

On Paying Our Debt

Sejak dilahirkan, kita sudah berhutang (yang dimaksud di sini bukan hutang dalam konteks finansial semata). Kita berhutang atas kebaikan orang lain yang kita terima. Kita dirawat sejak kecil. Orangtua bekerja keras untuk merawat, membesarkan, melindungi, memenuhi kebutuhan, mendidik kita. Seseorang di belahan dunia lain menemukan perangkat elektronik yang kita gunakan untuk membaca postingan ini. Para filsuf di masa lampau menemukan dan merumuskan prinsip-prinsip dan kebijaksanaan hidup yang bisa kita akses dengan mudah saat ini. Kita tinggal di negeri yang diperjuangkan dengan keringat, darah, dan nyawa. Kita mengenakan pakaian yang dirancang dan dibuat orang lain. Kita menikmati makanan yang telah melalui rantai produksi yang panjang dan melibatkan banyak orang. Kita bisa mempelajari beragam ilmu berkat dedikasi para guru dan ilmuwan. Kita menikmati kemajuan teknologi hasil pengembangan bertahun-tahun. Inilah berbagai bentuk hutang yang harus kita bayar.

Albert Schweitzer, seorang filsuf, musisi, dan dokter peraih Nobel mendedikasikan hidupnya mendirikan dan mengoperasikan fasilitas kesehatan di Afrika. Saat ditanya alasannya melakukan hal ini, dia berkata, “Kita sebenarnya tidak punya pilihan apakah kita harus berbuat baik kepada orang-orang ini. Ini adalah tugas dan tanggung jawab moral kita. Apa pun yang kita berikan kepada mereka bukanlah kebaikan hati, melainkan penebusan. Penebusan atas horor kolonialisme yang telah mereka alami sekian lama. Penebusan harusnya menjadi dasar dari semua perbuatan belas kasih.

Penebusan harusnya menjadi dasar dari semua perbuatan belas kasih.

Albert Schweitzer

Maka pertanyaan yang perlu kita jawab dengan cara kita masing-masing adalah: How will I pay my debt? Apa yang bisa saya kontribusikan kepada lingkungan saya?

Tentu tidak semua orang bisa melakukan tindakan sebesar skala Albert Schweitzer di atas. Akan tetapi, berkontribusi itu bisa dilakukan dalam berbagai variasi konteks dan skala; setiap orang bisa tetap berkontribusi sesuai konteks situasi masing-masing.

Berikut beberapa contoh hal praktis yang bisa dilakukan:

  • Menjadi sukarelawan. Bergabung dengan organisasi kemanusiaan, organisasi non-profit, atau komunitas pengembangan diri, tanpa harus mengharapkan bayaran.
  • Memberikan donasi. Memberikan sumbangan finansial kepada organisasi-organisasi terpercaya yang berfokus pada misi-misi kemanusiaan.
  • Berbuat kebaikan-kebaikan kecil. Misalnya dengan membelikan teman secangkir kopi, memberikan senyuman tulus kepada tetangga atau rekan kerja.
  • Menjadi mentor. Kita bisa juga membagikan tips-tips atau ilmu yang dikuasai kepada orang lain yang sekiranya membutuhkan, misalnya dengan membuat dan membagikan video-video edukatif di media sosial.
  • Mendukung usaha lokal. Membeli di warung di sekitar lokasi rumah untuk mendukung berkembangnya usaha mereka. Ini juga membantu mempererat ikatan sosial.
  • Terbuka membantu orang lain. Sesederhana memberikan waktu dan mau mendengarkan orang lain.
  • Mendoakan kebaikan untuk orang lain. Ini juga bentuk kontribusi yang sangat positif.

☘️ ☘️ ☘️

Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk memberikan kontribusi bagi komunitas dimana mereka berada. Saya percaya bahwa setiap orang ingin berkontribusi di lubuk hati mereka yang terdalam . We’re wired to do so, and that’s why it feels so good to give. 😍

"The meaning of life is to find your gift. The purpose of life is to give it away." — Pablo Picasso

Kontemplasi, Kebiasaan Unik Para Tokoh Hebat

Satu sisi unik dari kebanyakan tokoh-tokoh hebat yang tidak banyak disebutkan dalam publikasi mengenai diri mereka adalah kontemplatif. Most of them, if not all, are involved in deep prayer and contemplation on a daily basis. Mereka memiliki kualitas untuk terhubung sangat erat dengan Tuhan; dan banyak dari antara mereka yang (bahkan) menghabiskan waktu berjam-jam berkontemplasi!

Sebut saja misalnya Albert Einstein, yang barangkali tidak secara umum dikenal sebagai orang yang religius, tetapi dalam berbagai kesempatan selalu mengungkapkan rasa takjub akan alam semesta dan sangat suka berefleksi tentang Sang Ilahi. Contoh lain misalnya Blaise Pascal, filsuf sekaligus ilmuwan Prancis yang sangat terkenal itu. Bahkan tulisannya yang sangat terkenal, “Pensées,” sebenarnya berisi hasil refleksi dan pengalaman religiusnya terkait iman dan ilmu pengetahuan. Lalu ada Bunda Teresa dari India, yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam berdoa sambil merenungkan kitab suci, atau Santa Teresa dari Ávila, Spanyol, yang sangat suka berdoa dan dikenal sangat lembut tetapi sangat disiplin dalam menjaga rutinitasnya untuk berdoa. Pemikiran-pemikirannya yang dituangkan dalam bukunya yang terkenal itu, “The Interior Castle” dinilai berkontribusi sangat positif memperkaya iman Katolik. Dan masih panjang deretan orang-orang hebat lainnya, seperti Gregor Mendel, imam Katolik pencetus ilmu genetika, Georges Lemaître, pencetus teori Big Bang, Athanasius Kircher, imam Jesuit yang dikenal memberi banyak sumbangan pemikiran tentang magnetisme, Roger Bacon, yang mengembangkan metode saintifik dan menyumbangkan banyak pemikiran tentang optik, dan seterusnya…

Sekilas berkontemplasi ini tampak seperti sebuah aktivitas pasif, dimana tidak ada pencapaian nyata yang bisa dilihat dan diukur menurut metriks produktivitas. Akan tetapi pada hakikatnya kontemplasi menunjukkan keaktifan untuk menerima Tuhan, membiarkan Tuhan berbicara dan berkarya melalui diri. To let God be God. Inilah sebuah kekuatan yang tidak banyak orang yang menyadarinya; dan inilah yang membedakan orang-orang besar dengan orang-orang biasa seperti kita-kita ini, hahaha… 😂

So, in regard to that, I would say that your greatness is not so much about your intelligence and practical abilities. Of course, those are important too, but the most important thing is actually your willingness to let God work through you. It’s through your humility that you allow yourself to be a channel for God’s work.

And it’s only possible if you put yourself in deep prayer and contemplation, as those great folks in history have proven time and again. After all, He is the only true source of all greatness, right? 😉

☘️ ☘️ ☘️

Take Things with A Grain of Salt

Barangkali salah satu nasihat kehidupan terbaik adalah “Always take things with a grain of salt“. “Take things with a grain of salt” atau “Take things with a pinch of salt” bermakna bahwa kita sebaiknya menyikapi sebuah pernyataan atau informasi dengan sikap skeptis dan kritis. Kita sebaiknya tidak mempercayai sebuah informasi sebagai sebuah kebenaran utuh begitu saja. Kita perlu mempertanyakan akurasi dari sebuah informasi, mempertimbangkan bahwa ada potensi bahwa bisa saja ada elemen informasi yang dibesar-besarkan dan ada bias di dalamnya. Dengan kata lain, diperlukan kehati-hatian dalam menyikapi informasi, yang barangkali tidak sepenuhnya akurat atau benar.

Hal ini bisa diaplikasikan saat kita:

Mengakses berita dari media. Berita di era ini tersaji dengan cepat dan dimutakhirkan dengan cepat pula. Efeknya adalah kita sebagai konsumen informasi menjadi sangat mudah untuk diombang-ambingkan oleh pelaporan yang bias. Kita bisa mengecek ulang sumber informasinya, melihat apakah saluran berita tersebut memiliki reputasi yang baik, dan sadar akan potensi bias dalam pelaporan berita.

Menggunakan media sosial. Aplikasi media sosial penuh dengan opini, rumor, dan informasi yang keliru. Apabila kita tidak cermat menyikapi sebuah informasi, dan langsung membagikan sebuah informasi tanpa bersikap kritis, maka informasi yang keliru itu bisa menyebar dengan sangat cepat. Perlu kita mengecek kredibilitas sumber informasi dan mengecek ulang fakta yang disampaikan. Berpikir kritis menjadi sangat esensial dalam menyikapi setiap potongan informasi di media sosial.

Berinteraksi secara personal dengan orang lain. Informasi yang sampai ke telinga kita bisa berupa sepotong gosip atau saran dari seorang teman. Semua bentuk informasi ini juga harus dicermati, karena bisa saja kebenarannya masih bisa dipertanyakan. Perspektif semua orang sangat tergantung dari pengalaman dan bias kognitif mereka, sehingga sangat perlu kita cermat mendengarkan, tetapi di saat yang sama mengevaluasi konteks dan motif tersembunyi dari apa yang mereka sampaikan.

Apa manfaat dari mindset skeptis seperti ini?

Pertama, kita akan terlatih berpikir kritis. Ini adalah sebuah kemampuan yang harus terus dilatih, terutama di era saat ini dimana informasi terlalu banyak. Menelan informasi secara utuh tanpa dicerna terlebih dulu bisa membawa dampak yang signifikan, bagi diri sendiri dan juga bagi komunitas dimana kita berada.

Kedua, kita akan terlindung dari misinformasi. Informasi keliru sangat banyak tersebar dewasa ini, sehingga bersikap skeptis secara berimbang akan melindungi kita dari kemungkinan menjadi ‘korban’ propaganda dan kekeliruan.

Ketiga, kita akan memiliki perspektif berimbang, karena kita meninjau informasi tidak hanya dari satu sisi saja. Kita bisa memahami nuansa dari sebuah informasi dan isu-isu kompleks yang terkandung di dalamnya, sehingga opini yang lahir dari benak kita adalah opini yang berdasarkan asupan informasi yang berimbang.

Lalu bagaimana caranya kita bisa memiliki mindset skeptis (baca: kritis) ini?

Kita bisa mengedukasi diri kita sendiri. Pernah mendengar ungkapan “Education is self-education“? Kita bisa mempelajari kekeliruan logika dan bias kognitif secara mandiri dari sumber-sumber yang kredibel untuk memahami bagaimana sebenarnya mekanisme otak kita memproses informasi, memahami potensi untuk bias yang ada dalam semua orang. Memahami ini akan sangat membantu kita mengenali argumen-argumen dan informasi yang keliru dalam kehidupan sehari-hari.

Mendiversifikasi sumber informasi juga adalah langkah yang baik. Tidak terpaku hanya pada satu sumber informasi saja, dan mencoba melihat sebuah informasi yang sama dari beragam sumber. Biasanya ini akan membantu kita ‘melihat’ sesuatu secara lebih utuh dan berimbang, sehingga bisa menyelamatkan kita dari bias konfirmasi, misalnya.

Lalu, bertanya secara kritis. Kita bisa mempertanyakan sumber informasi, tujuan informasi ini disebarkan, dan konteks sebuah informasi. Siapa yang menyediakan informasi tersebut, dan mengapa? Bukti-bukti pendukungnya apa saja? Kalau kita mau sedikit menggali lebih dalam sebuah informasi, kita akan lebih objektif memandang sebuah informasi dan selanjutnya bisa membangun opini yang lebih kaya dan ‘sehat’.

☘️ ☘️ ☘️

Dengan melatih diri untuk tetap kritis dalam menyikapi informasi, kiranya kita akan mampu mengarungi kompleksitas kehidupan modern saat ini dengan lebih percaya diri. Tak semua informasi yang beredar adalah informasi yang benar-benar kita butuhkan. Kalau kita bisa menelaah informasi apa saja yang kiranya bermanfaat bagi kita dan bagi komunitas dimana kita berada, kita bisa membangun perspektif yang lebih sehat, untuk kita sendiri dan setidak-tidaknya untuk lingkar terkecil yang paling dekat dengan kita. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan

Living an Intentional Life

INTENTIONAL. I’ve seen this word a few times in the articles I’ve read, and I’m inspired to write something about it. Hence, this post.

So, when someone says that they want to live the day intentionally, what do they actually mean?

Generally, living intentionally means making conscious choices that align with your values and goals. It involves being mindful of your actions and decisions, not simply reacting to circumstances. This approach encourages you to set clear intentions, prioritize what truly matters to you, and take deliberate steps towards achieving a fulfilling and purposeful life.

What a beautiful definition!

Here are some practical ways to live an intentional day:

Start with a Morning Routine: Begin your day with activities that set a positive tone, like meditation, journaling, or a simple stretch. Starting the day mindfully and going at a slow pace is vital. This practice will affect the entire day, speaking from my personal experience.

Set Daily Intentions: Take a few minutes to decide what you want to focus on for the day. This could be specific tasks or a mindset, like being patient or kind.

Prioritize Your Tasks: Make a list of what needs to be done and tackle the most important things first. This helps you stay focused on what truly matters. For instance, I always try to read at least one English article online daily as soon as I get to the workplace before starting my duties.

Take Mindful Breaks: Throughout the day, take short breaks to breathe deeply, stretch, or just step outside. This helps keep you grounded and present. You don’t have to do anything productive during this break.

Limit Distractions: Identify what tends to distract you and find ways to minimize those interruptions. This could mean setting your phone to DND (Do Not Disturb) or finding a quiet workspace.

Practice Gratitude: Reflect on what you’re grateful for, either by writing it down or simply thinking about it. This can shift your mindset and bring more positivity into your day.

Engage in Meaningful Activities: Spend time on activities that bring you joy and fulfillment, whether it’s a hobby, exercise, or connecting with loved ones.

Reflect in the Evening: Before bed, take a moment to review your day. Consider what went well, what you could improve, and set intentions for tomorrow.

☘️ ☘️ ☘️

Living intentionally doesn’t have to be complicated—it’s about making small, thoughtful choices that add up to a more purposeful and satisfying life.

The list above is designed to help you establish a cycle—something you can repeat the next day, adjust when necessary, and craft a ‘system’ that works specifically for you.

Menikmati Hari Ini

Bagaimana menikmati hari ini dengan cara-cara yang mudah dan sederhana?

Ini sebuah pertanyaan penting yang, bisa saja luput dari perhatian kita, apabila kita ‘terjebak’ dalam rutinitas sehari-hari. Ada tuntutan pekerjaan yang harus dituntaskan, misalnya, yang menyerap perhatian kita, sehingga membuat kita lupa untuk sedikit menikmati anugerah kehidupan ini. Dunia bergerak cepat, dan banyak hal yang bisa merampas waktu dan perhatian kita, apabila kita tidak benar-benar berkesadaran tentang apa yang sebenarnya mendasar dan penting.

Triknya ternyata terletak pada memberi perhatian pada hal-hal kecil, pada pilihan-pilihan praktis yang bisa diambil. Menikmati anugerah kehidupan adalah perihal menemukan kegembiraan dalam hal-hal sederhana yang seringkali terabaikan, seperti sejenak membiarkan diri menikmati sinar matahari, mendengarkan musik kesukaan, atau bahkan sekedar membiarkan diri untuk sesaat tidak melakukan apa pun yang produktif.

Dan berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan semua orang:

  1. Awali dengan bersyukur

Cara paling sederhana untuk ‘menyuntikkan’ atmosfer positif dalam hidup kita adalah dengan bersyukur. Segera setelah bangun tidur, kita bisa bersyukur atas kesehatan, atas kasur yang nyaman yang membantu kita terlelap sepanjang malam, atas udara segar yang masih bisa kita hirup. Praktik sederhana seperti ini (barangkali) tidak akan terlihat signifikan saat kita melakukannya, akan tetapi secara kumulatif ini akan berdampak: membantu kita berfokus pada apa yang sudah ada, dan bukan pada apa yang masih kurang.

  1. Nikmati ritual pagimu

Kita bisa bangun lebih awal secara teratur agar kita tidak terburu-buru mengerjakan rutinitas pagi. Terkadang memang kita tidak selalu bisa bangun pagi tepat waktu, karena barangkali malam harinya kita tidur lebih telat dari biasanya, atau bisa saja cuaca mempengaruhi kita untuk merebahkan diri sedikit lebih lama. Tetapi apa pun kondisinya, kita bisa mencoba untuk tetap tenang di awal hari, agar bisa sungguh-sungguh menikmati awal hari yang baru. Menikmati kopi dan sarapan pagi dengan terburu-buru tentu sangat tidak menyenangkan. Maka perlu kita mengkondisikan diri agar momen-momen kecil namun berharga seperti ini tidak terlewatkan begitu saja. Spend a few extra minutes in these things.

  1. Cobalah bergerak

Aktivitas fisik telah terbukti sangat berdampak memperbaiki mood kita. Ada penelitian yang telah membuktikan ini. Maka menyediakan waktu untuk bergerak, sesederhana berjalan kaki sekurang-kurangnya 15 menit dalam sehari, atau melakukan kegiatan olahraga yang kita suka, akan secara signifikan memperbaiki mood dan level energi kita. Juga, kegiatan fisik seperti ini bisa menjadi semacam ‘mental break‘ dari rutinitas.

  1. Terhubung dengan orang lain

Hubungan antar manusia sangat vital dalam menunjang kebahagiaan kita. Penelitian 80 tahunan lebih yang dilakukan universitas Harvard telah membuktikan bahwa prediktor kebahagiaan seseorang tidak terletak pada status sosial, kekayaan, atau popularitas, tetapi pada kualitas relasi yang dimiliki orang tersebut dengan orang-orang lain di sekitarnya.

  1. Lakukan hobimu

Sisihkan waktu setiap hari untuk mengerjakan hal yang menyenangkan bagi kita, entah itu membaca novel, mengurus taman, melukis, atau memainkan alat musik. Mengerjakan hal yang menyenangkan biasanya bisa membuat kita lupa waktu sejenak, dan ini akan menyegarkan otak kita juga, sehingga kondisi mental kita akan lebih siap untuk menjalankan tanggung jawab kita, entah itu terkait pekerjaan atau sekolah.

  1. Mempraktikkan mindfulness

Mindfulness adalah seni untuk berkesadaran. Ini bisa dilakukan dengan meditasi atau latihan pernafasan, atau sekedar memberikan sedikit waktu untuk mengamati sekeliling kita. Kita berusaha untuk benar-benar sadar saat ini, apa pun yang sedang kita alami dan lakukan. Penelitian pun telah memvalidasi bahwa praktik ini membantu mengurangi stress dan meningkatkan kepuasan hidup. Praktik ini juga membantu kita untuk hidup lebih lambat dan bisa lebih mengapresiasi hal-hal indah dan baik dalam hidup.

  1. Lakukan refleksi positif

Saya menyadari bahwa sebagai seorang introvert dengan tipe INFJ-A, kecenderungan untuk pesimis lebih besar daripada optimis. Terkadang setelah membaca fakta-fakta di sekitar, saya biasanya cenderung menjadi pesimis. Tetapi berupaya untuk melihat hal-hal baik dalam hidup tentu juga penting, dan saya menyadari bahwa saya pun harus berupaya ‘mengimbangi’ kecenderungan untuk pesimis dengan ‘menyuplai’ otak saya dengan hal-hal positif, sekecil dan sesederhana apa pun itu.

Ada orang yang suka melakukan ini dengan menjurnal. Ada juga yang lebih suka mengingat-ingat sesaat sebelum tidur. Intinya adalah mencoba menyadari bahwa walaupun hidup penuh dengan hal-hal yang di luar harapan, atau tidak menyenangkan, tetap ada hal-hal baik yang sangat pantas disyukuri. Dalam jangka panjang ini akan membantu kita juga untuk lebih berpengharapan dalam hidup. Kita bisa lebih positif menatap masa depan, walaupun tentu saja masa depan penuh ketidakpastian.

Rasanya kalau kita bisa menerapkan hal-hal sederhana ini dalam hidup, kita bisa mengalami sebuah kehidupan yang lebih bermakna. Kita perlu menyadari bahwa sukacita seringkali ditemukan bukan dalam hal-hal besar dan fantastis, tetapi justru dalam momen-momen kecil yang terselip dalam perjalanan kehidupan setiap hari. Semuanya tergantung kepada kita apakah kita bisa mengapreasiasi hal-hal kecil ini untuk akhirnya menjadi landasan kebahagiaan kita.

Mari kita menghargai saat ini. Hari ini. Mari membuat hari ini menyenangkan, walau banyak tantangan. Tersenyumlah. 😊 🌷

Tersadar oleh Kefanaan

Pagi ini ketika berdoa sebelum berangkat bekerja, terlintas di pikiranku tentang kefanaan hidup ini; bahwa suatu saat aku pun akan tiada. Keluargaku akan kehilanganku, dan hidupku akan segera menjadi kenangan. Akan ada hari dimana itu akan menjadi hari terakhirku, dan entah bagaimana caranya aku pergi aku tak tahu. Kematian adalah misteri Ilahi.

Membayangkan itu aku terdiam sesaat, menyadari bahwa banyak waktu selama ini yang ternyata kupakai untuk hal-hal tak (begitu) penting, dan aku selalu mengira bahwa aku selalu punya waktu. Lalu aku teringat pada kata-kata bijak yang pernah kubaca dan bernada, “We think we still have time…”. Seusai berdoa aku bergegas mencari quote itu di Google, dan ini yang kutemukan:

Dan ada satu lagi, yang ini ⤵️ :

Aku sangat setuju pada keduanya. Keduanya adalah hasil refleksi mendalam atas kefanaan kita sebagai manusia yang “diberi kesempatan untuk hidup” di dunia ini. Pagi ini saya menyadari bahwa, memang benar, kita sering mengira bahwa kita masih punya (banyak) waktudan karena itu kita sering menyia-nyiakannyaketika ternyata, waktu kita bisa sirna kapan saja. Kematian bisa datang kapan saja, dan hitungan ‘jatah hari kita’, pada dasarnya, semakin hari semakin menipis. There isn’t much time left.

Maka, kerjakanlah apa yang ingin kaukerjakan dalam hidupmu selama kesempatan ini masih ada. Inilah yang terlintas di benakku setelah kesadaran akan kefanaan itu menghampiri. Tulislah semua hal yang ingin kau tulis, ungkapkanlah semua kata-kata baik yang harus kau ucapkan, berbicaralah dengan orang-orang selagi engkau punya waktu, dan muliakanlah Tuhan dengan hidupmu selama nafas masih ada dalam tubuh ini. Ungkapkan rasa cintamu kepada orang-orang terdekat, syukuri semua hal baik yang terjadi dalam hidup, entah besar atau kecil. Tertawalah dengan lepas ketika bisa, berbagi rezekilah kepada keluarga dan orang-orang yang dekat di hatimu. Carpe diem. Remember, there aren’t many days left…

Karena akan ada masanya, bahwa kau tak akan mampu melakukannya lagi…

Ingatlah kematianmu. Memento mori. ☘️❤️

On Focus: Limiting Options

We can actually make our lives simpler, better, and more focused on a few things that truly matter. It’s by being decisive about doing these few important things with undivided attention and neglecting the rest. Having too many options paralyzes us, making us want to do it all. The effect is pretty predictable: we endlessly jump from one thing to another, trying to accomplish things with our attention scattered all over the place.

What I am proposing here is the time blocking strategy. It’s done by deciding on the one thing that you really want to do (and that is also highly important and valuable to you personally). Then, allocate a certain amount of time—10, 20, 30 minutes, or whatever suits you—to do that one thing only, with undivided attention. It doesn’t come easily at the beginning, but with ruthless practice, I am confident in saying that everyone will get better at it over time.

Let’s say you want to write a journal entry or a short article. First, take a moment to sit still and collect your thoughts. Decide once what it is that you really want to do—in this case, write a journal entry or a short article. Then, allocate a time slot, say 20 minutes. During this 20-minute period, focus solely on this task with undivided attention. Put aside other distractions and focus solely on this one specific thing.

"Simplicity boils down to two steps: Identify the essential. Eliminate the rest."Leo Babauta

When you’re finished, take a short break. It’s important to allow space between tasks. Afterward, you can approach something else with the same mindset. Allow room for unexpected events as well; it’s impossible to plan everything out completely. Some deviations from our plan should be expected.

And that’s pretty much it. It provides a sense of structure to your day and helps reduce the tendency to appear busy all the time. Your days will be more impactful when you truly focus your attention and become increasingly mindful of your journey through life. That, my friend, is a healthy, productive life! 🤩

If This Is Your Last Year Alive

What if the remaining days of this year are all you have left? What if this is it? The thought strikes like a cold wind, I know, but along with the discomfort associated with it, it also has the potential to crack open life’s deepest questions.

I am not wishing any of us to die soon by posting this, but keeping this perspective in mind is actually healthy and liberating. It sets the tone of our life and significantly helps us to focus on the things that truly matter. In Stoicism, this reflective thinking is called memento mori. The whole idea is beautifully encapsulated in the following quote,

"You could leave life right now. Let that determine what you do and say and think.” — Marcus Aurelius

Author Thornton Wilder eloquently stated, “Most of the time, we don’t realize that we are living in the very best time of our life.” We get caught in repetitive routines, chasing after elusive futures, and end up losing sight of the preciousness of the present.

What Would You Do?

Visualize briefly your to-do list for this final year. What would you put on it? Would it be filled with unclimbed mountains, unsaid apologies, unexpressed love? Perhaps it would involve spending more sunrises with loved ones or pursuing a long-dormant passion you tucked away for “later.”

Alan Watts once said, ‘This is the real secret of life—to be completely engaged with what you are doing at the moment. To be present.’ Would your final year be characterized by an abundance of presence, where you are truly immersed in each passing moment?

Facing the Big Questions

But let us move beyond the mere checklist of aspirations, where an even deeper reflection awaits. If your time is limited, what does it all mean? What is the purpose of this grand, messy human experience?

Throughout history, philosophers have wrestled with these timeless inquiries. Some posit the existence of a grand design, a cosmic blueprint in which we unwittingly participate. Others view life as a self-fashioned odyssey, where meaning arises from our interactions and personal growth.

And what about you, personally?

Leaving Your Mark

Viktor Frankl, a Holocaust survivor, wrote, “Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedomsto choose one’s attitude in any given set of circumstances.” Even in the face of the inevitable, we can choose how we live.

Would you endeavor to cultivate a legacy defined by acts of kindness, creating a ripple effect of positivity among those you encounter? Alternatively, would you prioritize personal evolution, embarking on a journey of introspection to gain deeper insights into both yourself and the world around you?

It is all ours to determine.

Finding Peace in the Unknown

The truth is, we don’t have control over the length of our life. But perhaps that’s the beauty of it all. The mystery of life compels us to create meaning, to find purpose in the everyday.

As the Buddhist saying goes, “Life is a journey, not a destination.” Maybe the “last year” scenario serves as a powerful reminder to fully embrace the journey, to find joy in the simple act of being alive, and to connect with something bigger than ourselves.

Whether this truly is your last year or not, let it be a year of awakening. A year of living with open eyes and a grateful heart. A year of chasing dreams and mending fences. A year of confronting your fears and embracing the present.

Because after all, isn’t that what life is all about, regardless of how much time we have left?

Click to listen highlighted text!