Tentang Keberuntungan dan Risiko

Pernah mendengar ungkapan “proses tidak akan mengkhianati hasil?”

Sekilas terkesan benar, tetapi kita akan melihat sebentar lagi bahwa kalimat itu tak sepenuhnya benar. “Proses tidak akan mengkhianati hasil” menyiratkan bahwa hasil hanya berkorelasi dengan proses. Kalau prosesnya baik, hasilnya PASTI baik. Kalimat ini mempersempit HASIL hanya sebagai dampak dari PROSES, tetapi pada kenyataannya ada kekuatan-kekuatan lain yang mempengaruhi sebuah hasil: keberuntungan dan risiko.

Mari kita simak kisah berikut.

LANJUTKAN MEMBACA …

Budgeting dengan MyMoney

Membuat anggaran (budget) merupakan sebuah keharusan apabila kita, baik sebagai pribadi atau pun keluarga, ingin mengelola uang dengan baik. Keterampilan mengelola uang sangatlah penting, karena keuangan akan menjadi akar masalah yang besar apabila tidak terkelola. Banyak orang yang bahkan sampai stress karena kacau keuangannya. Dalam konteks keluarga, keuangan ini pun seringkali menjadi sumber konflik antara suami dan istri, apabila tidak ditata dengan baik.

Karena itu, keterampilan merancang anggaran menjadi salah satu langkah yang dapat membuat hidup kita lebih tertata, dan untuk alasan itulah saya membuat tulisan singkat ini. Semoga dengan sharing sederhana ini teman-teman bisa terbantu.

LANJUTKAN MEMBACA…

Pandemi dan Filosofi Teras

Cover Filosofi Teras “Dark Mode” 🙂

Saya baru saja membeli buku Filosofi Teras edisi terbatas (cetakan ke 25) karya Henry Manampiring. Tema dari buku ini sudah pernah saya tuliskan sebelumnya di sebuah postingan lain.

Edisi terbatas dengan cover hitam ini cukup menarik karena dilengkapi dengan Catatan Pandemi, satu bagian ekstra yang tidak ada pada edisi sebelumnya. Karena kita masih berada dalam situasi pandemi maka, tentu saja, bagian ini menjadi penting.

Catatan Pandemi

Baiklah, lalu apa point utama dari Catatan Pandemi di buku ini? Saya mencoba menyarikannya sebagai berikut:

LANJUTKAN MEMBACA …

Aksi Memberi dan Kesehatan

Saya kita kita semua setuju bahwa kesehatan adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan atau upayakan. Kita bisa berolahraga secara reguler, mengatur pola makan dan istirahat dengan baik, dan tindakan-tindakan ini, saya percaya, bisa sangat membantu kita untuk sehat.

Akan tetapi, kemungkinan untuk menjadi sakit tetap ada, kendati dengan sederet upaya di atas.

Artinya, kesehatan pada dasarnya adalah rahmat; pemberian dari Yang Kuasa bagi kita. Tindakan-tindakan kita bisa membantu terciptanya kondisi sehat, akan tetapi pada akhirnya keadaan sehat itu sendiri adalah rahmat. It’s a gift on its own.

Upaya menjaga kesehatan biasanya selalu diasosiasikan dengan olahraga teratur dan pengaturan pola makan dan istirahat. Semuanya tentang fisik.

Tetapi kesehatan (ternyata) tidak melulu soal fisik.

Ilustrasi Memberi (Giving)

Kebiasaan memberi dengan ikhlas (generous giving) ternyata juga bisa memberikan dampak yang baik bagi kesehatan kita. Orang yang dengan ikhlas berdonasi atau memberikan bantuan kepada orang lain dilaporkan beberapa penelitian mengalami perbaikan pada kualitas kesehatannya. Orang-orang seperti ini pada umumnya memiliki tekanan darah yang lebih stabil, memiliki kepercayaan diri yang baik, tidak rentan mengalami depresi, dan lebih merasa puas dengan hidupnya, juga tentu lebih bahagia.

Saya juga pernah membaca sebuah studi yang membandingkan kelompok orang yang rela memberikan uangnya dengan orang yang menyimpan semua uangnya untuk diri sendiri. Yang menarik adalah, kendati orang yang menyimpan uang untuk diri sendiri pada akhirnya memiliki lebih banyak uang (tentu saja!), akan tetapi cenderung kurang bahagia dan lebih rentan terserang penyakit dibandingkan orang-orang yang dengan rela memberikan sebagian uangnya kepada orang lain. Tampaknya memang kita dirancang sebagai makhluk yang harus berbagi untuk bisa hidup dengan sehat dan bahagia.

Saya jadi teringat dengan kata-kata Santo Fransiskus dari Assisi yang sangat terkenal itu,

Memberi dengan ikhlas pada dasarnya perlu kita lakukan untuk diri sendiri, karena hanya dengan begitulah kita akan menerima pula kebaikan yang ditimbulkannya. Salah satunya, tentu saja, dampaknya bagi kesehatan kita. 😉

Memberi juga merupakan ekspresi dari rasa syukur. Giving is gratitude in action.

Saya kira relasi antara aksi memberi dengan tulus (dan dengan intensi untuk membantu orang lain) dan dampak baiknya bagi kesehatan kita akhirnya menjadi jelas. Dengan memberi aku menerima, sebagaimana ungkapan terkenal Santo Fransiskus dari Assisi.

Akan tetapi, penekanan dari aksi memberi tetap harus pada koridor untuk membantu orang lain. Membaiknya kesehatan dari aksi memberi hanyalah efek samping, dan bukan tujuan.

Memberi secara berlebihan hingga mengorbankan waktu untuk diri sendiri justru menyebabkan kelelahan yang malah tidak menyehatkan. Tetap harus ada keseimbangan antara waktu untuk diri sendiri dengan waktu yang didedikasikan membantu orang lain. The art is in the balance.

Untuk bacaan yang lebih detail, berikut 3 artikel yang membahas hal ini:

  1. 5 Ways Giving Is Good for Your Health di alamat ini: https://www.besthealthmag.ca/list/5-ways-giving-is-good-for-your-health/
  2. 5 Ways Giving Is Good for You di alamat ini: https://greatergood.berkeley.edu/article/item/5_ways_giving_is_good_for_you
  3. Why Giving is Good For Your Health di alamat ini: https://www.heifer.org/blog/why-giving-is-good-for-your-health-copy.html

Semoga postingan singkat ini berguna! ❤💖🤩

Salam,

Paulinus Pandiangan

Amor Fati = Acceptance

“Do not seek for things to happen the way you want them to; rather, wish that what happens happen the way it happens: then you will be happy.”

Epictetus

Menerima keadaan bukanlah perkara gampang. Ada saja berbagai hal dalam perjalanan kehidupan yang tidak sesuai ekspektasi kita; selalu ada yang melenceng dari apa yang (bahkan) sudah disiapkan sebelumnya.

Di sinilah prinsip amor fati diperlukan.

Sebagaimana quote di atas, kita perlu belajar untuk menerima keadaan. Acceptance. Apa yang telah terjadi harus diterima sebagai apa yang memang harus terjadi. Kita, menurut Stoikisme, seringkali tidak merasa bahagia karena mengharapkan apa yang terjadi harus sesuai dengan apa yang diharapkan.

LANJUTKAN MEMBACA …

Pandemi dan Problem Kebosanan

Kebosanan

Pandemi COVID-19 saat ini menimbulkan banyak sekali dampak, salah satunya mengharuskan kita untuk menghentikan hampir semua kegiatan di luar rumah. Stay at home. Ini merupakan cara kita untuk melandaikan kurva penyebaran virus.

Menghabiskan waktu seharian di rumah tentu saja menimbulkan kebosanan, dan ini normal sebenarnya. Perihal kebosanan itulah yang tertangkap dalam sebuah tweet berikut,

Di dalam tweet tersebut juga tergurat solusi yang bagus.

Pertama, penerimaan.

Kebosanan harus diterima sebagai sebuah kebosanan. Penerimaan. Acceptance. Penerimaan ini saya kira sebuah skill yang sangat berguna juga dalam mengarungi kehidupan. Bahkan dalam filsafat Stoikisme ada istilah amor fatimencintai nasib. Ini perihal menerima keadaan yang terjadi sebagaimana memang harus terjadi, walau tidak selalu sesuai dengan ekspektasi kita.

Kedua, menggunakan waktu.

Ketimbang berfokus pada kebosanan itu sendiri, waktu luang yang ada dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik, yang bisa menghasilkan sesuatu. Membaca buku, misalnya. Waktu kosong yang banyak tersedia justru sebenarnya bisa digunakan untuk ‘menggali’ hal-hal baru yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Saya jadi teringat dengan quote dari Blaise Pascal, “All of humanity’s problems stem from man’s inability to sit quietly in a room alone.” Pandemi yang mengharuskan kita untuk berdiam di rumah ini justru memberikan kesempatan untuk kita untuk berpikir dalam, bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang dalam dan penting. Ketika sebelum pandemi kita banyak menghabiskan waktu dengan mengkonsumsi hal-hal yang non-esensial, hal-hal receh, maka pandemi ini menjadi momen bagi kita untuk berefleksi, to wrestle with deep and fundamental questions.

Tak kecil kemungkinan bahwa masa pandemi ini adalah masa pikiran-pikiran terbaikmu bisa muncul. Sejarah umat manusia telah membuktikan, lagi dan lagi, bahwa ide-ide terbaik justru lahir di tengah krisis.

Dan satu hal lagi, mengeluhkan kebosanan bukanlah pilihan terbaik. Semua orang pasti pernah bosan dalam hidupnya, tapi tak semua orang mengeluhkan kebosanan itu. Mereka mengelolanya, dengan cara mereka sendiri. So, find your way!

Salam,

Paulinus Pandiangan

Fratelli Tutti

Fratelli Tutti adalah surat ensiklik ketiga dari paus Fransiskus yang dipublikasikan pada 3 Oktober 2020. Penekanan dari surat ensiklik ini adalah persaudaraan dalam konteks universal; bahwa kita saling terhubung dan merupakan saudara satu dengan yang lain.

LANJUTKAN MEMBACA …

Stoikisme dan Pandemi

“Wherever there is a human being, there is the opportunity for an act of kindness.”

Seneca

Selalu ada kesempatan untuk berbuat baik, terlepas dari situasi yang tengah melanda. Begitulah keyakinan Seneca. Dan melihat situasi pandemi saat ini, tampaknya keyakinan Seneca itu tidak terlalu sulit untuk dibuktikan. It’s just as real as your existence. Kita dapat menyaksikan sendiri jamaknya aksi kebaikan manusia di tengah situasi pandemi ini.

LANJUTKAN MEMBACA …

Menuhankan Filsafat

Sebagai pembelajar stoikisme, ada hal mendasar yang perlu saya ingatkan secara terus menerus pada diriku sendiri: berhati-hatilah untuk tidak jatuh ke dalam kecenderungan untuk memposisikan filsafat sebagai Tuhan. Menuhankan filsafat adalah semacam ‘penyakit’ yang bisa menimpa orang yang melupakan prinsip dasar bahwa semua pengetahuan manusia adalah semua yang ‘dibukakan’ oleh Sang Ilahi-yang memiliki pengetahuan tak terbatas-kepada kita.

God is over everything.

Menuhankan filsafat juga menunjukkan ketidakbijaksanaan kita yang menjadikan filsafat sebagai tujuan, dan bukan sebagai jalan.

Philosophy is not ends. It’s merely means.

Justru filsafat selayaknya menjadi cara kita untuk mampu ‘melihat’ sesuatu yang lebih besar dan indah-dalam hal ini, Tuhan-dalam pengalaman harian. Melalui filsafat aku menuju Tuhan, begitu seharusnya.

Menuhankan filsafat juga menunjukkan kekurangpahaman kita bahwa ilmu pengetahuan (science) dan iman (faith) dapat beriringan dengan baik. Banyak yang menganggap bahwa keduanya terpisah, tidak kompatibel satu dengan yang lain. Guy Consolmagno, SJ, kepala badan perbintangan di Vatikan, menyatakan bahwa segala bentuk kebenaran yang ditemukan melalui ilmu pengetahuan sebenarnya mengarah kepada kebenaran utama yang lebih besar: Tuhan.

Karena itu akan sangat keliru apabila kita menguji eksistensi Tuhan dengan sains, sebagaimana kecenderungan umum para ateis. Sains itu sendiri < Tuhan, sehingga menggunakan sains sebagai instrumen untuk menguji keberadaan Tuhan (sebenarnya) sangat tidak berdasar.

Dunia ini pada dasarnya dipenuhi dengan apa yang disebut dengan logoi spermatikoi, ‘benih-benih kecerdasan’. Tanda-tanda kebaikan Tuhan terpancar di setiap bentuk ciptaan dan setiap bentuk kecerdasan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan manusia berupa sastra, sejarah, musik, seni, film, filsafat, matematika, dan ilmu-ilmu lainnya memberikan wawasan, kebijaksanaan, dan inspirasi, yang semuanya mengarah kepada Sumber Kebijaksanaan itu sendiri. Semua bentuk kecerdasan hanya mungkin diciptakan oleh kecerdasan yang tertinggi, dan dunia ini diciptakan mengikuti prinsip kecerdasan (intelligibility) Sang Pencipta.

Tuhan tidak hanya bisa ditemukan dalam bangunan-bangunan ibadah dan ritual keagamaan. Tuhan itu omnipresent. Dia ada di mana saja, termasuk dalam filsafat stoikisme yang tengah saya pelajari.

Karena itulah kesadaran perlu ditumbuhkan di sini; bahwa ilmu pengetahuan adalah jalan yang hanya akan mengarahkanku kepadaNya.

He is the destination of my entire journey.

So keep learning, but remember that it should lead you to Him. 🙂

Greetings,

Paulinus Pandiangan