Menuhankan Filsafat

Sebagai pembelajar stoikisme, ada hal mendasar yang perlu saya ingatkan secara terus menerus pada diriku sendiri: berhati-hatilah untuk tidak jatuh ke dalam kecenderungan untuk memposisikan filsafat sebagai Tuhan. Menuhankan filsafat adalah semacam ‘penyakit’ yang bisa menimpa orang yang melupakan prinsip dasar bahwa semua pengetahuan manusia adalah semua yang ‘dibukakan’ oleh Sang Ilahi-yang memiliki pengetahuan tak terbatas-kepada kita.

God is over everything.

Menuhankan filsafat juga menunjukkan ketidakbijaksanaan kita yang menjadikan filsafat sebagai tujuan, dan bukan sebagai jalan.

Philosophy is not ends. It’s merely means.

Justru filsafat selayaknya menjadi cara kita untuk mampu ‘melihat’ sesuatu yang lebih besar dan indah-dalam hal ini, Tuhan-dalam pengalaman harian. Melalui filsafat aku menuju Tuhan, begitu seharusnya.

Menuhankan filsafat juga menunjukkan kekurangpahaman kita bahwa ilmu pengetahuan (science) dan iman (faith) dapat beriringan dengan baik. Banyak yang menganggap bahwa keduanya terpisah, tidak kompatibel satu dengan yang lain. Guy Consolmagno, SJ, kepala badan perbintangan di Vatikan, menyatakan bahwa segala bentuk kebenaran yang ditemukan melalui ilmu pengetahuan sebenarnya mengarah kepada kebenaran utama yang lebih besar: Tuhan.

Karena itu akan sangat keliru apabila kita menguji eksistensi Tuhan dengan sains, sebagaimana kecenderungan umum para ateis. Sains itu sendiri < Tuhan, sehingga menggunakan sains sebagai instrumen untuk menguji keberadaan Tuhan (sebenarnya) sangat tidak berdasar.

Dunia ini pada dasarnya dipenuhi dengan apa yang disebut dengan logoi spermatikoi, ‘benih-benih kecerdasan’. Tanda-tanda kebaikan Tuhan terpancar di setiap bentuk ciptaan dan setiap bentuk kecerdasan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan manusia berupa sastra, sejarah, musik, seni, film, filsafat, matematika, dan ilmu-ilmu lainnya memberikan wawasan, kebijaksanaan, dan inspirasi, yang semuanya mengarah kepada Sumber Kebijaksanaan itu sendiri. Semua bentuk kecerdasan hanya mungkin diciptakan oleh kecerdasan yang tertinggi, dan dunia ini diciptakan mengikuti prinsip kecerdasan (intelligibility) Sang Pencipta.

Tuhan tidak hanya bisa ditemukan dalam bangunan-bangunan ibadah dan ritual keagamaan. Tuhan itu omnipresent. Dia ada di mana saja, termasuk dalam filsafat stoikisme yang tengah saya pelajari.

Karena itulah kesadaran perlu ditumbuhkan di sini; bahwa ilmu pengetahuan adalah jalan yang hanya akan mengarahkanku kepadaNya.

He is the destination of my entire journey.

So keep learning, but remember that it should lead you to Him. 🙂

Greetings,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.