Filosofi Teras : Sebuah Pengantar

Seorang pilot Amerika, James Stockdale, belajar di Stanford University sebelum perang Vietnam. Dosen filsafatnya di sana menganjurkan agar ia mempelajari Epictetus, salah satu filsuf Stoa yang suka menggambarkan filsuf mirip seorang tentara.

James Stockdale sangat terkesan pada pemikiran Epictetus. Hal-hal pokok yang ia ingat-ingat terus dari filsafat Stoa adalah:

  • Pembedaan antara apa yang up to us (tergantung pada kita) dan not up to us (tidak tergantung pada kita);
  • Soal baik atau buruk itu tergantung dari cara jiwa kita menafsirkannya; dan
  • Segala situasi hidup yang menimpa kita bersifat indifferent (netral saja).

Saat perang Vietnam pecah, ia ditugaskan bertempur di sana. Pesawatnya tertembak jatuh, dan ia menjadi tahanan di Hanoi, Vietnam selama tujuh tahun! Ia sering ditaruh di sel bawah tanah, disiksa, dipukuli, dan tiap hari mengalami penistaan lahir dan batin. James Stockdale mengatakan bahwa berkat Epictetus ia mampu bertahan waras, meski mengalami tekanan psikologis dan siksaan fisik selama tujuh tahun.


Kisah di atas merupakan salah satu kisah menarik yang tertulis dalam buku Filosofi Teras (reviewnya di sini) yang ditulis oleh Henry Manampiring tahun 2019 lalu—sebuah buku tentang Stoisisme, filosofi yang awalnya dikembangkan oleh filsuf Zeno di Yunani pada 2000-an tahun lalu dan menjadi sebuah laku hidup (way of life) yang (ternyata) masih sangat relevan sampai saat ini.

Cover Buku Filosofi Teras

Saya sangat merekomendasikan buku ini, yang bisa membahas Stoisisme dengan begitu renyah—dan lucu juga! 🙂

Hal yang sangat ditekankan dalam buku ini adalah prinsip dikotomi kendali—yang lalu oleh William Irvine dikembangkan menjadi trikotomi kendali—yang membantu kita memahami hal-hal yang ada dalam kendali kita dan hal-hal yang di luar kendali kita, dan dari itu selanjutnya membantu kita bersikap.

“Some things are up to us, some things are not up to us”

— Epictetus (Enchiridion)

Tertarik? 😉

Regards,

The Problem of Pain

Akhirnya buku “The Problem of Pain” tulisan C. S. Lewis yang saya beli dari web Periplus sampai juga. Saatnya membaca buku 162 halaman ini dengan seksama.

The Problem of Pain oleh Clive Staples Lewis

Why this book?

Well, saya tertarik untuk menyimak argumen C. S. Lewis yang berusaha meyakinkan pembaca bahwa penderitaan yang dialami manusia di dunia ini tidak lantas bisa menjadi dasar untuk menyatakan bahwa Tuhan bukanlah Maha Kuasa.

Begini kesimpulan tentang buku ini yang tertulis di laman Wikinya:

Lewis does not claim to offer a complete “solution” to the problem of evil. In fact, he argues that we should not expect a full understanding of why God permits evil. As humans, he notes, we cannot possibly see “the big picture” that God does. As finite, temporal creatures, we cannot truly grasp how “the sufferings of this present time are not to be compared with the glory which shall be revealed in us” (Rom. 8:18).

However, Lewis suggests that the problem runs even deeper: “if God is wiser than we, his judgments must differ from ours on many things, and not least on good and evil. What seems to us good may therefore not be good in His eyes, and what seems to us evil may not be evil”. That does not mean that what we consider good could be completely different from what God considers good. That would make it empty to speak of God as “good” and it would take away all moral reasons for loving and obeying Him. Still, like Job, we should humbly acknowledge the limits of human wisdom and not presume to fully fathom why God permits suffering and evil. With that important caveat, Lewis proceeds to suggest some reasons why a good and all-powerful God might allow evil. Lewis also addresses issues in The Problem of Pain on the Fall of Man, original sin, Hell, animal pain, and heaven.

Intinya adalah bahwa kita tidak akan pernah dapat memahami secara penuh mengapa Tuhan mengizinkan kejahatan dan penderitaan terjadi. Apa yang buruk menurut mata manusiawi kita belum tentu buruk pula menurut rencana Tuhan, dan kita harus senantiasa menyadari keterbatasan manusiawi kita dengan rendah hati, bahwa kita tidak akan pernah benar-benar memahami secara utuh mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan terjadi.

Begitu kira-kira gambaran ide besar yang tertuang dalam buku ini. Baiklah, saatnya saya membaca dulu. Saya akan mencoba membuat inti sari dari buku ini ketika nanti sudah selesai membacanya.

See you then. 😉

C. S. Lewis on the Search for Meaning

In his 1980 book titled The Weight of Glory, C. S. Lewis writes,

The books or the music in which we thought the beauty was located will betray us if we trust to them; it was not in them, it came through them, and what came through them was longing. These things—the beauty, the memory of our own past—are good images of what we really desire; but if they are mistaken for the thing itself, they turn into dumb idols, breaking the hearts of their worshippers. For they are not the thing itself; they are only the scent of a flower we have not found, the echo of a tune we have not heard, news from a country we have not visited.

C. S. Lewis

Think about that. For me, it speaks about The Creator and The One: Christ. His creations should lead us to and worship Him.

It is about God, The One in which meaning of our lives is found.

Pace e Bene. 🙂

31 Days to Happiness

Pernahkah Anda membaca sebuah buku berisikan pergumulan jiwa seseorang, dan Anda hampir seperti bisa menyatakan dengan pasti bahwa Anda pun mengalami pergumulan yang sama?

Well, tidak banyak buku yang bisa melakukan itu, apalagi kalau bukunya ditulis bukan dalam bahasa sehari-hari kita. Tetapi barangkali kita semua setuju bahwa menemukan makna hidup dan kebahagiaan sejati adalah pencarian kita semua. Semua ingin hidup bermakna dan merasakan kebahagiaan yang sejati, a meaningful life and lasting happiness.

Dan bagaimana kalau tokoh dalam buku itu, setelah pergumulan yang panjang dan tak mudah, pada akhirnya sampai pada Sumber Kebahagiaan Sejati?

Tentu saja buku itu cukup berharga untuk dibaca, bukan? 😉

Baiklah, sedikit intro.

Raja Salomo – yang sering disebut sebagai Guru atau Sang Pemikir – menuliskan buah-buah pikirannya dalam Kitab Pengkotbah (Ecclesiastes), salah satu Kitab berisi hikmat dalam ajaran Kristiani. Isinya adalah tentang pergumulan batin Salomo sendiri untuk menemukan makna kehidupan dan kebahagiaan sejati. Dengan tidak melibatkan Tuhan dalam keseluruhan rangkaian perjalanan hidup, hidup itu sendiri menurut Salomo hanya menjadi “kosong dan sia-sia”. Kekosongan (emptiness) yang dirasakan Salomo berusaha diisinya dengan kemewahan dunia, ilmu pengetahuan, kesenangan hidup, tetapi semuanya, pada akhirnya, tetap bukan merupakan jawaban yang tepat. Kekosongan itu tetap ada.

Pergumulan Raja Salomo dengan kehidupan untuk menemukan kebahagiaan sejati, sesuatu yang berusaha ia pahami dengan berkat kebijaksanaan yang diberikan Tuhan padanya, juga adalah pergumulan kita. Itu sebabnya membaca kisah Raja Salomo ini sama seperti kita membaca perjalanan diri kita sendiri.

Dalam buku 31 Days of Happiness yang ditulis dengan sangat indah oleh David Jeremiah ini, kita akan menemukan pesan-pesan yang merupakan buah-buah kebijaksanaan Raja Salomo sendiri.

Secara pribadi saya sangat merekomendasikan Anda membaca versi asli buku ini dalam bahasa Inggris, agar tidak kehilangan keindahannya. Menikmati rangkaian kata demi kata yang ditata dengan sangat apik dan berisikan tentang kebijaksanaan dan menjadikannya sebagai bagian perjalanan spiritual pribadi adalah suatu pengalaman yang tak ternilai.

Dan pesan saya, don’t rush it. Bacalah buku ini dengan tenang, satu bab saja tiap waktu. Yang terpenting adalah kita sungguh “melihat” diri kita sendiri dalam pergumulan-pergumulan Raja Salomo.

It’s basically seeing yourself through the book while experiencing the journey.

Buku ini pada dasarnya adalah tentang perjalanan spiritual kita sendiri; suatu perjalanan yang telah ditempuh Raja Salomo yang bijaksana, perjalanan yang membawanya kepada eksistensi Sumber Kebahagiaan Sejati.

Untuk saya, buku ini adalah suatu investasi penting dalam hidup. A book for life.

Anda dapat memproleh buku ini dalam format PDF dengan mengakses link di bawah ini:

Semoga bermanfaat untuk Anda dalam menjalani hidup, menemukan makna dan kebahagiaan sejati yang hanya berasal dariNya.

Pace e Bene. 🙂

3 Great Books for Biogas Plants

At the heart of biogas plants is the biogas itself, and biogas production process involves bacterial consortium to work along with.

How best to deal with the microbial groups is the art of making biogas that is fine in quality and moderate in quantity; which is always a trade-off: high quantity biogas is usually associated with poorer quality, i.e lower methane per mass or volume of substrate digested.

The balance between biogas quantity and quality is really the main concern of biogas production operators – and for this, a bit of science is required.

The following three books give a clear guide to the anaerobic process as a whole, its monitoring and how to tackle problems commonly occur in an upset anaerobic process. I would always recommend these 3 books for anyone interested to dive deeper into Anaerobic Digestion (AD) as I found these books to be so useful in my day to day experience working on anaerobic process.

Without further ado, here they are:

Those books—along with thorough field observation—would be sufficient to run a balanced and well-maintained process. I can assure you that these books would make you a more knowledgeable personel in this particular field. 😉