Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Bagaimana Menghormati Orang?

Bacaan singkat di buku A Calendar of Wisdom untuk tanggal 24 November ini berbicara perihal menghormati orang lain. Lalu bagaimana sebenarnya kita menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari?

  • Memberikan pertolongan kepada orang lain, entah berupa dorongan fisik atau spiritual. Berhentilah untuk selalu menyalahkan orang lain dan hargailah martabatnya.
  • Kebaikan yang sesungguhnya bukanlah memberikan sisa kekayaan kepada orang miskin, tetapi ‘menempatkan’ orang lain dekat di hati kita.
  • Tidak mengucapkan fitnah atau kata-kata yang menyakiti hati orang lain.
  • Menjunjung kebenaran, mencegah kemarahan, memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.
  • Bersikap rendah hati dan selalu menyadari bahwa semua manusia rentan melakukan kesalahan, sehingga kita tidak mudah jatuh ke dalam godaan untuk menghakimi orang lain.

Soal Persepsi

Marcus Aurelius pernah menuliskan ini di jurnal pribadinyayang selanjutnya dikenal dengan Meditationsyang sebenarnya, menurut saya, menegaskan kembali prinsip dikotomi kendali yang diutarakan Epictetus,

Bukan hal atau kejadian di luar dirimu yang membuatmu terganggu, tapi nalarmu tentang hal atau kejadian itu, dan ketahuilah bahwa kamu bisa mengubah persepsimu saat itu juga.

Marcus Aurelius dalam Meditations

Franklin Delano Roosevelt adalah seorang pemimpin politik Amerika yang sangat tersohor. Polio yang dideritanya ketika berusia 39 tahunyang membuatnya harus menggunakan kursi rodajustru menjadi suatu elemen dalam kisah hidupnya yang membuatnya semakin dikenal sebagai pribadi yang kuat. Hal eksternal yang terjadi padanyapolio yang membuatnya menjadi cacattidak membuat karir dan kepribadiannya hancur, justru sebaliknya.

Bayangkan Anda berada dalam posisi Roosevelt. Karir politik Anda sedang cemerlang dan Anda sedang mempersiapkan diri (dan bahkan mengimpikan!) untuk menjadi presiden Amerika Serikat. Lalu, tiba-tiba kabar tak menyenangkan itu tiba. Dokter Anda mengatakan bahwa Anda terkena polio, hidup Anda tak akan pernah sama lagi dan harus menggunakan kursi roda sepanjang hidup Anda. Tentu Anda merasa down, bukan?

Franklin Delano Roosevelt juga pasti down ketika mendengar berita ini. Tetapi apa yang dia lakukan selanjutnya-lah yang membuat perbedaan. Dia menerima hal eksternal ini dan dia mengelola persepsinya tentang apa yang terjadi padanya, dan segera, dia menemukan kekuatan untuk tetap melanjutkan kehidupan. Fakta bahwa dia menjadi cacat tidak bisa dielakkan, harus diterima sebagai takdir. Dia melakukan amor fati. Penerimaan yang dia lakukan bukanlah pasrah, tetapi dia menjadikan fakta yang dialaminya sebagai sebuah bagian dari perjalanan kehidupan yang harus diterima, yang membuatnya sungguh sebagai pribadi seorang Franklin Delano Roosevelt.

Dan sejarah mencatatnya sebagai seorang pemimpin Amerika yang luar biasa.


Praktik Premeditatio Malorum Saya

Hai, teman-teman… Saya sebenarnya sudah pernah menulis tentang Premeditatio Malorum ini sebelumnya dan juga membahasnya di Buku Kecil Stoikisme yang telah saya publikasikan juga. Kali ini saya hanya ingin membagikan bagaimana saya menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari malam hari saat saya beranjak tidur.

Pertama, saya memvisualisasikan bahwa esok paginya saya bisa saja bangun dengan segar tanpa migrain, atau bisa jadi saya bangun pagi dalam keadaan migrain. Saya sering merasakan migrain ketika bangun pagi, sehingga akhirnya saya menjadikan ini sebagai bagian dari kemungkinan pengalaman yang bisa terjadi di pagi hari. Saya menjadi begitu bersyukur ketika pagi hari saya bisa bangun dengan segar tanpa migrain!

Kedua, ketika akan berangkat kerja, saya memvisualisasikan bahwa saya bisa saja terpeleset di perjalanan ketika menuju pabrik. Saya memang jarang sekali terjatuh dari sepeda motor, akan tetapi kemungkinan itu tetap ada, bukan? Ketika suatu saat misalnya hal itu terjadi, saya bisa segera menyadari bahwa itu merupakan pengalaman manusiawi yang bisa terjadi kepada semua pengendara sepeda motor, termasuk saya.

Ketiga, ketika akan berangkat bekerja saya juga memvisualisasikan bahwa orang-orang yang saya temui tidak akan bertindak sebagaimana yang saya harapkan. Ketika saya memberi senyuman, mereka tidak akan membalas dengan tersenyum kembali. Ketika saya berusaha untuk bersikap ramah kepada orang yang saya temui, orang-orang akan bersikap negatif dan toksik kepada saya. Ketika saya berniat untuk mengerjakan sesuatu, akan ada saja hal-hal yang mengganggu agenda saya. Dengan kata lain, saya mencoba untuk bersiap secara mental pada berbagai bentuk disrupsi atau gangguan, sehingga ketika hal-hal tersebut ternyata benar-benar terjadi, saya bisa tetap berdamai dengan keadaan. Dalam konteks ini saya berpendapat bahwa praktik amor fati (mencintai takdir) harus diawali dengan premeditatio malorum (visualisasi negatif).

Dan yang paling menarik adalah ketika ternyata kita mengalami berbagai hal positif sepanjang hari (ini juga bisa terjadi!): ketika orang-orang yang kita temui misalnya bersikap sangat ramah dan baik, ketika kita misalnya mendapatkan pengalaman yang berkesan ketika berkomunikasi dengan orang lain, ketika misalnya kita mendengar kabar gembira dari seorang teman, ketika misalnya kita memiliki banyak waktu untuk mengerjakan apa yang kita sukai tanpa banyak gangguan. Hari kita akan terasa begitu berkesan, dan kita akan sangat bersyukur karena kita juga menyadari bahwa hari kita bisa saja diisi dengan berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Inilah yang menurut saya menjadi nilai dan kekuatan dari praktik Premeditatio Malorum itu sendiri: kita menjadi terbuka pada kenyataan dengan segala kemungkinannya, dan kita bisa mengapresiasi dengan sungguh-sungguh ketika hal baik terjadi dalam hidup kita.

Sebagai penutup, mari kita simak sebuah quote dari Seneca berikut:

Menentukan Tujuan ala Stoik

Berikut tiga strategi stoik dalam menentukan tujuan, sebagaimana disarikan dari artikel di laman Daily Stoic ini.

[1] Menentukan tujuan yang di bawah kendali kita.

Tugas utama seorang manusia dalam hidupnya, menurut Epictetus, adalah memahami apa yang di bawah kendalinya dan apa yang di luar kendalinya. Sebagai contoh, kesuksesan. Kesuksesan adalah tujuan banyak orang, dan banyak yang tidak menyadari bahwa kesuksesan adalah sesuatu yang tidak berada di bawah kendali kita sepenuhnya. Menjadikan kesuksesan sebagai tujuan hanya akan menimbulkan ketidakbahagiaan, karena ada begitu banyak faktor yang mempengaruhinya, faktor-faktor yang berada di luar kendali kita.

Lalu kalau bukan kesuksesan, apa tujuan yang seharusnya?

Yang lebih rasional adalah mengerahkan kemampuan terbaik saat mengerjakan sesuatu. Mark Manson, seorang penulis, pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah menargetkan bahwa bukunya akan sukses di pasaran. Yang menjadi tujuannya adalah berupaya menulis buku yang lebih baik dari buku yang sebelumnya, dengan segala upaya terbaik yang bisa dilakukan.

Itulah yang dimaksud dengan menentukan tujuan yang di bawah kendali kita.

Ilustrasi Menetapkan Tujuan | Sumber

[ 2 ] Tidak membuat terlalu banyak tujuan.

Tujuan yang terlalu banyak dalam satu waktu bisa melumpuhkan. Kita akan kesulitan dalam membuat prioritas. Melakukan 3 hal dengan nilai A jauh lebih baik dibandingkan dengan melakukan 5 hal dengan nilai B, atau bahkan C. Maka sangat penting untuk mengkaji sebuah tujuan yang sudah ditetapkan: apakah ia benar-benar penting?

Dengan ‘memangkas’ tujuan-tujuan yang tidak esensial dari daftar panjang tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kita akan hidup lebih seimbang dan dengan demikian memperbesar peluang kita untuk sukses dalam tujuan-tujuan yang lebih penting.

[ 3 ] Memastikan tujuan tersebut benar-benar tujuan kita sendiri.

Saya pernah menyinggung tentang hasrat mimetik di sebuah tulisan lama. Ide dasarnya adalah bahwa banyak dari keinginan kita muncul akibat meniru keinginan atau hasrat orang lain. Inilah yang perlu dicermati dalam menentukan tujuan: apakah tujuan ini benar-benar sesuatu yang penting bagi kita, atau hanya sesuatu yang mengikuti tujuan orang lain?

Juga, kita perlu mengarahkan tujuan bukan pada hal-hal eksternal, seperti tujuan untuk mendapatkan pengakuan atau penghargaan. Tujuan yang benar adalah tujuan untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu; sehingga kompetitornya bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri. Berkompetisi dengan diri sendiri yang dimaksud di sini adalah berusaha untuk terus memperbaiki diri dari dalam, layaknya seorang atlet yang terus berusaha memperbaiki rekor yang diciptakannya sendiri.


Saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan quote berikut,

Perihal Kuasa

Bacaan singkat dari The Daily Stoic untuk 7 November berbicara perihal kekuasaan. Dua tokoh ditampilkan: Alexander Agung dan filsuf Diogenes dan bagaimana keduanya memandang kekuasaan (power).



Jangan berpegang pada reputasi, uang, atau posisimu, tetapi berpeganglah pada nalarmu untuk mengetahui apa yang di bawah kendali dan di luar kendalimu. Inilah yang akan membuatmu merdeka, yang akan membuatmu setara dengan orang-orang kaya dan berkuasa.

Epictetus dalam Discourses

Kekuatan atau kekuasaan dalam pandangan Stoikisme adalah kemampuan kita untuk menahan diri dari banyak keinginan, karena ini berarti kita mampu mengendalikan diri.

Alexander Agung memandang kekuasaan sebagai kemampuan untuk menaklukkan dunia; dan Diogenes justru memandang kekuasaan sebagai kemampuan untuk menahan diri dari ketamakan untuk menguasai dunia. Kemampuan untuk menahan diri dan membatasi keinginan inilah yang sebenarnya menjadi refleksi seberapa kuat dan berkuasanya seseorang; to conquer self.

Sebagaimana pernah diutarakan Publilius Syrus, “Ingin memiliki kerajaan? Kuasailah dirimu!”.

Keren itu Pilihan Sikap

Masih tentang definisi sukses yang sesungguhnya, yang saya ulas di tulisan sebelumnya

Alexander Agung, sebuah nama yang dikenal banyak orang. Bahkan namanya diabadikan menjadi sebuah kota, Alexandria, di Mesir, padahal orangnya hidup pada sekitar 2.300 tahun sebelumnya. Untuk sekilas, tampaknya Alexander Agung ini cukup sukses dan kerenkalau kita menggunakan metriks sukses dari apa yang terlihat di luar saja, seperti yang saya bicarakan sebelumnya.

Tetapi bagi orang Stoik, tak ada yang keren dari Alexander Agung. Memangnya kita tahu nama kita tetap dikenang setelah meninggal? Pilihan-pilihan tindakan yang diambil Alexander semasa hidupnya juga (sangat) tidak keren. Dia suka berperang, dia mudah marah, dia bahkan membunuh teman sendiri dalam suatu perkelahian dalam keadaan mabuk. Dia menjadi budak dari ambisinya sendiri. Lalu apa yang perlu dibanggakan dari itu?

Maka saran dari para filsuf Stoikisme adalah: berfokuslah menjadi versi terbaik dirimu saat ini; lakukan apa yang baik dan benar. Tidak perlu risau dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Yang bisa kita kendalikan adalah pilihan-pilihan tindakan saat ini.

Dalam Stoikisme, itulah keren yang sesungguhnya!

Mendefinisikan Sukses

Sukses secara umum diukur dari apa yang terlihat dan bisa diukur saja: perolehan kekayaan, posisi dalam jenjang karir, penghargaan yang diraih, dan sebagainya. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan metriks ini, akan tetapi, ternyata tidak selalu tepat dalam menggambarkan sukses yang sesungguhnya.

Mari kita mengambil kasus orangtua yang ‘dianggap’ sukses. Parameter sukses yang dilihat biasanya adalah keberhasilan anaknya. Orangtua dianggap sukses kalau anak-anaknya juga sukses. Orangtua dianggap berhasil mendidik anak-anaknya apabila anak-anaknya menjadi orang-orang yang baik dan berhasil dalam hidup.

Lalu bagaimana kalau orangtua yang baik memiliki 1 anak yang ternyata arah hidupnya melenceng dari saudara-saudaranya? Misalnya ada 4 anak, dimana 3 di antaranya berhasil dan ada 1 yang tidak. Apakah lalu adil kalau orangtuanya dianggap gagal? Padahal orangtuanya menganut nilai-nilai yang baik dan telah berusaha mendidik semua anaknya dengan sebaik mungkin.

Dalam filsafat Stoikisme, outcome atau buah dari upaya yang kita lakukan sebenarnya berada di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan (dalam kendali kita) adalah berupaya sebaik mungkin dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang kita miliki. Akan tetapi ketika hasilnya ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, itu sudah di luar kendali kita. Kita harus selalu menyadari bahwa hasil (outcome) tidak selalu berbanding lurus dengan upaya. Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang seseorang dalam hal ini, dan tidak hanya soal pola asuh saja.

Jadi tentu saja tidak adil kalau kita serta merta langsung menyalahkan orangtua saat ada anak mereka yang sedikit melenceng dari nilai-nilai yang diajarkan pada mereka.

Ada banyak contoh lain dari hal semacam ini:

  • Pebisnis yang jujur bisa saja memiliki perusahaan dan penghasilan yang lebih kecil dari pengusaha yang rakus.
  • Orang bertalenta dan pekerja keras bisa saja memperoleh penghasilan yang lebih kecil dibandingkan orang yang hanya berfokus untuk mengejar profit.
  • Ibu yang mendedikasikan waktunya merawat dan membesarkan anak-anak akan mendapatkan lebih sedikit piagam dan penghargaan dibandingkan ibu yang memilih berkarir dan menjadi figur publik.
  • Politisi yang berintegritas bisa saja kalah dalam pemilihan dari politisi yang curang dan korup.
  • Dan banyak contoh lainnya yang bisa dilihat di sekitar kita.

Maka jelas sangat tidak adil apabila kita melihat sukses hanya dari apa yang terlihat di luar. Saya lebih setuju apabila kesuksesan dilihat dari kesesuaian antara nilai-nilai yang kita anut dengan laku hidup kita sehari-hari, hidup sepenuhnya dan intensional, berfokus untuk memberikan manfaat.

Dibanding orang yang harus menggadaikan harga dirinya hanya supaya terlihat berkilau di mata dunia, orang-orang yang setia mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang dianutnya jauh lebih berharga di mata saya-dan mereka telah mencapai sukses yang sesungguhnya!

Menurutmu bagaimana? 😉


Note: Tulisan ini adalah penulisan ulang dengan bahasa saya sendiri postingan Joshua Becker di laman ini: https://www.becomingminimalist.com/define-success/

Aku dan Keluasanku!

Kita, pada dasarnya, LEBIH BESAR dari rasa sakit atau penderitaan yang bisa kita alami.

Ketika kita mengatakan, “Aku merasakan kepahitan,” ada penderitaan yang tersirat di dalamnya, akan tetapi penderitaan itu sendiri sebenarnya tidak lebih besar dari subjek kalimatnya: AKU. Artinya penderitaan itu sebenarnya merupakan bagian dari spektrum pengalaman yang dapat dialami oleh si AKU saja, dan si AKU akan tetap bisa bertahan melanjutkan kehidupan untuk merasakan berbagai perasaan-perasaan lain dalam spektrum pengalaman yang tersedia untuk si AKU.

Gambar diambil dari alamat ini.

Kita sering mengidentikkan si AKU dengan RASA SAKIT itu sendiri: kita berpikir bahwa AKU = PENDERITAAN. Rasa sakit, cemas, marah, dan berbagai emosi negatif lainnya merupakan pengalaman semata, dan bukan keseluruhan dari si AKU. Berbagai emosi negatif, pada dasarnya, adalah apa yang sedang kita alami, dan ia pada dasarnya tak kekal. Berbagai emosi negatif, seberapa berat pun rasanya, akan tetap berlalu. Yang kekal adalah si AKU, sebuah kesadaran, sebuah jiwa yang berada dalam tubuh fisik kita.

Sama seperti layar televisi yang bisa menampilkan berbagai film, ada film yang lucu, ada juga yang sedih, ada juga yang menegangkan, akan tetapi semua film-film itu tidak kekal, dan film-film itu tidak lebih besar dari layar yang menampilkannya.

Kita sering mengidentikkan si AKU dengan RASA SAKIT itu sendiri: kita berpikir bahwa AKU = PENDERITAAN. Rasa sakit, cemas, marah, dan berbagai emosi negatif lainnya merupakan pengalaman semata, dan bukan keseluruhan dari si AKU.

Kalau kita sudah menyadari hal ini, kita sebenarnya bisa sedikit lega, karena kita akhirnya menyadari bahwa dalam diri kita, tentu saja, ada ruang untuk berbagai hal-hal yang tidak menyenangkan, akan tetapi ada juga ruang untuk berbagai hal yang seru dan menyenangkan! Kita jauh lebih luas dari berbagai pengalaman dan emosi yang bisa kita rasakan. Kita adalah multipleks dari berbagai kemungkinan.

Melatih Perilaku

Perilaku bisa dilatih.

Agaknya itu yang menjadi ide utama dalam bacaan singkat pagi ini dari buku The Daily Stoic. Berikut kalimat kuncinya:

Proper training can change your default habits. Train yourself to give up anger, and you won’t be angry at every fresh slight. Train yourself to avoid gossip, and you won’t get pulled into it. Train yourself on any habit, and you’ll be able to unconsciously go to that habit in trying times.

The Daily Stoic, Bacaan 23 September

Ketika membaca kalimat di atas, saya akhirnya paham mengapa ada orang yang tetap bisa kalem di tengah berbagai masalah yang tengah melilitnya. Orang bisa seperti itu karena latihan. Saya akhirnya menyadari bahwa ketegaran pun bisa diperoleh dengan latihan. Orang itu pastinya sudah melatih dirinya menghadapi beragam kesulitan!

Jadi jika orang berusaha untuk selalu mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalamann hidupnya dan terbuka, benar-benar terbuka, untuk mengenali dan mengakui kelemahan karakter dirinya, rasanya orang pasti akan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih keren.

Keren itu ada di karakter yang baik, dan karakter baik itu diperoleh dari latihan.

What do you think?

Respond-ability

Ini suatu kata menarik dalam e-mail The Daily Stoic-nya Ryan Holiday yang saya baca pagi ini.

Jadi begini ceritanya.

Dalam hidup ada orang-orang yang cenderung ingin mengendalikan berbagai hal, istilah kerennya control freak. Orang seperti ini ada istilahnya, yaitu tiran (atau tyrant dalam bahasa Inggris). Orang seperti ini selalu ingin menentukan apa yang dilakukan atau dikatakan orang lain, ingin mengontrol semuanya.

Tetapi orang bijaksana akan memahami bahwa dia hanya memiliki kendali atas dirinya sendiri, dan bukan atas hal-hal di luar dirinya. Dengan kata lain, yang bisa sepenuhnya dikendalikan adalah responsnya terhadap apa yang terjadi. Jadi selain bertanggungjawab (atau punya responsibility) atas hidupnya, orang bijak juga memiliki respond-ability, yaitu kemampuan untuk bereaksi dengan baik terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya.

“Mencoba mengendalikan hidup hanya akan membawa kita pada kegagalan, bahkan sebelum kita memulainya”, kata Anne Willson Schaef, seorang penulis. Yang justru lebih baik adalah bertanggungjawab atas bagaimana kita menjalani hidup: taking charge instead of taking control.

Mungkin Anda juga pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, yang memiliki kelekatan akut dengan kontrol, yang memiliki keinginan untuk selalu memiliki kendali atas berbagai hal. Menurut Anda apakah orang-orang seperti itu menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidupnya?

Click to listen highlighted text!