Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Simplify, Simplify, Simplify.

Judul di atas bisa dijadikan mantra kalau kita merasa bahwa kepala kita sedang penuh dengan berbagai hal. Faktanya adalah: berbagai hal dalam kepala tersebut adalah pikiran-pikiran kita sendiri, dan kita kalut dengan pikiran-pikiran kita sendiri. Kita tenggelam dalam benak kita sendiri. Keadaan seperti ini ternyata dapat diatasi dengan mencoba kembali kepada esensi dari berbagai hal yang ‘meributi’ pikiran kita tersebut. Di sinilah penekanan dari mantra tadi: simplify, simplify, simplify. Kalau sudah dibedah dengan tenang, berbagai hal tadi pada akhirnya dapat dipahami dengan lebih baik dan, barangkali, tidak sebesar apa yang terpikirkan di awal, dan bahkan kita bisa ‘mencoret’ berbagai hal yang ternyata tidak esensial dari daftar panjang hal-hal yang ‘meributi’ pikiran.

Ada sebuah teknik menarik yang saya baca di blog Leo Babauta pagi ini. Berikut saya sarikan apa yang menjadi inti idenya:

  • Perasaan kalut ini terjadi karena kita berkomitmen pada terlalu banyak hal. Kita memilih seperti ini karena pada dasarnya kita ingin berusaha menjadi orang yang baik bagi orang lain, sehingga sulit untuk menolak (berkata Tidak pada hal dimaksud).
  • Dengan banyaknya hal yang perlu ditindaklanjuti, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah berfokus pada satu hal untuk satu waktu tertentu (one thing at a time), dan setelahnya barulah kita mengerjakan hal yang berikutnya. Membuat prioritas menjadi sangat penting di sini.
  • Kita harus melatih diri untuk mengatakan Tidak pada berbagai hal yang tidak esensial; dengan kata lain ‘mengamankan’ slot waktu kita yang berharga untuk hal-hal yang bernilai saja.

Pada dasarnya kita harus tetap membuat batasan yang sehat terhadap berbagai hal. Don’t say yes to all things, since not all of them are necessary.

Dan itulah inti dari melakukan penyederhanaan: berfokus pada nilai dan esensi.

Simpel Saja!

Penyakit umum yang terjadi pada banyak orang saat ini adalah overthinking. Terlalu banyak berpikir—atau lebih tepatnya khawatir—terhadap berbagai hal. Mungkin karena informasi yang bisa kita akses sudah terlalu banyak, atau juga karena kurangnya fokus dalam hidup yang membuat orang begitu mudah terdistraksi.

Filsuf Stoikisme bernama Marcus Aurelius nampaknya juga menyadari ‘penyakit’ ini di eranya. Dalam jurnal Meditations dia berbicara tentang perlunya berfokus pada apa yang sedang kita kerjakan dan tidak terganggu dengan bermacam distraksi. “Just do your job“, itulah kalimat yang selalu diucapkan pelatih Bill Belichick kepada para pemainnya. Lakukan dan berfokus saja pada tugas yang di ada di depan mata saat ini.

Kalau kita sungguh menyadari ini, banyak kerumitan dalam berpikir, bertindak, dan bekerja yang sebenarnya bisa diurai. Kalau kita bisa melihat gambaran besar kehidupan dan hanya berfokus pada 1 atau 2 hal yang bernilai bagi kita, hidup akan menjadi lebih simpel, dan kita tidak akan mudah terombang-ambing oleh arus distraksi yang disajikan media-media informasi.

Pertanyaannya, maukah kita menjadi orang yang sungguh hidup simpel, mulai hari ini?

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!