Stoikisme dan Pandemi

“Wherever there is a human being, there is the opportunity for an act of kindness.”

Seneca

Selalu ada kesempatan untuk berbuat baik, terlepas dari situasi yang tengah melanda. Begitulah keyakinan Seneca. Dan melihat situasi pandemi saat ini, tampaknya keyakinan Seneca itu tidak terlalu sulit untuk dibuktikan. It’s just as real as your existence. Kita dapat menyaksikan sendiri jamaknya aksi kebaikan manusia di tengah situasi pandemi ini.


Ketika berada di tengah pandemi cacar yang melanda Roma, filsuf Marcus Aurelius Antoninus menulis buah-buah refleksinya dalam sebuah buku harian yang selanjutnya dikenal sekarang sebagai Meditations, berisikan pesan-pesan untuk dirinya sendiri. Pengalaman berada dalam situasi pandemi memberikan kesempatan baginya untuk menemukan pelajaran-pelajaran moral yang penting dalam kehidupan.

Buku Meditations sekarang menjadi salah satu buku Stoikisme yang paling banyak dibaca orang di seluruh dunia.

Para silsuf Stoikisme menyakini bahwa kebaikan manusia terletak pada karakter dan tindakan-tindakannya; sehingga membentuk karakter yang baik (being a good person) selalu menjadi fokus filsafat ini. Para filsuf ini juga selalu menghadapi setiap situasi dengan mencoba ‘melihat’ apa yang dapat mereka pengaruhi dan apa yang tidak-sesuatu yang sekarang dikenal dengan istilah dikotomi kendali.


Pikiran-pikiran ada dalam kendali kita, dapat kita pengaruhi secara sadar. Narasi-narasi yang berkembang dalam pikiran kita ini selanjutnya menimbulkan emosi. Artinya emosi yang timbul selalu akibat narasi yang kita kembangkan sendiri di pikiran. Ketika judgment kita negatif, maka emosi yang timbul akan negatif pula. Rasa cemas berlebih, misalnya, selalu datang dari narasi negatif di dalam kepala.

Karena itu menjaga narasi dalam kepala tetap sehat menjadi penting di tengah pandemi saat ini. Kita menyadari dan menerima dengan sadar dampak virus bagi kehidupan, dan karena itu kita perlu bersikap benar untuk melindungi diri kita, keluarga, dan orang-orang sekitar secara kolektif.

Pandemi ini juga menjadi kesempatan untuk melatih teknik Premeditatio Malorum sebagaimana pernah saya uraikan di postingan lain di blog ini. Pandemi bahkan menjadi suatu pengingat kematian bagi kita; menyadari bahwa kita pada suatu waktu akan meninggal dunia bisa membantu kita menjalani hidup dengan lebih berfokus pada kebaikan, pada hal-hal yang esensial dan sungguh bernilai.

Mengingatkan diri akan kematian akan membuat kita lebih bersyukur pada anugerah kesehatan dan kehidupan yang masih diberikan secara cuma-cuma kepada kita.

Stoikisme mengajarkan kita untuk memusatkan perhatian ke dalam diri dan menggunakan energi pada hal-hal yang berada dalam pengaruh kita. Hal-hal di luar kendali diri kita, seperti cuaca, penyakit, dan bahkan kematian merupakan kondisi-kondisi yang sebenarnya bersifat netral, tidak baik dan tidak pula buruk. Judgment kita-lah yang melahirkan penilaian apakah sesuatu itu baik atau buruk. Stoikisme selalu berfokus pada karakter, kualitas-kualitas internal diri manusia. Karena itulah ada empat pilar yang menurut Stoikisme yang membantu manusia untuk hidup berbahagia–kebijaksanaan (wisdom), keadilan (justice), keberanian (courage), dan pengendalian diri (self-control).

Berfokus menjadi orang baik, itulah inti Stoikisme.

Stoikisme pun mengajarkan kita untuk selalu ‘memandang persoalan dari atas‘.

Pandemi COVID-19 saat ini bukan satu-satunya masalah yang ada di bumi, dan bukan generasi kita yang pertama kali mengalami pandemi. It happened before and it will certainly happen again. Ada banyak ancaman di dunia, misalnya pemanasan global atau bahkan ancaman nuklir yang berpotensi merenggut banyak korban dalam skala global.

Menjadi sangat perlu untuk memandang setiap persoalan secara sehat.

Mempelajari Stoikisme juga mengajarkan kita untuk menjadi warga negara yang baik. Di tengah pandemi, kita dituntut melakukan peran kita sebagai warga negara untuk membantu negara mengatasi pandemi secara bersama-sama. Bentuk nyatanya adalah mengikuti informasi dan rekomendasi yang dikeluarkan pemerintah dan mematuhi aturan-aturan kesehatan yang diterbitkan secara resmi dan mengikuti program vaksinasi.

Dan jika memungkinkan menolong orang yang membutuhkan. Menolong bisa dalam hal kecil, misalnya membagikan informasi yang benar seputar pandemi kepada orang-orang sekitar. Doing good makes us feel good, too.

“The best human being you can be is a human being who uses reason to help others, to help society. And as a bonus, Seneca says you would also feel good about it because practicing virtue actually makes you feel good.”

Massimo Pigliucci

Atau bahkan, seperti yang dulu dilakukan Marcus Aurelius, kamu bisa mencoba menuliskan pelajaran-pelajaran berharga dari pandemi ini. Siapa tahu, suatu saat akan berguna juga bagi orang lain. 😉

Atau dengan lebih menyadari pentingnya berdoa bagi dirimu, keluarga, sesama, dan dunia, sesuatu yang akan menghangatkan jiwamu dengan berkat yang hanya bisa diberikanNya. All in all, He is in control of everything!

Dan jangan lupa: cultivate joy!

Sediakan waktu untuk melakukan hal-hal yang menyenangkanmu. Menonton film kesukaan atau bermain musik atau games yang menghibur.

Sehatkan pikiran! 😎

Salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.