Amor Fati = Acceptance

“Do not seek for things to happen the way you want them to; rather, wish that what happens happen the way it happens: then you will be happy.”

Epictetus

Menerima keadaan bukanlah perkara gampang. Ada saja berbagai hal dalam perjalanan kehidupan yang tidak sesuai ekspektasi kita; selalu ada yang melenceng dari apa yang (bahkan) sudah disiapkan sebelumnya.

Di sinilah prinsip amor fati diperlukan.

Sebagaimana quote di atas, kita perlu belajar untuk menerima keadaan. Acceptance. Apa yang telah terjadi harus diterima sebagai apa yang memang harus terjadi. Kita, menurut Stoikisme, seringkali tidak merasa bahagia karena mengharapkan apa yang terjadi harus sesuai dengan apa yang diharapkan.

Pada kenyataannya, tentu tidak demikian. Berbagai hal dalam kehidupan berada di luar kendali kita.

Ketika kita tidak bisa ‘berdamai’ dengan berbedanya kenyataan dengan ekspektasi ini, di situlah rasa tidak bahagia lahir. Saya setuju dengan pendapat seseorang yang pernah menyatakan bahwa ‘deserve‘ itu merupakan kata yang berbahaya. Ketika kita selalu merasa berhak untuk mendapatkan sesuatu, rasa berhak inilah yang seringkali berubah menjadi emosi negatif ketika yang terjadi justru tak sesuai harapan.

Amor Fati – Love your fate, which is in fact your life.

Rasa berhak ini merupakan manifestasi dari kemelekatan (attachment) juga. Ketika kita terlalu lekat dengan penghormatan, misalnya, kita akan selalu merasa bahwa kita berhak untuk dihormati. Ketika kita tidak mendapatkan penghormatan sebagaimana diharapkan, maka emosi negatif pun akan lahir. Kita akan selalu bergumul dengan persoalan mengapa orang-orang tampaknya begitu sulit untuk menghormati kita.

Padahal pada kenyataannya tidak ada alasan juga bahwa semua orang harus menghormati kita. I mean, why should they?. Sangat tidak masuk akal. Kita harus menerima fakta kehidupan bahwa beberapa orang mungkin akan menaruh hormat kepada kita, tetapi kebanyakan tidak. Kalau kita bisa menerima fakta kehidupan ini, kita akan mampu menjaga jarak emosional (detachment) dari keinginan untuk selalu dihormati.

Begitu pun untuk hal-hal yang lebih besar dan berdampak mendalam secara emosional. Kehilangan orang tercinta, misalnya. Hal semacam ini tentu membutuhkan kekuatan mental yang lebih untuk menghadapinya, dan menurut hemat saya, harus ada berkat dari Yang Kuasa agar kita sungguh mampu. Yang secara kapasitas manusiawi bisa dilakukan adalah menerima takdir; bahwa semua manusia pasti akan meninggal dunia pada suatu waktu, dan perihal kapan dan bagaimana seseorang meninggal dunia sama sekali di luar kendali kita.

Things happen as they should happen.

Menerima takdir sebagai sesuatu yang memang harus terjadi sebagaimana selayaknya ia terjadi. Inilah amor fati. 👌

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.