Slot 30 Menit

Ini terkait olahraga rutin selama 30 menit yang saya lakukan kembali dua hari terakhir.

Menjaga komitmen untuk berolahraga ini memang tidak mudah bagi saya. Ya tentu saja dengan komitmen-komitmen lainnya juga, semua butuh keteguhan. Tetapi memang untuk olahraga rutin ini menurut pengalaman saya sendiri masih sangat mudah slip. Malas sedikit, cancel. Cuaca mendung sedikit, cancel, hahaha… 🤣🤣🤣🤣

Akhirnya saya mencoba membuatnya mudah saja dulu. Slot 30 menit per hari nampaknya slot waktu yang sangat mudah saya sisihkan setiap hari untuk gerak jalan. Berjalan di sekitar area kerja selama 30 menit per hari nampaknya bisa dijadikan sekalian sebagai aktivitas olahraga. Berjalan dengan santai sambil melihat sekitar area kerja, siapa tahu ketemu lembaran seratus ribuan yang tercecer. 🤠

Berikut hasil saya yang terekam di Google Fit pagi ini:

2.22 kilometer.

Bisa dilihat bahwa 30 menit setara dengan sekitar 2 kilometer berjalan kaki santai.

Bukan angka yang impresif tetapi bila dilakukan konsisten tentu akan membuahkan yang baik.

Salam sehat dan damai untuk kita semua! 🤗

Memaknai Penderitaan

Masa Pra Paskah ini menjadi waktu yang sangat relevan bagi perenungan tentang penderitaan (suffering). Bagaimana tidak, puasa itu sejatinya adalah penderitaan, ketidaknyamanan yang dipilih untuk dijalani bersama Kristus. Kita mengambil bagian dalam jalan derita yang dilalui Kristus sendiri. Masa Pra Paskah mengajarkan kita bahwa tidak ada kejayaan kebangkitan tanpa penderitaan. No resurrection without Calvary.

Suatu pertanyaan umum terkait penderitaan manusia adalah, apabila Tuhan memang maha baik dan pemurah, mengapa Ia membiarkan penderitaan terjadi?

Pertanyaan inilah juga yang sering sekali menjadi dasar bagi banyak orang untuk menjadi tidak percaya pada Tuhan.

Tetapi melalui tulisan ini, saya ingin mengajak saudara-saudariku sekalian yang menyempatkan membaca ini agar mencoba mengajukan pertanyaan yang lain: apabila penderitaan memang diizinkan oleh Tuhan untuk kita alami, bagaimana kita harus memaknainya?

Injil memberitakan bahwa roh sendirilah yang menuntun Yesus ke padang gurun. Perhatikan. Yesus dituntun oleh roh ke padang gurun untuk mengalami pencobaan dan penderitaan. Artinya penderitaan dipakai Allah dalam rancanganNya yang baik. Allah memandang bahwa penderitaan itu memiliki kekuatan untuk memperbaiki kualitas kemanusiaan kita. Penderitaan justru dapat ditransformasi oleh Allah menjadi sesuatu yang menguatkan. Simak di video berikut ini.

Ada Malaikat di Padang Gurun

Pengalaman hidup kita mengajarkan bahwa selalu ada berkat tersembunyi di balik penderitaan yang pada saatnya akan tersingkap bagi kita. Blessing in disguise.

Tentu saja yang namanya penderitaan pasti tidak mengenakkan, membuat tidak nyaman, bahkan sangat menyakitkan. Tetapi rasanya kita tidak akan bisa bertumbuh menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, lebih bijaksana, tanpa penderitaan. See? Penderitaan tidak hanya soal rasa sakit, tapi juga soal pertumbuhan kita sebagai manusia.

Penderitaan adalah pengalaman universal manusia yang tidak terelakkan. Setiap orang pasti pernah mengalami rasa sakit dan penderitaan dalam perjalanan hidupnya. Masa berada di padang gurun adalah pengalaman universal kita semua. Teladan Yesus mengajarkan kita tentang bagaimana kita harus menjalaninya: dengan tetap bersandar pada roh Ilahi yang akan meneguhkan dan membantu kita melawan godaan setan di masa-masa penuh kesukaran, dan setia untuk mengambil bagian dalam jalan penderitaan yang telah dilalui Kristus sendiri. Jika kita berada di jalan Kristus, Dia akan membawa kita kepada kejayaan. Kita akan mampu keluar sebagai pemenang. Kita tidak akan takluk pada setan. No victory for the devils.

Dan dalam kisah Yesus dicobai di padang gurun malaikat-malaikat juga besertaNya. MelayaniNya. Kita juga akan mengalami bahwa di tengah kekelaman hidup sekali pun, Tuhan selalu ada bersama kita, dan Dia akan selalu berusaha menggapai kita dengan tanganNya yang kudus. Kita harus sungguh bersandar pada roh Ilahi, karena roh yang menuntun kita ke padang gurun juga akan membawa kita melewati masa-masa di padang gurun.

Saya menyatakan ini bukan atas kekuatan saya sendiri, dan saya juga sama lemahnya seperti Anda, dekat dengan dosa. Roh Kudus-lah yang berbicara kepada Anda saat ini melalui apa yang tertulis melalui jari jemari saya.

Mari mohon bimbingan roh Ilahi agar kita bersama sungguh setia menjalani penderitaan, jalan satu-satunya menuju kejayaan kebangkitan. Kristus telah terlebih dahulu menderita untuk keselamatan kita. Mari ambil bagian dalam misi suci ini.

Tuhan, tuntunlah aku ke Kalvari…

Save Me Last Place

Saya baru saja menemukan puisi yang menurut saya sangat indah, ditulis dengan kerendahan hati, dan benar-benar mengena. Penulisnya Eric Pearlman. Judulnya Save Me Last Place.

Berikut baris demi baris puisinya:

Keep the last place for me, God. 
The one that's not too pretentious, at the end of the table, closer to the waiters than to the guests of honor. 
Because I don't know how to be with important people. 
I don't know how to win. 
I'm not able to celebrate like others do. 

Keep the last place for me, God.
The one that no one wants. 
Far at the back of the rickety bus, transporting commuters of mercy every day from sin to forgiveness. 

Keep the last place for me, God. 
The one at the back of the line. 
I'll wait my turn and I won't complain if some bully cuts in front of me. 

Keep the last place for me, God. 
For me, it will be perfect because You'll be the one who chooses it. 
I'll feel comfortable and I won't have to be ashamed of all my errors. 
It will be my place. 
It will be the place for people like me. 
For those who arrive last, and almost always late, but who arrive no matter what. 

Keep that place for me, my God. 

Bagaimana kesanmu membaca puisi ini—dalam konteks hubungan pribadimu dengan Tuhan?

Berikut versi videonya yang dikemas rapi di channel Alateia:

Eric Pearlman — Save Me Last Place

Semoga Anda bisa merasakan sikap menghamba—yang sepatutnya rendah hati—yang ditampilkan sangat baik di puisi ini.

Semoga! ❤☺

A Simple Morning Prayer

The following is a short, humble prayer you and I could pray to start our day.

O, almighty and eternal God, my Lord and my Creator.
I offer to Your Divine Majesty
my every thought, word, action and suffering.
As often as I draw my breath,
as often as the blood circulates in my veins, 
at every beat of my heart, 
I offer it to You. 
Accept, O Lord, this humble offering. 

Please consider subscribing to Aleteia channel if you find such contents useful and valuable.

Have a blessed day! ☺