Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Menahan Diri dari Pembelian Impulsif

Saya sendiri merasakan bahwa kehadiran aplikasi toko online di perangkat genggam kita merupakan bentuk godaan tersendiriyang kalau kontrol diri kita tidak kuatakan membawa kita pada kebiasaan berbelanja secara impulsif. Bagaimana tidak, semuanya bisa dilakukan hanya dari perangkat genggam, mulai dari pemilihan barang sampai pada pembayarannya. All you need is to sit nicely, have a good internet connection, and bam! Purchase done. 🙂

Ilustrasi Belanja Impulsif | Sumber

Maka berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk bisa menangkal kecenderungan berbelanja barang secara impulsif:

(1) Menyadari bahwa rasa senang dari kegiatan berbelanja durasinya sangat pendek.

Kita umumnya merasa senang ketika bisa melakukan pembelian suatu barang yang baru, dan rasa senang yang diperoleh dari pembelian barang ini sebenarnya berdurasi sangat singkat. Untuk sesaat kita senang, tetapi tak lama kemudian kita akan terbiasa dengan barang yang baru tersebut. Inilah yang perlu selalu diingat setiap kali kita tergoda untuk melakukan pembelian barang: kita akan merasa senang untuk sesaat saja, dan lalu terbiasa.

(2) Pertimbangkan keuntungan memiliki lebih sedikit barang.

Selain memberikan rasa lega, memiliki lebih sedikit barang akan menghemat banyak waktu yang diperlukan untuk mengurusnya. Waktu yang tersedia ini selanjutnya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Melatih diri untuk memiliki sedikit barang juga akan melatih mental cukup, dimana kita benar-benar menyadari bahwa hidup kita masih bisa berlangsung dengan baik walau dengan sedikit barang. Happiness is not in the ownership of things.

(3) Uang cash yang tersedia di saku akan sangat membantu di masa sulit.

Ketika kita tidak mudah tergoda untuk menghabiskan uang dengan berbelanja secara impulsif, kita akan memiliki persediaan uang yang akan sangat membantu ketika berada di masa yang sulit, misalnya saat terjadi resesi. Ketika keadaan ekonomi sedang sulit, misalnya, memiliki cadangan uang di luar penghasilan reguler akan sangat banyak membantu, dan membuat kita lebih tenang melewatinya.

(4) Buat anggaran.

Anggaran merupakan alat pengelolaan keuangan yang sangat berguna, dan melatih diri untuk membuat anggaran secara teratur akan melatih diri kita untuk lebih cermat (thoughtful) dalam mengeluarkan uang. Anggaran ini perlu dibuat agar segala transaksi terjadi berdasarkan prioritas yang sudah ditetapkan dan agar kecenderungan untuk impulsif bisa diminimalkan. Intinya, kalau tidak ada anggaran, sebaiknya tidak dikeluarkan uang untuk itu.

(5) Mengabaikan iklan.

Iklan produk yang terselip di berbagai aplikasi di perangkat genggam memang dirancang sedemikian rupa untuk membuat kita impulsif. Iklan adalah sesuatu yang bisa memberikan informasi yang berguna, tetapi juga bisa menarik kita untuk berbelanja tanpa berpikir panjang. Inilah sebabnya ada baiknya kita melatih diri untuk bisa mengabaikan iklan. Dengan tidak memberikan perhatian pada iklan, kita bisa mengurangi peluang untuk tergoda melakukan pembelian impulsif.

(6) Jangan terjebak dalam mindset ‘mumpung ada’

Barang-barang tertentu pada waktu tertentu memang terkadang laris manis dan sulit didapat di pasar. Tetapi ada juga barang yang memang secara sengaja diproduksi sedikit di satu waktu tertentu agar terkesan langka dan sulit didapat, sehingga ketika ada konsumen yang menemukan barang itu, mereka akan tergoda untuk segera membeli, mumpung ada. Inilah satu kondisi dimana kita harus tetap selektif untuk melihat apakah suatu produk benar-benar sesuatu yang kita butuhkan. Kalau ternyata tidak benar-benar dibutuhkan, kita perlu menahan diri agar tidak tergoda dalam mindset ‘mumpung ada’ ini.

(7) Ketimbang membeli barang, pertimbangkan untuk membantu orang.

Dengan menahan diri dari pembelian impulsif, uang yang bisa kita kendalikan itu sebenarnya bisa dialokasikan kepada sesuatu yang lebih penting: membantu orang. Tentu ada saja orang di sekitar kita yang lebih membutuhkan sejumlah uang yang kita miliki, walaupun sedikit. Uang yang sedikit itu mungkin saja sangat berarti bagi mereka. Ini akan memberikan rasa senang yang jauh lebih berkesan dibandingkan dengan rasa senang dari pembelian impulsif.


Demikian tujuh cara untuk menangkal kecenderungan berbelanja barang secara impulsif. Tidak ada yang salah dengan berbelanja, yang penting adalah apa yang kita belanjakan itu benar-benar sesuatu yang bermanfaat. 😊


Tulisan ini disarikan dari artikel di laman blog Joshua Becker.

Soal Persepsi

Marcus Aurelius pernah menuliskan ini di jurnal pribadinyayang selanjutnya dikenal dengan Meditationsyang sebenarnya, menurut saya, menegaskan kembali prinsip dikotomi kendali yang diutarakan Epictetus,

Bukan hal atau kejadian di luar dirimu yang membuatmu terganggu, tapi nalarmu tentang hal atau kejadian itu, dan ketahuilah bahwa kamu bisa mengubah persepsimu saat itu juga.

Marcus Aurelius dalam Meditations

Franklin Delano Roosevelt adalah seorang pemimpin politik Amerika yang sangat tersohor. Polio yang dideritanya ketika berusia 39 tahunyang membuatnya harus menggunakan kursi rodajustru menjadi suatu elemen dalam kisah hidupnya yang membuatnya semakin dikenal sebagai pribadi yang kuat. Hal eksternal yang terjadi padanyapolio yang membuatnya menjadi cacattidak membuat karir dan kepribadiannya hancur, justru sebaliknya.

Bayangkan Anda berada dalam posisi Roosevelt. Karir politik Anda sedang cemerlang dan Anda sedang mempersiapkan diri (dan bahkan mengimpikan!) untuk menjadi presiden Amerika Serikat. Lalu, tiba-tiba kabar tak menyenangkan itu tiba. Dokter Anda mengatakan bahwa Anda terkena polio, hidup Anda tak akan pernah sama lagi dan harus menggunakan kursi roda sepanjang hidup Anda. Tentu Anda merasa down, bukan?

Franklin Delano Roosevelt juga pasti down ketika mendengar berita ini. Tetapi apa yang dia lakukan selanjutnya-lah yang membuat perbedaan. Dia menerima hal eksternal ini dan dia mengelola persepsinya tentang apa yang terjadi padanya, dan segera, dia menemukan kekuatan untuk tetap melanjutkan kehidupan. Fakta bahwa dia menjadi cacat tidak bisa dielakkan, harus diterima sebagai takdir. Dia melakukan amor fati. Penerimaan yang dia lakukan bukanlah pasrah, tetapi dia menjadikan fakta yang dialaminya sebagai sebuah bagian dari perjalanan kehidupan yang harus diterima, yang membuatnya sungguh sebagai pribadi seorang Franklin Delano Roosevelt.

Dan sejarah mencatatnya sebagai seorang pemimpin Amerika yang luar biasa.


Praktik Premeditatio Malorum Saya

Hai, teman-teman… Saya sebenarnya sudah pernah menulis tentang Premeditatio Malorum ini sebelumnya dan juga membahasnya di Buku Kecil Stoikisme yang telah saya publikasikan juga. Kali ini saya hanya ingin membagikan bagaimana saya menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari malam hari saat saya beranjak tidur.

Pertama, saya memvisualisasikan bahwa esok paginya saya bisa saja bangun dengan segar tanpa migrain, atau bisa jadi saya bangun pagi dalam keadaan migrain. Saya sering merasakan migrain ketika bangun pagi, sehingga akhirnya saya menjadikan ini sebagai bagian dari kemungkinan pengalaman yang bisa terjadi di pagi hari. Saya menjadi begitu bersyukur ketika pagi hari saya bisa bangun dengan segar tanpa migrain!

Kedua, ketika akan berangkat kerja, saya memvisualisasikan bahwa saya bisa saja terpeleset di perjalanan ketika menuju pabrik. Saya memang jarang sekali terjatuh dari sepeda motor, akan tetapi kemungkinan itu tetap ada, bukan? Ketika suatu saat misalnya hal itu terjadi, saya bisa segera menyadari bahwa itu merupakan pengalaman manusiawi yang bisa terjadi kepada semua pengendara sepeda motor, termasuk saya.

Ketiga, ketika akan berangkat bekerja saya juga memvisualisasikan bahwa orang-orang yang saya temui tidak akan bertindak sebagaimana yang saya harapkan. Ketika saya memberi senyuman, mereka tidak akan membalas dengan tersenyum kembali. Ketika saya berusaha untuk bersikap ramah kepada orang yang saya temui, orang-orang akan bersikap negatif dan toksik kepada saya. Ketika saya berniat untuk mengerjakan sesuatu, akan ada saja hal-hal yang mengganggu agenda saya. Dengan kata lain, saya mencoba untuk bersiap secara mental pada berbagai bentuk disrupsi atau gangguan, sehingga ketika hal-hal tersebut ternyata benar-benar terjadi, saya bisa tetap berdamai dengan keadaan. Dalam konteks ini saya berpendapat bahwa praktik amor fati (mencintai takdir) harus diawali dengan premeditatio malorum (visualisasi negatif).

Dan yang paling menarik adalah ketika ternyata kita mengalami berbagai hal positif sepanjang hari (ini juga bisa terjadi!): ketika orang-orang yang kita temui misalnya bersikap sangat ramah dan baik, ketika kita misalnya mendapatkan pengalaman yang berkesan ketika berkomunikasi dengan orang lain, ketika misalnya kita mendengar kabar gembira dari seorang teman, ketika misalnya kita memiliki banyak waktu untuk mengerjakan apa yang kita sukai tanpa banyak gangguan. Hari kita akan terasa begitu berkesan, dan kita akan sangat bersyukur karena kita juga menyadari bahwa hari kita bisa saja diisi dengan berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Inilah yang menurut saya menjadi nilai dan kekuatan dari praktik Premeditatio Malorum itu sendiri: kita menjadi terbuka pada kenyataan dengan segala kemungkinannya, dan kita bisa mengapresiasi dengan sungguh-sungguh ketika hal baik terjadi dalam hidup kita.

Sebagai penutup, mari kita simak sebuah quote dari Seneca berikut:

Perihal Kuasa

Bacaan singkat dari The Daily Stoic untuk 7 November berbicara perihal kekuasaan. Dua tokoh ditampilkan: Alexander Agung dan filsuf Diogenes dan bagaimana keduanya memandang kekuasaan (power).



Jangan berpegang pada reputasi, uang, atau posisimu, tetapi berpeganglah pada nalarmu untuk mengetahui apa yang di bawah kendali dan di luar kendalimu. Inilah yang akan membuatmu merdeka, yang akan membuatmu setara dengan orang-orang kaya dan berkuasa.

Epictetus dalam Discourses

Kekuatan atau kekuasaan dalam pandangan Stoikisme adalah kemampuan kita untuk menahan diri dari banyak keinginan, karena ini berarti kita mampu mengendalikan diri.

Alexander Agung memandang kekuasaan sebagai kemampuan untuk menaklukkan dunia; dan Diogenes justru memandang kekuasaan sebagai kemampuan untuk menahan diri dari ketamakan untuk menguasai dunia. Kemampuan untuk menahan diri dan membatasi keinginan inilah yang sebenarnya menjadi refleksi seberapa kuat dan berkuasanya seseorang; to conquer self.

Sebagaimana pernah diutarakan Publilius Syrus, “Ingin memiliki kerajaan? Kuasailah dirimu!”.

I Get To Love You

Hai, di hari Minggu pagi ini ketika sarapan saya secara tidak sengaja menemukan sebuah lagu indah yang dijadikan suara latar salah satu video di TikTok. Ternyata lagunya berjudul I Get To Love You yang dinyayikan oleh Ruelle, dan ternyata, ada kisah menarik di balik penulisan lagu ini. Silakan disimak kisah dan lagunya berikut ini.

Kisah di Balik Lagu “I Get To Love You”
Ruelle ~ I Get To Love You

Liriknya bisa disimak di sini: https://genius.com/Ruelle-i-get-to-love-you-lyrics

Grab your earphone now and enjoy this beautiful song! 😍

Kebahagiaan di Dalam Diri

Kebahagiaan seringkali kita anggap akan dicapai dari hal-hal di luar diri kita, seperti pasangan yang serasi, berat badan ideal, pekerjaan impian, kota tempat tinggal yang diidamkan, dan lain sebagainya. Kita berpikir bahwa kalau kita bisa mendapatkan hal-hal ini, maka kita akan bahagia. Model IF… THEN… (Jika saya membeli mobil baru, maka saya akan bahagia. Apabila saya mendapatkan pekerjaan dengan gaji 50 juta sebulan, saya akan bahagia, dan seterusnya …)

Psikolog Kennon Sheldon dan Sonja Lyubomirsky lalu menemukan prinsip “adaptasi hedonis”, dimana ketika kita misalnya menang undian dan mendapat hadiah, kita akan merasa senang untuk beberapa saat, akan tetapi kemudian kita akan terbiasa dengan keadaan tersebut, dan level kebahagiaan kita kembali ke dasar (baseline).

Maka jelas bahwa kebahagiaan tidak diperoleh dari hal-hal di luar diri kita.

Lalu bagaimana agar kita bisa lebih bahagia, saat ini?

  • Berdamai dengan segala kekurangan diri dan izinkan diri kita untuk menjadi tak sempurna.
  • Kalau kita tak sempurna, kita juga harus memaklumi bahwa orang lain juga tak sempurna. Harus ada ruang untuk ketidaksempurnaan (room for imperfection) bagi diri kita sendiri dan juga orang lain.
  • Lepaskan ekspektasi yang berlebihan tentang bagaimana perjalanan hidup kita seharusnya. Bagaimana hidup kita berjalan adalah suatu hal yang di luar kendali kita sepenuhnya, dan ada banyak sekali faktor yang mempengaruhinya.
  • Hentikan kebiasaan berandai-andai tentang masa lalu dan masa depan. Apresiasi dan syukurilah hal-hal baik dalam hidup kita saat ini.
  • Tetap coba hal-hal baru agar hidup kita tetap terasa menarik. Proses belajar hal baru bisa menimbulkan kebahagiaan yang lebih bertahan lama.

Saya percaya bahwa kebahagiaan adalah efek samping dari pilihan-pilihan kita setiap hari dan pada prinsipnya kebahagiaan adalah hadiah (gift); sehingga mengejar kebahagiaan sebagai sebuah tujuan akhir hanya akan menjauhkan kita dari kebahagiaan itu sendiri. Agreed? 😉

Mencintai Diri

Setiap pagi saya biasanya menatap diri di cermin sesaat sebelum berangkat bekerja. Saat melihat postur saya di cermin, yang paling sering terlintas di pikiran saya adalah ukuran perut saya, diikuti dengan kritik dalam pikiran, “Perut saya masih terlalu besar, seharusnya lebih langsing!”. Saya berpikir bahwa kalau perut saya lebih langsing, saya akan lebih keren, dan saya berpikir bahwa orang lain akan melihat saya keren.

Begitulah kita seringkali melihat diri kita. Kita adalah kritikus paling keras pada diri kita sendiri. Kita terlalu berfokus pada berbagai hal yang menurut kita adalah kekurangan. Kita berfokus pada hal-hal yang belum ada pada diri kita, entah itu sisi fisik maupun mental.


Tulisan singkat ini menjadi pengingat saya untuk diri sendiridan semoga bisa menjadi pengingat untuk kalian juga yang membacauntuk lebih ramah kepada diri sendiri. Let us be kind to ourselves. Kalau fokusnya mencari kekurangan, tentu ada-ada saja hal yang kurang pada diri setiap orang, akan tetapi apakah mengkritisi diri terus menerus akan membantu? Mengapa kita tidak mencoba mengapresiasi diridimulai dari mengapresiasi tubuh kita sendiri? Tubuh itulah yang bergerak membawa kita ke berbagai tempat. Tubuh yang sama juga merasa, mencium, dan mengalami berbagai pengalaman hidup. Mengapa kita tidak berterimakasih pada tubuh yang telah setia menemani kita, menjadi wadah bagi jiwa kita, seberapa pun tidak sempurnanya ia?

So, give a hug to yourself. It needs love. Our love. ❤️

Peluk Dirimu!

Olahraga: Just Do It!

Kita tidak diciptakan untuk berdiam saja seharian di dalam ruangan, duduk di depan layar TV atau komputer. Kita harus bergerak, kita wajib berolahraga. Beberapa dampak positifnya adalah kualitas tidur yang lebih baik dan imunitas tubuh yang meningkat. Di samping itu, orang yang tidak berolahraga lebih rentan mengalami depresi. Orang yang berolahraga secara teratur juga cenderung lebih percaya diri dan merasa nyaman dengan tubuhnya.

Manfaat Olahraga | Sumber

Profesor psikiatri Harvard, John Ratey, menyatakan bahwa,

Olahraga bisa diibaratkan seperti perawatan paling manjur seorang psikiater. Olahraga bisa mengatasi kecemasan, gangguan kepanikan, dan stres secara umum yang berhubungan erat dengan depresi. Aktivitas olahraga akan melepaskan neurotransmitter, norepinefrin, serotonin, dan dopamin, yang memiliki efek sangat mirip dengan obat-obat psikiatri terpenting; olahraga itu seperti mengkombinasikan sedikit Prozac dan Ritalin dan mengaplikasikannya di tempat yang tepat.

John Ratey M. D

Selain itu, ada juga penelitian yang dilakukan oleh Michael Babyak dan koleganya di Universitas Duke yang menemukan bahwa olahraga 3 kali seminggu, masing-masing 30 menit, bisa membantu pasien yang didiagnosa depresi berat (gangguan depresi mayor) dan bisa menjadi alternatif dari terapi dengan obat-obatan. Yang lebih menarik, penderita depresi berat yang mengkonsumsi obat anti depresan akan cenderung untuk mengalami depresi lagi ketika sesi terapi sudah selesai dibandingkan dengan pasien yang tidak hanya mengkonsumsi obat, tapi juga berolahraga; artinya olahraga menjadi satu faktor penting yang bisa membedakan keadaan dua orang yang sama-sama mengalami depresi berat.

Maka kesimpulan pentingnya bagi kita semua adalah: Kita butuh berolahraga. Kalau ini tidak terpenuhi, ada harga yang harus dibayar.

Seperti slogan Nike, tak usah berpikir panjang tentang olahraga. Pilih aktivitas olahraga yang paling cocok denganmu, dan just do it!

Keren itu Pilihan Sikap

Masih tentang definisi sukses yang sesungguhnya, yang saya ulas di tulisan sebelumnya

Alexander Agung, sebuah nama yang dikenal banyak orang. Bahkan namanya diabadikan menjadi sebuah kota, Alexandria, di Mesir, padahal orangnya hidup pada sekitar 2.300 tahun sebelumnya. Untuk sekilas, tampaknya Alexander Agung ini cukup sukses dan kerenkalau kita menggunakan metriks sukses dari apa yang terlihat di luar saja, seperti yang saya bicarakan sebelumnya.

Tetapi bagi orang Stoik, tak ada yang keren dari Alexander Agung. Memangnya kita tahu nama kita tetap dikenang setelah meninggal? Pilihan-pilihan tindakan yang diambil Alexander semasa hidupnya juga (sangat) tidak keren. Dia suka berperang, dia mudah marah, dia bahkan membunuh teman sendiri dalam suatu perkelahian dalam keadaan mabuk. Dia menjadi budak dari ambisinya sendiri. Lalu apa yang perlu dibanggakan dari itu?

Maka saran dari para filsuf Stoikisme adalah: berfokuslah menjadi versi terbaik dirimu saat ini; lakukan apa yang baik dan benar. Tidak perlu risau dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Yang bisa kita kendalikan adalah pilihan-pilihan tindakan saat ini.

Dalam Stoikisme, itulah keren yang sesungguhnya!

Relasi Toksik. Harus Bagaimana?

Ilustrasi Relasi Toksik

Di salah satu video saya di TikTok, ada seorang yang berkomentar dan bertanya bagaimana cara keluar dari sebuah relasi yang toksik. Sebagai disclaimer, saya bukanlah seorang expert dalam relasi manusia, akan tetapi inilah beberapa hal yang berhasil saya peroleh dari riset kecil di Google, dan semoga ini bisa menjadi masukan yang baik bagi orang-orang yang sedang berada dalam relasi yang toksik.

Apa ciri orang toksik?

Toxic people will leave you feeling bad: edgy, guilty, confused, frustrated, overextended.

Mengutip dari sini.

Orang yang toksik-atau dianggap toksik-adalah orang yang berkata dan berperilaku negatif, cenderung selalu ingin mengontrol orang lain, dan kasar. Orang seperti ini bisa membuat orang lain merasa bersalah, frustrasi, dan bingung.

Apakah orang toksik bisa berubah?


Bisa, APABILA mereka sungguh menyadarinya. Orang toksik harus bisa melihat diri mereka sendiri sebagai bagian dari masalah dalam sebuah hubungan, dan dari situ mereka bisa menemukan motivasi untuk mengubah dirinya.

Apakah orang toksik tahu bahwa mereka toksik?

Bisa, JIKA mereka memiliki kecerdasan emosional (emotional intelligence) yang memadai. Orang yang mengalami masalah dengan kecerdasan emosional akan sulit menyadari bahwa mereka menjadi sumber masalah dalam sebuah hubungan. Orang yang tidak sadar ini sangat sulit untuk berubah dan sebaiknya kita membatasi pergaulan dengan mereka.

Mengapa orang tetap bertahan dalam relasi yang toksik?

Kasus Johnny Depp vs Amber Heard yang tersebar luas di media beberapa waktu lalu merupakan contoh relasi yang toksik, dimana menurut kesaksian yang terbongkar di ruang sidang, Johnny Depp memilih untuk tetap bertahan dalam relasi itu selama beberapa tahun walaupun dia menyadari bahwa hubungannya dengan Amber Heard sangat toksik, bahkan sudah mengarah pada kekerasan fisik. Apa yang membuatnya memutuskan untuk bertahan? Ternyata dia percaya bahwa hubungan itu masih bisa diperbaiki.

Itulah salah satu alasan mengapa orang masih bertahan dalam relasi yang sudah jelas-jelas toksik. Mereka (masih) meyakini bahwa hubungan itu masih bisa membaik. They believe that somehow it would work.

Alasan kedua adalah bahwa orang takut kesepian. Orang yang berada dalam relasi tersebut sangat takut menjadi kesepian apabila relasi tersebut diakhiri. Selain itu, mereka juga takut tidak akan mendapatkan pasangan lagi apabila mereka mengakhiri hubungan tersebut, walaupun toksik. Mereka akhirnya memilih untuk menderita dalam hubungan ketimbang kehilangan pasangan.

Alasan ketiga adalah bahwa salah satu pihak merasa bahwa dirinya masih bisa memperbaiki perilaku pasangannya. Dia merasa bertanggungjawab atas perilaku pasangannya yang toksik. Ini sebenarnya masih berkaitan dengan alasan pertama tadi, dimana salah satu pihak merasa bahwa hubungan yang toksik tersebut masih bisa diperbaiki. Akan tetapi yang dilupakan orang adalah bahwa memperbaiki hubungan harus atas kesadaran dan kemauan dari kedua pihak, dan membaiknya hubungan ini tidak akan terjadi kalau hanya salah satu pihak saja yang merasa bertanggungjawab.

Bagaimana menghadapi orang toksik?

Langkah pertama tentu saja dengan membicarakan langsung dengan mereka, tetapi tentu harus dengan cermat juga, karena orang toksik bisa saja bereaksi negatif saat diajak bicara. Memaparkan bahwa kita tidak suka dengan perilaku mereka dan mengharapkan mereka berperilaku lebih baik bisa menunjukkan bahwa kita memberi perhatian kepada mereka, bahwa kita menyadari bahwa mereka bisa lebih baik. Akan tetapi harus tetap berhati-hati melakukan ini karena bisa saja ditanggapi berbeda.

Hubungan yang toksik sebenarnya bisa diubah ASALKAN kedua pihak sama-sama berkomitmen memperbaiki diri melalui lebih sering komunikasi secara terbuka, saling jujur, sama-sama melakukan refleksi diri, atau bahkan dengan melakukan terapi dan mencari bantuan tenaga profesional. Perbaikan hubungan dapat dicapai secara bersama dan kedua pihak memiliki niat yang sama untuk memperbaiki hubungan.

Menjaga jarak (berjauhan) untuk sesaat juga perlu dilakukan agar kedua pihak bisa melakukan refleksi diri secara terpisah, untuk kemudian bisa melihat kekurangan diri masing-masing dan melakukan perubahan di level personal; memperbaiki kecenderungan-kecenderungan yang selama ini mengganggu dalam relasi dengan orang lain.

Akan tetapi yang dilupakan orang adalah bahwa memperbaiki hubungan harus atas kesadaran dan kemauan dari kedua pihak, dan membaiknya hubungan ini tidak akan terjadi kalau hanya salah satu pihak saja yang merasa bertanggungjawab.

Menyadari bahwa relasi yang sehat harus dibangun oleh kedua pihak bersama-sama, dan kedua pihak sebenarnya sama-sama berpeluang untuk menjadi toksik, menjadi sesuatu yang sangat fundamental. Hubungan yang toksik seringkali bukan hanya salah salah satu pihak saja, akan tetapi kedua pihak berkontribusi di dalamnya; sehingga upaya perbaikan harus didasari oleh refleksi diri yang mendalam dari kedua pihak, dan keinginan yang kuat untuk memperbaiki relasi.

Ilustrasi Hubungan Yang Sehat

Bagaimana kalau segala upaya tidak berhasil juga?

Langkah terakhir adalah memutus hubungan secara permanen. Kedua pihak harus berusaha menyembuhkan diri masing-masing dengan cara masing-masing juga. Kedua pihak harus berusaha untuk tidak terus menerus tinggal di masa lalu, dan berusaha untuk melanjutkan kehidupan tanpa kehadiran pihak kedua. Barangkali dengan menyibukkan diri dengan kegiatan bermanfaat yang sama sekali baru, belum pernah dicoba, atau dengan berusaha mendapatkan dukungan dari keluarga atau sahabat terdekat atau dari komunitas. Toh, kalau memang sudah tidak bisa diubah lagi, tak ada manfaatnya menghabiskan waktu hidup bersama dengan orang yang pada akhirnya hanya akan membawa dampak merugikan dalam hidup kita. Dan perilaku orang terhadap kita adalah sesuatu yang di luar kendali kita, bukan? 😉

Semoga bermanfaat. 🙂

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!