Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Ketika Hidup Tak Sesuai Harapan

Saya baru saja membaca artikel di blog Joshua Becker, Becoming Minimalist, yang sering saya kunjungi. Biasanya ada hal-hal baik yang saya temukan dari tulisan-tulisannya, dan benar saja bahwa pagi ini saya menemukan kembali tulisan yang bagus berjudul When Life Feels Far from What You Imagined.

Saya tetap merekomendasikan kamu yang membaca blog ini untuk tetap membaca versi asli artikelnya. Di sini saya akan merangkum saja tips dari Joshua tentang apa-apa yang bisa dilakukan saat kita berada dalam situasi di mana hidup yang kita impikan tidak sesuai dengan hidup yang sedang dijalani. Kita harus menyadari bahwa pengalaman seperti ini lumrah; bahwa umum terjadi ada ‘gap’ antara aspirasi kita tentang hidup yang seharusnya dengan hidup nyata yang sedang dijalani.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan harapan saat kita berada dalam situasi seperti ini:

Terima keadaan saat ini: Sempurna atau tidak, itulah hidup kita. Penyesalan atau meratapi keadaan tidak akan mengubah apa pun.

Pahamilah bahwa tetap ada pilihan: Kita tentu tidak bisa mengontrol semua yang terjadi dalam hidup, tetapi kita tetap memiliki kendali atas bagaimana kita menyikapinya. Berfokuslah pada hal yang bisa diubah, yaitu sikap kita. Filsuf Epictetus pernah mengatakan satu hal terkait ini,

Temukan sukacita dalam hal-hal kecil: Nikmatilah momen-momen kecil seperti hangatnya sinar matahari, obrolan dengan teman, tawa anak kecil, atau bacaan yang bagus.

Kembangkan rasa syukur dan sikap positif: Selalu ada hal yang bisa disyukuri, bahkan dalam kondisi sulit. Menemukan alasan untuk bersyukur setiap hari atas hal-hal kecil namun berharga jauh lebih baik daripada meratapi keadaan.

Perkuat hubungan personal dengan orang lain: Hubungan yang baik sangat membantu memberikan dukungan ketika kita berada dalam situasi krisis. Keberadaan dukungan ini menjadi pengingat bahwa kita tidak bergelut sendirian. Bahkan untuk orang introvert seperti saya sendiri, dukungan dari keluarga dekat sangat membantu menguatkan dalam situasi-situasi sulit.

Hindari iri hati, dukunglah orang lain: Ketika kita mendukung keberhasilan orang lain, kita mengambil bagian dalam sebuah cerita kehidupan yang baik, dan ini bisa mendekatkan kita untuk mengalami emosi positif.

Sayangi diri sendiri: Menyadari bahwa merasa terpuruk adalah pengalaman manusiawi yang sangat lumrah akan membantu kita memperlakukan diri dengan penuh pengertian. Menanamkan dalam benak bahwa kesulitan bersifat sementara akan membantu kita untuk bertahan dalam pergumulan dengan tetap memiliki harapan bahwa persoalan yang tengah dihadapi (justru) bisa membuat kita semakin bijaksana. Seringkali permasalahan hidup mengajarkan kita hal-hal berharga.

Mencoba hal baru: Bergabung dengan klub hobi, komunitas pengembangan diri atau komunitas agama akan membantu kita me’redefinisi’ landasan hidup baru, menguatkan fondasi yang telah ada sebelumnya.

Mengembangkan diri: Belajar dan bertumbuh setiap hari, sekecil apa pun hal yang bisa dipelajari. Setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki dan mengembangkan kapasitas diri.

Hidup tentu tidak selalu mudah dan sesuai harapan. Hidup itu kompleks dan sering tak terduga. Terlalu banyak faktor yang tak bisa kita kendalikan. Tetapi tetap saja hidup adalah perjalanan yang bisa menjadi cerita yang menarik, apabila kita bertahan untuk menyelesaikannya sampai akhir, sambil tetap belajar dan bertumbuh setiap hari.

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari tiga anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.

Click to listen highlighted text!