3 Buku Tentang Stoikisme

Semua orang pada dasarnya membutuhkan ketangguhan (resilience) dalam menghadapi berbagai persoalan dalam hidup. Untuk hal ini orang biasanya akan beralih pada ajaran agama yang ia anut; bagaimana laku hidup manusia di tengah permasalahan sesuai keyakinan yang dianutnya.

Sebagai pelengkap ajaran agama, Stoikisme menawarkan teknik penguasaan diri (self mastery) yang kiranya berguna dalam konteks ini. Stoikisme, misalnya, memberikan konsep pengetahuan akan apa yang di bawah kendali kita dan apa yang tidak; dikenal dengan dikotomi kendali. Stoikisme juga mengenalkan pada teknik Premeditatio Malorum untuk melatih mental kita agar lebih siap menghadapi situasi-situasi buruk yang tak terduga, atau Memento Mori yang mengajarkan kita untuk menghargai hidup yang masih dialami saat ini dan berfokus pada hal-hal yang bernilai dan penting, dan berbagai hal kecil namun berguna lainnya.

LANJUTKAN MEMBACA …

Menuhankan Filsafat

Sebagai pembelajar stoikisme, ada hal mendasar yang perlu saya ingatkan secara terus menerus pada diriku sendiri: berhati-hatilah untuk tidak jatuh ke dalam kecenderungan untuk memposisikan filsafat sebagai Tuhan. Menuhankan filsafat adalah semacam ‘penyakit’ yang bisa menimpa orang yang melupakan prinsip dasar bahwa semua pengetahuan manusia adalah semua yang ‘dibukakan’ oleh Sang Ilahi-yang memiliki pengetahuan tak terbatas-kepada kita.

God is over everything.

Menuhankan filsafat juga menunjukkan ketidakbijaksanaan kita yang menjadikan filsafat sebagai tujuan, dan bukan sebagai jalan.

Philosophy is not ends. It’s merely means.

Justru filsafat selayaknya menjadi cara kita untuk mampu ‘melihat’ sesuatu yang lebih besar dan indah-dalam hal ini, Tuhan-dalam pengalaman harian. Melalui filsafat aku menuju Tuhan, begitu seharusnya.

Menuhankan filsafat juga menunjukkan kekurangpahaman kita bahwa ilmu pengetahuan (science) dan iman (faith) dapat beriringan dengan baik. Banyak yang menganggap bahwa keduanya terpisah, tidak kompatibel satu dengan yang lain. Guy Consolmagno, SJ, kepala badan perbintangan di Vatikan, menyatakan bahwa segala bentuk kebenaran yang ditemukan melalui ilmu pengetahuan sebenarnya mengarah kepada kebenaran utama yang lebih besar: Tuhan.

Karena itu akan sangat keliru apabila kita menguji eksistensi Tuhan dengan sains, sebagaimana kecenderungan umum para ateis. Sains itu sendiri < Tuhan, sehingga menggunakan sains sebagai instrumen untuk menguji keberadaan Tuhan (sebenarnya) sangat tidak berdasar.

Dunia ini pada dasarnya dipenuhi dengan apa yang disebut dengan logoi spermatikoi, ‘benih-benih kecerdasan’. Tanda-tanda kebaikan Tuhan terpancar di setiap bentuk ciptaan dan setiap bentuk kecerdasan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan manusia berupa sastra, sejarah, musik, seni, film, filsafat, matematika, dan ilmu-ilmu lainnya memberikan wawasan, kebijaksanaan, dan inspirasi, yang semuanya mengarah kepada Sumber Kebijaksanaan itu sendiri. Semua bentuk kecerdasan hanya mungkin diciptakan oleh kecerdasan yang tertinggi, dan dunia ini diciptakan mengikuti prinsip kecerdasan (intelligibility) Sang Pencipta.

Tuhan tidak hanya bisa ditemukan dalam bangunan-bangunan ibadah dan ritual keagamaan. Tuhan itu omnipresent. Dia ada di mana saja, termasuk dalam filsafat stoikisme yang tengah saya pelajari.

Karena itulah kesadaran perlu ditumbuhkan di sini; bahwa ilmu pengetahuan adalah jalan yang hanya akan mengarahkanku kepadaNya.

He is the destination of my entire journey.

So keep learning, but remember that it should lead you to Him. 🙂

Greetings,

Paulinus Pandiangan

Premeditatio Malorum

My God, istilah apa ini? 😮

Tenang dulu, sobat. 😊 Arti dari jargon ini tidak akan semenyeramkan seperti yang engkau bayangkan, setidaknya setelah engkau selesai membaca tulisan singkat ini.

Sebelum kita teruskan, baiknya kita awali dari cara membaca istilah ini terlebih dulu: Premeditatio Malorum

Ready now?

LANJUTKAN MEMBACA …

Stoikisme by Marissa Anita

Perihal Stoikisme ini sudah menarik bagi saya sejak beberapa lama. Seiring waktu, saya semakin acap mendengar nama-nama seperti Henry Manampiring penulis Filosofi Teras, lalu ada Massimo Pigliucci, penulis How to be A Stoic dan sederet buku seputar Stoikisme, Ryan Holiday yang menulis The Daily Stoic, Jules Evans yang menulis Philosophy for Life. Banyak juga orang yang melalui komentarnya di media sosial yang ternyata telah menerapkan filsafat ini dalam keseharian mereka; dan akhirnya publikasi buku-buku dan video presentasi orang-orang yang saya sebutkan tadi menyadarkan mereka bahwa laku hidup itu bernama Stoikisme.

LANJUTKAN MEMBACA …