Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Menghadapi Perasaan “Tak Ada Gunanya”

Perasaan ‘tak ada gunanya’ yang saya maksud adalah:

  1. Ketika kita belum ‘melihat’ atau merasakan manfaat dari apa yang sudah dilakukan, dan kita ingin segera menarik diri dari aktivitas tersebut.
  2. Ketika kita bahkan tidak berniat mencoba melakukan sesuatu karena kita berpikir, “Toh tidak akan ada gunanya!“.

Lalu bagaimana sebaiknya kita menghadapi situasi seperti ini?

Di artikel Leo Babauta yang saya baca pagi ini, langkah pertama untuk menghadapi situasi seperti ini adalah menerima bahwa merasa putus asa itu manusiawi dan di saat yang sama menyadari bahwa situasi tersebut akan berlalu. Apa yang dirasakaan saat ini bukanlah sesuatu yang permanen. Kekacauan di sana-sini adalah bagian dari proses bertumbuh, dan setiap pengalaman SEBENARNYA bisa menjadi pelajaran, kalau kita terbuka dan memilih untuk belajar darinya.

Bahkan kalau kita merasa tertinggal jauh dari orang lainβ€”dan lalu menjadi putus harapan bahwa kita tidak akan pernah bisa majuβ€”kita sebenarnya hanya perlu berfokus pada langkah berikutnya yang harus ditempuh. Focus on the next step. Kita juga perlu menahan diri untuk tidak segera bereaksi ketika tengah mengalami situasi seperti ini; barangkali kalau kita bertahan dan menjalaninya dengan pikiran yang terbuka, kita bisa belajar sesuatu yang berharga. 😘

Kalau dikaitkan dengan filsafat Stoikisme, ada quote menarik dari Laura Ingalls Wilder yang bisa dipakai dalam situasi seperti ini, β€œThere is good in everything, if only we look for it.”

Menentukan Tujuan ala Stoik

Berikut tiga strategi stoik dalam menentukan tujuan, sebagaimana disarikan dari artikel di laman Daily Stoic ini.

[1] Menentukan tujuan yang di bawah kendali kita.

Tugas utama seorang manusia dalam hidupnya, menurut Epictetus, adalah memahami apa yang di bawah kendalinya dan apa yang di luar kendalinya. Sebagai contoh, kesuksesan. Kesuksesan adalah tujuan banyak orang, dan banyak yang tidak menyadari bahwa kesuksesan adalah sesuatu yang tidak berada di bawah kendali kita sepenuhnya. Menjadikan kesuksesan sebagai tujuan hanya akan menimbulkan ketidakbahagiaan, karena ada begitu banyak faktor yang mempengaruhinya, faktor-faktor yang berada di luar kendali kita.

Lalu kalau bukan kesuksesan, apa tujuan yang seharusnya?

Yang lebih rasional adalah mengerahkan kemampuan terbaik saat mengerjakan sesuatu. Mark Manson, seorang penulis, pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah menargetkan bahwa bukunya akan sukses di pasaran. Yang menjadi tujuannya adalah berupaya menulis buku yang lebih baik dari buku yang sebelumnya, dengan segala upaya terbaik yang bisa dilakukan.

Itulah yang dimaksud dengan menentukan tujuan yang di bawah kendali kita.

Ilustrasi Menetapkan Tujuan | Sumber

[ 2 ] Tidak membuat terlalu banyak tujuan.

Tujuan yang terlalu banyak dalam satu waktu bisa melumpuhkan. Kita akan kesulitan dalam membuat prioritas. Melakukan 3 hal dengan nilai A jauh lebih baik dibandingkan dengan melakukan 5 hal dengan nilai B, atau bahkan C. Maka sangat penting untuk mengkaji sebuah tujuan yang sudah ditetapkan: apakah ia benar-benar penting?

Dengan ‘memangkas’ tujuan-tujuan yang tidak esensial dari daftar panjang tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kita akan hidup lebih seimbang dan dengan demikian memperbesar peluang kita untuk sukses dalam tujuan-tujuan yang lebih penting.

[ 3 ] Memastikan tujuan tersebut benar-benar tujuan kita sendiri.

Saya pernah menyinggung tentang hasrat mimetik di sebuah tulisan lama. Ide dasarnya adalah bahwa banyak dari keinginan kita muncul akibat meniru keinginan atau hasrat orang lain. Inilah yang perlu dicermati dalam menentukan tujuan: apakah tujuan ini benar-benar sesuatu yang penting bagi kita, atau hanya sesuatu yang mengikuti tujuan orang lain?

Juga, kita perlu mengarahkan tujuan bukan pada hal-hal eksternal, seperti tujuan untuk mendapatkan pengakuan atau penghargaan. Tujuan yang benar adalah tujuan untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu; sehingga kompetitornya bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri. Berkompetisi dengan diri sendiri yang dimaksud di sini adalah berusaha untuk terus memperbaiki diri dari dalam, layaknya seorang atlet yang terus berusaha memperbaiki rekor yang diciptakannya sendiri.


Saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan quote berikut,

Soal Mentalitas Instan

Seorang guru Zen bernama Hakuin Ekaku pernah mengibaratkan proses perolehan keterampilan dengan menebang kayu besar. Kayu besar ini tentu saja tak akan langsung roboh dengan sekali ayunan kapak. Akan tetapi bila dilakukan berulang -ulang tanpa berhenti, akhirnya pohon itu akan rubuh juga. Konsistensi dan investasi waktu menjadi kuncinya.

Albert Einstein mulai intensif memikirkan dan merancang teori fisika sejak usia 16 tahun. Sepuluh tahun kemudian lahirlah teori relativitas yang melambungkan namanya. Dalam rentang waktu sekitar sepuluh tahun, ia ‘menenggelamkan diri’ mempelajari teori-teori fisika dan mengasah kemampuan kognitifnya hingga mampu melahirkan teori baru.


Tak ada keahlian tanpa konsistensi dan investasi waktu. Inilah kebenaran yang harus kita terima. Tak ada jalan pintas (shortcut) untuk sampai pada sebuah keahlian. Kecenderungan untuk menempuh jalan pintas justru semakin menjauhkan kita dari penguasaan terhadap suatu bidang tertentu, bidang apa pun itu.

Karena itu, apa pun yang sedang Anda tekuni saat ini, yakinlah bahwa Anda bisa menjadi ahli (expert) di bidang itu suatu saat, apabila Anda sungguh-sungguh konsisten dan rela menginvestasikan waktu hidup Anda untuk mengerjakan sambil terus mempelajarinya, hingga bidang itu benar-benar ‘menyatu’ dengan Anda.

Di saat banyak orang saat ini yang ingin cepat-cepat kaya, cepat-cepat viral, cepat-cepat terlihat sukses, cepat-cepat terkenal, mentalitas instan seperti itulah yang harus dihindari apabila kita ingin membuat karya yang sungguh bernilai.

Never stop learning. πŸ’ͺπŸ’ͺ

Salam,

Paulinus Pandiangan

On Learning

Ada satu aspek yang sebenarnya sangat penting dalam proses berkarir di suatu bidang. Kita barangkali sering terpapar dengan pemahaman bahwa kita harus mencari area pekerjaan atau institusi yang menawarkan penghasilan yang besar. Fat paycheck. Ini mendasari semua pilihan yang kita ambil: bekerja di mana dan mengerjakan apa.

Tetapi sebenarnya ada proses belajar yang seharusnya menjadi dasar yang lebih baik. Dengan menjadikan diri sebagai pembelajar, kita akan memilih kesempatan-kesempatan yang menawarkan peluang lebih besar untuk belajar. Kita akan mencari mentor. Kita akan mencari orang-orang yang bisa membantu kita bertumbuh. Bahkan menjadi pembantu seorang mentor secara sukarela tanpa dibayar merupakan peluang besar yang perlu diambil, karena dari proses berguru seperti ini biasanya banyak hal bergunaβ€”trade secretsβ€”yang dapat dipelajari terkait industri yang tengah digeluti.

Dari proses inilah nantinya kreatifitas kita bisa bertumbuh dan barangkali kita bisa menciptakan peluang-peluang baru yang akhirnya mendatangkan uang.

Jadi menurut saya ada benarnya bahwa kita tidak perlu terlalu berfokus pada uang dulu. Yang justru lebih penting adalah menumbuhkan pengetahuan dan skill melalui proses belajar untuk selanjutnya menjadi panggung bagi ekspansi kreatifitas kita.

What do you guys think? πŸ˜‰

Video Sinopsis Buku The Psychology of Money

Buku Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel menjadi buku yang menarik karena menurut saya bisa membukakan mata kita pada aspek perilaku kita terhadap uang. Kita menjadi paham bahwa pengelolaan keuangan tak melulu soal aritmetika.

Karena rasa tertarik itu saya akhirnya mencoba mencari tahu apa pendapat orang lain tentang buku ini, dan ada banyak orang yang sudah membahasnya di channel YouTube mereka, maka berikut saya share 3 video dimaksud, dan semuanya berbahasa Indonesia.

Enjoy! πŸ€—

Stoikisme, Personal Work, dan Flow

Setiap menit yang berlalu akan menjadi milik kematian. Tak akan kembali. Inilah kesadaran praktisi Stoikisme terkait waktu; terkait bagaimana seharusnya kita menggunakan hari-hari kehidupan.

Tidak berarti bahwa setiap menit harus digunakan untuk bekerja, atau selalu berfokus pada produktivitas.

Penekanan dalam Stoikisme adalah kesadaran tentang bagaimana waktu kita berlalu (awareness of spent time); tidak membiarkan tanggal demi tanggal di kalender berlalu begitu saja tanpa kita mencoba melakukan sesuatu. “Sesuatu” di sini adalah hal-hal yang bagi kita bernilai, atau menyenangkan, atau yang bisa mengekspresikan diri kita, seperti menulis blog, membuat karya tangan, bermain musik, dan berbagai bentuk kegiatan lainnya.

Singkatnya, a sense of personal work.

Anda dan saya tentu tak selalu sama ketertarikannya. Anda mungkin lebih merasa bisa ‘menemukan’ diri Anda saat mengulik nada di alat musik kesayangan, saya mungkin lebih senang menulis blog atau merekam podcast. Inilah contoh area personal work kita masing-masing.

Ilustrasi Personal Work

Di luar pekerjaan formal kita masing-masing, ada hal-hal spesifik yang selalu membuat kita tertarik untuk menghabiskan waktu melakukannya, dan dengan melakukannya, kita merasa bahwa kita menggunakan waktu kita dengan baik.

Dan hal-hal ini bisa membawa kita pada suatu keadaan yang oleh psikolog Mihaly Csikszentmihalyi disebut sebagai flow.

Anda pasti pernah begitu larut dan menikmati suatu aktivitas sampai-sampai Anda tidak menyadari waktu berlalu, dan Anda pun tidak merasa lelah berlebihan, dan yang menarik, Anda justru merasa senang setelahnya. Keadaan inilah yang dimaksud sebagai flow tadi.

Podcast Audio POLSVOIS: Konsep Flow dan Kesadaran Waktu

Contohnya saja orang yang suka memancing. Dengan sabar ia mulai sejak pagi, lalu tak terasa hari sudah sore, dan walaupun hasil tangkapan sedikit atau bahkan nihil, orangnya merasa senang-senang saja. Orang tersebutlah yang menurut psikolog Csikszentmihalyi telah mengalami flow.

Dan orang yang mengalami flow justru bisa menjadi pengamat (observer) yang baik. Jika waktu diibaratkan dengan roda yang berputar, seseorang yang mengalami flow seolah-olah berada di pusat lingkaran roda, mengamati setiap pergerakan roda. Ia sadar betul bagaimana waktu digunakan dan ia menikmati betul perguliran roda waktu itu.

Di sinilah ada satu titik temu Stoikisme dan psikologi. Ketika Stoikisme mengajarkan untuk menyadari penggunaan waktu (awareness of spent time), psikologi menawarkan flow sebagai cara untuk sungguh menikmati waktu sekaligus menjadi pengamat yang baik.

Seorang teman saya yang juga seorang guru Sains, Wisnu Asmoro, memiliki ketertarikan khusus pada IT. Dia senang mengulik kode HTML dan JavaScript, juga senang dengan troubleshooting jaringan (network). Kegemaran spesifik seperti inilah yang mampu membawa seseorang masuk ke keadaan flow. Selain memperoleh a sense of personal work (citarasa suatu karya pribadi), dia juga memperoleh kesenangan saat melakukannya, dan setelah melakukannya, dia akan merasa bahwa waktunya telah digunakan dengan baik. Ada sesuatu yang bernilai yang telah dilakukannya untuk mengisi waktu.


Kuharap teman-teman yang membaca tulisan ini bisa terinspirasi dan tergerak untuk menemukan bidang karya pribadi (personal work) kalian masing-masing di luar pekerjaan formal.

Itu akan membahagiakan kalian.

Be happy! β€οΈπŸ€©πŸ€—

Salam,

Paulinus Pandiangan

Buku Kecil STOIKISME

Teman-teman, saya baru saja selesai menulis sebuah buku kecil 21 halaman tentang 4 konsep dasar dalam filsafat Stoikisme, masing-masing dikotomi kendali, premeditatio malorum, amor fati, dan memento mori.

Keempat topik ini sebenarnya sudah pernah saya tulis secara terpisah sebelumnya di blog ini. Buku ini merangkum keempatnya dengan bahasa yang sederhana agar benar-benar mudah dipahami.

Cover Buku Kecil STOIKISME

Silakan mengunduhnya via link di bawah ini:

Versi audio dari buku ini juga tersedia di platform Spotify. Silakan dinikmati pada link berikut:

Barangkali buku kecil ini bisa berguna sembari kita menyongsong tahun 2022. Selama sekitar 2 tahun terakhir kita telah mengalami bersama bagaimana pandemi COVID-19 telah mengubah cara kita berpikir dan menjalani kehidupan, dan saya kira kita semua setuju bahwa pandemi ini menuntut resilience dalam menghadapi ketidakpastian dalam hidup. Kemampuan kita untuk bertahan dan tetap waras, atau dengan kata lain sehat secara mental, menjadi sangat penting.

Dan itulah, teman-temanku sekalian, tujuan utama dari filsafat Stoikisme. Stoikisme adalah filsafat praktis yang akan membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan bijaksana.

Semoga persembahan kecil ini bisa memberikan manfaat, dan ingatlah bahwa yang terpenting adalah bagaimana kita menginternalisasi konsep filsafat ini dan menjadi laku nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana diungkapkan filsuf Epictetus,

“Don’t explain your philosophy. Embody it.”

Selamat menikmati dan selamat menyongsong tahun 2022! πŸ€— πŸ’

Salam,

Paulinus Pandiangan

Kanal Bumiku Satu

Saya (ternyata) memiliki ketertarikan pada budidaya tanaman yang pada masa pandemi ini mendapat perhatian lebih besar; orang-orang yang tidak leluasa bergerak di luar rumah banyak yang (akhirnya) mengisi waktunya dengan bercocok tanam di rumah. Selain tetap produktif, berinteraksi dengan tanaman diakui memberikan dampak baik bagi situasi kejiwaan di tengah pandemi. Hal ini menjadi semakin menarik karena justru semakin digandrungi masyarakat urban, di Jakarta, misalnya. Banyak yang tergerak untuk memanfaatkan lahan kosong di rumahnya, menanam sayuran atau buah untuk dikonsumsi.

Di YouTube ada kanal berbahasa Indonesia yang berfokus pada hal ini, namanya Bumiku Satu. Ini sebenarnya adalah nama program televisi di DAAITV yang berisikan kisah-kisah bercocok tanam yang ditekuni masyarakat urban.

Berikut ini salah satu contoh video terbarunya dengan judul Sayur Sehat dari Rumah. Dari judul ini saja kita sudah bisa menebak bahwa ini tentang budidaya tanaman sayur di sekitar rumah:

Sayur Sehat dari Rumah β€” Bumiku Satu

Anda dapat mengeksplorasi kanal ini secara lebih mendalam di alamat berikut: Bumiku Satu. Video-video edukatif seperti ini akan sangat berdampak apabila semakin banyak yang menyaksikan dan mudah-mudahan tertarik untuk menekuni. Karena itu sebisa mungkin bagikanlah sumber daya ini ke teman-teman Anda.

Semoga sharing ini berguna buat kalian.

Salam,

Paulinus Pandiangan

3 Buku Tentang Stoikisme

Semua orang pada dasarnya membutuhkan ketangguhan (resilience) dalam menghadapi berbagai persoalan dalam hidup. Untuk hal ini orang biasanya akan beralih pada ajaran agama yang ia anut; bagaimana laku hidup manusia di tengah permasalahan sesuai keyakinan yang dianutnya.

Sebagai pelengkap ajaran agama, Stoikisme menawarkan teknik penguasaan diri (self mastery) yang kiranya berguna dalam konteks ini. Stoikisme, misalnya, memberikan konsep pengetahuan akan apa yang di bawah kendali kita dan apa yang tidak; dikenal dengan dikotomi kendali. Stoikisme juga mengenalkan pada teknik Premeditatio Malorum untuk melatih mental kita agar lebih siap menghadapi situasi-situasi buruk yang tak terduga, atau Memento Mori yang mengajarkan kita untuk menghargai hidup yang masih dialami saat ini dan berfokus pada hal-hal yang bernilai dan penting, dan berbagai hal kecil namun berguna lainnya.

LANJUTKAN MEMBACA …

3 Buku Tentang Minimalisme

Telah banyak saran buku berkaitan dengan minimalisme di Internet, dan saya di sini hanya akan menyarikan 3 buku yang menurut pengalaman pribadi sudah sangat baik membahasnya. 3 is … just enough. 😎

Saya berpendapat bahwa kita (pada dasarnya) tidak perlu memiliki begitu banyak buku, fisik atau elektronik, tentang suatu topik. Memiliki 2 atau 3 buku yang cukup bagus sudah cukup. Lagipula, buku ada bukan hanya untuk dibaca sekali lalu selesai, tetapi untuk dibaca ulang.

LANJUTKAN MEMBACA …
Click to listen highlighted text!