Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Menjadi Stoik Bersama Gita Wirjawan

Ada video menarik tentang filsafat Stoikisme yang dibuat oleh pak Gita Wirjawan. Video ini menarik karena tidak hanya mengenalkan dan menjelaskan apa itu Stoikisme, tetapi juga menyertakan 12 latihan praktis-yang rasanya bisa dilakukan semua orang-untuk menjadi stoik dalam laku hidup sehari-hari. Silakan disimak.

Latihan Menjadi Stoik Bersama Gita Wirjawan

In addition to that, silakan juga menyimak video tentang Stoikisme yang dibuat oleh Gloria Parinussa berikut ini, siapa tahu ada satu atau dua hal yang sekiranya berguna.

Stoikisme Bersama Gloria Parinussa

Welcome, Ezio! 🤗

Akhirnya saya menjadi ayah bagi 3 orang putra. Pada hari Senin, 21 Februari 2022 lalu, anak ketiga saya lahir di sebuah rumah praktik bidan yang masih dekat dengan lokasi perkebunan tempat saya bekerja.

Dia lahir pukul 10:05 WIB pagi dengan berat badan 4.1 kilogram dan tinggi 54 cm. Kami memberinya nama EZIO ADRIEL PANDIANGAN.

Dan inilah foto pertamanya saat baru dilahirkan.

Welcome to the family, our beloved son. ❤️💖💖

Semoga anak kami ini bertumbuh sehat dan menjadi pribadi yang baik dan membawa sukacita bagi banyak orang. Much love for you, Ezio! 🤗💖

Soal Mentalitas Instan

Seorang guru Zen bernama Hakuin Ekaku pernah mengibaratkan proses perolehan keterampilan dengan menebang kayu besar. Kayu besar ini tentu saja tak akan langsung roboh dengan sekali ayunan kapak. Akan tetapi bila dilakukan berulang -ulang tanpa berhenti, akhirnya pohon itu akan rubuh juga. Konsistensi dan investasi waktu menjadi kuncinya.

Albert Einstein mulai intensif memikirkan dan merancang teori fisika sejak usia 16 tahun. Sepuluh tahun kemudian lahirlah teori relativitas yang melambungkan namanya. Dalam rentang waktu sekitar sepuluh tahun, ia ‘menenggelamkan diri’ mempelajari teori-teori fisika dan mengasah kemampuan kognitifnya hingga mampu melahirkan teori baru.


Tak ada keahlian tanpa konsistensi dan investasi waktu. Inilah kebenaran yang harus kita terima. Tak ada jalan pintas (shortcut) untuk sampai pada sebuah keahlian. Kecenderungan untuk menempuh jalan pintas justru semakin menjauhkan kita dari penguasaan terhadap suatu bidang tertentu, bidang apa pun itu.

Karena itu, apa pun yang sedang Anda tekuni saat ini, yakinlah bahwa Anda bisa menjadi ahli (expert) di bidang itu suatu saat, apabila Anda sungguh-sungguh konsisten dan rela menginvestasikan waktu hidup Anda untuk mengerjakan sambil terus mempelajarinya, hingga bidang itu benar-benar ‘menyatu’ dengan Anda.

Di saat banyak orang saat ini yang ingin cepat-cepat kaya, cepat-cepat viral, cepat-cepat terlihat sukses, cepat-cepat terkenal, mentalitas instan seperti itulah yang harus dihindari apabila kita ingin membuat karya yang sungguh bernilai.

Never stop learning. 💪💪

Salam,

Paulinus Pandiangan

Clayre si Pengejar Sempurna


Namanya Alasdair Clayre. Sekilas hidupnya tampak sempurna. Seorang mahasiswa hebat di universitas Oxford dan menjadi lulusan yang sangat dikenal. Memenangkan banyak penghargaan dan beasiswa. Tak hanya itu, ia juga berhasil menerbitkan novel, koleksi puisi, bahkan merekam 2 album yang sebagian isinya merupakan hasil komposisinya sendiri. Sesudah itu dia menulis dan memproduksi sendiri seri TV 12 bagian berjudul The Heart of The Dragon.

Alasdair Clayre

Seri TV ini bahkan sukses meraih Emmy Award, sebuah penghargaan bergengsi dalam dunia pertelevisian. Tragisnya, Clayre tidak hadir untuk menerima penghargaan ini. Di usia yang masih 48 tahun, suatu hari dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan dirinya ke kereta api yang tengah melaju kencang.

Reaksi umum kita mendengar kisah seperti ini biasanya adalah: Mengapa? Apa yang masih kurang?

Dari penuturan mantan istrinya, terkuak sebuah fakta menarik: Tak ada simbol sukses yang benar-benar memuaskan Clayre, entah itu penghargaan, penerbitan buku, atau peluncuran seri TV. Setiap kali meraih sesuatu, dia akan segera membuat standar capaian baru yang lebih tinggi lagi.

Pada akhirnya, Clayre tak pernah menganggap dirinya berhasil. Dia selalu merasa kurang sempurna. Setiap keberhasilan yang diraihnya selalu sangat cepat segera menjadi usang, dan tak pernah dianggapnya sebagai keberhasilan. Keinginan akut untuk menjadi sempurna membuatnya menolak keberhasilan itu sendiri.


Being a human is at the same time being imperfect. Just accept that simple yet profound fact.


Pointnya adalah: Impian yang baik haruslah didasarkan pada kenyataan dan kita juga harus bisa menghargai apa yang telah kita raih. Apa pun itu. Tidak perlu terlalu terobsesi dengan kesempurnaan, karena hanya akan ‘memenjarakan’ mental kita di dalam ilusi terus menerus. Dan ilusi jelas bukanlah kenyataan.

And you know what? Hidup dalam ilusi kesempurnaan tak akan membahagiakan.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Strategi Mengatasi Kecemasan

Sebagai filsafat praktis, Stoikisme menekankan betul penanganan keadaan mental (mental state). Kecemasan (anxiety) adalah salah satu bentuk penderitaan dalam pikiran yang bisa merusak kestabilan mental, bahkan melumpuhkan.

Karena itu kecemasan harus dihadapi dengan strategi yang baik, dan dalam video berikut Ryan Holiday membagikan 10 cara untuk menangani kecemasan. Silakan disimak video berikut.

Ryan Holiday — How the Stoics Dealt with Anxiety

Silakan menyimak videonya sampai akhir, dan coba direfleksikan apakah ke 10 cara yang disampaikan ada yang sangat relevan dengan pendekatan kamu sendiri. Enjoy!

Pribadi yang Mandiri

Selalu merasa tergantung pada orang lain jelas bukanlah hal yang baik. Ketergantungan membuat Anda lebih rentan terhadap berbagai emosi negatif—kekecewaan, frustrasi—yang merusak keseimbangan mental Anda. Menjadi mandiri itu penting.

Ilustrasi Kemandirian

Untuk membuat diri Anda tidak terlalu bergantung pada orang lain, Anda perlu memperluas cakupan keterampilan Anda. Dan Anda harus lebih percaya diri dengan pertimbangan Anda sendiri. Pahami bahwa kita cenderung melebih-lebihkan kemampuan orang lain dan kita cenderung meremehkan kemampuan sendiri (impostor syndrome). Sering kali orang lain juga sebenarnya berusaha keras untuk membuat dirinya tampak seolah-olah yakin dan memahami betul apa yang mereka lakukan. Anda harus mengimbangi ini dengan lebih mempercayai diri sendiri dibanding orang lain. Namun, penting diingat bahwa menjadi mandiri tidak berarti membebani diri Anda dengan detail-detail kecil yang tidak perlu. Anda harus bisa membedakan antara hal-hal kecil yang sebaiknya diserahkan kepada orang lain dan masalah yang lebih besar yang membutuhkan perhatian dan upaya Anda.

Menumbuhkan kepercayaan diri akan melahirkan kekuatan.

Kontestan Menarik di X Factor Indonesia 2021

Banner X Factor Indonesia

Saya sebenarnya tidak begitu aktif mengikuti ajang pencarian bakat X Factor Indonesia. Tetapi saya secara tidak sengaja menemukan klip video beberapa kontestan ajang ini di TikTok dan sejak itu saya merasa tertarik pada beberapa kontestan, atau istilah saya performer, yang menurut saya memiliki suara yang sangat menarik.

Dan kalau ditanya siapa kontestan favorit, agak sulit juga memilihnya karena rata-rata bagus semua.

Berikut daftar 5 orang kontestan yang menurutku menarik. Should we make it into top 3 will be another talk for another day, but for now here it is:

(1) Roby Gultom

Ini video penampilan perdananya yang bagi saya sangat mengesankan:

(2) Alvin Jonathan

Alvin Jonathan — Give Me Love

(3) Maysha Juan

Maysha Juan — Traitor

(4) Putu Maydea

Putu Maydea — Runnin

That’s it so far.

Who knows, dalam perjalanan selanjutnya tertarik dengan suara unik kontestan lain.

In the mean time, I’ll just enjoy the show… 🎙️ 🎼

Perihal Memulai Kembali

Anda mengalami hari yang kurang menyenangkan? Ketahuilah bahwa semua orang juga pernah mengalaminya. Anda merasa sudah menyimpang jauh dari prinsip dan keyakinan yang Anda pegang teguh? Ini juga pernah terjadi pada semua orang.

Bahkan Marcus Aurelius pun mengalaminya. Jabatan kaisar sekaligus filsuf Stoikisme tidak membuatnya imun terhadap pengalaman ini.

Barangkali pengalaman kurang menyenangkan Marcus Aurelius inilah yang melatarbelakanginya menuliskan kalimat berikut dalam jurnal pribadinya, Meditations:

“Your principles can’t be extinguished unless you snuff out the thoughts that feed them, for it’s continually in your power to reignite new ones. . . It’s possible to start living again! See things anew as you once did—that is how to restart life!”

Marcus Aurelius dalam Meditations


Dengan lugas dia menyatakan bahwa prinsip-prinsip hidup yang kita pegang teguh sebenarnya tidak hilang, kecuali kalau kita membuang jauh-jauh pikiran yang melandasi prinsip-prinsip tersebut, dan kita selalu bisa melahirkan pikiran-pikiran baru setiap saat.

Dengan kata lain, kita selalu bisa memulai kembali. Kita mampu melihat segala sesuatu kembali baru, jika kita memilih untuk berpikir dengan cara yang baru.

It’s OK to be messed up sometimes. Tidak ada orang yang hidupnya selalu tenteram dan teratur setiap saat. Selalu ada waktunya dimana kita menjadi sedikit ‘kacau’, dan walaupun demikian, kita selalu bisa kembali pada prinsip-prinsip hidup yang kita anut. Selalu ada pilihan untuk ‘restart‘.

Apa yang telah terjadi sudah menjadi masa lalu. Selalu ada pilihan bagi kita untuk memulai kembali lembaran baru dalam hidup.

Dan kita bahkan bisa memulainya saat ini juga. 🤗 😉

Perihal Vokasi dan Hambatan

Ada 2 cerita pendek yang menarik bagi saya pagi ini; satu tentang vokasi, yaitu menemukan hal yang membuat orang merasa benar-benar memenuhi panggilan hatinya, dan yang kedua tentang bagaimana hambatan justru bisa menjadi penunjuk jalan yang harus ditempuh dalam hidup.

Keduanya saya baca dari buku karya Robert Greene, The Daily Laws.

LANJUTKAN MEMBACA …

Rangkullah Keanehanmu!

Setiap orang seharusnya ada anehnya dari yang lain.

Tidak ada yang aneh dari kalimat di atas, karena memang setiap orang memiliki ketertarikan spesifik pada hal tertentu, yang pasti lain dari orang lainnya.

Simak kisah berikut.


V. S. Ramachandran, anak yang bertumbuh besar di Madras, India pada suatu hari di tahun 1950 menyadari bahwa dirinya berbeda.

Saat menyendiri dia sering menghabiskan waktu di pantai, dan dia memiliki ketertarikan khusus pada variasi-variasi kerang laut yang bertebaran di tepi pantai. Dia mengumpulkan kerang-kerang ini dan mempelajarinya dengan seksama.

Dari sekian banyak variasi kerang laut, dia terpesona pada Xenophora, yang memiliki kemampuan untuk menggunakan kembali cangkang yang sudah tidak dipakai untuk tujuan kamuflase, dan dia merasa anomali kerang jenis Xenophora ini begitu menyedot perhatiannya. Dia suka dengan anomali.

Ketertarikannya pada anomali seperti ini ternyata dibawanya terus sampai dewasa. Saat dewasa, ia mempelajari anomali pada sistem anatomi manusia, fenomena-fenomena aneh dalam ilmu kimia, dan berbagai hal-hal aneh lainnya. Dia memutuskan belajar ilmu kedokteran dan sukses menjadi seorang profesor psikologi visual di universitas California di San Diego.

Dalam penelusuran-penelusuran lanjutannya, dia menjadi begitu tergelitik dengan fenomena phantom limbs, dimana pasien tetap merasakan sakit pada bagian tubuh yang sudah diamputasi. Penelitiannya dalam hal ini akhirnya melahirkan penemuan baru dalam mekanisme kerja otak manusia dan cara-cara untuk membantu menghilangkan rasa sakit yang dialami pasien yang mengalami amputasi.

Dia lalu mendedikasikan hidupnya untuk menemukan, mempelajari, dan meneliti berbagai anomali dalam sistem syaraf manusia, menghasilkan temuan-temuan yang berguna bagi banyak orang.

Dan itu semua berawal dari ketertarikannya pada anomali kerang laut.


Tiap orang sebenarnya seperti V. S. Ramachandran, punya keanehan sendiri. Tiap orang tertarik pada hal khusus yang tidak akan bisa dipahami orang lain, dan saya percaya, ini rahmat.

Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah ‘merangkul’ ketertarikan khusus itu. Rangkullah anomalimu.

Tidak perlu merasa harus selalu diterima dalam segala hal. Menjadi versi asli dari diri sendiri dengan segala keanehannya adalah hal terbaik yang bisa kamu lakukan.

It’s OK to be different.

🤗

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!