Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Berkomitmen Tanpa ‘Terikat’ pada Hasil

Dalam dunia profesional kita familiar dengan kalimat, “Proses yang baik tidak akan mengkhianati hasil‘, suatu ungkapan yang dalam filsafat Stoikisme sebenarnya tidak realistis, karena kalimat tersebut menyiratkan bahwa hasil (outcome) adalah sesuatu yang berada dalam kendali kita. Dalam kenyataannya, ada banyak sekali faktor di luar kendali kita yang mempengaruhi sebuah hasil.

Maka saran terbaik dalam kaitan dengan mencapai tujuan adalah: berkomitmen tanpa ‘terikat’ pada hasil. Seringkali kita begitu terikat (attached) pada hasil; sehingga ketika tidak tercapai, kita menjadi kesal, tidak puas, kecewa. Andai kita bisa melatih diri untuk berkomitmen pada tindakan-tindakan dan pilihan-pilihan yang berada di bawah kendali kita, dan tidak terikat pada hasil yang dicapai, kita akan lebih positif menyikapi keadaan saat hasil yang diharapkan (ternyata) tidak tercapai.

Sebuah ilustrasi. Kita mengharapkan hasil berat badan kita turun 5 kilogram dalam sebulan. Yang berada di bawah kendali kita adalah mengkombinasikan antara olahraga secara teratur dengan mengatur pola makan sehingga kita bisa ‘membakar’ cadangan lemak tubuh, juga mengatur pola istirahat dengan baik. Entah kita mendapatkan penurunan berat badan 5 kilogram atau tidak dalam sebulan, itu urusan nanti. Yang terpenting adalah berfokus pada upaya yang dalam kendali kita. Berkomitmen pada upaya tanpa terikat dengan hasil (committed and unattached). Kalau ternyata penurunan berat badan kita masih belum mencapai 5 kilogram dalam sebulan, maka kita tidak akan menjadi sangat kecewa dan bisa segera memikirkan strategi lain untuk bisa mencapainya.

Kalau kita terlalu terikat dengan penurunan berat badan 5 kilogram, kita akan stress ketika angka itu tidak tercapai, dan upaya kita akan mudah surut. We better focus on things under our control.

Berpartisipasi Menahan Laju Pemanasan Global

Pemanasan global telah dan sedang terjadi, dan apa yang terpenting adalah bagaimana umat manusiaβ€”secara komunal atau individualβ€”mengambil bagian dalam upaya menahan laju pemanasan ini.

Pemanasan Global | Sumber

Untuk level individu, berikut enam bentuk partisipasi yang dapat dilakukan dalam upaya menahan laju pemanasan global, disarikan dari situs web Deutsche Welle:

  • Memilih alat transportasi rendah emisi, seperti bus, kereta api, atau sepeda. Menurut statistik, penggunaan kereta api untuk perjalanan antar kota di Eropa menghasilkan 90% lebih sedikit emisi karbon dibandingkan pesawat terbang.
  • Lebih memilih makanan yang bersumber tumbuhan daripada daging, karena industri peternakan dan susu dari hewan menyumbang sekitar 15% emisi gas rumah kaca secara global. Industri yang memproduksi daging dan susu berkaitan langsung dengan hilangnya keanekaragaman hayati, kontaminasi tanah, dan polusi udara.
  • Mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak ramah lingkungan. Aksi protes di media sosial, menyampaikan aspirasi kepada perwakilan lokal, atau ikut melakukan aksi protes merupakan bentuk tindakan kritisi kepada politisi atau pemerintah yang mengeluarkan kebijakan tak ramah lingkungan.
  • Memakai listrik dari sumber energi terbarukan, misalnya dengan listrik tenaga angin atau dengan menggunakan solar panel, yang akan memangkas sumber utama karbon perusak iklim. Untuk item ini, saya bisa sedikit lega bahwa listrik di tempat saya bekerja sudah menggunakan sumber energi hijau, yaitu biogas dari limbah pengolahan kelapa sawit, sehingga gas metana yang dihasilkan dari penguraian limbah tidak dibuang ke lingkungan, tetapi dimanfaatkan sebagai bahan bakar genset biogas.
  • Menghemat penggunaan energi, dengan mematikan lampu penerangan dan alat-alat elektronik saat tidak digunakan.
  • Menghindari membuang bahan makanan, karena hanya akan menjadi ‘beban’ bagi lingkungan, karena bahan makanan yang membusuk di tempat sampah akan melepaskan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang lebih berbahaya dari karbondioksida.

Semoga teman-teman yang membaca ini bisa ikut berpartisipasi dalam upaya menahan laju pemanasan global. Kita berada di bumi yang sama, sehingga menjaga bumi adalah tanggungjawab kita bersama. 🌎


Berikut video dari Deutsche Welle tentang kota hijau Barcelona yang berusaha mengatasi dampak pemanasan global:

Kota Hijau ala Barcelona

Semoga bermanfaat!

Kebahagiaan di Dalam Diri

Kebahagiaan seringkali kita anggap akan dicapai dari hal-hal di luar diri kita, seperti pasangan yang serasi, berat badan ideal, pekerjaan impian, kota tempat tinggal yang diidamkan, dan lain sebagainya. Kita berpikir bahwa kalau kita bisa mendapatkan hal-hal ini, maka kita akan bahagia. Model IF… THEN… (Jika saya membeli mobil baru, maka saya akan bahagia. Apabila saya mendapatkan pekerjaan dengan gaji 50 juta sebulan, saya akan bahagia, dan seterusnya …)

Psikolog Kennon Sheldon dan Sonja Lyubomirsky lalu menemukan prinsip “adaptasi hedonis”, dimana ketika kita misalnya menang undian dan mendapat hadiah, kita akan merasa senang untuk beberapa saat, akan tetapi kemudian kita akan terbiasa dengan keadaan tersebut, dan level kebahagiaan kita kembali ke dasar (baseline).

Maka jelas bahwa kebahagiaan tidak diperoleh dari hal-hal di luar diri kita.

Lalu bagaimana agar kita bisa lebih bahagia, saat ini?

  • Berdamai dengan segala kekurangan diri dan izinkan diri kita untuk menjadi tak sempurna.
  • Kalau kita tak sempurna, kita juga harus memaklumi bahwa orang lain juga tak sempurna. Harus ada ruang untuk ketidaksempurnaan (room for imperfection) bagi diri kita sendiri dan juga orang lain.
  • Lepaskan ekspektasi yang berlebihan tentang bagaimana perjalanan hidup kita seharusnya. Bagaimana hidup kita berjalan adalah suatu hal yang di luar kendali kita sepenuhnya, dan ada banyak sekali faktor yang mempengaruhinya.
  • Hentikan kebiasaan berandai-andai tentang masa lalu dan masa depan. Apresiasi dan syukurilah hal-hal baik dalam hidup kita saat ini.
  • Tetap coba hal-hal baru agar hidup kita tetap terasa menarik. Proses belajar hal baru bisa menimbulkan kebahagiaan yang lebih bertahan lama.

Saya percaya bahwa kebahagiaan adalah efek samping dari pilihan-pilihan kita setiap hari dan pada prinsipnya kebahagiaan adalah hadiah (gift); sehingga mengejar kebahagiaan sebagai sebuah tujuan akhir hanya akan menjauhkan kita dari kebahagiaan itu sendiri. Agreed? πŸ˜‰

Olahraga: Just Do It!

Kita tidak diciptakan untuk berdiam saja seharian di dalam ruangan, duduk di depan layar TV atau komputer. Kita harus bergerak, kita wajib berolahraga. Beberapa dampak positifnya adalah kualitas tidur yang lebih baik dan imunitas tubuh yang meningkat. Di samping itu, orang yang tidak berolahraga lebih rentan mengalami depresi. Orang yang berolahraga secara teratur juga cenderung lebih percaya diri dan merasa nyaman dengan tubuhnya.

Manfaat Olahraga | Sumber

Profesor psikiatri Harvard, John Ratey, menyatakan bahwa,

Olahraga bisa diibaratkan seperti perawatan paling manjur seorang psikiater. Olahraga bisa mengatasi kecemasan, gangguan kepanikan, dan stres secara umum yang berhubungan erat dengan depresi. Aktivitas olahraga akan melepaskan neurotransmitter, norepinefrin, serotonin, dan dopamin, yang memiliki efek sangat mirip dengan obat-obat psikiatri terpenting; olahraga itu seperti mengkombinasikan sedikit Prozac dan Ritalin dan mengaplikasikannya di tempat yang tepat.

John Ratey M. D

Selain itu, ada juga penelitian yang dilakukan oleh Michael Babyak dan koleganya di Universitas Duke yang menemukan bahwa olahraga 3 kali seminggu, masing-masing 30 menit, bisa membantu pasien yang didiagnosa depresi berat (gangguan depresi mayor) dan bisa menjadi alternatif dari terapi dengan obat-obatan. Yang lebih menarik, penderita depresi berat yang mengkonsumsi obat anti depresan akan cenderung untuk mengalami depresi lagi ketika sesi terapi sudah selesai dibandingkan dengan pasien yang tidak hanya mengkonsumsi obat, tapi juga berolahraga; artinya olahraga menjadi satu faktor penting yang bisa membedakan keadaan dua orang yang sama-sama mengalami depresi berat.

Maka kesimpulan pentingnya bagi kita semua adalah: Kita butuh berolahraga. Kalau ini tidak terpenuhi, ada harga yang harus dibayar.

Seperti slogan Nike, tak usah berpikir panjang tentang olahraga. Pilih aktivitas olahraga yang paling cocok denganmu, dan just do it!

Focus on What Matters

Berfokus pada hal yang penting terdengar sederhana dan sepertinya mudah untuk dilakukan: identifikasi hal apa saja yang penting, abaikan yang tak penting, isi waktu dengan hal-hal yang penting tadi, done. Easy peasy, huh?

But is that so?

Pikiran kita berkelana kesana kemari dan kita pada dasarnya sangat mudah terdistraksiβ€”sayangnya, pada hal-hal yang tak begitu penting. Dengan mudahnya (dan seringkali tanpa sadar) kita menghabiskan waktu menatap layar smartphone, dan mengabaikan apa yang ada di sekitarβ€”yang mungkin lebih layak mendapat perhatian kita.

Dan itu hanya satu contoh saja.

Perhatian kita terpecah setiap saat, dan kalau tidak dilatih untuk berfokus, pada akhirnya kita akan menjadi terbiasa untuk mudah terdistraksi. Maka sangat perlu, sebagai langkah awal, mencatat dalam pikiran kita apa saja yang berharga bagi kita.

Misalnya,

  • Berdoa dan beribadah;
  • Waktu bersama keluarga
  • Olahraga;
  • Menulis blog;
  • Merekam podcast;
  • Membaca buku; dan hal-hal lainnya (sesuai preferensi pribadi).

Dengan benar-benar mendefinisikan apa saja yang berharga bagi kita, akan lebih mudah untuk melatih pikiran untuk mengerahkan perhatian pada hal-hal di dalam daftar tadi. Membuat daftar seperti ini (secara fisik maupun mental) akan membantu membentuk pembatas mental dalam pikiran kita, sehingga kita akan bisa secara refleks bereaksi terhadap hal-hal esensial yang penting bagi kita dan hal-hal yang tidak penting.

Selanjutnya tentu saja mengalokasikan waktu khusus untuk hal-hal yang ada dalam daftar tadi, karena hal yang penting tentu harus mendapat alokasi waktu yang sesuai pula. Kita harus belajar mengalokasikan waktu untuk hal-hal yang berharga tadi, seperti koneksi dengan keluarga, berdoa, melakukan hobi, dan sebagainya. Orang-orang yang sudah sangat terlatih bahkan mempunyai jam-jam emas (sacred hours)β€”waktu yang mereka alokasikan khusus untuk suatu kegiatan tanpa distraksiβ€”dan terbukti memang dengan itu mereka berhasil membuat suatu karya. So it works.

Ilustrasi Terdistraksi | Sumber

Barangkali kita pun bisa mencoba hal yang sama, or have you?

Tips Sederhana untuk Hidup Sehat

Hai guys! πŸ€—

Berikut beberapa tips sederhana untuk hidup lebih sehat yang saya peroleh dari salah satu video TikTok.

  • Pertama, gerakkan tubuh sekurang-kurangnya 10 sampai 15 menit setiap hari. Ini bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau berlari santai, misalnya.
  • Kedua, saat makan, awali dengan yang berserat dulu, seperti sayuran.
  • Ketiga, manisan harus dikonsumsi setelah makanan utama. Lebih bagus lagi kalau bisa mengurangi konsumsi gula ke level minimum.
  • Keempat, tidur cukup. Orang dewasa biasanya membutuhkan sekitar 7 hingga 8 jam tidur pada malam hari. Upayakan mendapatkan jam tidur yang cukup agar lebih prima berkegiatan di hari berikutnya.
Ilustrasi Tubuh Sehat

Mari kita coba, teman-teman. Intinya menjaga asupan makanan (tidak terlalu banyak mengkonsumsi minyak, lemak, dan gula), istirahat cukup, dan aktif menggerakkan tubuh setiap hari.

Semoga kita semua sehat ya. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan

Aksi Memberi dan Kesehatan

Saya kita kita semua setuju bahwa kesehatan adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan atau upayakan. Kita bisa berolahraga secara reguler, mengatur pola makan dan istirahat dengan baik, dan tindakan-tindakan ini, saya percaya, bisa sangat membantu kita untuk sehat.

Akan tetapi, kemungkinan untuk menjadi sakit tetap ada, kendati dengan sederet upaya di atas.

Artinya, kesehatan pada dasarnya adalah rahmat; pemberian dari Yang Kuasa bagi kita. Tindakan-tindakan kita bisa membantu terciptanya kondisi sehat, akan tetapi pada akhirnya keadaan sehat itu sendiri adalah rahmat. It’s a gift on its own.

Upaya menjaga kesehatan biasanya selalu diasosiasikan dengan olahraga teratur dan pengaturan pola makan dan istirahat. Semuanya tentang fisik.

Tetapi kesehatan (ternyata) tidak melulu soal fisik.

Ilustrasi Memberi (Giving)

Kebiasaan memberi dengan ikhlas (generous giving) ternyata juga bisa memberikan dampak yang baik bagi kesehatan kita. Orang yang dengan ikhlas berdonasi atau memberikan bantuan kepada orang lain dilaporkan beberapa penelitian mengalami perbaikan pada kualitas kesehatannya. Orang-orang seperti ini pada umumnya memiliki tekanan darah yang lebih stabil, memiliki kepercayaan diri yang baik, tidak rentan mengalami depresi, dan lebih merasa puas dengan hidupnya, juga tentu lebih bahagia.

Saya juga pernah membaca sebuah studi yang membandingkan kelompok orang yang rela memberikan uangnya dengan orang yang menyimpan semua uangnya untuk diri sendiri. Yang menarik adalah, kendati orang yang menyimpan uang untuk diri sendiri pada akhirnya memiliki lebih banyak uang (tentu saja!), akan tetapi cenderung kurang bahagia dan lebih rentan terserang penyakit dibandingkan orang-orang yang dengan rela memberikan sebagian uangnya kepada orang lain. Tampaknya memang kita dirancang sebagai makhluk yang harus berbagi untuk bisa hidup dengan sehat dan bahagia.

Saya jadi teringat dengan kata-kata Santo Fransiskus dari Assisi yang sangat terkenal itu,

Memberi dengan ikhlas pada dasarnya perlu kita lakukan untuk diri sendiri, karena hanya dengan begitulah kita akan menerima pula kebaikan yang ditimbulkannya. Salah satunya, tentu saja, dampaknya bagi kesehatan kita. πŸ˜‰

Memberi juga merupakan ekspresi dari rasa syukur. Giving is gratitude in action.

Saya kira relasi antara aksi memberi dengan tulus (dan dengan intensi untuk membantu orang lain) dan dampak baiknya bagi kesehatan kita akhirnya menjadi jelas. Dengan memberi aku menerima, sebagaimana ungkapan terkenal Santo Fransiskus dari Assisi.

Akan tetapi, penekanan dari aksi memberi tetap harus pada koridor untuk membantu orang lain. Membaiknya kesehatan dari aksi memberi hanyalah efek samping, dan bukan tujuan.

Memberi secara berlebihan hingga mengorbankan waktu untuk diri sendiri justru menyebabkan kelelahan yang malah tidak menyehatkan. Tetap harus ada keseimbangan antara waktu untuk diri sendiri dengan waktu yang didedikasikan membantu orang lain. The art is in the balance.

Untuk bacaan yang lebih detail, berikut 3 artikel yang membahas hal ini:

  1. 5 Ways Giving Is Good for Your Health di alamat ini: https://www.besthealthmag.ca/list/5-ways-giving-is-good-for-your-health/
  2. 5 Ways Giving Is Good for You di alamat ini: https://greatergood.berkeley.edu/article/item/5_ways_giving_is_good_for_you
  3. Why Giving is Good For Your Health di alamat ini: https://www.heifer.org/blog/why-giving-is-good-for-your-health-copy.html

Semoga postingan singkat ini berguna! β€πŸ’–πŸ€©

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jumlah Kalori Berjalan Kaki

Beberapa hari terakhir saya mencoba ‘bermain-main’ dengan target 10 ribu langkah per hari. Aplikasi Mi Health di perangkat genggam saya menyediakan fasilitas untuk menghitung jumlah langkah.

Ilustrasi Berjalan Kaki

Sayang sekali perhitungan kalori di aplikasi ini nampaknya sedikit keliru (misleading). Sebagai contoh, untuk pagi ini saya berhasil mencatatkan 9,194 langkah dengan jumlah kalori terbakar 368 kcal. Satuan kalori inilah yang meragukan.

Saya lalu melakukan pencarian di mesin pencari Google, dan menemukan beberapa kalkulator kalori yang bisa menghitung kalori terbakar dari jumlah langkah, tinggi dan berat badan kita. Salah satunya di alamat ini. Ada versi yang lebih praktis lagi di alamat ini, dimana kita tinggal meng-input data-data usia, berat dan tinggi badan, kecepatan berjalan, serta jenis kelamin.

Dari cross-check di situs-situs kalkulator kalori, angka kalori untuk 9,194 langkah sekitar 367 kalori. Cukup dekat dengan angka 368 yang ditampilkan di aplikasi Mi Health saya. Benarlah dugaan awal saya bahwa satuannya keliru.

Instead of kcal, it should be cal.

Dengan hitungan sederhana ini, bisa dibuat faktor konversi sederhana bahwa untuk tiap menit berjalan kaki dengan kecepatan saya, kalori yang terbakar sekitar 5 cal. πŸšΆβ€β™€οΈ

Anyway, salam sehat untuk kita semua! πŸ’•πŸ˜

Regards,

Paulinus Pandiangan

Akhirnya Tuntas Vaksinasi!

Vaksin CoronaVac

Akhirnya vaksinasi dosis kedua saya tuntas pada 3 Agustus 2021 kemarin. πŸ‘

Rasanya cukup menyenangkan bisa mengikuti program vaksinasi ini dengan baik. Semua proses berjalan dengan lancar, dan mengambil bagian dalam program memerangi pandemi COVID-19 ini rasanya cukup membahagiakan. It’s happy to participate in flattening the curve. 🀩

Saya juga senang mendapatkan pelayanan yang baik dari para tenaga kesehatan yang terlibat. Saya berdoa semoga mereka semua diberikan berkat kesehatan dan umur panjang.

Salam sehat selalu,

Paulinus Pandiangan

Olahraga Kala Pandemi

Untuk tujuan menjaga kebugaran tubuh di masa pandemi, saya membuat jadwal olahraga yang dibagi dalam 3 rutin: pagi, siang, dan malam.

Berikut tata urutan kegiatannya:

Berikut kegiatan rutin pagi:

  • Jalan kaki santai 30 menit;
  • Push-up sebanyak 20 kali, dibagi dalam 2 set, masing-masing 10 kali. Tiap set diselangi break selama 5 menit; dan
  • Plank reguler sebanyak 2 set, masing-masing 50 detik, break antar set selama 2 menit.

Begini plank reguler yang saya maksud:

Berikut kegiatan rutin siang:

  • Jalan kaki santai 30 menit;
  • Push up 20 kali, dibagi dalam 2 set, masing-masing 10 kali. Tiap set diselangi break selama 5 menit; dan
  • Plank reguler sebanyak 2 set, masing-masing 50 detik, break antar set selama 2 menit.

Berikut kegiatan rutin malam:

  • Jalan kaki santai 30 menit;
  • Push up 20 kali, dibagi dalam 2 set, masing-masing 10 kali. Tiap set diselangi break selama 5 menit; dan
  • Side plank sebanyak 2 set, masing-masing 30 detik, tanpa break.

Begini side plank yang saya maksud:

By the way, the model above is definitely not me. 🀭

Β 


Saya berharap dengan membaca postingan ini kamu juga terinspirasi untuk melakukan olahraga di rumah untuk menjaga kesehatanmu. Di tengah pandemi saat ini menjaga kebugaran tubuh menjadi semakin perlu.

Silakan membuat rutin olahraga sendiri yang sesuai dengan style kamu, dan harus diingat bahwa dibutuhkan kesabaran untuk tekun berolahraga untuk bisa mencapai hasil yang diharapkan. Tak ada hasil yang instan. It takes time, and so patience is needed.

Tidak perlu berekspektasi berlebihan. Yang jauh lebih penting adalah menjaga tubuhmu tetap fit. Tidak perlu pula terlalu terpaku pada indikator-indikator pencapaian dalam olahraga. Just do it your way.

Semoga postingan ini berguna. 🀩

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!