Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Burnt Toast Theory dan Kekuatan Perspektif

Ada sebuah metafor menarik yang dikenal dengan nama burnt toast theory. Ide dasarnya adalah bahwa sebuah keterlambatan kecil (keterlambatan berangkat kerja karena memanggang roti untuk sarapan) bisa jadi menjadi sebuah berkat terselubung (blessing in disguise). Keterlambatan ini bisa saja merupakan bagian dari mekanisme alam untuk menghindarkan kita dari kecelakaan di jalan raya. Atau, bisa jadi bahwa dengan sedikit terlambat kita justru bertemu dengan seseorang yang menarik di perjalanan.

Metafor ini mengingatkan kita bahwa hidup penuh dengan kejutan-kejutan kecil, dan kita memiliki kekuatan untuk menumbuhkembangkan perspektif yang sehat dan berimbang tentang hidup; bahwa kegagalan atau keterlambatan pun bisa menjadi berkat di kemudian waktu.

Burnt toast theory = mindset.

Kekuatan Perspektif

Berikut beberapa cara mengintegrasikan mindset ini dalam rutinitas sehari-hari:

Merangkul Fleksibilitas dan Kemampuan Beradaptasi

Perjalanan hidup tidak akan selalu sesuai rencana kita. Dengan fleksibel dan selalu siap menyesuaikan diri dengan keadaan, kita tidak akan kesulitan dalam mengarungi perubahan-perubahan dalam hidup. Perubahan pasti akan selalu terjadi. Menerapkan mindset ini akan sangat membantu kita menekan kecemasan akibat perubahan dan akan memampukan kita menghadapi tantangan-tantangan yang lebih besar lagi ke depannya dengan sikap tenang tanpa gusar berlebihan.

Menumbuhkembangkan Optimisme

Bersikap optimis tidak berarti bahwa kita mengabaikan kesulitan hidup, akan tetapi memilih berfokus pada kesempatan-kesempatan baru yang muncul bersamaan dengan tantangan / kegagalan / keterlambatan. Tetap ada potensi yang bisa digali dalam suasana yang ‘terlihat’ negatif. Kemampuan untuk berpikir seperti ini akan meningkatkan tingkat kepuasan hidup dan kebahagiaan. Menjadi lebih optimis adalah sesuatu yang bisa dilatih.

Mempraktikkan Hidup Berkesadaran (Mindfulness)

Hidup berkesadaran adalah benar-benar ‘hadir’ dalam setiap momen, tidak hanya secara fisik, tetapi secara utuh, mental dan fisik; hidup sepenuhnya dalam saat ini, terbebas dari kecenderungan impulsif untuk selalu menghakimi dan melabeli segala sesuatu. Ketika mengalami kegagalan, adalah sangat baik apabila kita bisa dengan tenang menarik nafas, mengakui perasaan yang kita alami, apa pun itu, dan lalu melepasnya. Praktik berkesadaran seperti ini bisa menjaga kita tetap waras dan membumi, dan ‘gangguan-gangguan’ kecil tidak akan menjadi narasi yang dibesar-besarkan dalam pikiran, yang malah akan membuat kita semakin tertekan (stress).

Bersyukur

Menulis jurnal rasa syukur sangat banyak dipakai orang dan banyak dari mereka yang mendapatkan manfaat darinya. Menulis jurnal seperti ini membantu kita berfokus pada hal-hal baik dalam hidup, termasuk hal-hal baik kecil yang terjadi saat kita mengalami kegagalan. Menuliskan secara sadar hal-hal yang kita syukuri sepanjang hari bisa membantu kita mengapresiasi berkat-berkat tersembunyi dalam hidup.

Membangun Perspektif Berimbang

Perspektif berimbang meliputi pemahaman bahwa hidup itu sendiri ibarat campuran dari beragam pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Berikut beberapa tips membangun perspektif yang sehat dan berimbang:

  1. Berdamailah dengan ketidaksempurnaan. Hidup tidak harus sempurna dan sama sekali tidak bisa diprediksi. Menyadari fakta mendasar ini akan membantu kita ‘melepaskan’ ilusi kendali dan kesempurnaan. Hasil akhirnya adalah bahwa saat mengalami kesulitan pun, batin kita bisa tetap tenang.
  2. Berfokus pada pertumbuhan. Kegagalan bisa dipandang sebagai kesempatan untuk belajar dan membenahi diri sehingga bisa lebih berkembang lagi. Dalam proses ini, kita secara tidak langsung juga menumbuhkan resiliensi atau ketangguhan, kesabaran, dan keterampilan memecahkan persoalan. Mindset yang berorientasi pada pertumbuhan inilah yang akan membantu kita menavigasi beragam tantangan hidup dengan sikap optimis dan percaya diri.
  3. Terhubung dengan orang lain. Dukungan orang-orang terdekat sangat membantu di tengah kesulitan. Pengalaman hidup yang dibagikan kepada teman-teman terdekat akan mengundang saran dan perspektif segar yang barangkali tidak terpikirkan sebelumnya. Ingatlah bahwa kita tidak harus selalu berjuang sendirian.

Kalau kita menyimak perjalanan hidup tokoh-tokoh besar, kita akan menemukan pola yang relatif seragam. Kejayaan mereka selalu diawali dengan rangkaian kegagalan. J. K. Rowling, sebagai satu contoh, ditolak penerbit berpuluh kali sebelum akhirnya Harry Potter dikenal orang di seluruh dunia.

Pengalaman gagal menjadi batu loncatan yang ‘melontarkan’ orang yang berjuang dengan gigih ke gerbang kejayaan.

Maka kalau kiranya kita bisa menerapkan prinsip ini dalam kehidupan masing-masing, rasanya besar kemungkinan bahwa kita pun akan berhasil pada saat yang tepat. Mari belajar menjadi orang-orang yang fleksibel, selalu siap beradaptasi, berlatih untuk optimis, hidup berkesadaran, dan senantiasa bersyukur atas hal-hal baik dalam hidup, sekecil apa pun. Ingatlah bahwa apa yang kita persepsikan sebagai kemunduran, kegagalan, atau keterlambatan seringkali bisa dimanfaatkan semesta untuk menghantar kita pada keberhasilan yang gemilang.

Delays can be a blessing in disguise.

Buku 30 Quotes for Life

Hai, teman-teman sekalian! 🤗

Saya selalu senang membagikan pesan yang kiranya bisa berguna untuk orang lain, entah melalui status WhatsApp, atau bahkan… buku gratis!

Maka itulah yang akhirnya mendorong saya untuk membuat buku kecil kutipan kata-kata bijak yang diberi judul 30 Quotes for Life.

Cover 30 Quotes for Life

Buku ini, sesuai judulnya, berisikan 30 kutipan kata-kata bijak tentang makna hidup, kebahagiaan, dan kebijaksanaan. Jumlah 30 dimaksudkan bahwa koleksi kutipan ini bisa dinikmati perlahan selama sebulan penuh, satu kutipan untuk sehari. Karena kata-kata bijak mengandung kebenaran lintas waktu (timeless truth), maka tak berlebihan kiranya kalau saya memberi judul 30 Quotes for Life, karena kata-kata bijak selalu bisa direfleksikan kapan pun juga dan bisa menjadi relevan dengan konteks kehidupan setiap orang di waktu yang berbeda-beda.

Karena saya membuat buku quotes ini sebagai cara untuk belajar bahasa Inggris juga, maka semua kutipan ditampilkan dalam bahasa Inggris. Bersama dengan tiap quote, saya membubuhkan interpretasi atau pemaknaan pribadi secara singkat dalam bahasa Indonesia.

Of course, you’re free to have your own interpretation as well.

Semoga buku kecil ini berguna untuk kalian semua, dan kalau kalian mempunyai quote favorit, akan sangat menyenangkan apabila kita bisa saling berbagi. Silakan membagikannya di kolom komentar di bagian bawah postingan blog ini jika berkenan.

Silakan mengunduh bukunya di link berikut ini: ⤵️

Feel free to share this free e-book with anyone. Enjoy! 🤩

The Happiness Paradox

Deep down, all of us want to be happy. It’s a truism. In fact, this fundamental desire is what drives our actions on a daily basis. By nature, we’re going to choose the most probable pathways leading to happiness. But the more we focus on happiness, the less happy we’ll actually be.

That’s the happiness paradox.

Turns out that constantly chasing happiness is a perfect recipe for unhappiness. Chasing joy can leave us empty, especially if we’re involved in the comparison game and material world blues. Comparing the worst of what we know about ourselves to the best assumptions we make about others is a total downer. Equating happiness with material possessions is no less damaging, as stuff only brings temporary joy. Trying to be happy is, by definition, a trap.

Suffice it to say that true happiness comes from deeper things.

Having said that, the following are some real actions we can take to provide a conducive environment for happiness:

Practice mindfulness. Peace lives in the present, so it’s imperative to understand that when one is not at peace, they are either living in the past or in the future. Being mindful means that you are living in the moment, accepting all emotions free of judgment. This attitude alleviates our tendency to be anxious over things beyond our control. Savor the good moments you have right now, and don’t get caught up in the never-ending pursuit of ‘what if.’

Cultivate gratitude. Noticing and appreciating the good things in life, big or small, has the potential to shift our perspective and increase our overall satisfaction. The practice of ‘taking in goodness’ into our mental radar enables us to balance out the negative thoughts popping up in our minds. There is a saying in Latin, ‘Mens grata, vita beata,’ which translates to ‘a grateful mind, a happy life.’ It beautifully captures the essence of how gratitude leads to happiness.

Invest in genuine relationships. The longest study at Harvard University has proven that good relationships nurture us. At the end of the day, happiness is not so much about social status, popularity, or money; it’s more about the quality of our relationships. There’s magic in human connections.

Engage in meaningful activities. These activities can be hobbies, volunteering, or even career-related work. Enjoying what you’re doing has been found to be strongly positive for human psychology, as it leads to a ‘flow’ state.

Accept imperfection. It’s okay to have low days. Life is more like a wave—sometimes we experience good days when everything seems to run smoothly, and other times we encounter problems here and there. Despite that, life is still worth living. To be fully human, we need to experience the full range of emotions, from the least pleasant to the most pleasing ones. Maintain a sense of self-control and resist the temptation to constantly self-criticize.

All in all, joy often comes as a byproduct of living a meaningful and engaged life, rather than from the direct pursuit of happiness itself. Let go of the notion of control and the pressure to be happy. Instead, focus on experiences, relationships, and activities that bring genuine fulfillment, and you’ll find that happiness arrives in its own time and on its own terms.

🤗

6 Prinsip Stoik untuk Kecerdasan Emosional

Saya mulai intens mempelajari filsafat praktis stoisisme sesaat sebelum pandemi COVID 19, meskipun memang sebelum itu sudah terekspos dengan ide-ide tentang dikotomi kendali dan mencintai takdir, yang adalah 2 prinsip dasar filsafat ini. Seiring waktu saya semakin yakin bahwa prinsip-prinsip dasar stoisisme sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan dewasa ini. Berikut saya sarikan 6 (enam) prinsip yang kiranya bisa membantu kita mengarungi kehidupan.

Pertama: Berfokuslah pada apa yang bisa dikendalikan

Misalnya kita terjebak kemacetan. Alih-alih mengeluhkan situasi, kita sebenarnya bisa menggunakan waktu yang tersedia dengan lebih positif dan produktif, misalnya menggunakannya untuk mendengarkan podcast, menghubungi orang terkasih (untuk menceritakan bahwa kita terjebak macet, hahaha… ), atau untuk merefleksikan sesuatu (contemplatio).

Menerima alur alamiah hidup dengan pikiran terbukabahwa kita bisa saja terjebak macet seperti orang-orang lainakan membuat mental kita lebih tangguh, tidak reaktif, dan kita bisa membuat sebuah suasana menjadi lebih ‘dingin’ dan tetap bisa dinikmati.

Kedua: Biasakan bersyukur

Mengalami hari yang buruk adalah sesuatu yang normal. Semua orang pernah mengalaminya. Tetapi orang bisa bereaksi secara berbeda.

Kita (sebenarnya) memiliki kemampuan untuk mengalihkan fokus dengan menyadari hal-hal baik yang terjadi di sekitar kita, walaupun hari itu terasa kurang menyenangkan. I know it’s hard, but still, it’s doable. Kita bisa mensyukuri hal-hal kecil di sekitar kita, misalnya aroma kopi yang masih bisa kita nikmati di pagi hari, atau senyuman tulus dari seorang teman di tempat kerja. It all comes down to noticing the little things.

Ketiga: Menyadari kematian

Sesering mungkin ingatkanlah diri bahwa hidup ini ada batasnya. Kita tidak akan hidup selamanya. Kesadaran akan kematian akan memacu kita untuk tidak menunda segala hal baik yang ingin dilakukan bersama orang-orang terkasih.

Menyadari kematian sangat membantu kita berfokus pada apa yang benar-benar penting dalam hidup. Perspektif kita akan berubah, juga prioritas hidup.

Keempat: Bersahabat dengan ketidaknyamanan

Keluar dari zona nyaman tentu tidak mudah. Tetapi kalau kita berani bersahabat dengan ketidaknyamanan, kita bisa menjadi pribadi yang lebih kuat. Rayakan kesuksesan-kesuksesan kecil, dan tetap berupaya untuk menjadi lebih baik lagi.

Kelima: Memaafkan dan melepaskan

Ketika kita disalip pengendara lain di jalan raya, misalnya, tak perlu kita marah-marah. Kita bisa menahan keinginan untuk marah dan melanjutkan kehidupan. Kita bisa menanamkan afirmasi, “Hari ini saya akan berusaha memaafkan semua orang atas semua yang mereka lakukan, dan melanjutkan kehidupan saya melakukan apa yang penting dan berguna.”

Again, I know it’s damn tough.

Keenam: Melakukan kebajikan

Melakukan apa yang benar seringkali tidak mudah. Hidup dengan integritas memang akan sulit, akan tetapi buahnya adalah sebuah karakter diri yang unggul. Kita biasanya akan sangat menghormati orang-orang yang berintegritas tinggi, yang memiliki standar moral yang jelas. Maka orang lain pun akan menghormati kita dan menaruh kepercayaan penuh apabila kita berhasil menjadi pribadi yang berintegritas.

🌻

The Practice of ‘Contemplatio’

‘Contemplatio’ adalah versi Latin untuk ‘contemplation’, atau berpikir tentang sesuatu secara mendalam. Ini adalah proses introspektif dimana kita secara sadar memilih untuk merefleksikan sesuatu. Berefleksi tentu saja secara alamiah adalah proses yang perlahan. Tidak diburu. Maka ketika kita berkontemplasi, kita masuk ke dalam ‘slow mode‘.

And that is where the magic starts to happen.

Kontemplasi itu sebenarnya apa?

Kontemplasi adalah upaya untuk tetap memiliki ‘kejernihan batin’ di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Ini hanya akan terjadi apabila kita ‘menepikan’ segala gangguan, setidaknya untuk sementara, dan ‘melarutkan’ diri dalam refleksi. Dalam kontemplasi kita justru ‘bergulat’ dengan isi pikiran, perasaan, atau hal tertentu yang tengah menarik perhatian. Kontemplasi adalah proses introspektif yang dilakukan dengan tenang dan cermat untuk memperoleh pemahaman yang utuh akan berbagai ide atau hal yang menarik bagi kita.

Apa saja manfaatnya?
  • Pertama, kejernihan pikiran. Ibarat merapikan meja yang penuh dengan lembaran berkas, kontemplasi adalah ‘merapikan pikiran’ dan membantu kita ‘melihat’ berbagai hal dengan ‘jernih’.
  • Kedua, tentu akan mempengaruhi emosi kita. Saya pernah membaca bahwa isi pikiran mempengaruhi emosi, dan sebaliknya, emosi menimbulkan pikiran-pikiran baru. Merefleksikan emosi sangat berpotensi membantu kita dalam memahami dan selanjutnya mengendalikannya. Emotional regulation.
  • Meningkatkan kreatifitas. Berpikir secara mendalam akan memungkinkan kita mengeksplorasi ide-ide dan konsep secara terperinci. Ini seringkali membukakan pikiran kita akan hal-hal baru yang barangkali tidak disadari sebelumnya.
  • Menjadi lebih sadar diri. Kontemplasi akan membuat kita semakin mengenal siapa kita sebenarnya. Dengan mengenal diri secara baik, kita selalu akan tahu apa yang harus dilakukan. Pribadi kita akan bertumbuh.
Lalu bagaimana mempraktikkannya?

Berikut cara-cara yang dapat dilakukan untuk berkontemplasi:

Pertama, temukan tempat yang hening. Tempat seperti ruangan yang hening, taman, atau tempat lain dimana kita bisa merasa damai.

Kedua, sediakan waktu. Tidak ada standar waktu untuk kontemplasi. Apabila 15 sampai 20 menit dirasa cukup, maka menyisihkan waktu 20 menit setiap hari rasanya tidak sulit. Di luar hari kerja biasa, saya pun sering menggunakan hari Minggu untuk memikirkan sesuatu yang menarik.

Ketiga, menentukan fokus. Apa yang ingin saya refleksikan tentu akan berbeda dengan orang lain. Setiap orang bisa mengkontemplasikan berbagai hal yang penting bagi mereka, misalnya persoalan hidup, sebuah kalimat menarik dari buku, pertanyaan filosofis, atau perasaan masing-masing.

Keempat, merilekskan diri. Kontemplasi tidak akan terjadi dalam suasana tegang. Maka kita harus membiarkan diri untuk rileks dan bernafas dengan tempo yang tenang. Seperti yang saya sampaikan di awal, kita beroperasi dalam ‘slow mode‘.

Kelima, amati isi pikiran dan refleksikan. Biarkan pikiran-pikiran itu mengalir secara alami. Amati tanpa menghakimi. Refleksikan mengapa pikiran-pikiran itu muncul dan apa artinya bagi kita secara pribadi.

Keenam, tuliskan. Saat kita menulis hasil refleksi, kita ‘mengkristalkan’ hasil refleksi itu. Pada akhirnya praktik menuliskan buah refleksi akan memperkuat pemahaman kita akan diri kita sendiri. It’s pretty much like self-auditing our thoughts and feelings.

Ketujuh, membuat dialog dengan diri sendiri. Kita bisa mengajukan pertanyaan reflektif seperti, “Mengapa saya merasakan emosi ini?” atau “Apa yang bisa saya pelajari dari hal atau pengalaman ini?”

Terakhir, bersabarlah dengan diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan pada diri sendiri seringkali tidak langsung terjawab. Tujuan kontemplasi bukanlah untuk menemukan jawaban saat itu juga. Berikan waktu pada pikiran kita untuk berproses.

Teknik kontemplasi juga ada macam-macam. Ada kontemplasi di alam terbuka dimana orang mereflesikan keindahan dan kompleksitas alam sekitar. Ada juga kontemplasi musik dan seni, dimana orang berusaha menggabungkan unsur-unsur seni dan musik dalam kontemplasinya untuk bisa merefleksikan emosi mereka dengan sepenuhnya. Juga ada kontemplasi religius, dimana orang merefleksikan isi kitab suci dan ajaran-ajaran spiritual. Dan ada pula kontemplasi filosofis, dimana orang ‘bergumul’ dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang esensi hidup dan arti menjadi manusia, misalnya.

Hakikat kontemplasi dilakukan adalah agar kita memperoleh kejelasan arah hidup, membuat kita lebih memahami emosi dan lebih terampil mengendalikannya, dan pada akhirnya agar kita semakin bertumbuh, baik secara mental maupun spiritual. 🌻

"Contemplation is the highest expression of man’s intellectual and spiritual life. It is that life itself, fully awake, fully active, fully aware that it is alive.”Thomas Merton

Joy Is in the Effort

"The reward of a thing well done is to have done it."Ralph Waldo Emerson

Rasanya cukup valid mengatakan bahwa sukacita bisa dirasakan saat kita berupaya mencapai suatu tujuan. Saat bergelut dalam usaha, proses belajar dan peningkatan kualitas diri juga terjadi secara simultan, dan proses mencapai tujuan seringkali lebih menyenangkan dibandingkan tujuannya sendiri. Tidak sedikit orang yang menemukan kepuasan saat berproses mencapai tujuan, saat mengatasi tantangan, dan saat mereka merasa ada kemajuan dalam upayanya. Pengalaman yang diperoleh saat berjuang, seringkali, menjadi imbalan berharga dari upaya itu sendiri.

Tentu saja upaya tidak selalu terasa menyenangkan.

Ada campur aduk rasa saat kita memperjuangkan suatu tujuan: senang, berdebar-debar, kecewa, sedih hampir putus asa, lalu optimis lagi karena ada sedikit harapan, termotivasi dan berusaha bangkit, dan akhirnya ada kepuasan. Saat-saat berjuang seringkali menjadi kenangan manis yang begitu melekat di ingatan kita setelah berhasil melaluinya; dan ketika sampai di titik itu, kita telah bertumbuh menjadi seseorang yang baru. Kita belajar dari pengalaman hidup. Wawasan kita berkembang, dan kita memahami hidup secara lebih mendalam.

Hal ini pun telah dipelajari secara akademis. Berikut beberapa hasil penelitian yang mendukung klaim bahwa kesenangan dan kepuasan diperoleh dari usaha mencapai tujuan:

Teori “Flow” Csikszentmihalyi

Mihaly Csikszentmihalyi adalah psikolog yang memperkenalkan konsep “flow” dalam bukunya berjudul “Flow: The Psychology of Optimal Experience.” ‘Flow’ adalah suatu keadaan dimana kita benar-benar ‘terlarut’ dalam kenikmatan melakukan sebuah aktivitas. Dalam keadaan ini, orang merasa tertantang untuk mengeluarkan keahlian mereka, membuat orang benar-benar berkonsentrasi hingga tidak menyadari berjalannya waktu.

Teori Determinasi Diri

Peneliti Edward Deci dan Richard Ryan mengembangkan teori determinasi diri, “Self-Determination Theory. ” Teori ini menekankan pentingnya motivasi dari dalam diri untuk bertumbuh. Menurut teori ini seseorang akan merasakan kepuasan optimal saat terlibat dalam aktivitas yang bagi mereka terasa menyenangkan, walaupun aktivitas itu membutuhkan kerja keras. Proses mencapai tujuan dan mengatasi tantangan bisa memberikan kepuasan sendiri.

Penelitian Steger, Kashdan, dan Oishi

Sebuah penelitian di tahun 2008 menemukan bahwa keterlibatan dalam aktivitas yang membutuhkan upaya dan berkontribusi nyata pada pengembangan diri dan kesejahteraan batin sangat berkaitan dengan tingkat kepuasan hidup yang tinggi. Upaya yang dilakukan dalam kegiatan yang bermakna menjadi kontributor rasa puas yang dialami.

Penelitian Fishbach and Choi Tahun 2012

Dalam penelitian ini, Ayelet Fishbach dan Jinhee Choi menemukan bahwa kebanyakan individu menemukan kepuasan tertinggi saat mengejar tujuan, bukan saat telah mencapainya. Proses bekerja mencapai tujuan, terutama apabila orang bekerja sesuai dengan minat mereka, akan dinilai sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat secara intrinsik.

Penelitian Angela Duckworth

Penelitian Angela Duckworth tentang kegigihan, yang ditulisnya dengan lengkap di buku “Grit: The Power of Passion and Perseverance,” menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan secara terus menerus dalam jangka panjang sangat berperan dalam menimbulkan kepuasan dan, tentu saja, kesuksesan. Upaya yang dilakukan dengan semangat yang tak kunjung padam secara terus menerus adalah komponen kunci dalam menemukan kegembiraan dan hasil yang benar-benar berarti.

Hasil penelitian dan teori-teori yang dikembangkan ini semuanya menguatkan klaim bahwa usaha yang dilakukan secara konsisten dalam mencapai tujuan menjadi sumber kepuasan dan kegembiraan yang dirasakan. Pada akhirnya, tak ada hasil dan kepuasan tanpa usaha yang besar, “Nil sine magno labore.”

Joy is in the effort. 😉

Memahami ‘Post Hoc Ergo Propter Hoc’

“Setelah minum teh herbal, migrain saya langsung hilang. Pasti teh ini yang menyembuhkannya!”

Konstruksi berpikir seperti di atas adalah salah satu contoh kesalahan logika (logical fallacy). Ada istilah khusus untuk kesalahan logika seperti ini: Post Hoc Ergo Propter Hoc.

Terjemahan sederhananya kira-kira, “After this, therefore because of this“. Pada contoh sebelumnya, karena sembuhnya migrain dirasakan setelah meminum teh herbal, maka teh herbal disimpulkan sebagai penyebab sembuhnya migrain.

Fakta menariknya adalah bahwa kita acap jatuh ke dalam konstruksi berpikir yang keliru seperti ini.

Padahal, hanya karena kejadian A terjadi sebelum kejadian B, tidak berarti mutlak bahwa kejadian A menjadi penyebab B. Bisa saja bahwa kejadian A dan B tidak berhubungan sama sekali, dan bahwa keduanya memiliki penyebab masing-masing yang masih perlu diselidiki lebih lanjut, atau bisa saja bahwa kedua kejadian hanya terjadi secara berurutan saja, tanpa memiliki hubungan sebab-akibat (kausalitas).

Berikut beberapa contoh yang menggambarkan kesalahan logika ini:

  • “Kalau saya lulus ujian, biasanya saya mengkonsumsi permen karet beberapa menit sebelum ujian.” Kesimpulannya jelas bukan permen karet yang membuat seseorang lulus ujian.
  • “Setiap saya selesai mencuci kendaraan, pasti hujan!” Kesimpulannya tentu saja bukan kegiatan mencuci kendaraan yang menyebabkan hujan turun.
  • “Setelah presiden X terpilih, ekonomi negara kita langsung bagus!” Kesimpulannya tentu saja bukan presiden X yang menyebabkan kondisi ekonomi langsung membaik, tetapi ada banyak faktor yang berkontribusi di dalamnya, seperti kebijakan sebelumnya, kondisi pasar global, dan siklus ekonomi.

🌻

Sebenarnya ada beberapa hal yang bisa membantu kita untuk lebih ‘imun’ terhadap kekeliruan berpikir post hoc ergo propter hoc ini:

Pertama, menyadari bahwa korelasi tidak berarti kausalitas. Kita perlu mencari bukti yang menjelaskan sebab sesuatu terjadi. Selain itu, memikirkan penjelasan alternatif juga diperlukan, “Apakah ada faktor lain yang menyebabkan hal ini?”

Kedua, segala sesuatu ada konteksnya. Kita harus memahami konteks dari hal yang terjadi. Faktor-faktor eksternal bisa saja mempengaruhi sesuatu, dan ini perlu dicermati sebelum mengambil kesimpulan.

Ketiga, kita perlu mengetahui pendapat ahli. Asupan berupa analisis para ahli dan penelitian berbasis metode ilmiah sangat diperlukan untuk membantu kita menyimpulkan dengan lebih berdasar dan mantap.

☘️ ☘️ ☘️

Saya menulis ini untuk menjadi pengingat bagi diriku sendiri agar lebih cermat dalam membuat kesimpulan. Semoga bermanfaat juga untuk kalian. Dan ingat, apabila kamu merasa sedikit pusing setelah membaca postingan ini, bukan berarti postingan ini yang membuatmu pusing. 😂

Post hoc ergo propter hoc.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Practicing Gratitude (When It’s Hard)

It’s natural to be grateful during good days. It’s as easy as smiling at a pleasant surprise.

But as with a boat not designed to be stuck ashore, gratitude is a practical skill most necessary during challenging times, just like a candle is mostly needed in darkness to light up our pathways.

Gratitude isn’t confined to only big things. Gratitude for the small things, also known as micro-gratitude, is just as valid and valuable as gratitude for the big things.

When you practice gratitude, you look for things, big or small, to be grateful for each day, especially amidst hard times, such as when you are experiencing grief due to losing a loved one, contracting a disease, losing a job, etc. These small things can include a beautiful sunrise, a kind gesture from a friend, or simply the ability to breathe.

Here are some simple thoughts I’d like to share about gratitude when I lost my dad last year:

One: I know it’s hard to be grateful during hard times. I lost my dad in September 2023, and I could barely notice small good things happening around my dad’s passing when it happened. It’s really hard. I was sucked into a rabbit hole of deep sadness, not having a clue how to navigate this experience. That’s why you should give yourself some space to grieve, and to grieve only. Take as much time and space as you need.

Two: Over time, you’ll begin to notice things. Slowly but surely, things begin to unfold in front of your eyes. I noticed that many people came to my dad’s funeral, and I received advice from them. I noticed that the requiem mass for him was well run. I noticed that the entire funeral procession was a success. I noticed that his grave location was decided thoughtfully, and it’s a beautiful spot. I noticed that he’s been teaching us all these years with his deeds and real-life examples. I noticed that he’d been working so hard to make sure things were good at home. I noticed that he didn’t ask for much for himself; he was always happy with little. I noticed that his life was really a good model for us, his children. Deep down, as time progresses, I will keep noticing things about his life, more and more.

And third: I am grateful for his life. It’s been 9 months since he passed. I am still teary-eyed whenever I remember him, but today I am at a state where I can finally be truly grateful that he was my dad and always will be. If one could pick a life for themselves, I would still pick my dad to be my dad. In another life, if it’s even real, I would love to meet him again.

What I am saying is this: It’s totally fine if you don’t feel like being grateful right now as hard things happen. Acknowledge that it’s hard to. Know that God understands you completely. He’ll be OK with that, trust me.

After a certain amount of time, there’s going to be a phase where you begin to see things with a new set of eyes. Eyes that have been washed with constant tears. And there you’ll see things you didn’t know you could see after the experience. For me, I receive a lot of insights from what I discern personally from the experience and what I read and listen to from multiple sources.

But above all, it was the divine power that enabled me. I can tell you this with high certainty because time and again, it’s when I surrendered to God that I was strengthened again. Had it not been for His company, I totally doubt that I would be where I am right now, because I know just how hard it was to pick myself up again.

As with all good things in life, it takes time.

Let me assure you that you’re going to grow through hard times. You may never heal fully. I never did. But life is there for you. Life welcomes you anytime you’re ready to continue. Keep being alive, for the people you hold dear, deep in your heart.

They will be proud of you from up there. I truly believe that. 😊

Love,

Paulinus Pandiangan

Melepaskan Keterikatan dari Ego

Jujur saja ini topik yang berat dan saya tidak sedang mengklaim diri saya sebagai orang yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang ego dan bagaimana melepaskan kemelekatan dengan ego itu sendiri. Tulisan ini dimaksud hanya sebagai ‘rekaman’ dari apa yang setidaknya berhasil saya ‘tangkap’ dari beberapa sumber (buku, podcast, dan video) yang berbicara tentang ego.

Lalu apa yang kiranya bisa dilakukan untuk melepaskan kemelekatan dari ego kita sendiri?

Pertama: Mengamati pikiran. Menyadari apa yang tengah dipikirkan menjadi langkah awal, terlebih untuk pikiran-pikiran yang cenderung tidak positif. Kita sebenarnya memiliki kemampuan untuk menjadi pengamat (observer) pikiran-pikiran kita sendiri. Ini sesuatu yang bisa dilatih. Sebagai contoh, misalnya kita sedang mengkritik diri kita sendiri. Apabila pikiran ini berulang terus menerus, pada akhirnya kita akan menyadari, “Hmm, tampaknya pikiran ini selalu muncul lagi dan lagi hampir setiap hari tanpa benar-benar saya sadari sebelumnya.”

Lalu kedua: Membedakan antara ‘bisikan’ ego dan situasi yang sebenarnya. Misalnya kita sedang berada di barisan antrian. Akibat lama menunggu, kita menjadi tidak sabar dan menggerutu dalam hati. Lalu timbul sebuah pikiran, “Ini hanya membuang-buang waktu saja!”. Pikiran semacam itu sebenarnya adalah suara ego kita sendiri. Situasi yang sebenarnya terjadi adalah bahwa benar ada antrian, tetapi kita tetap bisa menikmati suasana antrian itu dengan berpikir, “Saya sedang antri. Tidak mengapa. Toh, situasi ini tidak dalam kendali saya. Mengapa saya tidak mencoba menarik nafas dalam-dalam dan mulai menikmati antrian ini?”

Ilustrasi ego yang ‘membebani’ kita sendiri.

Ketiga: Munculkan kesadaran ke permukaan. Ketika kita sudah bisa membedakan ‘bisikan’ ego dan situasi yang sebenarnya, di situlah bermulanya kesadaran (awakening). Setelah itu, bisa saja kita dipengaruhi ego lagi, tetapi secara perlahan kesadaran itu akan semakin menguat dan secara perlahan pula pikiran-pikiran yang mengganggu akan semakin meredup. Ego tidak pernah menginginkan perubahan, dan proses untuk sampai pada kesadaran ini biasanya terjadi perlahan.

Keempat: Lepaskan narasi-narasi dalam pikiran yang menghalangi kita untuk berbuat. Ketika misalnya seseorang kehilangan pekerjaan, dia tak lantas mengutuk dirinya. Dia bisa menggambarkan keadaannya dengan, “OK, saya sedang tidak memiliki pekerjaan saat ini. Yang harus saya lakukan adalah segera mencari pekerjaan.”

Kelima: Buang jauh semua pikiran yang semakin ‘melemahkan’ kita sendiri. Saat bangun di pagi hari dan tiba-tiba hujan lebat, kita bisa mengubah pikiran, “Ini awal hari yang buruk!” menjadi pikiran yang bersyukur. “Ternyata di luar tidak begitu buruk. Langit di saat hujan juga tetap bisa dinikmati.” Saat itu dilakukan secara sadar dalam pikiran, kita akan terbebas dari “belenggu” ego. Kita tidak lagi ‘melapisi’ realitas dengan pikiran kita yang tidak positif, justru kita bisa menikmati sebuah situasi yang kita kutuk sebelumnya.

Menjabarkan ini dalam tulisan tentu jauh lebih mudah dari melakukannya. Semoga kita menjadi manusia yang semakin berkesadaran dan tidak terkungkung dalam ‘bisikan’ ego yang malah menghalangi kita untuk lebih baik lagi.

Making Your Mind A Happy Place

I am not a psychologist or an expert on happiness, but the idea of happiness is a big theme for me. Deep down, we human beings all share a craving for it. While our brains have operated in survival mode since ancient times, making them prone to feeling agitated, certain techniques can help create a more calm and happy mind. Since we are going to live in (and with) our minds forever, it is vital to cultivate a happy state of mind. There are many techniques out there (you can always Google search if interested), but I will simply point out four of them here, briefly.

Please consider the following techniques as investments. Like any type of investment, they will bear fruit after a while. Making our brain a happier place certainly does not happen overnight.

Practicing Gratitude Daily

Expressing gratitude on a daily basis can shift our mindset from scarcity to abundance. By appreciating what we already have, we focus less on what we lack. People achieve this by directly expressing gratitude to those they wish to thank, mentally acknowledging those they are indebted to, or by keeping a daily gratitude journal. I have also written about this in a previous post (in Bahasa), which you can find here.

Limiting Unnecessary Inputs

In this age of information overload, filtering through information is akin to searching for precious stones in mud. Valuable information exists, but we must learn to discern what best serves us. Personally, I find useful insights on TikTok, albeit after sifting through a lot of irrelevant content.

Exercising Regularly

Not only is exercise good for the body, but it’s also beneficial for the mind. Finding an exercise routine that suits your preferences is crucial as it makes it easier to stick with. For example, I enjoy brisk walking in the afternoon after work. It’s simple, easy to do, and doesn’t require fancy equipment. Regular exercise releases endorphins, the body’s natural mood lifters, helping to maintain a happy mind.

Sleeping Well

Quality sleep is the foundation of a healthy mind. You will not function well when sleep deprived, and we all know this. Getting enough high-quality sleep will positively affect your brain biology, thus your overall well-being.

In today’s fast-paced world, it’s easy to get caught up in the hustle and bustle. Being mindful of the importance of maintaining balance in life is crucial. Making our mind a place of contentment is a great start. After all, life is a gift to be savored, right?

Click to listen highlighted text!