Sakit = Kutukan (?)

Saya baru berefleksi tentang pengalaman menderita sakit. Seorang anggota keluarga saya sedang sakit dan membutuhkan banyak bantuan untuk pemulihannya, termasuk, tentu saja, bantuan finansial.

Lalu dalam refleksi saya, pertanyaan ini pun muncul,

Apa makna di balik pengalaman sakit seperti ini?

Pertama, apabila kita pada akhirnya ternyata sembuh dan bisa sehat kembali, rasanya cukup bisa diterima akal sehat bahwa pengalaman sakit menjadi semacam pengingat bagi kita-atau bisa dianggap peringatan-agar kita mengubah gaya hidup. Penyakit yang kita alami seringkali merupakan dampak dari pola hidup kita sebelumnya. Change your lifestyle!

Kedua, apabila ternyata kita tidak sembuh dan/atau meninggal karenanya, peristiwa itu (setidaknya) bisa menjadi pengingat bagi orang-orang terdekat, misalnya untuk hidup lebih sehat. Pola hidup kita dan penyakit yang akhirnya menimpa kita karenanya bisa menjadi pengingat yang kuat bagi keluarga, bagi orang-orang terdekat yang mengenal kita.

Si A dulu jarang berolahraga dan terlalu banyak makan, sekarang kolesterolnya tinggi sekali!


Ketika diperkenankan untuk mengalami penderitaan, apakah kita sedang dikutuk?

Well, itu sangat tergantung pada bagaimana engkau memandangnya, dan bagaimana konsepmu tentang sifat Tuhan.

Saya tidak tahu bagaimana engkau memandang Tuhan, tapi menurutku, Tuhan mengizinkan penderitaan terjadi, termasuk sakit dalam hal ini, untuk tujuan baik yang lebih besar. A bigger good; sesuatu yang baik yang barangkali tidak langsung engkau rasakan saat ini juga, tapi barangkali di waktu yang tak pernah terbayangkan olehmu, sesuatu yang di luar ‘radar’ kita.

Ketika diberi kesempatan untuk menderita sakit, barangkali engkau diberikan kesempatan untuk menyadari bahwa hidup manusia pada dasarnya rapuh. Life is fragile. Bagaikan kaca tipis yang sangat mudah retak atau pecah, begitulah pula kehidupan ini. Orang bisa dengan mudah jatuh sakit, dan lalu meninggal. Begitulah kenyataan hidup ini. Ketika sakit, engkau barangkali diingatkan pada berkat begitu enaknya sehat, begitu leluasanya tubuhmu bergerak ketika sehat, begitu banyaknya berkat yang engkau terima namun tak selalu engkau sadari. Kita semua begitu. When we’re healthy, we take health as granted. Kita baru akan menyadari berharganya kesehatan ketika kita sakit.

Ketika kita sakit, bisa juga bahwa kita sedang diberikan kesempatan untuk belajar menjalani penderitaan; learning to suffer. Ini tentu saja terdengar konyol, tak ada dari kita yang ingin menderita, tak ada dari kita yang ingin sakit.

Tetapi penderitaan adalah bagian dari kehidupan. Tak ada kehidupan tanpa penderitaan. All living should suffer. Karena itu yang perlu bagi kita adalah bagaimana kita harus menjalani penderitaan; bukan bagaimana agar tak menderita. Pada level tertentu, penderitaan bisa dielakkan, tapi tak pernah benar-benar bisa dihindari. We all must suffer. Menderita penyakit menjadi pengalaman yang universal, semua pernah mengalaminya. Hari ini barangkali orang lain yang menderita, besok bisa jadi kita yang sakit.

Jika ternyata kita akhirnya sakit, mari kita jalani dengan perspektif bahwa ini adalah pengalaman universal manusia, dan barangkali ini menjadi kesempatan yang baik untuk mengapresiasi kehidupan dan anugerah kesehatan yang kita rasakan, dan tentu saja, tak lupa,berupaya agar kita dapat sehat kembali. Memegang prinsip Stoik menjadi penting di sini: kesehatan tidak sepenuhnya di bawah kendali kita, ada banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, tetapi kita akan berfokus pada apa yang bisa dikendalikan, misalnya dengan memperbaiki pola hidup agar cepat pulih, mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan yang merawat kita, dan berdoa kepada Tuhan Yang Kuasa untuk anugerah kesehatan.

Saya lebih suka dengan perspektif seperti ini menyikapi pengalaman menderita sakit. Terkadang, ketika orang menderita sakit, kita mudah terbawa ke dalam pemikiran bahwa yang dialaminya adalah semacam ‘karma’ yang berbalik padanya akibat perbuatan di masa lalu.

Mungkin saja benar, dan mungkin juga tidak.

Perspektif seperti itu hanya akan menempatkan kita di kursi penghukum, seolah-olah kita yang sedang tidak sakit (pasti) lebih baik dari orang-orang yang sakit. Tetapi apakah memang demikian? Nampaknya tidak juga, mengingat banyak orang-orang yang hidup baik pun bisa sakit juga.

So, nampaknya menerima pengalaman sakit sebagai pengalaman universal akan lebih baik bagi mental kita. Menderita penyakit bukanlah kutukan, tetapi barangkali hanya sebuah jendela baru untuk membantu kita dan orang-orang terdekat untuk ‘melihat’ dunia dari perspektif yang lebih kaya: Life is not all roses. We need to learn to suffer, too.

Bagaimana menurut kamu?

Salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.