Perihal Bersyukur

Cobalah beralih sejenak dari hiruk pikuk dunia, pejamkan mata, dan berdiamlah untuk beberapa saat.

Lupakan sejenak emosi yang timbul ketika kita membaca berbagai berita negatif yang berseliweran di media sepanjang hari ini.

Lupakan sejenak rasa jengkel kita hari ini karena barangkali beberapa hal tidak berjalan sesuai harapan.

Berdiamlah untuk beberapa saat dan cobalah menyadari bahwa kendati mengalami semua itu, tetap ada hal-hal baik dalam hidup kita hari ini: Kita masih makan, bisa tidur di atas kasur yang empuk dalam ruangan yang nyaman, bertemu dengan orang-orang baik.

Cobalah untuk benar-benar berada pada momen ini untuk melihat berbagai berkat yang tercurah untuk kita.

Komposisi gas dalam udara yang kita hirup saat ini adalah komposisi yang memungkinkan kita bertahan hidup sampai saat ini, sebagai makhluk aerob. Bayangkan jutaan, bahkan lebih, partikel-partikel suara yang menubruk gendang telinga kita sehingga kita mampu mendengarkan suara-suara alam sekitar, apakah suara serangga, suara lalu lintas kendaraan, suara percakapan orang-orang. Coba rasakan keberadaan tubuh yang sehat yang memungkinkan kita melakukan berbagai aktivitas pada hari ini—sesuatu yang tidak mungkin kita lakukan jika terbaring tak berdaya di rumah sakit. Bayangkan bagaimana kehadiran orang-orang di sekitar kita hari ini menjadikan hari ini berwarna dan unik, tak akan persis sama dengan kemarin atau esok.

Bayangkanlah semua itu, berbagai hal yang sering kita anggap “biasa”.

Dalam konteks rasa syukur, tak ada yang “biasa”. Semua yang kita terima, kita rasakan, kita alami dengan indera kita, adalah rupa-rupa berkat dari Yang Maha Kuasa. Semua hal, dalam perspektif ini, akhirnya menjadi terlihat luar biasa. Dan semua hal yang luar biasa ini tercurah secara cuma-cuma, tanpa ada partisipasi dari pihak kita. Inilah rasa syukur yang saya maksud.

Dan kesadaran akan berbagai berkat inilah yang akan membuat kita berbahagia. Setiap kali kita membuka mata di awal hari yang baru, rupa-rupa berkat melimpah untuk kita dan siap menjadikan hari kita adalah hari satu-satunya yang akan seperti itu, tak seperti kemarin, dan tak akan seperti besok.

A day once in a life time.

Bukankah itu luar biasa? Sangat layak untuk disyukuri, bukan?

Ketika kita merasa tidak bahagia, antidotnya (ternyata) adalah rasa syukur, karena dengan bersyukur, kita beralih dari berfokus pada masalah dan kesulitan yang sedang menimpa kita kepada berbagai hal baik, meskipun terlihat kecil, yang tercurah secara cuma-cuma untuk kita. Bersyukur adalah mengapresiasi hal-hal baik—kendati terlihat sepele—dalam hidup kita.

And remember, regardless of all the problems and difficulties, we are blessed. Truly blessed.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa berbahagia bukan berarti tanpa masalah, dan bersyukur adalah jalan untuk berbahagia.

Gratitude

Dan ini bukan isapan jempol belaka.

Dalam artikel di Harvard Healthy Newsletter pernah tercatat hasil riset berikut, “Gratitude is strongly and consistently associated with greater happiness. Gratitude helps people feel more positive emotions, relish good experiences, improve their health, deal with adversity, and build strong relationships.”

Luar biasa! Ternyata “mindset” bersyukur itu mempengaruhi kesehatan fisik kita juga, menjadikan kita mampu merasakan berbagai emosi positif, dan bahkan menjadi lebih kebal menghadapi kesulitan.

Dr. Sonja Lyubomirsky, seorang peneliti dan psikolog bahkan menulis di bukunya “The How of Happiness”,

Gratitude is an antidote to negative emotions, a neutralizer of envy, hostility, worry, and irritation. It is savoring; it is not taking things for granted; it is present oriented.”

Artinya dengan melatih diri kita untuk bersyukur, kita secara tidak langsung “menekan” berbagai emosi negatif, seperti iri hati, khawatir berlebihan, dan sebagainya.

In short, rasa syukur akan mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

Bagaimana menurut Anda? Tertarik untuk menjadikan bersyukur sebagai kebiasaan?

Pace e Bene. 😉


Print Friendly, PDF & Email