Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

The Paradox of Choice

The Paradox of Choice by Barry Schwartz

The paradox of choice, popularized by psychologist Barry Schwartz in his book “The Paradox of Choice: Why More Is Less“, proposes a counterintuitive notion: having too many choices can actually be detrimental to our wellbeing and decision-making. Here’s the gist:

The Problem:

Imagine you’re buying jam. Back in the day, your local store might have offered 3-4 options. Today, you’re faced with dozens, each boasting unique flavors, ingredients, and claims. This abundance of choice might seem goodmore options to find your perfect match, right?

The Paradox:

However, studies show this abundance can backfire:

  • Analysis paralysis: With so many options, we spend more time analyzing, comparing, and doubting, leading to decision fatigue and inaction.
  • Regret and dissatisfaction: Choosing from many options increases the pressure of making the “right” decision, leading to fear of missing out (FOMO) and regret after choosing.
  • Lower satisfaction: We tend to compare our chosen option to all the “better” ones we didn’t choose, lowering our satisfaction with the actual choice.
Ali Abdaal on The Paradox of Choice

Think Maximizers vs. Satisficers:

Schwartz identifies two types of decision-makers:

  • Maximizers: Aim for the absolute “best” choice, constantly comparing and analyzing, leading to more stress and potential dissatisfaction.
  • Satisficers: Aim for a “good enough” choice that meets their needs, reducing analysis paralysis and fostering more contentment.

So, what to do?

  • Be mindful of your needs and values: Identify what truly matters in your decision, not just features or branding.
  • Set limits: Consider a smaller, curated selection of options based on your criteria.
  • Embrace satisficing: Don’t strive for the absolute perfect, aim for good enough and avoid decision fatigue.
  • Trust your gut: After research and consideration, go with your intuition and don’t dwell on what-ifs.
  • Remember, happiness is more than just choice: Focus on experiences, relationships, and personal growth for deeper fulfillment.

The paradox of choice reminds us that more isn’t always better. By making conscious choices and managing our decision-making process, we can navigate the abundance of options and find greater satisfaction in our lives.

Mark Manson on The Paradox of Choice

Tentang Psikologi Uang

Perkenalkan Ronald James Read. Dia orang yang sangat sederhana, seorang petugas kebersihan dan mekanik di stasiun pengisian bahan bakar kendaraan. Lahir di sebuah desa di Vermont, Amerika Serikat, dia adalah orang pertama dalam keluarganya yang mengecap bangku SMA. Kondisi ekonomi keluarganya membuatnya harus menumpang kendaraan orang lain setiap hari selama bersekolah SMA.

Di usia 38 tahun ia membeli rumah seharga 12 ribu dolar dengan 2 kamar tidur. Pada usia 50 ia menjadi duda dan tak menikah lagi setelahnya. Selama 25 tahun ia bekerja memperbaiki mobil dan menjadi petugas kebersihan selama 17 tahun di tempat lain. Sekilas tak banyak yang tampak luar biasa darinya.

Hingga pada 2014 ketika ia meninggal di usia 92 tahun.

LANJUTKAN MEMBACA…

Mengapa Fakta Tak Mengubah Perilaku?

Di situasi pandemi saat ini, saya tidak mengerti orang-orang yang masih saja percaya dengan teori-teori konspirasi seputar COVID-19 kendati fakta-fakta sudah terpampang di depan mata.

Saya pun tergelitik dengan (masih) banyaknya orang yang berada di barisan anti-vaxxer. Banyak yang tidak mau divaksin dengan berbagai alasan yang juga jelas-jelas tidak bisa diterima akal sehat.

Why?

Mengapa fakta tidak mengubah perilaku?

Satu aspek menarik pun saya temukan, dan itulah mengapa postingan ini akhirnya terbit.

LANJUTKAN MEMBACA …
Click to listen highlighted text!