Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Bagaimana Menghormati Orang?

Bacaan singkat di buku A Calendar of Wisdom untuk tanggal 24 November ini berbicara perihal menghormati orang lain. Lalu bagaimana sebenarnya kita menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari?

  • Memberikan pertolongan kepada orang lain, entah berupa dorongan fisik atau spiritual. Berhentilah untuk selalu menyalahkan orang lain dan hargailah martabatnya.
  • Kebaikan yang sesungguhnya bukanlah memberikan sisa kekayaan kepada orang miskin, tetapi ‘menempatkan’ orang lain dekat di hati kita.
  • Tidak mengucapkan fitnah atau kata-kata yang menyakiti hati orang lain.
  • Menjunjung kebenaran, mencegah kemarahan, memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.
  • Bersikap rendah hati dan selalu menyadari bahwa semua manusia rentan melakukan kesalahan, sehingga kita tidak mudah jatuh ke dalam godaan untuk menghakimi orang lain.

Latihan Bahagia ala Romo Antonius Rajabana

Latihan Bahagia ala Romo Antonius Rajabana

Berikut beberapa point yang saya tangkap dari video di atas:

  • Kebahagiaan lahir dari proses batin, bukan sesuatu yang datang dari hal-hal eksternal. Semuanya berasal dari dalam diri.
  • Kebahagiaan cukup untuk dirinya sendiri, tidak membutuhkan prasyarat eksternal apa pun.
  • Kebahagiaan dapat dirasakan apabila kita benar-benar hidup sepenuhnya di masa sekarang, bukan di masa lalu.
  • Kebahagiaan dapat dirasakan apabila kita hidup terbebas dari pertimbangan (judgment).
  • Ketidakbahagiaan biasanya ada pada hal-hal di dalam pikiran saja, hal-hal yang sebenarnya tidak nyata.
  • Jangan terlalu banyak berpikir, karena kita akan sulit merasakan kebahagiaan.
  • Hidup berkesadaran dan bersyukur akan membuat kita mampu benar-benar merasakan kehidupan di saat ini. Fully alive.
  • Menyadari bahwa kita diberikan secara cuma-cuma 24 jam dalam sehari yang dapat diisi dengan berbagai macam hal seturut pilihan kita akan membuat kita lebih mampu mengapresiasi kehidupan. A day is a window of opportunities.
  • Mengisi 24 jam dalam sehari dengan tindakan-tindakan yang dilandasi cinta kasih kepada semua ciptaan akan membuat waktu kita menjadi begitu bernilai, dan hidup yang bernilai adalah hidup yang membahagiakan.

Silakan disimak videonya dan semoga memberikan manfaat bagi kalian … 😊

Menghadapi Perasaan “Tak Ada Gunanya”

Perasaan ‘tak ada gunanya’ yang saya maksud adalah:

  1. Ketika kita belum ‘melihat’ atau merasakan manfaat dari apa yang sudah dilakukan, dan kita ingin segera menarik diri dari aktivitas tersebut.
  2. Ketika kita bahkan tidak berniat mencoba melakukan sesuatu karena kita berpikir, “Toh tidak akan ada gunanya!“.

Lalu bagaimana sebaiknya kita menghadapi situasi seperti ini?

Di artikel Leo Babauta yang saya baca pagi ini, langkah pertama untuk menghadapi situasi seperti ini adalah menerima bahwa merasa putus asa itu manusiawi dan di saat yang sama menyadari bahwa situasi tersebut akan berlalu. Apa yang dirasakaan saat ini bukanlah sesuatu yang permanen. Kekacauan di sana-sini adalah bagian dari proses bertumbuh, dan setiap pengalaman SEBENARNYA bisa menjadi pelajaran, kalau kita terbuka dan memilih untuk belajar darinya.

Bahkan kalau kita merasa tertinggal jauh dari orang lainβ€”dan lalu menjadi putus harapan bahwa kita tidak akan pernah bisa majuβ€”kita sebenarnya hanya perlu berfokus pada langkah berikutnya yang harus ditempuh. Focus on the next step. Kita juga perlu menahan diri untuk tidak segera bereaksi ketika tengah mengalami situasi seperti ini; barangkali kalau kita bertahan dan menjalaninya dengan pikiran yang terbuka, kita bisa belajar sesuatu yang berharga. 😘

Kalau dikaitkan dengan filsafat Stoikisme, ada quote menarik dari Laura Ingalls Wilder yang bisa dipakai dalam situasi seperti ini, β€œThere is good in everything, if only we look for it.”

More Space, More Time, Freedom!

Judul di atas merangkum tiga manfaat besar yang diperoleh dari hidup minimalis. Minimalisme adalah mindset untuk memilah hal-hal esensial dan mengalokasikan energi pada hal-hal tersebut. Let’s begin.


More Space

Ketika kita melatih diri untuk hidup dengan barang-barang secukupnya, ruangan akan lebih lega. Selain menyita tempat, jumlah barang yang terlalu banyak akan menyita waktu kita juga untuk mengurusnya. Pun sama untuk hal-hal non fisik yang juga menyita waktu kita, seperti akun online yang terlalu banyak, aplikasi di perangkat genggam yang terlalu banyak, atau bahkan jam kerja yang terlalu banyak!

Semuanya itu menyita waktu dan perhatian kita, sehingga secara langsung juga mengurangi waktu yang dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, misalnya saja untuk beristirahat. Ruang lega, entah fisik maupun mental, bisa diperoleh dengan mereduksi hal-hal yang memakan tempat dan merenggut waktu kita yang berharga.

More Time

Waktu yang tersedia menjadi terasa penuh dan tidak cukup ketika kita memiliki terlalu banyak hal untuk dilakukan dalam satu waktu. Overcrowded. Minimalismeβ€”berfokus pada hal yang esensialβ€”akan membantu kita memilah apa yang paling penting, dan mengesampingkan hal yang masih bisa menunggu, atau bahkan tidak penting. Hidup bukanlah tentang seberapa cepat kita bisa melakukan sesuatu. Slow living, atau mindfulness, atau apa pun istilahnya, justru akan membuat kita lebih menikmati perjalanan hidup dan bisa memaknainya dengan lebih baik. Hidup lebih lambat, lebih berkesadaran, pun akan membantu kita untuk tidak impulsif dalam membeli berbagai barangβ€”yang seringkali pada akhirnya menjadi clutter.

Waktu yang tersedia dari mengesampingkan hal-hal tak esensial ini akan menjadi waktu yang tersedia untuk hal-hal yang bernilai, misalnya untuk refleksi pribadi, atau bahkan untuk beristirahat, atau untuk melakukan kegiatan yang memberikan kesenangan tersendiri bagi kita.

Freedom

Waktu yang tersedia untuk melakukan hal-hal yang bernilai bagi kita merupakan bentuk kebebasan, selain aspek finansial yang juga akan lebih sehat dengan pola hidup minimalis. Kebebasan dalam menggunakan sumber daya waktu ini akan memberikan kita ruang untuk hal-hal sederhana yang menyenangkan: memasak untuk keluarga, berfoto selfie bersama keluarga dan sahabat, menulis jurnal, menanam bunga, atau bermain dengan anak-anak. Hal-hal tersebut sederhana, seringkali tanpa biaya, tetapi memberikan rasa senang yang lebih long-lasting dibandingkan memenuhi lemari dan rumah dengan barang-barang yang hanya akan menyita waktu kita.

Saya menulis ini untuk diri saya sendiri, dan saya percaya bahwa jika ada yang membaca ini dan menerapkannya, hidup kalian akan bergerak ke arah yang lebih baik. That’s my wish for you all. Good day. 🀩

Ini Hari Baik

Saya membaca sebuah tulisan di blog This Evergreen Home berjudul Don’t Wait to Be Happy: These Are the Good Ol’ Days yang ditulis pada 15 November lalu. Isinya menegaskan bahwa kita harus selalu berfokus pada kehidupan kita hari ini, saat ini, dengan apa yang ada pada kita. Kita perlu sungguh menikmatinya, karena hari ini akan menjadi hari baik yang bisa dikenang.

Kita sering bernostalgia pada pengalaman di masa lalu yang menurut kita indah dan berkesan, tetapi kita seringkali tidak menyadari saat menjalaninyaβ€”bahwa apa yang sedang kita alami, saat iniβ€”merupakan suatu pengalaman baik.

Kita juga sering ‘meletakkan’ kebahagiaan di masa depan; bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang akan diraih di suatu waktu yang belum terjadi. Karena itu kita menjadi tidak menyadari bahwa saat ini pun, kita bisa memilih untuk bisa berbahagia. Yang bisa ditawarkan masa depan hanyalah impian, bukan kenyataan.


Be attentive to the present. Only in the present time can we understand eternity.

Johann Wolfgang von Goethe

Hal yang benar-benar ada dan nyata adalah SAAT INI. Apa yang sudah berlalu, dulunya, adalah saat ini, dan apa yang ada di masa depan, juga akan menjadi saat ini. Today is the day.

Berkomitmen Tanpa ‘Terikat’ pada Hasil

Dalam dunia profesional kita familiar dengan kalimat, “Proses yang baik tidak akan mengkhianati hasil‘, suatu ungkapan yang dalam filsafat Stoikisme sebenarnya tidak realistis, karena kalimat tersebut menyiratkan bahwa hasil (outcome) adalah sesuatu yang berada dalam kendali kita. Dalam kenyataannya, ada banyak sekali faktor di luar kendali kita yang mempengaruhi sebuah hasil.

Maka saran terbaik dalam kaitan dengan mencapai tujuan adalah: berkomitmen tanpa ‘terikat’ pada hasil. Seringkali kita begitu terikat (attached) pada hasil; sehingga ketika tidak tercapai, kita menjadi kesal, tidak puas, kecewa. Andai kita bisa melatih diri untuk berkomitmen pada tindakan-tindakan dan pilihan-pilihan yang berada di bawah kendali kita, dan tidak terikat pada hasil yang dicapai, kita akan lebih positif menyikapi keadaan saat hasil yang diharapkan (ternyata) tidak tercapai.

Sebuah ilustrasi. Kita mengharapkan hasil berat badan kita turun 5 kilogram dalam sebulan. Yang berada di bawah kendali kita adalah mengkombinasikan antara olahraga secara teratur dengan mengatur pola makan sehingga kita bisa ‘membakar’ cadangan lemak tubuh, juga mengatur pola istirahat dengan baik. Entah kita mendapatkan penurunan berat badan 5 kilogram atau tidak dalam sebulan, itu urusan nanti. Yang terpenting adalah berfokus pada upaya yang dalam kendali kita. Berkomitmen pada upaya tanpa terikat dengan hasil (committed and unattached). Kalau ternyata penurunan berat badan kita masih belum mencapai 5 kilogram dalam sebulan, maka kita tidak akan menjadi sangat kecewa dan bisa segera memikirkan strategi lain untuk bisa mencapainya.

Kalau kita terlalu terikat dengan penurunan berat badan 5 kilogram, kita akan stress ketika angka itu tidak tercapai, dan upaya kita akan mudah surut. We better focus on things under our control.

One Day I’ll Leave …

Bahwa suatu hari kita akan meninggalkan tempat, suasana, orang-orang, dan bahkan kehidupan di dunia ini adalah fakta kehidupan. Sooner or later, it would come. Setiap orang tahu dan menyadari fakta kehidupan ini.

You are where you need to be. Setiap orang berada pada tempat yang tepat. Tempat yang dimaksud di sini bisa saja tempat fisik yang ada di dunia ini, atau suatu tempat di luar dari apa yang dapat kita pahami dengan indera kita. Ketika hari ini saya berada di Kalimantan Tengah, akan tiba masanya saya harus beranjak dan meninggalkan tempat ini. One day, for certain, it would happen.

Maka menjadi penting menghargai setiap momen di mana pun kita berada. Harta yang diberikan secara merata kepada setiap orang adalah waktu, seberapa panjang atau seberapa singkat pun itu. Ketika hari ini saya masih di sini, saya ingin agar hari ini menjadi hari yang baik di tempat ini, dan saya akan berusaha agar kehadiran saya di tempat ini, pada hari ini, menjadi kehadiran yang membawa kebaikan, dan kehadiran di mana saya pun bisa mengalami kebaikan Tuhan, melalui pengalaman sepanjang hari ini.

Soal Persepsi

Marcus Aurelius pernah menuliskan ini di jurnal pribadinyaβ€”yang selanjutnya dikenal dengan Meditationsβ€”yang sebenarnya, menurut saya, menegaskan kembali prinsip dikotomi kendali yang diutarakan Epictetus,

Bukan hal atau kejadian di luar dirimu yang membuatmu terganggu, tapi nalarmu tentang hal atau kejadian itu, dan ketahuilah bahwa kamu bisa mengubah persepsimu saat itu juga.

Marcus Aurelius dalam Meditations

Franklin Delano Roosevelt adalah seorang pemimpin politik Amerika yang sangat tersohor. Polio yang dideritanya ketika berusia 39 tahunβ€”yang membuatnya harus menggunakan kursi rodaβ€”justru menjadi suatu elemen dalam kisah hidupnya yang membuatnya semakin dikenal sebagai pribadi yang kuat. Hal eksternal yang terjadi padanyaβ€”polio yang membuatnya menjadi cacatβ€”tidak membuat karir dan kepribadiannya hancur, justru sebaliknya.

Bayangkan Anda berada dalam posisi Roosevelt. Karir politik Anda sedang cemerlang dan Anda sedang mempersiapkan diri (dan bahkan mengimpikan!) untuk menjadi presiden Amerika Serikat. Lalu, tiba-tiba kabar tak menyenangkan itu tiba. Dokter Anda mengatakan bahwa Anda terkena polio, hidup Anda tak akan pernah sama lagi dan harus menggunakan kursi roda sepanjang hidup Anda. Tentu Anda merasa down, bukan?

Franklin Delano Roosevelt juga pasti down ketika mendengar berita ini. Tetapi apa yang dia lakukan selanjutnya-lah yang membuat perbedaan. Dia menerima hal eksternal ini dan dia mengelola persepsinya tentang apa yang terjadi padanya, dan segera, dia menemukan kekuatan untuk tetap melanjutkan kehidupan. Fakta bahwa dia menjadi cacat tidak bisa dielakkan, harus diterima sebagai takdir. Dia melakukan amor fati. Penerimaan yang dia lakukan bukanlah pasrah, tetapi dia menjadikan fakta yang dialaminya sebagai sebuah bagian dari perjalanan kehidupan yang harus diterima, yang membuatnya sungguh sebagai pribadi seorang Franklin Delano Roosevelt.

Dan sejarah mencatatnya sebagai seorang pemimpin Amerika yang luar biasa.


Praktik Premeditatio Malorum Saya

Hai, teman-teman… Saya sebenarnya sudah pernah menulis tentang Premeditatio Malorum ini sebelumnya dan juga membahasnya di Buku Kecil Stoikisme yang telah saya publikasikan juga. Kali ini saya hanya ingin membagikan bagaimana saya menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari malam hari saat saya beranjak tidur.

Pertama, saya memvisualisasikan bahwa esok paginya saya bisa saja bangun dengan segar tanpa migrain, atau bisa jadi saya bangun pagi dalam keadaan migrain. Saya sering merasakan migrain ketika bangun pagi, sehingga akhirnya saya menjadikan ini sebagai bagian dari kemungkinan pengalaman yang bisa terjadi di pagi hari. Saya menjadi begitu bersyukur ketika pagi hari saya bisa bangun dengan segar tanpa migrain!

Kedua, ketika akan berangkat kerja, saya memvisualisasikan bahwa saya bisa saja terpeleset di perjalanan ketika menuju pabrik. Saya memang jarang sekali terjatuh dari sepeda motor, akan tetapi kemungkinan itu tetap ada, bukan? Ketika suatu saat misalnya hal itu terjadi, saya bisa segera menyadari bahwa itu merupakan pengalaman manusiawi yang bisa terjadi kepada semua pengendara sepeda motor, termasuk saya.

Ketiga, ketika akan berangkat bekerja saya juga memvisualisasikan bahwa orang-orang yang saya temui tidak akan bertindak sebagaimana yang saya harapkan. Ketika saya memberi senyuman, mereka tidak akan membalas dengan tersenyum kembali. Ketika saya berusaha untuk bersikap ramah kepada orang yang saya temui, orang-orang akan bersikap negatif dan toksik kepada saya. Ketika saya berniat untuk mengerjakan sesuatu, akan ada saja hal-hal yang mengganggu agenda saya. Dengan kata lain, saya mencoba untuk bersiap secara mental pada berbagai bentuk disrupsi atau gangguan, sehingga ketika hal-hal tersebut ternyata benar-benar terjadi, saya bisa tetap berdamai dengan keadaan. Dalam konteks ini saya berpendapat bahwa praktik amor fati (mencintai takdir) harus diawali dengan premeditatio malorum (visualisasi negatif).

Dan yang paling menarik adalah ketika ternyata kita mengalami berbagai hal positif sepanjang hari (ini juga bisa terjadi!): ketika orang-orang yang kita temui misalnya bersikap sangat ramah dan baik, ketika kita misalnya mendapatkan pengalaman yang berkesan ketika berkomunikasi dengan orang lain, ketika misalnya kita mendengar kabar gembira dari seorang teman, ketika misalnya kita memiliki banyak waktu untuk mengerjakan apa yang kita sukai tanpa banyak gangguan. Hari kita akan terasa begitu berkesan, dan kita akan sangat bersyukur karena kita juga menyadari bahwa hari kita bisa saja diisi dengan berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Inilah yang menurut saya menjadi nilai dan kekuatan dari praktik Premeditatio Malorum itu sendiri: kita menjadi terbuka pada kenyataan dengan segala kemungkinannya, dan kita bisa mengapresiasi dengan sungguh-sungguh ketika hal baik terjadi dalam hidup kita.

Sebagai penutup, mari kita simak sebuah quote dari Seneca berikut:

Menentukan Tujuan ala Stoik

Berikut tiga strategi stoik dalam menentukan tujuan, sebagaimana disarikan dari artikel di laman Daily Stoic ini.

[1] Menentukan tujuan yang di bawah kendali kita.

Tugas utama seorang manusia dalam hidupnya, menurut Epictetus, adalah memahami apa yang di bawah kendalinya dan apa yang di luar kendalinya. Sebagai contoh, kesuksesan. Kesuksesan adalah tujuan banyak orang, dan banyak yang tidak menyadari bahwa kesuksesan adalah sesuatu yang tidak berada di bawah kendali kita sepenuhnya. Menjadikan kesuksesan sebagai tujuan hanya akan menimbulkan ketidakbahagiaan, karena ada begitu banyak faktor yang mempengaruhinya, faktor-faktor yang berada di luar kendali kita.

Lalu kalau bukan kesuksesan, apa tujuan yang seharusnya?

Yang lebih rasional adalah mengerahkan kemampuan terbaik saat mengerjakan sesuatu. Mark Manson, seorang penulis, pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah menargetkan bahwa bukunya akan sukses di pasaran. Yang menjadi tujuannya adalah berupaya menulis buku yang lebih baik dari buku yang sebelumnya, dengan segala upaya terbaik yang bisa dilakukan.

Itulah yang dimaksud dengan menentukan tujuan yang di bawah kendali kita.

Ilustrasi Menetapkan Tujuan | Sumber

[ 2 ] Tidak membuat terlalu banyak tujuan.

Tujuan yang terlalu banyak dalam satu waktu bisa melumpuhkan. Kita akan kesulitan dalam membuat prioritas. Melakukan 3 hal dengan nilai A jauh lebih baik dibandingkan dengan melakukan 5 hal dengan nilai B, atau bahkan C. Maka sangat penting untuk mengkaji sebuah tujuan yang sudah ditetapkan: apakah ia benar-benar penting?

Dengan ‘memangkas’ tujuan-tujuan yang tidak esensial dari daftar panjang tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kita akan hidup lebih seimbang dan dengan demikian memperbesar peluang kita untuk sukses dalam tujuan-tujuan yang lebih penting.

[ 3 ] Memastikan tujuan tersebut benar-benar tujuan kita sendiri.

Saya pernah menyinggung tentang hasrat mimetik di sebuah tulisan lama. Ide dasarnya adalah bahwa banyak dari keinginan kita muncul akibat meniru keinginan atau hasrat orang lain. Inilah yang perlu dicermati dalam menentukan tujuan: apakah tujuan ini benar-benar sesuatu yang penting bagi kita, atau hanya sesuatu yang mengikuti tujuan orang lain?

Juga, kita perlu mengarahkan tujuan bukan pada hal-hal eksternal, seperti tujuan untuk mendapatkan pengakuan atau penghargaan. Tujuan yang benar adalah tujuan untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu; sehingga kompetitornya bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri. Berkompetisi dengan diri sendiri yang dimaksud di sini adalah berusaha untuk terus memperbaiki diri dari dalam, layaknya seorang atlet yang terus berusaha memperbaiki rekor yang diciptakannya sendiri.


Saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan quote berikut,

Click to listen highlighted text!