Akhirnya Menggunakan Twitter!

Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan Twitter. Media sosial yang satu ini menarik bagi saya dalam hal kemudahan interaksi. Yang saya maksud di sini adalah kita dengan mudah dan cepat berinteraksi dengan BPJS Kesehatan, misalnya. Atau dengan kepolisian, atau dengan penyedia layanan internet di rumah. Interaksinya saya lihat cukup baik, dan responsnya relatif cepat. Kita dapat dengan mudah berinteraksi dengan berbagai pihak terkait, dan semuanya dapat terjadi hanya dalam teks yang relatif singkat. Quick and easy.

Itu sisi Twitter yang menurut saya menarik.

Karena itu apabila kamu juga menggunakan Twitter, silakan terhubung dengan saya. Handle saya adalah @paulpandiangan. Laman Twitter saya ada di alamat ini:

https://twitter.com/paulpandiangan

Salam,

Paulinus Pandiangan

Aksi Memberi dan Kesehatan

Saya kita kita semua setuju bahwa kesehatan adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan atau upayakan. Kita bisa berolahraga secara reguler, mengatur pola makan dan istirahat dengan baik, dan tindakan-tindakan ini, saya percaya, bisa sangat membantu kita untuk sehat.

Akan tetapi, kemungkinan untuk menjadi sakit tetap ada, kendati dengan sederet upaya di atas.

Artinya, kesehatan pada dasarnya adalah rahmat; pemberian dari Yang Kuasa bagi kita. Tindakan-tindakan kita bisa membantu terciptanya kondisi sehat, akan tetapi pada akhirnya keadaan sehat itu sendiri adalah rahmat. It’s a gift on its own.

Upaya menjaga kesehatan biasanya selalu diasosiasikan dengan olahraga teratur dan pengaturan pola makan dan istirahat. Semuanya tentang fisik.

Tetapi kesehatan (ternyata) tidak melulu soal fisik.

Ilustrasi Memberi (Giving)

Kebiasaan memberi dengan ikhlas (generous giving) ternyata juga bisa memberikan dampak yang baik bagi kesehatan kita. Orang yang dengan ikhlas berdonasi atau memberikan bantuan kepada orang lain dilaporkan beberapa penelitian mengalami perbaikan pada kualitas kesehatannya. Orang-orang seperti ini pada umumnya memiliki tekanan darah yang lebih stabil, memiliki kepercayaan diri yang baik, tidak rentan mengalami depresi, dan lebih merasa puas dengan hidupnya, juga tentu lebih bahagia.

Saya juga pernah membaca sebuah studi yang membandingkan kelompok orang yang rela memberikan uangnya dengan orang yang menyimpan semua uangnya untuk diri sendiri. Yang menarik adalah, kendati orang yang menyimpan uang untuk diri sendiri pada akhirnya memiliki lebih banyak uang (tentu saja!), akan tetapi cenderung kurang bahagia dan lebih rentan terserang penyakit dibandingkan orang-orang yang dengan rela memberikan sebagian uangnya kepada orang lain. Tampaknya memang kita dirancang sebagai makhluk yang harus berbagi untuk bisa hidup dengan sehat dan bahagia.

Saya jadi teringat dengan kata-kata Santo Fransiskus dari Assisi yang sangat terkenal itu,

Memberi dengan ikhlas pada dasarnya perlu kita lakukan untuk diri sendiri, karena hanya dengan begitulah kita akan menerima pula kebaikan yang ditimbulkannya. Salah satunya, tentu saja, dampaknya bagi kesehatan kita. 😉

Memberi juga merupakan ekspresi dari rasa syukur. Giving is gratitude in action.

Saya kira relasi antara aksi memberi dengan tulus (dan dengan intensi untuk membantu orang lain) dan dampak baiknya bagi kesehatan kita akhirnya menjadi jelas. Dengan memberi aku menerima, sebagaimana ungkapan terkenal Santo Fransiskus dari Assisi.

Akan tetapi, penekanan dari aksi memberi tetap harus pada koridor untuk membantu orang lain. Membaiknya kesehatan dari aksi memberi hanyalah efek samping, dan bukan tujuan.

Memberi secara berlebihan hingga mengorbankan waktu untuk diri sendiri justru menyebabkan kelelahan yang malah tidak menyehatkan. Tetap harus ada keseimbangan antara waktu untuk diri sendiri dengan waktu yang didedikasikan membantu orang lain. The art is in the balance.

Untuk bacaan yang lebih detail, berikut 3 artikel yang membahas hal ini:

  1. 5 Ways Giving Is Good for Your Health di alamat ini: https://www.besthealthmag.ca/list/5-ways-giving-is-good-for-your-health/
  2. 5 Ways Giving Is Good for You di alamat ini: https://greatergood.berkeley.edu/article/item/5_ways_giving_is_good_for_you
  3. Why Giving is Good For Your Health di alamat ini: https://www.heifer.org/blog/why-giving-is-good-for-your-health-copy.html

Semoga postingan singkat ini berguna! ❤💖🤩

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jumlah Kalori Berjalan Kaki

Beberapa hari terakhir saya mencoba ‘bermain-main’ dengan target 10 ribu langkah per hari. Aplikasi Mi Health di perangkat genggam saya menyediakan fasilitas untuk menghitung jumlah langkah.

Ilustrasi Berjalan Kaki

Sayang sekali perhitungan kalori di aplikasi ini nampaknya sedikit keliru (misleading). Sebagai contoh, untuk pagi ini saya berhasil mencatatkan 9,194 langkah dengan jumlah kalori terbakar 368 kcal. Satuan kalori inilah yang meragukan.

Saya lalu melakukan pencarian di mesin pencari Google, dan menemukan beberapa kalkulator kalori yang bisa menghitung kalori terbakar dari jumlah langkah, tinggi dan berat badan kita. Salah satunya di alamat ini. Ada versi yang lebih praktis lagi di alamat ini, dimana kita tinggal meng-input data-data usia, berat dan tinggi badan, kecepatan berjalan, serta jenis kelamin.

Dari cross-check di situs-situs kalkulator kalori, angka kalori untuk 9,194 langkah sekitar 367 kalori. Cukup dekat dengan angka 368 yang ditampilkan di aplikasi Mi Health saya. Benarlah dugaan awal saya bahwa satuannya keliru.

Instead of kcal, it should be cal.

Dengan hitungan sederhana ini, bisa dibuat faktor konversi sederhana bahwa untuk tiap menit berjalan kaki dengan kecepatan saya, kalori yang terbakar sekitar 5 cal. 🚶‍♀️

Anyway, salam sehat untuk kita semua! 💕😍

Regards,

Paulinus Pandiangan

Akhirnya Tuntas Vaksinasi!

Vaksin CoronaVac

Akhirnya vaksinasi dosis kedua saya tuntas pada 3 Agustus 2021 kemarin. 👏

Rasanya cukup menyenangkan bisa mengikuti program vaksinasi ini dengan baik. Semua proses berjalan dengan lancar, dan mengambil bagian dalam program memerangi pandemi COVID-19 ini rasanya cukup membahagiakan. It’s happy to participate in flattening the curve. 🤩

Saya juga senang mendapatkan pelayanan yang baik dari para tenaga kesehatan yang terlibat. Saya berdoa semoga mereka semua diberikan berkat kesehatan dan umur panjang.

Salam sehat selalu,

Paulinus Pandiangan

Olahraga Kala Pandemi

Untuk tujuan menjaga kebugaran tubuh di masa pandemi, saya membuat jadwal olahraga yang dibagi dalam 3 rutin: pagi, siang, dan malam.

Berikut tata urutan kegiatannya:

Berikut kegiatan rutin pagi:

  • Jalan kaki santai 30 menit;
  • Push-up sebanyak 20 kali, dibagi dalam 2 set, masing-masing 10 kali. Tiap set diselangi break selama 5 menit; dan
  • Plank reguler sebanyak 2 set, masing-masing 50 detik, break antar set selama 2 menit.

Begini plank reguler yang saya maksud:

Berikut kegiatan rutin siang:

  • Jalan kaki santai 30 menit;
  • Push up 20 kali, dibagi dalam 2 set, masing-masing 10 kali. Tiap set diselangi break selama 5 menit; dan
  • Plank reguler sebanyak 2 set, masing-masing 50 detik, break antar set selama 2 menit.

Berikut kegiatan rutin malam:

  • Jalan kaki santai 30 menit;
  • Push up 20 kali, dibagi dalam 2 set, masing-masing 10 kali. Tiap set diselangi break selama 5 menit; dan
  • Side plank sebanyak 2 set, masing-masing 30 detik, tanpa break.

Begini side plank yang saya maksud:

By the way, the model above is definitely not me. 🤭

 


Saya berharap dengan membaca postingan ini kamu juga terinspirasi untuk melakukan olahraga di rumah untuk menjaga kesehatanmu. Di tengah pandemi saat ini menjaga kebugaran tubuh menjadi semakin perlu.

Silakan membuat rutin olahraga sendiri yang sesuai dengan style kamu, dan harus diingat bahwa dibutuhkan kesabaran untuk tekun berolahraga untuk bisa mencapai hasil yang diharapkan. Tak ada hasil yang instan. It takes time, and so patience is needed.

Tidak perlu berekspektasi berlebihan. Yang jauh lebih penting adalah menjaga tubuhmu tetap fit. Tidak perlu pula terlalu terpaku pada indikator-indikator pencapaian dalam olahraga. Just do it your way.

Semoga postingan ini berguna. 🤩

Salam,

Paulinus Pandiangan

Amor Fati = Acceptance

“Do not seek for things to happen the way you want them to; rather, wish that what happens happen the way it happens: then you will be happy.”

Epictetus

Menerima keadaan bukanlah perkara gampang. Ada saja berbagai hal dalam perjalanan kehidupan yang tidak sesuai ekspektasi kita; selalu ada yang melenceng dari apa yang (bahkan) sudah disiapkan sebelumnya.

Di sinilah prinsip amor fati diperlukan.

Sebagaimana quote di atas, kita perlu belajar untuk menerima keadaan. Acceptance. Apa yang telah terjadi harus diterima sebagai apa yang memang harus terjadi. Kita, menurut Stoikisme, seringkali tidak merasa bahagia karena mengharapkan apa yang terjadi harus sesuai dengan apa yang diharapkan.

LANJUTKAN MEMBACA …

Pandemi dan Problem Kebosanan

Kebosanan

Pandemi COVID-19 saat ini menimbulkan banyak sekali dampak, salah satunya mengharuskan kita untuk menghentikan hampir semua kegiatan di luar rumah. Stay at home. Ini merupakan cara kita untuk melandaikan kurva penyebaran virus.

Menghabiskan waktu seharian di rumah tentu saja menimbulkan kebosanan, dan ini normal sebenarnya. Perihal kebosanan itulah yang tertangkap dalam sebuah tweet berikut,

Di dalam tweet tersebut juga tergurat solusi yang bagus.

Pertama, penerimaan.

Kebosanan harus diterima sebagai sebuah kebosanan. Penerimaan. Acceptance. Penerimaan ini saya kira sebuah skill yang sangat berguna juga dalam mengarungi kehidupan. Bahkan dalam filsafat Stoikisme ada istilah amor fatimencintai nasib. Ini perihal menerima keadaan yang terjadi sebagaimana memang harus terjadi, walau tidak selalu sesuai dengan ekspektasi kita.

Kedua, menggunakan waktu.

Ketimbang berfokus pada kebosanan itu sendiri, waktu luang yang ada dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik, yang bisa menghasilkan sesuatu. Membaca buku, misalnya. Waktu kosong yang banyak tersedia justru sebenarnya bisa digunakan untuk ‘menggali’ hal-hal baru yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Saya jadi teringat dengan quote dari Blaise Pascal, “All of humanity’s problems stem from man’s inability to sit quietly in a room alone.” Pandemi yang mengharuskan kita untuk berdiam di rumah ini justru memberikan kesempatan untuk kita untuk berpikir dalam, bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang dalam dan penting. Ketika sebelum pandemi kita banyak menghabiskan waktu dengan mengkonsumsi hal-hal yang non-esensial, hal-hal receh, maka pandemi ini menjadi momen bagi kita untuk berefleksi, to wrestle with deep and fundamental questions.

Tak kecil kemungkinan bahwa masa pandemi ini adalah masa pikiran-pikiran terbaikmu bisa muncul. Sejarah umat manusia telah membuktikan, lagi dan lagi, bahwa ide-ide terbaik justru lahir di tengah krisis.

Dan satu hal lagi, mengeluhkan kebosanan bukanlah pilihan terbaik. Semua orang pasti pernah bosan dalam hidupnya, tapi tak semua orang mengeluhkan kebosanan itu. Mereka mengelolanya, dengan cara mereka sendiri. So, find your way!

Salam,

Paulinus Pandiangan

Hoax Buster COVID-19

Ada terlalu banyak hoax beredar di jejaring sosial terkait COVID-19, dan membuat suasana pandemi justru semakin kacau. Overload informasi.

Ada hoax tentang mencuci hidung dengan air garam untuk membunuh virus Corona, misalnya. Atau menghirup aroma cuka untuk tujuan yang sama.

Penyebaran hoax tentu di luar kendali kita. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita bereaksi terhadapnya: apakah kita tanpa berpikir panjang langsung ikut menyebarkan hoax (meskipun ini seringkali dengan niatan baik) atau mencoba untuk berhenti dulu dan mencoba mencari tahu lebih dalam tentang informasi yang diedarkan.

Berikut situs hoax buster yang bagus dan resmi yang bisa menjadi acuan sebelum bergegas menyebarkan berbagai informasi yang belum jelas validitasnya:

https://covid19.go.id/p/hoax-buster

Selain website di atas, dengan sedikit Googling kita sebenarnya bisa menentukan apakah sebuah informasi cukup valid. Atau, jika ingin lebih serius lagi, kita dapat mencari referensi resmi, berupa jurnal penelitian, misalnya, terkait informasi yang diedarkan di media sosial. Atau, dalam waktu relatif singkat kita sebenarnya bisa mencari tahu apa perbedaan bakteri dengan virus, dan apakah asam bisa membunuh keduanya. Go read the science first!

Tergantung kita saja sebenarnya, apakah mau mencari tahu lebih dalam dan lalu menjadi lebih cerdas setelahnya, atau hanya dengan seenaknya menekan tombol Forward, a no-brainer game.

Waspadalah, sobat, dengan banyaknya informasi yang berseliweran di jagat maya terkait pandemi saat ini. Use your mind!

Salam,

Paulinus Pandiangan

Pandemi dan Rasa Syukur

Lagi dan lagi, saya harus menekankan bahwa pandemi COVID-19 saat ini tampaknya benar-benar mengajarkan kita untuk bersyukur. Benar-benar bersyukur, tak hanya ucapan, tapi utamanya tindakan dan sikap. Laku hidup.

Seorang rekan kerja saya meninggal hari ini karena COVID-19.

Ketika mendengar berita seperti ini, terbayang kesedihan keluarga yang tentu sangat berat untuk dihadapi. Ada keluarga yang harus kehilangan kepala keluarganya hari ini. Ada anak yang kehilangan ayahnya, istri kehilangan suaminya, keluarga besar yang kehilangan bagian dari diri mereka.

Rasanya sesak di dada mendengar berita semacam ini, dan berharap semoga tidak ada lagi korban akibat COVID-19 ini.


Apa pesan dari peristiwa semacam ini?

Syukurilah hidupmu selagi nafas itu masih bisa kau hirup.

Tak ada seorang pun yang tahu kapan hidupnya akan berakhir.

Tak ada jaminan bahwa yang tua akan mendahului yang lebih muda.

Virus ini tak mengenal siapa kita. Dia akan menyerang saat kesempatan ada.

No mercy.

Jadi, sobat…

Syukurilah hidupmu. Banyaklah berdoa. Habiskanlah waktumu bersama keluarga di rumah sebaik mungkin. Nikmatilah hidup ini selagi bisa bersama keluarga di rumah.

Buang jauh-jauh segala amarah dan kebencianmu. Saat kematian tiba, tak ada gunanya itu semua.

Mohonkanlah selalu perlindungan dari Tuhan untuk keluargamu, untuk masyarakat sekitarmu, untuk Indonesia, dan untuk dunia. Kalau pandemi ini pada akhirnya berakhir nanti, dan engkau masih hidup untuk menikmatinya, hiduplah dengan lebih bijaksana, jangan lagi buang waktumu dengan hal-hal yang tak berguna.

Pandemi ini, sekali lagi, menyadarkan kita sesadar-sadarnya, bahwa hidup ini penuh kerapuhan. Raga yang tampak sehat dan bugar hari ini bisa berakhir mati esok. Karir yang tampak sukses gemilang hari ini bisa tak berarti apa-apa esok. Senyum yang bisa terkembang hari ini bisa jadi menjadi bisu esok.

Kita tak abadi, kita akan dan pasti mati.

Akan ada saatnya hari yang kita jalani adalah hari terakhir. Hidup saat ini adalah anugerah.

Live as if today is your last day.

Salam,

Paulinus Pandiangan