Pandemi dan Problem Kebosanan

Kebosanan

Pandemi COVID-19 saat ini menimbulkan banyak sekali dampak, salah satunya mengharuskan kita untuk menghentikan hampir semua kegiatan di luar rumah. Stay at home. Ini merupakan cara kita untuk melandaikan kurva penyebaran virus.

Menghabiskan waktu seharian di rumah tentu saja menimbulkan kebosanan, dan ini normal sebenarnya. Perihal kebosanan itulah yang tertangkap dalam sebuah tweet berikut,

Di dalam tweet tersebut juga tergurat solusi yang bagus.

Pertama, penerimaan.

Kebosanan harus diterima sebagai sebuah kebosanan. Penerimaan. Acceptance. Penerimaan ini saya kira sebuah skill yang sangat berguna juga dalam mengarungi kehidupan. Bahkan dalam filsafat Stoikisme ada istilah amor fatimencintai nasib. Ini perihal menerima keadaan yang terjadi sebagaimana memang harus terjadi, walau tidak selalu sesuai dengan ekspektasi kita.

Kedua, menggunakan waktu.

Ketimbang berfokus pada kebosanan itu sendiri, waktu luang yang ada dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik, yang bisa menghasilkan sesuatu. Membaca buku, misalnya. Waktu kosong yang banyak tersedia justru sebenarnya bisa digunakan untuk ‘menggali’ hal-hal baru yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Saya jadi teringat dengan quote dari Blaise Pascal, “All of humanity’s problems stem from man’s inability to sit quietly in a room alone.” Pandemi yang mengharuskan kita untuk berdiam di rumah ini justru memberikan kesempatan untuk kita untuk berpikir dalam, bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang dalam dan penting. Ketika sebelum pandemi kita banyak menghabiskan waktu dengan mengkonsumsi hal-hal yang non-esensial, hal-hal receh, maka pandemi ini menjadi momen bagi kita untuk berefleksi, to wrestle with deep and fundamental questions.

Tak kecil kemungkinan bahwa masa pandemi ini adalah masa pikiran-pikiran terbaikmu bisa muncul. Sejarah umat manusia telah membuktikan, lagi dan lagi, bahwa ide-ide terbaik justru lahir di tengah krisis.

Dan satu hal lagi, mengeluhkan kebosanan bukanlah pilihan terbaik. Semua orang pasti pernah bosan dalam hidupnya, tapi tak semua orang mengeluhkan kebosanan itu. Mereka mengelolanya, dengan cara mereka sendiri. So, find your way!

Salam,

Paulinus Pandiangan

Gratitude Notes

The following is my gratitude notes for 15 July 2021. I first wrote this on my phone, but I later think that I should post it here too.

So, here it comes: 5-things I am grateful for:

  1. My health. I am so grateful that during this pandemic I am still healthy. So many people got infected with COVID-19, many lost their loved ones and family members. Being healthy during this crisis time is a true gift.
  2. My family well-being. Knowing that my parents, my sisters and their families, my wife and my sons in good condition makes me so grateful. I am so blessed. This comes from God directly.
  3. My job. Still having a job this time is a real blessing. I am among the lucky ones who still have a job. Many people around the world suffered from this pandemic; many lost their jobs as a consequence of COVID-19. Many got their businesses closed too. I am so lucky to still have an income to provide the needs of my family.
  4. My kids. I am so grateful that God bless our family by giving us wonderful kids: Donatus Gregorius Pandiangan and Rafael Pandiangan. Right now, my wife is being pregnant, so our third kid is coming! What a blessing! 🤩
  5. My parents. I am so blessed that both my parents are still alive and healthy, and that I could support them financially. Many of my schoolmates have lost one or both of their parents. Having both of them healthy makes me so thankful to God, The One who is behind all the blessings in our family.

Those are the five things I am most grateful about. There are many more to be grateful about, for sure. The weather I am having now, for instance, and all the little things that support my life and my well-being today.

If you’re reading this, be convinced that your life is precious too. It’s a gift from God, like, really. Thank Him for all the gifts and blessings in your life.

Regards,

Paulinus Pandiangan

Stoikisme dan Pandemi

Tentu ada pelajaran kehidupan yang dapat kita peroleh dari pandemi COVID-19 saat ini. Pandemi setidaknya mengajarkan kita pentingnya berbuat baik, sebagaimana kutipan berikut,

“Wherever there is a human being, there is the opportunity for an act of kindness.”

Seneca

Selalu ada kesempatan untuk berbuat baik, terlepas dari situasi yang tengah melanda. Begitulah keyakinan Seneca. Dan melihat situasi pandemi saat ini, tampaknya keyakinan Seneca itu tidak terlalu sulit untuk dibuktikan. It’s just as real as your existence.

LANJUTKAN MEMBACA …

Akhirnya Vaksinasi! 🤩

Pada Sabtu, 3 Juli 2021 kemarin, saya akhirnya menerima dosis vaksinasi pertama. Vaksinnya adalah Sinovac, atau dikenal juga dengan CoronaVac.

Dosis kedua akan saya terima kembali nanti pada Sabtu, 31 Juli 2021, kurang dari sebulan setelah dosis pertama.

Senang rasanya bisa mengambil bagian dalam upaya bersama mengatasi pandemi COVID-19 saat ini. Semua terdampak dari pandemi ini, dan sangatlah bijaksana apabila masing-masing individu memberikan sumbangsihnya, tidak hanya dengan melakukan protokol kesehatan dengan cermat, tetapi juga mengikuti program vaksinasi nasional.

Saya yakin pandemi ini belum akan selesai secepat yang kita inginkan bersama, tetapi dengan upaya kolektif, masing-masing mengambil perannya, saya percaya bahwa kita pada waktunya akan mampu.

Semoga.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Stoikisme dan COVID-19

Apa terapan stoikisme di tengah pandemi saat ini?

Terapan stoikisme terpenting dalam setiap situasi adalah membedakan apa yang dapat kita ubah dan apa yang tidak; apa yang dapat kita pengaruhi dan apa yang tidak. Dikotomi kendali.

Mari kita cermati kutipan dari Epictetus berikut,

“The chief task in life is simply this: to identify and separate matters so that I can say clearly to myself which are externals not under my control, and which have to do with the choices I actually control. Where then do I look for good and evil? Not to uncontrollable externals, but within myself to the choices that are my own…”

Epictetus
LANJUTKAN MEMBACA …