Review Buku VERY GOOD LIVES

Anda barangkali familiar dengan nama J. K Rowling. Ya, dialah penulis novel Harry Potter yang tersohor itu.

Pengalaman hidupnya sebelum dikenal melalui karya fenomenal itu ternyata tidak semuanya membahagiakan. Kemiskinan dan perceraian mewarnai perjalanannya. Hal itulah yang diungkapkannya ketika diundang untuk berbicara di acara wisuda universitas Harvard tahun 2008 silam. Pidato yang sangat bagus ini berisikan pesan-pesan penting yang justru diperolehnya dari pengalaman hidupnya sendiri.

LANJUTKAN MEMBACA…

Tentang Psikologi Uang

Perkenalkan Ronald James Read. Dia orang yang sangat sederhana, seorang petugas kebersihan dan mekanik di stasiun pengisian bahan bakar kendaraan. Lahir di sebuah desa di Vermont, Amerika Serikat, dia adalah orang pertama dalam keluarganya yang mengecap bangku SMA. Kondisi ekonomi keluarganya membuatnya harus menumpang kendaraan orang lain setiap hari selama bersekolah SMA.

Di usia 38 tahun ia membeli rumah seharga 12 ribu dolar dengan 2 kamar tidur. Pada usia 50 ia menjadi duda dan tak menikah lagi setelahnya. Selama 25 tahun ia bekerja memperbaiki mobil dan menjadi petugas kebersihan selama 17 tahun di tempat lain. Sekilas tak banyak yang tampak luar biasa darinya.

Hingga pada 2014 ketika ia meninggal di usia 92 tahun.

LANJUTKAN MEMBACA…

Pandemi dan Filosofi Teras

Cover Filosofi Teras “Dark Mode” 🙂

Saya baru saja membeli buku Filosofi Teras edisi terbatas (cetakan ke 25) karya Henry Manampiring. Tema dari buku ini sudah pernah saya tuliskan sebelumnya di sebuah postingan lain.

Edisi terbatas dengan cover hitam ini cukup menarik karena dilengkapi dengan Catatan Pandemi, satu bagian ekstra yang tidak ada pada edisi sebelumnya. Karena kita masih berada dalam situasi pandemi maka, tentu saja, bagian ini menjadi penting.

Catatan Pandemi

Baiklah, lalu apa point utama dari Catatan Pandemi di buku ini? Saya mencoba menyarikannya sebagai berikut:

LANJUTKAN MEMBACA …

3 Buku Tentang Stoikisme

Semua orang pada dasarnya membutuhkan ketangguhan (resilience) dalam menghadapi berbagai persoalan dalam hidup. Untuk hal ini orang biasanya akan beralih pada ajaran agama yang ia anut; bagaimana laku hidup manusia di tengah permasalahan sesuai keyakinan yang dianutnya.

Sebagai pelengkap ajaran agama, Stoikisme menawarkan teknik penguasaan diri (self mastery) yang kiranya berguna dalam konteks ini. Stoikisme, misalnya, memberikan konsep pengetahuan akan apa yang di bawah kendali kita dan apa yang tidak; dikenal dengan dikotomi kendali. Stoikisme juga mengenalkan pada teknik Premeditatio Malorum untuk melatih mental kita agar lebih siap menghadapi situasi-situasi buruk yang tak terduga, atau Memento Mori yang mengajarkan kita untuk menghargai hidup yang masih dialami saat ini dan berfokus pada hal-hal yang bernilai dan penting, dan berbagai hal kecil namun berguna lainnya.

LANJUTKAN MEMBACA …

3 Buku Tentang Minimalisme

Telah banyak saran buku berkaitan dengan minimalisme di Internet, dan saya di sini hanya akan menyarikan 3 buku yang menurut pengalaman pribadi sudah sangat baik membahasnya. 3 is … just enough. 😎

Saya berpendapat bahwa kita (pada dasarnya) tidak perlu memiliki begitu banyak buku, fisik atau elektronik, tentang suatu topik. Memiliki 2 atau 3 buku yang cukup bagus sudah cukup. Lagipula, buku ada bukan hanya untuk dibaca sekali lalu selesai, tetapi untuk dibaca ulang.

LANJUTKAN MEMBACA …

Mengapa Fakta Tak Mengubah Perilaku?

Di situasi pandemi saat ini, saya tidak mengerti orang-orang yang masih saja percaya dengan teori-teori konspirasi seputar COVID-19 kendati fakta-fakta sudah terpampang di depan mata.

Saya pun tergelitik dengan (masih) banyaknya orang yang berada di barisan anti-vaxxer. Banyak yang tidak mau divaksin dengan berbagai alasan yang juga jelas-jelas tidak bisa diterima akal sehat.

Why?

Mengapa fakta tidak mengubah perilaku?

Satu aspek menarik pun saya temukan, dan itulah mengapa postingan ini akhirnya terbit.

LANJUTKAN MEMBACA …

Ayo Menjurnal Rasa Syukur!

Di postingan yang ini saya pernah menceritakan awal mula saya menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal).

Dari kegiatan menjurnal itu, saya menemukan bahwa persistensi merupakan masalah utama yang sering muncul ketika belajar kebiasaan baru. Menulis secara teratur di blog ini, misalnya, tidak semudah membayangkannya. Niat awalnya menulis setidaknya sekali seminggu, terkadang seminggu bisa dilewati tanpa ada tulisan baru di blog. Lack of persistence.

LANJUTKAN MEMBACA …

Filosofi Teras : Sebuah Pengantar

Seorang pilot Amerika, James Stockdale, belajar di Stanford University sebelum perang Vietnam. Dosen filsafatnya di sana menganjurkan agar ia mempelajari Epictetus, salah satu filsuf Stoa yang suka menggambarkan filsuf mirip seorang tentara.

James Stockdale sangat terkesan pada pemikiran Epictetus. Hal-hal pokok yang ia ingat-ingat terus dari filsafat Stoa adalah:

  • Pembedaan antara apa yang up to us (tergantung pada kita) dan not up to us (tidak tergantung pada kita);
  • Soal baik atau buruk itu tergantung dari cara jiwa kita menafsirkannya; dan
  • Segala situasi hidup yang menimpa kita bersifat indifferent (netral saja).

Saat perang Vietnam pecah, ia ditugaskan bertempur di sana. Pesawatnya tertembak jatuh, dan ia menjadi tahanan di Hanoi, Vietnam selama tujuh tahun! Ia sering ditaruh di sel bawah tanah, disiksa, dipukuli, dan tiap hari mengalami penistaan lahir dan batin. James Stockdale mengatakan bahwa berkat Epictetus ia mampu bertahan waras, meski mengalami tekanan psikologis dan siksaan fisik selama tujuh tahun.


Kisah di atas merupakan salah satu kisah menarik yang tertulis dalam buku Filosofi Teras (reviewnya di sini) yang ditulis oleh Henry Manampiring tahun 2019 lalu—sebuah buku tentang Stoisisme, filosofi yang awalnya dikembangkan oleh filsuf Zeno di Yunani pada 2000-an tahun lalu dan menjadi sebuah laku hidup (way of life) yang (ternyata) masih sangat relevan sampai saat ini.

Cover Buku Filosofi Teras

Saya sangat merekomendasikan buku ini, yang bisa membahas Stoisisme dengan begitu renyah—dan lucu juga! 🙂

Hal yang sangat ditekankan dalam buku ini adalah prinsip dikotomi kendali—yang lalu oleh William Irvine dikembangkan menjadi trikotomi kendali—yang membantu kita memahami hal-hal yang ada dalam kendali kita dan hal-hal yang di luar kendali kita, dan dari itu selanjutnya membantu kita bersikap.

“Some things are up to us, some things are not up to us”

— Epictetus (Enchiridion)

Tertarik? 😉

Regards,

The Problem of Pain

Akhirnya buku “The Problem of Pain” tulisan C. S. Lewis yang saya beli dari web Periplus sampai juga. Saatnya membaca buku 162 halaman ini dengan seksama.

The Problem of Pain oleh Clive Staples Lewis

Why this book?

Well, saya tertarik untuk menyimak argumen C. S. Lewis yang berusaha meyakinkan pembaca bahwa penderitaan yang dialami manusia di dunia ini tidak lantas bisa menjadi dasar untuk menyatakan bahwa Tuhan bukanlah Maha Kuasa.

Begini kesimpulan tentang buku ini yang tertulis di laman Wikinya:

Lewis does not claim to offer a complete “solution” to the problem of evil. In fact, he argues that we should not expect a full understanding of why God permits evil. As humans, he notes, we cannot possibly see “the big picture” that God does. As finite, temporal creatures, we cannot truly grasp how “the sufferings of this present time are not to be compared with the glory which shall be revealed in us” (Rom. 8:18).

However, Lewis suggests that the problem runs even deeper: “if God is wiser than we, his judgments must differ from ours on many things, and not least on good and evil. What seems to us good may therefore not be good in His eyes, and what seems to us evil may not be evil”. That does not mean that what we consider good could be completely different from what God considers good. That would make it empty to speak of God as “good” and it would take away all moral reasons for loving and obeying Him. Still, like Job, we should humbly acknowledge the limits of human wisdom and not presume to fully fathom why God permits suffering and evil. With that important caveat, Lewis proceeds to suggest some reasons why a good and all-powerful God might allow evil. Lewis also addresses issues in The Problem of Pain on the Fall of Man, original sin, Hell, animal pain, and heaven.

Intinya adalah bahwa kita tidak akan pernah dapat memahami secara penuh mengapa Tuhan mengizinkan kejahatan dan penderitaan terjadi. Apa yang buruk menurut mata manusiawi kita belum tentu buruk pula menurut rencana Tuhan, dan kita harus senantiasa menyadari keterbatasan manusiawi kita dengan rendah hati, bahwa kita tidak akan pernah benar-benar memahami secara utuh mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan terjadi.

Begitu kira-kira gambaran ide besar yang tertuang dalam buku ini. Baiklah, saatnya saya membaca dulu. Saya akan mencoba membuat inti sari dari buku ini ketika nanti sudah selesai membacanya.

See you then. 😉

C. S. Lewis on the Search for Meaning

In his 1980 book titled The Weight of Glory, C. S. Lewis writes,

The books or the music in which we thought the beauty was located will betray us if we trust to them; it was not in them, it came through them, and what came through them was longing. These things—the beauty, the memory of our own past—are good images of what we really desire; but if they are mistaken for the thing itself, they turn into dumb idols, breaking the hearts of their worshippers. For they are not the thing itself; they are only the scent of a flower we have not found, the echo of a tune we have not heard, news from a country we have not visited.

C. S. Lewis

Think about that. For me, it speaks about The Creator and The One: Christ. His creations should lead us to and worship Him.

It is about God, The One in which meaning of our lives is found.

Pace e Bene. 🙂