Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Respond-ability

Ini suatu kata menarik dalam e-mail The Daily Stoic-nya Ryan Holiday yang saya baca pagi ini.

Jadi begini ceritanya.

Dalam hidup ada orang-orang yang cenderung ingin mengendalikan berbagai hal, istilah kerennya control freak. Orang seperti ini ada istilahnya, yaitu tiran (atau tyrant dalam bahasa Inggris). Orang seperti ini selalu ingin menentukan apa yang dilakukan atau dikatakan orang lain, ingin mengontrol semuanya.

Tetapi orang bijaksana akan memahami bahwa dia hanya memiliki kendali atas dirinya sendiri, dan bukan atas hal-hal di luar dirinya. Dengan kata lain, yang bisa sepenuhnya dikendalikan adalah responsnya terhadap apa yang terjadi. Jadi selain bertanggungjawab (atau punya responsibility) atas hidupnya, orang bijak juga memiliki respond-ability, yaitu kemampuan untuk bereaksi dengan baik terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya.

“Mencoba mengendalikan hidup hanya akan membawa kita pada kegagalan, bahkan sebelum kita memulainya”, kata Anne Willson Schaef, seorang penulis. Yang justru lebih baik adalah bertanggungjawab atas bagaimana kita menjalani hidup: taking charge instead of taking control.

Mungkin Anda juga pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, yang memiliki kelekatan akut dengan kontrol, yang memiliki keinginan untuk selalu memiliki kendali atas berbagai hal. Menurut Anda apakah orang-orang seperti itu menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidupnya?

Hidup Tenang dalam Tangan Tuhan

Saya kira dari judulnya saja sudah cukup menenangkan, bukan? 🙂

Inilah judul dari refleksi pagi yang dibagikan Romo Antonius Rajabana di kanal YouTubenya pagi ini. Saya adalah orang yang semakin hari semakin merasakan manfaat dari refleksi-refleksi yang dibagikan di kanal ini, dan karena itu saya ingin membagikannya kepada kalian semua yang membaca blog ini, dengan harapan semoga kalian juga beroleh manfaat darinya.

Rasanya tidak diperlukan komentar panjang lebar tentang video ini, yang terpenting adalah Anda bisa menyimak dengan tenang dan mengambil pesan dari video ini. Selamat menyaksikan.

Hidup Tenang di Dalam Tangan Tuhan

Beban, Jarak, dan Perspektif

Hai teman-teman semua … 🙂

Pagi ini saya baru saja mendengarkan sebuah refleksi di channel YouTube Romo Antonius Rajabana, dan topik yang diangkat adalah perihal menangani beban / permasalahan hidup dengan baik. Channel ini menurut saya sangat baik, karena isinya membicarakan topik-topik yang sangat dekat dengan kehidupan nyata, jadi sangat relatable. Saya sangat merekomendasikan Anda untuk mencoba menyaksikan video-videonya, dan kalau berjodoh, siapa tahu bisa menjadi subscriber pula. 😉

Dari penjelasan yang diberikan Romo Antonius melalui video berikut ini, saya menangkap bahwa ada 2 strategi dasar yang dapat kita lakukan saat mengalami beban atau persoalan hidup.

Yang pertama adalah mengambil jarak aman terhadap persoalan yang tengah dihadapi. Ternyata istilah ‘jarak aman‘ tidak hanya untuk konteks berkendara, tetapi juga terhadap persoalan hidup. Kita dapat mengambil jeda, meletakkan semua persoalan dan ‘mengisi ulang’ energi kita dengan beristirahat yang cukup, sembari tentunya memohon bimbingan dari Tuhan dalam doa-doa kita. Dengan mengambil jeda seperti ini, kita akan memperoleh jarak emosional yang lebih sehat terhadap permasalahan, dan karena kita sudah beroleh energi dengan istirahat tadi, tentu kita akan lebih prima dalam melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan. Otak juga akan lebih segar dan bisa lebih optimal memikirkan solusi.

Ilustrasi Perspektif

Strategi kedua adalah mengubah perspektif terhadap persoalan. Emosi dan perspektif adalah dua hal yang berkaitan erat. Perspektif yang keliru terhadap suatu hal seringkali berkorelasi dengan emosi negatif yang ditimbulkannya, artinya emosi negatif, seperti kegelisahan, seringkali lahir dari perspektif yang tidak utuh dan keliru terhadap suatu hal. Maka untuk memperbaiki emosi (mengganti yang negatif menjadi emosi yang lebih konstruktif) harus diawali dengan mengubah perspektif dulu. Kalau diibaratkan dengan mengambil foto, barangkali kita perlu mengambil sudut pengambilan gambar (angle) yang berbeda untuk mendapatkan foto yang lebih estetik, lebih bernilai seni, lebih indah dipandang mata.

Dengan mengubah perspektif (yang sepenuhnya ada dalam kendali kita sendiri) kita akan mendapatkan informasi baru yang akan memperkaya pemahaman kita terhadap suatu persoalan, dan tentu pemahaman yang lebih luas akan membantu kita menyikapi sesuatu dengan lebih bijaksana, ketimbang memandang sesuatu hanya dari satu sisi saja.

Demikian dua strategi dari Romo Antonius yang saya kira akan sangat membantu kita mengarungi hari demi hari kehidupan dengan lebih tenang, karena kita tahu bahwa Tuhan senantiasa membantu kita dan Dia selalu menyiapkan segala yang terbaik untuk hidup kita. Pastikan Anda menonton videonya sampai selesai dan semoga bermanfaat. 🙂

Salam,

Paulinus Pandiangan

Pentingnya Membaca Ulang

Membaca ulang artikel atau buku yang berisikan hal-hal yang baik bagi perkembangan pribadi saya ternyata penting. Saya menyadarinya kembali sore ini ketika membaca postingan tentang hidup sederhana dan 20 cara praktis memangkas pengeluaran di blog ibu Maria, Breakfast with Lukas. Blog ini sudah saya kenal selama beberapa waktu terakhir dan bahkan kedua postingan tadi sudah pernah saya baca sebelumnya, tetapi ketika sore ini saya membacanya ulang, rasanya seperti diingatkan kembali, dan tetap ada hal baru yang rasanya belum benar-benar saya pahami sebelumnya.

Inilah gunanya membaca ulang.

It’s like adding a new layer of understanding. Bertambah lapisan pemahaman saya terhadap apa yang ditulis.

Kalau seperti saya, Anda ingin mengembangkan diri dan mindset ke arah hidup yang lebih bersahaja dan bermakna, maka saran terbaik saya adalah Anda harus mencari sumber daya di Internet yang kiranya cocok dengan style Anda dan nikmatilah apa yang tersaji di sana-bahkan kalau harus sampai membaca (atau menontonnya) berulang-ulang.

Sometimes, repetition is key.

Pemahaman kita jelas akan lebih disempurnakan dan semakin kuat konsepnya akan tertanam di benak kita, dan saya percaya, ini akan bertumbuh secara perlahan namun pasti menjadi bagian dari mindset kita, dan bukankah perubahan di level mindset ini yang kita inginkan?

Menjadi Stoik Bersama Gita Wirjawan

Ada video menarik tentang filsafat Stoikisme yang dibuat oleh pak Gita Wirjawan. Video ini menarik karena tidak hanya mengenalkan dan menjelaskan apa itu Stoikisme, tetapi juga menyertakan 12 latihan praktis-yang rasanya bisa dilakukan semua orang-untuk menjadi stoik dalam laku hidup sehari-hari. Silakan disimak.

Latihan Menjadi Stoik Bersama Gita Wirjawan

In addition to that, silakan juga menyimak video tentang Stoikisme yang dibuat oleh Gloria Parinussa berikut ini, siapa tahu ada satu atau dua hal yang sekiranya berguna.

Stoikisme Bersama Gloria Parinussa

Perihal Kekayaan Instan

Banyak orang yang sebenarnya akan tertolong dari tipuan investasi bodong seperti yang marak saat ini apabila mereka sungguh menyadari karakter kekayaan yang sesungguhnya: tidak terlihat. True wealth is something you don’t see.

Ilustrasi Orang Kaya

Orang mudah terjebak pada visual kekayaan yang ditampilkan para penjebak berlabel crazy rich: rumah mewah, mobil, pakaian-pakaian bermerk terkenal, aksesoris mahal, dan kemudahan untuk mengakses berbagai kenikmatan duniawi menggunakan uang yang ada. Disematkanlah aplikasi berbisnis dalam jebakan tersebut yang dalam narasinya akan bisa menghantar orang pada “kesuksesan” sebagaimana yang dimiliki oleh model—yang ternyata hanyalah afiliator aplikasi judi—yang mengeruk keuntungan besar dari ketidakberuntungan orang lain.

Dalam buku The Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel kita disadarkan bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah tidak terlihat. Katakanlah Anda memiliki tabungan 100 juta di rekening bank. Maka kekayaan Anda (yang tidak terlihat itu) bernilai 100 juta rupiah. Apabila Anda membelanjakan 50 juta dari tabungan tersebut untuk membeli sebuah perangkat, misalnya, untuk sekedar “menunjukkan” kepada orang lain bahwa Anda mampu membeli perangkat mahal senilai 50 juta rupiah, maka sebenarnya nilai kekayaan Anda sudah berkurang 50 juta rupiah. Barang yang Anda beli tadi—yang tujuannya untuk membuat orang lain mengakui bahwa Anda kaya dan mampu membeli barang tersebut—tidak akan membuat orang terkesan untuk jangka waktu lama. Malah, Anda kehilangan fleksibilitas yang bisa didapatkan dari 50 juta rupiah jika seandainya kekayaan itu tetap tersimpan tanpa dibelanjakan.

Buku ini menyadarkan kita bahwa orang yang benar-benar kaya akan menggunakan uangnya untuk membeli fleksibilitas atau waktu, bukan barang-barang hanya untuk tujuan pamer (show off). Malah orang-orang yang benar-benar kaya cenderung akan modest saja dalam berpenampilan. Tampak biasa, ternyata bisnisnya banyak sekali, tersebar di berbagai tempat.

Tentu saja orang yang benar-benar kaya mampu membeli barang-barang mahal, akan tetapi mereka melakukannya karena memang benar-benar membutuhkan untuk menunjang bisnisnya dan untuk membantu mereka lebih fleksibel dengan waktu. They’re not buying the stuff per se, they do buy time.

Jadi, kalau ada orang yang terlihat kaya dan gemar memamerkan barang-barang miliknya di media dan gencar mempromosikan suatu platform bisnis, be really cautious about them, karena bisa saja mereka sedang menjalankan sebuah jebakan. They’re trying to lure you into doing something, memanfaatkan “kerapuhan” emosional kita, yaitu keinginan untuk cepat-cepat kaya.

Bersyukurlah dengan keadaan ekonomimu saat ini, entah bagaimana pun itu, dan tetaplah berusaha meningkatkan taraf hidupmu dengan upaya-upaya yang baik, dan ingat, tak ada pencapaian yang instant. Upaya memperbaiki taraf hidup membutuhkan upaya, kerja keras, dan waktu yang tidak sedikit.

Semoga tulisan ini berguna. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Rasa Syukur Saya

Akhirnya saya berhasil menyelesaikan jurnal rasa syukur edisi 2022. Kendati ada beberapa hari terlewati tanpa mengisi jurnal, saya senang bahwa akhirnya terselesaikan juga. Idealnya memang jurnal rasa syukur harus ditulis setiap hari, tetapi bagi penjurnal pemula seperti saya rasanya hal ini masih bisa dimaklumi. 🤭

Dan . . . voila! Inilah hasil menjurnal 30 hari versi saya. Silakan diunduh dan dibaca. Semoga bisa memberikan manfaat bagi kalian. 😊

Jurnal ini juga tersedia di laman Buku Gratis saya.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Welcome, Ezio! 🤗

Akhirnya saya menjadi ayah bagi 3 orang putra. Pada hari Senin, 21 Februari 2022 lalu, anak ketiga saya lahir di sebuah rumah praktik bidan yang masih dekat dengan lokasi perkebunan tempat saya bekerja.

Dia lahir pukul 10:05 WIB pagi dengan berat badan 4.1 kilogram dan tinggi 54 cm. Kami memberinya nama EZIO ADRIEL PANDIANGAN.

Dan inilah foto pertamanya saat baru dilahirkan.

Welcome to the family, our beloved son. ❤️💖💖

Semoga anak kami ini bertumbuh sehat dan menjadi pribadi yang baik dan membawa sukacita bagi banyak orang. Much love for you, Ezio! 🤗💖

Musuh Kebahagiaan

Filsuf Epictetus pernah menuliskan begini dalam Discourses,

Kebahagiaan tak bisa berdampingan dengan keinginan akan hal-hal yang belum kita miliki. Kebahagiaan sudah cukup untuk dirinya sendiri, ia tak lagi kelaparan atau kehausan akan hal-hal yang lain.

Dalam psikologi ada istilah conditional happiness, yaitu suatu keadaan dimana kita baru merasa bahagia apabila syarat-syarat tertentu terpenuhi. Kebahagiaan bersyarat. Ini sangat umum kita temui, dan kita mungkin sudah menganut mentalitas seperti ini sejak lama. Kalimat-kalimat seperti, “Saya akan sangat senang kalau sudah lulus kuliah.”, atau “Kalau bonus saya tahun ini besar, saya akan bahagia sekali.”, merupakan bentuk ekspresi dari kebahagiaan bersyarat ini.

Dan karena konsep kebahagiaan seperti ini tak pernah benar-benar membawa kebahagiaan yang bertahan lama, bisa dipastikan bahwa model ini tak bisa menjadi pegangan yang baik. Kebahagiaan bersyarat tak akan membuat kita benar-benar bahagia.

Keinginan akut untuk selalu lebih dari saat ini, menginginkan hal-hal yang jelas-jelas tidak ada di depan mata saat ini, hanya akan membuat kita ‘buta’ pada hal yang bisa kita nikmati saat ini juga. Konsep seperti ini, kalau diibaratkan, membuat kita selalu membayangkan pantai pasir putih yang airnya lebih biru ketika kita, sebenarnya, sedang duduk santai di tepi pantai.

Dan inilah musuh kebahagiaan yang sebenarnya.

Kita perlu secara sadar berfokus pada momen saat ini, karena hanya saat inilah yang kita miliki. Masa lalu sudah lewat, dan masa depan tak lama lagi akan menjadi saat ini. Menikmati segala yang baik di saat ini menjadi pilihan yang bijaksana.

Seperti kata Epictetus tadi, kebahagiaan itu sudah cukup untuk dirinya sendiri, tak lapar dan haus akan hal-hal lain yang masih dalam imajinasi. Be content with the present. 🤗

Salam,

Paulinus Pandiangan

Soal Mentalitas Instan

Seorang guru Zen bernama Hakuin Ekaku pernah mengibaratkan proses perolehan keterampilan dengan menebang kayu besar. Kayu besar ini tentu saja tak akan langsung roboh dengan sekali ayunan kapak. Akan tetapi bila dilakukan berulang -ulang tanpa berhenti, akhirnya pohon itu akan rubuh juga. Konsistensi dan investasi waktu menjadi kuncinya.

Albert Einstein mulai intensif memikirkan dan merancang teori fisika sejak usia 16 tahun. Sepuluh tahun kemudian lahirlah teori relativitas yang melambungkan namanya. Dalam rentang waktu sekitar sepuluh tahun, ia ‘menenggelamkan diri’ mempelajari teori-teori fisika dan mengasah kemampuan kognitifnya hingga mampu melahirkan teori baru.


Tak ada keahlian tanpa konsistensi dan investasi waktu. Inilah kebenaran yang harus kita terima. Tak ada jalan pintas (shortcut) untuk sampai pada sebuah keahlian. Kecenderungan untuk menempuh jalan pintas justru semakin menjauhkan kita dari penguasaan terhadap suatu bidang tertentu, bidang apa pun itu.

Karena itu, apa pun yang sedang Anda tekuni saat ini, yakinlah bahwa Anda bisa menjadi ahli (expert) di bidang itu suatu saat, apabila Anda sungguh-sungguh konsisten dan rela menginvestasikan waktu hidup Anda untuk mengerjakan sambil terus mempelajarinya, hingga bidang itu benar-benar ‘menyatu’ dengan Anda.

Di saat banyak orang saat ini yang ingin cepat-cepat kaya, cepat-cepat viral, cepat-cepat terlihat sukses, cepat-cepat terkenal, mentalitas instan seperti itulah yang harus dihindari apabila kita ingin membuat karya yang sungguh bernilai.

Never stop learning. 💪💪

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!