Jurnal Hari Kedua

Hai, guys… 🤗 😃

Pagi ini begitu saya sampai di lokasi kerja saya memutuskan untuk menggunakan sedikit waktu (± 5 menit) untuk menjurnal rasa syukur. Saya sempat berpikir bahwa mungkin ada baiknya jurnal ini diisi pada malam hari, setelah saya beraktivitas seharian dan mengalami berbagai pengalaman sehari itu. Tapi saya berpikir lagi bahwa, toh, di awal hari pun sudah banyak berkat sebenarnya yang patut disyukuri; bahkan dalam kata pengantar jurnal itu saya mengatakan bahwa berkat bagi kita setiap hari laksana bintang-bintang di angkasa (dan itu juga sebenarnya yang melatarbelakangi gambar langit di malam hari yang dipenuhi bintang yang saya gunakan sebagai background sampulnya).

Maka akhirnya pagi ini saya mengisi lembaran jurnal hari ke dua, dan inilah foto lembaran guratan tangan saya:

Lembaran Jurnal Rasa Syukur Hari Kedua

Berikut versi teksnya:

(1) Hari ini saya bersyukur atas kesehatan saya dan keluarga. Udara sangat sejuk saat saya berangkat kerja pagi ini, dan saya bertemu dengan rekan-rekan kerja saya yang juga sehat.

(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini? Saya ingin membaca satu bab dari buku elektronik di smartphone dan mencoba merenungkan isinya, siapa tahu bisa menjadi bahan tulisan di blog.

(3) Lagu apa yang sedang kamu sukai saat ini dan mengapa? Instrumental sape’ dari Alif Fakod di YouTube. Rasanya tepat untuk mendampingi saya saat melakukan rutinitas gerak jalan di pagi hari selama 30 menit. Ada banyak musik instrumental lain yang juga tersedia secara gratis (non-copyright) dan cukup bagus sebagai pengiring gerak jalan yang saya lakukan.

Itulah isian jurnal saya di hari kedua ini, Jumat, 21 Januari 2022. Kalau Anda membaca ini semoga Anda juga tergerak untuk mensyukuri berbagai hal kecil dalam hidupmu hari ini. 😍


By the way, saya baru saja disuguhi secangkir kopi oleh ibu pegawai kebersihan di kantor tanpa saya minta. Tanpa diminta, berkat datang, sesederhana apa pun bentuknya. Ini juga patut disyukuri, guys. ☺️

Berterimakasihlah kepada semua orang yang melakukan hal yang baik kepadamu hari ini, sebagaimana quote di lembaran jurnal di atas. 💝

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Hari Pertama

Ilustrasi Menjurnal

Hai guys…

Hari ini saya mulai menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal) yang sudah saya share di sini. Silakan mengunduhnya kalau kalian juga ingin mencoba.

Inilah hasil goretan jurnal hari pertama saya:

Jurnal Rasa Syukur Hari Pertama

Dan ini versi teksnya:

(1) Hari ini saya bersyukur atas hari yang baru yang dianugerahkan kepada saya dan keluarga. Saya bangun dalam keadaan sehat dan dapat memulai pekerjaan saya kembali dengan baik.

(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini? Saya ingin melatih diri saya untuk bersikap positif kepada orang-orang yang saya temui, juga bisa lebih tenang dalam menanggapi berbagai hal.

(3) Deskripsikan satu momen masa kecilmu yang membahagiakan. Satu hal yang berkesan adalah saat saya ikut dalam rombongan tamasya sekolah saat SD. Saya senang bisa menikmati pemandangan alam dan bercengkerama dengan teman-teman lain yang ikut dalam rombongan. Malam sebelumnya saya sampai tidak bisa tidur karena selalu membayangkan keseruan perjalanan wisata ini.

Kalau kita bersyukur, kita akan selalu merasa cukup. Quote di lembaran jurnal hari ini sangat menginspirasi saya untuk selalu melatih diri menumbuhkan rasa syukur.

Bagaimana denganmu, sobat? Sudah bersyukur hari ini? 😉

Salam,

Paulinus Pandiangan

Perihal Kematian

“When we die, our souls become free.”

Heraclitus

Hai, sobat! 🤗

Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia pasti akan mengalami kematian. Ini sebuah fakta. Refleksi dari buku A Calendar of Wisdom karya Leo Tolstoy yang saya baca pagi ini berbicara tentang kematian. Inilah terjemahannya.

Kematian dan kelahiran adalah 2 batas kehidupan yang memiliki suatu kesamaan.


Saat Anda memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada jiwa Anda setelah meninggal, pikirkan juga tentang apa yang terjadi pada jiwa Anda sebelum dilahirkan.  Jika Anda pergi ke suatu tempat (melalui kematian), maka Anda datang dari suatu tempat (melalui kelahiran).


Ke mana kita setelah kematian?  Kita pergi ke tempat kita berasal. Tidak ada diri kita yang sepenuhnya di tempat itu; oleh karena itu, kita tidak ingat apa yang telah terjadi pada kita di sana.


Ketika seseorang menjalani kehidupan yang baik, dia bahagia pada saat ini dan dia tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelah kehidupan ini. Jika dia memikirkan kematian, dia melihat seberapa baik kehidupan ini ditata, dan dia percaya bahwa setelah kematian semuanya akan menjadi baik seperti sekarang. Akan jauh lebih baik untuk percaya bahwa segala sesuatu yang Tuhan buat untuk kita adalah baik adanya daripada percaya pada semua kesenangan surgawi.

Seseorang seharusnya tidak perlu terlalu memikirkan apa yang akan terjadi setelah hidupnya. Ikutilah kehendak Ilahi yang mengirim kita ke dunia ini; kehendak itu ada dalam pikiran dan hati kita.

Tidak perlu terbuai dengan janji-janji surga. Yang terpenting adalah hidup dengan sebaik mungkin, saat ini. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan

Perihal Memulai Kembali

Anda mengalami hari yang kurang menyenangkan? Ketahuilah bahwa semua orang juga pernah mengalaminya. Anda merasa sudah menyimpang jauh dari prinsip dan keyakinan yang Anda pegang teguh? Ini juga pernah terjadi pada semua orang.

Bahkan Marcus Aurelius pun mengalaminya. Jabatan kaisar sekaligus filsuf Stoikisme tidak membuatnya imun terhadap pengalaman ini.

Barangkali pengalaman kurang menyenangkan Marcus Aurelius inilah yang melatarbelakanginya menuliskan kalimat berikut dalam jurnal pribadinya, Meditations:

“Your principles can’t be extinguished unless you snuff out the thoughts that feed them, for it’s continually in your power to reignite new ones. . . It’s possible to start living again! See things anew as you once did—that is how to restart life!”

Marcus Aurelius dalam Meditations


Dengan lugas dia menyatakan bahwa prinsip-prinsip hidup yang kita pegang teguh sebenarnya tidak hilang, kecuali kalau kita membuang jauh-jauh pikiran yang melandasi prinsip-prinsip tersebut, dan kita selalu bisa melahirkan pikiran-pikiran baru setiap saat.

Dengan kata lain, kita selalu bisa memulai kembali. Kita mampu melihat segala sesuatu kembali baru, jika kita memilih untuk berpikir dengan cara yang baru.

It’s OK to be messed up sometimes. Tidak ada orang yang hidupnya selalu tenteram dan teratur setiap saat. Selalu ada waktunya dimana kita menjadi sedikit ‘kacau’, dan walaupun demikian, kita selalu bisa kembali pada prinsip-prinsip hidup yang kita anut. Selalu ada pilihan untuk ‘restart‘.

Apa yang telah terjadi sudah menjadi masa lalu. Selalu ada pilihan bagi kita untuk memulai kembali lembaran baru dalam hidup.

Dan kita bahkan bisa memulainya saat ini juga. 🤗 😉

Tentang Visi dan Ketenangan

“Ketenangan dapat diraih apabila orang telah memiliki kemampuan untuk teguh dalam membuat keputusan—di saat orang lain terus-menerus jatuh bangun dan selalu mudah goyah dalam memutuskan berbagai hal. Apa penyebab kegoyahan ini? Karena tidak ada kejelasan visi dan mereka akhirnya hanya bergantung pada pendapat umum.”

SENECA dalam MORAL LETTERS

Dalam esainya tentang ketenangan (tranquility), Seneca menggunakan kata euthymia, yang didefinisikan dengan “percaya diri dan meyakini bahwa Anda berada di jalan yang benar, dan tidak ragu-ragu dengan banyaknya pilihan jalan lain dari mereka yang mengembara ke segala arah.” Keadaan pikiran inilah, katanya, yang menghasilkan ketenangan.

Kejelasan visi dibutuhkan untuk bisa memiliki kepercayaan diri seperti ini. Tidak berarti kita akan selalu 100 persen yakin akan segalanya. Sebaliknya, kita dapat yakin bahwa kita secara umum menuju ke arah yang benar—bahwa kita tidak perlu terus-menerus membandingkan diri kita dengan orang lain atau berubah pikiran setiap tiga detik berdasarkan informasi baru.

Sebaliknya, ketenangan dan kedamaian ditemukan dalam proses mengidentifikasi jalan kita dan dalam berpegang teguh padanya: tetap di jalur—tentu saja sambil tetap membuat penyesuaian di sana-sini—tetapi mengabaikan sirene yang mengganggu yang mengisyaratkan kita untuk berbelok, melenceng jauh dari jalur awal.

Membaca dan Diubah

Ketika saya menyuarakan tentang eksplorasi atau pencarian buku / penulis favorit di tulisan sebelumnya, di saat itu saya hanya menekankan aspek koneksi antara penulis atau isi tulisan dengan pembaca, of how you relate to the story and/or the author.

Premisnya adalah bahwa banyak membaca (well-read) bukan berarti membaca banyak buku, tetapi membaca teks / tulisan tertentu penuh perhatian dan berulang hingga bisa menceritakan kembali ide utama dalam teks / tulisan tersebut.

Pagi ini, e-mail periodik dari The Daily Stoic di inbox saya berbicara tentang aspek perubahan yang bisa ditimbulkan sebuah buku. Sebuah buku yang baik dan tepat memiliki daya untuk mengubah pembacanya.

Begini kira-kira terjemahan isinya:

Cobalah ingat kembali sebuah buku yang pernah Anda baca yang mengubah hidup Anda. Kapan Anda terakhir membacanya? Sudah berapa lama ditulis?


Sekarang pikirkan semua hal yang telah berubah sejak Anda membaca buku itu, baik perubahan di dalam dunia maupun perubahan di dalam dirimu; mungkin bahkan dalam pemahaman kita tentang sains atau sejarah atau biografi orang yang menulisnya.


Itu sebabnya Anda perlu mengambil buku itu—bahkan buku-buku yang telah mempengaruhi Anda—dan membacanya lagi.  “Buku tetap sama,” kata penulis Italo Calvino, “tetapi kita pasti telah berubah, dan oleh karena itu pertemuan selanjutnya ini akan benar-benar baru.”


Atau seperti yang dikatakan penyair favorit Marcus Aurelius, Heraclitus, “Tidak ada orang yang melangkah di sungai yang sama dua kali, karena itu bukan sungai yang sama dan dia bukan lagi orang yang sama.”


Saat kita berubah dan konteks kita berubah, apa yang kita temukan dan dapatkan dari sebuah buku juga berubah. Inilah sebabnya mengapa Marcus Aurelius membaca tulisan Epictetus ketika dia duduk di takhta dan ketika menjadi kaisar. Buku yang dia baca pada usia 25 tahun selalu bersamanya, dan setiap kali dia mengambilnya, itu akan menjadi pengalaman baru yang berbeda.


Inilah sebabnya mengapa Stockdale membaca Epictetus ketika dia sedang berlatih untuk menjadi pilot pesawat tempur dan mengapa dia kembali setelah dibebaskan sebagai tawanan perang, bahkan menulis bukunya sendiri tentang itu, Courage under Fire.


Inilah juga sebabnya mengapa Jenderal Mattis membawa buku Marcus Aurelius bersamanya di setiap kampanye.


Dan inilah mengapa kita juga harus kembali lagi dan lagi ke buku dan penulis favorit kita.  Anda akan mendapat manfaat baru dari setiap pertemuan.

Kata kuncinya: pertemuan (encounter). Membaca ulang sebuah buku yang bagus dan mengena dengan jiwa kita akan selalu menjadi pertemuan yang baru, yang membawa kita masuk ke dalam level pemahaman yang baru.

Saya selalu menganggap bahwa pemahaman kita akan sesuatu terdiri dari lapisan-lapisan (layer). Ketika hari ini saya membaca buku, barangkali isinya akan membantu saya mengungkap satu lapisan pemahaman. Ketika saya membaca buku yang sama di lain waktu, seiring waktu dan seiring perjalanan dan pengalaman hidup, barangkali lapisan-lapisan pemahaman baru akan terkuak, memperkaya dan memperkuat pemahaman saya yang terdahulu.

Bagaimana denganmu, teman? Apakah engkau memiliki pandangan yang lain tentang ini?

😉

Salam,

Paulinus Pandiangan

Lingkup Kendali

“Kita mengendalikan pilihan rasional kita dan semua tindakan yang bergantung pada kehendak moral kita. Apa yang tidak berada di bawah kendali kita adalah tubuh dan bagian-bagiannya, harta benda kita, orang tua, saudara kandung, anak-anak, atau negara—apa pun yang mungkin terkait dengan kita.”

Epictetus

Satu prinsip penting yang perlu selalu diulang adalah: orang bijak tahu apa yang ada di dalam lingkup kendali mereka dan apa yang ada di luar kendalinya.

Kabar baiknya adalah cukup mudah untuk mengingat apa yang ada di dalam kendali kita. Menurut filsafat Stoa, lingkup kendali hanya berisi satu hal: PIKIRAN ANDA. Bahkan tubuh fisik kita tidak sepenuhnya berada di dalam lingkup kendali kita sendiri! Kita bisa terkena penyakit fisik atau cacat di saat yang tak terduga. Anda bisa saja bepergian ke luar negeri dan dijebloskan ke penjara.

Tapi ini semua pada dasarnya kabar baik karena secara drastis mengurangi jumlah hal yang perlu Anda pikirkan. Ada kejelasan dalam kesederhanaan, clarity in simplicity. Saat semua orang berkejar-kejaran dengan daftar tanggung jawab yang panjangnya satu mil—hal-hal yang sebenarnya bukan tanggung jawab mereka—Anda hanya punya satu hal untuk dikelola: pilihan Anda, kehendak Anda, pikiran Anda.


Pikirkanlah itu.


Penjelasan sederhana saya tentang dikotomi kendali dapat ditonton di TikTok via TikCode berikut:

TikCode Dikotomi Kendali

Semoga berguna!

Salam,

Paulinus Pandiangan

Perihal Vokasi dan Hambatan

Ada 2 cerita pendek yang menarik bagi saya pagi ini; satu tentang vokasi, yaitu menemukan hal yang membuat orang merasa benar-benar memenuhi panggilan hatinya, dan yang kedua tentang bagaimana hambatan justru bisa menjadi penunjuk jalan yang harus ditempuh dalam hidup.

Keduanya saya baca dari buku karya Robert Greene, The Daily Laws.

LANJUTKAN MEMBACA …

Jalan Menuju Ketenangan


Epictetus

“Selalu camkan pemikiran ini di saat fajar, sepanjang siang dan malam—hanya ada satu jalan menuju kebahagiaan, dan itu adalah dengan menyerahkan semua di luar lingkup pilihan Anda, tidak menganggap apa pun sebagai milik Anda, menyerahkan segalanya kepada Tuhan dan keberuntungan.”

Epictetus dalam DISCOURSES

Hai teman-teman… 🤗

Saya baru saja membaca bab pendek di buku The Daily Stoic oleh Ryan Holiday. Buku ini berisikan 366 segmen, satu untuk tiap hari. Segmen yang saya baca adalah bacaan untuk 12 Januari.

Mari kita simak terjemahannya berikut ini.

Pagi ini, ingatkan diri Anda tentang apa yang ada dalam kendali Anda dan apa yang tidak dalam kendali Anda. Ingatkan diri Anda untuk fokus pada yang pertama: apa yang ada dalam kendali.

Sebelum makan siang, ingatkan diri Anda bahwa satu-satunya hal yang benar-benar Anda miliki adalah kemampuan Anda untuk membuat pilihan (dan menggunakan alasan dan penilaian saat melakukannya). Ini adalah satu-satunya hal yang tidak pernah bisa diambil dari Anda sepenuhnya.

Di sore hari, ingatkan diri Anda bahwa selain dari pilihan yang Anda buat, nasib Anda tidak sepenuhnya terserah Anda. Dunia berputar dan kita berputar bersamanya—ke arah mana pun, baik atau buruk.

Di malam hari, ingatkan diri Anda lagi berapa banyak yang berada di luar kendali Anda dan di mana pilihan-pilihan Anda dalam sehari itu bermula dan berakhir.

Saat Anda berbaring di tempat tidur, ingatlah bahwa tidur adalah bentuk penyerahan diri dan kepercayaan kepada Yang Berkuasa atas hidup. Dan bersiaplah untuk memulai seluruh siklus kehidupan lagi besok.


Silakan dibaca perlahan dan semoga membantu menguatkan kesadaran dan ketenangan teman-teman semua. 💝😍

Salam,

Paulinus Pandiangan

Rangkullah Keanehanmu!

Setiap orang seharusnya ada anehnya dari yang lain.

Tidak ada yang aneh dari kalimat di atas, karena memang setiap orang memiliki ketertarikan spesifik pada hal tertentu, yang pasti lain dari orang lainnya.

Simak kisah berikut.


V. S. Ramachandran, anak yang bertumbuh besar di Madras, India pada suatu hari di tahun 1950 menyadari bahwa dirinya berbeda.

Saat menyendiri dia sering menghabiskan waktu di pantai, dan dia memiliki ketertarikan khusus pada variasi-variasi kerang laut yang bertebaran di tepi pantai. Dia mengumpulkan kerang-kerang ini dan mempelajarinya dengan seksama.

Dari sekian banyak variasi kerang laut, dia terpesona pada Xenophora, yang memiliki kemampuan untuk menggunakan kembali cangkang yang sudah tidak dipakai untuk tujuan kamuflase, dan dia merasa anomali kerang jenis Xenophora ini begitu menyedot perhatiannya. Dia suka dengan anomali.

Ketertarikannya pada anomali seperti ini ternyata dibawanya terus sampai dewasa. Saat dewasa, ia mempelajari anomali pada sistem anatomi manusia, fenomena-fenomena aneh dalam ilmu kimia, dan berbagai hal-hal aneh lainnya. Dia memutuskan belajar ilmu kedokteran dan sukses menjadi seorang profesor psikologi visual di universitas California di San Diego.

Dalam penelusuran-penelusuran lanjutannya, dia menjadi begitu tergelitik dengan fenomena phantom limbs, dimana pasien tetap merasakan sakit pada bagian tubuh yang sudah diamputasi. Penelitiannya dalam hal ini akhirnya melahirkan penemuan baru dalam mekanisme kerja otak manusia dan cara-cara untuk membantu menghilangkan rasa sakit yang dialami pasien yang mengalami amputasi.

Dia lalu mendedikasikan hidupnya untuk menemukan, mempelajari, dan meneliti berbagai anomali dalam sistem syaraf manusia, menghasilkan temuan-temuan yang berguna bagi banyak orang.

Dan itu semua berawal dari ketertarikannya pada anomali kerang laut.


Tiap orang sebenarnya seperti V. S. Ramachandran, punya keanehan sendiri. Tiap orang tertarik pada hal khusus yang tidak akan bisa dipahami orang lain, dan saya percaya, ini rahmat.

Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah ‘merangkul’ ketertarikan khusus itu. Rangkullah anomalimu.

Tidak perlu merasa harus selalu diterima dalam segala hal. Menjadi versi asli dari diri sendiri dengan segala keanehannya adalah hal terbaik yang bisa kamu lakukan.

It’s OK to be different.

🤗

Salam,

Paulinus Pandiangan