Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Memahami ‘Post Hoc Ergo Propter Hoc’

“Setelah minum teh herbal, migrain saya langsung hilang. Pasti teh ini yang menyembuhkannya!”

Konstruksi berpikir seperti di atas adalah salah satu contoh kesalahan logika (logical fallacy). Ada istilah khusus untuk kesalahan logika seperti ini: Post Hoc Ergo Propter Hoc.

Terjemahan sederhananya kira-kira, “After this, therefore because of this“. Pada contoh sebelumnya, karena sembuhnya migrain dirasakan setelah meminum teh herbal, maka teh herbal disimpulkan sebagai penyebab sembuhnya migrain.

Fakta menariknya adalah bahwa kita acap jatuh ke dalam konstruksi berpikir yang keliru seperti ini.

Padahal, hanya karena kejadian A terjadi sebelum kejadian B, tidak berarti mutlak bahwa kejadian A menjadi penyebab B. Bisa saja bahwa kejadian A dan B tidak berhubungan sama sekali, dan bahwa keduanya memiliki penyebab masing-masing yang masih perlu diselidiki lebih lanjut, atau bisa saja bahwa kedua kejadian hanya terjadi secara berurutan saja, tanpa memiliki hubungan sebab-akibat (kausalitas).

Berikut beberapa contoh yang menggambarkan kesalahan logika ini:

  • “Kalau saya lulus ujian, biasanya saya mengkonsumsi permen karet beberapa menit sebelum ujian.” Kesimpulannya jelas bukan permen karet yang membuat seseorang lulus ujian.
  • “Setiap saya selesai mencuci kendaraan, pasti hujan!” Kesimpulannya tentu saja bukan kegiatan mencuci kendaraan yang menyebabkan hujan turun.
  • “Setelah presiden X terpilih, ekonomi negara kita langsung bagus!” Kesimpulannya tentu saja bukan presiden X yang menyebabkan kondisi ekonomi langsung membaik, tetapi ada banyak faktor yang berkontribusi di dalamnya, seperti kebijakan sebelumnya, kondisi pasar global, dan siklus ekonomi.

🌻

Sebenarnya ada beberapa hal yang bisa membantu kita untuk lebih ‘imun’ terhadap kekeliruan berpikir post hoc ergo propter hoc ini:

Pertama, menyadari bahwa korelasi tidak berarti kausalitas. Kita perlu mencari bukti yang menjelaskan sebab sesuatu terjadi. Selain itu, memikirkan penjelasan alternatif juga diperlukan, “Apakah ada faktor lain yang menyebabkan hal ini?”

Kedua, segala sesuatu ada konteksnya. Kita harus memahami konteks dari hal yang terjadi. Faktor-faktor eksternal bisa saja mempengaruhi sesuatu, dan ini perlu dicermati sebelum mengambil kesimpulan.

Ketiga, kita perlu mengetahui pendapat ahli. Asupan berupa analisis para ahli dan penelitian berbasis metode ilmiah sangat diperlukan untuk membantu kita menyimpulkan dengan lebih berdasar dan mantap.

☘️ ☘️ ☘️

Saya menulis ini untuk menjadi pengingat bagi diriku sendiri agar lebih cermat dalam membuat kesimpulan. Semoga bermanfaat juga untuk kalian. Dan ingat, apabila kamu merasa sedikit pusing setelah membaca postingan ini, bukan berarti postingan ini yang membuatmu pusing. 😂

Post hoc ergo propter hoc.

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!