Pribadi yang Mandiri

Selalu merasa tergantung pada orang lain jelas bukanlah hal yang baik. Ketergantungan membuat Anda lebih rentan terhadap berbagai emosi negatif—kekecewaan, frustrasi—yang merusak keseimbangan mental Anda. Menjadi mandiri itu penting.

Ilustrasi Kemandirian

Untuk membuat diri Anda tidak terlalu bergantung pada orang lain, Anda perlu memperluas cakupan keterampilan Anda. Dan Anda harus lebih percaya diri dengan pertimbangan Anda sendiri. Pahami bahwa kita cenderung melebih-lebihkan kemampuan orang lain dan kita cenderung meremehkan kemampuan sendiri (impostor syndrome). Sering kali orang lain juga sebenarnya berusaha keras untuk membuat dirinya tampak seolah-olah yakin dan memahami betul apa yang mereka lakukan. Anda harus mengimbangi ini dengan lebih mempercayai diri sendiri dibanding orang lain. Namun, penting diingat bahwa menjadi mandiri tidak berarti membebani diri Anda dengan detail-detail kecil yang tidak perlu. Anda harus bisa membedakan antara hal-hal kecil yang sebaiknya diserahkan kepada orang lain dan masalah yang lebih besar yang membutuhkan perhatian dan upaya Anda.

Menumbuhkan kepercayaan diri akan melahirkan kekuatan.

Kontestan Menarik di X Factor Indonesia 2021

Banner X Factor Indonesia

Saya sebenarnya tidak begitu aktif mengikuti ajang pencarian bakat X Factor Indonesia. Tetapi saya secara tidak sengaja menemukan klip video beberapa kontestan ajang ini di TikTok dan sejak itu saya merasa tertarik pada beberapa kontestan, atau istilah saya performer, yang menurut saya memiliki suara yang sangat menarik.

Dan kalau ditanya siapa kontestan favorit, agak sulit juga memilihnya karena rata-rata bagus semua.

Berikut daftar 5 orang kontestan yang menurutku menarik. Should we make it into top 3 will be another talk for another day, but for now here it is:

(1) Roby Gultom

Ini video penampilan perdananya yang bagi saya sangat mengesankan:

(2) Alvin Jonathan

Alvin Jonathan — Give Me Love

(3) Maysha Juan

Maysha Juan — Traitor

(4) Putu Maydea

Putu Maydea — Runnin

That’s it so far.

Who knows, dalam perjalanan selanjutnya tertarik dengan suara unik kontestan lain.

In the mean time, I’ll just enjoy the show… 🎙️ 🎼

Jurnal Hari Kedua

Hai, guys… 🤗 😃

Pagi ini begitu saya sampai di lokasi kerja saya memutuskan untuk menggunakan sedikit waktu (± 5 menit) untuk menjurnal rasa syukur. Saya sempat berpikir bahwa mungkin ada baiknya jurnal ini diisi pada malam hari, setelah saya beraktivitas seharian dan mengalami berbagai pengalaman sehari itu. Tapi saya berpikir lagi bahwa, toh, di awal hari pun sudah banyak berkat sebenarnya yang patut disyukuri; bahkan dalam kata pengantar jurnal itu saya mengatakan bahwa berkat bagi kita setiap hari laksana bintang-bintang di angkasa (dan itu juga sebenarnya yang melatarbelakangi gambar langit di malam hari yang dipenuhi bintang yang saya gunakan sebagai background sampulnya).

Maka akhirnya pagi ini saya mengisi lembaran jurnal hari ke dua, dan inilah foto lembaran guratan tangan saya:

Lembaran Jurnal Rasa Syukur Hari Kedua

Berikut versi teksnya:

(1) Hari ini saya bersyukur atas kesehatan saya dan keluarga. Udara sangat sejuk saat saya berangkat kerja pagi ini, dan saya bertemu dengan rekan-rekan kerja saya yang juga sehat.

(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini? Saya ingin membaca satu bab dari buku elektronik di smartphone dan mencoba merenungkan isinya, siapa tahu bisa menjadi bahan tulisan di blog.

(3) Lagu apa yang sedang kamu sukai saat ini dan mengapa? Instrumental sape’ dari Alif Fakod di YouTube. Rasanya tepat untuk mendampingi saya saat melakukan rutinitas gerak jalan di pagi hari selama 30 menit. Ada banyak musik instrumental lain yang juga tersedia secara gratis (non-copyright) dan cukup bagus sebagai pengiring gerak jalan yang saya lakukan.

Itulah isian jurnal saya di hari kedua ini, Jumat, 21 Januari 2022. Kalau Anda membaca ini semoga Anda juga tergerak untuk mensyukuri berbagai hal kecil dalam hidupmu hari ini. 😍


By the way, saya baru saja disuguhi secangkir kopi oleh ibu pegawai kebersihan di kantor tanpa saya minta. Tanpa diminta, berkat datang, sesederhana apa pun bentuknya. Ini juga patut disyukuri, guys. ☺️

Berterimakasihlah kepada semua orang yang melakukan hal yang baik kepadamu hari ini, sebagaimana quote di lembaran jurnal di atas. 💝

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Hari Pertama

Ilustrasi Menjurnal

Hai guys…

Hari ini saya mulai menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal) yang sudah saya share di sini. Silakan mengunduhnya kalau kalian juga ingin mencoba.

Inilah hasil goretan jurnal hari pertama saya:

Jurnal Rasa Syukur Hari Pertama

Dan ini versi teksnya:

(1) Hari ini saya bersyukur atas hari yang baru yang dianugerahkan kepada saya dan keluarga. Saya bangun dalam keadaan sehat dan dapat memulai pekerjaan saya kembali dengan baik.

(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini? Saya ingin melatih diri saya untuk bersikap positif kepada orang-orang yang saya temui, juga bisa lebih tenang dalam menanggapi berbagai hal.

(3) Deskripsikan satu momen masa kecilmu yang membahagiakan. Satu hal yang berkesan adalah saat saya ikut dalam rombongan tamasya sekolah saat SD. Saya senang bisa menikmati pemandangan alam dan bercengkerama dengan teman-teman lain yang ikut dalam rombongan. Malam sebelumnya saya sampai tidak bisa tidur karena selalu membayangkan keseruan perjalanan wisata ini.

Kalau kita bersyukur, kita akan selalu merasa cukup. Quote di lembaran jurnal hari ini sangat menginspirasi saya untuk selalu melatih diri menumbuhkan rasa syukur.

Bagaimana denganmu, sobat? Sudah bersyukur hari ini? 😉

Salam,

Paulinus Pandiangan

Perihal Kematian

“When we die, our souls become free.”

Heraclitus

Hai, sobat! 🤗

Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia pasti akan mengalami kematian. Ini sebuah fakta. Refleksi dari buku A Calendar of Wisdom karya Leo Tolstoy yang saya baca pagi ini berbicara tentang kematian. Inilah terjemahannya.

Kematian dan kelahiran adalah 2 batas kehidupan yang memiliki suatu kesamaan.


Saat Anda memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada jiwa Anda setelah meninggal, pikirkan juga tentang apa yang terjadi pada jiwa Anda sebelum dilahirkan.  Jika Anda pergi ke suatu tempat (melalui kematian), maka Anda datang dari suatu tempat (melalui kelahiran).


Ke mana kita setelah kematian?  Kita pergi ke tempat kita berasal. Tidak ada diri kita yang sepenuhnya di tempat itu; oleh karena itu, kita tidak ingat apa yang telah terjadi pada kita di sana.


Ketika seseorang menjalani kehidupan yang baik, dia bahagia pada saat ini dan dia tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelah kehidupan ini. Jika dia memikirkan kematian, dia melihat seberapa baik kehidupan ini ditata, dan dia percaya bahwa setelah kematian semuanya akan menjadi baik seperti sekarang. Akan jauh lebih baik untuk percaya bahwa segala sesuatu yang Tuhan buat untuk kita adalah baik adanya daripada percaya pada semua kesenangan surgawi.

Seseorang seharusnya tidak perlu terlalu memikirkan apa yang akan terjadi setelah hidupnya. Ikutilah kehendak Ilahi yang mengirim kita ke dunia ini; kehendak itu ada dalam pikiran dan hati kita.

Tidak perlu terbuai dengan janji-janji surga. Yang terpenting adalah hidup dengan sebaik mungkin, saat ini. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan

Perihal Memulai Kembali

Anda mengalami hari yang kurang menyenangkan? Ketahuilah bahwa semua orang juga pernah mengalaminya. Anda merasa sudah menyimpang jauh dari prinsip dan keyakinan yang Anda pegang teguh? Ini juga pernah terjadi pada semua orang.

Bahkan Marcus Aurelius pun mengalaminya. Jabatan kaisar sekaligus filsuf Stoikisme tidak membuatnya imun terhadap pengalaman ini.

Barangkali pengalaman kurang menyenangkan Marcus Aurelius inilah yang melatarbelakanginya menuliskan kalimat berikut dalam jurnal pribadinya, Meditations:

“Your principles can’t be extinguished unless you snuff out the thoughts that feed them, for it’s continually in your power to reignite new ones. . . It’s possible to start living again! See things anew as you once did—that is how to restart life!”

Marcus Aurelius dalam Meditations


Dengan lugas dia menyatakan bahwa prinsip-prinsip hidup yang kita pegang teguh sebenarnya tidak hilang, kecuali kalau kita membuang jauh-jauh pikiran yang melandasi prinsip-prinsip tersebut, dan kita selalu bisa melahirkan pikiran-pikiran baru setiap saat.

Dengan kata lain, kita selalu bisa memulai kembali. Kita mampu melihat segala sesuatu kembali baru, jika kita memilih untuk berpikir dengan cara yang baru.

It’s OK to be messed up sometimes. Tidak ada orang yang hidupnya selalu tenteram dan teratur setiap saat. Selalu ada waktunya dimana kita menjadi sedikit ‘kacau’, dan walaupun demikian, kita selalu bisa kembali pada prinsip-prinsip hidup yang kita anut. Selalu ada pilihan untuk ‘restart‘.

Apa yang telah terjadi sudah menjadi masa lalu. Selalu ada pilihan bagi kita untuk memulai kembali lembaran baru dalam hidup.

Dan kita bahkan bisa memulainya saat ini juga. 🤗 😉

Jurnal Rasa Syukur Edisi 2022

Hai, teman-teman… 🤗

Di postingan tentang cara bersyukur, saya pernah menulis bahwa menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal) merupakan salah satu cara yang baik untuk mengungkapkan rasa syukur yang memberikan dampak mental yang baik bagi yang melakukannya.

Melalui postingan ini saya ingin mengajak teman-teman semua untuk mencoba langsung kegiatan menjurnal bersama. Tetapi sebelumnya, sebaiknya disimak dulu video Marissa Anita berikut tentang bersyukur.

On Marissa’s Mind: Bersyukur

Apa pesan yang kamu peroleh setelah menyimak video di atas? 😉

Kalau kalian merasa perlu mencoba menulis jurnal rasa syukur, silakan mengunduh formatnya yang telah saya sediakan di link berikut:

Silakan menggunakan jurnal ini dan jangan lupa share ke teman-teman yang lain apabila kalian merasa mendapatkan manfaat dari kegiatan menjurnal ini.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Tentang Visi dan Ketenangan

“Ketenangan dapat diraih apabila orang telah memiliki kemampuan untuk teguh dalam membuat keputusan—di saat orang lain terus-menerus jatuh bangun dan selalu mudah goyah dalam memutuskan berbagai hal. Apa penyebab kegoyahan ini? Karena tidak ada kejelasan visi dan mereka akhirnya hanya bergantung pada pendapat umum.”

SENECA dalam MORAL LETTERS

Dalam esainya tentang ketenangan (tranquility), Seneca menggunakan kata euthymia, yang didefinisikan dengan “percaya diri dan meyakini bahwa Anda berada di jalan yang benar, dan tidak ragu-ragu dengan banyaknya pilihan jalan lain dari mereka yang mengembara ke segala arah.” Keadaan pikiran inilah, katanya, yang menghasilkan ketenangan.

Kejelasan visi dibutuhkan untuk bisa memiliki kepercayaan diri seperti ini. Tidak berarti kita akan selalu 100 persen yakin akan segalanya. Sebaliknya, kita dapat yakin bahwa kita secara umum menuju ke arah yang benar—bahwa kita tidak perlu terus-menerus membandingkan diri kita dengan orang lain atau berubah pikiran setiap tiga detik berdasarkan informasi baru.

Sebaliknya, ketenangan dan kedamaian ditemukan dalam proses mengidentifikasi jalan kita dan dalam berpegang teguh padanya: tetap di jalur—tentu saja sambil tetap membuat penyesuaian di sana-sini—tetapi mengabaikan sirene yang mengganggu yang mengisyaratkan kita untuk berbelok, melenceng jauh dari jalur awal.

Hukum Mengasihi

Hai guys…

Berikut ini terjemahan dari bacaan singkat untuk 14 Januari yang saya ambil dari bukunya Leo Tolstoy, A Calendar of Wisdom.


Anda seharusnya hanya mencintai satu hal dalam diri Anda, yang sama dalam diri semua orang. Dalam mencintai apa yang sama dalam diri kita semua, Anda mencintai Tuhan.


”Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”  — Matius 22:36—40


Orang hidup dengan cinta: cinta pada diri sendiri adalah awal dari kematian;  cinta pada orang lain dan Tuhan adalah awal dari kehidupan.


"Allah adalah kasih,dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita." — 1 Yohanes bab 4:16—17


Cinta bukanlah sumber, tetapi konsekuensi dari pemahaman kita tentang keilahian, yang menjadi awal kehidupan spiritual dalam diri kita semua.

Selamat meresapkan bacaan ini teman-teman, dan semoga karya Tuhan dalam diri kita semua memampukan kita untuk sungguh bisa melakukan kedua hukum di atas.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Membaca dan Diubah

Ketika saya menyuarakan tentang eksplorasi atau pencarian buku / penulis favorit di tulisan sebelumnya, di saat itu saya hanya menekankan aspek koneksi antara penulis atau isi tulisan dengan pembaca, of how you relate to the story and/or the author.

Premisnya adalah bahwa banyak membaca (well-read) bukan berarti membaca banyak buku, tetapi membaca teks / tulisan tertentu penuh perhatian dan berulang hingga bisa menceritakan kembali ide utama dalam teks / tulisan tersebut.

Pagi ini, e-mail periodik dari The Daily Stoic di inbox saya berbicara tentang aspek perubahan yang bisa ditimbulkan sebuah buku. Sebuah buku yang baik dan tepat memiliki daya untuk mengubah pembacanya.

Begini kira-kira terjemahan isinya:

Cobalah ingat kembali sebuah buku yang pernah Anda baca yang mengubah hidup Anda. Kapan Anda terakhir membacanya? Sudah berapa lama ditulis?


Sekarang pikirkan semua hal yang telah berubah sejak Anda membaca buku itu, baik perubahan di dalam dunia maupun perubahan di dalam dirimu; mungkin bahkan dalam pemahaman kita tentang sains atau sejarah atau biografi orang yang menulisnya.


Itu sebabnya Anda perlu mengambil buku itu—bahkan buku-buku yang telah mempengaruhi Anda—dan membacanya lagi.  “Buku tetap sama,” kata penulis Italo Calvino, “tetapi kita pasti telah berubah, dan oleh karena itu pertemuan selanjutnya ini akan benar-benar baru.”


Atau seperti yang dikatakan penyair favorit Marcus Aurelius, Heraclitus, “Tidak ada orang yang melangkah di sungai yang sama dua kali, karena itu bukan sungai yang sama dan dia bukan lagi orang yang sama.”


Saat kita berubah dan konteks kita berubah, apa yang kita temukan dan dapatkan dari sebuah buku juga berubah. Inilah sebabnya mengapa Marcus Aurelius membaca tulisan Epictetus ketika dia duduk di takhta dan ketika menjadi kaisar. Buku yang dia baca pada usia 25 tahun selalu bersamanya, dan setiap kali dia mengambilnya, itu akan menjadi pengalaman baru yang berbeda.


Inilah sebabnya mengapa Stockdale membaca Epictetus ketika dia sedang berlatih untuk menjadi pilot pesawat tempur dan mengapa dia kembali setelah dibebaskan sebagai tawanan perang, bahkan menulis bukunya sendiri tentang itu, Courage under Fire.


Inilah juga sebabnya mengapa Jenderal Mattis membawa buku Marcus Aurelius bersamanya di setiap kampanye.


Dan inilah mengapa kita juga harus kembali lagi dan lagi ke buku dan penulis favorit kita.  Anda akan mendapat manfaat baru dari setiap pertemuan.

Kata kuncinya: pertemuan (encounter). Membaca ulang sebuah buku yang bagus dan mengena dengan jiwa kita akan selalu menjadi pertemuan yang baru, yang membawa kita masuk ke dalam level pemahaman yang baru.

Saya selalu menganggap bahwa pemahaman kita akan sesuatu terdiri dari lapisan-lapisan (layer). Ketika hari ini saya membaca buku, barangkali isinya akan membantu saya mengungkap satu lapisan pemahaman. Ketika saya membaca buku yang sama di lain waktu, seiring waktu dan seiring perjalanan dan pengalaman hidup, barangkali lapisan-lapisan pemahaman baru akan terkuak, memperkaya dan memperkuat pemahaman saya yang terdahulu.

Bagaimana denganmu, teman? Apakah engkau memiliki pandangan yang lain tentang ini?

😉

Salam,

Paulinus Pandiangan