Happiness in God

Read the following lines slowly and thoughtfully and see how they shed you a light spiritually.

Gospel Reflection from Bishop Barron

Gratitude Expressed

How can we be happy?

That is a profound question all of us ask deep down in our hearts. And good news is, gratitude has been found as a base for gratitude: to be happy, be grateful.

That seems to be the formula.

But how does it really work? The best way is to see it practiced. Gratitude expressed.

Following is a video from Soul Pancake on which some participants are asked to express their gratitude to the important person in their lives by making a phone call.

Experiment in Gratitude

The message is clear: gratitude definitely makes us happy.

Being honest and open to the blessings given to us every single day, being thankful to the kindness of others, and being humble to give back kind words and appreciation is the way to go.

Happiness… is in your gratitude.

Pace e Bene. 🙂

On Creating Happiness

Here is a TED talk by Katarina Blom about creating happiness instead of finding it.

See what the whole idea is and listen just how it sounds to you personally on the following video:

Katarina Blom on TEDx

Having seen the video, following are some important things I’ve got:

  • Positive thinking alone is not enough when it comes to well-being. It takes positive action instead, repetitive positive action, to be more precise. For example, texting kind words to people at work, done repeatedly, would benefit you in the long term. Just as Nike’s slogan, “Just Do It!.”

  • A study by Daniel Gilbert and Matthew Killingsworth found that, on average, our mind is wandering 47% of the time we are awake. It is really hard to focus on the task at hand, so relying upon the mind power alone to think positively is definitely so hard, if not impossible.

  • We are also biased almost all the time, and this is reflected in how we do make priorities. We tend to put first one complaint from a coworker instead of some compliments from the same person. One complaint leaves a stronger emotional mark than some compliments, and this emotional asymmetry is strongly related to the very design of how our brain evolved: to survive. Survival mode is the default mode of our brain at work.

Here is the TED talk video of the longest happiness study done by Harvard researchers; a research that finally reveals that quality relationship is the key to happiness.

Robert Waldinger on TED

Well, those are some big things that I would argue to be the essence of the talk given by Katarina Blom.

And today, just how happy you are? 😉

31 Days to Happiness

Pernahkah Anda membaca sebuah buku berisikan pergumulan jiwa seseorang, dan Anda hampir seperti bisa menyatakan dengan pasti bahwa Anda pun mengalami pergumulan yang sama?

Well, tidak banyak buku yang bisa melakukan itu, apalagi kalau bukunya ditulis bukan dalam bahasa sehari-hari kita. Tetapi barangkali kita semua setuju bahwa menemukan makna hidup dan kebahagiaan sejati adalah pencarian kita semua. Semua ingin hidup bermakna dan merasakan kebahagiaan yang sejati, a meaningful life and lasting happiness.

Dan bagaimana kalau tokoh dalam buku itu, setelah pergumulan yang panjang dan tak mudah, pada akhirnya sampai pada Sumber Kebahagiaan Sejati?

Tentu saja buku itu cukup berharga untuk dibaca, bukan? 😉

Baiklah, sedikit intro.

Raja Salomo – yang sering disebut sebagai Guru atau Sang Pemikir – menuliskan buah-buah pikirannya dalam Kitab Pengkotbah (Ecclesiastes), salah satu Kitab berisi hikmat dalam ajaran Kristiani. Isinya adalah tentang pergumulan batin Salomo sendiri untuk menemukan makna kehidupan dan kebahagiaan sejati. Dengan tidak melibatkan Tuhan dalam keseluruhan rangkaian perjalanan hidup, hidup itu sendiri menurut Salomo hanya menjadi “kosong dan sia-sia”. Kekosongan (emptiness) yang dirasakan Salomo berusaha diisinya dengan kemewahan dunia, ilmu pengetahuan, kesenangan hidup, tetapi semuanya, pada akhirnya, tetap bukan merupakan jawaban yang tepat. Kekosongan itu tetap ada.

Pergumulan Raja Salomo dengan kehidupan untuk menemukan kebahagiaan sejati, sesuatu yang berusaha ia pahami dengan berkat kebijaksanaan yang diberikan Tuhan padanya, juga adalah pergumulan kita. Itu sebabnya membaca kisah Raja Salomo ini sama seperti kita membaca perjalanan diri kita sendiri.

Dalam buku 31 Days of Happiness yang ditulis dengan sangat indah oleh David Jeremiah ini, kita akan menemukan pesan-pesan yang merupakan buah-buah kebijaksanaan Raja Salomo sendiri.

Secara pribadi saya sangat merekomendasikan Anda membaca versi asli buku ini dalam bahasa Inggris, agar tidak kehilangan keindahannya. Menikmati rangkaian kata demi kata yang ditata dengan sangat apik dan berisikan tentang kebijaksanaan dan menjadikannya sebagai bagian perjalanan spiritual pribadi adalah suatu pengalaman yang tak ternilai.

Dan pesan saya, don’t rush it. Bacalah buku ini dengan tenang, satu bab saja tiap waktu. Yang terpenting adalah kita sungguh “melihat” diri kita sendiri dalam pergumulan-pergumulan Raja Salomo.

It’s basically seeing yourself through the book while experiencing the journey.

Buku ini pada dasarnya adalah tentang perjalanan spiritual kita sendiri; suatu perjalanan yang telah ditempuh Raja Salomo yang bijaksana, perjalanan yang membawanya kepada eksistensi Sumber Kebahagiaan Sejati.

Untuk saya, buku ini adalah suatu investasi penting dalam hidup. A book for life.

Anda dapat memproleh buku ini dalam format PDF dengan mengakses link di bawah ini:

Semoga bermanfaat untuk Anda dalam menjalani hidup, menemukan makna dan kebahagiaan sejati yang hanya berasal dariNya.

Pace e Bene. 🙂

“Membongkar” Kebahagiaan ala Mark Manson

“The man who makes everything that leads to happiness depend upon himself, and not upon other men, has adopted the very best plan for living happily.”

Plato

Seberapa baik kita mengenali kebahagiaan? Ini salah satu pertanyaan penting di saat kita membicarakan hal sekompleks – dan di saat yang sama sesederhana – kebahagiaan (happiness).

Saya secara sangat beruntung menemukan sebuah buku karya Mark Manson, The Guide to Happiness, yang mencoba “membongkar” kebahagiaan di bab-bab awalnya, sesuatu yang ia sebut sebagai Deconstructing Happiness.

Berikut beberapa hal penting dalam sesi Deconstructing Happiness dalam buku The Guide to Happiness yang barangkali bisa membantu kita untuk benar-benar mengenali kebahagiaan:

  • Kebanyakan asumsi kita tentang kebahagiaan seringkali keliru. Para psikolog menemukan bahwa kita pada dasarnya tidak begitu memahami apa yang membuat kita bahagia atau tidak bahagia. Kita bahkan seringkali tidak menyadari bahwa kita ‘sedang’ berbahagia, dan baru menyadarinya setelah ‘saat-saat yang membahagiakan’ itu berlalu, digantikan oleh saat-saat yang ‘rasanya tidak lebih membahagiakan’ dari pengalaman sebelumnya.
  • Kebahagiaan bukanlah hal yang harus ‘dicapai’, tetapi merupakan ‘perasaan’ saat kita menjalani pengalaman hidup sehari-hari. Kebahagiaan tidak [akan] ditemukan dalam produk tertentu, meskipun iklan-iklan komersial berusaha meyakinkan konsumen seolah-olah produk tertentu bisa ‘menghadirkan’ kebahagiaan. Kita tentu familiar dengan format iklan seperti ‘buy this and be happy!’ 🙂
  • Kebahagiaan tidak sama dengan kenikmatan. Kenikmatan dapat diperoleh dari makanan, hubungan seks, film dan siaran televisi, pesta dengan teman-teman, perawatan tubuh, atau menjadi tokoh populer, tapi semua itu tidak lantas membawa kebahagiaan.
  • Menurunkan ekspektasi tidak lantas membuat kita lebih mudah merasa bahagia. Banyak pendapat keliru tentang hal ini, dimana orang berpikir dengan merendahkan ekspektasi, semakin mudah seseorang berbahagia dengan keadaan. Kita bisa menemukan orang yang memulai bisnis berisiko tinggi, kehabisan uang tabungan untuk mewujudkannya, tetapi masih bisa merasa berbahagia dengan pengalaman itu. Kebahagiaan tidak perlu divalidasi oleh faktor-faktor eksternal, seperti pendapat orang lain atau standar umum yang berkembang di masyarakat. Orang yang berbahagia adalah orang yang berbahagia, tanpa perlu harus dijelaskan dengan ‘model’ tertentu yang menyiratkan ‘ketergantungan’ pada faktor-faktor luar. Dengan demikian orang yang mengalami kegagalan sekali pun memiliki kesempatan yang sama dengan orang lain untuk berbahagia.
  • Berusaha untuk selalu positif tidak lantas menjadikan kita bahagia. Berusaha ‘meniadakan’ emosi negatif justru akan membuat seseorang merasakan emosi negatif yang lebih dalam, bahkan menyebabkan disfungsi emosi. Emosi negatif juga adalah sesuatu yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan psikologi manusia, meskipun kita memang tetap harus belajar mengungkapkan emosi-emosi negatif ini dengan cara-cara yang wajar, tidak kasar, tidak merendahkan orang lain, dan tidak agresif secara fisik.

Ternyata, kebahagiaan yang sejati dirasakan dalam proses berjuang menjadi pribadi yang ideal.

Apa maksudnya?

‘Ideal’ yang dimaksud di sini bukanlah ideal menurut standar-standar duniawi, melainkan ‘menjadi lebih baik dari waktu ke waktu’.

Mark Manson memberikan 3 contoh kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan sejati:

Berlari marathon sampai garis finish membuat kita lebih berbahagia dibandingkan memakan sepotong roti coklat. Membesarkan anak membuat kita lebih berbahagia dibandingkan menyelesaikan level tersulit dalam video game. Memulai usaha kecil-kecilan bersama teman-teman dan berjuang untuk mendapatkan penghasilan membuat kita lebih berbahagia dibandingkan saat kita membeli komputer baru.

Ketiga aktivitas tadi (seringkali) tidak terasa sangat menyenangkan saat kita menjalaninya, akan tetapi di saat yang sama bisa juga mendatangkan kebahagiaan yang sesungguhnya: Anda berbahagia telah memberikan kinerja fisik terbaik untuk dapat menyelesaikan marathon, Anda berbahagia mengetahui bahwa Anda menyerahkan hidup sepenuhnya untuk mengasuh seorang pribadi spesial yang hadir dalam hidup Anda, dan Anda berbahagia mencurahkan segala kemampuan Anda untuk mengatasi segala rintangan merintis usaha baru. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya: dirasakan saat kita berjuang mewujudkan nilai-nilai baik (good values) dalam diri kita.

Karena itu, menurut Mark Manson, nasihat terbaik untuk menjadi pribadi yang bahagia adalah: Imagine who you want to be and then step towards it. Bayangkanlah seperti apa diri Anda yang benar-benar Anda inginkan, lalu bertindaklah untuk mewujudkannya. Dalam proses itu, Anda akan berbahagia.

So, being happy is really on you, on me, on each and every one of us. Menjadi bahagia adalah tanggungjawab pribadi kita masing-masing. Jika ingin berbahagia, maka mari berjuang untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi, berkembang seiring nilai-nilai baik yang ada dalam diri kita.

Kenneth Paul Venturi pernah berkata, “I don’t believe you have to be better than everybody else, I believe you have to be better than you ever thought you could be.”

P.S. By the way, masih banyak hal yang bisa diulas tentang buku Mark Manson ini. Satu postingan blog sesingkat ini tentu tidak cukup untuk menampung semuanya. Sampai bertemu di postingan-postingan berikutnya!

😀