Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Menahan Diri dari Pembelian Impulsif

Saya sendiri merasakan bahwa kehadiran aplikasi toko online di perangkat genggam kita merupakan bentuk godaan tersendiriyang kalau kontrol diri kita tidak kuatakan membawa kita pada kebiasaan berbelanja secara impulsif. Bagaimana tidak, semuanya bisa dilakukan hanya dari perangkat genggam, mulai dari pemilihan barang sampai pada pembayarannya. All you need is to sit nicely, have a good internet connection, and bam! Purchase done. 🙂

Ilustrasi Belanja Impulsif | Sumber

Maka berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk bisa menangkal kecenderungan berbelanja barang secara impulsif:

(1) Menyadari bahwa rasa senang dari kegiatan berbelanja durasinya sangat pendek.

Kita umumnya merasa senang ketika bisa melakukan pembelian suatu barang yang baru, dan rasa senang yang diperoleh dari pembelian barang ini sebenarnya berdurasi sangat singkat. Untuk sesaat kita senang, tetapi tak lama kemudian kita akan terbiasa dengan barang yang baru tersebut. Inilah yang perlu selalu diingat setiap kali kita tergoda untuk melakukan pembelian barang: kita akan merasa senang untuk sesaat saja, dan lalu terbiasa.

(2) Pertimbangkan keuntungan memiliki lebih sedikit barang.

Selain memberikan rasa lega, memiliki lebih sedikit barang akan menghemat banyak waktu yang diperlukan untuk mengurusnya. Waktu yang tersedia ini selanjutnya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Melatih diri untuk memiliki sedikit barang juga akan melatih mental cukup, dimana kita benar-benar menyadari bahwa hidup kita masih bisa berlangsung dengan baik walau dengan sedikit barang. Happiness is not in the ownership of things.

(3) Uang cash yang tersedia di saku akan sangat membantu di masa sulit.

Ketika kita tidak mudah tergoda untuk menghabiskan uang dengan berbelanja secara impulsif, kita akan memiliki persediaan uang yang akan sangat membantu ketika berada di masa yang sulit, misalnya saat terjadi resesi. Ketika keadaan ekonomi sedang sulit, misalnya, memiliki cadangan uang di luar penghasilan reguler akan sangat banyak membantu, dan membuat kita lebih tenang melewatinya.

(4) Buat anggaran.

Anggaran merupakan alat pengelolaan keuangan yang sangat berguna, dan melatih diri untuk membuat anggaran secara teratur akan melatih diri kita untuk lebih cermat (thoughtful) dalam mengeluarkan uang. Anggaran ini perlu dibuat agar segala transaksi terjadi berdasarkan prioritas yang sudah ditetapkan dan agar kecenderungan untuk impulsif bisa diminimalkan. Intinya, kalau tidak ada anggaran, sebaiknya tidak dikeluarkan uang untuk itu.

(5) Mengabaikan iklan.

Iklan produk yang terselip di berbagai aplikasi di perangkat genggam memang dirancang sedemikian rupa untuk membuat kita impulsif. Iklan adalah sesuatu yang bisa memberikan informasi yang berguna, tetapi juga bisa menarik kita untuk berbelanja tanpa berpikir panjang. Inilah sebabnya ada baiknya kita melatih diri untuk bisa mengabaikan iklan. Dengan tidak memberikan perhatian pada iklan, kita bisa mengurangi peluang untuk tergoda melakukan pembelian impulsif.

(6) Jangan terjebak dalam mindset ‘mumpung ada’

Barang-barang tertentu pada waktu tertentu memang terkadang laris manis dan sulit didapat di pasar. Tetapi ada juga barang yang memang secara sengaja diproduksi sedikit di satu waktu tertentu agar terkesan langka dan sulit didapat, sehingga ketika ada konsumen yang menemukan barang itu, mereka akan tergoda untuk segera membeli, mumpung ada. Inilah satu kondisi dimana kita harus tetap selektif untuk melihat apakah suatu produk benar-benar sesuatu yang kita butuhkan. Kalau ternyata tidak benar-benar dibutuhkan, kita perlu menahan diri agar tidak tergoda dalam mindset ‘mumpung ada’ ini.

(7) Ketimbang membeli barang, pertimbangkan untuk membantu orang.

Dengan menahan diri dari pembelian impulsif, uang yang bisa kita kendalikan itu sebenarnya bisa dialokasikan kepada sesuatu yang lebih penting: membantu orang. Tentu ada saja orang di sekitar kita yang lebih membutuhkan sejumlah uang yang kita miliki, walaupun sedikit. Uang yang sedikit itu mungkin saja sangat berarti bagi mereka. Ini akan memberikan rasa senang yang jauh lebih berkesan dibandingkan dengan rasa senang dari pembelian impulsif.


Demikian tujuh cara untuk menangkal kecenderungan berbelanja barang secara impulsif. Tidak ada yang salah dengan berbelanja, yang penting adalah apa yang kita belanjakan itu benar-benar sesuatu yang bermanfaat. 😊


Tulisan ini disarikan dari artikel di laman blog Joshua Becker.

Prinsip Budgeting Mendasar

Ada banyak panduan di internet tentang bagaimana seharusnya kita membuat anggaran (budget). Tujuannya agar keuangan kita tertata dengan baik; dimana kita mengalokasikan dana / biaya untuk berbagai keperluan kita untuk rentang waktu tertentu, misalnya harian, mingguan, bulanan, sampai tahunan. Budgeting ini adalah skill dasar dalam pengelolaan keuangan untuk menjaga agar cash flow kita sehat. Kondisi ‘sehat’ yang dimaksud di sini, menurut saya, adalah kita tidak sampai berhutang hanya untuk menutupi kebutuhan harian.

Formula pengelolaan keuangan yang banyak beredar di dunia maya, dalam pendapat saya, tidak selalu bisa menjadi acuan, karena memang situasi setiap orang berbeda. Ada orang yang memang memutuskan untuk membagikan pendapatannya kepada orang tua secara rutin setiap bulan seperti saya, karena memang mereka membutuhkan; dan ada yang tidak perlu melakukan itu karena barangkali orangtuanya masih produktif dan masih memiliki pendapatan sendiri. Ada orang yang harus membantu pendidikan adiknya, misalnya, karena alasan tertentu. Intinya situasi setiap orang berbeda satu dengan lainnya, sehingga pengelolaan keuangannya pun pasti akan berbeda. Tidak ada yang salah dengan itu, karena budgeting pada dasarnya adalah how to make it works; bagaimana agar uang yang tersedia termanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Dari pengalaman saya, ada beberapa prinsip dasar yang perlu dipahami terkait budgeting:

#1. Kenali Situasi Anda

Kita tidak perlu langsung ‘melompat’ kepada bagaimana cara membuat budget sebelum benar-benar mengenali apa situasi kita yang sebenarnya. Situasi yang saya maksud di sini adalah kita harus mengetahui, pertama, apa yang penting bagi kita. What matters to US in the first place. Hal-hal penting inilah yang nantinya akan menjadi prioritas dalam alokasi keuangan kita. Kedua, siapa saja yang menjadi tanggungan kita. Saya, misalnya, menanggung anak istri dan kedua orangtua saya; maka orang-orang inilah yang menjadi prioritas alokasi keuangan saya.

#2. Terima Situasi Anda

Setelah menyadari situasi di mana Anda berada, tahap berikutnya adalah penerimaan situasi. Acceptance. Kita perlu menyadari bahwa situasi setiap orang berbeda, dan tidak ada yang salah dengan situasi kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi situasi masing-masing, dan mencari cara terbaik untuk bersahabat dan bisa menghadapi situasi keuangan kita dengan tenang.

#3. Alokasikan dan Pegang Teguh

Langkah berikutnya sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan tahap 1 dan 2, karena tahap ini lebih kepada number crunching, menetapkan angka yang masuk akal (reasonable) untuk tiap alokasi. Kendati saya mengatakan ini tahap yang mudah, tetapi diperlukan waktu juga sampai akhirnya mendapat formulasi yang pas untuk ini: angka yang wajar dan pas dengan situasi kita, dan dalam prosesnya, ini membutuhkan komunikasi juga dengan keluarga.

Setelah menemukan formulasi yang pas untuk situasi kita, selanjutnya kita tinggal berpegang teguh pada formulasi ini agar keuangan kita setiap bulan tetap aman.


Demikian 3 tahap penting yang menurut pengalaman saya sangat berguna dalam merumuskan anggaran (budget) keuangan kita. Intinya adalah setiap orang mempunyai formulasi sendiri, dan yang penting adalah bagaimana kita mengatasi situasi tersebut agar keuangan kita tetap aman, dan kita tetap bisa hidup dalam kecukupan.

Semoga berguna! ☺️

Perihal Kekayaan Instan

Banyak orang yang sebenarnya akan tertolong dari tipuan investasi bodong seperti yang marak saat ini apabila mereka sungguh menyadari karakter kekayaan yang sesungguhnya: tidak terlihat. True wealth is something you don’t see.

Ilustrasi Orang Kaya

Orang mudah terjebak pada visual kekayaan yang ditampilkan para penjebak berlabel crazy rich: rumah mewah, mobil, pakaian-pakaian bermerk terkenal, aksesoris mahal, dan kemudahan untuk mengakses berbagai kenikmatan duniawi menggunakan uang yang ada. Disematkanlah aplikasi berbisnis dalam jebakan tersebut yang dalam narasinya akan bisa menghantar orang pada “kesuksesan” sebagaimana yang dimiliki oleh model—yang ternyata hanyalah afiliator aplikasi judi—yang mengeruk keuntungan besar dari ketidakberuntungan orang lain.

Dalam buku The Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel kita disadarkan bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah tidak terlihat. Katakanlah Anda memiliki tabungan 100 juta di rekening bank. Maka kekayaan Anda (yang tidak terlihat itu) bernilai 100 juta rupiah. Apabila Anda membelanjakan 50 juta dari tabungan tersebut untuk membeli sebuah perangkat, misalnya, untuk sekedar “menunjukkan” kepada orang lain bahwa Anda mampu membeli perangkat mahal senilai 50 juta rupiah, maka sebenarnya nilai kekayaan Anda sudah berkurang 50 juta rupiah. Barang yang Anda beli tadi—yang tujuannya untuk membuat orang lain mengakui bahwa Anda kaya dan mampu membeli barang tersebut—tidak akan membuat orang terkesan untuk jangka waktu lama. Malah, Anda kehilangan fleksibilitas yang bisa didapatkan dari 50 juta rupiah jika seandainya kekayaan itu tetap tersimpan tanpa dibelanjakan.

Buku ini menyadarkan kita bahwa orang yang benar-benar kaya akan menggunakan uangnya untuk membeli fleksibilitas atau waktu, bukan barang-barang hanya untuk tujuan pamer (show off). Malah orang-orang yang benar-benar kaya cenderung akan modest saja dalam berpenampilan. Tampak biasa, ternyata bisnisnya banyak sekali, tersebar di berbagai tempat.

Tentu saja orang yang benar-benar kaya mampu membeli barang-barang mahal, akan tetapi mereka melakukannya karena memang benar-benar membutuhkan untuk menunjang bisnisnya dan untuk membantu mereka lebih fleksibel dengan waktu. They’re not buying the stuff per se, they do buy time.

Jadi, kalau ada orang yang terlihat kaya dan gemar memamerkan barang-barang miliknya di media dan gencar mempromosikan suatu platform bisnis, be really cautious about them, karena bisa saja mereka sedang menjalankan sebuah jebakan. They’re trying to lure you into doing something, memanfaatkan “kerapuhan” emosional kita, yaitu keinginan untuk cepat-cepat kaya.

Bersyukurlah dengan keadaan ekonomimu saat ini, entah bagaimana pun itu, dan tetaplah berusaha meningkatkan taraf hidupmu dengan upaya-upaya yang baik, dan ingat, tak ada pencapaian yang instant. Upaya memperbaiki taraf hidup membutuhkan upaya, kerja keras, dan waktu yang tidak sedikit.

Semoga tulisan ini berguna. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan

Video Sinopsis Buku The Psychology of Money

Buku Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel menjadi buku yang menarik karena menurut saya bisa membukakan mata kita pada aspek perilaku kita terhadap uang. Kita menjadi paham bahwa pengelolaan keuangan tak melulu soal aritmetika.

Karena rasa tertarik itu saya akhirnya mencoba mencari tahu apa pendapat orang lain tentang buku ini, dan ada banyak orang yang sudah membahasnya di channel YouTube mereka, maka berikut saya share 3 video dimaksud, dan semuanya berbahasa Indonesia.

Enjoy! 🤗

Sebenarnya, Mengapa Harus Menabung?

Ilustrasi Tabungan

Di salah satu postingan sebelumnya, saya pernah menceritakan sekilas tentang buku keuangan, The Psychology of Money, yang menurut saya cukup ‘membukakan mata’. Salah satu pesan yang saya tangkap dari buku itu adalah bahwa perilaku (behavior) jauh lebih penting dari pengetahuan (knowledge) tentang keuangan dalam konteks pengelolaan keuangan. How you behave is more important than what you know when it comes to money.

Tulisan ini adalah sari dari buku tersebut tentang menabung. Apa sebenarnya alasan yang paling mendasar dari menabung? What can you get as an exchange from saving money?


Bukan Soal Besarnya Pendapatan

Sebagai ilustrasi, krisis minyak dunia yang terjadi sekitar 1970-an dapat teratasi karena efisiensi energi. Kendaraan, pabrik, rumah yang dibangun dirancang lebih hemat dalam menggunakan energi. Jarak tempuh kendaraan bermotor hampir mencapai 2 kali lipat per liter bahan bakar sejak 1975. Kuncinya adalah efisiensi.

Hal yang sama juga terjadi dalam pengelolaan keuangan.

Besarnya pendapatan tidak akan kondusif untuk menabung apabila tingkat konsumsinya tidak efisien. Sebaliknya, efisiensi yang baik akan membuat besar kecilnya pendapatan akan tetap mendukung untuk menabung.

Misalnya A dan B memiliki penghasilan yang berbeda: A sebesar 6 juta per bulan, B sebesar 12 juta. Si A bisa hidup dengan 3 juta sebulan, sedangkan si B membutuhkan 10 juta. Dengan penghasilan yang separuh saja dari tokoh B, si A mampu menabung 3 juta dalam sebulan, lebih besar 50% dari B yang hanya bisa menabung 2 juta.

Sekali lagi, efisiensi menjadi kunci.

Ego Mendekati Pendapatan

Yang seringkali membuat kita membelanjakan sejumlah uang untuk gaya hidup adalah ego. Kita ingin mendapatkan validasi atas status sosial kita dengan menunjukkannya melalui kepemilikan barang-barang yang disebut bermerk atau branded. Kita haus akan label. Hal ini bisa dilihat dari video orang-orang di media sosial yang memamerkan kekayaannya, agar mendapatkan validasi, pengakuan, label dari para pemirsa. Inilah yang dimaksud dengan ego yang mendekati pendapatan. Ada rasa haus yang berusaha ditutupi dengan gaya hidup mewah.

Dan hal seperti ini justru paling berbahaya jika terjadi pada orang yang level penghasilannya sebenarnya masih di golongan menengah ke bawah. Tak sedikit juga orang yang sebenarnya masih pas-pasan berusaha untuk menampilkan dirinya sebagai orang yang memiliki banyak uang. Yang terjadi adalah uang yang seharusnya bisa ditabung justru tergerus untuk gaya hidup.

Orang-orang yang cakap dalam mengelola keuangan justru tidak peduli pada pendapat orang lain tentang gaya hidup mereka. They don’t give a damn. Ini fakta yang tidak disadari banyak orang. Orang-orang yang memiliki kecakapan pengelolaan keuangan seperti ini hidup berdasarkan apa yang benar-benar dibutuhkan dan apa yang bernilai baginya. Dan yang menarik adalah: mereka bisa menabung lebih banyak, karena mereka bisa dengan cekatan ‘memangkas’ berbagai pos pengeluaran yang tidak perlu. Istilahnya savings rate: berapa persen dari penghasilan yang bisa dialokasikan untuk tabungan.

Alur berpikirnya sebagai berikut:


Orang bisa menabung jika pengeluarannya berkurang;

Pengeluaran bisa berkurang kalau keinginannya tidak terlalu banyak;

Keinginan tidak akan terlalu banyak apabila kita tidak mempedulikan pendapat orang lain tentang gaya hidup kita.


Dengan alur berpikir seperti di atas, kemampuan menabung sebenarnya sepenuhnya ada dalam kendali setiap orang.

Manfaat Tak Terlihat dari Menabung

Di video-video panduan pengelolaan keuangan saya selalu mendengarkan saran yang selalu berulang: tabungan harus mempunyai tujuan.

Artinya kita perlu mengaitkan kegiatan menabung dengan tujuan keuangan tertentu, misalnya untuk liburan keluarga, membeli kamera baru, dan sebagainya. Tentu saja hal ini benar, dan untuk banyak kasus bisa sangat membantu kita untuk selalu termotivasi menabung.

Akan tetapi ada juga manfaat tak terlihat dari menabung, dan Morgan Housel, sang penulis, berargumen bahwa menabung tak harus selalu punya tujuan spesifik. Menabung seharusnya bisa dilakukan karena memang orang seharusnya menabung; save for the sake of saving itself.

Manfaat tak terlihat yang dimaksud adalah:

Bagaimana menurut Anda?

Untuk saya pribadi, fleksibilitas dengan waktu merupakan sesuatu yang berharga mahal, dan oleh karena itu, kalau kita bisa sedikit lebih fleksibel dengan waktu yang kita miliki—tanpa harus selalu dikendalikan oleh orang lain (kalau terus menerus bekerja di bisnis orang lain)—menjadi sesuatu yang sangat pantas diperjuangkan. Dan menabung adalah jalan menuju ke sana.

Sedikit kebebasan untuk menentukan jalan hidup bisa dibeli, asal kita memiliki uang yang cukup untuk hidup tanpa harus selalu terikat pada bisnis orang lain. 😉

Salam,

Paulinus Pandiangan

Perihal Gajian Yang Sehat

Ini sebenarnya masih lanjutan dari postingan sebelumnya. Persoalan budgeting ini memang selalu menarik dan ada banyak yang membicarakannya, termasuk di platform YouTube.

Video berikut ini mengupas tentang 5 langkah yang dapat dipraktikkan agar siklus gajian kita (sebagai karyawan perusahaan) tetap sehat dan keuangan kita stabil. Silakan disimak.

Membuat anggaran juga sangat ditekankan dalam video di atas. Anggaran (budget) ini memang menjadi semacam kompas keuangan kita; dia sangat membantu memetakan distribusi keuangan kita.

Semoga video di atas memberikan informasi yang berguna atau bahkan menginspirasi perubahan ke arah yang baik. 🙂

Salam,

Paulinus Pandiangan

Budgeting dengan MyMoney

Membuat anggaran (budget) merupakan sebuah keharusan apabila kita, baik sebagai pribadi atau pun keluarga, ingin mengelola uang dengan baik. Keterampilan mengelola uang sangatlah penting, karena keuangan akan menjadi akar masalah yang besar apabila tidak terkelola. Banyak orang yang bahkan sampai stress karena kacau keuangannya. Dalam konteks keluarga, keuangan ini pun seringkali menjadi sumber konflik antara suami dan istri, apabila tidak ditata dengan baik.

Karena itu, keterampilan merancang anggaran menjadi salah satu langkah yang dapat membuat hidup kita lebih tertata, dan untuk alasan itulah saya membuat tulisan singkat ini. Semoga dengan sharing sederhana ini teman-teman bisa terbantu.

LANJUTKAN MEMBACA…

Tentang Psikologi Uang

Perkenalkan Ronald James Read. Dia orang yang sangat sederhana, seorang petugas kebersihan dan mekanik di stasiun pengisian bahan bakar kendaraan. Lahir di sebuah desa di Vermont, Amerika Serikat, dia adalah orang pertama dalam keluarganya yang mengecap bangku SMA. Kondisi ekonomi keluarganya membuatnya harus menumpang kendaraan orang lain setiap hari selama bersekolah SMA.

Di usia 38 tahun ia membeli rumah seharga 12 ribu dolar dengan 2 kamar tidur. Pada usia 50 ia menjadi duda dan tak menikah lagi setelahnya. Selama 25 tahun ia bekerja memperbaiki mobil dan menjadi petugas kebersihan selama 17 tahun di tempat lain. Sekilas tak banyak yang tampak luar biasa darinya.

Hingga pada 2014 ketika ia meninggal di usia 92 tahun.

LANJUTKAN MEMBACA…
Click to listen highlighted text!