Abandoned, A Short Movie

The following video speaks beautifully of a loving Dad.

Abandoned Short Movie

Seeing God through the perspective of a loving Dad, us being a blind child, is really empowering. The close relationship—Dad and his child—gives context to the whole story, a story of true love.

Why a blind child? Not so much to the extent of being physically blind, but to the extent that as a child, at times, we may not see the whole of our Dad’s huge love and care and affection. We may not understand him entirely. Sometimes we even think we are abandoned by him. The same with our relationship with God. Many see only the absence of God during difficult times, and a few see Him even more clearly during the same dark moments in their lives.

What about you? Of two options dealing with difficult situations—seeing God as a loving and caring God or seeing yourself as being abandoned by Him—which one would you rather choose to put your trust in?

Does the movie help you see which one is actually true? 🙂

Pace e Bene.

Pace e Bene

Perihal Berdoa

Bagaimana kita sebagai Katolik sebaiknya berdoa?

Sebuah artikel di katolisitas.org telah membahas ini secara detail, dan di sini saya hanya menambahkan sedikit materi berupa video dari seorang frater Kapusin yang membuat channel YouTube bernama Mea Culpa.

Sekedar info, mea culpa sendiri (dibaca /ˌmejəˈkʊlpə/) merupakan versi bahasa Latin untuk menyatakan “Saya orang berdosa“.

Ini tentu saja merupakan pertanyaan yang sangat mendasar dan karena itu menjadi penting, karena jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan pola berdoa kita sehari-hari.

Semoga dari beberapa video berikut kita dapat mengambil 1 atau 2 hal yang baik untuk membantu kita berdoa dengan lebih baik pula.

Dan semoga kita tetap tekun berdoa setiap hari, katakanlah setidaknya menyediakan 1% dari waktu kita setiap hari — atau setara sekitar 15 menit, cukup untuk berdoa Rosario — untuk berkomunikasi dengan Tuhan sungguh dari hati kita.

Pace e Bene. 🙂 🕊

Bagaimana Kita Berdoa? Pesan Santo Agustinus
Belajar Berdoa
Masih Tentang Berdoa

Semoga berguna, and one more thing…

All or Nothing

“This is something that The Lord has taught me: The person who loses his life and forgets oneself and dies to self is happy. This is the truth.”

— Clare Theresa Crockett (1982 — 2016)

Sabtu, 16 April 2016. Gempa 7.8 skala Richter mengguncang Ekuador, sebuah negara di Amerika Selatan. Itu adalah hari yang menutup cerita kehidupan Clare Theresa Crockett, yang tewas tertimpa reruntuhan gedung sekolah tempat ia mengajar saat berusaha menyelamatkan 5 siswa. Jasadnya ditemukan dalam keadaan menggenggam gitar, alat musik yang biasa ia mainkan…


Tulisan ini adalah tentang cinta. Cinta yang murni dan sepenuhnya. Cinta yang paling sempurna, yang hanya datang dari Allah.

Tuhan mencintai setiap orang tanpa syarat. Ia memanggil semua orang untuk mengikuti jalanNya, melalui cara-caraNya yang indah, yang tak akan terselami oleh pikiran kita yang terbatas. Ia berkarya di dunia melalui tangan-tangan anak-anakNya: kita. Kita semua diberikan kesempatan yang sama untuk mewujudkan karya-karya Tuhan di dunia, sesederhana apa pun hal yang bisa kita lakukan.

Kisah hidup suster Clare Crockett dari Irlandia berikut mungkin bisa menjadi refleksi bagi kita perihal memenuhi panggilan hidup dengan cinta yang sepenuhnya, bahkan sampai ajal menjemputnya di usia yang masih sangat muda, 33 tahun.

Pelajaran hidup dari seorang Katolik seperti suster Clare tentu tidak eksklusif untuk orang Katolik saja. Ini adalah pesan universal tentang menemukan cinta dan kebahagiaan sejati.

Selanjutnya…

You Alone Are Enough

Ungkapan Bijak Maya Angelou

Kalimat bijaksana di atas sudah pernah saya baca sebelumnya, tapi rasanya akhir-akhir ini saya semakin menyadari bahwa kalimat ini sangat berkaitan dengan ego.

Ya, ego. Sesuatu yang tak akan pernah lepas dari isu kehidupan manusia.

Bagaimana penalarannya sehingga saya sampai pada kesimpulan itu?

Mari kita perhatikan kalimat kedua: You have nothing to prove to anybody. Saya sengaja memberikan penekanan pada kata prove. Dalam terjemahan bahasa Indonesianya kata ini bisa diartikan “membuktikan“. Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Yang dimaksudkan pada kalimat kedua itu adalah kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun untuk mendapatkan validasi. External validation. Kita tidak perlu membuktikan sesuatu jika motivasinya adalah agar kita dinilai sesuai dengan yang kita inginkan, agar suatu label (pada akhirnya) ditempelkan kepada kita, dan dengan itu kita berharap kualitas diri kita akhirnya tervalidasi.

And label, as we all know it, is just a label. It does not tell the whole story, and we are not our labels.

We are more than just a label.

Dan semua keinginan untuk mendapatkan validasi dari luar ini berakar dari ego. Ego adalah si “cerita di dalam kepala” yang selalu berusaha ingin membuat kita terlihat stand out, lebih dari yang lain. Dan jangan salah, ego juga bisa “menempatkan” diri kita seolah-olah menjadi “korban” dari suatu situasi. Pihak yang terzolimi pada kondisi-kondisi yang dirasanya tepat, dalam bentuk narasi-narasi negatif yang sangat toksik, dan semuanya beredar di kepala kita.

Truth be told, it is (just) the story crafted in our head.

Narasi-narasi ini — yang jika tidak dikenali dengan baik sebagai manifestasi ego — pada akhirnya menuntut kita untuk membuktikan sesuatu agar mendapat validasi dari luar.

Dan di titik inilah, kebijaksanaan dibutuhkan.

Sebagaimana ajaran filsafat Stoa, kita harus bisa mengaudit pikiran kita sendiri: melihat pemikiran kita sendiri memunculkan narasi-narasi sebagai reaksi atas berbagai pengalaman dalam hidup kita setiap hari, dan menyadari bahwa narasi-narasi itu adalah aksi kreatif dari ego kita sendiri. Kebenaran yang sesungguhnya seringkali tidak saling bersesuaian dengan narasi-narasi yang berkembang di kepala kita.

Dan sampai pada titik ini, kita akhirnya bisa “melihat” bagaimana benarnya kalimat bijak dari Maya Angelou di atas.

Kita tidak pernah membutuhkan validasi eksternal yang menjelaskan bagaimana kita yang sebenarnya. Kita adalah sebagaimana kita yang sebenar-benarnya. Jika kita memang berkarakter baik, kita adalah orang yang berkarakter baik, terlepas dari label apa pun yang dilekatkan pada kita.

Dan itu cukup. You are enough. You have nothing to prove to anybody.

It’s that simple.

Si ego — lah yang selalu berusaha membuat segalanya terlihat menjadi rumit.

😉