Memaknai Penderitaan

Masa Pra Paskah ini menjadi waktu yang sangat relevan bagi perenungan tentang penderitaan (suffering). Bagaimana tidak, puasa itu sejatinya adalah penderitaan, ketidaknyamanan yang dipilih untuk dijalani bersama Kristus. Kita mengambil bagian dalam jalan derita yang dilalui Kristus sendiri. Masa Pra Paskah mengajarkan kita bahwa tidak ada kejayaan kebangkitan tanpa penderitaan. No resurrection without Calvary.

Suatu pertanyaan umum terkait penderitaan manusia adalah, apabila Tuhan memang maha baik dan pemurah, mengapa Ia membiarkan penderitaan terjadi?

Pertanyaan inilah juga yang sering sekali menjadi dasar bagi banyak orang untuk menjadi tidak percaya pada Tuhan.

Tetapi melalui tulisan ini, saya ingin mengajak saudara-saudariku sekalian yang menyempatkan membaca ini agar mencoba mengajukan pertanyaan yang lain: apabila penderitaan memang diizinkan oleh Tuhan untuk kita alami, bagaimana kita harus memaknainya?

Injil memberitakan bahwa roh sendirilah yang menuntun Yesus ke padang gurun. Perhatikan. Yesus dituntun oleh roh ke padang gurun untuk mengalami pencobaan dan penderitaan. Artinya penderitaan dipakai Allah dalam rancanganNya yang baik. Allah memandang bahwa penderitaan itu memiliki kekuatan untuk memperbaiki kualitas kemanusiaan kita. Penderitaan justru dapat ditransformasi oleh Allah menjadi sesuatu yang menguatkan. Simak di video berikut ini.

Ada Malaikat di Padang Gurun

Pengalaman hidup kita mengajarkan bahwa selalu ada berkat tersembunyi di balik penderitaan yang pada saatnya akan tersingkap bagi kita. Blessing in disguise.

Tentu saja yang namanya penderitaan pasti tidak mengenakkan, membuat tidak nyaman, bahkan sangat menyakitkan. Tetapi rasanya kita tidak akan bisa bertumbuh menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, lebih bijaksana, tanpa penderitaan. See? Penderitaan tidak hanya soal rasa sakit, tapi juga soal pertumbuhan kita sebagai manusia.

Penderitaan adalah pengalaman universal manusia yang tidak terelakkan. Setiap orang pasti pernah mengalami rasa sakit dan penderitaan dalam perjalanan hidupnya. Masa berada di padang gurun adalah pengalaman universal kita semua. Teladan Yesus mengajarkan kita tentang bagaimana kita harus menjalaninya: dengan tetap bersandar pada roh Ilahi yang akan meneguhkan dan membantu kita melawan godaan setan di masa-masa penuh kesukaran, dan setia untuk mengambil bagian dalam jalan penderitaan yang telah dilalui Kristus sendiri. Jika kita berada di jalan Kristus, Dia akan membawa kita kepada kejayaan. Kita akan mampu keluar sebagai pemenang. Kita tidak akan takluk pada setan. No victory for the devils.

Dan dalam kisah Yesus dicobai di padang gurun malaikat-malaikat juga besertaNya. MelayaniNya. Kita juga akan mengalami bahwa di tengah kekelaman hidup sekali pun, Tuhan selalu ada bersama kita, dan Dia akan selalu berusaha menggapai kita dengan tanganNya yang kudus. Kita harus sungguh bersandar pada roh Ilahi, karena roh yang menuntun kita ke padang gurun juga akan membawa kita melewati masa-masa di padang gurun.

Saya menyatakan ini bukan atas kekuatan saya sendiri, dan saya juga sama lemahnya seperti Anda, dekat dengan dosa. Roh Kudus-lah yang berbicara kepada Anda saat ini melalui apa yang tertulis melalui jari jemari saya.

Mari mohon bimbingan roh Ilahi agar kita bersama sungguh setia menjalani penderitaan, jalan satu-satunya menuju kejayaan kebangkitan. Kristus telah terlebih dahulu menderita untuk keselamatan kita. Mari ambil bagian dalam misi suci ini.

Tuhan, tuntunlah aku ke Kalvari…

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.