Pandemi dan Rasa Syukur

Lagi dan lagi, saya harus menekankan bahwa pandemi COVID-19 saat ini tampaknya benar-benar mengajarkan kita untuk bersyukur. Benar-benar bersyukur, tak hanya ucapan, tapi utamanya tindakan dan sikap. Laku hidup.

Seorang rekan kerja saya meninggal hari ini karena COVID-19.

Ketika mendengar berita seperti ini, terbayang kesedihan keluarga yang tentu sangat berat untuk dihadapi. Ada keluarga yang harus kehilangan kepala keluarganya hari ini. Ada anak yang kehilangan ayahnya, istri kehilangan suaminya, keluarga besar yang kehilangan bagian dari diri mereka.

Rasanya sesak di dada mendengar berita semacam ini, dan berharap semoga tidak ada lagi korban akibat COVID-19 ini.


Apa pesan dari peristiwa semacam ini?

Syukurilah hidupmu selagi nafas itu masih bisa kau hirup.

Tak ada seorang pun yang tahu kapan hidupnya akan berakhir.

Tak ada jaminan bahwa yang tua akan mendahului yang lebih muda.

Virus ini tak mengenal siapa kita. Dia akan menyerang saat kesempatan ada.

No mercy.

Jadi, sobat…

Syukurilah hidupmu. Banyaklah berdoa. Habiskanlah waktumu bersama keluarga di rumah sebaik mungkin. Nikmatilah hidup ini selagi bisa bersama keluarga di rumah.

Buang jauh-jauh segala amarah dan kebencianmu. Saat kematian tiba, tak ada gunanya itu semua.

Mohonkanlah selalu perlindungan dari Tuhan untuk keluargamu, untuk masyarakat sekitarmu, untuk Indonesia, dan untuk dunia. Kalau pandemi ini pada akhirnya berakhir nanti, dan engkau masih hidup untuk menikmatinya, hiduplah dengan lebih bijaksana, jangan lagi buang waktumu dengan hal-hal yang tak berguna.

Pandemi ini, sekali lagi, menyadarkan kita sesadar-sadarnya, bahwa hidup ini penuh kerapuhan. Raga yang tampak sehat dan bugar hari ini bisa berakhir mati esok. Karir yang tampak sukses gemilang hari ini bisa tak berarti apa-apa esok. Senyum yang bisa terkembang hari ini bisa jadi menjadi bisu esok.

Kita tak abadi, kita akan dan pasti mati.

Akan ada saatnya hari yang kita jalani adalah hari terakhir. Hidup saat ini adalah anugerah.

Live as if today is your last day.

Salam,

Paulinus Pandiangan

Gratitude Notes

The following is my gratitude notes for 15 July 2021. I first wrote this on my phone, but I later think that I should post it here too.

So, here it comes: 5-things I am grateful for:

  1. My health. I am so grateful that during this pandemic I am still healthy. So many people got infected with COVID-19, many lost their loved ones and family members. Being healthy during this crisis time is a true gift.
  2. My family well-being. Knowing that my parents, my sisters and their families, my wife and my sons in good condition makes me so grateful. I am so blessed. This comes from God directly.
  3. My job. Still having a job this time is a real blessing. I am among the lucky ones who still have a job. Many people around the world suffered from this pandemic; many lost their jobs as a consequence of COVID-19. Many got their businesses closed too. I am so lucky to still have an income to provide the needs of my family.
  4. My kids. I am so grateful that God bless our family by giving us wonderful kids: Donatus Gregorius Pandiangan and Rafael Pandiangan. Right now, my wife is being pregnant, so our third kid is coming! What a blessing! 🤩
  5. My parents. I am so blessed that both my parents are still alive and healthy, and that I could support them financially. Many of my schoolmates have lost one or both of their parents. Having both of them healthy makes me so thankful to God, The One who is behind all the blessings in our family.

Those are the five things I am most grateful about. There are many more to be grateful about, for sure. The weather I am having now, for instance, and all the little things that support my life and my well-being today.

If you’re reading this, be convinced that your life is precious too. It’s a gift from God, like, really. Thank Him for all the gifts and blessings in your life.

Regards,

Paulinus Pandiangan