Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Mengelola Energi

Level energi kita sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kecukupan jam tidur, makanan yang dikonsumsi, dan seberapa fit tubuh kita (berkaitan dengan seaktif apa tubuh kita bergerak dan/atau berolahraga). Tetapi di luar faktor-faktor ini, level energi kita ternyata dipengaruhi juga oleh orang-orang yang berinteraksi dengan kita, tempat, suara-suara, dan pengalaman.

Karena demikian, mengenali aktivitas yang memberikan energi dan yang menguras energi menjadi sangat penting; maka berikut daftar kegiatan yang bisa memberikan (menambah) energi dan yang menguras (mengurangi) level energi kita.

Aktivitas penambah energi misalnya:

  • Olahraga;
  • Bergaul dengan orang-orang yang positif;
  • Berada di alam terbuka dan terhubung dengan alam;
  • Melakukan kegiatan yang kreatif;
  • Yoga;
  • Meditasi;
  • Bermain dengan anak;
  • Membaca santai;
  • Memasak;
  • Melakukan permainan.

dan berikut kegiatan-kegiatan yang bisa menguras energi:

  • Terlalu lama berseluncur di dunia maya;
  • Membandigkan diri dengan orang lain;
  • Mengkonsumsi terlalu banyak berita;
  • Menonton TV terlalu lama;
  • Bergaul dengan orang-orang negatif;
  • Cemas berlebihan;
  • Terlalu banyak minum alkohol;
  • Selalu mengeluh dan protes;
  • Menggosip;
  • Mengkonsumsi makanan tidak sehat;
  • Terlalu doyan berbelanja;

Dari daftar di atas kita bisa memahami bahwa mengelola level energi adalah perkara membuat pilihan-pilihan tindakan yang memberikan benefit paling positif dari penggunaan waktu kita. Mengelola energi adalah bijaksana dalam menggunakan waktu.

Prinsip Budgeting Mendasar

Ada banyak panduan di internet tentang bagaimana seharusnya kita membuat anggaran (budget). Tujuannya agar keuangan kita tertata dengan baik; dimana kita mengalokasikan dana / biaya untuk berbagai keperluan kita untuk rentang waktu tertentu, misalnya harian, mingguan, bulanan, sampai tahunan. Budgeting ini adalah skill dasar dalam pengelolaan keuangan untuk menjaga agar cash flow kita sehat. Kondisi ‘sehat’ yang dimaksud di sini, menurut saya, adalah kita tidak sampai berhutang hanya untuk menutupi kebutuhan harian.

Formula pengelolaan keuangan yang banyak beredar di dunia maya, dalam pendapat saya, tidak selalu bisa menjadi acuan, karena memang situasi setiap orang berbeda. Ada orang yang memang memutuskan untuk membagikan pendapatannya kepada orang tua secara rutin setiap bulan seperti saya, karena memang mereka membutuhkan; dan ada yang tidak perlu melakukan itu karena barangkali orangtuanya masih produktif dan masih memiliki pendapatan sendiri. Ada orang yang harus membantu pendidikan adiknya, misalnya, karena alasan tertentu. Intinya situasi setiap orang berbeda satu dengan lainnya, sehingga pengelolaan keuangannya pun pasti akan berbeda. Tidak ada yang salah dengan itu, karena budgeting pada dasarnya adalah how to make it works; bagaimana agar uang yang tersedia termanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Dari pengalaman saya, ada beberapa prinsip dasar yang perlu dipahami terkait budgeting:

#1. Kenali Situasi Anda

Kita tidak perlu langsung ‘melompat’ kepada bagaimana cara membuat budget sebelum benar-benar mengenali apa situasi kita yang sebenarnya. Situasi yang saya maksud di sini adalah kita harus mengetahui, pertama, apa yang penting bagi kita. What matters to US in the first place. Hal-hal penting inilah yang nantinya akan menjadi prioritas dalam alokasi keuangan kita. Kedua, siapa saja yang menjadi tanggungan kita. Saya, misalnya, menanggung anak istri dan kedua orangtua saya; maka orang-orang inilah yang menjadi prioritas alokasi keuangan saya.

#2. Terima Situasi Anda

Setelah menyadari situasi di mana Anda berada, tahap berikutnya adalah penerimaan situasi. Acceptance. Kita perlu menyadari bahwa situasi setiap orang berbeda, dan tidak ada yang salah dengan situasi kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi situasi masing-masing, dan mencari cara terbaik untuk bersahabat dan bisa menghadapi situasi keuangan kita dengan tenang.

#3. Alokasikan dan Pegang Teguh

Langkah berikutnya sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan tahap 1 dan 2, karena tahap ini lebih kepada number crunching, menetapkan angka yang masuk akal (reasonable) untuk tiap alokasi. Kendati saya mengatakan ini tahap yang mudah, tetapi diperlukan waktu juga sampai akhirnya mendapat formulasi yang pas untuk ini: angka yang wajar dan pas dengan situasi kita, dan dalam prosesnya, ini membutuhkan komunikasi juga dengan keluarga.

Setelah menemukan formulasi yang pas untuk situasi kita, selanjutnya kita tinggal berpegang teguh pada formulasi ini agar keuangan kita setiap bulan tetap aman.


Demikian 3 tahap penting yang menurut pengalaman saya sangat berguna dalam merumuskan anggaran (budget) keuangan kita. Intinya adalah setiap orang mempunyai formulasi sendiri, dan yang penting adalah bagaimana kita mengatasi situasi tersebut agar keuangan kita tetap aman, dan kita tetap bisa hidup dalam kecukupan.

Semoga berguna! ☺️

Mendefinisikan Sukses

Sukses secara umum diukur dari apa yang terlihat dan bisa diukur saja: perolehan kekayaan, posisi dalam jenjang karir, penghargaan yang diraih, dan sebagainya. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan metriks ini, akan tetapi, ternyata tidak selalu tepat dalam menggambarkan sukses yang sesungguhnya.

Mari kita mengambil kasus orangtua yang ‘dianggap’ sukses. Parameter sukses yang dilihat biasanya adalah keberhasilan anaknya. Orangtua dianggap sukses kalau anak-anaknya juga sukses. Orangtua dianggap berhasil mendidik anak-anaknya apabila anak-anaknya menjadi orang-orang yang baik dan berhasil dalam hidup.

Lalu bagaimana kalau orangtua yang baik memiliki 1 anak yang ternyata arah hidupnya melenceng dari saudara-saudaranya? Misalnya ada 4 anak, dimana 3 di antaranya berhasil dan ada 1 yang tidak. Apakah lalu adil kalau orangtuanya dianggap gagal? Padahal orangtuanya menganut nilai-nilai yang baik dan telah berusaha mendidik semua anaknya dengan sebaik mungkin.

Dalam filsafat Stoikisme, outcome atau buah dari upaya yang kita lakukan sebenarnya berada di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan (dalam kendali kita) adalah berupaya sebaik mungkin dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang kita miliki. Akan tetapi ketika hasilnya ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, itu sudah di luar kendali kita. Kita harus selalu menyadari bahwa hasil (outcome) tidak selalu berbanding lurus dengan upaya. Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang seseorang dalam hal ini, dan tidak hanya soal pola asuh saja.

Jadi tentu saja tidak adil kalau kita serta merta langsung menyalahkan orangtua saat ada anak mereka yang sedikit melenceng dari nilai-nilai yang diajarkan pada mereka.

Ada banyak contoh lain dari hal semacam ini:

  • Pebisnis yang jujur bisa saja memiliki perusahaan dan penghasilan yang lebih kecil dari pengusaha yang rakus.
  • Orang bertalenta dan pekerja keras bisa saja memperoleh penghasilan yang lebih kecil dibandingkan orang yang hanya berfokus untuk mengejar profit.
  • Ibu yang mendedikasikan waktunya merawat dan membesarkan anak-anak akan mendapatkan lebih sedikit piagam dan penghargaan dibandingkan ibu yang memilih berkarir dan menjadi figur publik.
  • Politisi yang berintegritas bisa saja kalah dalam pemilihan dari politisi yang curang dan korup.
  • Dan banyak contoh lainnya yang bisa dilihat di sekitar kita.

Maka jelas sangat tidak adil apabila kita melihat sukses hanya dari apa yang terlihat di luar. Saya lebih setuju apabila kesuksesan dilihat dari kesesuaian antara nilai-nilai yang kita anut dengan laku hidup kita sehari-hari, hidup sepenuhnya dan intensional, berfokus untuk memberikan manfaat.

Dibanding orang yang harus menggadaikan harga dirinya hanya supaya terlihat berkilau di mata dunia, orang-orang yang setia mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang dianutnya jauh lebih berharga di mata saya-dan mereka telah mencapai sukses yang sesungguhnya!

Menurutmu bagaimana? 😉


Note: Tulisan ini adalah penulisan ulang dengan bahasa saya sendiri postingan Joshua Becker di laman ini: https://www.becomingminimalist.com/define-success/

Apa Harus Marah?

Saya memperhatikan bahwa ada orang yang berlindung di balik kesempatan untuk mengucapkan permintaan maaf di saat hari-hari besar keagamaan-untuk pada akhirnya ‘membenarkan’ perilaku negatif yang terjadi sebelumnya. Kita ambil saja kasus marah-marah di tempat kerja.

Misalnya ada rekan kerja yang di hari kerja cenderung suka marah dan menyalahkan orang lain apabila ada masalah. Meledak dalam emosi dan membuat orang lain menjadi tidak nyaman dalam bekerja. Lalu tibalah hari raya keagamaan. Dengan mudahnya orang ini lalu memohon maaf dan menyatakan bahwa semua kemarahan sebelumnya adalah bagian dari pekerjaan dan tidak ada maksud-maksud subjektif untuk menyerang pribadi orang lain; berharap bahwa di hari raya tersebut semuanya menjadi bersih kembali, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Ilustrasi Orang Marah

But life does not work that way. Untuk orang yang dimarahi, pasti dia mempunyai memori yang buruk yang sudah terekam di otaknya.

Mengapa orang tidak berusaha memperbaiki dirinya dalam hal mengelola emosi dengan baik, sehingga tidak perlu selalu marah-marah? Saya berpendapat, bahkan kalau apa yang disampaikan itu benar adanya, tetapi dengan nada tinggi dan marah, kesannya menjadi kurang profesional. Bukankah segalanya sebenarnya bisa didiskusikan dengan baik tanpa harus selalu diwarnai dengan kemarahan dan nada suara tinggi?

Inilah soft-skill, kemampuan mendasar yang tidak banyak dimiliki orang menurut saya, dan inilah skill yang justru sangat penting untuk dilatih, apabila kita ingin menjadi orang-orang yang sungguh profesional.

Dalam Stoikisme, emosi negatif itu muncul dari penalaran yang keliru atau tidak utuh. Ketika kita ingin marah, misalnya, yang harus diperbaiki dan ditinjau ulang sebenarnya adalah narasi yang ada di kepala kita, tentang bagaimana kita mempersepsikan apa yang sedang terjadi. Ketika narasi ini begitu negatif atau tak utuh, tentu saja emosi yang ditimbulkan adalah emosi-emosi yang sangat negatif, dan lalu menjadi begitu masuk akal rasanya untuk marah. Ketika orang marah, dia merasa bahwa apa yang dilakukannya benar, tetapi penyesalan biasanya pasti akan menghampiri setelahnya, dan orang yang marah ini sebenarnya menyadari bahwa kemarahannya seringkali berlebihan, tetapi karena malu mengakui, maka orang-orang ini biasanya akan mencoba ‘berlindung’ di balik momen-momen khusus untuk ‘menyelipkan’ permintaan maafnya, agar tetap terlihat profesional, dan mengatakan bahwa kemarahan sebelumnya hanya untuk tujuan pekerjaan dan tidak ada subjektivitas terhadap orang tertentu.

For me, it’s disgusting! Menjijikkan. Sebenarnya ada space, ada ruang bagi kita, ketika menerima rangsangan (impulse) sebelum memberikan tanggapan (response). Di ruang inilah dimana kita harus menggunakan nalar (reasoning) untuk mempersepsikan dengan baik apa yang sedang terjadi, dan dari sini selanjutnya kita bisa bereaksi dengan emosi yang lebih baik. Jadi ketika ada orang yang mudah dan cepat sekali marah, sebenarnya ada masalah dengan kemampuannya menggunakan nalar dengan baik dan dia (sebenarnya) harus memperbaiki kebiasaan (habit) nya sendiri: kebiasaan untuk cepat marah. Orang yang mudah dan cepat marah sebenarnya adalah orang yang MEMBIASAKAN DIRINYA untuk mudah dan cepat marah. Karena sering dilatih sehingga menjadi kebiasaan, orang yang seperti ini biasanya akan semakin cekatan lagi untuk marah. Tubuhnya sudah semakin terlatih untuk marah dan dengan sedikit rangsangan saja, tubuh yang sama akan langsung dengan cepat beralih ke fight mode (mode tempur).

Akan lebih mengesankan apabila orang melatih dirinya untuk bisa mengelola emosi dengan baik, sehingga dalam interaksinya sehari-hari dia tetap bisa mengutarakan berbagai hal tanpa harus dengan emosi yang berlebihan, karena toh, tujuannya adalah tetap mencapai sesuatu. Kalau sesuatu itu bisa dicapai tanpa harus marah-marah, misalnya, walaupun membutuhkan waktu yang lebih lama, lalu mengapa harus menggunakan energi untuk marah?

I mean, you might end up getting the same exact thing, so why angry?

Respond-ability

Ini suatu kata menarik dalam e-mail The Daily Stoic-nya Ryan Holiday yang saya baca pagi ini.

Jadi begini ceritanya.

Dalam hidup ada orang-orang yang cenderung ingin mengendalikan berbagai hal, istilah kerennya control freak. Orang seperti ini ada istilahnya, yaitu tiran (atau tyrant dalam bahasa Inggris). Orang seperti ini selalu ingin menentukan apa yang dilakukan atau dikatakan orang lain, ingin mengontrol semuanya.

Tetapi orang bijaksana akan memahami bahwa dia hanya memiliki kendali atas dirinya sendiri, dan bukan atas hal-hal di luar dirinya. Dengan kata lain, yang bisa sepenuhnya dikendalikan adalah responsnya terhadap apa yang terjadi. Jadi selain bertanggungjawab (atau punya responsibility) atas hidupnya, orang bijak juga memiliki respond-ability, yaitu kemampuan untuk bereaksi dengan baik terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya.

“Mencoba mengendalikan hidup hanya akan membawa kita pada kegagalan, bahkan sebelum kita memulainya”, kata Anne Willson Schaef, seorang penulis. Yang justru lebih baik adalah bertanggungjawab atas bagaimana kita menjalani hidup: taking charge instead of taking control.

Mungkin Anda juga pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, yang memiliki kelekatan akut dengan kontrol, yang memiliki keinginan untuk selalu memiliki kendali atas berbagai hal. Menurut Anda apakah orang-orang seperti itu menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidupnya?

Pentingnya Membaca Ulang

Membaca ulang artikel atau buku yang berisikan hal-hal yang baik bagi perkembangan pribadi saya ternyata penting. Saya menyadarinya kembali sore ini ketika membaca postingan tentang hidup sederhana dan 20 cara praktis memangkas pengeluaran di blog ibu Maria, Breakfast with Lukas. Blog ini sudah saya kenal selama beberapa waktu terakhir dan bahkan kedua postingan tadi sudah pernah saya baca sebelumnya, tetapi ketika sore ini saya membacanya ulang, rasanya seperti diingatkan kembali, dan tetap ada hal baru yang rasanya belum benar-benar saya pahami sebelumnya.

Inilah gunanya membaca ulang.

It’s like adding a new layer of understanding. Bertambah lapisan pemahaman saya terhadap apa yang ditulis.

Kalau seperti saya, Anda ingin mengembangkan diri dan mindset ke arah hidup yang lebih bersahaja dan bermakna, maka saran terbaik saya adalah Anda harus mencari sumber daya di Internet yang kiranya cocok dengan style Anda dan nikmatilah apa yang tersaji di sana-bahkan kalau harus sampai membaca (atau menontonnya) berulang-ulang.

Sometimes, repetition is key.

Pemahaman kita jelas akan lebih disempurnakan dan semakin kuat konsepnya akan tertanam di benak kita, dan saya percaya, ini akan bertumbuh secara perlahan namun pasti menjadi bagian dari mindset kita, dan bukankah perubahan di level mindset ini yang kita inginkan?

PRP dalam Terapi Kognitif

Guys, saya baru saja membaca sebuah bab menarik di buku berjudul Even Happier yang ditulis oleh Tal Ben-Shahar. Sebuah bab tentang terapi kognitif. Ini semacam metode untuk menangani emosi yang mengganggu, seperti kecemasan berlebih. Premis dasar dari terapi ini adalah prinsip dasar dalam Stoikisme: kita bereaksi terhadap interpretasi terhadap suatu peristiwa, dan bukan terhadap peristiwa itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan suatu peristiwa bisa menimbulkan beragam reaksi dari orang yang berbeda.

Peristiwa (event) menimbulkan interpretasi (thought), dan interpretasi ini selanjutnya membangkitkan emosi (emotion) tertentu. Seorang ayah yang tersenyum gembira melihat putrinya bisa diurai menjadi:

Peristiwa (event): Ayah melihat seseorang.

Interpretasi (thought): Ayah mengenali bahwa orang tersebut adalah putrinya.

Emosi (emotion): Sang ayah tersenyum gembira.

Saat emosi yang timbul dari interpretasi adalah emosi yang negatif dan mengganggu, terapi kognitif ini berfokus untuk mengembalikan sensasi kenyataan (realisme) dengan cara memperbaiki, atau bahkan menyingkirkan, pemikiran yang terdistorsi. Mengubah pemikiran ini akan mengubah perasaan orang yang merasakan emosi negatif.

Sebuah contoh. Orang yang sangat khawatir tidak lulus wawancara kerja bisa melakukan re-interpretasi terhadap peristiwa wawancara kerja, sebagai berikut:

Peristiwa: Saya melakukan wawancara kerja.

Interpretasi: Jika saya tidak diterima, itu bukan akhir segalanya. Saya mungkin akan menganggur lagi untuk beberapa waktu, tetapi ada banyak pekerjaan lain di luar sana yang cukup layak untuk saya, dan bisa memberikan saya kecukupan, dan saya percaya bisa mendapatkannya.

Emosi: Lebih tenang dan berani menghadapi kegagalan, tidak cemas berlebihan saat wawancara.


Kalau kalian ingat atau pernah membaca postingan sebelumnya, saya sebenarnya sudah pernah menceritakan metode yang sangat identik dengan terapi kognitif ini. Namanya metode STAR. Penamaan metode itu sebenarnya dibuat oleh Henry Manampiring, penulis buku Filosofi Teras yang pernah saya ceritakan di sini dan di sini.


Dalam terapi kognitif, prosesnya dapat dinyatakan dalam akronim PRP: Permission, Reconstruct, Perspective, yang uraiannya sebagai berikut:

Permission: Memberikan diri ruang untuk bersifat manusiawi; bahwa manusia bisa merasakan beragam emosi, termasuk emosi negatif.

Reconstruct: Merekonstruksi hal yang terjadi dengan menyadari bahwa ianya tak melulu buruk. Bisa jadi kita belajar sesuatu dari peristiwa tersebut, atau peristiwa tersebut justru menyadarkan kita agar lebih menghargai segala kemudahan hidup selama ini.

Perspective: Mengkaji peristiwa yang terjadi dalam gambaran besar kehidupan. Misalnya mengujinya dengan pertanyaan: Apakah peristiwa ini sebenarnya sangat signifikan dalam 5 atau 10 tahun ke depan, sehingga harus membuat saya larut dalam emosi negatif? Apakah kecemasan ini begitu penting dibandingkan persoalan yang dihadapi dunia global saat ini? … dan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang meletakkan peristiwa atau emosi yang timbul dalam bingkai besar kehidupan dan dunia. Seeing from above.


Dengan secara aktif melatih diri dengan terapi kognitif seperti ini, akan lebih mudah bagi kita mengelola emosi negatif yang timbul (terkadang sangat instan!) dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Terapi ini ibaratnya olahraga mental. Sebagaimana olahraga fisik, semakin sering kita berlatih, “otot mental” kita akan semakin terampil pula melakukannya.

Dan tentu saja, kita adalah orang yang paling diuntungkan dengan latihan kognitif ini.

Seseorang bernama David Burns pernah mengatakan,

Kita sering membodohi diri kita sendiri dan menciptakan penderitaan dengan mencekoki pikiran kita dengan berbagai hal yang sama sekali tidak benar.

Dan itu sangat benar menurutku, guys. Bagaimana menurutmu?

Salam,

Paulinus Pandiangan

Tidak Harus Tahu Semua

Hai guys, welcome back.

Saya sengaja membuat judul postingan yang sama dengan yang dibuat pak Budi Rahardjo, dosen di STEI ITB, karena postingan ini juga menekankan hal yang sama dengan ide beliau, yang ditulis di postingan blognya.

Silakan disimak juga postingan beliau agar teman-teman mendapatkan pemahaman yang lebih kaya tentang apa yang persisnya beliau maksud dan yang saya share melalui tulisan ini.

Ilustrasi Fokus

OK, mari kita ke topiknya.

Di lembar refleksi harian untuk 30 Januari di buku The Daily Stoic, pembahasan yang diangkat adalah bahwa (sebenarnya) kita tak perlu selalu tahu (bahkan selalu peduli) terhadap berbagai isu yang beredar bebas di era informasi saat ini.

Ini sebenarnya masih berkaitan dengan postingan saya sebelumnya. Di era informasi saat ini, dimana orang bisa mengakses informasi 24 jam sehari dan 7 hari seminggu (24/7), kemampuan yang sebenarnya diperlukan adalah memilah informasi (dari lautan informasi) yang benar-benar bernilai dan diperlukan. Ada terlalu banyak informasi, yang jika tidak dipilah dengan baik, hanya akan menjadi noise. Distraksi.

Lagi pula, tak semua informasi yang beredar sifatnya esensial. Daripada menggunakan waktu dan energi untuk isu-isu tak penting, alangkah lebih baiknya jika digunakan untuk hal-hal yang bernilai dan memberikan makna bagi kita pribadi. Ini juga adalah bagian dari menggunakan waktu dengan bijaksana.

So, be wise about your time, by giving attention to what really matters.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Perihal Memulai Kembali

Anda mengalami hari yang kurang menyenangkan? Ketahuilah bahwa semua orang juga pernah mengalaminya. Anda merasa sudah menyimpang jauh dari prinsip dan keyakinan yang Anda pegang teguh? Ini juga pernah terjadi pada semua orang.

Bahkan Marcus Aurelius pun mengalaminya. Jabatan kaisar sekaligus filsuf Stoikisme tidak membuatnya imun terhadap pengalaman ini.

Barangkali pengalaman kurang menyenangkan Marcus Aurelius inilah yang melatarbelakanginya menuliskan kalimat berikut dalam jurnal pribadinya, Meditations:

“Your principles can’t be extinguished unless you snuff out the thoughts that feed them, for it’s continually in your power to reignite new ones. . . It’s possible to start living again! See things anew as you once did—that is how to restart life!”

Marcus Aurelius dalam Meditations


Dengan lugas dia menyatakan bahwa prinsip-prinsip hidup yang kita pegang teguh sebenarnya tidak hilang, kecuali kalau kita membuang jauh-jauh pikiran yang melandasi prinsip-prinsip tersebut, dan kita selalu bisa melahirkan pikiran-pikiran baru setiap saat.

Dengan kata lain, kita selalu bisa memulai kembali. Kita mampu melihat segala sesuatu kembali baru, jika kita memilih untuk berpikir dengan cara yang baru.

It’s OK to be messed up sometimes. Tidak ada orang yang hidupnya selalu tenteram dan teratur setiap saat. Selalu ada waktunya dimana kita menjadi sedikit ‘kacau’, dan walaupun demikian, kita selalu bisa kembali pada prinsip-prinsip hidup yang kita anut. Selalu ada pilihan untuk ‘restart‘.

Apa yang telah terjadi sudah menjadi masa lalu. Selalu ada pilihan bagi kita untuk memulai kembali lembaran baru dalam hidup.

Dan kita bahkan bisa memulainya saat ini juga. 🤗 😉

Tentang Visi dan Ketenangan

“Ketenangan dapat diraih apabila orang telah memiliki kemampuan untuk teguh dalam membuat keputusan—di saat orang lain terus-menerus jatuh bangun dan selalu mudah goyah dalam memutuskan berbagai hal. Apa penyebab kegoyahan ini? Karena tidak ada kejelasan visi dan mereka akhirnya hanya bergantung pada pendapat umum.”

SENECA dalam MORAL LETTERS

Dalam esainya tentang ketenangan (tranquility), Seneca menggunakan kata euthymia, yang didefinisikan dengan “percaya diri dan meyakini bahwa Anda berada di jalan yang benar, dan tidak ragu-ragu dengan banyaknya pilihan jalan lain dari mereka yang mengembara ke segala arah.” Keadaan pikiran inilah, katanya, yang menghasilkan ketenangan.

Kejelasan visi dibutuhkan untuk bisa memiliki kepercayaan diri seperti ini. Tidak berarti kita akan selalu 100 persen yakin akan segalanya. Sebaliknya, kita dapat yakin bahwa kita secara umum menuju ke arah yang benar—bahwa kita tidak perlu terus-menerus membandingkan diri kita dengan orang lain atau berubah pikiran setiap tiga detik berdasarkan informasi baru.

Sebaliknya, ketenangan dan kedamaian ditemukan dalam proses mengidentifikasi jalan kita dan dalam berpegang teguh padanya: tetap di jalur—tentu saja sambil tetap membuat penyesuaian di sana-sini—tetapi mengabaikan sirene yang mengganggu yang mengisyaratkan kita untuk berbelok, melenceng jauh dari jalur awal.

Click to listen highlighted text!