Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Kontemplasi, Kebiasaan Unik Para Tokoh Hebat

Satu sisi unik dari kebanyakan tokoh-tokoh hebat yang tidak banyak disebutkan dalam publikasi mengenai diri mereka adalah kontemplatif. Most of them, if not all, are involved in deep prayer and contemplation on a daily basis. Mereka memiliki kualitas untuk terhubung sangat erat dengan Tuhan; dan banyak dari antara mereka yang (bahkan) menghabiskan waktu berjam-jam berkontemplasi!

Sebut saja misalnya Albert Einstein, yang barangkali tidak secara umum dikenal sebagai orang yang religius, tetapi dalam berbagai kesempatan selalu mengungkapkan rasa takjub akan alam semesta dan sangat suka berefleksi tentang Sang Ilahi. Contoh lain misalnya Blaise Pascal, filsuf sekaligus ilmuwan Prancis yang sangat terkenal itu. Bahkan tulisannya yang sangat terkenal, “Pensées,” sebenarnya berisi hasil refleksi dan pengalaman religiusnya terkait iman dan ilmu pengetahuan. Lalu ada Bunda Teresa dari India, yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam berdoa sambil merenungkan kitab suci, atau Santa Teresa dari Ávila, Spanyol, yang sangat suka berdoa dan dikenal sangat lembut tetapi sangat disiplin dalam menjaga rutinitasnya untuk berdoa. Pemikiran-pemikirannya yang dituangkan dalam bukunya yang terkenal itu, “The Interior Castle” dinilai berkontribusi sangat positif memperkaya iman Katolik. Dan masih panjang deretan orang-orang hebat lainnya, seperti Gregor Mendel, imam Katolik pencetus ilmu genetika, Georges Lemaître, pencetus teori Big Bang, Athanasius Kircher, imam Jesuit yang dikenal memberi banyak sumbangan pemikiran tentang magnetisme, Roger Bacon, yang mengembangkan metode saintifik dan menyumbangkan banyak pemikiran tentang optik, dan seterusnya…

Sekilas berkontemplasi ini tampak seperti sebuah aktivitas pasif, dimana tidak ada pencapaian nyata yang bisa dilihat dan diukur menurut metriks produktivitas. Akan tetapi pada hakikatnya kontemplasi menunjukkan keaktifan untuk menerima Tuhan, membiarkan Tuhan berbicara dan berkarya melalui diri. To let God be God. Inilah sebuah kekuatan yang tidak banyak orang yang menyadarinya; dan inilah yang membedakan orang-orang besar dengan orang-orang biasa seperti kita-kita ini, hahaha… 😂

So, in regard to that, I would say that your greatness is not so much about your intelligence and practical abilities. Of course, those are important too, but the most important thing is actually your willingness to let God work through you. It’s through your humility that you allow yourself to be a channel for God’s work.

And it’s only possible if you put yourself in deep prayer and contemplation, as those great folks in history have proven time and again. After all, He is the only true source of all greatness, right? 😉

☘️ ☘️ ☘️

Take Things with A Grain of Salt

Barangkali salah satu nasihat kehidupan terbaik adalah “Always take things with a grain of salt“. “Take things with a grain of salt” atau “Take things with a pinch of salt” bermakna bahwa kita sebaiknya menyikapi sebuah pernyataan atau informasi dengan sikap skeptis dan kritis. Kita sebaiknya tidak mempercayai sebuah informasi sebagai sebuah kebenaran utuh begitu saja. Kita perlu mempertanyakan akurasi dari sebuah informasi, mempertimbangkan bahwa ada potensi bahwa bisa saja ada elemen informasi yang dibesar-besarkan dan ada bias di dalamnya. Dengan kata lain, diperlukan kehati-hatian dalam menyikapi informasi, yang barangkali tidak sepenuhnya akurat atau benar.

Hal ini bisa diaplikasikan saat kita:

Mengakses berita dari media. Berita di era ini tersaji dengan cepat dan dimutakhirkan dengan cepat pula. Efeknya adalah kita sebagai konsumen informasi menjadi sangat mudah untuk diombang-ambingkan oleh pelaporan yang bias. Kita bisa mengecek ulang sumber informasinya, melihat apakah saluran berita tersebut memiliki reputasi yang baik, dan sadar akan potensi bias dalam pelaporan berita.

Menggunakan media sosial. Aplikasi media sosial penuh dengan opini, rumor, dan informasi yang keliru. Apabila kita tidak cermat menyikapi sebuah informasi, dan langsung membagikan sebuah informasi tanpa bersikap kritis, maka informasi yang keliru itu bisa menyebar dengan sangat cepat. Perlu kita mengecek kredibilitas sumber informasi dan mengecek ulang fakta yang disampaikan. Berpikir kritis menjadi sangat esensial dalam menyikapi setiap potongan informasi di media sosial.

Berinteraksi secara personal dengan orang lain. Informasi yang sampai ke telinga kita bisa berupa sepotong gosip atau saran dari seorang teman. Semua bentuk informasi ini juga harus dicermati, karena bisa saja kebenarannya masih bisa dipertanyakan. Perspektif semua orang sangat tergantung dari pengalaman dan bias kognitif mereka, sehingga sangat perlu kita cermat mendengarkan, tetapi di saat yang sama mengevaluasi konteks dan motif tersembunyi dari apa yang mereka sampaikan.

Apa manfaat dari mindset skeptis seperti ini?

Pertama, kita akan terlatih berpikir kritis. Ini adalah sebuah kemampuan yang harus terus dilatih, terutama di era saat ini dimana informasi terlalu banyak. Menelan informasi secara utuh tanpa dicerna terlebih dulu bisa membawa dampak yang signifikan, bagi diri sendiri dan juga bagi komunitas dimana kita berada.

Kedua, kita akan terlindung dari misinformasi. Informasi keliru sangat banyak tersebar dewasa ini, sehingga bersikap skeptis secara berimbang akan melindungi kita dari kemungkinan menjadi ‘korban’ propaganda dan kekeliruan.

Ketiga, kita akan memiliki perspektif berimbang, karena kita meninjau informasi tidak hanya dari satu sisi saja. Kita bisa memahami nuansa dari sebuah informasi dan isu-isu kompleks yang terkandung di dalamnya, sehingga opini yang lahir dari benak kita adalah opini yang berdasarkan asupan informasi yang berimbang.

Lalu bagaimana caranya kita bisa memiliki mindset skeptis (baca: kritis) ini?

Kita bisa mengedukasi diri kita sendiri. Pernah mendengar ungkapan “Education is self-education“? Kita bisa mempelajari kekeliruan logika dan bias kognitif secara mandiri dari sumber-sumber yang kredibel untuk memahami bagaimana sebenarnya mekanisme otak kita memproses informasi, memahami potensi untuk bias yang ada dalam semua orang. Memahami ini akan sangat membantu kita mengenali argumen-argumen dan informasi yang keliru dalam kehidupan sehari-hari.

Mendiversifikasi sumber informasi juga adalah langkah yang baik. Tidak terpaku hanya pada satu sumber informasi saja, dan mencoba melihat sebuah informasi yang sama dari beragam sumber. Biasanya ini akan membantu kita ‘melihat’ sesuatu secara lebih utuh dan berimbang, sehingga bisa menyelamatkan kita dari bias konfirmasi, misalnya.

Lalu, bertanya secara kritis. Kita bisa mempertanyakan sumber informasi, tujuan informasi ini disebarkan, dan konteks sebuah informasi. Siapa yang menyediakan informasi tersebut, dan mengapa? Bukti-bukti pendukungnya apa saja? Kalau kita mau sedikit menggali lebih dalam sebuah informasi, kita akan lebih objektif memandang sebuah informasi dan selanjutnya bisa membangun opini yang lebih kaya dan ‘sehat’.

☘️ ☘️ ☘️

Dengan melatih diri untuk tetap kritis dalam menyikapi informasi, kiranya kita akan mampu mengarungi kompleksitas kehidupan modern saat ini dengan lebih percaya diri. Tak semua informasi yang beredar adalah informasi yang benar-benar kita butuhkan. Kalau kita bisa menelaah informasi apa saja yang kiranya bermanfaat bagi kita dan bagi komunitas dimana kita berada, kita bisa membangun perspektif yang lebih sehat, untuk kita sendiri dan setidak-tidaknya untuk lingkar terkecil yang paling dekat dengan kita. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan

Cara Melihat Orang Positif

Saya senang memperhatikan orang lain ketika mereka berinteraksi. Observing people is one of my things. Dari pengamatan saya, kiranya saya mempunyai beberapa indikasi praktis yang bisa diperhatikan dari orang lain saat mereka berinteraksi untuk mengetahui seberapa positif mereka. Tentu saja indikasi-indikasi ini bukan ukuran pasti, tetapi lebih menunjukkan kecenderungan; apakah ia lebih positif atau sebaliknya.

Berikut 5 indikasi praktis yang bisa diamati saat kita berinteraksi dengan orang lain:

Pertama, perhatikan bagaimana dia menyapa orang lain. Orang yang positif akan menunjukkan rasa hormat yang tidak dibuat-buat ketika ia menyapa. Pancaran mata dan sikap yang natural akan menunjukkan apakah seseorang sungguh menghormati orang yang ia sapa.

Kedua, isi pembicaraannya. Kecenderungan membicarakan urusan pribadi orang lain (gossiping) jelas-jelas menunjukkan bahwa orang tersebut cenderung tidak positif. Orang positif akan cenderung membicarakan gagasan-gagasan yang baginya menarik.

Ketiga, tidak mendominasi pembicaraan. Dengan rendah hati ia akan memberikan ruang (space) seluas-luasnya kepada orang lain untuk berbicara, dan ia akan dengan cermat memperhatikan. Memberikan “undivided attention” juga adalah penanda khas orang-orang positif.

Keempat, perilaku sopan. Akan sangat alami terdengar dari bibir mereka kata-kata seperti “terimakasih” , “maaf” , “permisi” , dan “tolong” . Mereka sangat memahami bahwa kata-kata ini memiliki daya untuk mengubah suasana pembicaraan menjadi lebih konstruktif dan ‘berbuah’.

Kelima, tidak merendahkan orang lain, baik dari perkataan maupun dari sikap fisik. Ada orang yang dari tatapannya saja terkesan merendahkan orang lain (condescending gaze), dan itu akan terbaca lawan bicara. Dampaknya adalah interaksi menjadi tidak nyaman dan pasti tidak menyenangkan.

☘️ ☘️ ☘️

Intinya adalah bahwa orang positif benar-benar menghormati orang lain, dan sikap hormat ini sudah menjadi bagian dari karakter mereka karena acap dilatih.

Kamu setuju dengan kelima indikasi ini? 😘

Menikmati Hari Ini

Bagaimana menikmati hari ini dengan cara-cara yang mudah dan sederhana?

Ini sebuah pertanyaan penting yang, bisa saja luput dari perhatian kita, apabila kita ‘terjebak’ dalam rutinitas sehari-hari. Ada tuntutan pekerjaan yang harus dituntaskan, misalnya, yang menyerap perhatian kita, sehingga membuat kita lupa untuk sedikit menikmati anugerah kehidupan ini. Dunia bergerak cepat, dan banyak hal yang bisa merampas waktu dan perhatian kita, apabila kita tidak benar-benar berkesadaran tentang apa yang sebenarnya mendasar dan penting.

Triknya ternyata terletak pada memberi perhatian pada hal-hal kecil, pada pilihan-pilihan praktis yang bisa diambil. Menikmati anugerah kehidupan adalah perihal menemukan kegembiraan dalam hal-hal sederhana yang seringkali terabaikan, seperti sejenak membiarkan diri menikmati sinar matahari, mendengarkan musik kesukaan, atau bahkan sekedar membiarkan diri untuk sesaat tidak melakukan apa pun yang produktif.

Dan berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan semua orang:

  1. Awali dengan bersyukur

Cara paling sederhana untuk ‘menyuntikkan’ atmosfer positif dalam hidup kita adalah dengan bersyukur. Segera setelah bangun tidur, kita bisa bersyukur atas kesehatan, atas kasur yang nyaman yang membantu kita terlelap sepanjang malam, atas udara segar yang masih bisa kita hirup. Praktik sederhana seperti ini (barangkali) tidak akan terlihat signifikan saat kita melakukannya, akan tetapi secara kumulatif ini akan berdampak: membantu kita berfokus pada apa yang sudah ada, dan bukan pada apa yang masih kurang.

  1. Nikmati ritual pagimu

Kita bisa bangun lebih awal secara teratur agar kita tidak terburu-buru mengerjakan rutinitas pagi. Terkadang memang kita tidak selalu bisa bangun pagi tepat waktu, karena barangkali malam harinya kita tidur lebih telat dari biasanya, atau bisa saja cuaca mempengaruhi kita untuk merebahkan diri sedikit lebih lama. Tetapi apa pun kondisinya, kita bisa mencoba untuk tetap tenang di awal hari, agar bisa sungguh-sungguh menikmati awal hari yang baru. Menikmati kopi dan sarapan pagi dengan terburu-buru tentu sangat tidak menyenangkan. Maka perlu kita mengkondisikan diri agar momen-momen kecil namun berharga seperti ini tidak terlewatkan begitu saja. Spend a few extra minutes in these things.

  1. Cobalah bergerak

Aktivitas fisik telah terbukti sangat berdampak memperbaiki mood kita. Ada penelitian yang telah membuktikan ini. Maka menyediakan waktu untuk bergerak, sesederhana berjalan kaki sekurang-kurangnya 15 menit dalam sehari, atau melakukan kegiatan olahraga yang kita suka, akan secara signifikan memperbaiki mood dan level energi kita. Juga, kegiatan fisik seperti ini bisa menjadi semacam ‘mental break‘ dari rutinitas.

  1. Terhubung dengan orang lain

Hubungan antar manusia sangat vital dalam menunjang kebahagiaan kita. Penelitian 80 tahunan lebih yang dilakukan universitas Harvard telah membuktikan bahwa prediktor kebahagiaan seseorang tidak terletak pada status sosial, kekayaan, atau popularitas, tetapi pada kualitas relasi yang dimiliki orang tersebut dengan orang-orang lain di sekitarnya.

  1. Lakukan hobimu

Sisihkan waktu setiap hari untuk mengerjakan hal yang menyenangkan bagi kita, entah itu membaca novel, mengurus taman, melukis, atau memainkan alat musik. Mengerjakan hal yang menyenangkan biasanya bisa membuat kita lupa waktu sejenak, dan ini akan menyegarkan otak kita juga, sehingga kondisi mental kita akan lebih siap untuk menjalankan tanggung jawab kita, entah itu terkait pekerjaan atau sekolah.

  1. Mempraktikkan mindfulness

Mindfulness adalah seni untuk berkesadaran. Ini bisa dilakukan dengan meditasi atau latihan pernafasan, atau sekedar memberikan sedikit waktu untuk mengamati sekeliling kita. Kita berusaha untuk benar-benar sadar saat ini, apa pun yang sedang kita alami dan lakukan. Penelitian pun telah memvalidasi bahwa praktik ini membantu mengurangi stress dan meningkatkan kepuasan hidup. Praktik ini juga membantu kita untuk hidup lebih lambat dan bisa lebih mengapresiasi hal-hal indah dan baik dalam hidup.

  1. Lakukan refleksi positif

Saya menyadari bahwa sebagai seorang introvert dengan tipe INFJ-A, kecenderungan untuk pesimis lebih besar daripada optimis. Terkadang setelah membaca fakta-fakta di sekitar, saya biasanya cenderung menjadi pesimis. Tetapi berupaya untuk melihat hal-hal baik dalam hidup tentu juga penting, dan saya menyadari bahwa saya pun harus berupaya ‘mengimbangi’ kecenderungan untuk pesimis dengan ‘menyuplai’ otak saya dengan hal-hal positif, sekecil dan sesederhana apa pun itu.

Ada orang yang suka melakukan ini dengan menjurnal. Ada juga yang lebih suka mengingat-ingat sesaat sebelum tidur. Intinya adalah mencoba menyadari bahwa walaupun hidup penuh dengan hal-hal yang di luar harapan, atau tidak menyenangkan, tetap ada hal-hal baik yang sangat pantas disyukuri. Dalam jangka panjang ini akan membantu kita juga untuk lebih berpengharapan dalam hidup. Kita bisa lebih positif menatap masa depan, walaupun tentu saja masa depan penuh ketidakpastian.

Rasanya kalau kita bisa menerapkan hal-hal sederhana ini dalam hidup, kita bisa mengalami sebuah kehidupan yang lebih bermakna. Kita perlu menyadari bahwa sukacita seringkali ditemukan bukan dalam hal-hal besar dan fantastis, tetapi justru dalam momen-momen kecil yang terselip dalam perjalanan kehidupan setiap hari. Semuanya tergantung kepada kita apakah kita bisa mengapreasiasi hal-hal kecil ini untuk akhirnya menjadi landasan kebahagiaan kita.

Mari kita menghargai saat ini. Hari ini. Mari membuat hari ini menyenangkan, walau banyak tantangan. Tersenyumlah. 😊 🌷

“Man in the Car” Paradox

One particular concept that stands out in Morgan Housel’s The Psychology of Money is the “Man in the Car Paradox.” This paradox encapsulates the complex relationship between wealth, perception, and happiness. Let’s delve into the nuances of this paradox, but first, what is it all about?

Imagine driving past a person in a luxury car, envying their apparent wealth and success. However, what you don’t see is the financial stress, debt, or dissatisfaction that may accompany the owner of the luxury car. Meanwhile, the person driving a modest vehicle may be content, financially secure, and free from the burden of excessive consumption. The individual inside the car may be biased, thinking of themselves as cool and successful, when in reality, as the observer, you might imagine yourself driving the car, considering how cool and successful you would be.

Some key insights from this paradox are as follows:

  1. Relative Wealth vs. Absolute Wealth: Housel highlights the distinction between relative wealth (comparing oneself to others) and absolute wealth (financial security and peace of mind). The “Man in the Car Paradox” underscores that true wealth lies in achieving financial independence and contentment, rather than merely outpacing others in material possessions.
  2. The Illusion of Happiness: Society often equates wealth with happiness, leading individuals to pursue materialistic goals relentlessly. However, the paradox reveals that external markers of success may not always correlate with genuine fulfillment. Studies suggest that happiness derived from possessions is fleeting and often overshadowed by financial insecurity or comparison with others.
  3. The Importance of Perspective: The paradox emphasizes the significance of perspective in shaping our attitudes towards wealth and well-being. By reframing our definition of success and embracing gratitude for what we have, we can cultivate a more fulfilling and sustainable approach to money management.

What can we do about it?

Understanding the “Man in the Car Paradox” can profoundly influence our approach to personal finance. Instead of chasing superficial symbols of success, focus on building financial resilience, pursuing meaningful experiences, and nurturing relationships. Adopting a mindset of abundance and gratitude can lead to greater satisfaction and contentment, irrespective of one’s financial status. And that’s what truly matters in the end.

Practical Things We Can Do:

  • Prioritize financial goals based on personal values and long-term aspirations.
  • Practice mindful spending and differentiate between wants and needs.
  • Cultivate gratitude through regular reflection on life’s blessings.
  • Invest in experiences, relationships, and personal development rather than material possessions.
  • Embrace frugality as a means to achieve financial freedom and flexibility. I should emphasize though that this lifestyle is not for everybody.

☘️ ☘️ ☘️

The paradox serves as a poignant reminder that wealth is not merely a measure of material possessions but encompasses aspects of financial security, contentment, and perspective. By redefining our relationship with money and prioritizing intrinsic values over extrinsic markers of success, we can navigate the complexities of personal finance with greater wisdom and fulfillment.

As Morgan Housel eloquently states, “Being rich is having money; being wealthy is having time.” True wealth is achievable if you choose to embrace financial prudence, gratitude, and a holistic approach to well-being. 🤩

Tentang Kausalitas Yang Keliru

Di pulau Hebrida, yang secara geografis berada di utara Skotlandia, konon kutu di kepala dianggap sesuatu yang harus dipelihara. Mereka berpendapat bahwa kalau induk kutu dibasmi, orang tersebut akan demam. Maka, untuk menyembuhkan demam, orang malah dengan sengaja menaruh induk kutu di kepala orang tersebut. Menurut mereka, setelah kutu dikembalikan ke orang tersebut, kondisinya akan membaik.

Di tempat lain, ada juga orang yang meyakini bahwa semakin banyak petugas pemadam yang terlibat dalam proses pemadaman api, maka kerusakan akibat kebakaran tersebut akan semakin besar. Kepala daerahnya bahkan sampai memotong anggaran petugas pemadam kebakaran akibat pola pikir ini.

Kita mungkin tersenyum membaca kedua cerita di atas, tetapi kekeliruan berpikir yang tersirat di dalamnyakausalitas palsu (false causality)sesungguhnya umum terjadi (bahkan) di kehidupan modern sekarang ini. Dari kedua cerita di atas kita tahu bahwa sebenarnya kutu meninggalkan inangnya yang demam karena permukaan kulitnya menjadi hangat, sehingga kutu tidak nyaman, dan bahwa jumlah petugas pemadam justru ditambah karena memang sebaran apinya membesar.

Contoh-contoh lainnya sangat mudah ditemukan dalam kehidupan terkini. Misalnya saat kita membaca artikel berjudulkan ‘Dampak Motivasi Karyawan Terhadap Meningkatnya Keuntungan Perusahaan’ . Kausalitas yang tersirat pada judul ini tentu bisa dipertanyakan. Apa memang demikian? Bisa jadi orang menjadi termotivasi justru karena perusahaan sedang dalam kondisi baik.

Atau saat orang-orang begitu mendewakan Alan Greenspan, kepala bank sentral Amerika pada periode 1987 – 2006. Mereka beranggapan bahwa kebijakan-kebijakan moneter Greenspan membuat ekonomi Amerika aman. Penjelasan yang lebih masuk akal sebenarnya adalah bahwa Alan Greenspan hanya beruntung bahwa ekonomi sedang berada dalam kondisi baik saat ia menjabat. Simbiosis Amerika dengan China saat itu memainkan peran penting dalam menjaga kestabilan ekonomi. Tentu berbeda dengan situasi sekarang.

Contoh lain: iklan shampoo. Dipromosikan dengan gencar bahwa shampoo tertentu (katakan saja merk Z) akan membuat rambut lebih kuat, dan secara statistik telah terbukti dengan angka-angka. Yang terjadi adalah bahwa orang-orang tersebut memakai shampoo merk Z justru karena di kemasannya tertulis “khusus untuk rambut tebal”.

Dari pola-pola yang berulang ini kita bisa ‘menangkap’ kekeliruan berpikir dalam beraneka hal lain, misalnya:

  • Jumlah buku yang ada di rumah siswa akan membuat skor akademiknya lebih bagus. Yang terjadi adalah orang tua yang terdidik menyediakan lebih banyak buku di rumahnya, dan gen orangtua yang terdidik dengan baik akan menurun kepada anaknya (yang kemungkinan besar akan meraih skor akademik yang baik).
  • Lamanya pasien dirawat di rumah sakit akan memberikan dampak buruk kepada pasien bersangkutan. Yang terjadi adalah bahwa pasien yang lebih cepat akan dipulangkan lebih cepat dari rumah sakit dan tidak ada yang salah dengan waktu perawatan yang lama untuk pasien yang memang membutuhkannya.
  • Berasumsi bahwa kucing hitam yang berpapasan dengan kita di jalan menjadi penyebab kesialan. Yang lebih masuk akal adalah bahwa pengalaman sial dan bertemu kucing hitam adalah dua hal yang terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, akan tetapi tidak terhubung sebab akibat.

Kesimpulannya adalah: korelasi tidak berarti kausalitas. Seringkali hubungan sebab akibat diterjemahkan terbalik (sebab menjadi akibat, seperti contoh di atas 👆). Dan terkadang dua kejadian yang terjadi bersamaan memang tidak berhubungan sama sekali.

Savoring Good Things

Generally speaking, we tend to pay attention to negative things—be they negative remarks from a coworker, negative news in the media, or negative comments on our social media accounts—over positive ones. This tendency is called negativity bias. The good news is that we can practice “taking in the good” to counteract this bias. By actively seeking out positive things, no matter how small, we are creating neural pathways in our brains, making it easier for us to feel more positive in the long term.

How to do it, then?

It is as simple as noticing small positive things in life: enjoying your morning coffee (or tea, for that matter), completing a small task well, spending time enjoying nature, or talking with someone you love.

While you’re experiencing these small positive moments, try to really immerse yourself in them. Let each moment fill your mind. Be fully conscious of it. This is an important step, as you’re creating new neural connections in your brain. These connections will be an important asset for you to maintain a more positive outlook from that moment on.

Lastly, repeat those two basic steps whenever you experience something good. Over time, these positive experiences will add up, and eventually, they will help lower our stress levels, making us more resilient in dealing with the slings and arrows of everyday life.

I hope this rings a bell for you and encourages you to become a little more positive TODAY. 😍

"Life is short. Smile while you still have teeth." — Mallory Hopkins

Notes on Self-Reflection

In the hustle and bustle of daily life, it’s easy to get caught up in the chaos and lose sight of ourselves. But amidst the noise, there lies a simple yet profound practice that has the power to transform our lives: self-reflection.

What is Self-Reflection?

Self-reflection is the art of looking inward, of taking a moment to pause and examine our thoughts, feelings, and actions. It’s about becoming aware of ourselves and our experiences, and gaining insight into who we are and what we want.

Why Self-Reflection Matters

Self-reflection is not just a fleeting moment of introspection; it’s a powerful tool for personal growth and development. By taking the time to reflect on our experiences, we can learn from our mistakes, celebrate our successes, and make better choices in the future.

Real-Life Examples

Imagine you had a disagreement with a friend. Instead of brushing it off or blaming the other person, take a moment to reflect on what happened. Ask yourself why you reacted the way you did, what triggered those emotions, and how you could handle similar situations differently in the future.

Or perhaps you’re feeling stuck in your career. Instead of resigning yourself to dissatisfaction, take some time to reflect on your strengths, passions, and values. Ask yourself what truly matters to you, and how you can align your career with your authentic self.

Quotes to Inspire

  1. “The journey into self-love and self-acceptance must begin with self-examination. Until you take the journey of self-reflection, it is almost impossible to grow or learn in life.” – Iyanla Vanzant
  2. “Self-reflection is the school of wisdom.” – Baltasar Gracián
  3. “In solitude, the mind gains strength and learns to lean upon itself.” – Laurence Sterne

How to Practice Self-Reflection

  1. Find a quiet space where you can be alone with your thoughts.
  2. Set aside dedicated time for reflection, whether it’s a few minutes each day or a longer period once a week.
  3. Ask yourself open-ended questions, such as “What am I feeling right now?” or “What can I learn from this experience?”
  4. Write down your thoughts and insights in a journal, or simply reflect silently.
  5. Be gentle with yourself. Self-reflection is not about judgment or criticism; it’s about understanding and growth.

Conclusion

Self-reflection is a journey, not a destination. It’s an ongoing practice that requires patience, compassion, and curiosity. So take a moment to pause, look inward, and discover the incredible potential that lies within you. As the great philosopher Socrates once said, “The unexamined life is not worth living.

Notes on Negativity Bias

Negativity bias refers to the tendency of humans to pay more attention to and give more weight to negative experiences, emotions, or information compared to positive ones. This bias can influence perceptions, decision-making, and overall well-being. Here’s how you can deal with it:

  1. Awareness: Recognize when negativity bias is at play. Awareness can help you understand why certain negative thoughts or events may have a stronger impact on you.
  2. Challenge Negative Thoughts: Question the validity of negative thoughts. Ask yourself if there’s evidence to support them, or if there might be alternative explanations.
  3. Practice Gratitude: Cultivate a habit of focusing on the positive aspects of your life. Regularly acknowledge and appreciate the good things, no matter how small they may seem.
  4. Mindfulness: Practice mindfulness to observe your thoughts and emotions without judgment. This can help you distance yourself from negative thoughts and prevent them from controlling your actions.
  5. Limit Exposure to Negativity: Be mindful of the media you consume and the company you keep. Limit exposure to negative news or individuals who constantly dwell on negative topics.
  6. Positive Affirmations: Use positive affirmations to counteract negative self-talk. Repeat affirmations that affirm your worth, abilities, and potential.
  7. Seek Social Support: Share your concerns and emotions with supportive friends, family members, or a therapist. Having a supportive network can provide perspective and help you reframe negative experiences.
  8. Practice Self-Compassion: Be kind to yourself during challenging times. Treat yourself with the same kindness and understanding that you would offer to a friend facing similar difficulties.

By incorporating these strategies into your daily life, you can mitigate the effects of negativity bias and cultivate a more balanced perspective on yourself and the world around you.

Positivity Ratio

The ratio often cited in psychological studies regarding the “positivity ratio” is 3:1. This means that it takes three positive thoughts, experiences, or inputs to counteract the effects of one negative feedback or thought. This ratio is based on research by psychologists such as Barbara Fredrickson, who have studied the impact of positive emotions on well-being. However, it’s essential to note that the exact ratio may vary for different individuals and contexts. The key is to focus on increasing positive experiences and emotions to counterbalance the influence of negativity.

Brain When Experiencing Negativity Bias

When the human brain encounters negative stimuli or experiences, several mechanisms come into play, contributing to the phenomenon known as negativity bias:

  1. Amygdala Response: The amygdala, a part of the brain involved in processing emotions, particularly fear and threat, responds more strongly to negative stimuli than positive or neutral ones. This heightened response to negativity helps prioritize survival and self-protection.
  2. Memory Formation: Negative events tend to be remembered more vividly and for longer periods compared to positive ones. This is partly due to the amygdala’s interaction with the hippocampus, which is involved in memory formation. The emotional intensity of negative experiences enhances memory consolidation.
  3. Attentional Bias: The brain directs more attention toward negative stimuli, leading individuals to notice and focus on potential threats or dangers in their environment. This selective attention to negativity helps individuals anticipate and respond to potential risks.
  4. Cognitive Processing: Negative information is often processed more deeply and extensively than positive information. The brain engages in rumination, dwelling on negative thoughts and experiences, which can amplify their impact and prolong their influence on mood and behavior.
  5. Evolutionary Adaptation: Negativity bias may have evolved as an adaptive mechanism to prioritize survival in ancestral environments where threats were more prevalent. In modern contexts, this bias persists, influencing perception, decision-making, and emotional responses.

Overall, the human brain’s response to negativity bias involves a complex interplay of neural processes, including emotional processing, memory formation, attentional mechanisms, and evolutionary influences. These mechanisms collectively contribute to the prioritization of negative information and experiences in cognition and behavior.

Brain Hack (? )

While there’s no simple “hack” to completely eliminate negativity bias, there are strategies you can employ to mitigate its effects:

  1. Cognitive Restructuring: Challenge negative thoughts by examining evidence for and against them. Replace irrational or overly negative thoughts with more balanced and realistic ones.
  2. Mindfulness Meditation: Practice mindfulness to observe negative thoughts and emotions without judgment. Mindfulness can help you develop awareness of your thought patterns and cultivate a more accepting and non-reactive attitude toward them.
  3. Gratitude Journaling: Regularly write down things you’re grateful for, even small ones. Focusing on gratitude can shift your attention away from negativity and cultivate a more positive outlook.
  4. Positive Visualization: Visualize positive outcomes and experiences to counteract negative anticipations or worries. This can help rewire your brain to focus more on positive possibilities.
  5. Physical Exercise: Engage in regular physical activity, which can boost mood and reduce stress, thereby counteracting the physiological effects of negativity bias.
  6. Social Support: Surround yourself with supportive friends and family members who can provide perspective and encouragement during difficult times.
  7. Limit Exposure to Negativity: Be mindful of the media you consume and the conversations you engage in. Limit exposure to negative news or individuals who tend to dwell on negative topics excessively.
  8. Practice Self-Compassion: Treat yourself with kindness and understanding, especially during challenging times. Acknowledge that everyone experiences negativity and setbacks, and be gentle with yourself when facing difficulties.

By incorporating these strategies into your daily life, you can gradually reduce the influence of negativity bias and cultivate a more balanced and resilient mindset.

Notes on Guilty Pleasure

Do you ever find yourself indulging in something you absolutely love, but feel a twinge of guilt about it? Welcome to the world of guilty pleasures! We all have them – those little secrets we keep to ourselves because we’re afraid of being judged. But what if I told you it’s okay to embrace them? Let’s dive into the world of guilty pleasures, explore why they bring us joy, and how we can navigate them without letting guilt take over.

Understanding Guilty Pleasures

Guilty pleasures are those activities, foods, or habits that bring us immense joy and satisfaction, yet come with a side of guilt or embarrassment. It could be devouring a pint of ice cream while binge-watching reality TV, or blasting cheesy pop music in your car when no one’s around. These pleasures often defy societal norms or expectations, leading us to keep them hidden from judgmental eyes.

Why Do We Feel Guilty?

Our brains play a significant role in the experience of guilty pleasures. When we indulge in something we perceive as indulgent or frivolous, our brain’s reward system lights up, releasing feel-good chemicals like dopamine. However, simultaneously, our brain’s prefrontal cortex, responsible for decision-making and judgment, might trigger feelings of guilt or shame due to societal norms or personal values.

Navigating Guilty Pleasures

  1. Acceptance: Acknowledge that it’s perfectly normal to have guilty pleasures. Embrace them as part of what makes you unique.
  2. Moderation: Enjoy your guilty pleasures in moderation to avoid any negative consequences on your health or well-being.
  3. Confide in Trusted Friends: Share your guilty pleasures with close friends or loved ones who won’t judge you. You might find that they share similar guilty pleasures!
  4. Self-Compassion: Practice self-compassion and remind yourself that it’s okay to indulge in things that bring you joy, as long as they don’t harm yourself or others.

Real-Life Examples

Imagine Sarah, a successful businesswoman, secretly enjoying binge-watching cheesy romantic comedies on weekends. Despite her high-powered job, these movies provide her with much-needed escapism and relaxation.

Or consider Alex, a fitness enthusiast, who occasionally indulges in a greasy burger and fries. He knows it’s not the healthiest choice, but it’s his guilty pleasure that allows him to unwind and enjoy life’s simple pleasures.

Quotes to Remember

As author Mae West once said, “Too much of a good thing can be wonderful.” So, why not embrace those guilty pleasures that bring a sprinkle of joy into our lives?

In the words of writer Paulo Coelho, “Guilty pleasures are a way of reminding ourselves that we’re human.” They remind us to embrace our imperfections and enjoy life’s simple pleasures without judgment.

Final Thoughts

In a world filled with expectations and pressures, guilty pleasures serve as a gentle reminder to prioritize our happiness and well-being. So, go ahead, indulge in that guilty pleasure, savor every moment, and remember – life’s too short to feel guilty about feeling good!

📄 Consider read the following as well:

  • https://www.calm.com/blog/guilty-pleasure
  • https://www.nytimes.com/2019/07/01/smarter-living/guilty-pleasures-no-such-thing.html
Click to listen highlighted text!