Tentang Keberuntungan dan Risiko

Pernah mendengar ungkapan “proses tidak akan mengkhianati hasil?”

Sekilas terkesan benar, tetapi kita akan melihat sebentar lagi bahwa kalimat itu tak sepenuhnya benar. “Proses tidak akan mengkhianati hasil” menyiratkan bahwa hasil hanya berkorelasi dengan proses. Kalau prosesnya baik, hasilnya PASTI baik. Kalimat ini mempersempit HASIL hanya sebagai dampak dari PROSES, tetapi pada kenyataannya ada kekuatan-kekuatan lain yang mempengaruhi sebuah hasil: keberuntungan dan risiko.

Mari kita simak kisah berikut.


Bill Dougall adalah mantan pilot perang dunia ke II yang beralih profesi menjadi seorang guru matematika dan sains di Lakeside School di Seattle, Amerika Serikat. Visinya yang jauh ke depan mendorongnya membuat petisi agar sekolah tempatnya mengajar menyewa komputer mainframe milik General Electric untuk dipakai di sekolah. Tujuannya agar kemampuan siswa menggunakan komputer dapat dipersiapkan sebelum memasuki perguruan tinggi.

Bill Gates adalah salah satu siswa di sekolah tersebut.

Bill Gates bertemu dengan Paul Allen di sekolah tersebut pada tahun 1968 saat ia berusia 13 tahun. Mereka dengan cepat menjadi akrab karena kegemaran yang sama untuk mempelajari komputer. Pada usia mereka kebanyakan mahasiswa perguruan tinggi bahkan belum pernah mengakses komputer sama sekali.

Di balik kesuksesan Bill Gates ada sebuah statistik menarik.

Pada tahun 1968 tersebut ada sekitar 303 juta orang yang sedang bersekolah di tingkat SMP menurut data PBB.

Sekitar 18 juta di antaranya tinggal di Amerika Serikat.

Dari 18 juta tersebut ada sekitar 270.000 siswa di Washington.

Dan dari 270 ribu siswa itu ada 100 ribu yang tinggal di Seattle.

Dan hanya 300 di antaranya bersekolah di Lakeside.

Hanya sekitar sepersejuta siswa sekolah menengah yang memiliki akses ke perangkat komputer.

Dari statistik ini terlihat jelas ada faktor keberuntungan yang sangat mempengaruhi kesuksesan Bill Gates dan Paul Allen, duo pendiri Microsoft.

Ketika berpidato di sekolah ini pada tahun 2005, Bill Gates dengan terbuka mengungkapkan, “Microsoft tidak akan pernah berdiri jika tak ada sekolah Lakeside.”

Dan Lakeside mungkin tak akan pernah melahirkan Bill Gates yang ahli komputer tanpa visi sang guru, Bill Dougall.

Bill Gates memang terkenal jenius, tapi tanpa kekuatan keberuntungan yang menempatkannya di Lakeside, barangkali cerita Bill Gates akan berbeda dengan yang dikenal dunia saat ini.

Di sisi lain keberuntungan, ada risiko. Dan kisah berikut ini menggambarkannya dengan sangat baik.

Ternyata, ada figur ketiga dalam kisah Bill Gates. Dialah Kent Evans.

Kent Evans juga sangat suka komputer dan cukup ahli menggunakannya. Dia sering berdiskusi dengan Bill Gates dan membuat proyek bersama-sama untuk membantu administrasi sekolahnya menggunakan komputer. Mereka juga mempunyai rencana besar di masa depan, dan barangkali Microsoft bisa saja didirikan oleh trio Bill Gates, Paul Allen, dan Kent Evans, andai keberuntungan berpihak pada Kent Evans.

Tetapi nasib berkata lain. Kent Evans meninggal di usia muda saat melakukan pendakian.

Sebuah data menarik pun terkuak. Angka kematian tahunan di Amerika Serikat akibat pendakian gunung hanya sekitar 1 per sejuta. Kemungkinan yang sangat kecil, tetapi justru jatuh ke tangan Kent Evans.


Perhatikan kedua probabilitas dari kisah di atas. Kemungkinan orang bersekolah di Lakeside dan kemungkinan orang meninggal dalam pendakian: sama-sama kurang lebih sekitar 1 per sejuta.

Keberuntungan dan risiko ibarat dua sisi koin. Keduanya memiliki kekuatan yang sama, tetapi dalam arah yang berbeda. Bill Gates dipengaruhi kekuatan keberuntungan, Kent Evans dipengaruhi oleh kekuatan risiko.

Sukses tidak sepenuhnya terjadi akibat upaya atau karena kemampuan. Ada kekuatan keberuntungan dan risiko yang juga sangat kuat pengaruhnya, sebagaimana jelas terlihat pada kisah di atas.

Tetapi kita sering tidak mengakui keberadaan kekuatan ini karena sulit mengukurnya. Sangat sulit menentukan seberapa besar keberuntungan mempengaruhi kesuksesan, sehingga akhirnya kita terjebak dalam simplifikasi: menyempitkan kesuksesan hanya sebagai akibat dari upaya dan keahlian.

Jadi, ketika Anda mendengar dan melihat tokoh sukses di media, sadarilah bahwa ia mungkin seorang pekerja keras dan sangat mumpuni kemampuannya, tapi sadarilah juga bahwa, mungkin, dia hanya beruntung.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.