Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Perihal Vokasi dan Hambatan

Ada 2 cerita pendek yang menarik bagi saya pagi ini; satu tentang vokasi, yaitu menemukan hal yang membuat orang merasa benar-benar memenuhi panggilan hatinya, dan yang kedua tentang bagaimana hambatan justru bisa menjadi penunjuk jalan yang harus ditempuh dalam hidup.

Keduanya saya baca dari buku karya Robert Greene, The Daily Laws.

Mari kita simak terjemahannya berikut ini, dimulai dari cerita pertama.


Kadang-kadang suatu ketertarikan yang kuat pada sesuatu akan menjadi jelas melalui aktivitas tertentu yang membawa serta perasaan bergairah yang meningkat. Sebagai seorang anak, Martha Graham merasa sangat frustrasi oleh ketidakmampuannya untuk membuat orang lain memahami dirinya secara mendalam; kata-kata tampaknya tidak memadai. Kemudian suatu hari, dia melihat pertunjukan tari pertamanya. Penari utama memiliki cara untuk mengekspresikan emosi tertentu melalui gerakan; dan itu sangat mendalam, melebihi kata-kata. Dia mulai pelajaran tari segera setelah itu dan segera memahami panggilan hatinya. Hanya ketika menari dia bisa merasa hidup dan ekspresif. Bertahun-tahun kemudian dia terus menciptakan bentuk tarian yang sama sekali baru dan merevolusi seni tari itu sendiri.

Inti sari cerita di atas adalah: Lakukan sesuatu yang membuatmu merasa berada di puncak keberadaanmu hari ini.

dan mari kita simak cerita kedua.

Beberapa orang tidak menyadari kecenderungan atau jalur karir masa depan di masa kanak-kanak mereka, tetapi malah dibuat tersadar akan keterbatasan mereka. Mereka tidak pandai dalam apa yang dianggap orang lain mudah dilakukan. Gagasan tentang “panggilan hidup” terasa asing bagi mereka. Dalam beberapa kasus, mereka menginternalisasi penilaian dan kritik orang lain, dan mulai melihat diri mereka sebagai pribadi yang memang terlahir kurang mampu.

Pada tahun 1950, pada usia tiga tahun, Temple Grandin didiagnosis autisme. Seorang dokter menyarankan dia untuk berada di institusi yang menampung orang berkebutuhan khusus selama sisa hidupnya. Melalui bantuan terapis wicara, dia dapat menghindari nasib seperti itu dan menghadiri sekolah reguler. Dia perlahan-lahan mengembangkan minat yang kuat pada hewan dan autisme itu sendiri. Ini selanjutnya membuka pintu karir di bidang sains.

Dengan kekuatan penalarannya yang luar biasa, dia mampu menjelaskan fenomena autisme dan menjelaskannya dengan cara yang tidak dapat dilakukan orang lain. Entah bagaimana, dia telah berhasil mengatasi semua rintangan yang tampaknya tidak dapat diatasi dan menemukan jalan yang cocok untuknya dengan sempurna.

Ketika Anda menghadapi keterbatasan Anda, Anda tergerak untuk merespons dengan cara yang kreatif. Dan seperti halnya Temple Grandin, mungkin dengan cara yang belum pernah dilakukan atau bahkan dipikirkan orang lain sebelumnya.

Inti sari cerita di atas adalah: Hadapi salah satu keterbatasan Anda—salah satu penghalang di jalan Anda—hari ini dengan mendobraknya, memanjatnya, memikirkan jalan keluarnya. Jangan lari darinya. Itu diciptakan untuk Anda.


Semoga kedua kisah nyata di atas bisa setidaknya memberikan insight; membantu Anda memahami keterbatasan diri sendiri dengan perspektif yang lebih kaya. 🌿

Salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari tiga anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.

%d bloggers like this:
Click to listen highlighted text!