Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

No Such Thing as Pain-Free

Bacaan singkat pagi ini dari buku A Calendar of Wisdom-nya Leo Tolstoy semakin meyakinkan saya bahwa memang penderitaan dan sukacita, sebagaimana emosi manusia, berada dalam spektrum yang sama; sehingga tidak mungkin menjalani kehidupan tanpa mengalami penderitaan. Penderitaan dan sukacita go hand in hand, mereka ada secara bersama dan saling melengkapi, ibarat siang dan malam. Tak ada sukacita tanpa penderitaan sebagaimana tak ada siang tanpa ada malam.

Berikut beberapa quotes yang menarik dari bacaan hari ini:

Pain is the necessary condition of our body, and suffering is the necessary condition of our spiritual life, from birth to death.

Marcus Aurelius

Dengan kata lain, rasa sakit adalah kondisi yang dibutuhkan tubuh fisik kita, dan penderitaan adalah kondisi yang dibutuhkan dalam kehidupan rohani kita. Tanpa rasa sakit dan penderitaan, kehidupan fisik dan spiritual kita tidak akan pernah menemukan kepenuhan.

Kutipan lain tak kalah menarik,

You should welcome everything which happens to you from birth to death, because the existence and the purpose of the world is in these cases.

Marcus Aurelius

Ini sebenarnya melengkapi quote yang sebelumnya, dimana kita harus belajar menerima keadaanamor fatikarena hanya dengan demikianlah kita bisa merasakan kepenuhan hidup.

Only in the storm can you see the art of the real sailor; only on the battlefield can you see the bravery of a soldier. The courage of a simple person can be seen in how he copes with the difficult and dangerous situations in life.

Daniel Achinsky

Pengalaman yang buruk sekali pun tetap diperkenankan terjadi dalam hidup kita untuk tujuan yang baik, setidaknya itulah satu hal penting yang perlu dipahami.

Lagipula, Tuhan bisa menggunakan segalanyabaik atau burukuntuk kebaikan kita, bukan? 😉

Hidup dan Rasa Sakit

Sebenarnya, mengapa kita (harus) menderita? Jawaban singkatnya: karena memang kita butuh!

Saya selalu tertarik pada isu pain dan happiness, dan kalau Anda membaca postingan-postingan sebelumnya, ada beberapa tulisan yang topiknya ada di seputar tema ini.

Kemarin, saya membaca di buku elektronik berjudul 101 Essays That Will Change the Way You Think karya Brianna Wiest [ ini link Google Search-nya bagi Anda yang tertarik mencari tahu siapa dia ] sebuah artikel singkat berjudulkan The Idiot’s Guide to Emotional Pain: Why We Need Pain.

Ada sebuah analogi dalam tulisan ini. Kalau Anda meletakkan telapak tangan di atas tungku yang panas, rasa sakit akibat panasnya tungku yang Anda rasakan adalah sinyal yang ‘memerintahkan’ Anda untuk segera memindahkan tangan dari tungku tersebut. Kehidupan emosional kita juga bekerja dengan cara yang sama. Rasa sakit, sebenarnya, bukanlah kebalikan dari rasa senang, akan tetapi justru menjadi komponen yang diperlukan dalam menciptakan rasa senang itu sendiri; seperti malam ada untuk melengkapi siang.

Gambar diambil dari https://analyze.life/wp-content/uploads/sad-happy.jpg

Rasa sakitlah yang justru membuat kita memahami apa itu rasa senang.

Tak ada yang menjadi BAIK tanpa ada yang BURUK. Tak ada yang TINGGI tanpa ada yang RENDAH, dan tak ada HIDUP tanpa RASA SAKIT. Itulah realitas kehidupan, sehingga menghindari rasa sakit dalam kehidupan menjadi tidak relevan. Yang menjadi persoalan sebenarnya bukanlah ada atau tidaknya rasa sakit, tetapi bagaimana kita bisa memahami makna rasa sakit dalam rangkaian perjalanan kehidupan.

Click to listen highlighted text!