Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Hidup Tenang dalam Tangan Tuhan

Saya kira dari judulnya saja sudah cukup menenangkan, bukan? πŸ™‚

Inilah judul dari refleksi pagi yang dibagikan Romo Antonius Rajabana di kanal YouTubenya pagi ini. Saya adalah orang yang semakin hari semakin merasakan manfaat dari refleksi-refleksi yang dibagikan di kanal ini, dan karena itu saya ingin membagikannya kepada kalian semua yang membaca blog ini, dengan harapan semoga kalian juga beroleh manfaat darinya.

Rasanya tidak diperlukan komentar panjang lebar tentang video ini, yang terpenting adalah Anda bisa menyimak dengan tenang dan mengambil pesan dari video ini. Selamat menyaksikan.

Hidup Tenang di Dalam Tangan Tuhan

Beban, Jarak, dan Perspektif

Hai teman-teman semua … πŸ™‚

Pagi ini saya baru saja mendengarkan sebuah refleksi di channel YouTube Romo Antonius Rajabana, dan topik yang diangkat adalah perihal menangani beban / permasalahan hidup dengan baik. Channel ini menurut saya sangat baik, karena isinya membicarakan topik-topik yang sangat dekat dengan kehidupan nyata, jadi sangat relatable. Saya sangat merekomendasikan Anda untuk mencoba menyaksikan video-videonya, dan kalau berjodoh, siapa tahu bisa menjadi subscriber pula. πŸ˜‰

Dari penjelasan yang diberikan Romo Antonius melalui video berikut ini, saya menangkap bahwa ada 2 strategi dasar yang dapat kita lakukan saat mengalami beban atau persoalan hidup.

Yang pertama adalah mengambil jarak aman terhadap persoalan yang tengah dihadapi. Ternyata istilah ‘jarak aman‘ tidak hanya untuk konteks berkendara, tetapi juga terhadap persoalan hidup. Kita dapat mengambil jeda, meletakkan semua persoalan dan ‘mengisi ulang’ energi kita dengan beristirahat yang cukup, sembari tentunya memohon bimbingan dari Tuhan dalam doa-doa kita. Dengan mengambil jeda seperti ini, kita akan memperoleh jarak emosional yang lebih sehat terhadap permasalahan, dan karena kita sudah beroleh energi dengan istirahat tadi, tentu kita akan lebih prima dalam melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan. Otak juga akan lebih segar dan bisa lebih optimal memikirkan solusi.

Ilustrasi Perspektif

Strategi kedua adalah mengubah perspektif terhadap persoalan. Emosi dan perspektif adalah dua hal yang berkaitan erat. Perspektif yang keliru terhadap suatu hal seringkali berkorelasi dengan emosi negatif yang ditimbulkannya, artinya emosi negatif, seperti kegelisahan, seringkali lahir dari perspektif yang tidak utuh dan keliru terhadap suatu hal. Maka untuk memperbaiki emosi (mengganti yang negatif menjadi emosi yang lebih konstruktif) harus diawali dengan mengubah perspektif dulu. Kalau diibaratkan dengan mengambil foto, barangkali kita perlu mengambil sudut pengambilan gambar (angle) yang berbeda untuk mendapatkan foto yang lebih estetik, lebih bernilai seni, lebih indah dipandang mata.

Dengan mengubah perspektif (yang sepenuhnya ada dalam kendali kita sendiri) kita akan mendapatkan informasi baru yang akan memperkaya pemahaman kita terhadap suatu persoalan, dan tentu pemahaman yang lebih luas akan membantu kita menyikapi sesuatu dengan lebih bijaksana, ketimbang memandang sesuatu hanya dari satu sisi saja.

Demikian dua strategi dari Romo Antonius yang saya kira akan sangat membantu kita mengarungi hari demi hari kehidupan dengan lebih tenang, karena kita tahu bahwa Tuhan senantiasa membantu kita dan Dia selalu menyiapkan segala yang terbaik untuk hidup kita. Pastikan Anda menonton videonya sampai selesai dan semoga bermanfaat. πŸ™‚

Salam,

Paulinus Pandiangan

Menjadi Stoik Bersama Gita Wirjawan

Ada video menarik tentang filsafat Stoikisme yang dibuat oleh pak Gita Wirjawan. Video ini menarik karena tidak hanya mengenalkan dan menjelaskan apa itu Stoikisme, tetapi juga menyertakan 12 latihan praktis-yang rasanya bisa dilakukan semua orang-untuk menjadi stoik dalam laku hidup sehari-hari. Silakan disimak.

Latihan Menjadi Stoik Bersama Gita Wirjawan

In addition to that, silakan juga menyimak video tentang Stoikisme yang dibuat oleh Gloria Parinussa berikut ini, siapa tahu ada satu atau dua hal yang sekiranya berguna.

Stoikisme Bersama Gloria Parinussa

Welcome, Ezio! πŸ€—

Akhirnya saya menjadi ayah bagi 3 orang putra. Pada hari Senin, 21 Februari 2022 lalu, anak ketiga saya lahir di sebuah rumah praktik bidan yang masih dekat dengan lokasi perkebunan tempat saya bekerja.

Dia lahir pukul 10:05 WIB pagi dengan berat badan 4.1 kilogram dan tinggi 54 cm. Kami memberinya nama EZIO ADRIEL PANDIANGAN.

Dan inilah foto pertamanya saat baru dilahirkan.

Welcome to the family, our beloved son. β€οΈπŸ’–πŸ’–

Semoga anak kami ini bertumbuh sehat dan menjadi pribadi yang baik dan membawa sukacita bagi banyak orang. Much love for you, Ezio! πŸ€—πŸ’–

Musuh Kebahagiaan

Filsuf Epictetus pernah menuliskan begini dalam Discourses,

Kebahagiaan tak bisa berdampingan dengan keinginan akan hal-hal yang belum kita miliki. Kebahagiaan sudah cukup untuk dirinya sendiri, ia tak lagi kelaparan atau kehausan akan hal-hal yang lain.

Dalam psikologi ada istilah conditional happiness, yaitu suatu keadaan dimana kita baru merasa bahagia apabila syarat-syarat tertentu terpenuhi. Kebahagiaan bersyarat. Ini sangat umum kita temui, dan kita mungkin sudah menganut mentalitas seperti ini sejak lama. Kalimat-kalimat seperti, “Saya akan sangat senang kalau sudah lulus kuliah.”, atau “Kalau bonus saya tahun ini besar, saya akan bahagia sekali.”, merupakan bentuk ekspresi dari kebahagiaan bersyarat ini.

Dan karena konsep kebahagiaan seperti ini tak pernah benar-benar membawa kebahagiaan yang bertahan lama, bisa dipastikan bahwa model ini tak bisa menjadi pegangan yang baik. Kebahagiaan bersyarat tak akan membuat kita benar-benar bahagia.

Keinginan akut untuk selalu lebih dari saat ini, menginginkan hal-hal yang jelas-jelas tidak ada di depan mata saat ini, hanya akan membuat kita ‘buta’ pada hal yang bisa kita nikmati saat ini juga. Konsep seperti ini, kalau diibaratkan, membuat kita selalu membayangkan pantai pasir putih yang airnya lebih biru ketika kita, sebenarnya, sedang duduk santai di tepi pantai.

Dan inilah musuh kebahagiaan yang sebenarnya.

Kita perlu secara sadar berfokus pada momen saat ini, karena hanya saat inilah yang kita miliki. Masa lalu sudah lewat, dan masa depan tak lama lagi akan menjadi saat ini. Menikmati segala yang baik di saat ini menjadi pilihan yang bijaksana.

Seperti kata Epictetus tadi, kebahagiaan itu sudah cukup untuk dirinya sendiri, tak lapar dan haus akan hal-hal lain yang masih dalam imajinasi. Be content with the present. πŸ€—

Salam,

Paulinus Pandiangan

Clayre si Pengejar Sempurna


Namanya Alasdair Clayre. Sekilas hidupnya tampak sempurna. Seorang mahasiswa hebat di universitas Oxford dan menjadi lulusan yang sangat dikenal. Memenangkan banyak penghargaan dan beasiswa. Tak hanya itu, ia juga berhasil menerbitkan novel, koleksi puisi, bahkan merekam 2 album yang sebagian isinya merupakan hasil komposisinya sendiri. Sesudah itu dia menulis dan memproduksi sendiri seri TV 12 bagian berjudul The Heart of The Dragon.

Alasdair Clayre

Seri TV ini bahkan sukses meraih Emmy Award, sebuah penghargaan bergengsi dalam dunia pertelevisian. Tragisnya, Clayre tidak hadir untuk menerima penghargaan ini. Di usia yang masih 48 tahun, suatu hari dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan dirinya ke kereta api yang tengah melaju kencang.

Reaksi umum kita mendengar kisah seperti ini biasanya adalah: Mengapa? Apa yang masih kurang?

Dari penuturan mantan istrinya, terkuak sebuah fakta menarik: Tak ada simbol sukses yang benar-benar memuaskan Clayre, entah itu penghargaan, penerbitan buku, atau peluncuran seri TV. Setiap kali meraih sesuatu, dia akan segera membuat standar capaian baru yang lebih tinggi lagi.

Pada akhirnya, Clayre tak pernah menganggap dirinya berhasil. Dia selalu merasa kurang sempurna. Setiap keberhasilan yang diraihnya selalu sangat cepat segera menjadi usang, dan tak pernah dianggapnya sebagai keberhasilan. Keinginan akut untuk menjadi sempurna membuatnya menolak keberhasilan itu sendiri.


Being a human is at the same time being imperfect. Just accept that simple yet profound fact.


Pointnya adalah: Impian yang baik haruslah didasarkan pada kenyataan dan kita juga harus bisa menghargai apa yang telah kita raih. Apa pun itu. Tidak perlu terlalu terobsesi dengan kesempurnaan, karena hanya akan ‘memenjarakan’ mental kita di dalam ilusi terus menerus. Dan ilusi jelas bukanlah kenyataan.

And you know what? Hidup dalam ilusi kesempurnaan tak akan membahagiakan.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Seni Beristirahat

Dulu (baca: dulu sekali) saya pernah menulis tentang pentingnya tidur cukup di sebuah postingan berbahasa Inggris. Tulisan itu pada intinya menceritakan temuan seorang ahli tidur (sleep expert), Matthew Paul Walker, terkait efek samping dari kurangnya jam tidur (sleep deprivation) yang ternyata berdampak besar sekali bagi kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan.

Nah, sore ini, saya menemukan video produksi greatmind.id yang mendukung dan menguatkan temuan tersebut. Rama Satya, seorang lulusan biomedis yang sedang merambah dunia kreatif, berbagi tentang signifikansi dari istirahat terhadap seluruh fungsi tubuh kita.

Silakan segera disimak saja guys di video berikut:

Live Optimally: Seni Istirahard

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jebakan Balas Dendam

Ada metode menarik untuk membunuh beruang di zaman kuno. Potongan kayu besar digantungkan dengan tali di atas secangkir madu. Setiap kali beruang berusaha mengambil madu tersebut, dia harus menggeser potongan kayu tersebut, membuat kayunya berayun dan memukul balik tubuh beruang. Jika dia menolak kayu lebih kuat, kayu pun akan berayun lebih kuat dan menghantam tubuh beruang dengan lebih kuat pula. Begitu seterusnya, hingga akhirnya beruang mati akibat terhantam balok kayu tersebut. Proses ini memang lambat, tapi efektif untuk membunuh beruang. Dan ini bisa terjadi karena beruang begitu menginginkan madunya, sampai tidak menyadari jebakan balok kayu berayun yang menyertainya.


Barangkali terdengar konyol, tapi manusia juga acap berperilaku serupa seperti beruang tadi. Seringkali saat menerima keburukan dari seseorang, kita ingin segera membalas; kita merasa perlu untuk segera “memberi pelajaran” kepada orang tersebut. Kita ingin impas, sama seperti beruang yang sangat menginginkan madu tadi.

Tetapi, belajar dari jebakan balok kayu yang siap menanti tindakan balas dendam beruang, kita pun akan mendapat balasan serupa yang justru bisa menghancurkan kita. Aksi menghasilkan reaksi, ini sudah menjadi hukum alam. Saat kita membalas dendam, segalanya tak akan berhenti di situ. Kita akan mengalami penderitaan psikologis yang sama seperti yang dialami orang yang bertindak buruk kepada sesamanya. Hurting others is essentially hurting ourselves.

Itulah kekuatan ajaran cinta kasih. Apabila kita membalas keburukan dengan kasih, kasih akan menghancurkan keburukan sebelum keburukan itu bertumbuh dan menjadi kuat.

Jadi, kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. That’s the best way, dan itu yang diajarkan Tuhan sendiri. Cheers! πŸ€—

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Hari ke Delapan

Halo, teman-teman sekalian. Selamat hari Senin dan selamat mengakhiri tanggal terakhir di bulan Januari ini. πŸ€—

Pagi ini saya menjurnal rasa syukur, dan inilah isian jurnal saya di hari ke delapan di hari Senin, 31 Januari 2022.

Jurnal Rasa Syukur Hari Ke Delapan

Dan berikut ini versi teksnya:

(1) Hari ini saya bersyukur atas ...


hari yang baik yang diberikan kepada saya dan keluarga. Saya dapat menikmati indahnya langit biru, cuaca yang cerah, hati yang damai, dan tubuh yang sehat.
(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini?


Saya ingin berinteraksi dengan teman dengan teman-teman di tempat kerja dan berusaha untuk mengatakan hal-hal yang baik kepada semua orang yang saya temui.
(3) Apa saja 3 hal yang sangat ingin engkau lakukan pada minggu / bulan / tahun ini?


1. Mengupdate blog saya dengan hal-hal yang kiranya bisa berguna bagi orang lain yang membacanya.

2. Makan di luar bersama istri dan anak sambil relaksasi.

3. Mencapai 150 heart points di aplikasi Google Fit dengan cara berjalan kaki 30 menit hingga 1 jam di pagi hari dalam minggu ini.

Demikian laporan jurnal saya untuk hari ini. 🀭

Semoga mendorong kalian untuk bersyukur juga hari ini. Be thankful! πŸ€—

Salam,

Paulinus Pandiangan

Sebenarnya, Mengapa Harus Menabung?

Ilustrasi Tabungan

Di salah satu postingan sebelumnya, saya pernah menceritakan sekilas tentang buku keuangan, The Psychology of Money, yang menurut saya cukup ‘membukakan mata’. Salah satu pesan yang saya tangkap dari buku itu adalah bahwa perilaku (behavior) jauh lebih penting dari pengetahuan (knowledge) tentang keuangan dalam konteks pengelolaan keuangan. How you behave is more important than what you know when it comes to money.

Tulisan ini adalah sari dari buku tersebut tentang menabung. Apa sebenarnya alasan yang paling mendasar dari menabung? What can you get as an exchange from saving money?


Bukan Soal Besarnya Pendapatan

Sebagai ilustrasi, krisis minyak dunia yang terjadi sekitar 1970-an dapat teratasi karena efisiensi energi. Kendaraan, pabrik, rumah yang dibangun dirancang lebih hemat dalam menggunakan energi. Jarak tempuh kendaraan bermotor hampir mencapai 2 kali lipat per liter bahan bakar sejak 1975. Kuncinya adalah efisiensi.

Hal yang sama juga terjadi dalam pengelolaan keuangan.

Besarnya pendapatan tidak akan kondusif untuk menabung apabila tingkat konsumsinya tidak efisien. Sebaliknya, efisiensi yang baik akan membuat besar kecilnya pendapatan akan tetap mendukung untuk menabung.

Misalnya A dan B memiliki penghasilan yang berbeda: A sebesar 6 juta per bulan, B sebesar 12 juta. Si A bisa hidup dengan 3 juta sebulan, sedangkan si B membutuhkan 10 juta. Dengan penghasilan yang separuh saja dari tokoh B, si A mampu menabung 3 juta dalam sebulan, lebih besar 50% dari B yang hanya bisa menabung 2 juta.

Sekali lagi, efisiensi menjadi kunci.

Ego Mendekati Pendapatan

Yang seringkali membuat kita membelanjakan sejumlah uang untuk gaya hidup adalah ego. Kita ingin mendapatkan validasi atas status sosial kita dengan menunjukkannya melalui kepemilikan barang-barang yang disebut bermerk atau branded. Kita haus akan label. Hal ini bisa dilihat dari video orang-orang di media sosial yang memamerkan kekayaannya, agar mendapatkan validasi, pengakuan, label dari para pemirsa. Inilah yang dimaksud dengan ego yang mendekati pendapatan. Ada rasa haus yang berusaha ditutupi dengan gaya hidup mewah.

Dan hal seperti ini justru paling berbahaya jika terjadi pada orang yang level penghasilannya sebenarnya masih di golongan menengah ke bawah. Tak sedikit juga orang yang sebenarnya masih pas-pasan berusaha untuk menampilkan dirinya sebagai orang yang memiliki banyak uang. Yang terjadi adalah uang yang seharusnya bisa ditabung justru tergerus untuk gaya hidup.

Orang-orang yang cakap dalam mengelola keuangan justru tidak peduli pada pendapat orang lain tentang gaya hidup mereka. They don’t give a damn. Ini fakta yang tidak disadari banyak orang. Orang-orang yang memiliki kecakapan pengelolaan keuangan seperti ini hidup berdasarkan apa yang benar-benar dibutuhkan dan apa yang bernilai baginya. Dan yang menarik adalah: mereka bisa menabung lebih banyak, karena mereka bisa dengan cekatan ‘memangkas’ berbagai pos pengeluaran yang tidak perlu. Istilahnya savings rate: berapa persen dari penghasilan yang bisa dialokasikan untuk tabungan.

Alur berpikirnya sebagai berikut:


Orang bisa menabung jika pengeluarannya berkurang;

Pengeluaran bisa berkurang kalau keinginannya tidak terlalu banyak;

Keinginan tidak akan terlalu banyak apabila kita tidak mempedulikan pendapat orang lain tentang gaya hidup kita.


Dengan alur berpikir seperti di atas, kemampuan menabung sebenarnya sepenuhnya ada dalam kendali setiap orang.

Manfaat Tak Terlihat dari Menabung

Di video-video panduan pengelolaan keuangan saya selalu mendengarkan saran yang selalu berulang: tabungan harus mempunyai tujuan.

Artinya kita perlu mengaitkan kegiatan menabung dengan tujuan keuangan tertentu, misalnya untuk liburan keluarga, membeli kamera baru, dan sebagainya. Tentu saja hal ini benar, dan untuk banyak kasus bisa sangat membantu kita untuk selalu termotivasi menabung.

Akan tetapi ada juga manfaat tak terlihat dari menabung, dan Morgan Housel, sang penulis, berargumen bahwa menabung tak harus selalu punya tujuan spesifik. Menabung seharusnya bisa dilakukan karena memang orang seharusnya menabung; save for the sake of saving itself.

Manfaat tak terlihat yang dimaksud adalah:

Bagaimana menurut Anda?

Untuk saya pribadi, fleksibilitas dengan waktu merupakan sesuatu yang berharga mahal, dan oleh karena itu, kalau kita bisa sedikit lebih fleksibel dengan waktu yang kita milikiβ€”tanpa harus selalu dikendalikan oleh orang lain (kalau terus menerus bekerja di bisnis orang lain)β€”menjadi sesuatu yang sangat pantas diperjuangkan. Dan menabung adalah jalan menuju ke sana.

Sedikit kebebasan untuk menentukan jalan hidup bisa dibeli, asal kita memiliki uang yang cukup untuk hidup tanpa harus selalu terikat pada bisnis orang lain. πŸ˜‰

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!