Memulai dari Yang Kecil

Hai, sobat! Selamat hari Rabu! 😁

Postingan ini adalah penyampaian ulang dari refleksi yang ditulis oleh Pastor Michael Najim di Where Peter Is, sebuah situs berisikan sumber-sumber daya terkait gereja Katolik.

By the way, homili-homili pastor ini dapat diakses di laman ini.

Baiklah, kita langsung ke topiknya saja: memulai dari yang kecil.

Dalam tulisannya-yang secara lengkap bisa dibaca di sini-pastor Michael mengutip injil Markus bab 4 ayat 30-32 tentang perumpamaan biji sesawi, sebagai berikut,

Kata-Nya lagi: “Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Disalin dari sini.

Melalui kutipan ini, Yesus menegaskan bahwa perihal kerajaan Allah berawal dari yang kecil, dan ini sudah terlihat sejak dari kelahiranNya. Yesus lahir di tempat yang tersembunyi di kota Betlehem dalam diam, tanpa kemeriahan pesta. Bahkan yang mengunjungiNya pertama sekali adalah para gembala yang sederhana, di tempat yang juga sederhana.

Keluarga Kudus juga hidup sebagai keluarga sederhana, tidak menonjol, dan Yesus bahkan baru mulai mengajar setelah berusia 30 tahun, dan itu pun hanya bermula dari 12 orang rasul.

Hari ini umat Katolik tersebar di mana-mana, dengan jumlah sekitar 1 triliun orang. ‘Benih sesawi’ yang hanya berawal dari 12 orang telah bertumbuh menjadi tanaman besar.

Semua berawal dari yang kecil.

Ilustrasi Biji Sesawi

Begitu juga dengan para santo dan santa yang memulai dari komunitas-komunitas kecil, yang perlahan bertumbuh dan menyebar luas. Santo Fransiskus, misalnya, atau Santa Clara, Santo Dominikus, Santa Katarina, Santo Ignatius Loyola, Santa Teresa dari Kalkuta.

Semua berawal dari yang kecil.

Lalu apa maknanya bagi kita?

Untuk bertumbuh dalam kesucian dan kebaikan, kita bisa memulai dari hal-hal kecil.

Kita bisa memulainya dari hubungan kita dengan Tuhan.

Kita, misalnya, bisa memulai dengan berdoa dan bermeditasi selama 5 menit setiap hari, lalu bertumbuh menjadi 10 menit, dan lalu 15 menit, dan seterusnya. Beginilah proses yang terjadi hingga akhirnya kita mengenal istilah jam kudus (holy hour); satu jam per hari yang kita dedikasikan hanya untuk bermeditasi dan berdoa, membangun relasi dengan Yang Maha Kuasa.

Semua berawal dari yang kecil.

Dari kebiasaan berdoa akan mengalirlah berkat untuk hidup baik dan kudus, dan dari sini kita akan menampakkan tindakan-tindakan kecil yang dilandasi kasih, kebaikan, dan kesabaran setiap hari: memberi perhatian lebih kepada anak, melakukan pekerjaan dengan baik, membiarkan seseorang mendahului kita di jalan raya, bersikap sabar menghadapi keluarga dan rekan kerja, berkata santun kepada suami atau istri.

Semakin kita melakukan tindakan-tindakan kasih, kebaikan, dan kesabaran, berkat Tuhan pun akan bertambah, sehingga keinginan kita untuk berbuat baik akan lebih kuat dibandingkan keinginan kita untuk berbuat dosa.

Semua itu karena ‘biji sesawi’ dari Tuhan bertumbuh di dalam diri kita dan pada akhirnya mengubah kita menjadi lebih baik hari demi hari. Benih yang ditanamkan Tuhan dalam diri kita pada akhirnya bertumbuh besar dan memancarkan kehadiran Tuhan bagi sesama.

Dan dengan begitulah Kerajaan Allah menyebar.


Dari refleksi pastor Michael di atas kita bisa mencoba untuk memulai hari ini juga.

Mulai dari hal yang kecil.

Berdoa secara rutin setiap hari dan melakukan tindakan-tindakan kecil yang dilandasi kasih, kebaikan, kesabaran.

Benih sesawi itu akan tumbuh menjadi besar, dan kita akan menjadi bukti kehadiran Tuhan secara nyata di dunia.

❀ ❀ ❀

Salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.