(Masih) tentang Penderitaan

Isu penderitaan (suffering) selalu menarik bagi saya. Di satu sisi penderitaan ini universal (dialami semua orang), di sisi lain ia tetap menjadi misteri.

Ia universal karena semua orang mengalami penderitaan. Tak ada orang yang meninggalkan kehidupan di dunia ini tanpa goresan, entah itu goresan fisik di kulit atau luka di hati. Penderitaan hanya soal waktu, semua pasti akan mengalaminya, tanpa kecuali.

Ia (tetap) misteri karena manusia tak akan pernah bisa memahami penderitaan ini dengan sempurna. Manusia akan tetap berkutat dengan persoalan: apabila Tuhan memang Maha Baik, mengapa Ia mengizinkan begitu banyak kehancuran, kematian, dan penyakit? Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Pengasih mengizinkan seorang bayi tak berdosa untuk menderita kanker langka sejak lahir dan harus meninggal? . . . Tetap ada sisi dari penderitaan yang tak akan benar-benar kita pahami dengan rasio kita.

Universal tapi tetap sebagai misteri.

Tetapi lalu saya tergelitik oleh Yesus yang tersalib itu. Apabila Yesus juga memilih salib sebagai jalanNya, nampaknya perspektif kita tentang salib-lah yang harus dibarui. Pribadi Yesus yang tersalib menunjukkan solidaritasNya dengan segala bentuk penderitaan yang kita alami: fisik, psikologis, eksistensial. Ternyata salib dan kematian bukan akhir. KebangkitanNya menjadi daya yang mengubah makna penderitaan: selalu ada harapan; bahwa cahaya Tuhan tak akan redup ditelan kegelapan.

Sama seperti langit cerah yang selalu bisa muncul setelah petir dan hujan deras.

Maka sungguh benarlah ungkapan ini: No Easter Sunday without Good Friday. Tak ada kebangkitan tanpa penderitaan dan kematian. Jalan salib adalah jalan satu-satunya menuju keselamatan. The way of the cross is the only way. Sebagai pengikut Yesus, kita sudah diingatkan sejak awal untuk siap memanggul salib kita setiap hari.

Saya menyatakan ini sebagai sesuatu yang secara perlahan semakin saya yakini kebenarannya seiring waktu, dan saya sama sekali tidak berusaha ‘mengecilkan’ rasa sakit yang ditimbulkan penderitaan. Penderitaan bisa sangat menyakitkan, meninggalkan luka mendalam yang membuat dunia kita rasanya tak sama lagi. Kehilangan orang tercinta, misalnya, tetap akan dialami sebagai kehilangan bagian dari diri kita, yang barangkali tidak akan pernah benar-benar terpulihkan.

Atau kehilangan makna hidup, yang membuat orang merasa (seolah) sudah mati walaupun raganya masih hidup. Penderitaan eksistensial.

Atau luka akibat pengkhianatan orang-orang terdekat, yang terlihat seperti teman tetapi ternyata menusuk dari belakang. Penderitaan psikologis.

Tetapi apa pun bentuk penderitaan yang ‘tersaji’ di depanmu, sobat, panggullah salibmu dengan penuh pengharapan. Tuhan yang telah terlebih dulu menderita akan selalu menyertaimu. Barangkali di kehidupan ini kita tidak akan memahami apa makna di balik semuanya, tetapi di kehidupan sesudah kematian, who knows?

O, Jesus, let me take part in Your Holy Cross…

With love ❤,

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.