On Stillness

Ada sebuah idiom yang saya suka dalam bahasa Inggris: stop and smell the roses. Kira-kira artinya adalah berhenti sesaat dari kesibukan dan mencoba mengapresiasi indahnya dunia dan kehidupan itu sendiri.

Mengapa idiom seperti ini bisa muncul? Pasti karena sering terjadi bahwa kita, manusia, seringkali ‘larut’ dalam kesibukan dan hiruk pikuk dunia sampai hampir lupa ‘ngerem‘. Beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya for the sake of busyness itself. Terlihat sibuk seringkali disama artikan dengan semakin produktif, sehingga terlihat sibuk dianggap bernilai lebih. Paradigma ini cukup umum ditemui.

Kita memang dituntut untuk bekerja keras dalam hidup ini, berjuang untuk mewujudkan niat-niat baik hati kita. Akan tetapi saya percaya bahwa Tuhan menganugerahkan kehidupan ini kepada kita untuk dinikmati dan dimaknai juga dalam konteks keterhubungan dengan kehidupan dalam skala yang lebih luas: alam semesta. We are all connected in the end.

So, it’s wise to take time to stop and smell the roses.

Birunya langit dihiasi awan putih yang polanya selalu berganti, anggunnya hijau tanaman di bawah sinar matahari, merdunya suara burung yang memuji penciptaNya, segarnya udara yang masih bisa kita hirup… ah, terlalu sayang rasanya untuk dilewatkan begitu saja.

Baik dan ramahnya teman-teman yang membantu pekerjaan hari ini, tak terduganya berkat Tuhan dalam keluarga yang melebihi ekspektasi kita, manisnya senyuman anak saat bermain dengan kita sore ini… ah, rasanya terlalu sayang untuk tak disyukuri dalam keheningan doa. Thanks God for all these!

He says, “Be still, and know that I am God; I will be exalted among the nations, I will be exalted in the earth.”

Psalm 46 : 10 (New International Version)

Be still, and know that I’m God“. Begitu kata-kata dalam Mazmur bab 46 ayat 10. Segala isi semesta ini dan semua yang terjadi di dalamnya ada dalam kendali Tuhan, dan Dialah sang empunya rancangan yang terbaik, dan Dia hanya akan ditemukan dalam diam, dalam keheningan riuh rendah alam pikiran.

Di Italia ada sebuah seni untuk berdiam tidak melakukan apa-apa, l’arte di non fare niente . Bisa dilakukan, misalnya, hanya dengan duduk di kursi yang nyaman di pekarangan dengan secangkir kopi dan menikmati sinar matahari pagi. Just open to the wonders of nature.

Dengan berhenti dan berefleksi kita akan menyadari bahwa alam dan kehidupan ini tercipta untuk dinikmati dengan sedikit lebih lambat, bukan dengan ‘ngebut‘ terus-terusan, mencoba menikmati (bahkan mencintai!) setiap proses kehidupan dari waktu ke waktu dan menemukan makna di dalamnya. Dengan berhenti sejenak kita akan menyadari kecilnya diri kita sebagai bagian dari alam semesta yang luas ini, dan betapa besarnya kasihNya yang menaungi segala yang hidup di bawah mentari. Dengan berhenti dalam diam kita akan menyadari bahwa, sungguh, Dialah Tuhan. Only in stillness, He is found and felt.

Ilustrasi Langit Biru

Video dari channel Green Renaissance berikut ini barangkali cukup mewakili untuk menggambarkan bagaimana persisnya ‘ngerem‘ yang saya maksud:

Dance with Life

Bagaimana dengan hidupmu, sobat? Sudahkah engkau mencoba untuk menatap langit sedikit lebih lama hari ini dan sedikit berefleksi?

Be grateful for today. It’s a true gift. 😊

Salam,

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.