Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Mendefinisikan Sukses

Sukses secara umum diukur dari apa yang terlihat dan bisa diukur saja: perolehan kekayaan, posisi dalam jenjang karir, penghargaan yang diraih, dan sebagainya. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan metriks ini, akan tetapi, ternyata tidak selalu tepat dalam menggambarkan sukses yang sesungguhnya.

Mari kita mengambil kasus orangtua yang ‘dianggap’ sukses. Parameter sukses yang dilihat biasanya adalah keberhasilan anaknya. Orangtua dianggap sukses kalau anak-anaknya juga sukses. Orangtua dianggap berhasil mendidik anak-anaknya apabila anak-anaknya menjadi orang-orang yang baik dan berhasil dalam hidup.

Lalu bagaimana kalau orangtua yang baik memiliki 1 anak yang ternyata arah hidupnya melenceng dari saudara-saudaranya? Misalnya ada 4 anak, dimana 3 di antaranya berhasil dan ada 1 yang tidak. Apakah lalu adil kalau orangtuanya dianggap gagal? Padahal orangtuanya menganut nilai-nilai yang baik dan telah berusaha mendidik semua anaknya dengan sebaik mungkin.

Dalam filsafat Stoikisme, outcome atau buah dari upaya yang kita lakukan sebenarnya berada di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan (dalam kendali kita) adalah berupaya sebaik mungkin dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang kita miliki. Akan tetapi ketika hasilnya ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, itu sudah di luar kendali kita. Kita harus selalu menyadari bahwa hasil (outcome) tidak selalu berbanding lurus dengan upaya. Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang seseorang dalam hal ini, dan tidak hanya soal pola asuh saja.

Jadi tentu saja tidak adil kalau kita serta merta langsung menyalahkan orangtua saat ada anak mereka yang sedikit melenceng dari nilai-nilai yang diajarkan pada mereka.

Ada banyak contoh lain dari hal semacam ini:

  • Pebisnis yang jujur bisa saja memiliki perusahaan dan penghasilan yang lebih kecil dari pengusaha yang rakus.
  • Orang bertalenta dan pekerja keras bisa saja memperoleh penghasilan yang lebih kecil dibandingkan orang yang hanya berfokus untuk mengejar profit.
  • Ibu yang mendedikasikan waktunya merawat dan membesarkan anak-anak akan mendapatkan lebih sedikit piagam dan penghargaan dibandingkan ibu yang memilih berkarir dan menjadi figur publik.
  • Politisi yang berintegritas bisa saja kalah dalam pemilihan dari politisi yang curang dan korup.
  • Dan banyak contoh lainnya yang bisa dilihat di sekitar kita.

Maka jelas sangat tidak adil apabila kita melihat sukses hanya dari apa yang terlihat di luar. Saya lebih setuju apabila kesuksesan dilihat dari kesesuaian antara nilai-nilai yang kita anut dengan laku hidup kita sehari-hari, hidup sepenuhnya dan intensional, berfokus untuk memberikan manfaat.

Dibanding orang yang harus menggadaikan harga dirinya hanya supaya terlihat berkilau di mata dunia, orang-orang yang setia mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang dianutnya jauh lebih berharga di mata saya-dan mereka telah mencapai sukses yang sesungguhnya!

Menurutmu bagaimana? 😉


Note: Tulisan ini adalah penulisan ulang dengan bahasa saya sendiri postingan Joshua Becker di laman ini: https://www.becomingminimalist.com/define-success/

Tentang Keberuntungan dan Risiko

Pernah mendengar ungkapan “proses tidak akan mengkhianati hasil?”

Sekilas terkesan benar, tetapi kita akan melihat sebentar lagi bahwa kalimat itu tak sepenuhnya benar. “Proses tidak akan mengkhianati hasil” menyiratkan bahwa hasil hanya berkorelasi dengan proses. Kalau prosesnya baik, hasilnya PASTI baik. Kalimat ini mempersempit HASIL hanya sebagai dampak dari PROSES, tetapi pada kenyataannya ada kekuatan-kekuatan lain yang mempengaruhi sebuah hasil: keberuntungan dan risiko.

Mari kita simak kisah berikut.

LANJUTKAN MEMBACA …
Click to listen highlighted text!