Teori Kepemilikan Barang 10/10

Mengutip dari blog duo The Minimalists, ada sebuah teori sederhana yang bisa membawa kita kepada kesimpulan bahwa kepemilikan barang (material possessions) tidak ada sangkut pautnya dengan kebahagiaan.

Caranya sederhana:

Pertama, tuliskan daftar 10 barang termahal yang telah berhasil kamu beli 10 tahun terakhir, entah mobil, rumah, perhiasan, furnitur, dan lain sebagainya. 10 barang termahal dalam 10 tahun terakhir.

Kedua, tuliskan daftar 10 hal yang paling membuatmu bahagia dalam 10 tahun terakhir; hal-hal yang paling bernilai dan memberikan kesan mendalam. Bisa saja misalnya menyaksikan kelahiran anak yang sudah lama dinantikan, makan bersama orang tua, piknik dengan keluarga, dan lain sebagainya. 10 hal paling berkesan dan paling membahagiakan dalam 10 tahun terakhir.

Lalu sandingkan kedua daftar ini.

Bila kita jujur dengan diri sendiri, kemungkinan besar kita akan menemukan bahwa kedua daftar ini tidak saling bersangkut paut satu dengan yang lain.

Momen-momen paling berkesan, paling berarti, paling membahagiakan tidak bersangkut paut dengan barang-barang mahal yang kita beli dalam 10 tahun terakhir.

Dampak kepemilikan barang-barang mahal terhadap kebahagiaan kita (ternyata) tidak sebesar yang kita bayangkan.


Dengan menyadari hal ini kita akan memiliki kesadaran terhadap pola kita mengkonsumsi barang-barang. Kita akan mampu menjaga ‘jarak emosional’ terhadap barang; untuk selanjutnya tidak terlalu lekat (attached).

I am not my things.

Semoga menginspirasi! 💖

Salam,

Paulinus Pandiangan

Perihal Kemelekatan

René Girard, seorang pemikir Perancis adalah orang pertama yang mengemukakan konsep “hasrat mimetik”. Mimetik sendiri berakar dari sebuah kata dalam bahasa Latin, mimesis , yang artinya: meniru.

Konsep ini menyatakan bahwa keinginan-keinginan kita pada dasarnya tidak sepenuhnya milik kita; mereka justru dilahirkan dan dibentuk dari proses dimana orang meniru keinginan-keinginan orang lain.

LANJUTKAN MEMBACA …