Perihal Kemelekatan

René Girard, seorang pemikir Perancis adalah orang pertama yang mengemukakan konsep “hasrat mimetik”. Mimetik sendiri berakar dari sebuah kata dalam bahasa Latin, mimesis , yang artinya: meniru.

Konsep ini menyatakan bahwa keinginan-keinginan kita pada dasarnya tidak sepenuhnya milik kita; mereka justru dilahirkan dan dibentuk dari proses dimana orang meniru keinginan-keinginan orang lain.

Memang tidak begitu jelas seberapa jauh hasrat-hasrat kita mengikuti orang lain, tetapi setidaknya jelas ada beberapa di antaranya yang tidak benar-benar berasal dari kita sendiri. Ketika masih anak-anak, misalnya, kita ikut olahraga tertentu karena teman-teman kita juga melakukan olahraga yang sama. Atau kita cenderung memilih sekolah yang kebanyakan dipilih teman-teman sepermainan.

Orang dewasa juga tak lebih ‘kebal’ dari perilaku ini. Kita bisa dengan mudah berkeinginan untuk segera berlibur ketika melihat foto teman yang sedang liburan, misalnya. Atau tiba-tiba berkeinginan mengupgrade perangkat elektronik saat melihat teman kerja menggunakan versi yang lebih baru.

Kita perlu memahami perilaku ini untuk benar-benar bisa membuat pilihan bijak, pilihan berkesadaran. Membuat pilihan-pilihan yang intensional merupakan bentuk kebebasan dari (sekedar) mengikuti trend sosial.

Di sini stoikisme bisa membantu.

Ketakmelekatan

“The faculty of desire purports to aim at securing what you want…If you fail in your desire, you are unfortunate, if you experience what you would rather avoid you are unhappy…For desire, suspend it completely for now.”

Epictetus

Epictetus dalam kutipan di atas menyarankan agar kita mengambil jarak emosional terhadap berbagai keinginan yang muncul. Mengambil jarak ini akan memungkinkan kita memahami secara perlahan pilihan mana yang mengarahkan kita ke kehidupan yang lebih baik dan mana yang tidak. Kita harus mampu menahan diri, dan itu dimulai dari pengendalian pikiran. Get a grip on your mind.

Marcus Aurelius mempunyai metode yang lebih ekstrem lagi. Beliau menyarankan agar kita sungguh melihat ke dalam dan ‘membedah’ esensi dari setiap hal yang kita inginkan, dalam bentuk sebenar-benarnya keinginan itu.

“Like seeing roasted meat and other dishes in front of you and suddenly realizing: This is a dead fish. A dead bird. A dead pig. Or that this noble vintage is grape juice, and the purple robes are sheep wool dyed with shellfish blood…Perceptions like that—latching onto things and piercing through them, so we see what they really are. That’s what we need to do all the time.”

Marcus Aurelius

Ketika melihat daging panggang yang sangat menggoda, misalnya, kita bisa melatih pikiran kita bahwa daging ini adalah ikan mati, babi yang mati, ayam yang mati, dan seterusnya. Atau ketika melihat kain dari bulu domba yang tampak lembut memikat, kita bisa menyadari bahwa kain itu diperoleh dari serangkaian proses kejam: ada domba yang harus mati, dikuliti, dan bulunya diolah sedemikian rupa dan diwarnai agar terlihat menarik.

Melihat hal-hal yang diinginkan secara sebenar-benarnya akan membantu kita untuk pada akhirnya bisa membuat jarak emosional-dikenal dengan ketakmelekatan (detachment)-dan ini akan membantu kita untuk melihat apakah suatu keinginan sungguh sejalan dengan nilai-nilai yang kita anut atau tidak sama sekali.

Stoikisme mengajarkan kita untuk menelaah keinginan-keinginan kita dengan hati-hati; dan untuk bisa melakukannya, pertama kita harus mengambil jarak emosional terlebih dulu. Pandang dari jauh, dan tanyakan pada dirimu, apakah ini yang benar-benar saya inginkan?

Semoga kita bisa sampai pada level memilih dengan sadar. Intentional.

And that, my friend, begins with discernment. 👌

Di alamat ini kamu bisa membaca artikel tentang Detachment dari Agnes Louis. Anggaplah ini sebagai bonus kecil. 😉

Salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.

One thought on “Perihal Kemelekatan”

Comments are closed.