Meditasi ala Stoik

Kalau gambaran meditasi yang jamak kita lihat adalah orang duduk bersila dengan mata tertutup, tangan terletak di lutut, diam berusaha mengosongkan pikiran, bukan begitu ternyata meditasi dalam stoikisme.

Justru kebalikannya. Meditasi dalam stoikisme adalah menyelam ke dalam pikiran dan mencoba memahami pikiran kita dengan lebih baik dalam diam.

LANJUTKAN MEMBACA …

Stoikisme dan Pandemi

Tentu ada pelajaran kehidupan yang dapat kita peroleh dari pandemi COVID-19 saat ini. Pandemi setidaknya mengajarkan kita pentingnya berbuat baik, sebagaimana kutipan berikut,

“Wherever there is a human being, there is the opportunity for an act of kindness.”

Seneca

Selalu ada kesempatan untuk berbuat baik, terlepas dari situasi yang tengah melanda. Begitulah keyakinan Seneca. Dan melihat situasi pandemi saat ini, tampaknya keyakinan Seneca itu tidak terlalu sulit untuk dibuktikan. It’s just as real as your existence.

LANJUTKAN MEMBACA …

Kalkulator BMI (Body Mass Index)

Berikut kalkulator BMI (Body Mass Index) yang dapat kamu pakai untuk menghitung indeks tinggi dan berat badan.

Kamu dapat mengisi berat dan tinggi badan kamu dan dari perhitungan yang ditampilkan nantinya kamu dapat mengetahui apakah postur kamu berada di kisaran normal atau tidak; apakah kamu mengalami obesitas atau tidak.

Indeks BMI ini tentu saja bukan merupakan indikator yang menyatakan bahwa kamu sehat; lebih ke proporsi tinggi badan terhadap berat badan saja. Posture, so to speak.

Mengutip dari laman ini, hasil BMI yang normal adalah dengan rentang nilai 18.5 – 24.9. Apabila hasil BMI berada di bawah 18.5 berarti asupan kalori harian kamu lebih rendah dari kebutuhan kamu. Oleh karena itu, disarankan untuk mengkonsumsi lebih banyak kalori untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Jika hasil BMI kamu berada di atas 24.9 berarti asupan kalori kamu lebih tinggi dari kebutuhan, sehingga disarankan untuk mengurangi asupan kalori atau dengan berolahraga secara rutin.

Semoga berguna! 🥰

Salam,

Paulinus Pandiangan

Akhirnya Vaksinasi! 🤩

Pada Sabtu, 3 Juli 2021 kemarin, saya akhirnya menerima dosis vaksinasi pertama. Vaksinnya adalah Sinovac, atau dikenal juga dengan CoronaVac.

Dosis kedua akan saya terima kembali nanti pada Sabtu, 31 Juli 2021, kurang dari sebulan setelah dosis pertama.

Senang rasanya bisa mengambil bagian dalam upaya bersama mengatasi pandemi COVID-19 saat ini. Semua terdampak dari pandemi ini, dan sangatlah bijaksana apabila masing-masing individu memberikan sumbangsihnya, tidak hanya dengan melakukan protokol kesehatan dengan cermat, tetapi juga mengikuti program vaksinasi nasional.

Saya yakin pandemi ini belum akan selesai secepat yang kita inginkan bersama, tetapi dengan upaya kolektif, masing-masing mengambil perannya, saya percaya bahwa kita pada waktunya akan mampu.

Semoga.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Musik Bebas Royalti

Kita tentu familiar dengan musik pengiring (backsound) yang sering digunakan dalam video-video online seperti YouTube.

Musik yang digunakan sebagai latar video semacam itu umumnya berlisensi; kita harus membayar untuk dapat menggunakannya. Kabar baiknya adalah tersedia pula musik-musik non-royalti yang dapat digunakan secara bebas tanpa menimbulkan konflik klaim hak cipta (copyright claim) pada video kita.

Berikut disarikan 5 sumber musik non-royalti yang dapat dipertimbangkan untuk digunakan:

  1. Bensound, yang dapat diakses di sini. Situs ini meminta agar kita menampilkan alamat webnya pada deskripsi video YouTube sebagai referensi.
  2. HookSounds, yang dapat diakses di alamat ini.
  3. Channel YouTube Audio Library di alamat ini. Kamu dapat mengunduh versi audio dari musik-musik yang tersedia di sana, misalnya dengan aplikasi SaveFrom.Net.
  4. Channel NoCopyrightSounds di alamat ini.
  5. Channel Free Royalty Music di alamat ini.

Semoga berguna! 🎵🎶

Teori Kepemilikan Barang 10/10

Mengutip dari blog duo The Minimalists, ada sebuah teori sederhana yang bisa membawa kita kepada kesimpulan bahwa kepemilikan barang (material possessions) tidak ada sangkut pautnya dengan kebahagiaan.

Caranya sederhana:

Pertama, tuliskan daftar 10 barang termahal yang telah berhasil kamu beli 10 tahun terakhir, entah mobil, rumah, perhiasan, furnitur, dan lain sebagainya. 10 barang termahal dalam 10 tahun terakhir.

Kedua, tuliskan daftar 10 hal yang paling membuatmu bahagia dalam 10 tahun terakhir; hal-hal yang paling bernilai dan memberikan kesan mendalam. Bisa saja misalnya menyaksikan kelahiran anak yang sudah lama dinantikan, makan bersama orang tua, piknik dengan keluarga, dan lain sebagainya. 10 hal paling berkesan dan paling membahagiakan dalam 10 tahun terakhir.

Lalu sandingkan kedua daftar ini.

Bila kita jujur dengan diri sendiri, kemungkinan besar kita akan menemukan bahwa kedua daftar ini tidak saling bersangkut paut satu dengan yang lain.

Momen-momen paling berkesan, paling berarti, paling membahagiakan tidak bersangkut paut dengan barang-barang mahal yang kita beli dalam 10 tahun terakhir.

Dampak kepemilikan barang-barang mahal terhadap kebahagiaan kita (ternyata) tidak sebesar yang kita bayangkan.


Dengan menyadari hal ini kita akan memiliki kesadaran terhadap pola kita mengkonsumsi barang-barang. Kita akan mampu menjaga ‘jarak emosional’ terhadap barang; untuk selanjutnya tidak terlalu lekat (attached).

I am not my things.

Semoga menginspirasi! 💖

Salam,

Paulinus Pandiangan

Memulai dari Yang Kecil

Hai, sobat! Selamat hari Rabu! 😁

Postingan ini adalah penyampaian ulang dari refleksi yang ditulis oleh Pastor Michael Najim di Where Peter Is, sebuah situs berisikan sumber-sumber daya terkait gereja Katolik.

By the way, homili-homili pastor ini dapat diakses di laman ini.

Baiklah, kita langsung ke topiknya saja: memulai dari yang kecil.

LANJUTKAN MEMBACA …

Menuhankan Filsafat

Sebagai pembelajar stoikisme, ada hal mendasar yang perlu saya ingatkan secara terus menerus pada diriku sendiri: berhati-hatilah untuk tidak jatuh ke dalam kecenderungan untuk memposisikan filsafat sebagai Tuhan. Menuhankan filsafat adalah semacam ‘penyakit’ yang bisa menimpa orang yang melupakan prinsip dasar bahwa semua pengetahuan manusia adalah semua yang ‘dibukakan’ oleh Sang Ilahi-yang memiliki pengetahuan tak terbatas-kepada kita.

God is over everything.

Menuhankan filsafat juga menunjukkan ketidakbijaksanaan kita yang menjadikan filsafat sebagai tujuan, dan bukan sebagai jalan.

Philosophy is not ends. It’s merely means.

Justru filsafat selayaknya menjadi cara kita untuk mampu ‘melihat’ sesuatu yang lebih besar dan indah-dalam hal ini, Tuhan-dalam pengalaman harian. Melalui filsafat aku menuju Tuhan, begitu seharusnya.

Menuhankan filsafat juga menunjukkan kekurangpahaman kita bahwa ilmu pengetahuan (science) dan iman (faith) dapat beriringan dengan baik. Banyak yang menganggap bahwa keduanya terpisah, tidak kompatibel satu dengan yang lain. Guy Consolmagno, SJ, kepala badan perbintangan di Vatikan, menyatakan bahwa segala bentuk kebenaran yang ditemukan melalui ilmu pengetahuan sebenarnya mengarah kepada kebenaran utama yang lebih besar: Tuhan.

Karena itu akan sangat keliru apabila kita menguji eksistensi Tuhan dengan sains, sebagaimana kecenderungan umum para ateis. Sains itu sendiri < Tuhan, sehingga menggunakan sains sebagai instrumen untuk menguji keberadaan Tuhan (sebenarnya) sangat tidak berdasar.

Dunia ini pada dasarnya dipenuhi dengan apa yang disebut dengan logoi spermatikoi, ‘benih-benih kecerdasan’. Tanda-tanda kebaikan Tuhan terpancar di setiap bentuk ciptaan dan setiap bentuk kecerdasan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan manusia berupa sastra, sejarah, musik, seni, film, filsafat, matematika, dan ilmu-ilmu lainnya memberikan wawasan, kebijaksanaan, dan inspirasi, yang semuanya mengarah kepada Sumber Kebijaksanaan itu sendiri. Semua bentuk kecerdasan hanya mungkin diciptakan oleh kecerdasan yang tertinggi, dan dunia ini diciptakan mengikuti prinsip kecerdasan (intelligibility) Sang Pencipta.

Tuhan tidak hanya bisa ditemukan dalam bangunan-bangunan ibadah dan ritual keagamaan. Tuhan itu omnipresent. Dia ada di mana saja, termasuk dalam filsafat stoikisme yang tengah saya pelajari.

Karena itulah kesadaran perlu ditumbuhkan di sini; bahwa ilmu pengetahuan adalah jalan yang hanya akan mengarahkanku kepadaNya.

He is the destination of my entire journey.

So keep learning, but remember that it should lead you to Him. 🙂

Greetings,

Paulinus Pandiangan

Mengapa Fakta Tak Mengubah Perilaku?

Di situasi pandemi saat ini, saya tidak mengerti orang-orang yang masih saja percaya dengan teori-teori konspirasi seputar COVID-19 kendati fakta-fakta sudah terpampang di depan mata.

Saya pun tergelitik dengan (masih) banyaknya orang yang berada di barisan anti-vaxxer. Banyak yang tidak mau divaksin dengan berbagai alasan yang juga jelas-jelas tidak bisa diterima akal sehat.

Why?

Mengapa fakta tidak mengubah perilaku?

Satu aspek menarik pun saya temukan, dan itulah mengapa postingan ini akhirnya terbit.

LANJUTKAN MEMBACA …