Salvifici Doloris : Sebuah Pengantar

Bagaimana Gereja Katolik memandang penderitaan manusia?

Penderitaan merupakan suatu fakta kehidupan manusia yang paling sulit dihadapi dan dipahami. Tak ada manusia yang tidak pernah menderita. Saat Anda membaca teks ini, misalnya, anak-anak di belahan dunia lain (barangkali) sedang terjangkit penyakit langka, ditelantarkan, para tawanan disiksa, wanita diperkosa, pasangan suami istri saling menyakiti, reputasi orang hancur karena pilihan politis, orang-orang baik mati muda dan orang-orang jahat justru berkuasa. “Mengapa semua ini harus terjadi?” menjadi pertanyaan di benak kita.

Berbagai bentuk penderitaan manusia ini bahkan telah lama dijadikan sebagai argumen yang membantah keberadaan Tuhan. Jika memang Tuhan ada, dan Dia Maha Kasih, lalu mengapa Dia “membiarkan” semua penderitaan terjadi, barangkali begitu logikanya. Lebih mudah bagi banyak orang untuk akhirnya menilai bahwa alam semesta tercipta secara kebetulan saja, sehingga penderitaan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari sebagai sebuah kemungkinan (probabilitas); di dalam dunia dimana tiap orang memiliki kebebasan, berbagai hal (bisa saja) menjadi kacau, dan terjadilah penderitaan manusia.

Dalam pandangan Gereja Katolik, penderitaan manusia (human suffering) adalah suatu misteri. Misteri yang dimaksud di sini bukan merujuk ke semacam teka-teki untuk dipecahkan, atau semacam persoalan yang membutuhkan jawaban pasti, misalnya hasil penjumlahan dua angka positif.

Yang dimaksud adalah bahwa penderitaan hanya dapat dipahami dalam perbuatan cinta kasih. Kisah sengsara Yesus sampai mati di salib adalah penderitaan yang dimaksudkan untuk menebus dosa-dosa manusia, dan penebusan ini sendiri adalah wujud nyata cinta Tuhan yang begitu besar bagi manusia. Kebesaran cinta yang ingin menebus penderitaan manusia akibat belenggu dosa—dengan menanggung sendiri penderitaan itu.

Dalam pemahaman Katolik, penderitaan yang dialami setiap manusia bahkan merupakan suatu jalan menuju kebahagiaan (beatitude); dan bahwa dalam penderitaan kita berbagi bersama Kristus dalam misi penebusan (redemptive suffering). Yesus Kristus yang mau hadir dalam sejarah umat manusia—dengan menjadi pribadi manusia—mengajarkan bahwa penderitaan bukan untuk dihindari, tetapi dirangkul, karena hanya dengan itulah misi penebusan akan terlaksana.

Penderitaan Bukanlah Suatu Kebetulan

Perjalanan hidup Paus Yohanes Paulus II—Karol Wojtyla—merupakan salah satu contoh sempurna tentang bagaimana penderitaan mampu membawa seseorang pada kedalaman iman; bahwa dalam penderitaan justru semakin tampak Kristus.

ZAIRE – AUGUST 01: John-Paul II in Zaire in August, 1985. (Photo by Francois LOCHON/Gamma-Rapho via Getty Images)

Ketika masih berusia 9 tahun, ibunya, Emilia Kaczorowska, meninggal dunia akibat gagal ginjal. Tiga tahun kemudian, kakaknya Edmund Wojtyla, seorang dokter, meninggal dunia akibat tertular demam akut dari seorang pasien. Guru-gurunya di sekolah ditangkap dan dibawa ke kamp konsentrasi Nazi untuk dibunuh. Dia sendiri dipaksa bekerja sebagai buruh pemecah batu saat Polandia diduduki Nazi.

Selama beberapa tahun dia harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer untuk bekerja di pabrik. Tak lama kemudian ayahnya meninggal dunia, sehingga dia menjadi seorang yatim piatu di sebuah negara yang tengah diduduki Nazi. Dia pernah ditabrak truk tentara Jerman dan terlempar ke dalam selokan dan tak sadarkan diri selama beberapa hari.

Di usia 50 tahun ia kehilangan seorang teman terdekatnya. Seorang teman lamanya yang lain menderita stroke parah beberapa jam sebelum ia terpilih menjadi Paus dalam sidang konklaf tahun 1978. Dia ditembak dari jarak dekat tahun 1981 oleh Mehmet Ali Agca, seorang teroris Turki, ketika sedang berkeliling di pelataran Basilika Santo Petrus di Vatikan. Setelah hampir sembuh dari pembedahan darurat bekas tembakan, dia hampir tewas akibat transfusi darah yang tidak steril; transfusi yang membuat tubuhnya menjadi tampak kusut selama berbulan-bulan.

Pinggulnya cedera dan organ pengganti yang dipakainya tidak berfungsi dengan baik. Dia mengalami gangguan otak yang selanjutnya membuatnya terjangkit penyakit Parkinson, yang akhirnya membuatnya sulit berjalan hingga akhirnya lumpuh.

Selain menderita secara fisik, Paus Yohanes Paulus II juga mengalami penderitaan spiritual selama menjadi Paus: Dia menerima permintaan doa dari seluruh dunia—bisa sampai berlembar-lembar per hari—yang didoakannya secara pribadi selama bertahun-tahun. Konon, dia bisa menghabiskan waktu 90 menit setiap pagi untuk mendoakan permohonan-permohonan itu. Aspek penderitaan yang dimaksud bukan pada banyaknya hal yang harus ia doakan atau pada durasi doanya, tetapi pada fakta bahwa dalam permohonan-permohonan itu dia membaca penderitaan dari berbagai belahan dunia. Setiap pagi dia sudah harus berhadapan dengan berbagai macam penderitaan dari berbagai belahan dunia.

Dengan semua penderitaan yang bertubi-tubi itu, satu hal yang luar biasa adalah bahwa dia tidak pernah mengeluh. Di saat-saat terakhir hidupnya, dia bahkan masih berjuang untuk memberikan berkat Urbi et Orbi untuk terakhir kalinya kepada umat yang hadir di lapangan Basilika Santo Petrus, dengan kondisi sudah lumpuh total dan tidak bisa berbicara sama sekali.

Berkat Urbi et Orbi Terakhir Paus Yohanes Paulus II

Enam minggu setelah menemui dan memaafkan penembaknya di penjara, Paus Yohanes Paulus II menerbitkan surat apostolik yang sangat terkenal berjudul Salvifici Doloris atau Penderitaan Yang Menyelamatkan. Ini merupakan sebuah dokumen yang teramat penting karena di dalamnya terkandung sikap iman Katolik terhadap penderitaan—yang ditulis oleh orang yang sangat mengenal dan merasakan sendiri penderitaan itu sepanjang hidupnya.

Surat apostolik ini diawali dengan pengamatan bahwa penderitaan merupakan pengalaman universal manusia. Tidak ada manusia yang tidak menderita. Tidak ada manusia yang bisa mengelak dari penderitaan. Fakta penderitaan terdengar dan terlihat jelas setiap hari.

Penderitaan tidak terjadi secara kebetulan. Penderitaan justru menjadi bagian esensial dari hidup manusia. Penderitaan yang dialami manusia bukan hanya menimbulkan rasa sakit secara fisik, secara moral pula. Ketika kita dikhianati, misalnya, rasa sakitnya justru tidak bersifat psikologis semata, tetapi juga spiritual. Fakta ini menegaskan bahwa keutuhan kita sebagai seorang pribadi manusia tidak hanya dari aspek fisik, tetapi juga psikis.

Penderitaan yang di mata kita tampak buruk dapat menjadi jalan bagi manusia untuk “melangkah melampaui dirinya sendiri“—bahwa misteri penderitaan memungkinkan manusia untuk menjangkau dan bertemu dengan Tuhan. Melalui penderitaan kita bersama dengan Kristus melakukan misi penebusan (redemptive suffering).

Makna Penderitaan oleh Imam Mike Schmitz

Detail isi surat Salvifici Doloris sendiri akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya. Ada 8 bagian pada surat apostolik ini, sehingga saya kira akan lebih baik apabila diurai satu per satu bagian, sehingga pada akhirnya kita mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang dokumen ini, atau pernyataan sikap Gereja Katolik, lebih tepatnya, terhadap penderitaan.

Sampai bertemu pada isi Salvifici Doloris di tulisan berikutnya.

Pace e Bene. 🙂

Print Friendly, PDF & Email