Amor Fati = Acceptance

“Do not seek for things to happen the way you want them to; rather, wish that what happens happen the way it happens: then you will be happy.”

Epictetus

Menerima keadaan bukanlah perkara gampang. Ada saja hal-hal dalam perjalanan kehidupan yang terjadi tidak sesuai ekspektasi kita; akan selalu ada saja hal yang melenceng dari apa yang bahkan sudah disiapkan sebelumnya.

Di sinilah prinsip amor fati diperlukan.

Sebagaimana quote di atas, kita perlu belajar untuk menerima keadaan. Apa yang terjadi harus diterima sebagai apa yang memang harus terjadi. Kita, menurut Stoikisme, seringkali tidak merasa bahagia karena selalu mengharapkan apa yang terjadi harus selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Perilaku seperti ini ternyata ada yang membuat istilahnya juga: must-urbasi. Semua harus (must) sesuai dengan rencana dan harapan.

LANJUTKAN MEMBACA …

Sakit = Kutukan (?)

Saya baru berefleksi tentang pengalaman menderita sakit. Seorang anggota keluarga saya sedang sakit dan membutuhkan banyak bantuan untuk pemulihannya, termasuk, tentu saja, bantuan finansial.

Lalu dalam refleksi saya, pertanyaan ini pun muncul,

Apa makna di balik pengalaman sakit seperti ini?

LANJUTKAN MEMBACA …

Pandemi dan Rasa Syukur

Lagi dan lagi, saya harus menekankan bahwa pandemi COVID-19 saat ini tampaknya benar-benar mengajarkan kita untuk bersyukur. Benar-benar bersyukur, tak hanya ucapan, tapi utamanya tindakan dan sikap. Laku hidup.

Seorang rekan kerja saya meninggal hari ini karena COVID-19.

Ketika mendengar berita seperti ini, terbayang kesedihan keluarga yang tentu sangat berat untuk dihadapi. Ada keluarga yang harus kehilangan kepala keluarganya hari ini. Ada anak yang kehilangan ayahnya, istri kehilangan suaminya, keluarga besar yang kehilangan bagian dari diri mereka.

Rasanya sesak di dada mendengar berita semacam ini, dan berharap semoga tidak ada lagi korban akibat COVID-19 ini.


Apa pesan dari peristiwa semacam ini?

Syukurilah hidupmu selagi nafas itu masih bisa kau hirup.

Tak ada seorang pun yang tahu kapan hidupnya akan berakhir.

Tak ada jaminan bahwa yang tua akan mendahului yang lebih muda.

Virus ini tak mengenal siapa kita. Dia akan menyerang saat kesempatan ada.

No mercy.

Jadi, sobat…

Syukurilah hidupmu. Banyaklah berdoa. Habiskanlah waktumu bersama keluarga di rumah sebaik mungkin. Nikmatilah hidup ini selagi bisa bersama keluarga di rumah.

Buang jauh-jauh segala amarah dan kebencianmu. Saat kematian tiba, tak ada gunanya itu semua.

Mohonkanlah selalu perlindungan dari Tuhan untuk keluargamu, untuk masyarakat sekitarmu, untuk Indonesia, dan untuk dunia. Kalau pandemi ini pada akhirnya berakhir nanti, dan engkau masih hidup untuk menikmatinya, hiduplah dengan lebih bijaksana, jangan lagi buang waktumu dengan hal-hal yang tak berguna.

Pandemi ini, sekali lagi, menyadarkan kita sesadar-sadarnya, bahwa hidup ini penuh kerapuhan. Raga yang tampak sehat dan bugar hari ini bisa berakhir mati esok. Karir yang tampak sukses gemilang hari ini bisa tak berarti apa-apa esok. Senyum yang bisa terkembang hari ini bisa jadi menjadi bisu esok.

Kita tak abadi, kita akan dan pasti mati.

Akan ada saatnya hari yang kita jalani adalah hari terakhir. Hidup saat ini adalah anugerah.

Live as if today is your last day.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Gratitude Notes

The following is my gratitude notes for 15 July 2021. I first wrote this on my phone, but I later think that I should post it here too.

So, here it comes: 5-things I am grateful for:

  1. My health. I am so grateful that during this pandemic I am still healthy. So many people got infected with COVID-19, many lost their loved ones and family members. Being healthy during this crisis time is a true gift.
  2. My family well-being. Knowing that my parents, my sisters and their families, my wife and my sons in good condition makes me so grateful. I am so blessed. This comes from God directly.
  3. My job. Still having a job this time is a real blessing. I am among the lucky ones who still have a job. Many people around the world suffered from this pandemic; many lost their jobs as a consequence of COVID-19. Many got their businesses closed too. I am so lucky to still have an income to provide the needs of my family.
  4. My kids. I am so grateful that God bless our family by giving us wonderful kids: Donatus Gregorius Pandiangan and Rafael Pandiangan. Right now, my wife is being pregnant, so our third kid is coming! What a blessing! 🤩
  5. My parents. I am so blessed that both my parents are still alive and healthy, and that I could support them financially. Many of my schoolmates have lost one or both of their parents. Having both of them healthy makes me so thankful to God, The One who is behind all the blessings in our family.

Those are the five things I am most grateful about. There are many more to be grateful about, for sure. The weather I am having now, for instance, and all the little things that support my life and my well-being today.

If you’re reading this, be convinced that your life is precious too. It’s a gift from God, like, really. Thank Him for all the gifts and blessings in your life.

Regards,

Paulinus Pandiangan

Fratelli Tutti

Fratelli Tutti adalah surat ensiklik ketiga dari paus Fransiskus yang dipublikasikan pada 3 Oktober 2020. Penekanan dari surat ensiklik ini adalah persaudaraan dalam konteks universal; bahwa kita saling terhubung dan merupakan saudara satu dengan yang lain.

LANJUTKAN MEMBACA …

Meditasi ala Stoik

Kalau gambaran meditasi yang jamak kita lihat adalah orang duduk bersila dengan mata tertutup, tangan terletak di lutut, diam berusaha mengosongkan pikiran, bukan begitu ternyata meditasi dalam stoikisme.

Justru kebalikannya. Meditasi dalam stoikisme adalah menyelam ke dalam pikiran dan mencoba memahami pikiran kita dengan lebih baik dalam diam.

LANJUTKAN MEMBACA …

Memulai dari Yang Kecil

Hai, sobat! Selamat hari Rabu! 😁

Postingan ini adalah penyampaian ulang dari refleksi yang ditulis oleh Pastor Michael Najim di Where Peter Is, sebuah situs berisikan sumber-sumber daya terkait gereja Katolik.

By the way, homili-homili pastor ini dapat diakses di laman ini.

Baiklah, kita langsung ke topiknya saja: memulai dari yang kecil.

LANJUTKAN MEMBACA …

(Masih) tentang Penderitaan

Isu penderitaan (suffering) selalu menarik bagi saya. Di satu sisi penderitaan ini universal (dialami semua orang), di sisi lain ia tetap menjadi misteri.

Ia universal karena semua orang mengalami penderitaan. Tak ada orang yang meninggalkan kehidupan di dunia ini tanpa goresan, entah itu goresan fisik di kulit atau luka di hati. Penderitaan hanya soal waktu, semua pasti akan mengalaminya, tanpa kecuali.

LANJUTKAN MEMBACA …

Memaknai Penderitaan

Masa Pra Paskah ini menjadi waktu yang sangat relevan bagi perenungan tentang penderitaan (suffering). Bagaimana tidak, puasa itu sejatinya adalah penderitaan, ketidaknyamanan yang dipilih untuk dijalani bersama Kristus. Kita mengambil bagian dalam jalan derita yang dilalui Kristus sendiri. Masa Pra Paskah mengajarkan kita bahwa tidak ada kejayaan kebangkitan tanpa penderitaan. No resurrection without Calvary.

LANJUTKAN MEMBACA …

Ketika Doa Kita (Tampaknya) Tidak Dijawab Tuhan

When Prayers Seemingly Go Unanswered

Video singkat di atas berisi sebuah kalimat yang saya kira cukup meneguhkan,

“Sometimes God allows us to undergo trials when we were preparing for a triumph”.

Ketika doa kita rasanya belum terjawab, apakah Tuhan sedang tidak mendengarkan—dan lalu mengabulkannya sebagaimana yang kita harapkan?

Ataukah Tuhan mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik dari yang kita pikirkan—dan dalam proses itu hendak menunjukkan cintaNya yang besar kepada kita?

Sebagaimana seorang anak tidak selalu memahami apa yang ayah kita lakukan, kita juga tidak akan pernah benar-benar memahami apa persisnya yang sedang Tuhan kerjakan bagi hidup kita. Tetapi satu hal pasti. Tuhan, sebagaimana cinta seorang ayah kepada anaknya, selalu memberikan yang terbaik. Kita tidak akan pernah benar-benar tahu sampai saat dimana semuanya diperlihatkan dengan jelas di mata kita. Dan sampai saat itu tiba, marilah kita tetap percaya.

Sedikit refleksi saya di pagi ini. Semoga berguna bagi yang membacanya, semoga damai dan cinta kasih Tuhan senantiasa kita rasakan. 🙏

Salam,