Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Aku dan Keluasanku!

Kita, pada dasarnya, LEBIH BESAR dari rasa sakit atau penderitaan yang bisa kita alami.

Ketika kita mengatakan, “Aku merasakan kepahitan,” ada penderitaan yang tersirat di dalamnya, akan tetapi penderitaan itu sendiri sebenarnya tidak lebih besar dari subjek kalimatnya: AKU. Artinya penderitaan itu sebenarnya merupakan bagian dari spektrum pengalaman yang dapat dialami oleh si AKU saja, dan si AKU akan tetap bisa bertahan melanjutkan kehidupan untuk merasakan berbagai perasaan-perasaan lain dalam spektrum pengalaman yang tersedia untuk si AKU.

Gambar diambil dari alamat ini.

Kita sering mengidentikkan si AKU dengan RASA SAKIT itu sendiri: kita berpikir bahwa AKU = PENDERITAAN. Rasa sakit, cemas, marah, dan berbagai emosi negatif lainnya merupakan pengalaman semata, dan bukan keseluruhan dari si AKU. Berbagai emosi negatif, pada dasarnya, adalah apa yang sedang kita alami, dan ia pada dasarnya tak kekal. Berbagai emosi negatif, seberapa berat pun rasanya, akan tetap berlalu. Yang kekal adalah si AKU, sebuah kesadaran, sebuah jiwa yang berada dalam tubuh fisik kita.

Sama seperti layar televisi yang bisa menampilkan berbagai film, ada film yang lucu, ada juga yang sedih, ada juga yang menegangkan, akan tetapi semua film-film itu tidak kekal, dan film-film itu tidak lebih besar dari layar yang menampilkannya.

Kita sering mengidentikkan si AKU dengan RASA SAKIT itu sendiri: kita berpikir bahwa AKU = PENDERITAAN. Rasa sakit, cemas, marah, dan berbagai emosi negatif lainnya merupakan pengalaman semata, dan bukan keseluruhan dari si AKU.

Kalau kita sudah menyadari hal ini, kita sebenarnya bisa sedikit lega, karena kita akhirnya menyadari bahwa dalam diri kita, tentu saja, ada ruang untuk berbagai hal-hal yang tidak menyenangkan, akan tetapi ada juga ruang untuk berbagai hal yang seru dan menyenangkan! Kita jauh lebih luas dari berbagai pengalaman dan emosi yang bisa kita rasakan. Kita adalah multipleks dari berbagai kemungkinan.

Teori Kepemilikan Barang 10/10

Mengutip dari blog duo The Minimalists, ada sebuah teori sederhana yang bisa membawa kita kepada kesimpulan bahwa kepemilikan barang (material possessions) tidak ada sangkut pautnya dengan kebahagiaan.

Caranya sederhana:

Pertama, tuliskan daftar 10 barang termahal yang telah berhasil kamu beli 10 tahun terakhir, entah mobil, rumah, perhiasan, furnitur, dan lain sebagainya. 10 barang termahal dalam 10 tahun terakhir.

Kedua, tuliskan daftar 10 hal yang paling membuatmu bahagia dalam 10 tahun terakhir; hal-hal yang paling bernilai dan memberikan kesan mendalam. Bisa saja misalnya menyaksikan kelahiran anak yang sudah lama dinantikan, makan bersama orang tua, piknik dengan keluarga, dan lain sebagainya. 10 hal paling berkesan dan paling membahagiakan dalam 10 tahun terakhir.

Lalu sandingkan kedua daftar ini.

Bila kita jujur dengan diri sendiri, kemungkinan besar kita akan menemukan bahwa kedua daftar ini tidak saling bersangkut paut satu dengan yang lain.

Momen-momen paling berkesan, paling berarti, paling membahagiakan tidak bersangkut paut dengan barang-barang mahal yang kita beli dalam 10 tahun terakhir.

Dampak kepemilikan barang-barang mahal terhadap kebahagiaan kita (ternyata) tidak sebesar yang kita bayangkan.


Dengan menyadari hal ini kita akan memiliki kesadaran terhadap pola kita mengkonsumsi barang-barang. Kita akan mampu menjaga ‘jarak emosional’ terhadap barang; untuk selanjutnya tidak terlalu lekat (attached).

I am not my things.

Semoga menginspirasi! 💖

Salam,

Paulinus Pandiangan
Click to listen highlighted text!