Refleksi Natal

Natal dikenal luas sebagai peristiwa suka cita. Dalam Injil Lukas 2 : 1 β€” 14, misalnya, kita dapat membaca bagaimana malaikat menyampaikan berita suka cita besar bagi umat manusia.

Mengapa Natal menjadi perayaan suka cita besar?

#1: Pertama, Natal adalah pesta pengutusan Sang Penyelamat bagi manusia: Inkarnasi Yesus sebagai Tuhan sekaligus manusia untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. Injil mewartakan kepada kita dalam Yohanes 3 : 16 : “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Kita merayakan inkarnasi Tuhan sebagai seorang bayi yang lahir di Betlehem karena dengan kelahirannya kita memiliki Penyelamat Kudus, yang membebaskan kita dari perbudakan dosa melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitanNya. Dengan perayaan Natal kita diingatkan kembali betapa perlunya kehadiran seorang Penyelamat bagi kita setiap hari yang akan membebaskan kita dari kecanduan untuk berbuat dosa, kecenderungan-kecenderungan yang tidak murni, tidak adil, dan tidak benar.

Dalam Natal kita juga menerima Yesus di palungan sebagai penyelamat pribadi dalam hidup kita dan untuk menyerahkan hidup kita sepenuhnya dalam penyelenggaraanNya, untuk membiarkan hati kita dituntun olehNya dan hidup baru setiap hari di tahun yang baru.

#2: Kedua, Natal adalah pesta dimana Allah membagikan cintaNya bagi kita: Yesus Sang Juru Penyelamat membawa berita suka cita bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mencintai, memaafkan, mengasihi, dan memberkati, dan bukan Tuhan yang menghukum. Melalui hidup Yesus, Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa Dia mencintai kita, mengampuni kita, menyediakan apa yang kita butuhkan, dan memberikan pertolongan. Demonstrasi cinta paling puncak terjadi melalui peristiwa kematian Yesus di salib untuk menebus dosa-dosa kita dan dengan itu “mengangkat” kita sebagai anak-anakNya.

Melalui Natal kita diingatkan bahwa membagikan cinta adalah tugas perutusan kita sebagai pengikut Kristus, dan setiap kali kita membagikan kasih, Yesus lahir kembali dalam hati kita. Maka marilah membuka hati bagi Yesus untuk Ia lahir dalam hati kita, tidak hanya saat masa Natal, tetapi setiap hari, sehingga cahaya kehadiranNya sungguh terpancar dari diri kita dalam bentuk cinta yang mau berbagi dan tidak mementingkan diri sendiri; yang terpancar dari kata dan perbuatan, kerelaan mengampuni, melayani dengan rendah hati, kebaikan hati yang melimpah.

#3: Ketiga, Natal adalah pesta Imanuel (Tuhan beserta kita dan ada di dalam kita). Tuhan senantiasa hidup bersama kita dalam segala peristiwa hidup. Yesus hadir dalam Sakramen (khususnya dalam Ekaristi Kudus), dalam Kitab Suci, dalam tiap orang yang percaya, dan dalam komunitas umat yang berdoa kepadaNya, yang mengubah kita menjadi rumah bagi Roh Kudus.

Natal mengingatkan kita bahwa kita adalah pewarta Tuhan dengan cara mengasihi sesama sebagaimana yang dilakukan Yesus, melalui pengorbanan, kerendahan hati, dan pelayanan yang tulus. Membagikan kasih Yesus adalah hadiah Natal terbaik yang bisa kita berikan.


Refleksi di atas ditulis sepenuhnya oleh Pastor Anthony Kadavil yang saya terjemahkan.

Menjadi pewarta kasih Kristus seringkali memang tidak mudah. Lebih mudah mengatakan daripada melaksanakan, karena ego kita terkadang masih sangat menguasai diri kita, seringkali tanpa kita sadari.

Semoga kita selalu membuka diri bagi Yesus, mengizinkan Dia sepenuhnya untuk bekerja melalui diri kita, sehingga sungguh ada Natal di hati kita masing-masing, dan terwujudlah Imanuel, Tuhan beserta kita.

Selamat Natal saudara-saudariku, Damai Yesus bersamamu. πŸ™‚

Pace e Bene.

Print Friendly, PDF & Email