Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

“Man in the Car” Paradox

One particular concept that stands out in Morgan Housel’s The Psychology of Money is the “Man in the Car Paradox.” This paradox encapsulates the complex relationship between wealth, perception, and happiness. Let’s delve into the nuances of this paradox, but first, what is it all about?

Imagine driving past a person in a luxury car, envying their apparent wealth and success. However, what you don’t see is the financial stress, debt, or dissatisfaction that may accompany the owner of the luxury car. Meanwhile, the person driving a modest vehicle may be content, financially secure, and free from the burden of excessive consumption. The individual inside the car may be biased, thinking of themselves as cool and successful, when in reality, as the observer, you might imagine yourself driving the car, considering how cool and successful you would be.

Some key insights from this paradox are as follows:

  1. Relative Wealth vs. Absolute Wealth: Housel highlights the distinction between relative wealth (comparing oneself to others) and absolute wealth (financial security and peace of mind). The “Man in the Car Paradox” underscores that true wealth lies in achieving financial independence and contentment, rather than merely outpacing others in material possessions.
  2. The Illusion of Happiness: Society often equates wealth with happiness, leading individuals to pursue materialistic goals relentlessly. However, the paradox reveals that external markers of success may not always correlate with genuine fulfillment. Studies suggest that happiness derived from possessions is fleeting and often overshadowed by financial insecurity or comparison with others.
  3. The Importance of Perspective: The paradox emphasizes the significance of perspective in shaping our attitudes towards wealth and well-being. By reframing our definition of success and embracing gratitude for what we have, we can cultivate a more fulfilling and sustainable approach to money management.

What can we do about it?

Understanding the “Man in the Car Paradox” can profoundly influence our approach to personal finance. Instead of chasing superficial symbols of success, focus on building financial resilience, pursuing meaningful experiences, and nurturing relationships. Adopting a mindset of abundance and gratitude can lead to greater satisfaction and contentment, irrespective of one’s financial status. And that’s what truly matters in the end.

Practical Things We Can Do:

  • Prioritize financial goals based on personal values and long-term aspirations.
  • Practice mindful spending and differentiate between wants and needs.
  • Cultivate gratitude through regular reflection on life’s blessings.
  • Invest in experiences, relationships, and personal development rather than material possessions.
  • Embrace frugality as a means to achieve financial freedom and flexibility. I should emphasize though that this lifestyle is not for everybody.

☘️ ☘️ ☘️

The paradox serves as a poignant reminder that wealth is not merely a measure of material possessions but encompasses aspects of financial security, contentment, and perspective. By redefining our relationship with money and prioritizing intrinsic values over extrinsic markers of success, we can navigate the complexities of personal finance with greater wisdom and fulfillment.

As Morgan Housel eloquently states, “Being rich is having money; being wealthy is having time.” True wealth is achievable if you choose to embrace financial prudence, gratitude, and a holistic approach to well-being. 🤩

Niksen

Di sebuah postingan pada 31 Mei 2021 saya pernah menyinggung tentang sebuah seni tidak melakukan apa-apa à la orang Italia, l’arte di non fare niente. Niksen adalah seni yang sama dalam versi Belanda.

Kita tentu familiar dengan istilah CFD. CFD (Car Free Day)hari bebas kendaraan bermotordi kota-kota besar adalah analogi yang baik untuk niksen. CFD adalah ‘jeda’ kota dari lalu lintas kendaraan bermotor; dan niksen sendiri adalah jeda dari kesibukan sehari-hari.

Niksen awalnya berkonotasi negatif, karena dianggap menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Niksen sangat erat dengan kesan kemalasan dan tidak produktif.

Podcast Monolog Saya Tentang Niksen

Seiring waktu, ketika kesibukan meningkat dan teknologi komunikasi semakin baiksehingga batasan waktu bekerja semakin kabur (dimana orang akhirnya bisa bekerja walaupun sedang di rumah)niksen pada akhirnya dianggap sebagai penawar dari kelelahan mental dan fisik akibat terlalu banyak bekerja (overwork). Perkembangan teknologi komunikasi melahirkan budaya always-on, orang bisa saling terhubung dan berkomunikasi 24/7. Niksen adalah cara untuk ‘menjaga kewarasan’ di tengah budaya tersebut; dengan tetap memprioritaskan diri di pusaran berbagai tuntutan atas nama produktivitas. Niksen secara lebih serius adalah upaya untuk menjaga kesehatan mental.

Ilustrasi Niksen

Ternyata mengambil cukup jeda bisa memulihkan level energi, membuat orang lebih sehat (justru karena tidak harus selalu produktif), membuat otak lebih segar, membuat orang bekerja lebih efektif, bisa membuat perencanaan jangka panjang, dan tidur lebih pulas. Orang yang kelelahan secara mental dan fisik akibat terlalu sibuk justru akan mengalami masalah terkait fisik, pun kelelahan otak, menurunnya kemampuan memproses informasi, dan lebih parahnya lagi stress. Perlu ada keseimbangan antara bekerja produktif dan waktu untuk diri sendiri (personal time vs professional time). Orang hanya bisa sehat, bahagia, dan kreatif apabila dirinya memiliki waktu untuk melambat, beristirahat, dan merawat diri.

Video berdurasi 2 menit 38 detik berikut menjelaskan niksen dengan singkat dan jelas.

Lalu bagaimana cara melakukan niksen?

Sesederhana berjalan santai di alam terbuka, duduk menikmati sinar matahari di depan rumah, duduk santai di kursi kesayangan sambil minum teh / kopi, atau mendengarkan musik. Intinya adalah mengambil jeda tanpa tujuan berorientasi produktif. Rileks dalam arti yang sebenar-benarnya.

Niksen

Ketika membaca buku berjudul Niksen, The Dutch Art of Doing Nothing yang ditulis oleh Annette Lavrijsen, saya teringat sebuah kutipan dari Blaise Pascal yang cukup populer,

All men’s miseries derive from not being able to sit in a quiet room alone.

Blaise Pascal

Berdiam tak melakukan apa-apa (niksen) ini sekilas terkesan mudah dilakukan, akan tetapi ternyata tidak demikian. Kita bisa belajar dari kutipan di atas bahwa manusia ternyata sulit berdiam diri, karena itu kita cenderung melakukan berbagai aktivitas untuk menghindari kebosanan yang timbul dari berdiam diri. Kita, dengan sengaja, ‘membiarkan’ diri kita terdistraksi. Ini bisa menjelaskan mengapa kita begitu betah scrolling layar HP berjam-jam, karena kegiatan itu setidaknya bisa mengalihkan kita dari kemungkinan untuk bosan yang lahir dari proses berdiam diri.

Karena itulah niksen ini disebut sebagai sebuah seni untuk mengambil jeda, karena membutuhkan pengenalan diri, dan juga merupakan suatu keterampilan yang perlu dilatih. Niksen adalah seni untuk memprioritaskan diri (dalam arti yang positif). Kalau kita mengingat instruksi kondisi darurat dalam penerbangan, kita harus memasang masker oksigen terlebih dulu sebelum menolong orang lain. Konstruksi berpikir yang sama berlaku untuk niksen: kita harus merawat diri kita sendiri dulu (dengan cukup beristirahat), baru setelah itu kita bisa berguna bagi yang lain. Orang yang paling berharga dalam hidup kita adalah diri kita sendiri. Ini barangkali terdengar selfish, tapi ini benar adanya.

Ternyata mengambil cukup jeda bisa memulihkan level energi, membuat orang lebih sehat (justru karena tidak harus selalu produktif), membuat otak lebih segar, membuat orang bekerja lebih efektif, bisa membuat perencanaan jangka panjang, dan tidur lebih pulas.

Durasi niksen sendiri sangat variatif. Jeda 10 sampai 15 menit untuk beberapa aktivitas sudah cukup untuk ‘mengisi ulang’ energi kita sehingga lebih siap untuk aktivitas berikutnya. Ada yang membutuhkan 30 menit atau bahkan lebih dari itu. Ide pokok dari niksen ini adalah memberi waktu bagi diri untuk jeda sejenak. Kita butuh jeda. Kalau kita mengingat kembali sebuah kalimat sebelumnya, orang hanya bisa sehat, bahagia, dan kreatif apabila dirinya memiliki waktu untuk melambat, beristirahat, dan merawat diri.

And that is what niksen about. 🙂


Untuk referensi tambahan, berikut 3 buku tentang niksen yang bisa dipertimbangkan untuk dibaca:

  1. Niksen: Embracing the Dutch Art of Doing Nothing yang ditulis oleh Olga Mecking.
  2. Niksen: The Dutch Art of Doing Nothing yang ditulis oleh Annette Lavrijsen.
  3. The Lost Art of Doing Nothing: How the Dutch Unwind with Niksen oleh Maartje Willems.

Semoga berguna dan salam,

Paulinus Pandiangan

Food for Thought

I have got the following three quotes after scanning a book titled The Comfort Book by Matt Haig just this morning. Might these be useful for you:

Movement isn’t progress if we are heading in the wrong direction.

Life is short. Be kind.

Flow of life is about accepting things as part of something bigger; accepting every molecule of water as part of the river.

May you find something valuable reading those 3 citations.

Have a blessed day! 😊

Kind wishes,

Paulinus Pandiangan

Perihal Menjaga Fokus

Hai, saya baru saja membaca sebuah artikel tentang menjaga fokus; tentang bagaimana supaya kita stay present, bisa benar-benar ‘hadir’ di saat ini. Pada artikel tersebut dijelaskan 12 cara menjaga fokus dan saya akan mencoba menyarikan beberapa hal yang menurut saya menjadi kunci dalam menjaga fokus dimaksud.

Yang pertama adalah jarak aman dari teknologi. Perangkat genggam dan teknologi yang terpasang di dalamnya bisa membuat kita menghabiskan waktu dengan hal-hal yang sebenarnya tidak esensial, dan lebih dari itu, justru membuat kita menjadi terdampak secara emosional. Banyak orang yang merasa bahwa hidupnya kurang menarik, misalnya, setelah melihat banyak tayangan dan /atau postingan orang lain di media sosial, di saat faktanya adalah bahwa kehidupan setiap orang unik dan menarik.

Kelekatan berlebihan dengan teknologi juga bisa mendorong orang untuk semakin multi-tasking, melakukan banyak kegiatan secara bersamaan. Ini akan mereduksi secara signifikan kenikmatan yang dapat dirasakan dari sebuah pengalaman atau aktivitas. Ketika kita misalnya makan sambil menonton sebuah tayangan di handphone, kemampuan kita untuk menikmati makanan secara drastis akan menurun. Kita tidak lagi memiliki perhatian penuh pada tekstur makanan, rasa makanan, atau aroma makanan yang ada di depan kita, karena atensi tersebut telah teralokasi pada kilauan / tayangan di perangkat genggam. Pada akhirnya, kenikmatan dari sebuah proses mengonsumsi makanan tidak dirasakan lagi. It’s a huge loss.

Yang kedua adalah melibatkan diri dalam hobi baru yang mengharuskan kita terlibat secara fisik, misalnya melukis atau merangkai kerajinan dari kayu. Kegiatan semacam ini akan mengharuskan kita untuk ‘terlepas’ dari perangkat genggam atau media sosial dan benar-benar ‘larut’ dalam aktivitas fisik. Jika kita benar-benar bisa memusatkan perhatian dalam mengerjakan hobi semacam ini, kita bahkan bisa masuk ke dalam keadaan flow!

Selain hobi, kegiatan lain yang bisa ‘mengalihkan’ kita dari menatap layar berlama-lama adalah misalnya mendaki gunung atau berjalan kaki jarak jauh (long walks) di alam terbuka. Ini akan sangat positif bagi kesehatan kita, baik fisik maupun mental. Sehabis melakukan aktivitas semacam ini kita juga biasanya akan lebih segar dan rileks.

Yang ketiga adalah berani mengambil jeda atau pause. Dalam buku yang baru selesai saya baca, Niksen, The Dutch Art of Doing Nothing karya Annette Lavrijsen, mengambil jeda dari kegiatan sehari-hari (niksen) terbukti menjadi sangat penting di dunia kita saat ini yang bergerak begitu cepat (dan berisik pula!). Keberanian untuk berhenti dan tidak melakukan apa-apa justru menjadi elemen penting dalam menjaga kesehatan mental kita. Ini mirip dengan sebuah seni dari Italia, L’arte di non fare niente, sebuah seni untuk tidak melakukan apa-apa. Kita tidak perlu harus selalu dipacu oleh productive overdrive, yaitu sebuah keinginan akut untuk selalu produktif. Ketika dunia semakin memicu orang untuk produktif dan mengoptimalkan waktu, seni niksen justru menjadi semakin penting, karena telah terbukti bahwa jeda yang sehat akan membuat orang lebih sehat, memiliki energi yang lebih terjaga, lebih happy, otaknya lebih sehat, lebih efisien, lebih mampu membuat perencanaan jangka panjang, dan kualitas tidurnya lebih baik.


Ketiga prinsip di atas tentu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, akan tetapi tentu tetap bisa diupayakan. Memilih untuk menggunakan waktu pada kegiatan-kegiatan fisik yang bermanfaat, misalnya, menjadi cara yang paling konkret untuk mengalihkan perhatian kita dari layar perangkat, dan setiap orang tentu memiliki aktivitas tertentu yang menyenangkan untuk dirinya secara pribadi, so it’s a matter of choice.

Semoga berguna dan salam,

Paulinus Pandiangan

Bagaimana Menghormati Orang?

Bacaan singkat di buku A Calendar of Wisdom untuk tanggal 24 November ini berbicara perihal menghormati orang lain. Lalu bagaimana sebenarnya kita menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari?

  • Memberikan pertolongan kepada orang lain, entah berupa dorongan fisik atau spiritual. Berhentilah untuk selalu menyalahkan orang lain dan hargailah martabatnya.
  • Kebaikan yang sesungguhnya bukanlah memberikan sisa kekayaan kepada orang miskin, tetapi ‘menempatkan’ orang lain dekat di hati kita.
  • Tidak mengucapkan fitnah atau kata-kata yang menyakiti hati orang lain.
  • Menjunjung kebenaran, mencegah kemarahan, memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.
  • Bersikap rendah hati dan selalu menyadari bahwa semua manusia rentan melakukan kesalahan, sehingga kita tidak mudah jatuh ke dalam godaan untuk menghakimi orang lain.

Perihal Kuasa

Bacaan singkat dari The Daily Stoic untuk 7 November berbicara perihal kekuasaan. Dua tokoh ditampilkan: Alexander Agung dan filsuf Diogenes dan bagaimana keduanya memandang kekuasaan (power).



Jangan berpegang pada reputasi, uang, atau posisimu, tetapi berpeganglah pada nalarmu untuk mengetahui apa yang di bawah kendali dan di luar kendalimu. Inilah yang akan membuatmu merdeka, yang akan membuatmu setara dengan orang-orang kaya dan berkuasa.

Epictetus dalam Discourses

Kekuatan atau kekuasaan dalam pandangan Stoikisme adalah kemampuan kita untuk menahan diri dari banyak keinginan, karena ini berarti kita mampu mengendalikan diri.

Alexander Agung memandang kekuasaan sebagai kemampuan untuk menaklukkan dunia; dan Diogenes justru memandang kekuasaan sebagai kemampuan untuk menahan diri dari ketamakan untuk menguasai dunia. Kemampuan untuk menahan diri dan membatasi keinginan inilah yang sebenarnya menjadi refleksi seberapa kuat dan berkuasanya seseorang; to conquer self.

Sebagaimana pernah diutarakan Publilius Syrus, “Ingin memiliki kerajaan? Kuasailah dirimu!”.

Memaafkan Diri

Saya menemukan paragraf kecil yang powerful di buku The Comfort Book karya Matt Haig sore ini, dan berikut ini teksnya:

Imagine forgiving yourself completely. The goals you didn’t reach. The mistakes you made. Instead of locking those flaws inside to define and repeat yourself, imagine letting your past float through your present and away like air through a window, freshening a room. Imagine that.

Room, dari The Comfort Book

Paragraf ini menarik karena menegaskan bahwa, sepanjang kita bisa berdamai dengan kesalahan di masa lalu dan memaafkan diri kita atas kesalahan-kesalahan kita tersebut, kita tetap mempunyai pilihan untuk memulai lagi hidup baru; membuka lembaran baru setiap saat, entah usia berapa pun kita dan di fase apa pun kehidupan kita saat ini.

Ilustrasi Memaafkan Diri | Sumber

All it takes is our forgiving of ourselves, accepting our faults as part of our journey but are separate from our true self. 🥰

Hidup dan Rasa Sakit

Sebenarnya, mengapa kita (harus) menderita? Jawaban singkatnya: karena memang kita butuh!

Saya selalu tertarik pada isu pain dan happiness, dan kalau Anda membaca postingan-postingan sebelumnya, ada beberapa tulisan yang topiknya ada di seputar tema ini.

Kemarin, saya membaca di buku elektronik berjudul 101 Essays That Will Change the Way You Think karya Brianna Wiest [ ini link Google Search-nya bagi Anda yang tertarik mencari tahu siapa dia ] sebuah artikel singkat berjudulkan The Idiot’s Guide to Emotional Pain: Why We Need Pain.

Ada sebuah analogi dalam tulisan ini. Kalau Anda meletakkan telapak tangan di atas tungku yang panas, rasa sakit akibat panasnya tungku yang Anda rasakan adalah sinyal yang ‘memerintahkan’ Anda untuk segera memindahkan tangan dari tungku tersebut. Kehidupan emosional kita juga bekerja dengan cara yang sama. Rasa sakit, sebenarnya, bukanlah kebalikan dari rasa senang, akan tetapi justru menjadi komponen yang diperlukan dalam menciptakan rasa senang itu sendiri; seperti malam ada untuk melengkapi siang.

Gambar diambil dari https://analyze.life/wp-content/uploads/sad-happy.jpg

Rasa sakitlah yang justru membuat kita memahami apa itu rasa senang.

Tak ada yang menjadi BAIK tanpa ada yang BURUK. Tak ada yang TINGGI tanpa ada yang RENDAH, dan tak ada HIDUP tanpa RASA SAKIT. Itulah realitas kehidupan, sehingga menghindari rasa sakit dalam kehidupan menjadi tidak relevan. Yang menjadi persoalan sebenarnya bukanlah ada atau tidaknya rasa sakit, tetapi bagaimana kita bisa memahami makna rasa sakit dalam rangkaian perjalanan kehidupan.

Perihal Kekayaan Instan

Banyak orang yang sebenarnya akan tertolong dari tipuan investasi bodong seperti yang marak saat ini apabila mereka sungguh menyadari karakter kekayaan yang sesungguhnya: tidak terlihat. True wealth is something you don’t see.

Ilustrasi Orang Kaya

Orang mudah terjebak pada visual kekayaan yang ditampilkan para penjebak berlabel crazy rich: rumah mewah, mobil, pakaian-pakaian bermerk terkenal, aksesoris mahal, dan kemudahan untuk mengakses berbagai kenikmatan duniawi menggunakan uang yang ada. Disematkanlah aplikasi berbisnis dalam jebakan tersebut yang dalam narasinya akan bisa menghantar orang pada “kesuksesan” sebagaimana yang dimiliki oleh model—yang ternyata hanyalah afiliator aplikasi judi—yang mengeruk keuntungan besar dari ketidakberuntungan orang lain.

Dalam buku The Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel kita disadarkan bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah tidak terlihat. Katakanlah Anda memiliki tabungan 100 juta di rekening bank. Maka kekayaan Anda (yang tidak terlihat itu) bernilai 100 juta rupiah. Apabila Anda membelanjakan 50 juta dari tabungan tersebut untuk membeli sebuah perangkat, misalnya, untuk sekedar “menunjukkan” kepada orang lain bahwa Anda mampu membeli perangkat mahal senilai 50 juta rupiah, maka sebenarnya nilai kekayaan Anda sudah berkurang 50 juta rupiah. Barang yang Anda beli tadi—yang tujuannya untuk membuat orang lain mengakui bahwa Anda kaya dan mampu membeli barang tersebut—tidak akan membuat orang terkesan untuk jangka waktu lama. Malah, Anda kehilangan fleksibilitas yang bisa didapatkan dari 50 juta rupiah jika seandainya kekayaan itu tetap tersimpan tanpa dibelanjakan.

Buku ini menyadarkan kita bahwa orang yang benar-benar kaya akan menggunakan uangnya untuk membeli fleksibilitas atau waktu, bukan barang-barang hanya untuk tujuan pamer (show off). Malah orang-orang yang benar-benar kaya cenderung akan modest saja dalam berpenampilan. Tampak biasa, ternyata bisnisnya banyak sekali, tersebar di berbagai tempat.

Tentu saja orang yang benar-benar kaya mampu membeli barang-barang mahal, akan tetapi mereka melakukannya karena memang benar-benar membutuhkan untuk menunjang bisnisnya dan untuk membantu mereka lebih fleksibel dengan waktu. They’re not buying the stuff per se, they do buy time.

Jadi, kalau ada orang yang terlihat kaya dan gemar memamerkan barang-barang miliknya di media dan gencar mempromosikan suatu platform bisnis, be really cautious about them, karena bisa saja mereka sedang menjalankan sebuah jebakan. They’re trying to lure you into doing something, memanfaatkan “kerapuhan” emosional kita, yaitu keinginan untuk cepat-cepat kaya.

Bersyukurlah dengan keadaan ekonomimu saat ini, entah bagaimana pun itu, dan tetaplah berusaha meningkatkan taraf hidupmu dengan upaya-upaya yang baik, dan ingat, tak ada pencapaian yang instant. Upaya memperbaiki taraf hidup membutuhkan upaya, kerja keras, dan waktu yang tidak sedikit.

Semoga tulisan ini berguna. 😊

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!