Pelajaran dari Menulis Jurnal Rasa Syukur

Apa yang saya pelajari dari menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal) sejauh ini?

Well, ada beberapa hal yang ternyata jauh lebih penting dari menulis jurnal itu sendiri:

#1. Perlu disadari bahwa bersyukur itu sendiri seharusnya merupakan aktivitas yang sungguh-sungguh dinikmati. Pola berpikir seperti ini pada akhirnya menjadikan menulis jurnal adalah sesuatu yang menyenangkan, dan jurnal bukanlah semacam “tugas tambahan” yang harus dituntaskan setiap hari. Not just another item on to-do list.

Pola berpikir seperti inilah yang perlu ditumbuhkan dalam diri kita saat memutuskan membuat sesuatu semacam jurnal rasa syukur. Menyadari hal ini membuat motivasi kita dalam menulis jurnal menjadi lebih tulus: bersyukur itu sendiri adalah sesuatu yang dilakukan karena kita memang seharusnya bersyukur. To be grateful is something all of us should do, even must do.

Sebagaimana telah saya tulis sebelumnya dalam Perihal Bersyukur, semua berkat yang tercurah bagi kita setiap hari datang secara cuma-cuma, tanpa ada partisipasi dari pihak kita sendiri, dan menuliskan dua atau tiga hal yang patut kita syukuri sepanjang hari adalah ungkapan kecil dari kita sebagai ciptaan: betapa kita dikasihi olehNya.

#2. Menulis jurnal rasa syukur melatih kita untuk mengakui dengan jujur. Mengakui bahwa angin sepoi-sepoi yang berhembus lembut di wajah kita saat ini terasa menyejukkan, mengakui bahwa bermain dan bercanda bersama anak pagi ini terasa sangat menyenangkan, mengakui bahwa hidup kita sendiri adalah anugerah dari Yang Kuasa. Saat itu semua diakui dengan jujur, saat itulah pintu rasa syukur terbuka bagi kita.

#3. Menulis jurnal rasa syukur secara rutin setiap hari tidak semudah yang dipikirkan. Easier said than done. Perlu diingat juga bahwa menulis setiap hari dengan motivasi yang salah tidak lebih baik dari menulis sesekali dengan kesadaran dan motivasi yang tulus. Saya percaya bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang tercurah dari hati, yang membuat kata-kata yang dirangkai menjadi susunan ajaib yang bisa “menyentuh” hati orang lain, sehingga menulis sesuatu yang bernilai baik – walau tidak setiap hari – jauh lebih penting dari sekadar memproduksi tulisan setiap hari. Good writing is something that speaks from the heart.

Print Friendly, PDF & Email