Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Bagaimana Menghormati Orang?

Bacaan singkat di buku A Calendar of Wisdom untuk tanggal 24 November ini berbicara perihal menghormati orang lain. Lalu bagaimana sebenarnya kita menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari?

  • Memberikan pertolongan kepada orang lain, entah berupa dorongan fisik atau spiritual. Berhentilah untuk selalu menyalahkan orang lain dan hargailah martabatnya.
  • Kebaikan yang sesungguhnya bukanlah memberikan sisa kekayaan kepada orang miskin, tetapi ‘menempatkan’ orang lain dekat di hati kita.
  • Tidak mengucapkan fitnah atau kata-kata yang menyakiti hati orang lain.
  • Menjunjung kebenaran, mencegah kemarahan, memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.
  • Bersikap rendah hati dan selalu menyadari bahwa semua manusia rentan melakukan kesalahan, sehingga kita tidak mudah jatuh ke dalam godaan untuk menghakimi orang lain.

Tiga Cara Sederhana Merasakan Syukur

Hai, saya baru saja membaca artikel di sebuah blog tentang rasa syukur (gratitude) dan saya setuju sekali dengan isinya, dan berikut saya sarikan tiga tindakan sederhana yang dapat kita lakukan untuk bisa merasa bersyukur:

(1) Mengucapkan terimakasih.

Ketika bangun pagi, ada banyak hal yang bisa disyukuri, misalnya kesempatan untuk tidur lelap yang memulihkan energi kita, tempat tidur yang nyaman dan selimut hangat yang membuat kita dapat tidur dengan pulas, secangkir teh atau kopi yang dapat kita nikmati di pagi hari, dan kesempatan untuk menjalani kembali kehidupan di hari yang baru. Berterimakasih dengan mengucapkan doa singkat segera setelah bangun di pagi hari adalah contoh umum yang bisa dilakukan. Bersyukur di awal hari akan membantu kita memandang hari tersebut dengan kacamata yang lebih positif.

(2) Menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal).

Menuliskan hal-hal yang kita syukuri di jurnal melatih mental kita untuk cenderung positif memandang kehidupan; bahwa kendati ada satu atau dua hal yang tidak menyenangkan terjadi, kita tetap meyakini bahwa hidup itu sendiri adalah rahmat. Pun praktik ini akan menyadarkan kita bahwa hal-hal yang terlihat sederhanaseperti langit yang sedang biru atau aroma kopi yang semerbaksangat pantas untuk disyukuri! ☺️

(3) Mempraktikkan visualisasi negatif (premeditatio malorum).

Praktik visualisasi negatif yang saya tulis sebelumnya sebenarnya bukanlah semata-mata membayangkan kemalangan yang bisa terjadi dalam hidup. Visualisasi negatif pun bisa berarti mencoba secara mental ‘berdamai’ dengan kemungkinan lain dari kenyataan yang sedang terjadi saat ini.

Misalnya seorang ibu yang sedang merasa kerepotan memasak di dapur bisa melatih dirinya untuk bersyukur dengan membayangkan apabila, misalnya, tidak ada bahan makanan yang bisa diolah. Kerepotan yang sedang dialaminya barangkali akan sirna dan dia bisa bersyukur dengan keadaannya saat ini.

Seorang karyawan yang merasa stress dengan banyaknya tuntutan kerja di kantor bisa melakukan visualisasi negatif dengan membayangkan apabila misalnya dia tidak memiliki pekerjaan. Visualisasi semacam ini akan membuat kita bisa bersyukur dengan apa yang ada pada kita saat ini, walaupun barangkali tidak sempurna dan tidak sebagus apa yang dimiliki orang lain. Yang terpenting adalah kita bersyukur dengan apa yang ada.


Kita tidak akan pernah benar-benar merasakan kedamaian apabila kita selalu menginginkan apa yang belum ada pada kita tanpa pernah bersyukur atas apa yang sudah kita miliki, pada apa yang sudah diberikan kepada kita. Maka seperti saran dari para orang bijaksana: count your blessings. ☘️

More Space, More Time, Freedom!

Judul di atas merangkum tiga manfaat besar yang diperoleh dari hidup minimalis. Minimalisme adalah mindset untuk memilah hal-hal esensial dan mengalokasikan energi pada hal-hal tersebut. Let’s begin.


More Space

Ketika kita melatih diri untuk hidup dengan barang-barang secukupnya, ruangan akan lebih lega. Selain menyita tempat, jumlah barang yang terlalu banyak akan menyita waktu kita juga untuk mengurusnya. Pun sama untuk hal-hal non fisik yang juga menyita waktu kita, seperti akun online yang terlalu banyak, aplikasi di perangkat genggam yang terlalu banyak, atau bahkan jam kerja yang terlalu banyak!

Semuanya itu menyita waktu dan perhatian kita, sehingga secara langsung juga mengurangi waktu yang dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, misalnya saja untuk beristirahat. Ruang lega, entah fisik maupun mental, bisa diperoleh dengan mereduksi hal-hal yang memakan tempat dan merenggut waktu kita yang berharga.

More Time

Waktu yang tersedia menjadi terasa penuh dan tidak cukup ketika kita memiliki terlalu banyak hal untuk dilakukan dalam satu waktu. Overcrowded. Minimalismeberfokus pada hal yang esensialakan membantu kita memilah apa yang paling penting, dan mengesampingkan hal yang masih bisa menunggu, atau bahkan tidak penting. Hidup bukanlah tentang seberapa cepat kita bisa melakukan sesuatu. Slow living, atau mindfulness, atau apa pun istilahnya, justru akan membuat kita lebih menikmati perjalanan hidup dan bisa memaknainya dengan lebih baik. Hidup lebih lambat, lebih berkesadaran, pun akan membantu kita untuk tidak impulsif dalam membeli berbagai barangyang seringkali pada akhirnya menjadi clutter.

Waktu yang tersedia dari mengesampingkan hal-hal tak esensial ini akan menjadi waktu yang tersedia untuk hal-hal yang bernilai, misalnya untuk refleksi pribadi, atau bahkan untuk beristirahat, atau untuk melakukan kegiatan yang memberikan kesenangan tersendiri bagi kita.

Freedom

Waktu yang tersedia untuk melakukan hal-hal yang bernilai bagi kita merupakan bentuk kebebasan, selain aspek finansial yang juga akan lebih sehat dengan pola hidup minimalis. Kebebasan dalam menggunakan sumber daya waktu ini akan memberikan kita ruang untuk hal-hal sederhana yang menyenangkan: memasak untuk keluarga, berfoto selfie bersama keluarga dan sahabat, menulis jurnal, menanam bunga, atau bermain dengan anak-anak. Hal-hal tersebut sederhana, seringkali tanpa biaya, tetapi memberikan rasa senang yang lebih long-lasting dibandingkan memenuhi lemari dan rumah dengan barang-barang yang hanya akan menyita waktu kita.

Saya menulis ini untuk diri saya sendiri, dan saya percaya bahwa jika ada yang membaca ini dan menerapkannya, hidup kalian akan bergerak ke arah yang lebih baik. That’s my wish for you all. Good day. 🤩

Ini Hari Baik

Saya membaca sebuah tulisan di blog This Evergreen Home berjudul Don’t Wait to Be Happy: These Are the Good Ol’ Days yang ditulis pada 15 November lalu. Isinya menegaskan bahwa kita harus selalu berfokus pada kehidupan kita hari ini, saat ini, dengan apa yang ada pada kita. Kita perlu sungguh menikmatinya, karena hari ini akan menjadi hari baik yang bisa dikenang.

Kita sering bernostalgia pada pengalaman di masa lalu yang menurut kita indah dan berkesan, tetapi kita seringkali tidak menyadari saat menjalaninyabahwa apa yang sedang kita alami, saat inimerupakan suatu pengalaman baik.

Kita juga sering ‘meletakkan’ kebahagiaan di masa depan; bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang akan diraih di suatu waktu yang belum terjadi. Karena itu kita menjadi tidak menyadari bahwa saat ini pun, kita bisa memilih untuk bisa berbahagia. Yang bisa ditawarkan masa depan hanyalah impian, bukan kenyataan.


Be attentive to the present. Only in the present time can we understand eternity.

Johann Wolfgang von Goethe

Hal yang benar-benar ada dan nyata adalah SAAT INI. Apa yang sudah berlalu, dulunya, adalah saat ini, dan apa yang ada di masa depan, juga akan menjadi saat ini. Today is the day.

Berkomitmen Tanpa ‘Terikat’ pada Hasil

Dalam dunia profesional kita familiar dengan kalimat, “Proses yang baik tidak akan mengkhianati hasil‘, suatu ungkapan yang dalam filsafat Stoikisme sebenarnya tidak realistis, karena kalimat tersebut menyiratkan bahwa hasil (outcome) adalah sesuatu yang berada dalam kendali kita. Dalam kenyataannya, ada banyak sekali faktor di luar kendali kita yang mempengaruhi sebuah hasil.

Maka saran terbaik dalam kaitan dengan mencapai tujuan adalah: berkomitmen tanpa ‘terikat’ pada hasil. Seringkali kita begitu terikat (attached) pada hasil; sehingga ketika tidak tercapai, kita menjadi kesal, tidak puas, kecewa. Andai kita bisa melatih diri untuk berkomitmen pada tindakan-tindakan dan pilihan-pilihan yang berada di bawah kendali kita, dan tidak terikat pada hasil yang dicapai, kita akan lebih positif menyikapi keadaan saat hasil yang diharapkan (ternyata) tidak tercapai.

Sebuah ilustrasi. Kita mengharapkan hasil berat badan kita turun 5 kilogram dalam sebulan. Yang berada di bawah kendali kita adalah mengkombinasikan antara olahraga secara teratur dengan mengatur pola makan sehingga kita bisa ‘membakar’ cadangan lemak tubuh, juga mengatur pola istirahat dengan baik. Entah kita mendapatkan penurunan berat badan 5 kilogram atau tidak dalam sebulan, itu urusan nanti. Yang terpenting adalah berfokus pada upaya yang dalam kendali kita. Berkomitmen pada upaya tanpa terikat dengan hasil (committed and unattached). Kalau ternyata penurunan berat badan kita masih belum mencapai 5 kilogram dalam sebulan, maka kita tidak akan menjadi sangat kecewa dan bisa segera memikirkan strategi lain untuk bisa mencapainya.

Kalau kita terlalu terikat dengan penurunan berat badan 5 kilogram, kita akan stress ketika angka itu tidak tercapai, dan upaya kita akan mudah surut. We better focus on things under our control.

One Day I’ll Leave …

Bahwa suatu hari kita akan meninggalkan tempat, suasana, orang-orang, dan bahkan kehidupan di dunia ini adalah fakta kehidupan. Sooner or later, it would come. Setiap orang tahu dan menyadari fakta kehidupan ini.

You are where you need to be. Setiap orang berada pada tempat yang tepat. Tempat yang dimaksud di sini bisa saja tempat fisik yang ada di dunia ini, atau suatu tempat di luar dari apa yang dapat kita pahami dengan indera kita. Ketika hari ini saya berada di Kalimantan Tengah, akan tiba masanya saya harus beranjak dan meninggalkan tempat ini. One day, for certain, it would happen.

Maka menjadi penting menghargai setiap momen di mana pun kita berada. Harta yang diberikan secara merata kepada setiap orang adalah waktu, seberapa panjang atau seberapa singkat pun itu. Ketika hari ini saya masih di sini, saya ingin agar hari ini menjadi hari yang baik di tempat ini, dan saya akan berusaha agar kehadiran saya di tempat ini, pada hari ini, menjadi kehadiran yang membawa kebaikan, dan kehadiran di mana saya pun bisa mengalami kebaikan Tuhan, melalui pengalaman sepanjang hari ini.

Menentukan Tujuan ala Stoik

Berikut tiga strategi stoik dalam menentukan tujuan, sebagaimana disarikan dari artikel di laman Daily Stoic ini.

[1] Menentukan tujuan yang di bawah kendali kita.

Tugas utama seorang manusia dalam hidupnya, menurut Epictetus, adalah memahami apa yang di bawah kendalinya dan apa yang di luar kendalinya. Sebagai contoh, kesuksesan. Kesuksesan adalah tujuan banyak orang, dan banyak yang tidak menyadari bahwa kesuksesan adalah sesuatu yang tidak berada di bawah kendali kita sepenuhnya. Menjadikan kesuksesan sebagai tujuan hanya akan menimbulkan ketidakbahagiaan, karena ada begitu banyak faktor yang mempengaruhinya, faktor-faktor yang berada di luar kendali kita.

Lalu kalau bukan kesuksesan, apa tujuan yang seharusnya?

Yang lebih rasional adalah mengerahkan kemampuan terbaik saat mengerjakan sesuatu. Mark Manson, seorang penulis, pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah menargetkan bahwa bukunya akan sukses di pasaran. Yang menjadi tujuannya adalah berupaya menulis buku yang lebih baik dari buku yang sebelumnya, dengan segala upaya terbaik yang bisa dilakukan.

Itulah yang dimaksud dengan menentukan tujuan yang di bawah kendali kita.

Ilustrasi Menetapkan Tujuan | Sumber

[ 2 ] Tidak membuat terlalu banyak tujuan.

Tujuan yang terlalu banyak dalam satu waktu bisa melumpuhkan. Kita akan kesulitan dalam membuat prioritas. Melakukan 3 hal dengan nilai A jauh lebih baik dibandingkan dengan melakukan 5 hal dengan nilai B, atau bahkan C. Maka sangat penting untuk mengkaji sebuah tujuan yang sudah ditetapkan: apakah ia benar-benar penting?

Dengan ‘memangkas’ tujuan-tujuan yang tidak esensial dari daftar panjang tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kita akan hidup lebih seimbang dan dengan demikian memperbesar peluang kita untuk sukses dalam tujuan-tujuan yang lebih penting.

[ 3 ] Memastikan tujuan tersebut benar-benar tujuan kita sendiri.

Saya pernah menyinggung tentang hasrat mimetik di sebuah tulisan lama. Ide dasarnya adalah bahwa banyak dari keinginan kita muncul akibat meniru keinginan atau hasrat orang lain. Inilah yang perlu dicermati dalam menentukan tujuan: apakah tujuan ini benar-benar sesuatu yang penting bagi kita, atau hanya sesuatu yang mengikuti tujuan orang lain?

Juga, kita perlu mengarahkan tujuan bukan pada hal-hal eksternal, seperti tujuan untuk mendapatkan pengakuan atau penghargaan. Tujuan yang benar adalah tujuan untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu; sehingga kompetitornya bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri. Berkompetisi dengan diri sendiri yang dimaksud di sini adalah berusaha untuk terus memperbaiki diri dari dalam, layaknya seorang atlet yang terus berusaha memperbaiki rekor yang diciptakannya sendiri.


Saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan quote berikut,

Perihal Kematian

Membicarakan kematian memang tidak nyaman, akan tetapi memang tidak bisa dihindari. Kita semua tahu bahwa setiap kehidupan berpasangan dengan kematian, dan kematian adalah fakta yang pasti akan dialami semua orang. Berikut beberapa quotes tentang kematian dari buku Leo Tolstoy berjudul A Calendar of Wisdom yang ditulis untuk bacaan 7 November. Semoga quotes berikut bisa memperkaya perspektif kita tentang kematian itu sendiri. Dalam filsafat Stoikisme pun, bermeditasi tentang kematian (memento mori) merupakan suatu praktik yang dianjurkan untuk membantu kita ‘melihat’ apa yang benar-benar penting dalam hidup.

Anda bisa memandang kematian sebagai kematian, dan kematian sebagai kebangkitan. Saya mati sebelum saya dilahirkan, dan di saat kematian aku akan kembali pada keadaan yang sama.

George Lichtenberg

Saya tidak pernah menyesal dilahirkan dan menghabiskan sebagian hidupku di dunia ini, karena aku percaya hidupku bermanfaat. Saat akhirnya tiba, aku akan meninggalkan kehidupanku dengan cara yang sama seperti ketika aku meninggalkan penginapan yang bukan rumahku, karena aku menyadari bahwa kehidupanku di dunia ini sifatnya sementara dan kematian hanyalah suatu proses berpindah ke keadaan yang berbeda.

Marcus Tullius Cicero

Kalaupun keyakinanku bahwa jiwa akan tetap abadi adalah keliru, aku akan bahagia dengan kekeliruan itu, karena selama aku hidup di dunia tak ada seorangpun yang bisa mengambil keyakinan itu dariku, sesuatu yang memberiku ketenangan dan kepuasan yang luar biasa.

Marcus Tullius Cicero

Memaafkan Diri

Saya menemukan paragraf kecil yang powerful di buku The Comfort Book karya Matt Haig sore ini, dan berikut ini teksnya:

Imagine forgiving yourself completely. The goals you didn’t reach. The mistakes you made. Instead of locking those flaws inside to define and repeat yourself, imagine letting your past float through your present and away like air through a window, freshening a room. Imagine that.

Room, dari The Comfort Book

Paragraf ini menarik karena menegaskan bahwa, sepanjang kita bisa berdamai dengan kesalahan di masa lalu dan memaafkan diri kita atas kesalahan-kesalahan kita tersebut, kita tetap mempunyai pilihan untuk memulai lagi hidup baru; membuka lembaran baru setiap saat, entah usia berapa pun kita dan di fase apa pun kehidupan kita saat ini.

Ilustrasi Memaafkan Diri | Sumber

All it takes is our forgiving of ourselves, accepting our faults as part of our journey but are separate from our true self. 🥰

Kebahagiaan di Dalam Diri

Kebahagiaan seringkali kita anggap akan dicapai dari hal-hal di luar diri kita, seperti pasangan yang serasi, berat badan ideal, pekerjaan impian, kota tempat tinggal yang diidamkan, dan lain sebagainya. Kita berpikir bahwa kalau kita bisa mendapatkan hal-hal ini, maka kita akan bahagia. Model IF… THEN… (Jika saya membeli mobil baru, maka saya akan bahagia. Apabila saya mendapatkan pekerjaan dengan gaji 50 juta sebulan, saya akan bahagia, dan seterusnya …)

Psikolog Kennon Sheldon dan Sonja Lyubomirsky lalu menemukan prinsip “adaptasi hedonis”, dimana ketika kita misalnya menang undian dan mendapat hadiah, kita akan merasa senang untuk beberapa saat, akan tetapi kemudian kita akan terbiasa dengan keadaan tersebut, dan level kebahagiaan kita kembali ke dasar (baseline).

Maka jelas bahwa kebahagiaan tidak diperoleh dari hal-hal di luar diri kita.

Lalu bagaimana agar kita bisa lebih bahagia, saat ini?

  • Berdamai dengan segala kekurangan diri dan izinkan diri kita untuk menjadi tak sempurna.
  • Kalau kita tak sempurna, kita juga harus memaklumi bahwa orang lain juga tak sempurna. Harus ada ruang untuk ketidaksempurnaan (room for imperfection) bagi diri kita sendiri dan juga orang lain.
  • Lepaskan ekspektasi yang berlebihan tentang bagaimana perjalanan hidup kita seharusnya. Bagaimana hidup kita berjalan adalah suatu hal yang di luar kendali kita sepenuhnya, dan ada banyak sekali faktor yang mempengaruhinya.
  • Hentikan kebiasaan berandai-andai tentang masa lalu dan masa depan. Apresiasi dan syukurilah hal-hal baik dalam hidup kita saat ini.
  • Tetap coba hal-hal baru agar hidup kita tetap terasa menarik. Proses belajar hal baru bisa menimbulkan kebahagiaan yang lebih bertahan lama.

Saya percaya bahwa kebahagiaan adalah efek samping dari pilihan-pilihan kita setiap hari dan pada prinsipnya kebahagiaan adalah hadiah (gift); sehingga mengejar kebahagiaan sebagai sebuah tujuan akhir hanya akan menjauhkan kita dari kebahagiaan itu sendiri. Agreed? 😉

Click to listen highlighted text!