Perihal Berdoa

Bagaimana kita sebagai Katolik sebaiknya berdoa?

Sebuah artikel di katolisitas.org telah membahas ini secara detail, dan di sini saya hanya menambahkan sedikit materi berupa video dari seorang frater Kapusin yang membuat channel YouTube bernama Mea Culpa.

Sekedar info, mea culpa sendiri (dibaca /ˌmejəˈkʊlpə/) merupakan versi bahasa Latin untuk menyatakan “Saya orang berdosa“.

Ini tentu saja merupakan pertanyaan yang sangat mendasar dan karena itu menjadi penting, karena jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan pola berdoa kita sehari-hari.

Semoga dari beberapa video berikut kita dapat mengambil 1 atau 2 hal yang baik untuk membantu kita berdoa dengan lebih baik pula.

Dan semoga kita tetap tekun berdoa setiap hari, katakanlah setidaknya menyediakan 1% dari waktu kita setiap hari — atau setara sekitar 15 menit, cukup untuk berdoa Rosario — untuk berkomunikasi dengan Tuhan sungguh dari hati kita.

Pace e Bene. 🙂 🕊

Bagaimana Kita Berdoa? Pesan Santo Agustinus
Belajar Berdoa
Masih Tentang Berdoa

Semoga berguna, and one more thing…

Jesus Christ You Are My Life

Judul di atas merupakan lagu yang bisa dianggap paling populer dalam World Youth Day (WYD) atau Hari Orang Muda Sedunia, suatu buah karya Santo Yohanes Paulus II pada tahun 1984.

Lagunya sendiri diciptakan oleh Marco Frisina, seorang imam sekaligus komposer di Vatikan.

Video “Jesus Christ You Are My Life”

Lirik lagunya tersedia di beberapa alamat web, salah satunya di MusixMatch. Versi MP3nya dapat diunduh di bawah ini:

MP3 Lagu “Jesus Christ You Are My Life”

Lagu ini banyak dipakai sebagai backsound video tentang Santo Yohanes Paulus II semasa hidupnya, salah satunya seperti video berikut:

Semoga lagu ini mengingatkan kita untuk selalu menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai pusat perjalanan kehidupan kita.

Pace e Bene. 🙂 🕊

Hawking dan Arogansi Intelektual

Saya adalah orang yang sempat mengagumi Stephen Hawking, ahli fisika teoretis yang fenomenal itu. Saat itu saya merasa bahwa dia cukup inspiratif: mampu melampaui keterbatasan fisik akibat kelumpuhan saraf motorik yang dideritanya dengan karya-karya intelektualnya yang luar biasa, yang membantu kita untuk setidaknya lebih memahami alam semesta. Salah satu pemikirannya yang cukup populer misalnya teori big bang atau teori ledakan besar, yang mencoba menjelaskan bagaimana alam semesta bermula.

Stephen Hawking

Tetapi semua kekaguman itu menjadi hambar tatkala pada sekitar tahun 2014 dia menegaskan bahwa Tuhan tidak ada. Dia sama sekali tidak percaya akan keberadaan Tuhan.

Dengan segala berkat ketajaman pemikiran untuk menjangkau galaksi dari kursi rodanya, dia ternyata hanya sampai pada kesimpulan yang menurut saya menyedihkan itu. Pathetic. 🙁

Kesimpulan yang pada dasarnya diperoleh dari penalaran yang tidak sempurna. Mengapa tidak sempurna? Karena menurutnya ledakan besar (big bang) adalah sesuatu yang memulai alam semesta dari ketiadaan (nothingness), tetapi siapa atau kuasa apa yang bisa menciptakan ketiadaan itu, dia juga pada dasarnya tidak tahu.

Kecakapan intelektual justru membuatnya menjadi sangat terpaku pada metode-metode ilmiah dimana semuanya harus bisa dinyatakan secara pasti, terukur dengan angka-angka, harus dapat dibuktikan dengan argumen-argumen ilmiah. Dan jika tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, maka “sesuatu” itu pada dasarnya tidak ada.

Dan karena Tuhan (tentu saja) tidak dapat dimodelkan dalam argumen-argumen ilmiah, maka Tuhan, menurut Hawking, adalah “sesuatu” yang sebenarnya tidak ada.

Lalu apa pendapat saya?

Saya selalu meyakini bahwa Tuhan jauh melampaui segala pemikiran. Dan justru karena itulah Dia disebut Tuhan.

Jika pemikiran saya mampu mendikte Tuhan itu seperti apa, maka siapakah sebenarnya yang menjadi Tuhan di sini, saya atau Dia? 😉

Jika saya mampu memahami Tuhan sepenuh-penuhnya dengan akal pikiran saya yang terbatas ini, maka tentu saja posisi Tuhan tidak lebih tinggi dari saya.

Maka, ketika kita mencoba “mengecilkan” Tuhan dengan mencoba memahami Dia dengan pikiran kita yang terbatas, kita sebenarnya sedang “membuat diri kita menjadi Tuhan”, yang memahami pikiran Tuhan yang sesungguhnya.

Dan di situlah letak arogansi kita.

Kita adalah ciptaan, yang merasa memahami Sang Pencipta.

Stephen Hawking adalah satu dari sekian banyak orang yang tampaknya menganggap bahwa Tuhan dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang tidak dapat berjalan beriringan, sebagaimana kecenderungan umum para ateis.

Di sisi lain, ada banyak orang religius yang justru mendalami ilmu pengetahuan, dan dapat menjalani keduanya secara beriringan. Misalnya saja Gregor Mendel, biarawan yang juga penemu ilmu genetika, atau Albertus Magnus yang sangat ahli dalam ilmu mineral dan orang pertama yang menemukan unsur kimia Arsenik, dan deretan biarawan lainnya yang menggeluti ilmu pengetahuan — tanpa harus menyangkal keberadaan Tuhan.

Apa yang sangat beda dari kedua pihak ini — ilmuwan yang meyakini adanya Tuhan dan yang menyangkal?

Menurut saya jawabannya terletak pada kerendahan hati — yang tentu sangat bertolak belakang dengan arogansi.

Sebagaimana yang saya pahami dalam ajaran Katolik, Yesus Kristus selalu meminta kita untuk percaya. Percaya pada penyertaan dan karyaNya dalam setiap situasi hidup. Kita barangkali tidak selalu memahami segala sesuatu, tetapi Tuhan menjanjikan keselamatan, apabila kita percaya dan mengikuti Dia.

Dan untuk bisa sungguh-sungguh menerima Dia, dibutuhkan kualitas kerendahan hati: kesadaran yang tak kunjung henti akan hakekat kita sebagai ciptaan Yang Kuasa, menyadari bahwa kebesaran dan keagungan Tuhan melampaui pemikiran kita yang terbatas.

Bahkan ketika kita melakukan sesuatu yang baik, itu bukan karena daya kuasa kita sendiri. Itu adalah kuasa Tuhan yang bekerja melalui diri kita.

Bukan begitu, saudara-saudariku? 😉

Maka marilah tetap rendah hati dan mencintai Tuhan Yang Maha Agung, agar Ia sungguh berkarya dalam hidup kita, dan semoga kita sungguh menjadi refleksi dari kebaikan hatiNya.

Pace e Bene. 🙂  🕊


P. S. Pencetus hipotesis pertama big bang adalah Monsignor Georges Henri Joseph Édouard Lemaître, seorang biarawan Belgia yang juga seorang astronom dan profesor Fisika di Universitas Katolik Leuven.

Georges Henri Joseph Édouard Lemaître

All or Nothing

“This is something that The Lord has taught me: The person who loses his life and forgets oneself and dies to self is happy. This is the truth.”

— Clare Theresa Crockett (1982 — 2016)

Sabtu, 16 April 2016. Gempa 7.8 skala Richter mengguncang Ekuador, sebuah negara di Amerika Selatan. Itu adalah hari yang menutup cerita kehidupan Clare Theresa Crockett, yang tewas tertimpa reruntuhan gedung sekolah tempat ia mengajar saat berusaha menyelamatkan 5 siswa. Jasadnya ditemukan dalam keadaan menggenggam gitar, alat musik yang biasa ia mainkan…


Tulisan ini adalah tentang cinta. Cinta yang murni dan sepenuhnya. Cinta yang paling sempurna, yang hanya datang dari Allah.

Tuhan mencintai setiap orang tanpa syarat. Ia memanggil semua orang untuk mengikuti jalanNya, melalui cara-caraNya yang indah, yang tak akan terselami oleh pikiran kita yang terbatas. Ia berkarya di dunia melalui tangan-tangan anak-anakNya: kita. Kita semua diberikan kesempatan yang sama untuk mewujudkan karya-karya Tuhan di dunia, sesederhana apa pun hal yang bisa kita lakukan.

Kisah hidup suster Clare Crockett dari Irlandia berikut mungkin bisa menjadi refleksi bagi kita perihal memenuhi panggilan hidup dengan cinta yang sepenuhnya, bahkan sampai ajal menjemputnya di usia yang masih sangat muda, 33 tahun.

Pelajaran hidup dari seorang Katolik seperti suster Clare tentu tidak eksklusif untuk orang Katolik saja. Ini adalah pesan universal tentang menemukan cinta dan kebahagiaan sejati.

Selanjutnya…