Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Be Light, Be Free

Saya rasa kita semua, sadar atau tidak, pernah membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Menurut saya hal ini karena membandingkan (comparing) itu sendiri merupakan salah satu kemampuan bawaan otak kita. It’s an innate capacity. Memang itu sudah menjadi salah satu kemampuan otak kita: membuat perbandingan. Untuk persoalan-persoalan analitis, kemampuan ini sangat diperlukan, dan seringkali membantu untuk mendapatkan insight, yang barangkali akan berguna dalam merumuskan solusi-solusi.

Masalah akan timbul saat kemampuan ini terbawa dalam ranah kehidupan pribadi, di saat kita (justru) membandingkan diri dengan orang lain. Kecenderungan membandingkan diri ini bisa menjadi kebiasaan yang tidak sehat, karena sama saja dengan merongrong diri kita sendiri dari dalam. Me against myself.

Keadaan tiap orang akan selalu berbeda. My circumstances would be different from others. Standar orang pun akan berbeda antara satu dengan yang lain. Kalau saya misalnya sudah happy dengan telur dadar sebagai pendamping nasi hangat, orang lain mungkin baru akan happy kalau bisa makan ikan salmon. Berbeda sekali, bukan?

Pun dalam aspek-aspek yang lain.

Maka pendapat saya dalam hal ini adalah: don’t tie yourself to the standard of others. Jangan pakai standar orang lain untuk bisa merasa nyaman dan happy dengan dirimu.

Ini mungkin terdengar seperti sebuah pesan yang konyol, tapi dengan penetrasi media sosial sekarang ini, kebiasaan untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain menjadi semakin dipermudah. Bagaimana tidak, semua visual di media sosial akan menyeret kita ke arah sana, tentu saja jika kita mengizinkan. Kehidupan orang lain yang terlihat cemerlang di media sosial akan menjadi pemicu kita untuk lalu melihat kehidupan kita sendiri, dan kalau tidak bijaksana menyikapinya, kita akan begitu mudahnya terseret ke dalam lembah komparasi, dimana kehidupan orang lain terlihat begitu indah dan sempurna, kecuali hidup kita. Lalu semakin bahaya tatkala selanjutnya kita merasa ada yang salah dengan hidup kita.

Then we would be very unhappy.

Maka gunakanlah standar kita sendiri. Ini akan lebih sehat dan kita akan lebih merasa nyaman dengan diri kita. Dan untuk sampai pada standar diri yang baik, first you have to be grateful. Be grateful for who you are and what you have NOW. Saya menulis NOW (artinya: saat ini) dengan huruf kapital karena saya ingin menekankan bahwa kita perlu sesadar-sadarnya melihat hidup kita di saat ini, bukan di masa lalu, apalagi di masa akan datang yang belum jelas.

Kalau kita bisa menyadari hidup kita saat ini, kita akan menyadari bahwa sebenarnya ada sisi-sisi dari kehidupan kita yang semakin baik.

Let me explain it to you.

Saya, misalnya, tak pernah membayangkan bahwa saya akan bisa menginjakkan kaki di pulau Kalimantan. Dulu saya berpikir bahwa kalau saya bisa hidup saja di Sumatera, saya sudah sangat bersyukur. Tetapi anugerah Tuhan ternyata membuat saya menjadi bisa sampai ke Kalimantan. Tak ada sedikit pun bayangan saya dulu akan bisa sampai di Kalimantan, dan bisa pula mencari rezeki di sini.

Dan yang lebih membuat saya terharu adalah bahwa ternyata rezeki yang saya dapatkan dari Kalimantan ini bisa saya bagikan kepada orangtua saya. Ini juga salah satu impian saya dulunya; akhirnya sekarang bisa terwujud. Dan di luar itu ternyata masih bisa membantu anggota keluarga, walaupun jumlahnya kecil. But I am happy with that; to be able to CONTRIBUTE, however small.

Sebagai karyawan di industri kelapa sawit saya tentu belum bisa digolongkan sebagai orang yang sudah sangat berkecukupan, but looking back, I think I have MORE now compared to, say, 5 years ago.

Inilah teman-teman yang saya maksud dengan mensyukuri apa yang kita punya SAAT INI. Dengan penghasilan saya yang sekarang ini, saya merasa saya bisa hidup dengan cukup baik: bisa makan 3 kali sehari, bisa tidur dengan nyaman di ruangan yang baik, bisa memenuhi kebutuhan keluarga saya (istri dan anak-anak), bisa membawa keluarga sesekali liburan, bisa memberi uang saku kepada orang tua, dan sesekali bisa membantu sedikit-sedikit keluarga yang membutuhkan bantuan keuangan, dan kalau ada undangan acara, masih bisa mengisi amplop buat disalamkan ke penyelenggara acara. Tak perlu pusing juga dengan paket data setiap bulan dan bensin sepeda motor. 😀

Dan itulah standar yang saya pakai. Orang lain yang keadaan hidupnya berbeda dengan saya pasti berbeda lagi standarnya, and it’s OK. Tak ada faedahnya mengejar hidup menggunakan standar orang lain.

Saya tidak mengatakan bahwa saya sudah sangat puas dengan hidup saya. Tentu saja saya masih memiliki aspirasi untuk hal-hal yang lain, akan tetapi untuk saat ini, saya merasa bahwa apa yang ada pada saya sangat pantas untuk disyukuri dan dengan bersyukur saya merasa lebih ringan menjalani hidup saya. Saya juga percaya bahwa Tuhan sudah mengatur hidup saya, dan apa yang terbaik untuk saya akan diberikanNya pada waktu yang tepat: tidak terlambat, dan tidak terlalu cepat.

Maka ajakan saya jelas: berbahagialah dengan standar hidupmu sendiri. Setiap orang diciptakan unik dan setiap orang diberikan kapasitas untuk menentukan sendiri standar untuk hidupnya, dan kebebasan menentukan standar ini SEHARUSNYA membuat kita semua bisa bahagia, karena semua orang TAK HARUS SAMA. Ada kemerdekaan di sana. Jadilah orang-orang yang merdeka, dan itu dimulai dari pikiran.

Hiduplah dengan ringan, stop comparing yourself with others all the time. It will kill you for sure.

Semoga membantu. ❤️ 🙂

Be Free!

Melatih Perilaku

Perilaku bisa dilatih.

Agaknya itu yang menjadi ide utama dalam bacaan singkat pagi ini dari buku The Daily Stoic. Berikut kalimat kuncinya:

Proper training can change your default habits. Train yourself to give up anger, and you won’t be angry at every fresh slight. Train yourself to avoid gossip, and you won’t get pulled into it. Train yourself on any habit, and you’ll be able to unconsciously go to that habit in trying times.

The Daily Stoic, Bacaan 23 September

Ketika membaca kalimat di atas, saya akhirnya paham mengapa ada orang yang tetap bisa kalem di tengah berbagai masalah yang tengah melilitnya. Orang bisa seperti itu karena latihan. Saya akhirnya menyadari bahwa ketegaran pun bisa diperoleh dengan latihan. Orang itu pastinya sudah melatih dirinya menghadapi beragam kesulitan!

Jadi jika orang berusaha untuk selalu mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalamann hidupnya dan terbuka, benar-benar terbuka, untuk mengenali dan mengakui kelemahan karakter dirinya, rasanya orang pasti akan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih keren.

Keren itu ada di karakter yang baik, dan karakter baik itu diperoleh dari latihan.

What do you think?

Merawat Self Esteem dan Memetakan Rasa Senang

Rasa senang tentu tak bisa sepenuhnya direncanakan, akan tetapi aktivitas-aktivitas yang membuat kita merasa senang pada dasarnya bisa dipetakan. Dengan mengevaluasi bagaimana kita menggunakan waktu dalam sehari (atau seminggu), memetakan proporsi tiap kegiatan dan seberapa menyenangkan kegiatan itu terasa, kita akan terbantu dalam membuat perencanaan waktu.

Berikut sebuah contoh tabel aktivitas mingguan:

AktivitasSkor Makna
(1 – 5)
Skor Rasa Senang
(1 – 5)
Frekuensi / Minggu
Berkumpul bersama keluarga542 jam ++
Menghadiri rapat kerja4211 jam =
Menonton TV239 jam –
Tabel Aktivitas Mingguan

Skor yang digunakan pada tabel di atas berkisar dari 1 sampai 5, dimana 5 adalah skor tertinggi, dan 1 skor terendah. Simbol ++ menyatakan bahwa kita merasa sangat perlu menambah durasi kegiatan tersebut, simbol = menyatakan bahwa kegiatan tersebut sudah cukup, dan simbol – menyatakan bahwa kegiatan tersebut perlu dikurangi.

Dengan membuat tabel kegiatan mingguan seperti ini, selain memiliki gambaran penggunaan waktu kita dalam seminggu, kita akan memperoleh insight bagaimana sebaiknya kita menghabiskan waktu di minggu-minggu berikutnya agar kehidupan kita lebih menyenangkan, karena kehidupan akan menyenangkan apabila diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna dan memberikan rasa senang.

Idenya sederhana saja sebenarnya: jika ingin lebih senang menjalani kehidupan, optimalkanlah waktu yang ada untuk hal-hal yang memberikan rasa senang. Beberapa hal yang tidak menyenangkan memang terkadang tidak bisa dihindari, karena itu membuat perencanaan waktu seperti tabel di atas tetap harus realistis. Seiring waktu, kita akan menemukan pola yang tepat untuk kita dalam menjalani hidup yang bermakna sekaligus menyenangkan.

Perlu disadari juga bahwa membuat pemetaan seperti ini seringkali mengharuskan kita berubah. Tentu perubahan yang diinginkan adalah perubahan yang sungguh bermakna (meaningful).

Ada satu metode yang disarankan oleh seorang psikoterapis bernama Nathaniel Branden yang disebut dengan sentence completion, atau metode melengkapi kalimat. Dengan metode ini diyakini seseorang bisa mendapatkan gambaran tentang perubahan positif apa yang dapat dialaminya. Sebagaimana nama metodenya, kita memikirkan sebuah batang kalimat (sentence stem) yang berupa pengandaian (menggunakan jika), dan selanjutnya kita diminta melanjutkan kalimat tersebut dengan hasil yang bisa kita peroleh.

Contohnya begini:

Jika saya menambah 5% kesadaran saya dalam hidup, …

Kalimat di atas adalah batang kalimat (sentence stem) yang masih harus dilengkapi. Di sinilah kita memikirkan respons sebagai kelanjutan dari kalimat tersebut, dan respons inilah dampak nyata dari perubahan yang kita lakukan, sebagaimana tercermin dalam batang kalimat awal.

Beberapa contoh lanjutan kalimatnya misalnya:

  • Saya akan bersikap lebih hormat kepada rekan-rekan kerja saya;
  • Saya bisa menghabiskan lebih banyak waktu melakukan hobi saya;
  • Saya bisa menerima hal-hal yang tidak begitu disukai di pekerjaan dengan lebih lapang dada;
  • dan seterusnya …
Self Esteem

Melakukan ini secara berulang-ulang dan konsisten diyakini bisa membantu kita mendapatkan ide-ide baru untuk melakukan perubahan nyata dalam hidup, dan kita akan memperoleh gambaran yang lebih baik tentang diri kita sendiri. Dan begitulah caranya kita merawat self esteem.

Respond-ability

Ini suatu kata menarik dalam e-mail The Daily Stoic-nya Ryan Holiday yang saya baca pagi ini.

Jadi begini ceritanya.

Dalam hidup ada orang-orang yang cenderung ingin mengendalikan berbagai hal, istilah kerennya control freak. Orang seperti ini ada istilahnya, yaitu tiran (atau tyrant dalam bahasa Inggris). Orang seperti ini selalu ingin menentukan apa yang dilakukan atau dikatakan orang lain, ingin mengontrol semuanya.

Tetapi orang bijaksana akan memahami bahwa dia hanya memiliki kendali atas dirinya sendiri, dan bukan atas hal-hal di luar dirinya. Dengan kata lain, yang bisa sepenuhnya dikendalikan adalah responsnya terhadap apa yang terjadi. Jadi selain bertanggungjawab (atau punya responsibility) atas hidupnya, orang bijak juga memiliki respond-ability, yaitu kemampuan untuk bereaksi dengan baik terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya.

“Mencoba mengendalikan hidup hanya akan membawa kita pada kegagalan, bahkan sebelum kita memulainya”, kata Anne Willson Schaef, seorang penulis. Yang justru lebih baik adalah bertanggungjawab atas bagaimana kita menjalani hidup: taking charge instead of taking control.

Mungkin Anda juga pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, yang memiliki kelekatan akut dengan kontrol, yang memiliki keinginan untuk selalu memiliki kendali atas berbagai hal. Menurut Anda apakah orang-orang seperti itu menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidupnya?

Hidup Tenang dalam Tangan Tuhan

Saya kira dari judulnya saja sudah cukup menenangkan, bukan? 🙂

Inilah judul dari refleksi pagi yang dibagikan Romo Antonius Rajabana di kanal YouTubenya pagi ini. Saya adalah orang yang semakin hari semakin merasakan manfaat dari refleksi-refleksi yang dibagikan di kanal ini, dan karena itu saya ingin membagikannya kepada kalian semua yang membaca blog ini, dengan harapan semoga kalian juga beroleh manfaat darinya.

Rasanya tidak diperlukan komentar panjang lebar tentang video ini, yang terpenting adalah Anda bisa menyimak dengan tenang dan mengambil pesan dari video ini. Selamat menyaksikan.

Hidup Tenang di Dalam Tangan Tuhan

Beban, Jarak, dan Perspektif

Hai teman-teman semua … 🙂

Pagi ini saya baru saja mendengarkan sebuah refleksi di channel YouTube Romo Antonius Rajabana, dan topik yang diangkat adalah perihal menangani beban / permasalahan hidup dengan baik. Channel ini menurut saya sangat baik, karena isinya membicarakan topik-topik yang sangat dekat dengan kehidupan nyata, jadi sangat relatable. Saya sangat merekomendasikan Anda untuk mencoba menyaksikan video-videonya, dan kalau berjodoh, siapa tahu bisa menjadi subscriber pula. 😉

Dari penjelasan yang diberikan Romo Antonius melalui video berikut ini, saya menangkap bahwa ada 2 strategi dasar yang dapat kita lakukan saat mengalami beban atau persoalan hidup.

Yang pertama adalah mengambil jarak aman terhadap persoalan yang tengah dihadapi. Ternyata istilah ‘jarak aman‘ tidak hanya untuk konteks berkendara, tetapi juga terhadap persoalan hidup. Kita dapat mengambil jeda, meletakkan semua persoalan dan ‘mengisi ulang’ energi kita dengan beristirahat yang cukup, sembari tentunya memohon bimbingan dari Tuhan dalam doa-doa kita. Dengan mengambil jeda seperti ini, kita akan memperoleh jarak emosional yang lebih sehat terhadap permasalahan, dan karena kita sudah beroleh energi dengan istirahat tadi, tentu kita akan lebih prima dalam melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan. Otak juga akan lebih segar dan bisa lebih optimal memikirkan solusi.

Ilustrasi Perspektif

Strategi kedua adalah mengubah perspektif terhadap persoalan. Emosi dan perspektif adalah dua hal yang berkaitan erat. Perspektif yang keliru terhadap suatu hal seringkali berkorelasi dengan emosi negatif yang ditimbulkannya, artinya emosi negatif, seperti kegelisahan, seringkali lahir dari perspektif yang tidak utuh dan keliru terhadap suatu hal. Maka untuk memperbaiki emosi (mengganti yang negatif menjadi emosi yang lebih konstruktif) harus diawali dengan mengubah perspektif dulu. Kalau diibaratkan dengan mengambil foto, barangkali kita perlu mengambil sudut pengambilan gambar (angle) yang berbeda untuk mendapatkan foto yang lebih estetik, lebih bernilai seni, lebih indah dipandang mata.

Dengan mengubah perspektif (yang sepenuhnya ada dalam kendali kita sendiri) kita akan mendapatkan informasi baru yang akan memperkaya pemahaman kita terhadap suatu persoalan, dan tentu pemahaman yang lebih luas akan membantu kita menyikapi sesuatu dengan lebih bijaksana, ketimbang memandang sesuatu hanya dari satu sisi saja.

Demikian dua strategi dari Romo Antonius yang saya kira akan sangat membantu kita mengarungi hari demi hari kehidupan dengan lebih tenang, karena kita tahu bahwa Tuhan senantiasa membantu kita dan Dia selalu menyiapkan segala yang terbaik untuk hidup kita. Pastikan Anda menonton videonya sampai selesai dan semoga bermanfaat. 🙂

Salam,

Paulinus Pandiangan

Pentingnya Membaca Ulang

Membaca ulang artikel atau buku yang berisikan hal-hal yang baik bagi perkembangan pribadi saya ternyata penting. Saya menyadarinya kembali sore ini ketika membaca postingan tentang hidup sederhana dan 20 cara praktis memangkas pengeluaran di blog ibu Maria, Breakfast with Lukas. Blog ini sudah saya kenal selama beberapa waktu terakhir dan bahkan kedua postingan tadi sudah pernah saya baca sebelumnya, tetapi ketika sore ini saya membacanya ulang, rasanya seperti diingatkan kembali, dan tetap ada hal baru yang rasanya belum benar-benar saya pahami sebelumnya.

Inilah gunanya membaca ulang.

It’s like adding a new layer of understanding. Bertambah lapisan pemahaman saya terhadap apa yang ditulis.

Kalau seperti saya, Anda ingin mengembangkan diri dan mindset ke arah hidup yang lebih bersahaja dan bermakna, maka saran terbaik saya adalah Anda harus mencari sumber daya di Internet yang kiranya cocok dengan style Anda dan nikmatilah apa yang tersaji di sana-bahkan kalau harus sampai membaca (atau menontonnya) berulang-ulang.

Sometimes, repetition is key.

Pemahaman kita jelas akan lebih disempurnakan dan semakin kuat konsepnya akan tertanam di benak kita, dan saya percaya, ini akan bertumbuh secara perlahan namun pasti menjadi bagian dari mindset kita, dan bukankah perubahan di level mindset ini yang kita inginkan?

Menjadi Stoik Bersama Gita Wirjawan

Ada video menarik tentang filsafat Stoikisme yang dibuat oleh pak Gita Wirjawan. Video ini menarik karena tidak hanya mengenalkan dan menjelaskan apa itu Stoikisme, tetapi juga menyertakan 12 latihan praktis-yang rasanya bisa dilakukan semua orang-untuk menjadi stoik dalam laku hidup sehari-hari. Silakan disimak.

Latihan Menjadi Stoik Bersama Gita Wirjawan

In addition to that, silakan juga menyimak video tentang Stoikisme yang dibuat oleh Gloria Parinussa berikut ini, siapa tahu ada satu atau dua hal yang sekiranya berguna.

Stoikisme Bersama Gloria Parinussa

Perihal Kekayaan Instan

Banyak orang yang sebenarnya akan tertolong dari tipuan investasi bodong seperti yang marak saat ini apabila mereka sungguh menyadari karakter kekayaan yang sesungguhnya: tidak terlihat. True wealth is something you don’t see.

Ilustrasi Orang Kaya

Orang mudah terjebak pada visual kekayaan yang ditampilkan para penjebak berlabel crazy rich: rumah mewah, mobil, pakaian-pakaian bermerk terkenal, aksesoris mahal, dan kemudahan untuk mengakses berbagai kenikmatan duniawi menggunakan uang yang ada. Disematkanlah aplikasi berbisnis dalam jebakan tersebut yang dalam narasinya akan bisa menghantar orang pada “kesuksesan” sebagaimana yang dimiliki oleh model—yang ternyata hanyalah afiliator aplikasi judi—yang mengeruk keuntungan besar dari ketidakberuntungan orang lain.

Dalam buku The Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel kita disadarkan bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah tidak terlihat. Katakanlah Anda memiliki tabungan 100 juta di rekening bank. Maka kekayaan Anda (yang tidak terlihat itu) bernilai 100 juta rupiah. Apabila Anda membelanjakan 50 juta dari tabungan tersebut untuk membeli sebuah perangkat, misalnya, untuk sekedar “menunjukkan” kepada orang lain bahwa Anda mampu membeli perangkat mahal senilai 50 juta rupiah, maka sebenarnya nilai kekayaan Anda sudah berkurang 50 juta rupiah. Barang yang Anda beli tadi—yang tujuannya untuk membuat orang lain mengakui bahwa Anda kaya dan mampu membeli barang tersebut—tidak akan membuat orang terkesan untuk jangka waktu lama. Malah, Anda kehilangan fleksibilitas yang bisa didapatkan dari 50 juta rupiah jika seandainya kekayaan itu tetap tersimpan tanpa dibelanjakan.

Buku ini menyadarkan kita bahwa orang yang benar-benar kaya akan menggunakan uangnya untuk membeli fleksibilitas atau waktu, bukan barang-barang hanya untuk tujuan pamer (show off). Malah orang-orang yang benar-benar kaya cenderung akan modest saja dalam berpenampilan. Tampak biasa, ternyata bisnisnya banyak sekali, tersebar di berbagai tempat.

Tentu saja orang yang benar-benar kaya mampu membeli barang-barang mahal, akan tetapi mereka melakukannya karena memang benar-benar membutuhkan untuk menunjang bisnisnya dan untuk membantu mereka lebih fleksibel dengan waktu. They’re not buying the stuff per se, they do buy time.

Jadi, kalau ada orang yang terlihat kaya dan gemar memamerkan barang-barang miliknya di media dan gencar mempromosikan suatu platform bisnis, be really cautious about them, karena bisa saja mereka sedang menjalankan sebuah jebakan. They’re trying to lure you into doing something, memanfaatkan “kerapuhan” emosional kita, yaitu keinginan untuk cepat-cepat kaya.

Bersyukurlah dengan keadaan ekonomimu saat ini, entah bagaimana pun itu, dan tetaplah berusaha meningkatkan taraf hidupmu dengan upaya-upaya yang baik, dan ingat, tak ada pencapaian yang instant. Upaya memperbaiki taraf hidup membutuhkan upaya, kerja keras, dan waktu yang tidak sedikit.

Semoga tulisan ini berguna. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Rasa Syukur Saya

Akhirnya saya berhasil menyelesaikan jurnal rasa syukur edisi 2022. Kendati ada beberapa hari terlewati tanpa mengisi jurnal, saya senang bahwa akhirnya terselesaikan juga. Idealnya memang jurnal rasa syukur harus ditulis setiap hari, tetapi bagi penjurnal pemula seperti saya rasanya hal ini masih bisa dimaklumi. 🤭

Dan . . . voila! Inilah hasil menjurnal 30 hari versi saya. Silakan diunduh dan dibaca. Semoga bisa memberikan manfaat bagi kalian. 😊

Jurnal ini juga tersedia di laman Buku Gratis saya.

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!