C. S. Lewis on the Search for Meaning

In his 1980 book titled The Weight of Glory, C. S. Lewis writes,

The books or the music in which we thought the beauty was located will betray us if we trust to them; it was not in them, it came through them, and what came through them was longing. These things—the beauty, the memory of our own past—are good images of what we really desire; but if they are mistaken for the thing itself, they turn into dumb idols, breaking the hearts of their worshippers. For they are not the thing itself; they are only the scent of a flower we have not found, the echo of a tune we have not heard, news from a country we have not visited.

C. S. Lewis

Think about that. For me, it speaks about The Creator, The One that His creations should lead us and worship to.

It is about God, The One in which meaning of our lives is found.

31 Days to Happiness

Pernahkah Anda membaca sebuah buku berisikan pergumulan jiwa seseorang, dan Anda hampir seperti bisa menyatakan dengan pasti bahwa Anda pun mengalami pergumulan yang sama?

Well, tidak banyak buku yang bisa melakukan itu, apalagi kalau bukunya ditulis bukan dalam bahasa sehari-hari kita. Tetapi barangkali kita semua setuju bahwa menemukan makna hidup dan kebahagiaan sejati adalah pencarian kita semua. Semua ingin hidup bermakna dan merasakan kebahagiaan yang sejati, a meaningful life and lasting happiness.

Dan bagaimana kalau tokoh dalam buku itu, setelah pergumulan yang panjang dan tak mudah, pada akhirnya sampai pada Sumber Kebahagiaan Sejati?

Tentu saja buku itu cukup berharga untuk dibaca, bukan? 😉

Baiklah, sedikit intro.

Raja Salomo – yang sering disebut sebagai Guru atau Sang Pemikir – menuliskan buah-buah pikirannya dalam Kitab Pengkotbah (Ecclesiastes), salah satu Kitab berisi hikmat dalam ajaran Kristiani. Isinya adalah tentang pergumulan batin Salomo sendiri untuk menemukan makna kehidupan dan kebahagiaan sejati. Dengan tidak melibatkan Tuhan dalam keseluruhan rangkaian perjalanan hidup, hidup itu sendiri menurut Salomo hanya menjadi “kosong dan sia-sia”. Kekosongan (emptiness) yang dirasakan Salomo berusaha diisinya dengan kemewahan dunia, ilmu pengetahuan, kesenangan hidup, tetapi semuanya, pada akhirnya, tetap bukan merupakan jawaban yang tepat. Kekosongan itu tetap ada.

Pergumulan Raja Salomo dengan kehidupan untuk menemukan kebahagiaan sejati, sesuatu yang berusaha ia pahami dengan berkat kebijaksanaan yang diberikan Tuhan padanya, juga adalah pergumulan kita. Itu sebabnya membaca kisah Raja Salomo ini sama seperti kita membaca perjalanan diri kita sendiri.

Dalam buku 31 Days of Happiness yang ditulis dengan sangat indah oleh David Jeremiah ini, kita akan menemukan pesan-pesan yang merupakan buah-buah kebijaksanaan Raja Salomo sendiri.

Secara pribadi saya sangat merekomendasikan Anda membaca versi asli buku ini dalam bahasa Inggris, agar tidak kehilangan keindahannya. Menikmati rangkaian kata demi kata yang ditata dengan sangat apik dan berisikan tentang kebijaksanaan dan menjadikannya sebagai bagian perjalanan spiritual pribadi adalah suatu pengalaman yang tak ternilai.

Dan pesan saya, don’t rush it. Bacalah buku ini dengan tenang, satu bab saja tiap waktu. Yang terpenting adalah kita sungguh “melihat” diri kita sendiri dalam pergumulan-pergumulan Raja Salomo.

It’s basically seeing yourself through the book while experiencing the journey.

Buku ini pada dasarnya adalah tentang perjalanan spiritual kita sendiri; suatu perjalanan yang telah ditempuh Raja Salomo yang bijaksana, perjalanan yang membawanya kepada eksistensi Sumber Kebahagiaan Sejati.

Untuk saya, buku ini adalah suatu investasi penting dalam hidup. A book for life.

Anda dapat memproleh buku ini dalam format PDF dengan mengakses link di bawah ini:

Semoga bermanfaat untuk Anda dalam menjalani hidup, menemukan makna dan kebahagiaan sejati yang hanya berasal dariNya.

🙂

3 Great Books for Biogas Plants

At the heart of biogas plants is the biogas itself, and biogas production process involves bacterial consortium to work along with.

How best to deal with the microbial groups is the art of making biogas that is fine in quality and moderate in quantity; which is always a trade-off: high quantity biogas is usually associated with poorer quality, i.e lower methane per mass or volume of substrate digested.

The balance between biogas quantity and quality is really the main concern of biogas production operators – and for this, a bit of science is required.

The following three books give a clear guide to the anaerobic process as a whole, its monitoring and how to tackle problems commonly occur in an upset anaerobic process. I would always recommend these 3 books for anyone interested to dive deeper into Anaerobic Digestion (AD) as I found these books to be so useful in my day to day experience working on anaerobic process.

Without further ado, here they are:

Those books – along with thorough field observation – would be sufficient to run a balanced and well-maintained process. I can assure you that these books would make you a more knowledgeable personel in this particular field.

Rapid Skill Acquisition

Are you familiar with this phrase, “So much to learn, so little time?

I am sure you are. That, in fact, is a concern of many people. People love to acquire many skills, but not many could manage their way to. In the following video, you may get an insight on how to do exactly that.

Josh Kaufman has written a book on accelerated learning titled The First 20 Hours. For those of you interested to dive into the techniques Josh described in above video, go buy the book online.