Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Apa Harus Marah?

Saya memperhatikan bahwa ada orang yang berlindung di balik kesempatan untuk mengucapkan permintaan maaf di saat hari-hari besar keagamaan-untuk pada akhirnya ‘membenarkan’ perilaku negatif yang terjadi sebelumnya. Kita ambil saja kasus marah-marah di tempat kerja.

Misalnya ada rekan kerja yang di hari kerja cenderung suka marah dan menyalahkan orang lain apabila ada masalah. Meledak dalam emosi dan membuat orang lain menjadi tidak nyaman dalam bekerja. Lalu tibalah hari raya keagamaan. Dengan mudahnya orang ini lalu memohon maaf dan menyatakan bahwa semua kemarahan sebelumnya adalah bagian dari pekerjaan dan tidak ada maksud-maksud subjektif untuk menyerang pribadi orang lain; berharap bahwa di hari raya tersebut semuanya menjadi bersih kembali, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Ilustrasi Orang Marah

But life does not work that way. Untuk orang yang dimarahi, pasti dia mempunyai memori yang buruk yang sudah terekam di otaknya.

Mengapa orang tidak berusaha memperbaiki dirinya dalam hal mengelola emosi dengan baik, sehingga tidak perlu selalu marah-marah? Saya berpendapat, bahkan kalau apa yang disampaikan itu benar adanya, tetapi dengan nada tinggi dan marah, kesannya menjadi kurang profesional. Bukankah segalanya sebenarnya bisa didiskusikan dengan baik tanpa harus selalu diwarnai dengan kemarahan dan nada suara tinggi?

Inilah soft-skill, kemampuan mendasar yang tidak banyak dimiliki orang menurut saya, dan inilah skill yang justru sangat penting untuk dilatih, apabila kita ingin menjadi orang-orang yang sungguh profesional.

Dalam Stoikisme, emosi negatif itu muncul dari penalaran yang keliru atau tidak utuh. Ketika kita ingin marah, misalnya, yang harus diperbaiki dan ditinjau ulang sebenarnya adalah narasi yang ada di kepala kita, tentang bagaimana kita mempersepsikan apa yang sedang terjadi. Ketika narasi ini begitu negatif atau tak utuh, tentu saja emosi yang ditimbulkan adalah emosi-emosi yang sangat negatif, dan lalu menjadi begitu masuk akal rasanya untuk marah. Ketika orang marah, dia merasa bahwa apa yang dilakukannya benar, tetapi penyesalan biasanya pasti akan menghampiri setelahnya, dan orang yang marah ini sebenarnya menyadari bahwa kemarahannya seringkali berlebihan, tetapi karena malu mengakui, maka orang-orang ini biasanya akan mencoba ‘berlindung’ di balik momen-momen khusus untuk ‘menyelipkan’ permintaan maafnya, agar tetap terlihat profesional, dan mengatakan bahwa kemarahan sebelumnya hanya untuk tujuan pekerjaan dan tidak ada subjektivitas terhadap orang tertentu.

For me, it’s disgusting! Menjijikkan. Sebenarnya ada space, ada ruang bagi kita, ketika menerima rangsangan (impulse) sebelum memberikan tanggapan (response). Di ruang inilah dimana kita harus menggunakan nalar (reasoning) untuk mempersepsikan dengan baik apa yang sedang terjadi, dan dari sini selanjutnya kita bisa bereaksi dengan emosi yang lebih baik. Jadi ketika ada orang yang mudah dan cepat sekali marah, sebenarnya ada masalah dengan kemampuannya menggunakan nalar dengan baik dan dia (sebenarnya) harus memperbaiki kebiasaan (habit) nya sendiri: kebiasaan untuk cepat marah. Orang yang mudah dan cepat marah sebenarnya adalah orang yang MEMBIASAKAN DIRINYA untuk mudah dan cepat marah. Karena sering dilatih sehingga menjadi kebiasaan, orang yang seperti ini biasanya akan semakin cekatan lagi untuk marah. Tubuhnya sudah semakin terlatih untuk marah dan dengan sedikit rangsangan saja, tubuh yang sama akan langsung dengan cepat beralih ke fight mode (mode tempur).

Akan lebih mengesankan apabila orang melatih dirinya untuk bisa mengelola emosi dengan baik, sehingga dalam interaksinya sehari-hari dia tetap bisa mengutarakan berbagai hal tanpa harus dengan emosi yang berlebihan, karena toh, tujuannya adalah tetap mencapai sesuatu. Kalau sesuatu itu bisa dicapai tanpa harus marah-marah, misalnya, walaupun membutuhkan waktu yang lebih lama, lalu mengapa harus menggunakan energi untuk marah?

I mean, you might end up getting the same exact thing, so why angry?

Perihal Kemarahan

Dalam jurnal pribadinya, Meditations, Marcus Aurelius mengguratkan juga perihal kemarahan. Dia berpendapat bahwa marah bukanlah tindakan jantan. Yang justru lebih manusiawi—dan karenanya lantas lebih jantan—adalah kelembutan dan kesopanan. Menurutnya pria sejati seharusnya tidak menyerah pada kemarahan. Semakin seseorang bisa lebih tenang, semakin dekat pula ia pada kekuatan.

Ilustrasi Orang Marah

Dalam kompetisi olahraga, ada suatu teknik yang umum digunakan untuk mengacaukan lawan: membisiki lawan dengan kata-kata kasar dan tak senonoh. Tentu saja teknik ini dilakukan secara diam-diam, saat juri sedang tak memperhatikan.

Apa tujuannya?

Membuat kompetitor marah akan mengacaukan diri mereka sendiri. Jika lawan tidak dapat mengendalikan dirinya dan tersulut emosi, maka kemampuannya saat bertanding juga akan kacau. Lawan tidak akan mampu menampilkan permainan terbaiknya. Itulah tujuannya.

Persis seperti yang dicatat Marcus Aurelius dalam jurnalnya: saat orang tidak tenang, dia justru jauh dari kekuatan.


Marah tidak akan membuat orang terkesan. Justru ia adalah sebuah kelemahan, karena kemarahan menunjukkan ketidakmampuan seseorang untuk menguasai emosi dalam dirinya. Bahkan, sebagaimana yang terjadi pada kasus kompetisi olahraga di atas, kemarahan itu bisa menjadi sebuah jebakan yang disiapkan pihak lawan.

Kekuatan yang sebenarnya ada pada kemampuan kita untuk mengendalikan emosi. Orang-orang lemah adalah orang yang justru dikontrol oleh emosi mereka.

Bagaimana menurut Anda? Setujukah Anda dengan pendapat Marcus Aurelius ini? 😉

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!