Amor Fati = Acceptance

“Do not seek for things to happen the way you want them to; rather, wish that what happens happen the way it happens: then you will be happy.”

Epictetus

Menerima keadaan bukanlah perkara gampang. Ada saja hal-hal dalam perjalanan kehidupan yang terjadi tidak sesuai ekspektasi kita; akan selalu ada saja hal yang melenceng dari apa yang bahkan sudah disiapkan sebelumnya.

Di sinilah prinsip amor fati diperlukan.

Sebagaimana quote di atas, kita perlu belajar untuk menerima keadaan. Apa yang terjadi harus diterima sebagai apa yang memang harus terjadi. Kita, menurut Stoikisme, seringkali tidak merasa bahagia karena selalu mengharapkan apa yang terjadi harus selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Perilaku seperti ini ternyata ada yang membuat istilahnya juga: must-urbasi. Semua harus (must) sesuai dengan rencana dan harapan.

LANJUTKAN MEMBACA …

Pandemi dan Problem Kebosanan

Kebosanan

Pandemi COVID-19 saat ini menimbulkan banyak sekali dampak, salah satunya mengharuskan kita untuk menghentikan hampir semua kegiatan di luar rumah. Stay at home. Ini merupakan cara kita untuk melandaikan kurva penyebaran virus.

Menghabiskan waktu seharian di rumah tentu saja menimbulkan kebosanan, dan ini normal sebenarnya. Perihal kebosanan itulah yang tertangkap dalam sebuah tweet berikut,

Di dalam tweet tersebut juga tergurat solusi yang bagus.

Pertama, penerimaan.

Kebosanan harus diterima sebagai sebuah kebosanan. Penerimaan. Acceptance. Penerimaan ini saya kira sebuah skill yang sangat berguna juga dalam mengarungi kehidupan. Bahkan dalam filsafat Stoikisme ada istilah amor fatimencintai nasib. Ini perihal menerima keadaan yang terjadi sebagaimana memang harus terjadi, walau tidak selalu sesuai dengan ekspektasi kita.

Kedua, menggunakan waktu.

Ketimbang berfokus pada kebosanan itu sendiri, waktu luang yang ada dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik, yang bisa menghasilkan sesuatu. Membaca buku, misalnya. Waktu kosong yang banyak tersedia justru sebenarnya bisa digunakan untuk ‘menggali’ hal-hal baru yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Saya jadi teringat dengan quote dari Blaise Pascal, “All of humanity’s problems stem from man’s inability to sit quietly in a room alone.” Pandemi yang mengharuskan kita untuk berdiam di rumah ini justru memberikan kesempatan untuk kita untuk berpikir dalam, bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang dalam dan penting. Ketika sebelum pandemi kita banyak menghabiskan waktu dengan mengkonsumsi hal-hal yang non-esensial, hal-hal receh, maka pandemi ini menjadi momen bagi kita untuk berefleksi, to wrestle with deep and fundamental questions.

Tak kecil kemungkinan bahwa masa pandemi ini adalah masa pikiran-pikiran terbaikmu bisa muncul. Sejarah umat manusia telah membuktikan, lagi dan lagi, bahwa ide-ide terbaik justru lahir di tengah krisis.

Dan satu hal lagi, mengeluhkan kebosanan bukanlah pilihan terbaik. Semua orang pasti pernah bosan dalam hidupnya, tapi tak semua orang mengeluhkan kebosanan itu. Mereka mengelolanya, dengan cara mereka sendiri. So, find your way!

Salam,

Paulinus Pandiangan

Sakit = Kutukan (?)

Saya baru berefleksi tentang pengalaman menderita sakit. Seorang anggota keluarga saya sedang sakit dan membutuhkan banyak bantuan untuk pemulihannya, termasuk, tentu saja, bantuan finansial.

Lalu dalam refleksi saya, pertanyaan ini pun muncul,

Apa makna di balik pengalaman sakit seperti ini?

LANJUTKAN MEMBACA …

3 Buku Tentang Stoikisme

Semua orang pada dasarnya membutuhkan ketangguhan (resilience) dalam menghadapi berbagai persoalan dalam hidup. Untuk hal ini orang biasanya akan beralih pada ajaran agama yang ia anut; bagaimana laku hidup manusia di tengah permasalahan sesuai keyakinan yang dianutnya.

Sebagai pelengkap ajaran agama, Stoikisme menawarkan teknik penguasaan diri (self mastery) yang kiranya berguna dalam konteks ini. Stoikisme, misalnya, memberikan konsep pengetahuan akan apa yang di bawah kendali kita dan apa yang tidak; dikenal dengan dikotomi kendali. Stoikisme juga mengenalkan pada teknik Premeditatio Malorum untuk melatih mental kita agar lebih siap menghadapi situasi-situasi buruk yang tak terduga, atau Memento Mori yang mengajarkan kita untuk menghargai hidup yang masih dialami saat ini dan berfokus pada hal-hal yang bernilai dan penting, dan berbagai hal kecil namun berguna lainnya.

LANJUTKAN MEMBACA …

Meditasi ala Stoik

Kalau gambaran meditasi yang jamak kita lihat adalah orang duduk bersila dengan mata tertutup, tangan terletak di lutut, diam berusaha mengosongkan pikiran, bukan begitu ternyata meditasi dalam stoikisme.

Justru kebalikannya. Meditasi dalam stoikisme adalah menyelam ke dalam pikiran dan mencoba memahami pikiran kita dengan lebih baik dalam diam.

LANJUTKAN MEMBACA …

Stoikisme dan Pandemi

Tentu ada pelajaran kehidupan yang dapat kita peroleh dari pandemi COVID-19 saat ini. Pandemi setidaknya mengajarkan kita pentingnya berbuat baik, sebagaimana kutipan berikut,

“Wherever there is a human being, there is the opportunity for an act of kindness.”

Seneca

Selalu ada kesempatan untuk berbuat baik, terlepas dari situasi yang tengah melanda. Begitulah keyakinan Seneca. Dan melihat situasi pandemi saat ini, tampaknya keyakinan Seneca itu tidak terlalu sulit untuk dibuktikan. It’s just as real as your existence.

LANJUTKAN MEMBACA …

Stoikisme dan COVID-19

Apa terapan stoikisme di tengah pandemi saat ini?

Terapan stoikisme terpenting dalam setiap situasi adalah membedakan apa yang dapat kita ubah dan apa yang tidak; apa yang dapat kita pengaruhi dan apa yang tidak. Dikotomi kendali.

Mari kita cermati kutipan dari Epictetus berikut,

“The chief task in life is simply this: to identify and separate matters so that I can say clearly to myself which are externals not under my control, and which have to do with the choices I actually control. Where then do I look for good and evil? Not to uncontrollable externals, but within myself to the choices that are my own…”

Epictetus
LANJUTKAN MEMBACA …

Perihal Kemelekatan

René Girard, seorang pemikir Perancis adalah orang pertama yang mengemukakan konsep “hasrat mimetik”. Mimetik sendiri berakar dari sebuah kata dalam bahasa Latin, mimesis , yang artinya: meniru.

Konsep ini menyatakan bahwa keinginan-keinginan kita pada dasarnya tidak sepenuhnya milik kita; mereka justru dilahirkan dan dibentuk dari proses dimana orang meniru keinginan-keinginan orang lain.

LANJUTKAN MEMBACA …

Premeditatio Malorum

My God, istilah apa ini? 😮

Tenang dulu, sobat. 😊 Arti dari jargon ini tidak akan semenyeramkan seperti yang engkau bayangkan, setidaknya setelah engkau selesai membaca tulisan singkat ini.

Sebelum kita teruskan, baiknya kita awali dari cara membaca istilah ini terlebih dulu: Premeditatio Malorum

Ready now?

LANJUTKAN MEMBACA …