Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Berpikir Seperlunya

Saya baru saja membaca postingan terbaru di blog pasangan suami-istri Mike dan Mollie bernama This Evergreen Home, 7 Ways to Live More Intuitively. Saya sering juga mampir di blog ini karena menurut saya isinya bagus, dikemas dalam bahasa yang ringan, dan mereka berbicara berdasarkan apa yang telah mereka alami dan praktikkan sendiri. Banyak ide yang rasa-rasanya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Intisari dari tulisan ini adalah tentang menghargai intuisi, percaya kepada naluri, dan untuk tidak hiper-analitis dalam hidup. Perencanaan memang perlu, tetapi merencanakan terlalu detail dan menganalisis terlalu dalam terkadang justru memperkeruh keadaan, atau bahkan menghambat kita untuk bergerak, karena secara mental kita sudah ‘dihadang’ dengan berbagai angka dan pertimbangan.

Menyegerakan tindakan juga perlu, tanpa harus menghabiskan banyak waktu mematangkan perencanaan. Mengerjakan sembari belajar dalam prosesnya sering justru lebih baik. Sambil mengerjakan, sambil belajar menyempurnakan berbagai hal yang kurang. Tidak perlu menyerap terlalu banyak informasi, yang seringkali justru memperlambat kita untuk segera bertindak.

Mengambil keputusan cepat juga terkadang penting, tanpa berlama-lama mempertimbangkan beragam hal, tentu dengan tetap berpegang pada nilai-nilai yang kita anut dan tetap memiliki kejelasan tujuan. Saya kira hal ini sangat diperlukan dalam kehidupan nyata.

"Trust your gut. It’s usually about a thousand times smarter than your head." β€” Amy Poehler

Ketika Hidup Tak Sesuai Harapan

Saya baru saja membaca artikel di blog Joshua Becker, Becoming Minimalist, yang sering saya kunjungi. Biasanya ada hal-hal baik yang saya temukan dari tulisan-tulisannya, dan benar saja bahwa pagi ini saya menemukan kembali tulisan yang bagus berjudul When Life Feels Far from What You Imagined.

Saya tetap merekomendasikan kamu yang membaca blog ini untuk tetap membaca versi asli artikelnya. Di sini saya akan merangkum saja tips dari Joshua tentang apa-apa yang bisa dilakukan saat kita berada dalam situasi di mana hidup yang kita impikan tidak sesuai dengan hidup yang sedang dijalani. Kita harus menyadari bahwa pengalaman seperti ini lumrah; bahwa umum terjadi ada ‘gap’ antara aspirasi kita tentang hidup yang seharusnya dengan hidup nyata yang sedang dijalani.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan harapan saat kita berada dalam situasi seperti ini:

Terima keadaan saat ini: Sempurna atau tidak, itulah hidup kita. Penyesalan atau meratapi keadaan tidak akan mengubah apa pun.

Pahamilah bahwa tetap ada pilihan: Kita tentu tidak bisa mengontrol semua yang terjadi dalam hidup, tetapi kita tetap memiliki kendali atas bagaimana kita menyikapinya. Berfokuslah pada hal yang bisa diubah, yaitu sikap kita. Filsuf Epictetus pernah mengatakan satu hal terkait ini,

Temukan sukacita dalam hal-hal kecil: Nikmatilah momen-momen kecil seperti hangatnya sinar matahari, obrolan dengan teman, tawa anak kecil, atau bacaan yang bagus.

Kembangkan rasa syukur dan sikap positif: Selalu ada hal yang bisa disyukuri, bahkan dalam kondisi sulit. Menemukan alasan untuk bersyukur setiap hari atas hal-hal kecil namun berharga jauh lebih baik daripada meratapi keadaan.

Perkuat hubungan personal dengan orang lain: Hubungan yang baik sangat membantu memberikan dukungan ketika kita berada dalam situasi krisis. Keberadaan dukungan ini menjadi pengingat bahwa kita tidak bergelut sendirian. Bahkan untuk orang introvert seperti saya sendiri, dukungan dari keluarga dekat sangat membantu menguatkan dalam situasi-situasi sulit.

Hindari iri hati, dukunglah orang lain: Ketika kita mendukung keberhasilan orang lain, kita mengambil bagian dalam sebuah cerita kehidupan yang baik, dan ini bisa mendekatkan kita untuk mengalami emosi positif.

Sayangi diri sendiri: Menyadari bahwa merasa terpuruk adalah pengalaman manusiawi yang sangat lumrah akan membantu kita memperlakukan diri dengan penuh pengertian. Menanamkan dalam benak bahwa kesulitan bersifat sementara akan membantu kita untuk bertahan dalam pergumulan dengan tetap memiliki harapan bahwa persoalan yang tengah dihadapi (justru) bisa membuat kita semakin bijaksana. Seringkali permasalahan hidup mengajarkan kita hal-hal berharga.

Mencoba hal baru: Bergabung dengan klub hobi, komunitas pengembangan diri atau komunitas agama akan membantu kita me’redefinisi’ landasan hidup baru, menguatkan fondasi yang telah ada sebelumnya.

Mengembangkan diri: Belajar dan bertumbuh setiap hari, sekecil apa pun hal yang bisa dipelajari. Setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki dan mengembangkan kapasitas diri.

Hidup tentu tidak selalu mudah dan sesuai harapan. Hidup itu kompleks dan sering tak terduga. Terlalu banyak faktor yang tak bisa kita kendalikan. Tetapi tetap saja hidup adalah perjalanan yang bisa menjadi cerita yang menarik, apabila kita bertahan untuk menyelesaikannya sampai akhir, sambil tetap belajar dan bertumbuh setiap hari.

5 Habits I’d Like to Train Myself

Hai!

Setelah membaca artikel terbaru di blog This Evergreen Home yang berjudul 101 Daily Habits: The Complete Guide to Better Routines, saya memutuskan untuk memilih 5 dari daftar 101 kebiasaan untuk saya tanamkan dalam diri saya sendiri.

Berikut 5 kebiasaan pilihan saya:

  1. Merapikan tempat tidur segera setelah bangun pagi. Kasur yang rapi bisa menimbulkan rasa senang. Merebahkan tubuh sehabis bekerja di atas kasur yang rapi dan bersih rasanya nikmat sekali! Akan berbeda rasanya kalau sehabis bekerja kita menemukan kasur dalam keadaan berantakan. Selain lelah, mood kita juga akan kurang positif.
  2. Menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal). Rasa syukur dapat diekspresikan secara lisan pun tulisan. Menulis hal-hal yang membuat kita bersyukur akan melahirkan emosi positif dan melatih diri kita untuk mengapresiasi berbagai hal dalam perjalanan waktu kita. Ini apabila dilakukan secara rutin dan berkesadaran akan membentuk mindset bersyukur.
  3. Melakukan kebaikan-kebaikan kecil. Hal-hal baik yang berkesan di hati kita justru seringkali adalah hal-hal kecil yang dilakukan oleh orang lain kepada kita, misalnya dibukakan pintu, disapa dengan senyuman, atau ditawari makanan ringan. Maka hal sebaliknya juga berlaku: orang bisa terkesan dengan hal-hal kecil yang kita lakukan kepada mereka, kalau kita menyadari bahwa semua orang ingin diperlakukan dengan baik.
  4. Berada di alam terbuka. Saya memiliki kebiasaan untuk berjalan kaki di alam terbuka sambil memikirkan apa yang pernah saya baca atau memikirkan solusi atas suatu persoalan. Biasanya dari kegiatan berada di alam terbuka seperti ini saya bisa mendapatkan ide atau perspektif baru, bahkan pemahaman baru atas apa yang pernah saya alami. Alam terbuka juga memiliki kemampuan untuk ‘menyembuhkan’ kita dan mengajarkan kita filosofi kehidupan itu sendiri.
  5. Berterimakasih kepada orang-orang di sekitar kita. Saya menerima banyak bantuan dari teman-teman dan saudara / keluarga di sepanjang perjalanan hidup saya, dan berterimakasih secara langsung kepada mereka bukan saja suatu kebiasaan yang baik, tetapi merupakan gambaran langsung tentang bagaimana kita memandang orang lain dan esensi kehidupan bersama; bahwa kita bisa bertahan hidup karena sokongan orang lain juga.

Kalau 5 hal ini saja bisa tertanam dalam diri kita, saya percaya kita akan menjadi pribadi yang lebih menarik dan berdampak positif bagi orang lain. Dan mungkin kita bisa bergerak maju untuk melirik 96 kebiasaan lainnya di blog tadi… πŸ˜†

Salam,

Paulinus Pandiangan

Perihal Menjaga Fokus

Hai, saya baru saja membaca sebuah artikel tentang menjaga fokus; tentang bagaimana supaya kita stay present, bisa benar-benar ‘hadir’ di saat ini. Pada artikel tersebut dijelaskan 12 cara menjaga fokus dan saya akan mencoba menyarikan beberapa hal yang menurut saya menjadi kunci dalam menjaga fokus dimaksud.

Yang pertama adalah jarak aman dari teknologi. Perangkat genggam dan teknologi yang terpasang di dalamnya bisa membuat kita menghabiskan waktu dengan hal-hal yang sebenarnya tidak esensial, dan lebih dari itu, justru membuat kita menjadi terdampak secara emosional. Banyak orang yang merasa bahwa hidupnya kurang menarik, misalnya, setelah melihat banyak tayangan dan /atau postingan orang lain di media sosial, di saat faktanya adalah bahwa kehidupan setiap orang unik dan menarik.

Kelekatan berlebihan dengan teknologi juga bisa mendorong orang untuk semakin multi-tasking, melakukan banyak kegiatan secara bersamaan. Ini akan mereduksi secara signifikan kenikmatan yang dapat dirasakan dari sebuah pengalaman atau aktivitas. Ketika kita misalnya makan sambil menonton sebuah tayangan di handphone, kemampuan kita untuk menikmati makanan secara drastis akan menurun. Kita tidak lagi memiliki perhatian penuh pada tekstur makanan, rasa makanan, atau aroma makanan yang ada di depan kita, karena atensi tersebut telah teralokasi pada kilauan / tayangan di perangkat genggam. Pada akhirnya, kenikmatan dari sebuah proses mengonsumsi makanan tidak dirasakan lagi. It’s a huge loss.

Yang kedua adalah melibatkan diri dalam hobi baru yang mengharuskan kita terlibat secara fisik, misalnya melukis atau merangkai kerajinan dari kayu. Kegiatan semacam ini akan mengharuskan kita untuk ‘terlepas’ dari perangkat genggam atau media sosial dan benar-benar ‘larut’ dalam aktivitas fisik. Jika kita benar-benar bisa memusatkan perhatian dalam mengerjakan hobi semacam ini, kita bahkan bisa masuk ke dalam keadaan flow!

Selain hobi, kegiatan lain yang bisa ‘mengalihkan’ kita dari menatap layar berlama-lama adalah misalnya mendaki gunung atau berjalan kaki jarak jauh (long walks) di alam terbuka. Ini akan sangat positif bagi kesehatan kita, baik fisik maupun mental. Sehabis melakukan aktivitas semacam ini kita juga biasanya akan lebih segar dan rileks.

Yang ketiga adalah berani mengambil jeda atau pause. Dalam buku yang baru selesai saya baca, Niksen, The Dutch Art of Doing Nothing karya Annette Lavrijsen, mengambil jeda dari kegiatan sehari-hari (niksen) terbukti menjadi sangat penting di dunia kita saat ini yang bergerak begitu cepat (dan berisik pula!). Keberanian untuk berhenti dan tidak melakukan apa-apa justru menjadi elemen penting dalam menjaga kesehatan mental kita. Ini mirip dengan sebuah seni dari Italia, L’arte di non fare niente, sebuah seni untuk tidak melakukan apa-apa. Kita tidak perlu harus selalu dipacu oleh productive overdrive, yaitu sebuah keinginan akut untuk selalu produktif. Ketika dunia semakin memicu orang untuk produktif dan mengoptimalkan waktu, seni niksen justru menjadi semakin penting, karena telah terbukti bahwa jeda yang sehat akan membuat orang lebih sehat, memiliki energi yang lebih terjaga, lebih happy, otaknya lebih sehat, lebih efisien, lebih mampu membuat perencanaan jangka panjang, dan kualitas tidurnya lebih baik.


Ketiga prinsip di atas tentu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, akan tetapi tentu tetap bisa diupayakan. Memilih untuk menggunakan waktu pada kegiatan-kegiatan fisik yang bermanfaat, misalnya, menjadi cara yang paling konkret untuk mengalihkan perhatian kita dari layar perangkat, dan setiap orang tentu memiliki aktivitas tertentu yang menyenangkan untuk dirinya secara pribadi, so it’s a matter of choice.

Semoga berguna dan salam,

Paulinus Pandiangan

Tiga Cara Sederhana Merasakan Syukur

Hai, saya baru saja membaca artikel di sebuah blog tentang rasa syukur (gratitude) dan saya setuju sekali dengan isinya, dan berikut saya sarikan tiga tindakan sederhana yang dapat kita lakukan untuk bisa merasa bersyukur:

(1) Mengucapkan terimakasih.

Ketika bangun pagi, ada banyak hal yang bisa disyukuri, misalnya kesempatan untuk tidur lelap yang memulihkan energi kita, tempat tidur yang nyaman dan selimut hangat yang membuat kita dapat tidur dengan pulas, secangkir teh atau kopi yang dapat kita nikmati di pagi hari, dan kesempatan untuk menjalani kembali kehidupan di hari yang baru. Berterimakasih dengan mengucapkan doa singkat segera setelah bangun di pagi hari adalah contoh umum yang bisa dilakukan. Bersyukur di awal hari akan membantu kita memandang hari tersebut dengan kacamata yang lebih positif.

(2) Menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal).

Menuliskan hal-hal yang kita syukuri di jurnal melatih mental kita untuk cenderung positif memandang kehidupan; bahwa kendati ada satu atau dua hal yang tidak menyenangkan terjadi, kita tetap meyakini bahwa hidup itu sendiri adalah rahmat. Pun praktik ini akan menyadarkan kita bahwa hal-hal yang terlihat sederhanaβ€”seperti langit yang sedang biru atau aroma kopi yang semerbakβ€”sangat pantas untuk disyukuri! ☺️

(3) Mempraktikkan visualisasi negatif (premeditatio malorum).

Praktik visualisasi negatif yang saya tulis sebelumnya sebenarnya bukanlah semata-mata membayangkan kemalangan yang bisa terjadi dalam hidup. Visualisasi negatif pun bisa berarti mencoba secara mental ‘berdamai’ dengan kemungkinan lain dari kenyataan yang sedang terjadi saat ini.

Misalnya seorang ibu yang sedang merasa kerepotan memasak di dapur bisa melatih dirinya untuk bersyukur dengan membayangkan apabila, misalnya, tidak ada bahan makanan yang bisa diolah. Kerepotan yang sedang dialaminya barangkali akan sirna dan dia bisa bersyukur dengan keadaannya saat ini.

Seorang karyawan yang merasa stress dengan banyaknya tuntutan kerja di kantor bisa melakukan visualisasi negatif dengan membayangkan apabila misalnya dia tidak memiliki pekerjaan. Visualisasi semacam ini akan membuat kita bisa bersyukur dengan apa yang ada pada kita saat ini, walaupun barangkali tidak sempurna dan tidak sebagus apa yang dimiliki orang lain. Yang terpenting adalah kita bersyukur dengan apa yang ada.


Kita tidak akan pernah benar-benar merasakan kedamaian apabila kita selalu menginginkan apa yang belum ada pada kita tanpa pernah bersyukur atas apa yang sudah kita miliki, pada apa yang sudah diberikan kepada kita. Maka seperti saran dari para orang bijaksana: count your blessings. ☘️

Menghadapi Perasaan “Tak Ada Gunanya”

Perasaan ‘tak ada gunanya’ yang saya maksud adalah:

  1. Ketika kita belum ‘melihat’ atau merasakan manfaat dari apa yang sudah dilakukan, dan kita ingin segera menarik diri dari aktivitas tersebut.
  2. Ketika kita bahkan tidak berniat mencoba melakukan sesuatu karena kita berpikir, “Toh tidak akan ada gunanya!“.

Lalu bagaimana sebaiknya kita menghadapi situasi seperti ini?

Di artikel Leo Babauta yang saya baca pagi ini, langkah pertama untuk menghadapi situasi seperti ini adalah menerima bahwa merasa putus asa itu manusiawi dan di saat yang sama menyadari bahwa situasi tersebut akan berlalu. Apa yang dirasakaan saat ini bukanlah sesuatu yang permanen. Kekacauan di sana-sini adalah bagian dari proses bertumbuh, dan setiap pengalaman SEBENARNYA bisa menjadi pelajaran, kalau kita terbuka dan memilih untuk belajar darinya.

Bahkan kalau kita merasa tertinggal jauh dari orang lainβ€”dan lalu menjadi putus harapan bahwa kita tidak akan pernah bisa majuβ€”kita sebenarnya hanya perlu berfokus pada langkah berikutnya yang harus ditempuh. Focus on the next step. Kita juga perlu menahan diri untuk tidak segera bereaksi ketika tengah mengalami situasi seperti ini; barangkali kalau kita bertahan dan menjalaninya dengan pikiran yang terbuka, kita bisa belajar sesuatu yang berharga. 😘

Kalau dikaitkan dengan filsafat Stoikisme, ada quote menarik dari Laura Ingalls Wilder yang bisa dipakai dalam situasi seperti ini, β€œThere is good in everything, if only we look for it.”

Ini Hari Baik

Saya membaca sebuah tulisan di blog This Evergreen Home berjudul Don’t Wait to Be Happy: These Are the Good Ol’ Days yang ditulis pada 15 November lalu. Isinya menegaskan bahwa kita harus selalu berfokus pada kehidupan kita hari ini, saat ini, dengan apa yang ada pada kita. Kita perlu sungguh menikmatinya, karena hari ini akan menjadi hari baik yang bisa dikenang.

Kita sering bernostalgia pada pengalaman di masa lalu yang menurut kita indah dan berkesan, tetapi kita seringkali tidak menyadari saat menjalaninyaβ€”bahwa apa yang sedang kita alami, saat iniβ€”merupakan suatu pengalaman baik.

Kita juga sering ‘meletakkan’ kebahagiaan di masa depan; bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang akan diraih di suatu waktu yang belum terjadi. Karena itu kita menjadi tidak menyadari bahwa saat ini pun, kita bisa memilih untuk bisa berbahagia. Yang bisa ditawarkan masa depan hanyalah impian, bukan kenyataan.


Be attentive to the present. Only in the present time can we understand eternity.

Johann Wolfgang von Goethe

Hal yang benar-benar ada dan nyata adalah SAAT INI. Apa yang sudah berlalu, dulunya, adalah saat ini, dan apa yang ada di masa depan, juga akan menjadi saat ini. Today is the day.

Menahan Diri dari Pembelian Impulsif

Saya sendiri merasakan bahwa kehadiran aplikasi toko online di perangkat genggam kita merupakan bentuk godaan tersendiriβ€”yang kalau kontrol diri kita tidak kuatβ€”akan membawa kita pada kebiasaan berbelanja secara impulsif. Bagaimana tidak, semuanya bisa dilakukan hanya dari perangkat genggam, mulai dari pemilihan barang sampai pada pembayarannya. All you need is to sit nicely, have a good internet connection, and bam! Purchase done. πŸ™‚

Ilustrasi Belanja Impulsif | Sumber

Maka berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk bisa menangkal kecenderungan berbelanja barang secara impulsif:

(1) Menyadari bahwa rasa senang dari kegiatan berbelanja durasinya sangat pendek.

Kita umumnya merasa senang ketika bisa melakukan pembelian suatu barang yang baru, dan rasa senang yang diperoleh dari pembelian barang ini sebenarnya berdurasi sangat singkat. Untuk sesaat kita senang, tetapi tak lama kemudian kita akan terbiasa dengan barang yang baru tersebut. Inilah yang perlu selalu diingat setiap kali kita tergoda untuk melakukan pembelian barang: kita akan merasa senang untuk sesaat saja, dan lalu terbiasa.

(2) Pertimbangkan keuntungan memiliki lebih sedikit barang.

Selain memberikan rasa lega, memiliki lebih sedikit barang akan menghemat banyak waktu yang diperlukan untuk mengurusnya. Waktu yang tersedia ini selanjutnya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Melatih diri untuk memiliki sedikit barang juga akan melatih mental cukup, dimana kita benar-benar menyadari bahwa hidup kita masih bisa berlangsung dengan baik walau dengan sedikit barang. Happiness is not in the ownership of things.

(3) Uang cash yang tersedia di saku akan sangat membantu di masa sulit.

Ketika kita tidak mudah tergoda untuk menghabiskan uang dengan berbelanja secara impulsif, kita akan memiliki persediaan uang yang akan sangat membantu ketika berada di masa yang sulit, misalnya saat terjadi resesi. Ketika keadaan ekonomi sedang sulit, misalnya, memiliki cadangan uang di luar penghasilan reguler akan sangat banyak membantu, dan membuat kita lebih tenang melewatinya.

(4) Buat anggaran.

Anggaran merupakan alat pengelolaan keuangan yang sangat berguna, dan melatih diri untuk membuat anggaran secara teratur akan melatih diri kita untuk lebih cermat (thoughtful) dalam mengeluarkan uang. Anggaran ini perlu dibuat agar segala transaksi terjadi berdasarkan prioritas yang sudah ditetapkan dan agar kecenderungan untuk impulsif bisa diminimalkan. Intinya, kalau tidak ada anggaran, sebaiknya tidak dikeluarkan uang untuk itu.

(5) Mengabaikan iklan.

Iklan produk yang terselip di berbagai aplikasi di perangkat genggam memang dirancang sedemikian rupa untuk membuat kita impulsif. Iklan adalah sesuatu yang bisa memberikan informasi yang berguna, tetapi juga bisa menarik kita untuk berbelanja tanpa berpikir panjang. Inilah sebabnya ada baiknya kita melatih diri untuk bisa mengabaikan iklan. Dengan tidak memberikan perhatian pada iklan, kita bisa mengurangi peluang untuk tergoda melakukan pembelian impulsif.

(6) Jangan terjebak dalam mindset ‘mumpung ada’

Barang-barang tertentu pada waktu tertentu memang terkadang laris manis dan sulit didapat di pasar. Tetapi ada juga barang yang memang secara sengaja diproduksi sedikit di satu waktu tertentu agar terkesan langka dan sulit didapat, sehingga ketika ada konsumen yang menemukan barang itu, mereka akan tergoda untuk segera membeli, mumpung ada. Inilah satu kondisi dimana kita harus tetap selektif untuk melihat apakah suatu produk benar-benar sesuatu yang kita butuhkan. Kalau ternyata tidak benar-benar dibutuhkan, kita perlu menahan diri agar tidak tergoda dalam mindset ‘mumpung ada’ ini.

(7) Ketimbang membeli barang, pertimbangkan untuk membantu orang.

Dengan menahan diri dari pembelian impulsif, uang yang bisa kita kendalikan itu sebenarnya bisa dialokasikan kepada sesuatu yang lebih penting: membantu orang. Tentu ada saja orang di sekitar kita yang lebih membutuhkan sejumlah uang yang kita miliki, walaupun sedikit. Uang yang sedikit itu mungkin saja sangat berarti bagi mereka. Ini akan memberikan rasa senang yang jauh lebih berkesan dibandingkan dengan rasa senang dari pembelian impulsif.


Demikian tujuh cara untuk menangkal kecenderungan berbelanja barang secara impulsif. Tidak ada yang salah dengan berbelanja, yang penting adalah apa yang kita belanjakan itu benar-benar sesuatu yang bermanfaat. 😊


Tulisan ini disarikan dari artikel di laman blog Joshua Becker.

Simplify, Simplify, Simplify.

Judul di atas bisa dijadikan mantra kalau kita merasa bahwa kepala kita sedang penuh dengan berbagai hal. Faktanya adalah: berbagai hal dalam kepala tersebut adalah pikiran-pikiran kita sendiri, dan kita kalut dengan pikiran-pikiran kita sendiri. Kita tenggelam dalam benak kita sendiri. Keadaan seperti ini ternyata dapat diatasi dengan mencoba kembali kepada esensi dari berbagai hal yang ‘meributi’ pikiran kita tersebut. Di sinilah penekanan dari mantra tadi: simplify, simplify, simplify. Kalau sudah dibedah dengan tenang, berbagai hal tadi pada akhirnya dapat dipahami dengan lebih baik dan, barangkali, tidak sebesar apa yang terpikirkan di awal, dan bahkan kita bisa ‘mencoret’ berbagai hal yang ternyata tidak esensial dari daftar panjang hal-hal yang ‘meributi’ pikiran.

Ada sebuah teknik menarik yang saya baca di blog Leo Babauta pagi ini. Berikut saya sarikan apa yang menjadi inti idenya:

  • Perasaan kalut ini terjadi karena kita berkomitmen pada terlalu banyak hal. Kita memilih seperti ini karena pada dasarnya kita ingin berusaha menjadi orang yang baik bagi orang lain, sehingga sulit untuk menolak (berkata Tidak pada hal dimaksud).
  • Dengan banyaknya hal yang perlu ditindaklanjuti, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah berfokus pada satu hal untuk satu waktu tertentu (one thing at a time), dan setelahnya barulah kita mengerjakan hal yang berikutnya. Membuat prioritas menjadi sangat penting di sini.
  • Kita harus melatih diri untuk mengatakan Tidak pada berbagai hal yang tidak esensial; dengan kata lain ‘mengamankan’ slot waktu kita yang berharga untuk hal-hal yang bernilai saja.

Pada dasarnya kita harus tetap membuat batasan yang sehat terhadap berbagai hal. Don’t say yes to all things, since not all of them are necessary.

Dan itulah inti dari melakukan penyederhanaan: berfokus pada nilai dan esensi.

Terkadang Kita Harus Memilih

Saya baru saja membaca sebuah artikel yang menarik di laman blog Becoming Minimalist yang ditulis oleh Joshua Becker. Topiknya adalah tentang memilih.

Ada keinginan-keinginan dalam hidup yang bisa dikejar secara bersamaan, misalnya ingin sukses dalam pekerjaan dan memiliki waktu yang cukup bersama keluarga. Ini tentu bisa diupayakan walaupun, tentu saja, tidak mudah.

Akan tetapi, ada banyak keinginan atau harapan yang tidak boleh terwujud bersamaan, kita harus memilih salah satu saja. Misalnya keinginan untuk tetap bugar dan keinginan untuk tidak harus lelah berolahraga. Ini adalah dua keinginan yang tentu saja tak bisa beriringan. Kita harus memilih salah satu: ingin bugar atau tidak berolahraga. Kalau ingin bugar, tentu harus berolahraga.

Contoh lain misalnya keinginan untuk memiliki banyak waktu bersama keluarga dan di saat yang sama ingin mengikuti banyak kegiatan di luar rumah. Ini juga tentu mengharuskan kita untuk memilih salah satu saja: ingin fokus memiliki banyak waktu bersama keluarga atau aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar rumah. Kalau kita ternyata memilih untuk memiliki banyak waktu di rumah, tentu kita harus berkorban dalam hal mengikuti berbagai kegiatan di luar rumah. Kita harus membuat prioritas: hal mana yang ingin didahulukan, dan mana yang bisa dikorbankan.

Gambar diambil dari https://www.kevinmd.com/wp-content/uploads/shutterstock_253531033.jpg.

Atau keinginan untuk bisa menulis sebuah buku sampai selesai dan keinginan untuk menonton TV setiap malam. Ini juga tentu akan sulit dicapai keduanya secara bersamaan. Kalau kita ingin bisa menuntaskan buku, tentu waktu untuk menonton TV bisa dikorbankan agar keinginan menuntaskan buku tadi bisa tercapai.

Dan begitulah pada akhirnya kita memutuskan apa-apa saja yang ingin kita lakukan dalam hidup. Terkadang ada 2 keinginan yang bisa sama-sama diwujudkan secara beriringan, akan tetapi seringkali juga kita harus memilih.

Dan itulah yang menjadi ide utama dari tulisan di blog Becoming Minimalist yang saya baca sore ini. Silakan membaca versi aslinya di alamat ini bagi teman-teman yang tertarik.

Semoga (saja) tulisan singkat ini bermanfaat! πŸ™‚

Click to listen highlighted text!