Memento Mori

“You could leave life right now. Let that determine what you do and say and think.” 

Marcus Aurelius

Ada ritual menarik yang selalu dilakukan Marcus Aurelius.

Selain teratur menulis jurnal setiap pagi, dia juga selalu mengingatkan dirinya akan kematian setiap malam. Sembari menidurkan anak-anak, dia akan mengingatkan dirinya: jangan terburu-buru, ini barangkali kesempatan terakhirmu bisa menidurkan anak-anak ini. Tak ada jaminan kamu masih hidup esok pagi.

Dari riwayat pernikahannya, kebiasaan ini akhirnya bisa dimengerti. Faustina, istri Marcus Aurelius, melahirkan 13 anak sepanjang pernikahan mereka. Ketika Marcus Aurelius meninggal dunia pada sekitar tahun 180 Masehi, hanya 5 anaknya yang masih bertahan hidup. Hanya lima.


Bermeditasi atas kefanaan kita-dikenal dengan memento mori (Latin: “ingatlah kematianmu.“)-merupakan sebuah kepatutan. Menyadari bahwa kita pasti akan meninggal membantu kita memandang kehidupan dengan lebih nyata; bahwa semua ada batasnya. Setiap tarikan nafas yang kita ambil akan mengurangi jatah tarikan nafas kita yang tersisa. Mencamkan ini secara sadar dalam pikiran akan membantu kita berorientasi pada tujuan hidup kita yang sebenarnya. Perhatian kita akan terarah pada apa yang benar-benar penting.

Kita juga akan sungguh menghargai keberadaan orang-orang di sekitar kita, karena kita tahu, bahwa hidup mereka juga ada batasnya. Mereka akan berlalu dari kehidupan kita, atau kita yang akan berlalu dari kehidupan mereka. Entah siapa yang duluan, tak ada yang tahu. Seperti ungkapan Latin, Hodie mihi, cras tibi. Hari ini aku, besok kamu.

Terlebih dengan pandemi saat ini. Kita sangat bersyukur masih diberikan kesehatan. Tapi kita perlu tetap menyadari bahwa kita pun tetap beresiko untuk terserang. Virus tidak berbelas kasihan, tidak peduli siapa kita atau siapa yang harus kehilangan apabila kita terjangkit. Dia bisa saja menyerang saya, orang-orang yang saya sayangi, sebagaimana telah dilakukannya pada ratusan dan bahkan ribuan orang lain di seluruh dunia.

Dalam tradisi Kristiani, praktik ini juga dikenal. Di Katolik, misalnya, saat misa Rabu Abu kita akan selalu mendengar ungkapan, “Ingatlah bahwa kamu berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Santo Ignatius Loyola pun pernah berkata, “Apabila ingin membuat keputusan-keputusan yang besar dan penting, bayangkanlah dirimu tergeletak di kasur menjelang kematian.” Praktik ini jelas akan membantu kita untuk mampu ‘melihat‘ apa yang benar-benar penting dalam hidup.

Ketika engkau membaca ini, sobat, ingatlah bahwa jatah hari kita berkurang 1 lagi hari ini, pun kuota tarikan nafas yang bisa kita ambil.

Ingatlah kematian. Hari ini adalah anugerah, satu hari lagi yang diberikan padaku dan padamu. Let’s live it like never before.

Memento mori.

 Love ❤,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.