Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Clayre si Pengejar Sempurna


Namanya Alasdair Clayre. Sekilas hidupnya tampak sempurna. Seorang mahasiswa hebat di universitas Oxford dan menjadi lulusan yang sangat dikenal. Memenangkan banyak penghargaan dan beasiswa. Tak hanya itu, ia juga berhasil menerbitkan novel, koleksi puisi, bahkan merekam 2 album yang sebagian isinya merupakan hasil komposisinya sendiri. Sesudah itu dia menulis dan memproduksi sendiri seri TV 12 bagian berjudul The Heart of The Dragon.

Alasdair Clayre

Seri TV ini bahkan sukses meraih Emmy Award, sebuah penghargaan bergengsi dalam dunia pertelevisian. Tragisnya, Clayre tidak hadir untuk menerima penghargaan ini. Di usia yang masih 48 tahun, suatu hari dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan dirinya ke kereta api yang tengah melaju kencang.

Reaksi umum kita mendengar kisah seperti ini biasanya adalah: Mengapa? Apa yang masih kurang?

Dari penuturan mantan istrinya, terkuak sebuah fakta menarik: Tak ada simbol sukses yang benar-benar memuaskan Clayre, entah itu penghargaan, penerbitan buku, atau peluncuran seri TV. Setiap kali meraih sesuatu, dia akan segera membuat standar capaian baru yang lebih tinggi lagi.

Pada akhirnya, Clayre tak pernah menganggap dirinya berhasil. Dia selalu merasa kurang sempurna. Setiap keberhasilan yang diraihnya selalu sangat cepat segera menjadi usang, dan tak pernah dianggapnya sebagai keberhasilan. Keinginan akut untuk menjadi sempurna membuatnya menolak keberhasilan itu sendiri.


Being a human is at the same time being imperfect. Just accept that simple yet profound fact.


Pointnya adalah: Impian yang baik haruslah didasarkan pada kenyataan dan kita juga harus bisa menghargai apa yang telah kita raih. Apa pun itu. Tidak perlu terlalu terobsesi dengan kesempurnaan, karena hanya akan ‘memenjarakan’ mental kita di dalam ilusi terus menerus. Dan ilusi jelas bukanlah kenyataan.

And you know what? Hidup dalam ilusi kesempurnaan tak akan membahagiakan.

Salam,

Paulinus Pandiangan

PRP dalam Terapi Kognitif

Guys, saya baru saja membaca sebuah bab menarik di buku berjudul Even Happier yang ditulis oleh Tal Ben-Shahar. Sebuah bab tentang terapi kognitif. Ini semacam metode untuk menangani emosi yang mengganggu, seperti kecemasan berlebih. Premis dasar dari terapi ini adalah prinsip dasar dalam Stoikisme: kita bereaksi terhadap interpretasi terhadap suatu peristiwa, dan bukan terhadap peristiwa itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan suatu peristiwa bisa menimbulkan beragam reaksi dari orang yang berbeda.

Peristiwa (event) menimbulkan interpretasi (thought), dan interpretasi ini selanjutnya membangkitkan emosi (emotion) tertentu. Seorang ayah yang tersenyum gembira melihat putrinya bisa diurai menjadi:

Peristiwa (event): Ayah melihat seseorang.

Interpretasi (thought): Ayah mengenali bahwa orang tersebut adalah putrinya.

Emosi (emotion): Sang ayah tersenyum gembira.

Saat emosi yang timbul dari interpretasi adalah emosi yang negatif dan mengganggu, terapi kognitif ini berfokus untuk mengembalikan sensasi kenyataan (realisme) dengan cara memperbaiki, atau bahkan menyingkirkan, pemikiran yang terdistorsi. Mengubah pemikiran ini akan mengubah perasaan orang yang merasakan emosi negatif.

Sebuah contoh. Orang yang sangat khawatir tidak lulus wawancara kerja bisa melakukan re-interpretasi terhadap peristiwa wawancara kerja, sebagai berikut:

Peristiwa: Saya melakukan wawancara kerja.

Interpretasi: Jika saya tidak diterima, itu bukan akhir segalanya. Saya mungkin akan menganggur lagi untuk beberapa waktu, tetapi ada banyak pekerjaan lain di luar sana yang cukup layak untuk saya, dan bisa memberikan saya kecukupan, dan saya percaya bisa mendapatkannya.

Emosi: Lebih tenang dan berani menghadapi kegagalan, tidak cemas berlebihan saat wawancara.


Kalau kalian ingat atau pernah membaca postingan sebelumnya, saya sebenarnya sudah pernah menceritakan metode yang sangat identik dengan terapi kognitif ini. Namanya metode STAR. Penamaan metode itu sebenarnya dibuat oleh Henry Manampiring, penulis buku Filosofi Teras yang pernah saya ceritakan di sini dan di sini.


Dalam terapi kognitif, prosesnya dapat dinyatakan dalam akronim PRP: Permission, Reconstruct, Perspective, yang uraiannya sebagai berikut:

Permission: Memberikan diri ruang untuk bersifat manusiawi; bahwa manusia bisa merasakan beragam emosi, termasuk emosi negatif.

Reconstruct: Merekonstruksi hal yang terjadi dengan menyadari bahwa ianya tak melulu buruk. Bisa jadi kita belajar sesuatu dari peristiwa tersebut, atau peristiwa tersebut justru menyadarkan kita agar lebih menghargai segala kemudahan hidup selama ini.

Perspective: Mengkaji peristiwa yang terjadi dalam gambaran besar kehidupan. Misalnya mengujinya dengan pertanyaan: Apakah peristiwa ini sebenarnya sangat signifikan dalam 5 atau 10 tahun ke depan, sehingga harus membuat saya larut dalam emosi negatif? Apakah kecemasan ini begitu penting dibandingkan persoalan yang dihadapi dunia global saat ini? … dan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang meletakkan peristiwa atau emosi yang timbul dalam bingkai besar kehidupan dan dunia. Seeing from above.


Dengan secara aktif melatih diri dengan terapi kognitif seperti ini, akan lebih mudah bagi kita mengelola emosi negatif yang timbul (terkadang sangat instan!) dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Terapi ini ibaratnya olahraga mental. Sebagaimana olahraga fisik, semakin sering kita berlatih, “otot mental” kita akan semakin terampil pula melakukannya.

Dan tentu saja, kita adalah orang yang paling diuntungkan dengan latihan kognitif ini.

Seseorang bernama David Burns pernah mengatakan,

Kita sering membodohi diri kita sendiri dan menciptakan penderitaan dengan mencekoki pikiran kita dengan berbagai hal yang sama sekali tidak benar.

Dan itu sangat benar menurutku, guys. Bagaimana menurutmu?

Salam,

Paulinus Pandiangan

Strategi Mengatasi Kecemasan

Sebagai filsafat praktis, Stoikisme menekankan betul penanganan keadaan mental (mental state). Kecemasan (anxiety) adalah salah satu bentuk penderitaan dalam pikiran yang bisa merusak kestabilan mental, bahkan melumpuhkan.

Karena itu kecemasan harus dihadapi dengan strategi yang baik, dan dalam video berikut Ryan Holiday membagikan 10 cara untuk menangani kecemasan. Silakan disimak video berikut.

Ryan Holiday — How the Stoics Dealt with Anxiety

Silakan menyimak videonya sampai akhir, dan coba direfleksikan apakah ke 10 cara yang disampaikan ada yang sangat relevan dengan pendekatan kamu sendiri. Enjoy!

On Learning

Ada satu aspek yang sebenarnya sangat penting dalam proses berkarir di suatu bidang. Kita barangkali sering terpapar dengan pemahaman bahwa kita harus mencari area pekerjaan atau institusi yang menawarkan penghasilan yang besar. Fat paycheck. Ini mendasari semua pilihan yang kita ambil: bekerja di mana dan mengerjakan apa.

Tetapi sebenarnya ada proses belajar yang seharusnya menjadi dasar yang lebih baik. Dengan menjadikan diri sebagai pembelajar, kita akan memilih kesempatan-kesempatan yang menawarkan peluang lebih besar untuk belajar. Kita akan mencari mentor. Kita akan mencari orang-orang yang bisa membantu kita bertumbuh. Bahkan menjadi pembantu seorang mentor secara sukarela tanpa dibayar merupakan peluang besar yang perlu diambil, karena dari proses berguru seperti ini biasanya banyak hal berguna—trade secrets—yang dapat dipelajari terkait industri yang tengah digeluti.

Dari proses inilah nantinya kreatifitas kita bisa bertumbuh dan barangkali kita bisa menciptakan peluang-peluang baru yang akhirnya mendatangkan uang.

Jadi menurut saya ada benarnya bahwa kita tidak perlu terlalu berfokus pada uang dulu. Yang justru lebih penting adalah menumbuhkan pengetahuan dan skill melalui proses belajar untuk selanjutnya menjadi panggung bagi ekspansi kreatifitas kita.

What do you guys think? 😉

Perihal Kemarahan

Dalam jurnal pribadinya, Meditations, Marcus Aurelius mengguratkan juga perihal kemarahan. Dia berpendapat bahwa marah bukanlah tindakan jantan. Yang justru lebih manusiawi—dan karenanya lantas lebih jantan—adalah kelembutan dan kesopanan. Menurutnya pria sejati seharusnya tidak menyerah pada kemarahan. Semakin seseorang bisa lebih tenang, semakin dekat pula ia pada kekuatan.

Ilustrasi Orang Marah

Dalam kompetisi olahraga, ada suatu teknik yang umum digunakan untuk mengacaukan lawan: membisiki lawan dengan kata-kata kasar dan tak senonoh. Tentu saja teknik ini dilakukan secara diam-diam, saat juri sedang tak memperhatikan.

Apa tujuannya?

Membuat kompetitor marah akan mengacaukan diri mereka sendiri. Jika lawan tidak dapat mengendalikan dirinya dan tersulut emosi, maka kemampuannya saat bertanding juga akan kacau. Lawan tidak akan mampu menampilkan permainan terbaiknya. Itulah tujuannya.

Persis seperti yang dicatat Marcus Aurelius dalam jurnalnya: saat orang tidak tenang, dia justru jauh dari kekuatan.


Marah tidak akan membuat orang terkesan. Justru ia adalah sebuah kelemahan, karena kemarahan menunjukkan ketidakmampuan seseorang untuk menguasai emosi dalam dirinya. Bahkan, sebagaimana yang terjadi pada kasus kompetisi olahraga di atas, kemarahan itu bisa menjadi sebuah jebakan yang disiapkan pihak lawan.

Kekuatan yang sebenarnya ada pada kemampuan kita untuk mengendalikan emosi. Orang-orang lemah adalah orang yang justru dikontrol oleh emosi mereka.

Bagaimana menurut Anda? Setujukah Anda dengan pendapat Marcus Aurelius ini? 😉

Salam,

Paulinus Pandiangan

Seni Beristirahat

Dulu (baca: dulu sekali) saya pernah menulis tentang pentingnya tidur cukup di sebuah postingan berbahasa Inggris. Tulisan itu pada intinya menceritakan temuan seorang ahli tidur (sleep expert), Matthew Paul Walker, terkait efek samping dari kurangnya jam tidur (sleep deprivation) yang ternyata berdampak besar sekali bagi kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan.

Nah, sore ini, saya menemukan video produksi greatmind.id yang mendukung dan menguatkan temuan tersebut. Rama Satya, seorang lulusan biomedis yang sedang merambah dunia kreatif, berbagi tentang signifikansi dari istirahat terhadap seluruh fungsi tubuh kita.

Silakan segera disimak saja guys di video berikut:

Live Optimally: Seni Istirahard

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jebakan Balas Dendam

Ada metode menarik untuk membunuh beruang di zaman kuno. Potongan kayu besar digantungkan dengan tali di atas secangkir madu. Setiap kali beruang berusaha mengambil madu tersebut, dia harus menggeser potongan kayu tersebut, membuat kayunya berayun dan memukul balik tubuh beruang. Jika dia menolak kayu lebih kuat, kayu pun akan berayun lebih kuat dan menghantam tubuh beruang dengan lebih kuat pula. Begitu seterusnya, hingga akhirnya beruang mati akibat terhantam balok kayu tersebut. Proses ini memang lambat, tapi efektif untuk membunuh beruang. Dan ini bisa terjadi karena beruang begitu menginginkan madunya, sampai tidak menyadari jebakan balok kayu berayun yang menyertainya.


Barangkali terdengar konyol, tapi manusia juga acap berperilaku serupa seperti beruang tadi. Seringkali saat menerima keburukan dari seseorang, kita ingin segera membalas; kita merasa perlu untuk segera “memberi pelajaran” kepada orang tersebut. Kita ingin impas, sama seperti beruang yang sangat menginginkan madu tadi.

Tetapi, belajar dari jebakan balok kayu yang siap menanti tindakan balas dendam beruang, kita pun akan mendapat balasan serupa yang justru bisa menghancurkan kita. Aksi menghasilkan reaksi, ini sudah menjadi hukum alam. Saat kita membalas dendam, segalanya tak akan berhenti di situ. Kita akan mengalami penderitaan psikologis yang sama seperti yang dialami orang yang bertindak buruk kepada sesamanya. Hurting others is essentially hurting ourselves.

Itulah kekuatan ajaran cinta kasih. Apabila kita membalas keburukan dengan kasih, kasih akan menghancurkan keburukan sebelum keburukan itu bertumbuh dan menjadi kuat.

Jadi, kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. That’s the best way, dan itu yang diajarkan Tuhan sendiri. Cheers! 🤗

Salam,

Paulinus Pandiangan

Jurnal Hari ke Delapan

Halo, teman-teman sekalian. Selamat hari Senin dan selamat mengakhiri tanggal terakhir di bulan Januari ini. 🤗

Pagi ini saya menjurnal rasa syukur, dan inilah isian jurnal saya di hari ke delapan di hari Senin, 31 Januari 2022.

Jurnal Rasa Syukur Hari Ke Delapan

Dan berikut ini versi teksnya:

(1) Hari ini saya bersyukur atas ...


hari yang baik yang diberikan kepada saya dan keluarga. Saya dapat menikmati indahnya langit biru, cuaca yang cerah, hati yang damai, dan tubuh yang sehat.
(2) Apa hal baik yang bisa saya lakukan hari ini?


Saya ingin berinteraksi dengan teman dengan teman-teman di tempat kerja dan berusaha untuk mengatakan hal-hal yang baik kepada semua orang yang saya temui.
(3) Apa saja 3 hal yang sangat ingin engkau lakukan pada minggu / bulan / tahun ini?


1. Mengupdate blog saya dengan hal-hal yang kiranya bisa berguna bagi orang lain yang membacanya.

2. Makan di luar bersama istri dan anak sambil relaksasi.

3. Mencapai 150 heart points di aplikasi Google Fit dengan cara berjalan kaki 30 menit hingga 1 jam di pagi hari dalam minggu ini.

Demikian laporan jurnal saya untuk hari ini. 🤭

Semoga mendorong kalian untuk bersyukur juga hari ini. Be thankful! 🤗

Salam,

Paulinus Pandiangan

Tidak Harus Tahu Semua

Hai guys, welcome back.

Saya sengaja membuat judul postingan yang sama dengan yang dibuat pak Budi Rahardjo, dosen di STEI ITB, karena postingan ini juga menekankan hal yang sama dengan ide beliau, yang ditulis di postingan blognya.

Silakan disimak juga postingan beliau agar teman-teman mendapatkan pemahaman yang lebih kaya tentang apa yang persisnya beliau maksud dan yang saya share melalui tulisan ini.

Ilustrasi Fokus

OK, mari kita ke topiknya.

Di lembar refleksi harian untuk 30 Januari di buku The Daily Stoic, pembahasan yang diangkat adalah bahwa (sebenarnya) kita tak perlu selalu tahu (bahkan selalu peduli) terhadap berbagai isu yang beredar bebas di era informasi saat ini.

Ini sebenarnya masih berkaitan dengan postingan saya sebelumnya. Di era informasi saat ini, dimana orang bisa mengakses informasi 24 jam sehari dan 7 hari seminggu (24/7), kemampuan yang sebenarnya diperlukan adalah memilah informasi (dari lautan informasi) yang benar-benar bernilai dan diperlukan. Ada terlalu banyak informasi, yang jika tidak dipilah dengan baik, hanya akan menjadi noise. Distraksi.

Lagi pula, tak semua informasi yang beredar sifatnya esensial. Daripada menggunakan waktu dan energi untuk isu-isu tak penting, alangkah lebih baiknya jika digunakan untuk hal-hal yang bernilai dan memberikan makna bagi kita pribadi. Ini juga adalah bagian dari menggunakan waktu dengan bijaksana.

So, be wise about your time, by giving attention to what really matters.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Video Sinopsis Buku The Psychology of Money

Buku Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel menjadi buku yang menarik karena menurut saya bisa membukakan mata kita pada aspek perilaku kita terhadap uang. Kita menjadi paham bahwa pengelolaan keuangan tak melulu soal aritmetika.

Karena rasa tertarik itu saya akhirnya mencoba mencari tahu apa pendapat orang lain tentang buku ini, dan ada banyak orang yang sudah membahasnya di channel YouTube mereka, maka berikut saya share 3 video dimaksud, dan semuanya berbahasa Indonesia.

Enjoy! 🤗

Click to listen highlighted text!